Home / Romansa / Suntik Aku, Mas Dokter! / Bab 3 Luka Seorang Istri

Share

Bab 3 Luka Seorang Istri

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-01-30 15:40:17

Tidak terasa, sehari sudah dilalui, Amara masih saja merenung mengingat suaminya sangat bersemangat dalam mengantarnya menuju klinik pribadi Adrian.

Doni duduk di balik kemudi dengan wajah cerah. Terlalu cerah, malah.

Pria itu bersenandung kecil mengikuti irama lagu pop yang diputar pelan di radio, seolah mereka sedang menuju ke acara pernikahan kerabat atau liburan akhir pekan. Padahal pagi ini dia mengantar istrinya menuju tempat di mana istrinya akan diserahkan ke pelukan laki-laki lain.

Di kursi penumpang, Amara duduk kaku bak manekin. Kedua tangannya meremas ujung dress floral selutut yang ia kenakan hingga kain mahalnya kusut tak berbentuk. Matanya menatap kosong ke luar jendela, melihat gedung-gedung pencakar langit yang berlarian mundur.

"Sayang, kamu kok diem aja? Jangan tegang gitu dong," tegur Doni santai sambil melirik sekilas. Tangan kirinya terulur, mencoba mengelus paha Amara.

Amara beringsut pelan, menghindari sentuhan itu. Bagaimana bisa suaminya bersikap setenang ini?

"Mas, kita pulang ya?" Amara menoleh, menatap wajah suaminya dengan sisa-sisa harapan yang kian menipis. "Aku nggak bisa, Mas. Perutku mual. Perasaanku nggak enak. Kita bilang sama Mama kalau kita butuh waktu lagi, ya?"

"Nggak apa, Sayang, kita udah sepakat pakai cara lain, kan? Biar nanti Dokter Adrian yang nyuntikin ke kamu, jadi kamu nggak perlu main sama dia."

"Mas, aku nanti disentuh dia, apalagi punyaku nanti dilihat dia!"

Doni menghela napas panjang, namun senyum di bibirnya tidak luntur. Senyum yang dulu Amara anggap menenangkan, kini terlihat seperti topeng.

"Sayang, kan kita udah bahas ini semalam. Ini demi kebaikan kita. Cuma prosedur medis, oke? Anggap aja kamu lagi check-up ke dokter kandungan. Adrian itu profesional, Mama udah jamin kualitas dia," jawab Doni enteng. "Lagian kalau kita puter balik sekarang, Mama bakal ngamuk. Kamu mau kartu kredit kamu diblokir lagi kayak bulan lalu?"

Jawaban itu memukul telak ulu hati Amara. Uang, fasilitas, dan kemewahan. Hanya itu yang ada di otak Doni.

Mobil berbelok memasuki pelataran sebuah bangunan ruko modern berlantai tiga yang tampak eksklusif dan privat.

Papan nama kecil bertuliskan Klinik Medika Utama terpampang di depan pagar yang tinggi.

Mereka berjalan masuk ke ruang tunggu yang didesain minimalis namun mewah. Aromanya khas rumah sakit yang justru membuat perut Amara semakin mual. Di sana, duduk di salah satu sofa tunggal, Adrian sedang membaca sebuah berkas.

Pria itu mendongak saat mendengar bunyi lonceng pintu.

Hari ini, Adrian tidak memakai kemeja lusuh seperti kemarin. Dia mengenakan kemeja putih bersih yang pas badan, membalut otot-otot tubuhnya yang padat, dipadukan dengan celana bahan hitam yang rapi. Jas putih dokter tersampir di lengan kursi, menegaskan bahwa dia memang dokter spesialis Obgyn profesional.

Sejujurnya, Adrian sudah menyukai Amara sejak tiga bulan pertama dia jadi dokter kandungan pribadi keluarga Subagja. Hari demi hari, ketertarikannya makin menjadi-jadi, tapi dia paham betul, ada kode etik yang tidak boleh dilanggar karena dia masih berstatus sebagai dokter.

Perlakuan Doni kepada Amara yang tidak pernah manis, ditambah Bu Ratih yang terus mendesak Adrian melakukan ini, membuatnya tidak punya pilihan lain.

