로그인"Iya Bu, maaf baru ngirim nih. Gajinya baru masuk tadi malam, sih."
"Kamu ngirim lagi, Bara?" ulang ibuku yang berada di ujung sambungan telepon. "Kamu kerja apa sih, sebenarnya di Kendari situ? Jangan bilang kamu pimpin geng lagi, malakin orang kiri-kanan lagi!" "Aduh Bu--, 'kan sudah kubilang, di sini aku jadi pembantu, Bu, jadi supir di rumah orang. Kok, malakin orang, sih?" Aku serius memelas. Akan tetapi, alih-alih mendapatkan impresi, Ibu justru semakin keras menukas. "Jangan bohong Bara! Empat hari lalu tiga puluh juta masuk ke rekening Maya, dan sekarang kamu ngirim lagi? Memangnya Ibu ini terlalu bodoh ya, sampai tidak tahu berapa gaji pembantu di Kendari situ?" "Harus berapa kali sih, Ibu ingatkan? Kami tidak boleh lagi kamu kasih makan pakai uang haram, Bara! Begitu juga dengan Maya, dia tidak akan pernah bisa sembuh kalau uang berobatnya kamu dapatkan dari sumpah serapah orang-orang! Ya Tuhan, Bara ... kamu ini kapan insyafnya sih, Nak..." Aku terdiam! Kebingungan mendalam benar-benar sedang mengunci ujung lidahku. Tapi andai tidak berpikir bahwa, bukan tidak mungkin kata-kata Ibu justru akan semakin memekakkan telinga, maka sudah pasti akan kudebat beliau. Aku benar-benar tidak tahu-menahu dengan uang yang dia bicarakan. Lagipula, tiga puluh juta? Ya Tuhan, dengan gajiku yang hanya tiga jutaan per bulannya, butuh waktu berapa lama baru aku dapat mengumpulkan uang sebanyak itu? Napas terasa sesak, pikiran melayang ke mana-mana. Atau, jangan-jangan ada orang yang sudah salah kirim? Tapi kalau salah kirim, seharusnya ada yang menghubungi Maya, bukan? "Bara, kamu..." "M-- eh iya Bu, sudah dulu, ya? Kapan-kapan baru kita teleponan lagi." "Tunggu, Bara! Maya mau bicara. Kau jangan lupa, minggu depan Nala genap satu tahun." Mata ini seketika terpejam. Terlalu fokus pada kata-kata Ibu, aku sampai lupa pada tujuanku menelepon di awal. Benar! Enam hari dari sekarang, adalah hari ulang tahun Nala Anningrum, putri semata wayang kami. Sudah sembilan bulan aku meninggalkan mereka. Putriku itu pasti sedang lucu-lucunya di ketika ini. "Halo Bang? Kamu masih di situ?" Suara serak Maya Sari membuyarkan lamunanku. Gaung bicaranya masih selalu begitu; sarat beban. Bahkan, tidak jarang putus asa. "Iya, Maya? Oh ya, gimana kabarmu?" sahutku sudah sedikit terlambat. "Alhamdulillah, Bang, aku semakin membaik," balas Maya yang di sana. "Tapi Bang, bagaimanapun kondisiku nanti, entah aku akan benar-benar pulih seperti sedia kala atau justru sebaliknya, aku harap Abang tetap melanjutkan hidup. Intinya, Abang pantas mendapatkan yang jauh lebih baik." "Aduh Maya, kamu ngomongin apa, sih? Maya, kamu tidak boleh ... halo halo! Maya?" Sial! Maya tidak saja memutus panggilan, tapi langsung menonaktifkan ponselnya. Dia lagi-lagi seperti ini. Setiap kali menelepon, tidak ada hal lain yang dia bicarakan selain memintaku untuk mencari wanita lain. Aku benar-benar hampir putus asa dibuatnya. "Ehm!" Nola? Sejak kapan perempuan ini berdiri di belakangku? "Habis teleponan sama siapa?" "Bukan siapa-siapa," sahutku coba menutupi. Tapi dia sepertinya sempat mendengar percakapan kami. Masih sambil melipat tangan di dada, dia berkata lagi, "Maya atau ibumu?" Aku semakin mengernyitkan kening, "Kamu kenal Maya?" Memasuki bulan ke-sembilan menjadi pembantu di rumah