Share

006

Author: Thato Kent
last update publish date: 2025-12-23 02:18:34

"Iya Bu, maaf baru ngirim nih. Gajinya baru masuk tadi malam, sih."

"Kamu ngirim lagi, Bara?" ulang ibuku yang berada di ujung sambungan telepon. "Kamu kerja apa sih, sebenarnya di Kendari situ? Jangan bilang kamu pimpin geng lagi, malakin orang kiri-kanan lagi!"

"Aduh Bu--, 'kan sudah kubilang, di sini aku jadi pembantu, Bu, jadi supir di rumah orang. Kok, malakin orang, sih?"

Aku serius memelas. Akan tetapi, alih-alih mendapatkan impresi, Ibu justru semakin keras menukas.

"Jangan bohong Bara! Empat hari lalu tiga puluh juta masuk ke rekening Maya, dan sekarang kamu ngirim lagi? Memangnya Ibu ini terlalu bodoh ya, sampai tidak tahu berapa gaji pembantu di Kendari situ?"

"Harus berapa kali sih, Ibu ingatkan? Kami tidak boleh lagi kamu kasih makan pakai uang haram, Bara! Begitu juga dengan Maya, dia tidak akan pernah bisa sembuh kalau uang berobatnya kamu dapatkan dari sumpah serapah orang-orang! Ya Tuhan, Bara ... kamu ini kapan insyafnya sih, Nak..."

Aku terdiam! Kebingungan mendalam benar-benar sedang mengunci ujung lidahku.

Tapi andai tidak berpikir bahwa, bukan tidak mungkin kata-kata Ibu justru akan semakin memekakkan telinga, maka sudah pasti akan kudebat beliau. Aku benar-benar tidak tahu-menahu dengan uang yang dia bicarakan.

Lagipula, tiga puluh juta?

Ya Tuhan, dengan gajiku yang hanya tiga jutaan per bulannya, butuh waktu berapa lama baru aku dapat mengumpulkan uang sebanyak itu?

Napas terasa sesak, pikiran melayang ke mana-mana.

Atau, jangan-jangan ada orang yang sudah salah kirim? Tapi kalau salah kirim, seharusnya ada yang menghubungi Maya, bukan?

"Bara, kamu..."

"M-- eh iya Bu, sudah dulu, ya? Kapan-kapan baru kita teleponan lagi."

"Tunggu, Bara! Maya mau bicara. Kau jangan lupa, minggu depan Nala genap satu tahun."

Mata ini seketika terpejam. Terlalu fokus pada kata-kata Ibu, aku sampai lupa pada tujuanku menelepon di awal.

Benar! Enam hari dari sekarang, adalah hari ulang tahun Nala Anningrum, putri semata wayang kami. Sudah sembilan bulan aku meninggalkan mereka. Putriku itu pasti sedang lucu-lucunya di ketika ini.

"Halo Bang? Kamu masih di situ?"

Suara serak Maya Sari membuyarkan lamunanku. Gaung bicaranya masih selalu begitu; sarat beban. Bahkan, tidak jarang putus asa.

"Iya, Maya? Oh ya, gimana kabarmu?" sahutku sudah sedikit terlambat.

"Alhamdulillah, Bang, aku semakin membaik," balas Maya yang di sana. "Tapi Bang, bagaimanapun kondisiku nanti, entah aku akan benar-benar pulih seperti sedia kala atau justru sebaliknya, aku harap Abang tetap melanjutkan hidup. Intinya, Abang pantas mendapatkan yang jauh lebih baik."

"Aduh Maya, kamu ngomongin apa, sih? Maya, kamu tidak boleh ... halo halo! Maya?"

Sial! Maya tidak saja memutus panggilan, tapi langsung menonaktifkan ponselnya. Dia lagi-lagi seperti ini. Setiap kali menelepon, tidak ada hal lain yang dia bicarakan selain memintaku untuk mencari wanita lain. Aku benar-benar hampir putus asa dibuatnya.

"Ehm!"

Nola? Sejak kapan perempuan ini berdiri di belakangku?

"Habis teleponan sama siapa?"

"Bukan siapa-siapa," sahutku coba menutupi.

Tapi dia sepertinya sempat mendengar percakapan kami. Masih sambil melipat tangan di dada, dia berkata lagi, "Maya atau ibumu?"

