Share

Bab 5 Proses

Author: NFLusica
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-30 15:40:59

"Ma..." desis Amara lirih. Hatinya hancur mendengar suaminya dihina sedemikian rupa oleh ibunya sendiri.

Lalu, Bu Ratih melanjutkan penjelasannya lagi. "Kamu lihat diri kamu sendiri, Adrian. Kamu tinggi. Badan kamu bagus. Kamu atletis. Wajah kamu tampan. Kamu juga jarang sakit, kan? Itu yang saya mau! Maka dari itu, saya bayar kamu buat nanem benih kamu di tubuh Amara, biar cucu saya sehat macam kamu!"

Adrian mendengarkan sambil menatap pantulan dirinya di cermin lemari obat. Dia memang sadar fisiknya di atas rata-rata. Tapi mendengar itu dijadikan alasan untuk membuahi istri orang, rasanya tetap saja gila.

"Jadi Ibu mau saya bagaimana?" tanya Adrian memancing, dia pura-pura polos, sekaligus untuk meyakinkan Amara bahwa ini memang perintah dari ibunya.

"Buang suntikan itu sekarang juga!" perintah Bu Ratih. "Saya mau kamu lakukan secara langsung. Natural. Hubungan badan layaknya suami istri. Pastikan benih kamu masuk sedalam-dalamnya. Dengan begitu, peluang hamilnya lebih besar dan kualitas bayinya terjamin."

Hening.

Amara menggelengkan kepalanya kuat-kuat di atas kursi.

"Nggak, Mama nggak mungkin tega..." isaknya.

Seolah bisa mendengar penolakan batin putrinya, Bu Ratih kembali bersuara.

"Dan jangan coba-coba membantah, Adrian. CCTV di depan klinik kamu sudah saya sadap. Saya tahu berapa lama kalian di dalam. Kalau kamu keluar cepat-cepat dan Amara tidak hamil bulan ini, perjanjian kita batal. Hutang ayahmu tidak akan saya lunasi dan saya tidak peduli lagi dengan kondisi ayah kamu yang dikejar-kejar debt kolektor!"

Rahang Adrian mengeras mendengar ayahnya diikutsertakan dalam kasus ini. Tapi melawan sepertinya sama saja, Bu Ratih yang punya kuasa. Dia tidak punya pilihan lain karena nyawa ayahnya ada di ujung tanduk.

"Baik, Bu. Saya mengerti," jawab Adrian dingin.

"Bagus. Kerjakan tugasmu dengan benar. Nikmati saja, Adrian. Anak saya cantik, kan? Anggap saja bonus. Oh iya, dia sudah tidak disentuh Doni cukup lama, jadi itu bonus kamu selain hutang ayahmu lunas!"

Klik.

Suara tuuut panjang yang menyakitkan telinga akhirnya berhenti saat Adrian mematikan ponselnya. Dia memasukkannya kembali ke saku celana.

Sekarang, suasananya berubah menjadi mencekam dan Amara merasakan bulu kuduknya meremang.

Adrian pun sama, diam di tempatnya, menatap alat suntik yang tergeletak di nampan. Alat itu adalah satu-satunya penyelamat harga diri Amara. Namun sekarang, alat itu sudah tidak berguna.

Perlahan, Adrian mengambil alat suntik itu, dan ketika melihatnya, Amara merasa Adrian masih mementingkan harga diri daripada hanya uang untuk bayar hutang.

Namun, harapan itu musnah saat Adrian membuang alat suntik beserta isinya ke tempat sampah medis di sudut ruangan.

Brak.

Adrian berbalik badan, berjalan pelan mendekati kursi pemeriksaan, dan berhenti tepat di antara kedua kaki Amara yang masih terbuka lebar.

Wajah pria itu kini berbeda. Mata Adrian yang tajam menelusuri tubuh Amara dari ujung kaki hingga ke wajahnya yang basah oleh air mata.

"Bu Amara dengar sendiri, kan? Itu bukan permintaan saya, pun saya sebenarnya tidak mau melakukan ini. Tapi, saya bisa berbuat apa kalau taruhannya itu nyawa ayah saya yang diancam sama rentenir?" tanya Adrian dengan nada sedih.

Amara mengangguk patah-patah, lalu tubuhnya gemetar hebat mendengar pengakuan itu. "Ma-maaf, Dok, saya tidak tahu kalau ini bakal terjadi. Saya mohon, lakukan itu secepatnya, biar kita sama-sama selesai dan tidak punya tanggungan satu sama lain."

