مشاركة

005

مؤلف: Thato Kent
last update تاريخ النشر: 2025-12-21 18:58:22

Jika barusan aku sangat deg-degan, berpikir bahwa kesempatan untuk mereguk kenikmatan yang aku idam-idamkan pada akhirnya datang juga, maka sekarang justru sebaliknya. Kata-kata dan ekspresi Nyonya Nola barusan, benar-benar telah mengubah segalanya.

"Kenapa diam, apakah kamu meragukanku, hm?"

Sekali lagi dia memperlihatkan senyum nakal nan menggoda. Sangat jelas kalau dia belum menyadari kenapa aku tiba-tiba bersikap dingin terhadapnya.

"Maaf Nola," kataku lesu, "tapi kita tidak bisa melakukan ini."

Bersamaan dengan ujung kalimatku itu, secara naluriah aku bebaskan diri dari kungkungannya, mendorong dia dengan sedikit tenaga.

"Bara, kau..."

Nyonya Nola menjerit tertahan. Dia mungkin tidak siap sampai oleng hingga kira-kira satu meter ke belakang, sebelum kemudian terduduk di sisi sofa tidur.

Atmosfer ruangan pun tiba-tiba seperti dipenuhi kabut tebal. Sebagaimana Nyonya Nola, aku pun membeku di tempat. Meskipun tatapan beradu satu sama lain, tapi ujung lisan kami sama-sama sedang mengunci.

Cukup lama barulah Nyonya Nola menggerakkan bibirnya, berkata dengan nada bergetar, "Kenapa Bara? Apakah aku..."

Nada bicaranya sangat selaras dengan permukaan wajahnya yang tampak memerah. Akan tetapi, baru sebatas kalimat menggantung itu yang keluar dari mulutnya.

Aku tetap membisu di tempatku berdiri, bersiap menerima konsekuensi dari apa yang telah aku perbuat. Namun, hingga dua puluhan detik berlalu, dia tidak melakukan apa-apa, tidak pula meledak-ledak sebagaimana biasanya. Padahal, selain sangat kentara sedang coba meredam amarah, kekecewaan mendalam terpampang dengan jelas di wajahnya.

"Aku akan menunggu di parkiran."

Setelah mengatakannya, aku tidak lagi menunggu, dan langsung melangkah keluar.

"Hah ... Nola Hapsari!" desisku berat, "andai kau tahu seperti apa karakterku yang sebenarnya."

Sedari awal, aku selalu tidak respek pada orang-orang yang berpikir bahwa, dengan uang, mereka bisa membeli segalanya.

Tidak peduli sedang butuh-butuhnya uang, aku tidak akan pernah sudi menjual diri. Kenapa? Seseorang yang telah kehilangan hak atas dirinya sendiri, tidak ada bedanya dengan seekor hewan peliharaan!

"Suka dapat kau beli, bila sudah jenuh bukan tidak mungkin akan kau campakkan begitu saja? Tidak Nola, aku tidak akan sudi seperti itu!" bisikku lagi pada diri sendiri.

Tiba di lobi hotel, kembali aku teringat pakaian Nyonya Nola yang kutitip ke salah seorang pekerja hotel. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju meja resepsionis. Ada dua orang wanita berpakaian rapih di situ. Usia keduanya di kisaran kepala dua.

Salah satu dari mereka berdiri dari duduknya lalu menyambut aku dengan tapak tangan menyatu di depan dada, berkata, "Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa kami bantu?"

Aku baru hendak menjawab ketika temannya menyela tanpa ada nuansa formal sedikit pun. "Maaf Bang, temanku ini mungkin belum tahu kalau Abang supir pribadinya nyonya Nola."

Kok dia bisa tau siapa aku? Aku jelas terkejut, tapi secepat itu juga menutupinya dengan keseluruhan sekonyong-konyong masa bodoh!

"Kalau aku supirnya nyonya Nola, memangnya kenapa?"

Dia masih tetap tersenyum, tapi gesturnya tampak salah tingkah. Sedangkan temannya yang mengisi bangku resepsionis, terlihat kebingungan.

Aku abaikan ekspresi mereka, berkata dengan ada sedikit penekanan, "Kau belum menjawab pertanyaanku, Nona."

Barulah dia merespon aku, mengatakan bahwa Nyonya Nola adalah bos mereka juga.

"Oh ya?" Aku masih dengan ekspresi datar yang alami, "Tapi kok, bisa?"

Sampai di sini, aura keduanya berangsur-angsur serius. Salah satu dari mereka lugas mengatakan, Nyonya Nola adalah pemilik HOTEL JELITA ini.

Apa? Nyonya Nola pemilik hotel ini?

Sebuah informasi yang sebelumnya tidak sedikitpun terlintas di benak, membuatku seketika terdiam. Kaget, bingung, hingga tak percaya, campur aduk dalam pikiran.

Pantas saja dia mendapatkan perlakuan istimewa, pikirku lagi.

Setelahnya, aku tak lagi banyak bicara. Segera kusampaikan maksud dan tujuanku menyambangi mereka.

