LOGIN"Ma..." desis Amara lirih. Hatinya hancur mendengar suaminya dihina sedemikian rupa oleh ibunya sendiri.
Lalu, Bu Ratih melanjutkan penjelasannya lagi. "Kamu lihat diri kamu sendiri, Adrian. Kamu tinggi. Badan kamu bagus. Kamu atletis. Wajah kamu tampan. Kamu juga jarang sakit, kan? Itu yang saya mau! Maka dari itu, saya bayar kamu buat nanem benih kamu di tubuh Amara, biar cucu saya sehat macam kamu!"
Adrian mendengarkan sambil menatap pantulan dirinya di cermin lemari obat. Dia memang sadar fisiknya di atas rata-rata. Tapi mendengar itu dijadikan alasan untuk membuahi istri orang, rasanya tetap saja gila.
"Jadi Ibu mau saya bagaimana?" tanya Adrian memancing, dia pura-pura polos, sekaligus untuk meyakinkan Amara bahwa ini memang perintah dari ibunya.
"Buang suntikan itu sekarang juga!" perintah Bu Ratih. "Saya mau kamu lakukan secara langsung. Natural. Hubungan badan layaknya suami istri. Pastikan benih kamu masuk sedalam-dalamnya. Dengan begitu, peluang hamilnya lebih besar dan kualitas bayinya terjamin."
Hening.
Amara menggelengkan kepalanya kuat-kuat di atas kursi.
"Nggak, Mama nggak mungkin tega..." isaknya.
Seolah bisa mendengar penolakan batin putrinya, Bu Ratih kembali bersuara.
"Dan jangan coba-coba membantah, Adrian. CCTV di depan klinik kamu sudah saya sadap. Saya tahu berapa lama kalian di dalam. Kalau kamu keluar cepat-cepat dan Amara tidak hamil bulan ini, perjanjian kita batal. Hutang ayahmu tidak akan saya lunasi dan saya tidak peduli lagi dengan kondisi ayah kamu yang dikejar-kejar debt kolektor!"
Rahang Adrian mengeras mendengar ayahnya diikutsertakan dalam kasus ini. Tapi melawan sepertinya sama saja, Bu Ratih yang punya kuasa. Dia tidak punya pilihan lain karena nyawa ayahnya ada di ujung tanduk.
"Baik, Bu. Saya mengerti," jawab Adrian dingin.
"Bagus. Kerjakan tugasmu dengan benar. Nikmati saja, Adrian. Anak saya cantik, kan? Anggap saja bonus. Oh iya, dia sudah tidak disentuh Doni cukup lama, jadi itu bonus kamu selain hutang ayahmu lunas!"
Klik.
Suara tuuut panjang yang menyakitkan telinga akhirnya berhenti saat Adrian mematikan ponselnya. Dia memasukkannya kembali ke saku celana.
Sekarang, suasananya berubah menjadi mencekam dan Amara merasakan bulu kuduknya meremang.
Adrian pun sama, diam di tempatnya, menatap alat suntik yang tergeletak di nampan. Alat itu adalah satu-satunya penyelamat harga diri Amara. Namun sekarang, alat itu sudah tidak berguna.
Perlahan, Adrian mengambil alat suntik itu, dan ketika melihatnya, Amara merasa Adrian masih mementingkan harga diri daripada hanya uang untuk bayar hutang.
Namun, harapan itu musnah saat Adrian membuang alat suntik beserta isinya ke tempat sampah medis di sudut ruangan.
Brak.
Adrian berbalik badan, berjalan pelan mendekati kursi pemeriksaan, dan berhenti tepat di antara kedua kaki Amara yang masih terbuka lebar.
Wajah pria itu kini berbeda. Mata Adrian yang tajam menelusuri tubuh Amara dari ujung kaki hingga ke wajahnya yang basah oleh air mata.