"Selamat pagi, Pak Doni, Bu Amara," sapa Adrian.

"Pagi, Dokter?" balas Doni dengan nada riang yang dibuat-buat. Dia melangkah maju, lalu mengulurkan tangannya dengan semangat.

Adrian menyambut uluran tangan itu. Jabat tangan mereka terjadi. Amara menatap horor pemandangan itu. Suaminya sedang menyalami pria yang akan melihat milik istrinya, menyentuhnya, dan lebih parahnya lagi, Amara melihat senyum lebar Doni layaknya bertemu kawan lama di reuni sekolah.

"Silakan, senyamannya Bapak saja," jawab Adrian singkat. Matanya melirik ke arah tangan mereka yang bersalaman.

"Saya percaya sama kamu, Dok. Mama mertua saya bilang kamu yang terbaik. Tolong bantu kami ya," kata Doni sambil menepuk-nepuk bahu Adrian, seolah sedang menitipkan mobil untuk diservis di bengkel. "Pastikan istri saya nyaman. Dia agak manja dan penakut, jadi tolong sabar-sabar dikit."

Adrian melepaskan jabat tangan itu, lalu tatapannya beralih pada Amara yang berdiri mematung di dekat pintu.

"Tentu, Pak. Profesionalitas adalah prioritas saya," jawab Adrian sambil menatap lurus ke manik mata Amara yang berkaca-kaca. "Saya akan menangani istri Anda dengan sangat hati-hati."

Tiba-tiba, ponsel di saku celana Doni berdering nyaring.

Doni merogoh sakunya, melihat layar ponsel, lalu memasang wajah pura-pura panik. "Waduh, orang kantor nelpon. Pasti soal tender proyek baru, nih."

Dia menoleh pada Amara, lalu mengecup pipi istrinya kilat. Kecupan yang terasa dingin dan hampa.

"Sayang, aku harus balik ke kantor sekarang. Ada urgent meeting. Kamu di sini dulu sama Adrian ya? Nanti kalau udah selesai, kamu kabarin aku atau minta supir jemput," ucap Doni tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Mas, kamu mau ninggalin aku sendiri?" bisik Amara, tangannya spontan mencengkeram lengan kemeja Doni.

Doni melepaskan tangan Amara pelan-pelan sambil tersenyum menenangkan. "Cuma sebentar kok. Lagian kan ini prosedurnya privat, udah SOP kedokteran kayak gini. Aku nggak boleh ikut masuk ke dalem. Kamu baik-baik ya, Sayang!"

Langkah kaki Doni terdengar menjauh, diikuti suara pintu kaca yang tertutup dan bunyi mesin mobil yang menderu pergi.

Hening kembali menyergap.

Kini, di ruang tunggu yang dingin itu, hanya tersisa dua orang.

Amara menatap pintu tempat suaminya menghilang dengan tatapan kosong. Hatinya hancur lebur.

"Silakan masuk ke ruangan saya," perintah Adrian sambil menunjuk pintu di belakangnya dengan dagu. "Waktu saya berharga, dan masa subur Anda tidak akan menunggu selamanya."

Pintu ruang periksa itu tertutup rapat. Suara engsel yang beradu dengan kusen terdengar begitu nyaring di telinga Amara. Namun bunyi itu belum seberapa menakutkan dibandingkan dengan suara kunci yang diputar dua kali oleh tangan kekar Adrian.

Klik.

Klik.

Tubuhnya yang terbalut gaun floral mahal tiba-tiba terasa kerdil di hadapan pria yang kini berkuasa penuh atas dirinya. Amara mundur selangkah hingga punggungnya menabrak dinding dingin. Matanya menatap nanar ke sekeliling ruangan yang beraroma antiseptik tajam.

Ruangan itu luas dan didominasi warna putih yang menyilaukan.

Di sudut ruangan terdapat sebuah kursi pemeriksaan ginekologi dengan penyangga kaki dari besi yang terlihat mengerikan. Kursi itu berdiri angkuh seolah sedang menunggu korban selanjutnya untuk dikorbankan di atasnya. Di sana, harga dirinya akan dikuliti habis-habisan demi melunasi ambisi ibunya dan ketamakan suaminya.

