Home / Romansa / Suntik Aku, Mas Dokter! / Bab 2 Saya Siap Layani Istri Anda

Share

Bab 2 Saya Siap Layani Istri Anda

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-01-30 15:39:40

"Pasti ada cara lain selain meniduri istri orang demi mendapatkan uang pelunasan hutang." Suara Amara terdengar parau dan putus asa saat mencoba menggugah hati nurani pria di hadapannya. 

"Jika memang ada cara lain yang lebih manusiawi untuk mendapatkan uang setengah miliar dalam waktu semalam, tolong beritahu saya sekarang juga, Nona ." Adrian menjawab dengan nada suara yang dingin sambil melangkah maju satu langkah.

"Klinik saya akan disita bulan depan dan ayah saya akan dibunuh jika saya menolak tawaran ibu Anda."

Amara terdiam karena dia sangat tahu bagaimana kejamnya rentenir yang meminjamkan uang kepada ayah Adrian.

"Tapi kamu menghancurkan hidupku dan rumah tanggaku. Egois kan? Kamu lebih mentingin nyawa ayahmu daripada harga diriku? Mana ada dokter seegois ini?"

"Hancur?" Adrian menatap tajam ke arah Amara yang langsung menundukkan wajahnya karena kata-kata menyakitkan itu memang benar adanya. "Kita berdua sama-sama terjebak dalam permainan kotor ibu Anda, tidak ada jalan keluar lain selain mematuhinya."

"Aku sangat membencimu karena kau menerima tawaran gila ini! Apa kamu nggak pernah mikir gimana perasaanku, hah?!"

"Bencilah saya sepuas hati Anda karena saya memang pantas mendapatkannya! Andai bukan karena keluarga, saya tidak mungkin menerima ini, Bu!"

Namun, karena terlanjur kecewa dengan keadaan, Amara melangkah melewati Adrian tanpa berbicara apapun lagi.

Perhatian Adrian kemudian teralih pada sosok Amara yang baru saja menuruni anak tangga dengan langkah gontai yang menyedihkan. Wanita itu langsung berlari kecil dan menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Doni, memeluk leher suaminya erat-erat seolah Doni adalah satu-satunya pelampung di tengah lautan badai yang sedang dia hadapi.

Adrian bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana makeup mahal di wajah cantik Amara luntur seketika, menciptakan jejak hitam air mata yang kontras dengan kulit putih mulusnya.

Doni terlihat terganggu dengan kedatangan istrinya yang tiba-tiba, namun pria itu dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya menjadi topeng kepedulian yang sangat palsu di mata Adrian.

"Hei Sayang, kamu kenapa? Kok nangis sampai makeup kamu luntur semua begini?" tanya Doni dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin.

Adrian mendengus pelan di atas sana karena dia bisa menangkap nada kemalasan yang tersembunyi di balik suara lembut itu. Itu sama sekali bukan nada khawatir seorang suami yang melihat istrinya hancur, melainkan nada orang yang merasa terganggu karena waktu santainya direbut.

"Mas, kita harus pergi dari sini sekarang juga. Mama benar-benar sudah gila dan membuat keputusan yang nggak logis!" racau Amara sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. "Mama nyewa orang buat niduri aku, demi buat aku hamil anak laki-laki lain!"

Sebagai sesama laki-laki, Adrian sangat tahu bahwa insting dasar seorang pria adalah menghajar siapapun yang berani menargetkan wanitanya, tidak peduli itu mertuanya sendiri ataupun preman jalanan.

Adrian teringat ucapan idolanya dari masa kecil, Del Piero, bahwa laki-laki sejati tidak akan pernah meninggalkan wanitanya dalam kondisi apapun.

Namun, reaksi yang ditunjukkan Doni di bawah sana sungguh berada di luar nalar akal sehat Adrian.

Perlahan Doni melepaskan tangan Amara yang melingkar di lehernya, lalu menurunkan tangan istrinya ke pangkuan seolah pelukan Amara adalah beban berat yang harus segera disingkirkan.

Doni memasang wajah sedih yang dibuat-buat, persis seperti aktor sinetron murahan yang sedang berakting menangis di depan kamera untuk mendapatkan simpati penonton.

"Sayang, tolong dengarkan aku dulu dan gunakan logikamu. Kalau kita menolak keinginan Mama hari ini, lalu kita mau hidup bagaimana ke depannya?"