"Baik Mas," sahut yang sedari tadi lebih banyak diam, "nanti kami yang antar ke kamar Nyonya Nola."

"Terima kasih," jawabku dan berlalu pergi.

Kira-kira satu jam menunggu, barulah Nyonya Nola keluar dari pintu utama hotel. Sesegera itu juga aku pandu mobil menuju dia.

Air muka Nyonya Nola tidak lagi terlihat marah, tapi tidak juga terlihat senang. Tanpa kata dia membuka pintu mobil, lalu mengambil tempat di bangku penumpang bagian belakang.

Diam-diam kuhela napas panjang, dan berkata, "Boleh kita jalan sekarang?"

Suasananya sedang tidak seperti biasanya, tapi aku tidak punya pilihan selain tetap mengedepankan sikap profesional layaknya pembantu pada majikannya.

"Iya," katanya juga, "orang itu mungkin sudah capek menunggu."

"Baik," sahutku dan langsung pelan-pelan tancap gas.

Bandar Udara Haluoleo tidak terlalu jauh dari Hotel Jelita. Kurang dari dua puluh menit, mobil kami sudah merapat di area bandara. Akan tetapi, sepanjang itu juga kami terjebak dalam suasana yang luar biasa canggung. Benar-benar tidak ada sepatah kata pun yang terjalin.

Saat hendak melintas di jalur penjemputan penumpang, benar, Tuan Edy Hidayat sudah menunggu di salah satu halte 'Smoking Area'. Sedangkan di area terminal kedatangan penumpang domestik, tidak ada siapapun lagi di situ.

Nyonya Nola yang keluar menghampiri Tuan Edy Hidayat. Sedangkan aku, untuk menghindari teguran petugas, yang berhubungan dengan batas waktu kendaraan berhenti di jalur terbatas ini, aku tetap siaga di bangku kemudi.

"Mas kok, jarang nelpon sih? Sibuk betul ya, di sana? Padahal aku kangen, lho," rengek Nyonya Nola saat mobil kami sudah bergerak meninggalkan area terminal bandara.

Lewat kaca spion kulihat, Nyonya Nola menyandarkan sisi wajahnya di bahu Tuan Edy Hidayat. Dia bahkan sempat mengedipkan mata saat tahu aku diam-diam memperhatikan mereka yang duduk di bangku belakang. Sedangkan Tuan Edy Hidayat, hanya fokus memperhatikan apa yang ada di pangkuannya.

"Siapa bilang?" timpal Tuan Edy Hidayat. "Coba kamu cek hp-mu," tambahnya.

Dalam hatiku, istrimu itu bukan belut, Edy Hidayat, tapi ular betina berbisa!

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
Ryal Hidayat Muhammad Zein
kacau ini istri
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   SELESAI

    "Saya terima nikah dan kawinnya Zaitun binti Rauf dengan maskawin tersebut dibayar tu--nai!""Bagaimana saksi, sah?""Sah!"Pak penghulu kemudian melanjutkan dengan bacaan ayat-ayat, lalu doa-doa. Sedangkan para hadirin serta saksi dan wali hakim yang mana sebagian besar dari mereka adalah kerabat dekat ayah dan ibu, mengimbangi pak penghulu dengan sahutan 'aamiin'. Sejenak menyimak seraya diam-diam memperhatikan.Semua orang tampak khusyuk. Maya yang duduk di kursi roda, dan berada tepat di belakangku, dia pun kini menumpu kedua tangan, menundukkan kepala, dan dengan mata terpejam. Bibirnya pun tak henti mengucapkan kata 'aamiin', dan itu berlangsung sampai pak penghulu mengusaikan doa-doanya."Alhamdulillah," ucap Maya lagi. Matanya tampak berkaca-kaca. "Sekarang Zaitun resmi dan sah menjadi bagian dari keluarga kita," tambahnya.Ibu yang lebih dulu menimpali, "Terima kasih, Maya. Tanpa izinmu, ijab kabul ini tidak akan pernah terlaksana.""Jangan bicarakan itu lagi, Bu," tepis May

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   242

    Agnes dan Abraham langsung membuntuti langkah Bu Merlin. Sedangkan Angel yang tiba-tiba jadi pendiam terhadap kami, baru membayangi langkah kedua kakaknya setelah Agnes menolehi dia sebentar.Cara Agnes menatap Angel sangat kentara sekali kalau itu semacam wanti-wanti. Mungkin karena itulah Angel yang biasanya tidak bisa menahan diri dalam berkata-kata, pada akhirnya beredar dengan wajah tertekuk dalam! "Bara?" desis Rafika sesaat setelah mereka semua tak lagi mengarahkan wajah pada kami, "kok aku merasa ada yang tidak biasa dengan Angel?""Maksudnya?" Aku menyahut sekedarnya saja."Angel kayak canggung gitu," imbuhnya. "Kan itu tidak kayak biasanya ya? Atau jangan-jangan itu karena..."Rafika tak menggenapi kalimatnya, tapi aku merasa tahu apa yang ingin dia katakan. "Iya, Rafika," sahutku, "tapi biarkan saja. Setidaknya sekarang kita sudah tahu seperti apa watak dia yang sebenarnya!"Rafika tak berkedip menatapku, tapi yang dia perlihatkan justru gurat kebingungan yang mendalam."