"Jangan berdiri di sana terus, Bu Amara, waktu kita tidak banyak. Saya juga terpaksa melakukan ini." Suara berat Adrian memecah keheningan yang mencekam.

Adrian berkata demikian tanpa menoleh ke Amara, dia sibuk di depan meja stainless steel yang dipenuhi peralatan medis. Punggung lebarnya yang terbalut kemeja putih pas badan terlihat kokoh dan mengintimidasi.

Amara menelan ludah yang terasa pahit di kerongkongan. Kakinya gemetar hebat saat ia memaksakan diri melangkah mendekati kursi pasien biasa yang ada di sudut ruangan.

Adrian menarik sepasang sarung tangan lateks dari kotak. Bunyi karet yang meregang lalu menempel ketat di kulit tangannya terdengar sangat vulgar di telinga Amara. Pria itu bergerak dengan efisiensi seorang profesional. Dia mengeluarkan sebuah tabung kecil steril dari lemari pendingin khusus.

Di dalam tabung itu, tersimpan sebuah rahasia besar yang Adrian sembunyikan rapat-rapat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 281 (TAMAT)

    Menghabiskan sisa umurnya dalam kehinaan mutlak yang menyayat ego sombongnya, Pak Arman akhirnya dijatuhi vonis kurungan seumur hidup di sel isolasi atas segala kejahatan korupsinya. Pasalnya, bukti-bukti telak dari peretasan jenius yang dipimpin Leo benar-benar tidak menyisakan sedikit pun celah hukum bagi bos mafia itu untuk kembali menghirup udara bebas.Alhasil, segala rintangan kelam warisan masa lalu itu resmi terkubur sedalam-dalamnya, memberikan kemenangan mutlak bagi sang ahli strategi yang kini memimpin keluarganya menuju keabadian.Tatkala waktu bergulir memasuki senja hari, semburat jingga perlahan menghiasi langit ibu kota membiaskan pendaran magis yang teramat romantis ke seluruh penjuru rumah megah tersebut. Mengganti setelan jas kerjanya dengan balutan kaus santai berwarna gelap, Adrian melangkah pelan dengan senyum kepuasan menyusul belahan jiwanya menuju area semi terbuka di lantai dua.Duduk bersandar penuh kenyamanan di atas sofa rotan bundar, Adrian dan Amara dudu

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 280

    Membelai punggung telanjang istrinya yang terekspos gaun sutra, Adrian berbisik mesra ke telinga wanita cantik itu. Padahal, pesta perayaan ini digelar dengan sangat sederhana, namun makna di baliknya terbukti mampu mengalahkan seluruh kemewahan di muka bumi."Sekarang waktunya kamu fokus sepenuhnya buat bahagiain suami tampanmu ini di kamar sana. Soalnya sedari tadi siang tanganku udah lumayan gatal pengen buka resleting gaun pengantinmu yang super merepotkan ini. Habisnya pesona kamu malam ini bener-bener bikin pertahananku hampir rubuh sejak kita masih berdiri di altar kapel tadi siang."Mengedipkan sebelah matanya dengan gaya super menggoda, Amara seketika memukul pelan dada bidang pria berjas tuksedo hitam tersebut.Tersenyum penuh kemenangan melihat rona merah di pipi istrinya, gairah di dalam urat nadi sang mantan mafia langsung melonjak ke titik puncak. Tatkala pendaran lampu kristal mulai diredupkan oleh staf, sepasang suami istri ini mulai bersiap meninggalkan keramaian penu