"Kita bisa kerja, Mas! Kita bisa hidup sederhana asalkan kita sama-sama!" bantah Amara dengan suara bergetar.

"Kerja apa? Jabatan aku sebagai manajer di perusahaan itu karena Mama kamu? Mobil mewah, kartu kredit tanpa batas, dan rumah? Ini semuanya punya Mama," kata Doni yang mulai menggunakan ketakutan akan kemiskinan sebagai senjata utama untuk melumpuhkan istrinya. "Apa kamu siap hidup miskin dan naik angkot panas-panasan sambil makan di pinggir jalan?"

Amara seketika terdiam dan lidahnya terasa kelu karena tidak bisa membantah kenyataan pahit tersebut.

Di lantai dua, Adrian menyipitkan matanya melihat bagaimana manipulasi tingkat tinggi itu bekerja dengan sangat mulus.

"Apalagi kamu tahu sendiri kondisiku bagaimana. Dokter Adrian sudah bilang kalau kualitas sperma aku lemah dan susah buat kita punya anak secara alami," tambah Doni lagi sambil menunjuk ke arah selangkangannya sendiri dengan wajah pura-pura putus asa. "Mungkin ini adalah jalan Tuhan lewat Mama untuk mengamankan posisi kita, Sayang. Ini cara terakhir, jadi anggap saja itu prosedur medis biasa. Tutup mata kamu dan bayangkan itu aku."

Adrian merasa muak namun sekaligus merasa menang di waktu yang bersamaan. Diagnosis medis yang dia berikan dua tahun lalu kini justru digunakan oleh pria pengecut itu untuk menyerahkan tubuh istrinya sendiri kepada pria lain. Adrian akhirnya sadar bahwa Doni bukanlah seorang laki-laki sejati, melainkan hanya seekor parasit yang berlindung di balik ketiak mertuanya demi sebuah kenyamanan hidup.

Drama di bawah sana berakhir tragis saat Amara akhirnya mengangguk pasrah dengan bibir bergetar dan hati yang remuk redam, menyatakan persetujuannya pada rencana gila tersebut.

Doni langsung tersenyum lebar penuh kemenangan dan kembali memeluk Amara erat-erat, bahkan Doni berjanji akan mengajak Amara liburan ke Eropa sebulan penuh menggunakan uang warisan yang kelak mereka dapatkan dari hasil menjual rahim Amara.

Adrian menegakkan tubuhnya karena drama rumah tangga yang memuakkan itu sudah mencapai babak akhir. Kesepakatan tidak tertulis sudah bulat dari semua pihak yang terlibat. Ada ibu yang gila harta, suami yang pengecut, dan istri yang buta karena cinta.

Sejujurnya Adrian makin yakin kalau Bu Ratih memang sudah membenci Doni sampai ke ubun-ubun karena pria itu tidak becus memberikan cucu untuk keluarga Subagja. Namun Bu Ratih enggan menceraikan mereka secara resmi karena tidak ingin citra keluarga terpandang itu tercoreng oleh berita perceraian dan skandal pemecatan menantu sendiri dari perusahaan.

Merasa sudah saatnya untuk menunjukkan eksistensinya, Adrian melangkah menuruni tangga marmer itu dengan sengaja membuat suara pijakan kakinya terdengar keras.

Suara ketukan sepatu pantofel murah milik Adrian yang beradu dengan lantai marmer membuat Doni dan Amara sontak melepaskan pelukan mereka. Doni menoleh ke atas dan menatap Adrian dengan pandangan menilai, matanya memindai penampilan Adrian yang sederhana dengan kemeja agak lusuh dan sepatu murah yang jauh dari kata mewah.

Doni tersenyum meremehkan saat menyadari bahwa pria yang disewa oleh mertuanya itu ternyata hanyalah dokter pribadi mereka sendiri yang sudah dua tahun belakangan ini menjadi tempat konsultasi medis. Dalam benak Doni, dia merasa sangat beruntung dan semakin mendukung keputusan mertuanya karena empat alasan logis yang langsung terlintas di kepalanya.

Pertama, Doni sudah sangat mengenal watak Adrian yang kaku dan profesional, sehingga dia bisa memastikan warisan itu tidak akan berpindah tangan setelah hak asuh anak sepenuhnya menjadi miliknya nanti.

Kedua, Doni sangat tahu Adrian sedang tercekik masalah finansial dan butuh uang cepat untuk membayar hutang ayahnya yang kecanduan judi, sehingga Adrian tidak mungkin berani melawan atau memeras keluarga mereka di kemudian hari.