Aku semakin mengernyitkan kening, "Kamu kenal Maya?"

Memasuki bulan ke-sembilan menjadi pembantu di rumah ini, jangankan Maya atau ibuku, tentang siapa diriku yang sebenarnya saja, aku tidak pernah mengungkapkannya pada siapapun, tidak terkecuali Nyonya Nola. Ketika ada yang tiba-tiba menyebut nama Maya dengan luwes, siapa yang tidak merasa heran?

"Aku mungkin bisa bantu pecahkan masalahmu. Ayo, kita bicaranya di dalam saja," ucapnya dan beredar.

Kupandangi punggungnya. Terus begitu sampai dia menghilang di balik pintu belakang.

"Kok dia tau Maya? Tapi bagaimana ceritanya, ya?" gumamku sambil menarik pandang.

Pasca membuatnya kecewa tempo hari, aku tidak lagi membuang-buang energi demi bisa menebak bagaimana Nyonya Nola yang sebenarnya. Bukan apa-apa, tapi seiring dengan bergantinya hari, pada akhirnya aku sadar, saat itu aku terlalu cepat membuat kesimpulan. Nyonya Nola sama sekali tidak seperti yang aku sangkakan.

Masalahnya juga, boleh dikatakan dia memiliki karakter ganda. Sudahlah begitu, dia sangat andal dalam menjiwai setiap perannya. Tahu kapan harus bersikap tegas hingga keras terhadapku, tahu kapan harus seperti kucing melipat ekor, tapi diam-diam mencakar tipis-tipis, minta dielus.

"Jangan-jangan memang dia orangnya?" gumamku lagi coba mengagak-agak. "Tapi masa' iya dia berani seroyal itu? Tiga puluh juta, lho!"

Didorong oleh rasa ingin tahu yang besar, sesegera ini juga aku tinggalkan halaman belakang, lalu masuk ke dalam rumah.

"Mas, aku baru mau keluar cariin kamu."

Aku baru saja membelakangi pintu dapur, dan langsung bersitemu dengan Bik Minah. Selain paling senior, dia ini pembantu kesayangan nyonya Nola.

"Ada perlu apa, Bik?" jawabku.

"Bukan aku, tapi Nyonya," katanya juga, "Dari tadi dia nungguin kamu, lho."

"Oh baik, Bik, baik. Aku juga memang mau ketemu Nyonya."

Meskipun sebisa mungkin tetap menjaga batasan, tapi aku tidak terlalu khawatir saat berurusan dengan Bik Minah. Perkara menyimpan rahasia, Nyonya Nola sendiri yang bilang, Bik Minah sangat bisa diandalkan. Entahlah kalau dia sudah lebih dulu menyogok wanita enam puluhan ini.

"Lama amat sih? Aku sudah kesemutan tau!"

Nyonya Nola menyambutku dengan ekspresi nano-nanonya. Kalau sudah begini, biasanya ada maunya. Semoga saja dugaanku tidak meleset jauh.

"Baru juga lima menit, Nola."

Tidak peduli sekarang kami berada di depan pintu kamar keluarga mereka, aku berlagak bunglon saja. Semoga saja sikap manjanya kumat lagi.

"Lima menit apanya? ini sudah hampir dua puluh menit, Bara!"

Mukanya semakin masam. Sepertinya aku bisa mengorek informasi dengan mudah darinya. Segera saja aku tanyakan, bantuan apa yang dia maksudkan tadi.

"Ini dulu!" Dia mengetuk-ketukkan jari telunjuk.di pipinya yang merah merekah.

"Kamu sudah tidak waras ya?" tukasku tegas.

Kamera pengawas terpasang di berbagai sudut ruangan, dan dia meminta aku untuk menciumnya di sini?

"Kalau tidak waras, memangnya kenapa?"

"Eh ... pakai tanya lagi! Kalau kamu ingin suamimu kuliti kamu hidup-hidup, ya sudah, kamu saja, aku tidak mau ikut-ikut!"

"Ya sudah, ayok masuk!"

"Nola Nola, apa-apaan kau..."

Aku tidak sempat lagi merampungkan kalimatku, ketika Nyonya Nola menarikku ke dalam pelukannya lalu menjabat lidahku dengan buas. Dia melakukannya seolah-olah hendak melahap semua oksigen yang ada dalam mulutku.