ini, jangankan Maya atau ibuku, tentang siapa diriku yang sebenarnya saja, aku tidak pernah mengungkapkannya pada siapapun, tidak terkecuali Nyonya Nola. Ketika ada yang tiba-tiba menyebut nama Maya dengan luwes, siapa yang tidak merasa heran? "Aku mungkin bisa bantu pecahkan masalahmu. Ayo, kita bicaranya di dalam saja," ucapnya dan beredar. Kupandangi punggungnya. Terus begitu sampai dia menghilang di balik pintu belakang. "Kok dia tau Maya? Tapi bagaimana ceritanya, ya?" gumamku sambil menarik pandang. Pasca membuatnya kecewa tempo hari, aku tidak lagi membuang-buang energi demi bisa menebak bagaimana Nyonya Nola yang sebenarnya. Bukan apa-apa, tapi seiring dengan bergantinya hari, pada akhirnya aku sadar, saat itu aku terlalu cepat membuat kesimpulan. Nyonya Nola sama sekali tidak seperti yang aku sangkakan. Masalahnya juga, boleh dikatakan dia memiliki karakter ganda. Sudahlah begitu, dia sangat andal dalam menjiwai setiap perannya. Tahu kapan harus bersikap tegas hingga keras terhadapku, tahu kapan harus seperti kucing melipat ekor, tapi diam-diam mencakar tipis-tipis, minta dielus. "Jangan-jangan memang dia orangnya?" gumamku lagi coba mengagak-agak. "Tapi masa' iya dia berani seroyal itu? Tiga puluh juta, lho!" Didorong oleh rasa ingin tahu yang besar, sesegera ini juga aku tinggalkan halaman belakang, lalu masuk ke dalam rumah. "Mas, aku baru mau keluar cariin kamu." Aku baru saja membelakangi pintu dapur, dan langsung bersitemu dengan Bik Minah. Selain paling senior, dia ini pembantu kesayangan nyonya Nola. "Ada perlu apa, Bik?" jawabku. "Bukan aku, tapi Nyonya," katanya juga, "Dari tadi dia nungguin kamu, lho." "Oh baik, Bik, baik. Aku juga memang mau ketemu Nyonya." Meskipun sebisa mungkin tetap menjaga batasan, tapi aku tidak terlalu khawatir saat berurusan dengan Bik Minah. Perkara menyimpan rahasia, Nyonya Nola sendiri yang bilang, Bik Minah sangat bisa diandalkan. Entahlah kalau dia sudah lebih dulu menyogok wanita enam puluhan ini. "Lama amat sih? Aku sudah kesemutan tau!" Nyonya Nola menyambutku dengan ekspresi nano-nanonya. Kalau sudah begini, biasanya ada maunya. Semoga saja dugaanku tidak meleset jauh. "Baru juga lima menit, Nola." Tidak peduli sekarang kami berada di depan pintu kamar keluarga mereka, aku berlagak bunglon saja. Semoga saja sikap manjanya kumat lagi. "Lima menit apanya? ini sudah hampir dua puluh menit, Bara!" Mukanya semakin masam. Sepertinya aku bisa mengorek informasi dengan mudah darinya. Segera saja aku tanyakan, bantuan apa yang dia maksudkan tadi. "Ini dulu!" Dia mengetuk-ketukkan jari telunjuk.di pipinya yang merah merekah. "Kamu sudah tidak waras ya?" tukasku tegas. Kamera pengawas terpasang di berbagai sudut ruangan, dan dia meminta aku untuk menciumnya di sini? "Kalau tidak waras, memangnya kenapa?" "Eh ... pakai tanya lagi! Kalau kamu ingin suamimu kuliti kamu hidup-hidup, ya sudah, kamu saja, aku tidak mau ikut-ikut!" "Ya sudah, ayok masuk!" "Nola Nola, apa-apaan kau..." Aku tidak sempat lagi merampungkan kalimatku, ketika Nyonya Nola menarikku ke dalam pelukannya lalu menjabat lidahku dengan buas. Dia melakukannya seolah-olah hendak melahap semua oksigen yang ada dalam mulutku. "No-Nola pintunya, hah..." Aku boleh saja sedang kesulitan bernapas, tapi tidak akan abai dengan keselamatan