INICIAR SESIÓNJika barusan aku sangat deg-degan, berpikir bahwa kesempatan untuk mereguk kenikmatan yang aku idam-idamkan pada akhirnya datang juga, maka sekarang justru sebaliknya. Kata-kata dan ekspresi Nyonya Nola barusan, benar-benar telah mengubah segalanya.
"Kenapa diam, apakah kamu meragukanku, hm?" Sekali lagi dia memperlihatkan senyum nakal nan menggoda. Sangat jelas kalau dia belum menyadari kenapa aku tiba-tiba bersikap dingin terhadapnya. "Maaf Nola," kataku lesu, "tapi kita tidak bisa melakukan ini." Bersamaan dengan ujung kalimatku itu, secara naluriah aku bebaskan diri dari kungkungannya, mendorong dia dengan sedikit tenaga. "Bara, kau..." Nyonya Nola mengerang tertahan. Dia mungkin tidak siap sampai oleng hingga kira-kira satu meter ke belakang, sebelum kemudian terduduk di sisi sofa tidur. Atmosfer ruangan tiba-tiba seperti dipenuhi kabut tebal. Sebagaimana Nyonya Nola, aku pun membeku di tempat. Meskipun tatapan beradu satu sama lain, tapi ujung lisan kami seperti sedang sama-sama sedang mengunci. Cukup lama barulah Nyonya Nola menggerakkan bibirnya, berkata dengan nada bergetar, "Kenapa Bara? Apakah aku..." Nada bicaranya sangat selaras dengan permukaan wajahnya yang tampak memerah. Akan tetapi, baru sebatas kalimat menggantung itu yang keluar dari mulutnya. Aku tetap membisu di tempatku berdiri, bersiap menerima konsekuensi dari apa yang telah aku perbuat. Namun, hingga dua puluhan detik berlalu, dia tidak melakukan apa-apa, tidak pula meledak-ledak sebagaimana biasanya. Padahal, selain sangat kentara sedang coba meredam amarah, kekecewaan mendalam terpampang dengan jelas di wajahnya. "Aku akan menunggu di parkiran." Setelah mengatakannya, aku tidak lagi menunggu, dan langsung melangkah keluar. "Hah ... Nola Hapsari!" desisku berat, "andai kau tahu seperti apa karakterku yang sebenarnya." Sedari awal, aku selalu tidak respek pada orang-orang yang berpikir bahwa, dengan uang, mereka bisa membeli segalanya. Tidak peduli walaupun sedang butuh uang, aku tidak akan pernah menjual diri pada siapapun. Kenapa? Seseorang yang telah kehilangan hak atas dirinya sendiri, itu tidak ada bedanya dengan hewan peliharaan! "Suka dapat kau beli, bila sudah jenuh bukan tidak mungkin akan kau campakkan begitu saja? Tidak Nola, aku tidak akan sudi seperti itu!" bisikku lagi pada diri sendiri. Tiba di lobi hotel, kembali aku teringat pakaian Nyonya Nola yang kutitip ke salah seorang pekerja hotel. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju meja resepsionis. Ada dua orang wanita berpakaian rapih di situ. Usia keduanya di kisaran kepala dua. Salah satu dari mereka berdiri dari duduknya lalu menyambut aku dengan tapak tangan menyatu di depan dada, berkata, "Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" Aku baru hendak menjawab ketika temannya menyela tanpa ada nuansa formal sedikit pun. "Maaf Bang, temanku ini mungkin belum tahu kalau Abang supir pribadinya nyonya Nola." Kok dia bisa tau siapa aku? Aku jelas terkejut, tapi secepat itu juga menutupinya dengan keseluruhan sekonyong-konyong masa bodoh! "Kalau aku supirnya nyonya Nola, memangnya kenapa?" Dia masih tetap tersenyum, tapi gesturnya tampak salah tingkah. Sedangkan temannya yang mengisi bangku resepsionis, terlihat kebingungan. Aku abaikan ekspresi mereka, berkata dengan ada sedikit penekanan, "Kau belum menjawab pertanyaanku, Nona." Barulah dia merespon aku, mengatakan bahwa Nyonya Nola adalah bos mereka juga. "Oh ya?" Aku masih dengan ekspresi datar yang alami, "Tapi kok, bisa?" Sampai di sini, aura keduanya berangsur-angsur serius. Salah satu dari mereka lugas mengatakan, Nyonya Nola adalah pemilik HOTEL JELITA ini. Apa? Nyonya Nola pemilik hotel ini? Sebuah informasi yang sebelumnya tidak sedikitpun terlintas di benak, membuatku seketika terdiam. Kaget, bingung, hingga tak percaya, campur aduk dalam pikiran. Pantas saja dia mendapatkan perlakuan istimewa, pikirku lagi. Setelahnya, aku tak lagi banyak bicara. Segera kusampaikan maksud dan tujuanku menyambangi mereka. "Baik