Adrian melepaskan sarung tangan lateksnya, lalu melemparnya sembarangan ke lantai. Sejurus kemudian, pria itu menumpukan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan paha Amara, mengunci wanita itu di tempatnya. Wajahnya mendekat hingga Amara bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di wajahnya.

Amara sadar, tidak ada lagi prosedur medis yang steril menggunakan inseminasi buatan. Itu artinya, Adrian akan menyentuhnya, kulit bertemu kulit, dan akan ada penetrasi seksual yang sesungguhnya.

"Tidak. Aku tidak mau!" Amara memekik histeris. Wanita itu berusaha turun dari kursi pemeriksaan ginekologi yang tinggi itu. Tangannya mencengkeram sisi kursi, berusaha menarik tubuhnya menjauh dari jangkauan Adrian.

Namun upaya itu sia-sia belaka.

Adrian maju selangkah dan menahan kedua bahu Amara dengan tangannya yang besar. "Ma-maaf, Bu Amara, saya tidak punya pilihan lain, ini satu-satunya jalan yang bisa saya ambil!"

Amara pun hanya diam saja, apalagi begitu sadar bahwa Adrian tidak benar-benar ingin menyakitinya, atau bahkan memaksanya. Sentuhan tangan Adrian di bahunya tadi pun tidak ada tenaga, mengingat Adrian hanya ingin menenangkannya.

"Kalau Bu Amara berontak, Bu Amara bisa jatuh, lagipula kaki Bu Amara masih terkait di penyangga besi. Saya tidak mau Bu Amara cedera parah akibat memaksakan diri keluar dari pengait itu."

"Bentar ya, Bu Amara, saya mau periksa Bu Amara dulu."

"Memeriksa apa lagi, tadi kan sudah?"

"Itu tadi untuk inseminasi. Sekarang prosedurnya beda. Saya harus pastikan jalan lahir Bu Amara siap menerima ukuran saya. Saya tidak mau menyakiti Bu Amara, apalagi sampai Bu Amara pendarahan dan pulang nggak bisa jalan," jawab Adrian tanpa filter lagi.

Kata-kata vulgar yang diucapkan dengan nada medis itu membuat wajah Amara memerah padam karena malu dan takut.

Tanpa menunggu persetujuan, Adrian kembali duduk di kursi bulat di antara kedua kaki Amara.

"Buka sedikit lagi, Bu," perintah Adrian.

Amara menggeleng lemah, namun tangan Adrian sudah menyentuh paha bagian dalam Amara, memaksanya untuk terbuka lebih lebar. Jari Adrian yang terbalut sarung tangan karet mulai menyentuh bibir kewanitaan Amara.

"Rileks ya, Bu, biar nggak tegang, terus saya bisa mastiin Bu Amara baik-baik saja setelah prosedur ini selesai." Jari telunjuk Adrian perlahan menyusup masuk. Mengecek kedalaman dan elastisitas dinding di sana.

Amara meringis, rasanya perih dan sesak, padahal itu hanya satu jari.

Adrian yang sadar Amara sudah lama tidak dipenetrasi suaminya, hanya bisa mengerutkan keningnya. Dia menarik jarinya keluar lalu menatap Amara dengan pandangan tidak percaya. "Otot Bu Amara sangat kaku, terus jalurnya juga sepertinya sangat sulit untuk basah. Sepertinya Pak Doni tidak pernah menyentuh Bu Amara."

Komentar itu menohok harga diri Amara. Dia ingin membantah dan bilang kalau kehidupan seksualnya dengan Doni bahagia. Tapi nyatanya dia tidak bisa bohong. Doni memang jarang menyentuhnya setahun terakhir. Dan kalaupun menyentuhnya, Doni selalu terburu-buru. Tidak pernah sabar seperti Adrian yang kini justru telaten memeriksa kondisinya.

"Bukan urusan kamu," desis Amara ketus. "Cepat selesaikan saja, terus antar aku pulang!"

Adrian menggeleng pelan. "Kalau kondisinya sekering ini saya tidak bisa masuk, Bu, rasanya akan sangat sakit buat Bu Amara. Saya udah janji ga nyakitin Bu Amara, tapi kalau Ibu maksa, ini bisa lecet, perih, terus Bu Amara ga bisa jalan besok pagi."

"Memangnya seberapa besar punya Dokter sampai berani bilang kayak gitu?" tantang Amara yang sudah putus asa dan hanya ingin ini berakhir.

Adrian menghela napas panjang, lalu berdiri lalu berjalan ke arah lemari obat, tanpa memperdulikan pertanyaan Amara. Dia mengambil sebuah botol kecil berisi cairan bening.