kami. Pintu dia rapatkan, lalu secepat itu juga dia kembali menerjangku. Ujung lidahnya tiada henti bekerja, sedangkan tangannya pula, cekatan melucuti pakaianku. Pada fase ini, antara sadar dan tiada, kubalas serangannya dengan tidak kalah beringas. Leher di bawah telinga dan surga dunianya adalah yang kutelusuri dengan intens. "Ukh Bara, ayok, aku sudah tidak tahan lagi," desisnya sambil menggelinjang keras. "Bersiaplah," balasku sambil membuka sedikit lebar jarak pahanya, bersiap melakukan penyatuan. "Aku akan memberimu sesuatu yang belum pernah kamu dapatkan dari siapapun, Nola.""Hei Bara, apa-apaan kau ini, ha? Bisa tidak kamu kondisikan dirimu? Kau bisa saja membuat kita celaka kalau mengemudi seperti orang kesetanan seperti ini, Bara!""Ibu...""Ya Tuhan, Bara, ada apa denganmu? Bukankah sudah kukatakan kau bisa saja membuat kita celaka?"Rafika memang benar, aku mengemudi layaknya orang kesetanan begini, bukan tidak mungkin akan membuat kami bahkan orang lain mengalami kecelakaan. Terlebih lagi dia sudah sampai berteriak panik bukan kepalang seperti itu, memang alangkah baiknya jika aku mengemudi secara normal saja."Maafkan aku, aku terlalu cemas saat ini. Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf!" Meskipun mungkin ini sudah sedikit terlambat, tapi aku berucap dengan sepenuh hati. Laju kendaraan pun sudah aku normalkan sebagaimana mestinya Alih-alih menyahut tidak peduli itu semisal mengumpat sekalipun, Rafika justru membuang muka. Namun, setelah kulirik dia sekilas dan mendapati raut wajahnya yang masih diselimuti oleh ketegangan, dan juga bersekutu
"Brengsek, ternyata kalian!" "Iya Bara, ini memang kami. Senang sekali kamu sudah kembali.""Hah, brengsek kalian semua!"Sekali lagi aku memaki, tapi lawan bicaraku justru senyum-senyum sendiri, sebelum kemudian diikuti oleh yang lainnya dengan ekspresi wajah sendiri-sendiri.Sementara itu, aku pada akhirnya hanya bisa kesal sendiri saat tahu siapa orang-orang dalam mobil yang aku cegat di tengah jalan ini.Bodohnya aku, barusan itu ada yang lupa aku pastikan!Tipe kendaraan hingga warnanya memang mirip dengan kendaraan yang membuat masalah pada aku dan Angel di bandara Kendari sana tempo hari, tapi plat nomornya itu yang tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang membuatku mendadak sok jagoan.Begitu juga dengan enam orang pria urakan dalam mobil ini, mereka semua adalah teman lamaku!"Oh ya Bara, ngomong-ngomong siapa perempuan di mobil itu? Perasaan kami baru pertama kali lihat dia.""Iya Bara, siapa dia? Apakah dia...""Hah sudah-sudah, aku tidak punya waktu untuk menjawab pertan
"Jadi memang benar ya, aku memang sangat payah di matamu?""Tidak ada yang berpikiran seperti itu, Rafika! Sudah ah, oke baik, aku akan temani kamu. Mari pergi sekarang!"Sebelum dia terlalu jauh memojokkan aku, memang akan lebih baik jika aku ikuti saja kemauannya. Biar dia saksikan sendiri saja akan seperti apa sosokku di pasar sentral ini sebentar nanti.Dan semoga saja dia siap mental untuk menghadapi reaksi orang-orang!Tapi begitu aku keluar dari mobil, ponselnya tiba-tiba berdering. Dan bukannya menerima panggilan atau semacamnya, dia justru mengkerutkan kening."Ada apa? Maksudku siapa yang menelepon? Kenapa tidak diangkat?" tanyaku penasaran."Tidak tahu siapa, nomor baru," katanya, sebelum kemudian me-reject panggilan itu.Tapi hanya selang beberapa saat dari itu, ponselnya kembali berdering. Sampai di sini aku berkata saja sekenanya, "Angkat saja dulu. Siapa tahu itu dari orang di desamu. Ayah atau ibumu misalnya?"Dia masih terlihat enggan. Namun begitu aku meminta dia sek
