Mag-log in"Pasti ada cara lain selain meniduri istri orang demi mendapatkan uang pelunasan hutang." Suara Amara terdengar parau dan putus asa saat mencoba menggugah hati nurani pria di hadapannya.
"Jika memang ada cara lain yang lebih manusiawi untuk mendapatkan uang setengah miliar dalam waktu semalam, tolong beritahu saya sekarang juga, Nona Amara." Adrian menjawab dengan nada suara yang dingin sambil melangkah maju satu langkah untuk mengikis jarak di antara mereka.
"Klinik saya akan disita bulan depan dan ayah saya akan dibunuh jika saya menolak tawaran ibu Anda."
Amara terdiam karena dia sangat tahu bagaimana kejamnya rentenir yang meminjamkan uang kepada ayah Adrian.
"Tapi kamu menghancurkan hidupku dan rumah tanggaku demi menyelamatkan hidupmu sendiri."
"Hancur?" Adrian menatap tajam ke arah Amara yang langsung menundukkan wajahnya karena kata-kata menyakitkan itu memang benar adanya. "Kita berdua sama-sama terjebak dalam permainan kotor ibu Anda, tidak ada jalan keluar lain selain mematuhinya."
"Aku sangat membencimu karena kau menerima tawaran gila ini tanpa berpikir panjang tentang perasaanku."
"Bencilah saya sepuas hati Anda karena saya memang pantas mendapatkannya demi menyelamatkan keluarga saya."
Namun, karena terlanjur kecewa dengan keadaan, Amara melangkah melewati Adrian tanpa berbicara apapun lagi.
Perhatian Adrian kemudian teralih pada sosok Amara yang baru saja menuruni anak tangga dengan langkah gontai yang menyedihkan. Wanita itu langsung berlari kecil dan menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Doni, memeluk leher suaminya erat-erat seolah Doni adalah satu-satunya pelampung di tengah lautan badai yang sedang dia hadapi.
Adrian bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana makeup mahal di wajah cantik Amara luntur seketika, menciptakan jejak hitam air mata yang kontras dengan kulit putih mulusnya.
Doni terlihat terganggu dengan kedatangan istrinya yang tiba-tiba, namun pria itu dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya menjadi topeng kepedulian yang sangat palsu di mata Adrian.
"Hei Sayang, kamu kenapa? Kok nangis sampai makeup kamu luntur semua begini?" tanya Doni dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin.
Adrian mendengus pelan di atas sana karena dia bisa menangkap nada kemalasan yang tersembunyi di balik suara lembut itu. Itu sama sekali bukan nada khawatir seorang suami yang melihat istrinya hancur, melainkan nada orang yang merasa terganggu karena waktu santainya direbut.
"Mas, kita harus pergi dari sini sekarang juga. Mama benar-benar sudah gila dan membuat keputusan yang tidak logis!" racau Amara sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. "Mama nyewa orang buat niduri aku, demi buat aku hamil anak laki-laki lain!"
Sebagai sesama laki-laki, Adrian sangat tahu bahwa insting dasar seorang pria adalah menghajar siapapun yang berani menargetkan wanitanya, tidak peduli itu mertuanya sendiri ataupun preman jalanan. Adrian teringat ucapan idolanya dari masa kecil, Del Piero, bahwa laki-laki sejati tidak akan pernah meninggalkan wanitanya dalam kondisi apapun.
Namun, reaksi yang ditunjukkan Doni di bawah sana sungguh berada di luar nalar akal sehat Adrian.
Perlahan Doni melepaskan tangan Amara yang melingkar di lehernya, lalu menurunkan tangan istrinya ke pangkuan seolah pelukan Amara adalah beban berat yang harus segera disingkirkan. Doni memasang wajah sedih yang dibuat-buat, persis seperti aktor sinetron murahan yang sedang berakting menangis di depan kamera untuk mendapatkan simpati penonton.
"Sayang, tolong dengarkan aku dulu dan gunakan logikamu. Kalau kita menolak keinginan Mama hari ini, lalu kita mau hidup bagaimana ke depannya?"
"Kita bisa kerja, Mas! Kita bisa hidup sederhana asalkan kita sama-sama!" bantah Amara dengan suara bergetar.