Ketiga, sebagai pasiennya, Doni tahu pasti bahwa Adrian memiliki fisik yang sangat bersih, sehat, dan berotot perkasa, sebuah jaminan mutu bahwa bibit yang dihasilkan Adrian pasti sangat berkualitas untuk menghasilkan keturunan yang sempurna.

Terakhir, tanpa mereka sadari sepenuhnya, struktur tulang wajah Doni dan Adrian memiliki kemiripan yang cukup identik, membuat Doni yakin bayi yang lahir nanti tidak akan dicurigai sebagai anak dari pria lain.

"Oh, jadi Dokter Adrian yang dibayar Mama untuk melakukan tugas kotor itu?" tanya Doni dengan nada angkuh tanpa repot-repot berdiri dari sofa empuknya.

"Benar Pak Doni, saya orangnya," jawab Adrian dengan suara bariton yang tenang namun menyimpan bahaya.

"Oke, istri saya sudah setuju untuk melakukan itu denganmu. Lakukan tugasmu dengan cepat, jangan membuat drama yang tidak perlu, dan jangan pernah berpikir kamu bisa memiliki dia. Kamu di sini cuma sebagai alat, mengerti?" ancam Doni yang mencoba bersikap sok berkuasa untuk kesenangannya karena dia tidak jadi kehilangan harta milik Keluarga Subagja.

"Tentu Pak Doni, saya sangat mengerti di mana posisi saya dalam transaksi ini. Saya pastikan istri Bapak akan mendapatkan pelayanan terbaik dan paling intensif sampai dia benar-benar hamil, lalu saya akan segera pergi dari sini sesuai perjanjian," jawab Adrian dengan nada yang sangat sopan, tapi sebenarya dia ingin menghajar suami seperti Doni.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Renn Cac
mulai seru nih kak ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 281 (TAMAT)

    Menghabiskan sisa umurnya dalam kehinaan mutlak yang menyayat ego sombongnya, Pak Arman akhirnya dijatuhi vonis kurungan seumur hidup di sel isolasi atas segala kejahatan korupsinya. Pasalnya, bukti-bukti telak dari peretasan jenius yang dipimpin Leo benar-benar tidak menyisakan sedikit pun celah hukum bagi bos mafia itu untuk kembali menghirup udara bebas.Alhasil, segala rintangan kelam warisan masa lalu itu resmi terkubur sedalam-dalamnya, memberikan kemenangan mutlak bagi sang ahli strategi yang kini memimpin keluarganya menuju keabadian.Tatkala waktu bergulir memasuki senja hari, semburat jingga perlahan menghiasi langit ibu kota membiaskan pendaran magis yang teramat romantis ke seluruh penjuru rumah megah tersebut. Mengganti setelan jas kerjanya dengan balutan kaus santai berwarna gelap, Adrian melangkah pelan dengan senyum kepuasan menyusul belahan jiwanya menuju area semi terbuka di lantai dua.Duduk bersandar penuh kenyamanan di atas sofa rotan bundar, Adrian dan Amara dudu

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 280

    Membelai punggung telanjang istrinya yang terekspos gaun sutra, Adrian berbisik mesra ke telinga wanita cantik itu. Padahal, pesta perayaan ini digelar dengan sangat sederhana, namun makna di baliknya terbukti mampu mengalahkan seluruh kemewahan di muka bumi."Sekarang waktunya kamu fokus sepenuhnya buat bahagiain suami tampanmu ini di kamar sana. Soalnya sedari tadi siang tanganku udah lumayan gatal pengen buka resleting gaun pengantinmu yang super merepotkan ini. Habisnya pesona kamu malam ini bener-bener bikin pertahananku hampir rubuh sejak kita masih berdiri di altar kapel tadi siang."Mengedipkan sebelah matanya dengan gaya super menggoda, Amara seketika memukul pelan dada bidang pria berjas tuksedo hitam tersebut.Tersenyum penuh kemenangan melihat rona merah di pipi istrinya, gairah di dalam urat nadi sang mantan mafia langsung melonjak ke titik puncak. Tatkala pendaran lampu kristal mulai diredupkan oleh staf, sepasang suami istri ini mulai bersiap meninggalkan keramaian penu

