LOGINItu adalah benih Doni.
Sampel yang sempat diambil kemaren malam saat pemeriksaan rutin di klinik lama tempat Adrian bekerja paruh waktu.
Sebenarnya, Bu Ratih dan Doni memiliki dua keinginan berbeda.
Bu Ratih ingin Adrian langsung meniduri Amara layaknya pejantan bayaran karena menganggap benih Doni sudah tidak berguna, sedangkan Doni ingin agar cairan miliknya saja yang disuntikkan ke dalam milik Amara.
Awalnya Adrian ingin segera selesai dengan memastikan Amara hamil secara alami, mengingat Amara memiliki kondisi medis khusus yang membuatnya cukup sulit menerima cairan hasil suntikan.
Namun, dia masih memiliki sisa hati nurani sebagai seorang dokter dan ingin mencoba satu kali lagi dengan prosedur inseminasi buatan, meski cukup beresiko.
Jika ini berhasil, maka Amara tidak perlu disentuh secara langsung oleh pria lain.
Jika ini berhasil, Adrian bisa mendapatkan uangnya tanpa harus menghancurkan sisa harga diri wanita rapuh di hadapannya.
Adrian sengaja tidak memberitahu Bu Ratih karena Bu Ratih hanya ingin Amara hamil secara natural. Dia lalu menyedot cairan dari tabung itu ke dalam sebuah alat suntik khusus.
Amara mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Dia menatap punggung Adrian dengan tatapan memohon yang menyedihkan.
"Apa tidak ada cara lain? Maksud saya mungkin kita bisa menunggu bulan depan. Atau kita bisa bilang ke Mama kalau prosedurnya gagal tanpa harus melakukan itu sekarang. Aku takut, Dok, aku takut banget."
Adrian meletakkan alat suntik yang sudah siap itu di atas nampan perak. Pria itu berbalik badan perlahan, lalu menyandarkan pinggulnya di tepi meja periksa sambil melipat kedua tangan di dada.
"Menunggu bulan depan?" tanya Adrian dengan nada datar.
"Iya, Dok, saya tidak mau melakukan ini. Saya masih mencintai Mas Doni, hati saya terus menolak kalau saya disentuh laki-laki lain."
"Kaau boleh jujur, Bu Amara, tadi Bu Ratih baru saja menelepon saya, lima menit yang lalu sebelum Bu Amara sama Pak Doni datang. Beliau bertanya apakah saya sudah memulai prosedurnya. Beliau tidak mau menunggu, lalu hutang ayah saya juga tidak bisa menunggu bulan depan."
"Tapi saya punya suami Adrian. Bagaimana bisa saya membiarkan laki-laki lain menyentuh saya sementara suami saya masih hidup?"
"Suami?" tanya Adrian dengan nada mengejek.
"Suami Anda sendiri yang mengantar Anda ke sini, Bu, suami Bu Amara juga yang menyerahkan Ibu kepada saya seperti menyerahkan paket barang. Suami Bu Amara bahkan tersenyum lebar saat meninggalkan Bu Amara di sini berdua dengan saya. Kalau ada yang berdosa di sini itu adalah Pak Doni sama Bu Ratih. Bu Amara hanya korban dari keserakahan mereka."
Adrian mencondongkan tubuhnya sedikit. "Dan saya? Saya tidak punya jalan lain untuk menyelamatkan ayah saya, kecuali dengan ini."
Kata-kata Adrian menampar kesadaran Amara dengan telak. Benar adanya. Dia tidak punya hak untuk bicara soal kesetiaan ketika suaminya sendiri yang berkhianat demi jabatan dan harta warisan. Doni telah menjualnya dengan harga murah demi kenyamanan hidup.
Adrian menegakkan tubuhnya kembali.
"Udah ya, Bu Amara, sekarang Bu Amara naik ke kursi itu dulu, ya, biar saya bisa cepat selesai. Kalau udah selesai, kita berdua sama-sama tenang, Bu, saya juga nggak ada beban lagi sama Bu Ratih, sama Pak Doni, sama Ibu juga."
Telunjuk Adrian mengarah lurus ke kursi ginekologi di ujung ruangan.
Bukannya langsung duduk di sana, Amara malah menggeleng lemah. Air matanya semakin deras mengalir membasahi pipinya yang pucat pasi.
"Tolong. Jangan kasar-kasar, Dok, lalu saya mohon, jangan apa-apakan saya karena saya tidak mau menyelingkuhi suami saya sendiri," lirih Amara, sembari berjalan menuju kursi ginekologi di ujung ruangan.
"Saya tidak akan kasar jika Anda bisa diajak kerja sama, Bu, saya hanya melakukan ini demi menyelamatkan ayah saya. Jadi, saya minta tolong ke Bu Amara, karena saya juga terpaksa melakukannya."