"Kerja apa Amara? Jabatan aku sebagai manajer di perusahaan itu karena Mama kamu. Mobil mewah, kartu kredit tanpa batas, dan rumah ini semuanya punya Mama," kata Doni yang mulai menggunakan ketakutan akan kemiskinan sebagai senjata utama untuk melumpuhkan istrinya. "Apa kamu siap hidup miskin dan naik angkot panas-panasan sambil makan di pinggir jalan?"
Amara seketika terdiam dan lidahnya terasa kelu karena tidak bisa membantah kenyataan pahit tersebut.
Di lantai dua, Adrian menyipitkan matanya melihat bagaimana manipulasi tingkat tinggi itu bekerja dengan sangat mulus.
"Apalagi kamu tahu sendiri kondisiku bagaimana. Dokter Adrian sudah bilang kalau kualitas sperma aku lemah dan susah buat kita punya anak secara alami," tambah Doni lagi sambil menunjuk ke arah selangkangannya sendiri dengan wajah pura-pura putus asa. "Mungkin ini adalah jalan Tuhan lewat Mama untuk mengamankan posisi kita, Sayang. Ini cara terakhir, jadi anggap saja itu prosedur medis biasa. Tutup mata kamu dan bayangkan itu aku."
Adrian merasa muak namun sekaligus merasa menang di waktu yang bersamaan. Diagnosis medis yang dia berikan dua tahun lalu kini justru digunakan oleh pria pengecut itu untuk menyerahkan tubuh istrinya sendiri kepada pria lain. Adrian akhirnya sadar bahwa Doni bukanlah seorang laki-laki sejati, melainkan hanya seekor parasit yang berlindung di balik ketiak mertuanya demi sebuah kenyamanan hidup.
Drama di bawah sana berakhir tragis saat Amara akhirnya mengangguk pasrah dengan bibir bergetar dan hati yang remuk redam, menyatakan persetujuannya pada rencana gila tersebut.
Doni langsung tersenyum lebar penuh kemenangan dan kembali memeluk Amara erat-erat, bahkan Doni berjanji akan mengajak Amara liburan ke Eropa sebulan penuh menggunakan uang warisan yang kelak mereka dapatkan dari hasil menjual rahim Amara.
Adrian menegakkan tubuhnya karena drama rumah tangga yang memuakkan itu sudah mencapai babak akhir. Kesepakatan tidak tertulis sudah bulat dari semua pihak yang terlibat. Ada ibu yang gila harta, suami yang pengecut, dan istri yang buta karena cinta.
Sejujurnya Adrian makin yakin kalau Bu Ratih memang sudah membenci Doni sampai ke ubun-ubun karena pria itu tidak becus memberikan cucu untuk keluarga Subagja. Namun Bu Ratih enggan menceraikan mereka secara resmi karena tidak ingin citra keluarga terpandang itu tercoreng oleh berita perceraian dan skandal pemecatan menantu sendiri dari perusahaan.
Merasa sudah saatnya untuk menunjukkan eksistensinya, Adrian melangkah menuruni tangga marmer itu dengan sengaja membuat suara pijakan kakinya terdengar keras.
Suara ketukan sepatu pantofel murah milik Adrian yang beradu dengan lantai marmer membuat Doni dan Amara sontak melepaskan pelukan mereka. Doni menoleh ke atas dan menatap Adrian dengan pandangan menilai, matanya memindai penampilan Adrian yang sederhana dengan kemeja agak lusuh dan sepatu murah yang jauh dari kata mewah.
Doni tersenyum meremehkan saat menyadari bahwa pria yang disewa oleh mertuanya itu ternyata hanyalah dokter pribadi mereka sendiri yang sudah dua tahun belakangan ini menjadi tempat konsultasi medis. Dalam benak Doni, dia merasa sangat beruntung dan semakin mendukung keputusan mertuanya karena empat alasan logis yang langsung terlintas di kepalanya.
Pertama, Doni sudah sangat mengenal watak Adrian yang kaku dan profesional, sehingga dia bisa memastikan warisan itu tidak akan berpindah tangan setelah hak asuh anak sepenuhnya menjadi miliknya nanti.
Kedua, Doni sangat tahu Adrian sedang tercekik masalah finansial dan butuh uang cepat untuk membayar hutang ayahnya yang kecanduan judi, sehingga Adrian tidak mungkin berani melawan atau memeras keluarga mereka di kemudian hari.
Ketiga, sebagai pasiennya, Doni tahu pasti bahwa Adrian memiliki fisik yang sangat bersih, sehat, dan berotot perkasa, sebuah jaminan mutu bahwa bibit yang dihasilkan Adrian pasti sangat berkualitas untuk menghasilkan keturunan yang sempurna.