"No-Nola pintunya, hah..." Aku boleh saja sedang kesulitan bernapas, tapi tidak akan abai dengan keselamatan kami.

Pintu dia rapatkan, lalu secepat itu juga dia kembali menerjangku. Ujung lidahnya tiada henti bekerja, sedangkan tangannya pula, cekatan melucuti pakaianku.

Pada fase ini, antara sadar dan tiada, kubalas serangannya dengan tidak kalah beringas. Leher di bawah telinga dan surga dunianya adalah yang kutelusuri dengan intens.

"Ukh Bara, ayok, aku sudah tidak tahan lagi," desisnya sambil menggelinjang keras.

"Bersiaplah," balasku sambil membuka sedikit lebar jarak pahanya, bersiap melakukan penyatuan. "Aku akan memberimu sesuatu yang belum pernah kamu dapatkan dari siapapun, Nola."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Januar Sumiarta
sangat bagus crita nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   221

    "Bu Rahmi itu siapa?" Angel bertanya dengan nada rendah, dahinya pun tampak mengkerut.Sial, rupanya dia tidak kenal siapa orang yang sedang dibicarakan Sofia. Mau tidak mau cepat aku berbisik di telinganya, "Bu Rahmi itu ibunya Rafika, Angel.."Bersamaan dengan ujung kalimatku itu, barulah Angel terlihat biasa-biasa saja. Auranya tidak lagi semrawut seperti sesaat barusan. "O.. kupikir siapa," katanya tanpa seperti seseorang membuang ludah tanpa beban.Tapi kali ini Angel seperti berbicara dengan dirinya sendiri, aku tidak lagi menambahkan.Sampai di sini, berbeda dengan aku yang masih diselimuti rasa bingung yang mendalam, Angel sudah sepenuhnya kembali menjadi dirinya yang kukenal. Bahkan, air mukanya kini terlihat lebih santai dari saat dia membawa Sofia ke hadapanku."Maaf Mbak, aku baru tahu kalau ibu Rafika itu Bu Rahmi namanya," ucap Angel sekalem itu. "Tidak Mbak, aku sudah bicara langsung dengan mereka, kok. Intinya, tidak ada masalah."Lagi-lagi sial! Sekali lagi aku tidak

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   220

    Setelah mengatakan itu Angel beralih padaku. "Sayang, perkenalkan, ini Mbak Sofia, pemilik rumah kos ini," katanya dengan nada hingga ekspresi yang nyaris sempurna. Tapi tidak lupa pula dia sambil diam-diam mengedipkan sebelah mata.Entah apa maksud Angel sampai harus memperagakan adegan konyol seperti ini segala?Buruknya lagi, meskipun Sofia kini sedang menatapku dengan tatapan curiga, aku harus berlagak oke-oke saja demi tidak mempermalukan Angel di hadapan dia.Sehingga membuatku mau tidak mau mengulurkan tangan lalu berkata, "Perkenalkan, aku Bara. Senang bertemu dengan Anda.""Anda tidak ingin menambahkan sesuatu?"Spontan aku mengernyitkan dahi. "Maksud Anda?""Memperkenalkan istri anda, misalnya?"Sontak aku menelan ludah. Gelagat hingga kata-kata wanita ini sudah sulit dihadapi. Angel pun sepertinya sedang merasa teepojokkan. Permukaan wajahnya mulai terlihat sedikit menegang."Apakah Anda keberatan?" ulangnya terkesan semakin terobsesi dengan apa yang dia rencanakan."Apa i

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   219

    "Tidak Bang, aku tidak mengada-ada. Lagipula, apa mungkin aku berani mengarang cerita sebesar ini? Ini tentang keluarga dan rumah abang lho. Abang pasti pernah dengar, 'kan orang berkata bahwa ucapan itu adalah doa?" Selain terkesan frustrasi, Angel juga berkata-kata dengan penuh penekanan. Ekspresinya pula, mendadak sangat serius.Di lain pihak, meskipun tidak serta-merta percaya dengan pengakuannya, namun aku terdiam, belum tahu lagi hendak berkata apa. Entahlah, tapi aku mulai ragu pada keyakinanku sendiri. Pada jeda ini, aku mulai berpikir akan menghadapi apa pun itu dengan kepala dingin. Sedangkan kenapa barusan aku sampai syok, itu hanyalah reaksi spontan saja.Lebih dari setengah tahun tidak saling bertukar kabar dengan anak istri serta ibu di desa sana, tentu saja segala sesuatunya dapat terjadi. Lagipula, memang apa yang abadi di dunia ini selain keabadian itu sendiri?Begitu juga dengan Nola. Jika Angel berpikir saat ini sedang hamil besar, aku justru berfirasat Nola akan