"Ini perangsang dosis rendah. Ini bisa bikin Bu Amara rileks dan basah alami. Bu Amara minum ini dulu ya, terus tunggu sepuluh menit. Saya yakin Bu Amara pasti menikmatinya setelah ini. Masalah ukuran, saya tidak bisa memberitahu Bu Amara, biar nanti Bu Amara sendiri yang merasakan. Yang pasti, saya bisa buat Bu Amara merasakan kenikmatan yang tidak pernah Pak Doni berikan."

Mata Amara membelalak mendengar ucapan itu. Kenikmatan yang tidak pernah suaminya berikan? Ide bahwa dia mungkin menikmati persetubuhan dengan pria asing ini membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri.

"Dok, jangan gila! Saya tidak mau menggunakan obat perangsang. Lalu, ucapan Dokter barusan, apa maksudnya? Saya nanti kenikmatan pas udah main sama Dokter Adrian, gitu? Kalau ngomong dijaga ya, Dok!"

Adrian menatap botol itu lalu mengangkat bahu acuh tak acuh, lalu meletakkan botol itu kembali ke meja.

"Yaudah, itu terserah Ibu, saya hanya mengingatkan dua hal. Pertama, Bu Amara nanti sakit kalau tidak mau meminum obat ini. Kedua, perihal Bu Amara yang bakal ngerasain kenikmatan itu, saya nggak bohong. Saya bisa bikin Bu Amara terbang sampai langit ke-tujuh kalau Bu Amara mau. Ah, tapi itu kalau Bu Amara percaya sama saya."

Adrian lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Amarah setelah melirik jam dinding "Oh iya, Bu Amara, waktu kita tinggal satu jam sebelum jadwal praktek saya selesai dan asisten saya datang."

Amara menatap lengan Adrian yang kekar dan urat-uratnya menonjol. Dia berpikir, apa salahnya jika harus melakukannya hari ini? Lagipula, ini cuma sekali saja. Toh, menunda sama halnya hanya menunggu hari sampai akhirnya Adrian juga melakukan ini.

Mau ditunda, mau tidak, sama saja dia harus bermain dengan Adrian!

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Marimis Sgb
lannnnjuttt
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 257

    Terpojok oleh gertakan dingin yang amat mengerikan tersebut, wanita pembantu ini langsung menyanggupi kesepakatan sepihak itu demi menyelamatkan nyawanya dari kurungan besi."Saya bersedia melakukan apa pun perintah dokter asalkan tidak diusir secara paksa dari kediaman mewah ini. Tolong berikan saya satu kesempatan kedua untuk menebus kesalahan fatal yang nyaris merenggut nyawa calon pewaris keluarga. Saya berjanji akan memancing Siska keluar dari sarangnya secepat mungkin tanpa memancing kecurigaan.""Bagus, pastikan kamu melaporkan setiap gerak-gerik sekretaris gila itu kepadaku tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Jangan berani berbuat curang karena aku bisa menghancurkan sisa hidupmu di balik jeruji besi," ancam Adrian melepaskan cengkeramannya.Mengusap air matanya dengan punggung tangan kotor, pelayan tersebut langsung berlari keluar menuju area dapur untuk kembali bekerja normal.Memastikan jebakan barunya telah terpasang sempurna di pihak lawan,

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 256

    Merespons pujian dari calon ibu mertuanya, pria beralis tebal itu hanya menundukkan kepala secara sopan. "Sudah menjadi kewajiban saya untuk memastikan keselamatan Nyonya Amara dan bayinya," sahut Adrian merendah.Wanita konglomerat itu menghela napas lega sembari mengusap pelan bahu putri tunggalnya."Ibu tidak perlu khawatir lagi karena Adrian selalu menjagaku layaknya seorang ratu. Bahkan dia tidak tidur semalaman cuma buat memantau detak jantung bayiku di klinik. Sekarang aku mau istirahat di kamar dulu karena pinggangku masih lumayan pegal."Lantaran kelelahan fisik masih mendera, Amara segera melangkah menuju anak tangga bersama sang dokter. Sesudah memastikan kekasihnya berbaring nyaman, Adrian bergegas menuruni anak tangga menuju lantai bawah.Pria penuh siasat ini bergerak sangat gesit melewati area koridor yang sedang sepi pelayan.Mengeluarkan dua buah benda elektronik mutakhir dari sakunya, dia mulai menyusun jebakan pengawasan. Adrian