Terakhir, tanpa mereka sadari sepenuhnya, struktur tulang wajah Doni dan Adrian memiliki kemiripan yang cukup identik, membuat Doni yakin bayi yang lahir nanti tidak akan dicurigai sebagai anak dari pria lain.
"Oh, jadi Dokter Adrian yang dibayar Mama untuk melakukan tugas kotor itu?" tanya Doni dengan nada angkuh tanpa repot-repot berdiri dari sofa empuknya.
"Benar Pak Doni, saya orangnya," jawab Adrian dengan suara bariton yang tenang namun menyimpan bahaya.
"Oke, istri saya sudah setuju untuk melakukan itu denganmu. Lakukan tugasmu dengan cepat, jangan membuat drama yang tidak perlu, dan jangan pernah berpikir kamu bisa memiliki dia. Kamu di sini cuma sebagai alat, mengerti?" ancam Doni yang mencoba bersikap sok berkuasa untuk kesenangannya karena dia tidak jadi kehilangan harta milik Keluarga Subagja.
"Tentu Pak Doni, saya sangat mengerti di mana posisi saya dalam transaksi ini. Saya pastikan istri Bapak akan mendapatkan pelayanan terbaik dan paling intensif sampai dia benar-benar hamil, lalu saya akan segera pergi dari sini sesuai perjanjian," jawab Adrian dengan nada yang sangat sopan, tapi sebenarya dia ingin menghajar suami seperti Doni.
Adrian menatap Amara, dia masih menunggu jawaban wanita itu."Janji sama aku," pinta Amara dengan suara bergetar. "Cuma sekali ini saja. Hari ini saja. Setelah itu kita lupakan semuanya. Anggap tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita."Itu adalah pertahanan terakhir Amara. Dia mencoba membuat kesepakatan untuk menyelamatkan sisa kewarasannya. Dia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah kecelakaan satu malam, bukan awal dari sebuah perselingkuhan.Adrian terdiam sejenak, lalu menatap wajah cantik Amara yang penuh ketakutan. Dalam hati, Adrian tahu bahwa janji itu mungkin sulit ditepati, terutama jika benihnya berhasil tumbuh. Karena mereka akan terikat selamanya oleh darah daging itu.Tapi saat ini Adrian perlu Amara kooperatif."Saya janji, ini hanya satu kali, sampai benih saya masuk dan Bu Amara hamil. Setelah itu, kita orang asing lagi."Amara memejamkan matanya, sembari rintikan air matanya menetes, wanita itu mengangguk pelan, lalu berbisik. "Lakukan sekarang, Dok
"Ma..." desis Amara lirih. Hatinya hancur mendengar suaminya dihina sedemikian rupa oleh ibunya sendiri.Lalu, Bu Ratih melanjutkan penjelasannya lagi. "Kamu lihat diri kamu sendiri, Adrian. Kamu tinggi. Badan kamu bagus. Kamu atletis. Wajah kamu tampan. Kamu juga jarang sakit, kan? Itu yang saya mau! Maka dari itu, saya bayar kamu buat nanem benih kamu di tubuh Amara, biar cucu saya sehat macam kamu!"Adrian mendengarkan sambil menatap pantulan dirinya di cermin lemari obat. Dia memang sadar fisiknya di atas rata-rata. Tapi mendengar itu dijadikan alasan untuk membuahi istri orang, rasanya tetap saja gila."Jadi Ibu mau saya bagaimana?" tanya Adrian memancing, dia pura-pura polos, sekaligus untuk meyakinkan Amara bahwa ini memang perintah dari ibunya."Buang suntikan itu sekarang juga!" perintah Bu Ratih. "Saya mau kamu lakukan secara langsung. Natural. Hubungan badan layaknya suami istri. Pastikan benih kamu masuk sedalam-dalamnya. Dengan begitu, peluang hamilnya lebih besar dan kua