"Bu Amara dengar sendiri, kan? Itu bukan permintaan saya, pun saya sebenarnya tidak mau melakukan ini. Tapi, saya bisa berbuat apa kalau taruhannya itu nyawa ayah saya yang diancam sama rentenir?" tanya Adrian dengan nada sedih.
Amara mengangguk patah-patah, lalu tubuhnya gemetar hebat mendengar pengakuan itu. "Ma-maaf, Dok, saya tidak tahu kalau ini bakal terjadi. Saya mohon, lakukan itu secepatnya, biar kita sama-sama selesai dan tidak punya tanggungan satu sama lain."
Adrian melepaskan sarung tangan lateksnya, lalu melemparnya sembarangan ke lantai. Sejurus kemudian, pria itu menumpukan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan paha Amara, mengunci wanita itu di tempatnya. Wajahnya mendekat hingga Amara bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di wajahnya.
Amara sadar, tidak ada lagi prosedur medis yang steril menggunakan inseminasi buatan. Itu artinya, Adrian akan menyentuhnya, kulit bertemu kulit, dan akan ada penetrasi seksual yang sesungguhnya.
"Tidak. Aku tidak mau!" Amara memekik histeris. Wanita itu berusaha turun dari kursi pemeriksaan ginekologi yang tinggi itu. Tangannya mencengkeram sisi kursi, berusaha menarik tubuhnya menjauh dari jangkauan Adrian.
Namun upaya itu sia-sia belaka.
Adrian maju selangkah dan menahan kedua bahu Amara dengan tangannya yang besar. "Ma-maaf, Bu Amara, saya tidak punya pilihan lain, ini satu-satunya jalan yang bisa saya ambil!"
Amara pun hanya diam saja, apalagi begitu sadar bahwa Adrian tidak benar-benar ingin menyakitinya, atau bahkan memaksanya. Sentuhan tangan Adrian di bahunya tadi pun tidak ada tenaga, mengingat Adrian hanya ingin menenangkannya.
"Kalau Bu Amara berontak, Bu Amara bisa jatuh, lagipula kaki Bu Amara masih terkait di penyangga besi. Saya tidak mau Bu Amara cedera parah akibat memaksakan diri keluar dari pengait itu."
"Bentar ya, Bu Amara, saya mau periksa Bu Amara dulu."
"Memeriksa apa lagi, tadi kan sudah?"
"Itu tadi untuk inseminasi. Sekarang prosedurnya beda. Saya harus pastikan jalan lahir Bu Amara siap menerima ukuran saya. Saya tidak mau menyakiti Bu Amara, apalagi sampai Bu Amara pendarahan dan pulang nggak bisa jalan," jawab Adrian tanpa filter lagi.
Kata-kata vulgar yang diucapkan dengan nada medis itu membuat wajah Amara memerah padam karena malu dan takut.
Tanpa menunggu persetujuan, Adrian kembali duduk di kursi bulat di antara kedua kaki Amara.
"Buka sedikit lagi, Bu," perintah Adrian.
Amara menggeleng lemah, namun tangan Adrian sudah menyentuh paha bagian dalam Amara, memaksanya untuk terbuka lebih lebar. Jari Adrian yang terbalut sarung tangan karet mulai menyentuh bibir kewanitaan Amara.
"Rileks ya, Bu, biar nggak tegang, terus saya bisa mastiin Bu Amara baik-baik saja setelah prosedur ini selesai." Jari telunjuk Adrian perlahan menyusup masuk. Mengecek kedalaman dan elastisitas dinding di sana.
Amara meringis, rasanya perih dan sesak, padahal itu hanya satu jari.
Adrian yang sadar Amara sudah lama tidak dipenetrasi suaminya, hanya bisa mengerutkan keningnya. Dia menarik jarinya keluar lalu menatap Amara dengan pandangan tidak percaya. "Otot Bu Amara sangat kaku, terus jalurnya juga sepertinya sangat sulit untuk basah. Sepertinya Pak Doni tidak pernah menyentuh Bu Amara."