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 255

    Mendengar penuturan logis dari sang dokter, lutut nyonya besar itu mendadak terasa kehilangan seluruh tenaganya untuk sekadar berdiri.Bu Ratih merasa amat bersalah dan meminta Adrian untuk terus mendampingi Amara tanpa batasan waktu di rumah. Sambil menyeka wajahnya, dia menyerahkan kendali kesehatan putrinya secara utuh kepada laki-laki cerdas tersebut."Saya mohon tolong jaga Amara siang dan malam tanpa henti mulai hari ini sampai masa kritisnya berakhir. Kamu boleh tinggal di rumah kami selama apa pun yang dibutuhkan demi memastikan keselamatan nyawa cucuku. Semua biaya perawatan medis serta kompensasi ekstra akan saya transfer ke rekeningmu besok pagi tanpa banyak perhitungan."Menyembunyikan seringai kepuasannya, sang dokter hanya mengangguk pelan saat menerima mandat kekuasaan eksklusif tersebut.Malam harinya, Adrian menyuapkan bubur hangat kepada Amara dengan sangat telaten di atas ranjang periksa. Menyebar ke seluruh penjuru ruangan yang sunyi,

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 254

    Penderitaan fisik itu benar-benar melumpuhkan seluruh saraf kewarasannya untuk sekadar berteriak lantang memanggil asisten kebersihan.Kebetulan sekali, seorang asisten rumah tangga melintas terburu-buru membawa sekeranjang buah-buahan organik segar. Buah apel dan jeruk manis di tangannya langsung terjatuh berhamburan ke atas permukaan lantai.Pelayan rumah yang melihat kejadian itu menjerit histeris dan langsung menelepon nomor darurat Adrian.Menerima panggilan darurat dari pelayan rumah, Adrian memacu kendaraannya kembali ke kediaman keluarga konglomerat dengan kecepatan penuh.Membelah padatnya lalu lintas jalan raya, kecemasan tergambar amat jelas di wajah tampan sang dokter kandungan yang sedang diburu waktu. Alhasil, laju mobil utilitas sport tersebut menembus pekarangan rumah Bu Ratih dalam waktu sangat singkat.Berlari kencang menembus pintu utama rumah mewahnya, pria ini mendapati pemandangan mengerikan yang langsung memacu detak jantungnya. Tiba di rumah, Adrian segera meng

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 253

    Detektif menjelaskan bahwa ibunda Amara menyewanya untuk menggali riwayat hidup sang dokter di masa lalu. Bahkan, data medis kelahiran putri tunggal dari kliennya itu juga menjadi target pencarian utama.Detektif itu ketakutan dan membongkar bahwa Bu Ratih sudah memegang salinan data masa lalu keluarga Adrian dan rahasia adopsi Amara."Nyonya besar itu sangat membenci Anda semenjak mengetahui asal-usul keluarga miskin Anda." Detektif itu menundukkan kepalanya dalam-dalam demi menghindari tatapan mematikan di depannya."Lalu kebohongan apa lagi yang kamu berikan kepada wanita gila kekuasaan itu untuk mengancam istriku?" interogasi Adrian semakin tajam menusuk relung hati."Beliau juga mengetahui rahasia adopsi Nyonya Amara dari panti asuhan lewat laporan investigasi tersebut. Dokumen itu akan dipakai untuk mengancam posisi pewaris takhta di perusahaan keluarga. Saya sungguh menyesal telah menerima tawaran pekerjaan berbahaya dari wanita konglomerat licik itu."Rahang Adrian mengeras me

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 252

    "Jangan banyak beristirahat kalau kamu masih mau mendapatkan jatah makan malam ini. Saya pasti akan memotong porsi nasimu kalau hasil pecahan batunya kurang dari target harian! Tempat ini bukan hotel penampungan bagi para gelandangan manja sepertimu!"Mendapat perlakuan kasar layaknya hewan pekerja, Doni hanya bisa menundukkan kepala menahan rasa perih. Telapak tangan pria manipulatif ini dipenuhi oleh luka melepuh akibat gesekan gagang kayu yang kasar."Tolong berikan saya waktu lima menit saja untuk sekadar meminum setetes air putih," rintih Doni memelas dengan bibir pecah-pecah."Pukulan rotan Bapak kemarin malam benar-benar membuat tulang rusuk saya nyaris patah berantakan. Saya berjanji akan mengumpulkan dua keranjang batu tambahan sesudah beristirahat sejenak di bawah pohon. Tolong kasihani saya yang sudah tidak kuat berdiri tegak ini."Alih-alih mendapatkan belas kasihan, sebuah tendangan keras justru mendarat telak di tulang keringnya. Penjaga tambang itu meludah ke tanah sebe

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status