Itu adalah benih Doni.Sampel yang sempat diambil kemaren malam saat pemeriksaan rutin di klinik lama tempat Adrian bekerja paruh waktu.Sebenarnya, Bu Ratih dan Doni memiliki dua keinginan berbeda.Bu Ratih ingin Adrian langsung meniduri Amara layaknya pejantan bayaran karena menganggap benih Doni sudah tidak berguna, sedangkan Doni ingin agar cairan miliknya saja yang disuntikkan ke dalam milik Amara.Awalnya Adrian ingin segera selesai dengan memastikan Amara hamil secara alami, mengingat Amara memiliki kondisi medis khusus yang membuatnya cukup sulit menerima cairan hasil suntikan.Namun, dia masih memiliki sisa hati nurani sebagai seorang dokter dan ingin mencoba satu kali lagi dengan prosedur inseminasi buatan, meski cukup beresiko.Jika ini berhasil, maka Amara tidak perlu disentuh secara langsung oleh pria lain.Jika ini berhasil, Adrian bisa mendapatkan uangnya tanpa harus menghancurkan sisa harga diri wanita rapuh di hadapannya.Adrian sengaja tidak memberitahu Bu Ratih kare
Tidak terasa, sehari sudah dilalui, Amara masih saja merenung mengingat suaminya sangat bersemangat dalam mengantarnya menuju klinik pribadi Adrian.Doni duduk di balik kemudi dengan wajah cerah. Terlalu cerah, malah.Pria itu bersenandung kecil mengikuti irama lagu pop yang diputar pelan di radio, seolah mereka sedang menuju ke acara pernikahan kerabat atau liburan akhir pekan. Padahal pagi ini dia mengantar istrinya menuju tempat di mana istrinya akan diserahkan ke pelukan laki-laki lain.Di kursi penumpang, Amara duduk kaku bak manekin. Kedua tangannya meremas ujung dress floral selutut yang ia kenakan hingga kain mahalnya kusut tak berbentuk. Matanya menatap kosong ke luar jendela, melihat gedung-gedung pencakar langit yang berlarian mundur."Sayang, kamu kok diem aja? Jangan tegang gitu dong," tegur Doni santai sambil melirik sekilas. Tangan kirinya terulur, mencoba mengelus paha Amara.Amara beringsut pelan, menghindari sentuhan itu. Bagaimana bisa suaminya bersikap setenang ini
"Pasti ada cara lain selain meniduri istri orang demi mendapatkan uang pelunasan hutang." Suara Amara terdengar parau dan putus asa saat mencoba menggugah hati nurani pria di hadapannya. "Jika memang ada cara lain yang lebih manusiawi untuk mendapatkan uang setengah miliar dalam waktu semalam, tolong beritahu saya sekarang juga, Nona Amara." Adrian menjawab dengan nada suara yang dingin sambil melangkah maju satu langkah untuk mengikis jarak di antara mereka."Klinik saya akan disita bulan depan dan ayah saya akan dibunuh jika saya menolak tawaran ibu Anda."Amara terdiam karena dia sangat tahu bagaimana kejamnya rentenir yang meminjamkan uang kepada ayah Adrian."Tapi kamu menghancurkan hidupku dan rumah tanggaku demi menyelamatkan hidupmu sendiri.""Hancur?" Adrian menatap tajam ke arah Amara yang langsung menundukkan wajahnya karena kata-kata menyakitkan itu memang benar adanya. "Kita berdua sama-sama terjebak dalam permainan kotor ibu Anda, tidak ada jalan keluar lain selain mema
“Dua ratus juta buat lunasi hutang ayahmu, tapi kamu harus buat Amara hamil!”Sebuah cek melayang di udara, lalu mendarat mulus di atas meja marmer yang dingin. Angkanya terpampang jelas. Jumlah nol-nya banyak, cukup untuk bikin mata siapa saja terbelalak kaget.Adrian menatap kertas itu dengan wajah datar. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu nampak berpikir sejenak. Jas putih dokternya tersampir asal di lengan kekarnya yang terbalut kemeja biru muda.Di depannya, Bu Ratih menatap Adrian dalam-dalam karena dia tahu persis apa yang sedang dibutuhkan oleh dokter kandungan di hadapannya. "Tugasmu sederhana, Adrian, buahi Amara dan berikan aku cucu dari benihmu!"Perintah itu terdengar gila dan benar-benar di luar nalar!Bagaimana tidak, Adrian ini sepupu jauh Doni sendiri. Meskipun hubungan darahnya sudah agak jauh, tetap saja rasanya aneh.Tapi Adrian tidak langsung menolak.Ayahnya yang gila judi itu sekarang lagi sekarat di rumah sakit. Preman-preman suruhan rentenir sudah ngancam b