Amara yang sudah duduk, kemudian diminta membuka bagian bawah gaunnya dan duduk dengan posisi sedikit mengangkang. Namun, dia terus menolak, sampai akhirnya Adrian yang kesal, kembali mengingatkan.
"Bu Amara, saya minta tolong. Atau Bu Amara ingin saya menelepon Bu Ratih sekarang juga dan bilang kalau putrinya menolak diselamatkan? Kalau itu terjadi, kemungkinan besar Bu Amara sama Pak Doni diminta cerai."
Ancaman tentang ibunya selalu ampuh untuk melumpuhkan perlawanan Amara.
Bayangan ibunya yang mengamuk dan Doni yang dipecat serta hidup mereka yang hancur kembali menghantui pikiran Amara. Dia terjebak dalam situasi tanpa jalan keluar.
Dengan napas tersengal karena tangis, Amara bangkit dari duduknya dengan gerakan sangat lambat. Jemari lentik Amara gemetar hebat saat menyentuh tepi gaun mahalnya. Di hadapan Adrian yang menatapnya tanpa kedip, wanita itu merasa benar-benar dipermalukan.
Amara menaiki tangga kecil di depan kursi periksa itu. Dia memutar tubuhnya lalu duduk di ujung kursi yang dilapisi kulit sintetis dingin.
"Kakinya Nona. Letakkan di penyangga," perintah Adrian datar.
Pria itu sudah menarik kursi bulat beroda, duduk di depan selangkangan Amara, siap dengan alat-alatnya.
Amara memejamkan mata rapat-rapat. Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan jeritan frustrasi. Dengan sisa tenaga yang ada, dia mengangkat kakinya satu per satu, meletakkannya di penyangga besi yang dingin itu.
Posisi itu memaksanya terbuka sepenuhnya di hadapan Adrian.
Area paling privasi yang selama ini dijaganya mati-matian hanya untuk suaminya kini terpampang jelas di depan mata pria asing. Amara bisa merasakan tatapan Adrian di sana. Dia malu dan hina. Dalam hati kecilnya, Amara terus memanggil nama suaminya.
"Mas Doni, kenapa kamu tega ngelakuin ini ke aku…"
Amara merasa telah mengkhianati janji suci pernikahannya. Janji yang diucapkannya lima tahun lalu di depan altar suci. Kini janji itu telah dinodai oleh suaminya sendiri yang bertindak sebagai mucikari.
"Rileks, Bu Amara, soalnya kalau Bu Amara kurang lemas, nanti malah kerasa sakit. Saya masukinnya pelan-pelan, kok."
Amara hanya bisa pasrah dan membiarkan air matanya terus mengalir.
Adrian melihat kepasrahan itu. Dia melihat bagaimana dada wanita itu naik turun menahan isak tangis. Ada sedikit rasa iba yang menyelinap di hati Adrian, nmun dia segera menepisnya agar ayahnya tidak didatangi penagih hutang lagi.
Amara masih terbaring di atas kursi pemeriksaan dengan posisi yang paling tidak berdaya seumur hidupnya. Kedua kakinya terbuka lebar di atas penyangga besi. Dia memejamkan mata rapat-rapat. Dia mencoba membayangkan dirinya ada di tempat lain. Di rumah. Di kamar tidurnya yang nyaman. Di mana saja asal bukan di sini.
Adrian menghela napas panjang sebelum memulai. Dia sebenarnya ingin segera menyelesaikan drama konyol ini, menyuntikkan cairan itu, memastikan Amara hamil, lalu pergi membawa uang pelunasan hutang ayahnya.
Baru saja ujung alat suntik itu hendak menyentuh permukaan kulit Amara, suara dering ponsel memecah konsentrasi.
Suara itu berasal dari saku celana Adrian.
Adrian berdecak kesal, meletakkan alat suntik itu kembali ke nampan logam dengan kasar, lalu merogoh saku celananya dan melihat nama yang tertera di layar ponsel.
Bu Ratih.
Adrian menekan tombol hijau, lalu tanpa ragu menekan tombol loudspeaker. Dia sengaja melakukannya karena ingin Amara mendengar sendiri apa yang akan dikatakan oleh ibunya. Biar wanita itu sadar bahwa dia bukan satu-satunya penjahat di ruangan ini.
"Halo, Bu Ratih," sapa Adrian datar.
"Adrian, jangan coba-coba lakukan inseminasi buatan dari benih milik Doni! Kemarin, sekretaris pribadi Doni memberitahuku tentang rencana ini karena Doni sempat minta saran padanya!"