Mas," sahut yang sedari tadi lebih banyak diam, "nanti kami yang antar ke kamar Nyonya Nola." "Terima kasih," jawabku dan berlalu pergi. Kira-kira satu jam menunggu, barulah Nyonya Nola keluar dari pintu utama hotel. Sesegera itu juga aku pandu mobil menuju dia. Air muka Nyonya Nola tidak lagi terlihat marah, tapi tidak juga terlihat senang. Tanpa kata dia membuka pintu mobil, lalu mengambil tempat di bangku penumpang bagian belakang. Diam-diam kuhela napas panjang, dan berkata, "Boleh kita jalan sekarang?" Suasananya sedang tidak seperti biasanya, tapi aku tidak punya pilihan selain tetap mengedepankan sikap profesional layaknya pembantu pada majikannya. "Iya," katanya juga, "orang itu mungkin sudah capek menunggu." "Baik," sahutku dan langsung pelan-pelan tancap gas. Bandar Udara Haluoleo tidak terlalu jauh dari Hotel Jelita. Kurang dari dua puluh menit, mobil kami sudah merapat di area bandara. Akan tetapi, sepanjang itu juga kami terjebak dalam suasana yang luar biasa canggung. Benar-benar tidak ada sepatah kata pun yang terjalin. Saat hendak melintas di jalur penjemputan penumpang, benar, Tuan Edy Hidayat sudah menunggu di salah satu halte 'Smoking Area'. Sedangkan di area terminal kedatangan penumpang domestik, tidak ada siapapun lagi di situ. Nyonya Nola yang keluar menghampiri Tuan Edy Hidayat. Sedangkan aku, untuk menghindari teguran petugas, yang berhubungan dengan batas waktu kendaraan berhenti di jalur terbatas ini, aku tetap siaga di bangku kemudi. "Mas kok, jarang nelpon sih? Sibuk betul ya, di sana? Padahal aku kangen, lho," rengek Nyonya Nola saat mobil kami sudah bergerak meninggalkan area terminal bandara. Lewat kaca spion kulihat, Nyonya Nola menyandarkan sisi wajahnya di bahu Tuan Edy Hidayat. Dia bahkan sempat mengedipkan mata saat tahu aku diam-diam memperhatikan mereka yang duduk di bangku belakang. Sedangkan Tuan Edy Hidayat, hanya fokus memperhatikan apa yang ada di pangkuannya. "Siapa bilang?" timpal Tuan Edy Hidayat. "Coba kamu cek hp-mu," tambahnya. Dalam hatiku, istrimu itu bukan belut, Edy Hidayat, tapi ular betina berbisa!"Iya Bu, maaf baru ngirim nih. Gajinya baru masuk tadi malam, sih." "Kamu ngirim lagi, Bara?" ulang ibuku yang berada di ujung sambungan telepon. "Kamu kerja apa sih, sebenarnya di Kendari situ? Jangan bilang kamu pimpin geng lagi, malakin orang kiri-kanan lagi!" "Aduh Bu--, 'kan sudah kubilang, di sini aku jadi pembantu, Bu, jadi supir di rumah orang. Kok, malakin orang, sih?" Aku serius memelas. Akan tetapi, alih-alih mendapatkan impresi, Ibu justru semakin keras menukas. "Jangan bohong Bara! Empat hari lalu tiga puluh juta masuk ke rekening Maya, dan sekarang kamu ngirim lagi? Memangnya Ibu ini terlalu bodoh ya, sampai tidak tahu berapa gaji pembantu di Kendari situ?" "Harus berapa kali sih, Ibu ingatkan? Kami tidak boleh lagi kamu kasih makan pakai uang haram, Bara! Begitu juga dengan Maya, dia tidak akan pernah bisa sembuh kalau uang berobatnya kamu dapatkan dari sumpah serapah orang-orang! Ya Tuhan, Bara ... kamu ini kapan insyafnya sih, Nak..." Aku terdiam! Kebingungan me
Jika barusan aku sangat deg-degan, berpikir bahwa kesempatan untuk mereguk kenikmatan yang aku idam-idamkan pada akhirnya datang juga, maka sekarang justru sebaliknya. Kata-kata dan ekspresi Nyonya Nola barusan, benar-benar telah mengubah segalanya."Kenapa diam, apakah kamu meragukanku, hm?"Sekali lagi dia memperlihatkan senyum nakal nan menggoda. Sangat jelas kalau dia belum menyadari kenapa aku tiba-tiba bersikap dingin terhadapnya. "Maaf Nola," kataku lesu, "tapi kita tidak bisa melakukan ini."Bersamaan dengan ujung kalimatku itu, secara naluriah aku bebaskan diri dari kungkungannya, mendorong dia dengan sedikit tenaga. "Bara, kau..."Nyonya Nola mengerang tertahan. Dia mungkin tidak siap sampai oleng hingga kira-kira satu meter ke belakang, sebelum kemudian terduduk di sisi sofa tidur. Atmosfer ruangan tiba-tiba seperti dipenuhi kabut tebal. Sebagaimana Nyonya Nola, aku pun membeku di tempat. Meskipun tatapan beradu satu sama lain, tapi ujung lisan kami seperti sedang sama-s
