Home / Urban / Suntik Aku, Mas Dokter! / Bab 4 Harus Bermain Langsung!

Share

Bab 4 Harus Bermain Langsung!

Author: NFLusica
last update Huling Na-update: 2026-01-30 15:40:43

Itu adalah benih Doni.

Sampel yang sempat diambil kemaren malam saat pemeriksaan rutin di klinik lama tempat Adrian bekerja paruh waktu.

Sebenarnya, Bu Ratih dan Doni memiliki dua keinginan berbeda.

Bu Ratih ingin Adrian langsung meniduri Amara layaknya pejantan bayaran karena menganggap benih Doni sudah tidak berguna, sedangkan Doni ingin agar cairan miliknya saja yang disuntikkan ke dalam milik Amara.

Awalnya Adrian ingin segera selesai dengan memastikan Amara hamil secara alami, mengingat Amara memiliki kondisi medis khusus yang membuatnya cukup sulit menerima cairan hasil suntikan.

Namun, dia masih memiliki sisa hati nurani sebagai seorang dokter dan ingin mencoba satu kali lagi dengan prosedur inseminasi buatan, meski cukup beresiko.

Jika ini berhasil, maka Amara tidak perlu disentuh secara langsung oleh pria lain.

Jika ini berhasil, Adrian bisa mendapatkan uangnya tanpa harus menghancurkan sisa harga diri wanita rapuh di hadapannya.

Adrian sengaja tidak memberitahu Bu Ratih karena Bu Ratih hanya ingin Amara hamil secara natural. Dia lalu menyedot cairan dari tabung itu ke dalam sebuah alat suntik khusus.

Amara mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Dia menatap punggung Adrian dengan tatapan memohon yang menyedihkan.

"Apa tidak ada cara lain? Maksud saya mungkin kita bisa menunggu bulan depan. Atau kita bisa bilang ke Mama kalau prosedurnya gagal tanpa harus melakukan itu sekarang. Aku takut, Dok, aku takut banget."

Adrian meletakkan alat suntik yang sudah siap itu di atas nampan perak. Pria itu berbalik badan perlahan, lalu menyandarkan pinggulnya di tepi meja periksa sambil melipat kedua tangan di dada.

"Menunggu bulan depan?" tanya Adrian dengan nada datar.

"Iya, Dok, saya tidak mau melakukan ini. Saya masih mencintai Mas Doni, hati saya terus menolak kalau saya disentuh laki-laki lain."

"Kaau boleh jujur, Bu Amara, tadi Bu Ratih baru saja menelepon saya, lima menit yang lalu sebelum Bu Amara sama Pak Doni datang. Beliau bertanya apakah saya sudah memulai prosedurnya. Beliau tidak mau menunggu, lalu hutang ayah saya juga tidak bisa menunggu bulan depan."

"Tapi saya punya suami Adrian. Bagaimana bisa saya membiarkan laki-laki lain menyentuh saya sementara suami saya masih hidup?"

"Suami?" tanya Adrian dengan nada mengejek.

"Suami Anda sendiri yang mengantar Anda ke sini, Bu, suami Bu Amara juga yang menyerahkan Ibu kepada saya seperti menyerahkan paket barang. Suami Bu Amara bahkan tersenyum lebar saat meninggalkan Bu Amara di sini berdua dengan saya. Kalau ada yang berdosa di sini itu adalah Pak Doni sama Bu Ratih. Bu Amara hanya korban dari keserakahan mereka."

Adrian mencondongkan tubuhnya sedikit. "Dan saya? Saya tidak punya jalan lain untuk menyelamatkan ayah saya, kecuali dengan ini."

Kata-kata Adrian menampar kesadaran Amara dengan telak. Benar adanya. Dia tidak punya hak untuk bicara soal kesetiaan ketika suaminya sendiri yang berkhianat demi jabatan dan harta warisan. Doni telah menjualnya dengan harga murah demi kenyamanan hidup.

Adrian menegakkan tubuhnya kembali.

"Udah ya, Bu Amara, sekarang Bu Amara naik ke kursi itu dulu, ya, biar saya bisa cepat selesai. Kalau udah selesai, kita berdua sama-sama tenang, Bu, saya juga nggak ada beban lagi sama Bu Ratih, sama Pak Doni, sama Ibu juga."

Telunjuk Adrian mengarah lurus ke kursi ginekologi di ujung ruangan.

Bukannya langsung duduk di sana, Amara malah menggeleng lemah. Air matanya semakin deras mengalir membasahi pipinya yang pucat pasi.

"Tolong. Jangan kasar-kasar, Dok, lalu saya mohon, jangan apa-apakan saya karena saya tidak mau menyelingkuhi suami saya sendiri," lirih Amara, sembari berjalan menuju kursi ginekologi di ujung ruangan.

