FAZER LOGIN"Apa yang kau singgung barusan, sebenarnya itu juga yang ada dalam pikiranku, Angel. Hanya saja, aku berpikir, gimana ya? Intinya, kamu yang tiba-tiba muncul di daerah sini saja, itu sudah bikin aku bertanya-tanya, lho."Meskipun terpaksa harus menambahkan dengan sedikit kebohongan, aku yakin Angel tidak akan mempermasalahkannya. Lagipula, siapa yang akan menjawab pertanyaan yang panjangnya seperti rel kereta api begitu? "Benarkah? Lalu, kenapa dari tadi Abang tidak mengatakan apa pun? Cukup lama lho, kita berada dalam pete-pete barusan."Gurat tak percaya terbaca dengan jelas di wajah Angel. Auranya juga terlihat dingin.Di sisi lain, meskipun tidak mungkin mendebat kebenaran perkataan dia, tapi aku juga tidak mungkin mengakuinya begitu saja. Oleh karena itu, aku karang saja lagi alasan sekenanya; "Gimana cara ngejelasinnya ya? Maaf Angel, aku bingung harus memulainya dari mana!"Angel kembali menatapku, lekat. Sepertinya dia masih belum percaya dengan pengakuanku. Padahal, kurang
"Bukan, Bang, rumah itu tidak ada hubungannya dengan Hidayat."Angel menepis dengan ringan. Dari ekspresi wajah, gestur, hingga nada bicara, semuanya terkesan natural dan tanpa ada keraguan sama sekali. Di sisi lain, pengakuannya itu tak lantas membuatku serta-merta merasa yakin."Kalau bukan Edy Hidayat, lalu siapa? Tidak mungkin Silvester, bukan?"Menyebut nama mereka, karena hanya dua orang itu yang menurutku sanggup berlaku tega tanpa pandang bulu sama sekali."Tidak Bang, bukan dia juga," sekali lagi Angel melontar tepisan senada, juga tanpa memikirkannya lebih dulu. "Abang tahu? Sejak dikabarkan pergi ke Taiwan untuk mendapatkan perawatan tempo hari, sejak saat itu juga Silvester tidak pernah ada kabar lagi. Bang Abraham saja tidak bisa lagi menghubungi dia. Jadi tidak mungkin Silvester, bukan?" terangnya kemudian."Apa rumah kalian dijual? Tapi andai dijual sekalipun, siapa yang akan menjualnya? Aku tidak yakin ibu kalian akan diam saja sekiranya terjadi apa-apa dengan proper
"Kau taruh di mana mobilmu, Angel? Kok harus naik pete-pete segala?, sih?""Di kecamatan sebelah. Ayo, itu metromini yang menuju sana.""Ha? Kecamatan sebelah?" ulangku dengan mulut ternganga.Sialan juga ya Angel ini, pikirku, tapi kemudian patuh saja pada apa yang dia inginkan.Tadi itu Angel hanya mengarahkan telunjuknya ke jalan raya. Jadi kupikir mobilnya ada di seberang jalan. Sedangkan sekarang, pantas saja kami harus menggunakan angkutan pedesaan. Benar-benar sialan ya?Tapi setelah kupikir-pikir, mungkin aku mulai paham kenapa sampai dia sampai harus menaruh mobilnya pada titik yang begitu jauh. "Stop di depan, Pak!" Angel tiba-tiba mengucapkan itu. Pada saat yang sama, supir berangsur-angsur menepikan kendaraannya.Lima belasan menit berada dalam lambung angkutan pedesaan, itu adalah lima belas menit yang cukup panjang. Apalagi, kami melaluinya dengan tanpa saling mengobrol sama sekali.Turun dari angkutan pedesaan, aku sempatkan diri melihat-lihat.Di sini adalah sebuah
....benar, dia memang seseorang yang kukenal, tapi tidak sedikitpun terlintas dalam benakku bahwa akan bertemu dengannya di tanah asing ini."Kenapa menatapku seperti itu, Bu? Lagipula, di sini tidak ada yang berkelahi, kok."Mungkin karena tatapan tajam itu, meskipun sudah sedikit terlambat, tapi pria yang ternyata bernama Andar ini, pada akhirnya menepis dengan canggung juga. Kesan gentar pula, sangat kentara pada keseluruhan dia."Kalau bukan berkelahi, lalu apa namanya kalian siap-siap saling terkam begitu?" sanggah wanita ini juga.Selain pakai masker hitam dan kacamata putih keunguan, wanita ini juga mengenakan topi lebar, mirip topi pelindung yang biasanya digunakan orang saat mengunjungi pantai pada saat matahari terik. Dengan tampilannya yang seperti ini, orang lain mungkin akan sulit mengenali wajahnya. Akan tetapi, suara dan sorot matanya, itu yang tidak mungkin bisa dia embunyikan dariku, "Kamu pikir aku tidak lihat apa yang terjadi di sini barusan?" tambah wanita ini, c
Selain sedikit kaget, isi kalimatnya juga akan membuat orang jadi penasaran. Aku bahkan sampai harus menunda menyulut rokok di bibirku hanya untuk mencari tahu siapa pemilik suara ini.Pelan-pelan menatap cermat wajahnya. Hanya sebentar sebelum kemudian menjiwainya mulai dari wajah hingga ujung kaki. Dan, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memaki dalam hati.Sialan! Entah sampai kapan baru aku berhenti bertemu dengan orang-orang tidak masuk akal seperti mereka ini?Dari garis wajah, gestur, hingga penampilan, pria tiga puluhan ini tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kalau dia adalah seorang profesional. Lalu bandingkan dengan kata-katanya barusan; 'Aku mungkin bisa membantumu, tapi dengan satu syarat'!Lagi-lagi ada kata 'bantuan' sebelum kemudian menyisipkan 'syarat' dalam kalimatnya."Hei Bung! Kau punya kualifikasi apa sampai merasa cukup pantas untuk melakukan negosiasi denganku? Lagipula, siapa kamu? Kok sempat-sempatnya berlaku sok kenal di hadapanku?"Padahal aku sudah
Dompet ini tidak mungkin langsung ada begitu saja di sini, pasti ada yang sudah sengaja menaruhnya.Tapi siapa yang menaruhnya? Tidak mungkin Rafika, 'kan?Apa jangan-jangan... oh bisa jadi!Setelah bertanya-tanya panjang lebar seperti itu, aku tiba-tiba terpikir sesuatu. Cepat aku berlari ke jalan raya. Benar, tampak bayangan seorang anak kecil di kejauhan sana. Dia kini berada pada arah menuju jalan poros. Cepat aku berteriak memanggilnya; "Hei tunggu, tunggu aku, jangan pergi dulu...""Sial, kok dia malah kabur sih?""Huh! Siapa sih anak itu?""Brengsek, kecil-kecil sudah pintar mempermainkan orang? Dasar anak sialan!"Pada akhirnya aku hanya bisa mengomel seorang diri, apabila anak sepuluh tahunan itu alih-alih berhenti, malah justru melesat seperti anak panah yang lesat dari busurnya. Dia benar-benar sudah sangat jauh dan tidak mungkin lagi sanggup kukejar.Dompet yang kutemukan tergeletak di depan pintu ini ternyata adalah dompetku sendiri. Di dalamnya ada Kartu Tanda Pendudu