Komentar itu menohok harga diri Amara. Dia ingin membantah dan bilang kalau kehidupan seksualnya dengan Doni bahagia. Tapi nyatanya dia tidak bisa bohong. Doni memang jarang menyentuhnya setahun terakhir. Dan kalaupun menyentuhnya, Doni selalu terburu-buru. Tidak pernah sabar seperti Adrian yang kini justru telaten memeriksa kondisinya.
"Bukan urusan kamu," desis Amara ketus. "Cepat selesaikan saja, terus antar aku pulang!"
Adrian menggeleng pelan. "Kalau kondisinya sekering ini saya tidak bisa masuk, Bu, rasanya akan sangat sakit buat Bu Amara. Saya udah janji ga nyakitin Bu Amara, tapi kalau Ibu maksa, ini bisa lecet, perih, terus Bu Amara ga bisa jalan besok pagi."
"Memangnya seberapa besar punya Dokter sampai berani bilang kayak gitu?" tantang Amara yang sudah putus asa dan hanya ingin ini berakhir.
Adrian menghela napas panjang, lalu berdiri lalu berjalan ke arah lemari obat, tanpa memperdulikan pertanyaan Amara. Dia mengambil sebuah botol kecil berisi cairan bening.
"Ini perangsang dosis rendah. Ini bisa bikin Bu Amara rileks dan basah alami. Bu Amara minum ini dulu ya, terus tunggu sepuluh menit. Saya yakin Bu Amara pasti menikmatinya setelah ini. Masalah ukuran, saya tidak bisa memberitahu Bu Amara, biar nanti Bu Amara sendiri yang merasakan. Yang pasti, saya bisa buat Bu Amara merasakan kenikmatan yang tidak pernah Pak Doni berikan."
Mata Amara membelalak mendengar ucapan itu. Kenikmatan yang tidak pernah suaminya berikan? Ide bahwa dia mungkin menikmati persetubuhan dengan pria asing ini membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri.
"Dok, jangan gila! Saya tidak mau menggunakan obat perangsang. Lalu, ucapan Dokter barusan, apa maksudnya? Saya nanti kenikmatan pas udah main sama Dokter Adrian, gitu? Kalau ngomong dijaga ya, Dok!"
Adrian menatap botol itu lalu mengangkat bahu acuh tak acuh, lalu meletakkan botol itu kembali ke meja.
"Yaudah, itu terserah Ibu, saya hanya mengingatkan dua hal. Pertama, Bu Amara nanti sakit kalau tidak mau meminum obat ini. Kedua, perihal Bu Amara yang bakal ngerasain kenikmatan itu, saya nggak bohong. Saya bisa bikin Bu Amara terbang sampai langit ke-tujuh kalau Bu Amara mau. Ah, tapi itu kalau Bu Amara percaya sama saya."
Adrian lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Amarah setelah melirik jam dinding "Oh iya, Bu Amara, waktu kita tinggal satu jam sebelum jadwal praktek saya selesai dan asisten saya datang."
Amara menatap lengan Adrian yang kekar dan urat-uratnya menonjol. Dia berpikir, apa salahnya jika harus melakukannya hari ini? Lagipula, ini cuma sekali saja. Toh, menunda sama halnya hanya menunggu hari sampai akhirnya Adrian juga melakukan ini.
Mau ditunda, mau tidak, sama saja dia harus bermain dengan Adrian!