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 279

    Saat fajar menyingsing, Amara tertidur lelap di pelukan Adrian dengan senyum yang tidak pernah pudar, memeluk erat lengan pria yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya di mata hukum dan agama.Persiapan pernikahan tertutup itu dilakukan dengan sangat rahasia, jauh dari endusan media massa maupun rekan bisnis lama yang penuh kepalsuan.Menginginkan kesakralan mutlak tanpa gangguan eksternal, Adrian mengerahkan seluruh anak buah kepercayaannya untuk memblokir akses informasi menuju area perbukitan asri ini. Bahkan, penjagaan berlapis sengaja dipasang di setiap titik masuk menuju lokasi acara demi menjamin keamanan sang ratu hati.Berjalan menyusuri lorong berkarpet merah, jantung Amara berdebar teramat kencang di balik balutan gaun pengantin sutra putih yang menjuntai indah menyapu lantai. Padahal, dia dulu mengira kisah cintanya akan berakhir tragis di bawah bayang-bayang kediktatoran sang ayah yang selalu memaksakan kehendaknya. Kendati demikian, genggaman hangat dari Pak Santos

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 278

    Malam itu menjadi malam penyatuan yang paling sempurna bagi mereka berdua, di mana Adrian memberikan ciuman panas dan sentuhan sensual yang sangat mendominasi, merayakan kemerdekaan cinta mereka setelah masa nifas selesai.Memiringkan kepalanya mencari sudut paling pas, lidah pria tangguh ini menyapu liar setiap sudut rongga mulut sang pasien tanpa memberikan jeda untuk bernapas. Sehingga, lenguhan tertahan mulai lolos dari tenggorokan Amara merespons sentuhan panas yang seketika membakar seluruh titik kewarasannya di bawah pendaran cahaya remang."Kamu beneran cantik banget malam ini, makanya aku nggak bakal ngelepasin kamu sedetik pun sampai matahari terbit besok pagi buat nebus kerinduanku."Mengangkat tubuh ringan wanitanya ala bridal style, pahlawan medis ini melangkah pasti menuju ranjang king size yang telah dihias sedemikian rupa layaknya peraduan raja dan ratu.Membaringkan tubuh wangi itu secara sangat hati-hati, pria mempesona ini mengurung kekasihnya di atas lautan kelopak

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 277

    Berdiri tepat di tengah-tengah sebuah dermaga kayu yang teramat kokoh, Adrian akhirnya melonggarkan ikatan kain sutra tersebut dari belakang kepala sang nyonya muda.Tatkala kain itu dibuka perlahan, kelopak mata Amara langsung mengerjap menyesuaikan diri dengan pendaran cahaya temaram yang membias indah di depannya. Bahkan, sepasang mata bulatnya seketika membelalak sempurna melihat mahakarya visual luar biasa yang terpampang nyata menghiasi seluruh penjuru area privat tersebut malam itu.Menyapu pandangannya ke sekeliling dengan decak kagum, Amara terperangah melihat sebuah villa pribadi mewah di tepi danau yang sudah dihias dengan ribuan mawar putih dan lilin aromaterapi.Memantulkan cahaya keemasan yang menari-nari di atas permukaan air danau, susunan lilin-lilin mungil itu membentuk jalan setapak bersinar menuju pintu masuk bangunan kayu eksotis di ujung sana. Membawa aroma semerbak menenangkan, hamparan kelopak mawar putih yang sengaja ditebar menutupi seluruh lantai dermaga ter

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 276

    Beralih menjelang siang harinya, suasana lobi utama gedung pencakar langit itu mendadak heboh oleh kedatangan sosok tamu yang teramat istimewa. Dikawal ketat oleh Rian dan barisan penjaga kepercayaan, Amara memberikan kejutan dengan mengunjungi kantor membawa bayi mereka yang sedang tertidur lelap di dalam kereta dorong eksklusif.Berjalan anggun melewati koridor eksekutif menuju lantai atas, nyonya muda ini mengenakan gaun selutut berwarna putih gading yang membuat pesona kecantikannya semakin terpancar sempurna pasca-persalinan. Padahal, dia biasanya selalu merasa sesak napas dan tertekan setiap kali menginjakkan kaki di gedung ini akibat bayang-bayang kediktatoran ayah kandungnya pada masa lalu.Kendati demikian, ketakutan panjang itu kini lenyap tak berbekas tergantikan oleh rasa antusias luar biasa untuk melihat sang pahlawan hati saat sedang memimpin perusahaan.Berdiri diam-diam di balik dinding kaca tembus pandang ruang konferensi, Amara menatap penuh kekaguman melihat wibawa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status