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 279

    Saat fajar menyingsing, Amara tertidur lelap di pelukan Adrian dengan senyum yang tidak pernah pudar, memeluk erat lengan pria yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya di mata hukum dan agama.Persiapan pernikahan tertutup itu dilakukan dengan sangat rahasia, jauh dari endusan media massa maupun rekan bisnis lama yang penuh kepalsuan.Menginginkan kesakralan mutlak tanpa gangguan eksternal, Adrian mengerahkan seluruh anak buah kepercayaannya untuk memblokir akses informasi menuju area perbukitan asri ini. Bahkan, penjagaan berlapis sengaja dipasang di setiap titik masuk menuju lokasi acara demi menjamin keamanan sang ratu hati.Berjalan menyusuri lorong berkarpet merah, jantung Amara berdebar teramat kencang di balik balutan gaun pengantin sutra putih yang menjuntai indah menyapu lantai. Padahal, dia dulu mengira kisah cintanya akan berakhir tragis di bawah bayang-bayang kediktatoran sang ayah yang selalu memaksakan kehendaknya. Kendati demikian, genggaman hangat dari Pak Santos

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 278

    Malam itu menjadi malam penyatuan yang paling sempurna bagi mereka berdua, di mana Adrian memberikan ciuman panas dan sentuhan sensual yang sangat mendominasi, merayakan kemerdekaan cinta mereka setelah masa nifas selesai.Memiringkan kepalanya mencari sudut paling pas, lidah pria tangguh ini menyapu liar setiap sudut rongga mulut sang pasien tanpa memberikan jeda untuk bernapas. Sehingga, lenguhan tertahan mulai lolos dari tenggorokan Amara merespons sentuhan panas yang seketika membakar seluruh titik kewarasannya di bawah pendaran cahaya remang."Kamu beneran cantik banget malam ini, makanya aku nggak bakal ngelepasin kamu sedetik pun sampai matahari terbit besok pagi buat nebus kerinduanku."Mengangkat tubuh ringan wanitanya ala bridal style, pahlawan medis ini melangkah pasti menuju ranjang king size yang telah dihias sedemikian rupa layaknya peraduan raja dan ratu.Membaringkan tubuh wangi itu secara sangat hati-hati, pria mempesona ini mengurung kekasihnya di atas lautan kelopak

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 277

    Berdiri tepat di tengah-tengah sebuah dermaga kayu yang teramat kokoh, Adrian akhirnya melonggarkan ikatan kain sutra tersebut dari belakang kepala sang nyonya muda.Tatkala kain itu dibuka perlahan, kelopak mata Amara langsung mengerjap menyesuaikan diri dengan pendaran cahaya temaram yang membias indah di depannya. Bahkan, sepasang mata bulatnya seketika membelalak sempurna melihat mahakarya visual luar biasa yang terpampang nyata menghiasi seluruh penjuru area privat tersebut malam itu.Menyapu pandangannya ke sekeliling dengan decak kagum, Amara terperangah melihat sebuah villa pribadi mewah di tepi danau yang sudah dihias dengan ribuan mawar putih dan lilin aromaterapi.Memantulkan cahaya keemasan yang menari-nari di atas permukaan air danau, susunan lilin-lilin mungil itu membentuk jalan setapak bersinar menuju pintu masuk bangunan kayu eksotis di ujung sana. Membawa aroma semerbak menenangkan, hamparan kelopak mawar putih yang sengaja ditebar menutupi seluruh lantai dermaga ter

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 276

    Beralih menjelang siang harinya, suasana lobi utama gedung pencakar langit itu mendadak heboh oleh kedatangan sosok tamu yang teramat istimewa. Dikawal ketat oleh Rian dan barisan penjaga kepercayaan, Amara memberikan kejutan dengan mengunjungi kantor membawa bayi mereka yang sedang tertidur lelap di dalam kereta dorong eksklusif.Berjalan anggun melewati koridor eksekutif menuju lantai atas, nyonya muda ini mengenakan gaun selutut berwarna putih gading yang membuat pesona kecantikannya semakin terpancar sempurna pasca-persalinan. Padahal, dia biasanya selalu merasa sesak napas dan tertekan setiap kali menginjakkan kaki di gedung ini akibat bayang-bayang kediktatoran ayah kandungnya pada masa lalu.Kendati demikian, ketakutan panjang itu kini lenyap tak berbekas tergantikan oleh rasa antusias luar biasa untuk melihat sang pahlawan hati saat sedang memimpin perusahaan.Berdiri diam-diam di balik dinding kaca tembus pandang ruang konferensi, Amara menatap penuh kekaguman melihat wibawa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status