Sembari mengeluarkan selembar surat resmi berstempel tinta merah dari saku jas dokternya, Surya memamerkan senyum paling meremehkan di hadapan rival utamanya. Pria berjas putih ini melangkah maju memblokir akses pintu masuk ruang penanganan darurat dengan dagu terangkat sangat angkuh layaknya penguasa absolut.Karena merasa mendapat dukungan penuh dari Doni yang berdiri pongah di sampingnya, sang dokter senior segera mengangkat kertas berlogo rumah sakit itu tinggi-tinggi. Lembaran keputusan mutlak tersebut memuat pernyataan penonaktifan sementara seluruh izin praktikAdrian atas tuduhan malapraktik berat yang direkayasa secara licik. Menariknya, pemandangan provokatif ini sengaja diciptakan untuk mempermalukan sang pahlawan medis di hadapan puluhan tenaga kesehatan yang berlalu-lalang siang itu."Dengarkan baik-baik isi surat keputusan dewan direksi yang sudah ditandatangani langsung oleh kepala rumah sakit ini, Dokter Adrian! Berdasarkan laporan dugaan pelanggaran kode etik medis ya
Mengabaikan sisa jadwal praktiknya yang masih panjang menanti penanganan, Adrian menerjang pintu keluar klinik tanpa memedulikan puluhan tatapan kebingungan dari belasan pasien setianya. Memutar setir tajam keluar melintasi area parkir yang padat, sang dokter memacu kendaraannya membelah jalan raya ibu kota dengan kecepatan gila-gilaan menantang batas maut di siang bolong.Lewat injakan pedal gas hingga menyentuh batas dasar lantai mobilnya, laju kendaraan bertenaga besar itu sukses menyalip puluhan mobil lain di lintasan lurus tanpa keraguan sedikit pun.Melanggar belasan rambu lalu lintas yang menyala merah terang secara beruntun, sang pahlawan medis sama sekali tidak memedulikan rentetan sumpah serapah klakson para pengendara lain di jalanan. Otak cerdasnya yang biasa bekerja sistematis kini murni hanya dipenuhi oleh bayangan keselamatan nyawa wanita yang paling dipujanya di seluruh belahan bumi ini.Suara decitan ban karet yang bergesekan kasar dengan aspal panas terdengar amat me
"Aku bakal kembali ke klinik malam ini asalkan kamu berjanji menjaga kesehatan janin kita baik-baik tanpa harus memikirkan beban kesalahanku," final Adrian mengalah melangkah mundur menahan pedih yang mencabik-cabik tenggorokannya.Meninggalkan istana megah itu membawa pandangan mata yang sepenuhnya kosong, sang dokter hebat ini merasa separuh kewarasan di dalam otaknya ikut mati terbunuh pada malam paling menyiksa tersebut.Mengendarai kendaraannya membelah dinginnya angin malam yang menusuk tulang, sang dokter melaju kencang bagaikan raga tanpa nyawa yang benar-benar kehilangan arah tujuan hidup di dunia ini.Lampu-lampu kota ibu kota yang berkelebat melesat cepat dari balik kaca jendela mobil sportnya sama sekali tidak mampu mengalihkan fokusnya dari rasa bersalah yang menggerogoti hati nuraninya.Setibanya di ruang praktik kliniknya yang sudah sepi pengunjung tanpa penjagaan, pertahanan emosi Adrian akhirnya meledak hancur berantakan menabrak realita kehidupan yang pahit.Demi me
Sebagai bentuk penyesalan atas luka pengkhianatan fatal tersebut, sang dokter perlahan bersimpuh menjatuhkan kedua lututnya tepat di depan ujung sepatu Amara."Aku memang mengakui kalau niat awalku mendekati keluarga konglomerat ini murni untuk menghancurkan seluruh gurita bisnis kotor ayahmu tanpa menyisakan apa pun. Laki-laki serakah itu sudah merampas segalanya dari keluargaku hingga ayah kandungku jatuh sakit bertahun-tahun meratapi kebangkrutannya di kursi roda. Tapi tolong, percayalah padaku kalau perasaanku sekarang sudah berubah sepenuhnya menjadi cinta tulus yang amat dalam demi menjamin keselamatan janin di dalam rahimmu!"Seusai mendengar pengakuan blak-blakan yang luar biasa menyakitkan telinga tersebut, tangis pilu sang ibu hamil kembali pecah memenuhi seluruh penjuru ruangan. Nyonya muda yang hatinya baru saja hancur lebur untuk kedua kalinya ini lantas menggelengkan kepalanya kuat-kuat dengan raut kekecewaan mutlak."Cepat keluar dari kamarku sekarang dan jangan pernah