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   218

    Walau bagaimanapun juga, Angel ini boleh dikatakan adalah orang asing, atau paling tidak terhitung orang baru di daerah sini. Lalu ketika dia tiba-tiba mengaku tahu anak-anak Mariana di hadapanku, siapa yang tidak akan mencari tahu?Di lain pihak, mendapati aku kebingungan, Angel tidak bereaksi secara berlebih-lebihan. Bahkan, dia justru balik bertanya; "Teman wanita abang yang dokter itu tidak cerita apa-apa tentang aku?"Teman wanita? Sekali lagi dia berhasil membuatku mengkerutkan dahi tanpa sadar. "Maksud kamu, Rafika?" Aku tidak sedang bertanya, hanya memastikan."Iya, dokter puskesmas itu," sahutnya setelah lebih dulu menganggukkan kepala."Tunggu-tunggu!" Aku menyela dengan terbodoh-bodoh. "Apa tidak sebaiknya kau buka dulu maskermu? Aku bukan seseorang yang harus kau hindari, bukan?""Oh sorry! Aku sampai tidak sadar!" Barulah dia melepas maskernya.Andai situasinya tepat, maka barusan itu seharusnya aku akan bergurau dengan berkata, 'Buka dulu topengmu biar kulihat wajahmu'

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   217

    "Apa yang kau singgung barusan, sebenarnya itu juga yang ada dalam pikiranku, Angel. Hanya saja, aku berpikir, gimana ya? Intinya, kamu yang tiba-tiba muncul di daerah sini saja, itu sudah bikin aku bertanya-tanya, lho."Meskipun terpaksa harus menambahkan dengan sedikit kebohongan, aku yakin Angel tidak akan mempermasalahkannya. Lagipula, siapa yang akan menjawab pertanyaan yang panjangnya seperti rel kereta api begitu? "Benarkah? Lalu, kenapa dari tadi Abang tidak mengatakan apa pun? Cukup lama lho, kita berada dalam pete-pete barusan."Gurat tak percaya terbaca dengan jelas di wajah Angel. Auranya juga terlihat dingin.Di sisi lain, meskipun tidak mungkin mendebat kebenaran perkataan dia, tapi aku juga tidak mungkin mengakuinya begitu saja. Oleh karena itu, aku karang saja lagi alasan sekenanya; "Gimana cara ngejelasinnya ya? Maaf Angel, aku bingung harus memulainya dari mana!"Angel kembali menatapku, lekat. Sepertinya dia masih belum percaya dengan pengakuanku. Padahal, kurang

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   216

    "Bukan, Bang, rumah itu tidak ada hubungannya dengan Hidayat."Angel menepis dengan ringan. Dari ekspresi wajah, gestur, hingga nada bicara, semuanya terkesan natural dan tanpa ada keraguan sama sekali. Di sisi lain, pengakuannya itu tak lantas membuatku serta-merta merasa yakin."Kalau bukan Edy Hidayat, lalu siapa? Tidak mungkin Silvester, bukan?"Menyebut nama mereka, karena hanya dua orang itu yang menurutku sanggup berlaku tega tanpa pandang bulu sama sekali."Tidak Bang, bukan dia juga," sekali lagi Angel melontar tepisan senada, juga tanpa memikirkannya lebih dulu. "Abang tahu? Sejak dikabarkan pergi ke Taiwan untuk mendapatkan perawatan tempo hari, sejak saat itu juga Silvester tidak pernah ada kabar lagi. Bang Abraham saja tidak bisa lagi menghubungi dia. Jadi tidak mungkin Silvester, bukan?" terangnya kemudian."Apa rumah kalian dijual? Tapi andai dijual sekalipun, siapa yang akan menjualnya? Aku tidak yakin ibu kalian akan diam saja sekiranya terjadi apa-apa dengan proper

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status