Amara tersentak di atas kursi, mendengar hal tersebut, begitu juga dengan Adrian yang tidak kalah kagetnya karena Bu Ratih ternyata tahu trik yang akan digunakan Doni agar Adrian dan Amara tidak jadi melakukan hubungan ranjang.
"Apa maksud Ibu?" tanya Adrian tenang. Dia melirik Amara yang kini menatap ponsel itu dengan wajah pucat.
"Kamu pasti diancam untuk menuruti perintah Adiran, kan? Kamu mau pakai alat suntik buat bikin Amara hamil? Kamu mau pakai sperma bekas si Doni yang disimpan di laboratorium, kan?"
Adrian terdiam sejenak. Tebakan wanita tua itu tepat sasaran. Rupanya Bu Ratih lebih licik dan teliti daripada dugaannya.
"Saya hanya melakukan prosedur medis yang aman, Bu. Inseminasi buatan," jawab Adrian membela diri.
Bu Ratih kemudian mendengus kesal dan kembali menaikkan suaranya "Saya bayar kamu mahal bukan untuk jadi dokter kandungan! Ingat, saya yang bayar kamu, bukan Doni. Kalau kamu masih ngotot pakai inseminasi buatan, selain waktunya lama, ada resiko lain, sedangkan saya ingin Amara secepatnya bisa hamil!"
Air mata Amara kembali menetes mendengar kata-kata ibunya.
"Dengar ya, Adrian," lanjut Bu Ratih, suaranya kini merendah, menunjukkan kalau kalimat selanjutnya adalah keinginannya selama ini.
"Saya tidak ada masalah kamu menggunakan cara itu, cara yang baik menurut ilmu Obgyn kamu. Tapi ingat ya, gen Doni itu lemah dan kualitasnya sampah. Lima tahun anak saya nikah sama dia, hasilnya nihil. Kalaupun jadi, paling-paling bayinya nanti cacat atau sama aja lemah kayak bapaknya. Saya tidak mau cucu yang penyakitan dari hasil benih itu!"
Sepeninggal suaminya, suasana kamar mendadak berubah menjadi sangat sunyi dan dingin. Amara menarik kedua kakinya ke atas kasur, meringkuk menyamping menghadap jendela kaca dengan tubuh yang gemetar.Sedetik kemudian, air matanya menetes membasahi permukaan bantal. Ia menangis dalam diam meratapi nasib pernikahannya yang terasa kian memburuk, sembari memeluk bantal guling erat-erat untuk mencari kenyamanan.Hawa dingin dari pendingin ruangan mulai menusuk kulitnya yang polos. Rasa sedih seketika menguasai seluruh perasaannya malam ini, membuatnya merasa sangat lelah menghadapi rumah tangga yang penuh pertengkaran.Di tengah isak tangisnya, bayangan wajah Adrian justru muncul begitu saja mengisi kepalanya. Amara mengingat jelas bagaimana pria berjas putih itu memperlakukannya dengan sangat lembut dan penuh kehangatan beberapa jam yang lalu."Adrian... aku kangen banget sama pelukan kamu malam ini," rintih Amara sangat pelan di balik selimutnya. "Di sini ra
Mendapat pertanyaan itu, keringat dingin langsung merembes di dahi Amara. Ia refleks mencengkeram erat tali tas tangannya, memaksa otaknya bekerja cepat untuk menyusun pembelaan yang masuk akal."Aku tadi mual parah gara-gara efek suntikan hormon, Mas," dalih Amara dengan suara yang diusahakan tetap stabil. "Dokter Adrian nggak bolehin aku nyetir sendiri, makanya dia yang antar aku sampai depan gerbang."Doni tidak langsung merespons. Ia melipat kedua tangan di depan dada dengan angkuh, sementara matanya bergerak lincah memindai penampilan istrinya dari ujung kaki hingga ujung kepala.Mendengar nama sepupunya disebut, Doni bangkit berdiri dan melangkah maju. Ia menghampiri Amara perlahan, lalu berhenti tepat satu jengkal di hadapan tubuh istrinya yang gemetar.Tanpa peringatan, Doni memajukan kepala ke arah perpotongan leher Amara. Ia mengendus kemeja istrinya dengan tarikan hidung yang kasar, mencoba menangkap aroma yang terasa asing di sana."Mua
Sambil berbicara, kedua tangan Amara mulai bergerak menyentuh kerah kemeja pria itu. Ia membuka kancing yang salah masuk itu satu per satu dengan telaten, hingga kulit dada Adrian perlahan terekspos selama proses tersebut.Adrian hanya diam membiarkan Amara mengurus pakaiannya di tengah kesunyian. Ia sama sekali tidak memprotes, justru membiarkan rasa nyaman perlahan merayapi tubuhnya akibat sentuhan kecil tersebut.Setelah semua kancing terbuka, Amara memasukkannya kembali ke lubang yang benar. Ia memastikan letak kain kemeja itu sudah lurus dan simetris seperti semula.“Udah rapi sekarang bajunya. Kamu berdiri, gih," ucap Amara samb