"Saya tidak akan kasar jika Anda bisa diajak kerja sama, Bu, saya hanya melakukan ini demi menyelamatkan ayah saya. Jadi, saya minta tolong ke Bu Amara, karena saya juga terpaksa melakukannya."

Amara yang sudah duduk, kemudian diminta membuka bagian bawah gaunnya dan duduk dengan posisi sedikit mengangkang. Namun, dia terus menolak, sampai akhirnya Adrian yang kesal, kembali mengingatkan.

"Bu Amara, saya minta tolong. Atau Bu Amara ingin saya menelepon Bu Ratih sekarang juga dan bilang kalau putrinya menolak diselamatkan? Kalau itu terjadi, kemungkinan besar Bu Amara sama Pak Doni diminta cerai."

Ancaman tentang ibunya selalu ampuh untuk melumpuhkan perlawanan Amara.

Bayangan ibunya yang mengamuk dan Doni yang dipecat serta hidup mereka yang hancur kembali menghantui pikiran Amara. Dia terjebak dalam situasi tanpa jalan keluar.

Dengan napas tersengal karena tangis, Amara bangkit dari duduknya dengan gerakan sangat lambat. Jemari lentik Amara gemetar hebat saat menyentuh tepi gaun mahalnya. Di hadapan Adrian yang menatapnya tanpa kedip, wanita itu merasa benar-benar dipermalukan.

Amara menaiki tangga kecil di depan kursi periksa itu. Dia memutar tubuhnya lalu duduk di ujung kursi yang dilapisi kulit sintetis dingin.

"Kakinya Nona. Letakkan di penyangga," perintah Adrian datar.

Pria itu sudah menarik kursi bulat beroda, duduk di depan selangkangan Amara, siap dengan alat-alatnya.

Amara memejamkan mata rapat-rapat. Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan jeritan frustrasi. Dengan sisa tenaga yang ada, dia mengangkat kakinya satu per satu, meletakkannya di penyangga besi yang dingin itu.

Posisi itu memaksanya terbuka sepenuhnya di hadapan Adrian.

Area paling privasi yang selama ini dijaganya mati-matian hanya untuk suaminya kini terpampang jelas di depan mata pria asing. Amara bisa merasakan tatapan Adrian di sana. Dia malu dan hina. Dalam hati kecilnya, Amara terus memanggil nama suaminya.

"Mas Doni, kenapa kamu tega ngelakuin ini ke aku…"

Amara merasa telah mengkhianati janji suci pernikahannya. Janji yang diucapkannya lima tahun lalu di depan altar suci. Kini janji itu telah dinodai oleh suaminya sendiri yang bertindak sebagai mucikari.

"Rileks, Bu Amara, soalnya kalau Bu Amara kurang lemas, nanti malah kerasa sakit. Saya masukinnya pelan-pelan, kok."

Amara hanya bisa pasrah dan membiarkan air matanya terus mengalir.

Adrian melihat kepasrahan itu. Dia melihat bagaimana dada wanita itu naik turun menahan isak tangis. Ada sedikit rasa iba yang menyelinap di hati Adrian, nmun dia segera menepisnya agar ayahnya tidak didatangi penagih hutang lagi.

Amara masih terbaring di atas kursi pemeriksaan dengan posisi yang paling tidak berdaya seumur hidupnya. Kedua kakinya terbuka lebar di atas penyangga besi. Dia memejamkan mata rapat-rapat. Dia mencoba membayangkan dirinya ada di tempat lain. Di rumah. Di kamar tidurnya yang nyaman. Di mana saja asal bukan di sini.

Adrian menghela napas panjang sebelum memulai. Dia sebenarnya ingin segera menyelesaikan drama konyol ini, menyuntikkan cairan itu, memastikan Amara hamil, lalu pergi membawa uang pelunasan hutang ayahnya.

Baru saja ujung alat suntik itu hendak menyentuh permukaan kulit Amara, suara dering ponsel memecah konsentrasi.

Suara itu berasal dari saku celana Adrian.

Adrian berdecak kesal, meletakkan alat suntik itu kembali ke nampan logam dengan kasar, lalu merogoh saku celananya dan melihat nama yang tertera di layar ponsel.

Bu Ratih.

Adrian menekan tombol hijau, lalu tanpa ragu menekan tombol loudspeaker. Dia sengaja melakukannya karena ingin Amara mendengar sendiri apa yang akan dikatakan oleh ibunya. Biar wanita itu sadar bahwa dia bukan satu-satunya penjahat di ruangan ini.

"Halo, Bu Ratih," sapa Adrian datar.

"Adrian, jangan coba-coba lakukan inseminasi buatan dari benih milik Doni! Kemarin, sekretaris pribadi Doni memberitahuku tentang rencana ini karena Doni sempat minta saran padanya!"