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   241

    Rafika berjalan kira-kira lima atau enam langkah di depan Edy Hidayat. Begitu mendekat perhatian langsung dia fokuskan pada Meisya, bukan aku!"Maaf," ucap Rafika, menatap serius wajah Meisya, "apakah kamu yang bernama Meisya?""Benar," sahut Meisya tanpa ada rasa sungkan sedikitpun juga. "Aku Meisya, saudara barumu," tambahnya dan tersenyum ramah."Senang sekali mendengarnya," balas Rafika juga. "Aku berharap mulai saat ini kita akan saling menguatkan satu sama lain.""Pasti, pasti itu Rafika. Maya juga sudah tidak sabar menunggu kedatanganmu."Saat mengatakan itu, Meisya sudah lebih dulu membawa Rafika dalam pelukannya. Mereka berpelukan dengan sangat hangat sekali. Aku bahkan merasa seakan-akan tidak percaya dengan pemandangan ini Pada momen ini, Edy Hidayat kebetulan juga melintasi kami. Sepertinya dia akan menuju ke ruangan di mana Nola berada. Aku tak berkedip mengawasi gerak-geriknya. Pasalnya, setelah melewati kami tanpa menoleh sedikitpun juga, dia lalu melintas di hadapan

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   240

    "Hei Bara, apa-apaan kau ini, ha? Bisa tidak kamu kondisikan dirimu? Kau bisa saja membuat kita celaka kalau mengemudi seperti orang kesetanan seperti ini, Bara!""Ibu...""Ya Tuhan, Bara, ada apa denganmu? Bukankah sudah kukatakan kau bisa saja membuat kita celaka?"Rafika memang benar, aku mengemudi layaknya orang kesetanan begini, bukan tidak mungkin akan membuat kami bahkan orang lain mengalami kecelakaan. Terlebih lagi dia sudah sampai berteriak panik bukan kepalang seperti itu, memang alangkah baiknya jika aku mengemudi secara normal saja."Maafkan aku, aku terlalu cemas saat ini. Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf!" Meskipun mungkin ini sudah sedikit terlambat, tapi aku berucap dengan sepenuh hati. Laju kendaraan pun sudah aku normalkan sebagaimana mestinya Alih-alih menyahut tidak peduli itu semisal mengumpat sekalipun, Rafika justru membuang muka. Namun, setelah kulirik dia sekilas dan mendapati raut wajahnya yang masih diselimuti oleh ketegangan, dan juga bersekutu

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   239

    "Brengsek, ternyata kalian!" "Iya Bara, ini memang kami. Senang sekali kamu sudah kembali.""Hah, brengsek kalian semua!"Sekali lagi aku memaki, tapi lawan bicaraku justru senyum-senyum sendiri, sebelum kemudian diikuti oleh yang lainnya dengan ekspresi wajah sendiri-sendiri.Sementara itu, aku pada akhirnya hanya bisa kesal sendiri saat tahu siapa orang-orang dalam mobil yang aku cegat di tengah jalan ini.Bodohnya aku, barusan itu ada yang lupa aku pastikan!Tipe kendaraan hingga warnanya memang mirip dengan kendaraan yang membuat masalah pada aku dan Angel di bandara Kendari sana tempo hari, tapi plat nomornya itu yang tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang membuatku mendadak sok jagoan.Begitu juga dengan enam orang pria urakan dalam mobil ini, mereka semua adalah teman lamaku!"Oh ya Bara, ngomong-ngomong siapa perempuan di mobil itu? Perasaan kami baru pertama kali lihat dia.""Iya Bara, siapa dia? Apakah dia...""Hah sudah-sudah, aku tidak punya waktu untuk menjawab pertan

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   238

    "Jadi memang benar ya, aku memang sangat payah di matamu?""Tidak ada yang berpikiran seperti itu, Rafika! Sudah ah, oke baik, aku akan temani kamu. Mari pergi sekarang!"Sebelum dia terlalu jauh memojokkan aku, memang akan lebih baik jika aku ikuti saja kemauannya. Biar dia saksikan sendiri saja akan seperti apa sosokku di pasar sentral ini sebentar nanti.Dan semoga saja dia siap mental untuk menghadapi reaksi orang-orang!Tapi begitu aku keluar dari mobil, ponselnya tiba-tiba berdering. Dan bukannya menerima panggilan atau semacamnya, dia justru mengkerutkan kening."Ada apa? Maksudku siapa yang menelepon? Kenapa tidak diangkat?" tanyaku penasaran."Tidak tahu siapa, nomor baru," katanya, sebelum kemudian me-reject panggilan itu.Tapi hanya selang beberapa saat dari itu, ponselnya kembali berdering. Sampai di sini aku berkata saja sekenanya, "Angkat saja dulu. Siapa tahu itu dari orang di desamu. Ayah atau ibumu misalnya?"Dia masih terlihat enggan. Namun begitu aku meminta dia sek

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status