Di dalam ruang kerja rumah mewahnya yang teramat sunyi, napas Amara tertahan keras merespons layar laptop yang menyala terang di atas meja mahoni. Nyonya muda ini memfokuskan penglihatannya untuk membaca dengan saksama rincian dokumen digital sangat mengerikan yang baru saja dikirimkan oleh sang suami pecundang.Disajikan fakta kejam tanpa sensor, bola mata cantiknya menelusuri setiap baris teks berisi profil asli keluarga Adrian beserta sejarah kebangkrutan ayah pria tersebut akibat ulah Pak Arman.Akibat menemukan kenyataan luar biasa pahit itu terpampang nyata tanpa bisa disangkal, air mata keputusasaan langsung menetes deras membasahi kedua pipi mulus Amara. Saat mengingat kembali segala perlakuan manis dan sangat protektif dari sang dokter kandungan selama ini, rasa sakit akibat dimanfaatkan sebagai alat balas dendam telak merobek batinnya.Trauma pengkhianatan masa lalu dari Doni yang belum sepenuhnya sembuh kini kembali menganga teramat lebar menyiksa akal sehat sang ibu hamil.
Pada akhirnya, Adrian menyelesaikan tugasnya dengan Amara, lalu menenangkan Amara terlebih dahulu.Setelah memastikan Amara kembali tertidur pulas akibat kelelahan di sofa ruang kerja, perangkat pelacak canggih di jam tangan Adrian mendadak bergetar sangat keras. Dokter kandungan ini lekas memeriksa layar ponsel pintarnya yang menampilkan titik pergerakan sinyal mobil Doni menuju area luar kota.Adrian sudah set alarm agar Amara terbangun satu jam lagi, mengingat Amara masih harus menyelesaikan beberapa dokumen penting.Akibat melihat titik merah tersebut melaju kencang menuju kawasan industri terbengkalai, insting tajamnya langsung mendeteksi ancaman nyata tingkat tinggi bagi kelangsungan rencananya.Menghubungkan data koordinat itu dengan lokasi keberadaan Siska yang sudah disadapnya secara rahasia sejak lama, Adrian segera menyusun taktik pencegatan. Dia dengan cekatan merapikan kemejanya bersiap meninggalkan ruangan direktur utama demi menggagalkan aksi pembungkaman kotor tersebut
"Kamu pasti lemes banget buat pakai baju dengan benar, ya?" tebak Bu Ratih sambil tersenyum tipis meremehkan. "Makanya kancing baju kamu sampai mencong begini pas dipakai habis periksa tadi."Mendapat jalan keluar yang tak terduga, Amara buru-buru menganggukkan kepalanya dengan tempo cepat
Sebagai bentuk keputusasaan, Adrian menghela napas sangat panjang melalui hidungnya. Dia sadar posisinya sangat lemah di hadapan kekuatan uang milik mertua Doni tersebut. Pria itu harus membangun batasan emosional yang ketat agar tidak semakin hancur di kemudian hari."Kurang berapa lagi?
Seketika, Adrian mengepalkan telapak tangan kiri di atas meja kerja. Kuku-kukunya menekan kulit sampai meninggalkan bekas kemerahan yang sempat memutus aliran darah. Suhu tubuhnya kembali naik perlahan saat mengingat jumlah uang hasil kerjanya yang harus dikorbankan demi masalah ini.&ldqu
Di klinikmya, Adrian berdiri di bawah shower. Dia memutar keran ke arah biru. Air yang semula hangat berubah menjadi dingin menusuk tulang. Adrian memejamkan mata dan mendongakkan wajahnya. Dia membiarkan air dingin itu menampar kulit wajah dan tubuhnya.Sejak bangun tidur tadi pagi, tubuhnya teras