Amara tersentak di atas kursi, mendengar hal tersebut, begitu juga dengan Adrian yang tidak kalah kagetnya karena Bu Ratih ternyata tahu trik yang akan digunakan Doni agar Adrian dan Amara tidak jadi melakukan hubungan ranjang.

"Apa maksud Ibu?" tanya Adrian tenang. Dia melirik Amara yang kini menatap ponsel itu dengan wajah pucat.

"Kamu pasti diancam untuk menuruti perintah Adiran, kan? Kamu mau pakai alat suntik buat bikin Amara hamil? Kamu mau pakai sperma bekas si Doni yang disimpan di laboratorium, kan?"

Adrian terdiam sejenak. Tebakan wanita tua itu tepat sasaran. Rupanya Bu Ratih lebih licik dan teliti daripada dugaannya.

"Saya hanya melakukan prosedur medis yang aman, Bu. Inseminasi buatan," jawab Adrian membela diri.

Bu Ratih kemudian mendengus kesal dan kembali menaikkan suaranya "Saya bayar kamu mahal bukan untuk jadi dokter kandungan! Ingat, saya yang bayar kamu, bukan Doni. Kalau kamu masih ngotot pakai inseminasi buatan, selain waktunya lama, ada resiko lain, sedangkan saya ingin Amara secepatnya bisa hamil!"

Air mata Amara kembali menetes mendengar kata-kata ibunya.

"Dengar ya, Adrian," lanjut Bu Ratih, suaranya kini merendah, menunjukkan kalau kalimat selanjutnya adalah keinginannya selama ini.

"Saya tidak ada masalah kamu menggunakan cara itu, cara yang baik menurut ilmu Obgyn kamu. Tapi ingat ya, gen Doni itu lemah dan kualitasnya sampah. Lima tahun anak saya nikah sama dia, hasilnya nihil. Kalaupun jadi, paling-paling bayinya nanti cacat atau sama aja lemah kayak bapaknya. Saya tidak mau cucu yang penyakitan dari hasil benih itu!"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 6 Proses (2)

    Adrian menatap Amara, dia masih menunggu jawaban wanita itu."Janji sama aku," pinta Amara dengan suara bergetar. "Cuma sekali ini saja. Hari ini saja. Setelah itu kita lupakan semuanya. Anggap tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita."Itu adalah pertahanan terakhir Amara. Dia mencoba membuat kesepakatan untuk menyelamatkan sisa kewarasannya. Dia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah kecelakaan satu malam, bukan awal dari sebuah perselingkuhan.Adrian terdiam sejenak, lalu menatap wajah cantik Amara yang penuh ketakutan. Dalam hati, Adrian tahu bahwa janji itu mungkin sulit ditepati, terutama jika benihnya berhasil tumbuh. Karena mereka akan terikat selamanya oleh darah daging itu.Tapi saat ini Adrian perlu Amara kooperatif."Saya janji, ini hanya satu kali, sampai benih saya masuk dan Bu Amara hamil. Setelah itu, kita orang asing lagi."Amara memejamkan matanya, sembari rintikan air matanya menetes, wanita itu mengangguk pelan, lalu berbisik. "Lakukan sekarang, Dok

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 5 Proses

    "Ma..." desis Amara lirih. Hatinya hancur mendengar suaminya dihina sedemikian rupa oleh ibunya sendiri.Lalu, Bu Ratih melanjutkan penjelasannya lagi. "Kamu lihat diri kamu sendiri, Adrian. Kamu tinggi. Badan kamu bagus. Kamu atletis. Wajah kamu tampan. Kamu juga jarang sakit, kan? Itu yang saya mau! Maka dari itu, saya bayar kamu buat nanem benih kamu di tubuh Amara, biar cucu saya sehat macam kamu!"Adrian mendengarkan sambil menatap pantulan dirinya di cermin lemari obat. Dia memang sadar fisiknya di atas rata-rata. Tapi mendengar itu dijadikan alasan untuk membuahi istri orang, rasanya tetap saja gila."Jadi Ibu mau saya bagaimana?" tanya Adrian memancing, dia pura-pura polos, sekaligus untuk meyakinkan Amara bahwa ini memang perintah dari ibunya."Buang suntikan itu sekarang juga!" perintah Bu Ratih. "Saya mau kamu lakukan secara langsung. Natural. Hubungan badan layaknya suami istri. Pastikan benih kamu masuk sedalam-dalamnya. Dengan begitu, peluang hamilnya lebih besar dan kua

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 4 Harus Bermain Langsung!