"Kamu pasti lemes banget buat pakai baju dengan benar, ya?" tebak Bu Ratih sambil tersenyum tipis meremehkan. "Makanya kancing baju kamu sampai mencong begini pas dipakai habis periksa tadi."Mendapat jalan keluar yang tak terduga, Amara buru-buru menganggukkan kepalanya dengan tempo cepat."Iya, Ma," jawab Amara terbata-bata. "Tangan aku gemetar semua dari tadi gara-gara nahan mual, apalagi Mama gedor pintunya kencang banget di depan."Penjelasan itu terdengar sangat masuk akal bagi logika Bu Ratih. Wanita paruh baya tersebut sama sekali tidak menaruh kecurigaan lebih lanjut, bahkan ia terlihat puas melihat kondisi fisik putrinya yang tampak begitu lemah."Nggak apa-apa kalau kamu merasa mual parah sekarang." Bu Ratih mengusap bahu putrinya dengan gerakan lambat yang penuh arti. "Itu justru tanda yang sangat bagus buat kelanjutan rencana besar keluarga kita."Mendengar respons positif itu, Amara saling melempar pandangan singkat dengan Adrian. Ada
"Kamar mandi dalam lagi dipakai sama Bu Amara," kilah Adrian cepat sebelum mertuanya itu bertanya lebih jauh."Jadi saya terpaksa pakai kamar mandi di belakang pas Tante gedor pintu depan kencang banget barusan," lanjutnya seraya menunjukkan ekspresi seolah terganggu dengan ketukan tersebut.Mendengar alasan itu, Bu Ratih hanya mendengus pelan untuk menahan rasa kesalnya. Ia kembali mengedarkan pandangan, menyisir setiap inci area meja periksa medis di hadapannya.Seketika, tatapannya terkunci pada satu titik. Seprai putih di atas ranjang pasien itu tampak sangat kusut masai, seolah baru saja terjadi pergulatan hebat di atasnya.
Sambil merapikan sabuk ikat pinggangnya dengan cepat, Adrian mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. "Kamu lihat punya kamu nggak? Coba cek di dekat kaki meja periksa itu.""Itu dia, ada di dekat kaki meja kayu!" seru Amara pelan. "Punya kamu juga jatuh persis di sebelah punyaku."Lantaran waktu yang kian menipis, Adrian memberikan perintah tegas. "Ambilin dua-duanya sekarang juga. Biar aku yang umpetin di tempat yang aman supaya ibumu nggak liat."Sesuai permintaan pria itu, Amara segera menunduk untuk memungut dua helai pakaian dalam tersebut. Ia menyerahkan benda privat itu ke tangan Adrian secepat mungkin sebelum pintu klinik didobrak.Baru saja menerima barang itu, Adrian melangkah lebar menuju meja kerja utama di sudut ruangan. Sedetik kemudian, ia menarik salah satu laci meja kayunya dengan gerakan kasar.Adrian langsung menyembunyikan pakaian dalam mereka ke sana, lalu mendorong laci tersebut menggunakan tenaga penuh hingga tertutup
Amara menurut saja layaknya pasien yang patuh. Dia turun dari meja periksa dengan kaki yang gemetar lemas. Cairan lengket terasa mengalir di sela-sela pahanya saat dia berdiri tegak, membuatnya merasa kotor sekaligus terangsang. Dia berdiri canggung di hadapan Adrian dengan kondisi tubuh bagian baw
Perlahan, jari-jari Adrian mulai menekan, lalu meremas payudara itu dengan gerakan memutar. Kain bra yang tipis tidak bisa menyembunyikan tekstur kenyal di dalamnya.“Ahhh...” Amara mendesah pelan dan kepalanya mendongak.Remasan Adrian terasa sangat pas. Tidak terlalu keras, tidak terlalu lembut.
Adrian menunduk, melihat cairan pre-ejakulasi yang melumasi kepala miliknya dan jari Amara.“Bukan, Bu Amara, itu bukan benih saya. Masa Bu Amara nggak tahu? Itu, cairan pelumas alami. Itu tandanya kelenjar Cowper bekerja dengan baik. Artinya, saya benar-benar sehat dan jalur saya masih bersih kala
Amara refleks mencengkeram pinggiran meja periksa saat merasakan tekanan luar biasa di bagian bawahnya. Lubang sempit itu dipaksa membuka melebihi kapasitas biasanya, membuat rasanya penuh dan sesak.Adrian terus menekan sampai kepala miliknya yang berbentuk helm perlahan ambles ke dalam. Dinding d