"Nyo-Nyonya... Anda mabuk," desisku, namun suaraku sendiri terdengar payah. Nola tidak peduli. Matanya yang sayu justru berkilat liar di bawah temaram lampu kamar. Ia merangkak maju, dengan hanya mengenakan pakaian dalamnya yang tipis, memamerkan lekuk tubuh matang yang sanggup meruntuhkan iman pria mana pun. "Bara... jangan munafik," bisiknya serak. Tangannya yang panas tiba-tiba menyusup ke balik kemejaku, mencengkeram pinggangku dan menarikku hingga tubuh kami tak menyisakan jarak. Napasnya yang beraroma alkohol namun manis menerpa bibirku. Saat ia menggeliat pelan, aku merasakan milikku berdenyut kencang, menegang hebat di balik celana yang mulai terasa sesak. "Aku menginginkanmu, Bara. Sekarang..." Tangannya mulai turun, meraba dengan berani ke arah area yang sudah sangat sesak itu. Sial! Sebelum segalanya lepas kendali dan aku benar-benar melumatnya, aku segera mencengkeram bahunya dan mendorongnya keras ke atas ranjang. "Bara..." gumamnya parau sebelum a
"Yakin tidak mau ikutan? Di dalam sana banyak wanita cantik, lho."Sudah dua kali Nyonya Nola mengatakan itu. Seperti tadi juga, aku hanya tersenyum kecil dan menggeleng, "Aku nunggu di sini saja."Saat ini kami berada di pelataran parkir sebuah klub malam. Lokasinya hanya lima menitan berkendara dari hotel tempat kami menginap. Nyonya Nola bilang, di sinilah tempat berlangsungnya acara khusus, sebuah acara privat yang ternyata adalah 'Party Night'. "Iya, memang ada baiknya kamu di sini saja," katanya lagi. "Daripada kamu diembat jablai di dalam sana, mending aku yang cicipi kamu. Kami sama-sama jablai sih, tapi aku tidak asal embat seperti mereka."Langsung pecah tawaku. Benar-benar tidak menyangka kalau Nyonya Nola bisa sekonyol ini. Akan tetapi, dia tetap pasang mimik wajah serius. "Kenapa tertawa? Apa kamu pikir aku berbohong?""Tidak Nola, bukan seperti itu," sangkalku cepat, "justru kamu adalah wanita terjujur yang pernah aku temui.""Oh ya?" katanya juga, "berarti kamu ini p
"Kamu gila! Kamu pasti sudah gila, Nola!"Aku sudah tidak ubahnya rusa masuk kampung. Mataku liar menyapu sekeliling. Beruntung, sepertinya tidak ada seorangpun yang menjadikan kami sebagai pusat perhatian. Entahlah jika mereka hanya sekonyong-konyong tidak mengetahui apa-apa. Berbeda dengan aku yang panik bukan kepalang, Nyonya Nola malah tertawa-tawa, seolah apa yang dia lakukan barusan hanyalah guyonan belaka. Dengan antengnya dia membalas, "Kalau gila memangnya kenapa, hm? Hahaha."Dia malah kembali menggodaku dengan kedipan matanya yang nakal itu? Lagipula, apanya yang lucu? Sudah kuputustkan, tidak lagi berbuat, atau mengatakan sesuatu yang dapat memancing reaksinya yang tidak pakai kira-kira.Begitu kami mengambil tempat duduk di salah satu kafe payung tepi pantai ini, Nyonya Nola langsung memanggil pekerja kafe, kemudian membuat pesanan. "Mas-nya pesen apa?" Pekerja kafe sambil bersiap mencatat sebagaimana yang dia lakukan pada Nyonya Nola."Samakan saja."Aku terpaksa meny
"Mau dijemput pukul berapa, Nyonya?""Bara! Sudah berapa kali kukatakan, jangan panggil aku Nyonya saat si Tua Bangka itu tidak ada!""Ta-tapi Nyonya, eh Bu ....""Tidak ada tapi-tapian! Panggil aku Nola! N, O, L, A. No--la! Jemput aku pukul lima atau nanti kutelpon!""Ba-ba-baik, Nyo--, eh maksudku.Nola."Tergesa kutinggalkan bangku kemudi lalu mengitari moncong mobil, sebelum kemudian membuka pintu penumpang bagian tengah. Dengan kepala membungkuk, aku persilahkan wanita yang sudah menjadi majikanku sedari awal-awal mencoba peruntungan di kota ini."Tidak perlu juga berlebihan kayak gini dong, Bara," katanya saat menjejakkan kaki di tanah. "Kamu ini gimana, sih? Baru saja juga dibilangin," tambahnya agak frustrasi.Aku diam saja dan tetap menundukkan kepala. Detik berikutnya, tanpa pernah terbayangkan sama sekali, wanita bersuami ini tiba-tiba saja memberiku satu kecupan kecil di pipi.Tersirap darahku seketika!Jelang enam bulan menjadi pembantu di rumah wanita 'high class' ini, i