"Pasar yang ini ramai ya?" ucap Rafika seraya mengedar-edarkan pandang ke beberapa titik sekaligus. "Lebih ramai dari apa yang kubayangkan sebelumnya, lho!" tambahnya."Iya, memang lumayan ramai," ucapku juga apa adanya. "Tapi maklum sih, namanya juga pasar sentral."Saat ini mobil kami sudah berada di salah satu sudut pasar, sebuah pasar yang banyak menyimpan banyak cerita juga diselingi sedikit rahasia akan masa laluku. Ada bagian-bagian yang agak brutal, yang mana kerap diwarnai jiwa muda yang sarat akan pemberontakan.Tapi belakangan, aku mulai sungkan, bahkan adakalanya merasa malu sendiri ketika coba mengingatnya, bukan lagi merasa bangga sebagaimana di awal-awal.Terakhir kali aku menginjakkan kaki di pasar yang berlokasi kira-kira delapan kilometer dari desa kami ini, itu sekitar lima tahunan lalu. Sudah cukup lama."Kamu pergilah cari apa yang kamu butuhkan, sementara itu aku nunggu di sini saja." ucapku lagi, mau tidak mau, aku harus bersiasat tipis-tipis.Pasalnya, ada ban
Baru beberapa saat mengambil tempat di bangku kemudi, telepon seluler di sakuku pada akhirnya berdenting juga.Aku sudah menunggu hal ini sejak kemarin lalu, diam-diam berharap Angel telah mendapatkan kabar tentang Nola,Dua hari lalu, setelah melakukan perundingan singkat, pada akhirnya Angel mengalah, dia singgah di Kendari saja dulu, sementara aku dan Rafika melanjutkan perjalanan menuju desa asalku ini.Tapi kemudian, ternyata hanya sebuah pesan singkat via W*****p yang menyambangi ponsel ini. Hanya itu, dan tak ada panggilan masuk sebagaimana yang kuharapkan.Yang lebih tidak diharapkan lagi, ternyata bukan dari Angel, melainkan dari... Sialan, dari nomor sialan ini lagi? Isi pesannya..Mungkin akan ada pertanyaan, kenapa kalian bisa pergi tanpa ada rintangan sedikitpun. Jawabannya, selamat datang, selamat menyaksikan secara langsung puing-puing kenanganmu, brother!Kurang ajar, seharusnya si Edy Hidayat itu dulu yang kucari sebelum pulang ke desa ini!"Bara, kok nomor ini masi
Kampung halaman, tiga hari kemudian."Ini kan Rafika Lurai istri barumu itu?' sahut Pak Iswahyudi Tondo saat aku hendak melaporkan keberadaan Rafika di desa ini.Dahiku langsung mengkerut sempurna. Rafika pun kulihat demikian. Dia bahkan serta-merta mengangkat wajah, menatap lekat wajah Pak Iswahyudi sang kepala desa.Sementara itu, ada jeda sekian saat barulah aku coba memperjelas situasinya. "Maaf Pak, kok Bapak bisa menebak dengan tepat seperti ini? Walau bagaimanapun juga, ini adalah yang pertama kalinya Rafika datang ke desa ini. Bukankah begitu, Rafika?""Aku? Eh iya, Bara benar Pak, seumur-umur aku baru pertama kali datang kesini," imbuh Rafika canggung.Pak Iswahyudi mengutas senyum kecil. Samar-samar. "Tunggu sebentar, mungkin ada baiknya kalau aku perlihatkan sesuatu pada kalian," katanya, lalu menyambar ponsel yang tergeletak di hadapannya.Pak Iswahyudi kemudian men-scrol-scrol layar ponselnya. Tidak terlalu lama, sebelum kemudian dia mengubah posisi ponselnya seraya berka