    Itu adalah benih Doni.Sampel yang sempat diambil kemaren malam saat pemeriksaan rutin di klinik lama tempat Adrian bekerja paruh waktu.Sebenarnya, Bu Ratih dan Doni memiliki dua keinginan berbeda.Bu Ratih ingin Adrian langsung meniduri Amara layaknya pejantan bayaran karena menganggap benih Doni sudah tidak berguna, sedangkan Doni ingin agar cairan miliknya saja yang disuntikkan ke dalam milik Amara.Awalnya Adrian ingin segera selesai dengan memastikan Amara hamil secara alami, mengingat Amara memiliki kondisi medis khusus yang membuatnya cukup sulit menerima cairan hasil suntikan.Namun, dia masih memiliki sisa hati nurani sebagai seorang dokter dan ingin mencoba satu kali lagi dengan prosedur inseminasi buatan, meski cukup beresiko.Jika ini berhasil, maka Amara tidak perlu disentuh secara langsung oleh pria lain.Jika ini berhasil, Adrian bisa mendapatkan uangnya tanpa harus menghancurkan sisa harga diri wanita rapuh di hadapannya.Adrian sengaja tidak memberitahu Bu Ratih kare

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 3 Luka Seorang Istri

    Tidak terasa, sehari sudah dilalui, Amara masih saja merenung mengingat suaminya sangat bersemangat dalam mengantarnya menuju klinik pribadi Adrian.Doni duduk di balik kemudi dengan wajah cerah. Terlalu cerah, malah.Pria itu bersenandung kecil mengikuti irama lagu pop yang diputar pelan di radio, seolah mereka sedang menuju ke acara pernikahan kerabat atau liburan akhir pekan. Padahal pagi ini dia mengantar istrinya menuju tempat di mana istrinya akan diserahkan ke pelukan laki-laki lain.Di kursi penumpang, Amara duduk kaku bak manekin. Kedua tangannya meremas ujung dress floral selutut yang ia kenakan hingga kain mahalnya kusut tak berbentuk. Matanya menatap kosong ke luar jendela, melihat gedung-gedung pencakar langit yang berlarian mundur."Sayang, kamu kok diem aja? Jangan tegang gitu dong," tegur Doni santai sambil melirik sekilas. Tangan kirinya terulur, mencoba mengelus paha Amara.Amara beringsut pelan, menghindari sentuhan itu. Bagaimana bisa suaminya bersikap setenang ini

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 2 Saya Siap Layani Istri Anda

    "Pasti ada cara lain selain meniduri istri orang demi mendapatkan uang pelunasan hutang." Suara Amara terdengar parau dan putus asa saat mencoba menggugah hati nurani pria di hadapannya. "Jika memang ada cara lain yang lebih manusiawi untuk mendapatkan uang setengah miliar dalam waktu semalam, tolong beritahu saya sekarang juga, Nona Amara." Adrian menjawab dengan nada suara yang dingin sambil melangkah maju satu langkah untuk mengikis jarak di antara mereka."Klinik saya akan disita bulan depan dan ayah saya akan dibunuh jika saya menolak tawaran ibu Anda."Amara terdiam karena dia sangat tahu bagaimana kejamnya rentenir yang meminjamkan uang kepada ayah Adrian."Tapi kamu menghancurkan hidupku dan rumah tanggaku demi menyelamatkan hidupmu sendiri.""Hancur?" Adrian menatap tajam ke arah Amara yang langsung menundukkan wajahnya karena kata-kata menyakitkan itu memang benar adanya. "Kita berdua sama-sama terjebak dalam permainan kotor ibu Anda, tidak ada jalan keluar lain selain mema

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 1 Semua Ini Demi Ayahku!

    “Dua ratus juta buat lunasi hutang ayahmu, tapi kamu harus buat Amara hamil!”Sebuah cek melayang di udara, lalu mendarat mulus di atas meja marmer yang dingin. Angkanya terpampang jelas. Jumlah nol-nya banyak, cukup untuk bikin mata siapa saja terbelalak kaget.Adrian menatap kertas itu dengan wajah datar. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu nampak berpikir sejenak. Jas putih dokternya tersampir asal di lengan kekarnya yang terbalut kemeja biru muda.Di depannya, Bu Ratih menatap Adrian dalam-dalam karena dia tahu persis apa yang sedang dibutuhkan oleh dokter kandungan di hadapannya. "Tugasmu sederhana, Adrian, buahi Amara dan berikan aku cucu dari benihmu!"Perintah itu terdengar gila dan benar-benar di luar nalar!Bagaimana tidak, Adrian ini sepupu jauh Doni sendiri. Meskipun hubungan darahnya sudah agak jauh, tetap saja rasanya aneh.Tapi Adrian tidak langsung menolak.Ayahnya yang gila judi itu sekarang lagi sekarat di rumah sakit. Preman-preman suruhan rentenir sudah ngancam b

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status