Share

080

Penulis: Thato Kent
last update Tanggal publikasi: 2026-03-03 08:49:28

Menyelinap masuk ke tengah-tengah penyerang. Bergerak zig-zag; meninju dan menangkis, menyepak juga menghindar, hingga kemudian melumpuhkan sedikit di antaranya, semuanya memakan waktu kira-kira tiga menit.

"Ayo, serang aku lagi biar kupatahkan leher kalian satu per satu!" ancamku seraya mengawasi dengan cermat, sekaligus memamerkan aura membunuh yang kuat.

Setakat ini, hening!

Aku tidak bisa memastikan berapa orang yang terkena hantaman tinju atau sepakku, tapi ada ada dua orang yang benar-ben
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   215

    "Kau taruh di mana mobilmu, Angel? Kok harus naik pete-pete segala?, sih?""Di kecamatan sebelah. Ayo, itu metromini yang menuju sana.""Ha? Kecamatan sebelah?" ulangku dengan mulut ternganga.Sialan juga ya Angel ini, pikirku, tapi kemudian patuh saja pada apa yang dia inginkan.Tadi itu Angel hanya mengarahkan telunjuknya ke jalan raya. Jadi kupikir mobilnya ada di seberang jalan. Sedangkan sekarang, pantas saja kami harus menggunakan angkutan pedesaan. Benar-benar sialan ya?Tapi setelah kupikir-pikir, mungkin aku mulai paham kenapa sampai dia sampai harus menaruh mobilnya pada titik yang begitu jauh. "Stop di depan, Pak!" Angel tiba-tiba mengucapkan itu. Pada saat yang sama, supir berangsur-angsur menepikan kendaraannya.Lima belasan menit berada dalam lambung angkutan pedesaan, itu adalah lima belas menit yang cukup panjang. Apalagi, kami melaluinya dengan tanpa saling mengobrol sama sekali.Turun dari angkutan pedesaan, aku sempatkan diri melihat-lihat.Di sini adalah sebuah

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   214

    ....benar, dia memang seseorang yang kukenal, tapi tidak sedikitpun terlintas dalam benakku bahwa akan bertemu dengannya di tanah asing ini."Kenapa menatapku seperti itu, Bu? Lagipula, di sini tidak ada yang berkelahi, kok."Mungkin karena tatapan tajam itu, meskipun sudah sedikit terlambat, tapi pria yang ternyata bernama Andar ini, pada akhirnya menepis dengan canggung juga. Kesan gentar pula, sangat kentara pada keseluruhan dia."Kalau bukan berkelahi, lalu apa namanya kalian siap-siap saling terkam begitu?" sanggah wanita ini juga.Selain pakai masker hitam dan kacamata putih keunguan, wanita ini juga mengenakan topi lebar, mirip topi pelindung yang biasanya digunakan orang saat mengunjungi pantai pada saat matahari terik. Dengan tampilannya yang seperti ini, orang lain mungkin akan sulit mengenali wajahnya. Akan tetapi, suara dan sorot matanya, itu yang tidak mungkin bisa dia embunyikan dariku, "Kamu pikir aku tidak lihat apa yang terjadi di sini barusan?" tambah wanita ini, c

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   213

    Selain sedikit kaget, isi kalimatnya juga akan membuat orang jadi penasaran. Aku bahkan sampai harus menunda menyulut rokok di bibirku hanya untuk mencari tahu siapa pemilik suara ini.Pelan-pelan menatap cermat wajahnya. Hanya sebentar sebelum kemudian menjiwainya mulai dari wajah hingga ujung kaki. Dan, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memaki dalam hati.Sialan! Entah sampai kapan baru aku berhenti bertemu dengan orang-orang tidak masuk akal seperti mereka ini?Dari garis wajah, gestur, hingga penampilan, pria tiga puluhan ini tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kalau dia adalah seorang profesional. Lalu bandingkan dengan kata-katanya barusan; 'Aku mungkin bisa membantumu, tapi dengan satu syarat'!Lagi-lagi ada kata 'bantuan' sebelum kemudian menyisipkan 'syarat' dalam kalimatnya."Hei Bung! Kau punya kualifikasi apa sampai merasa cukup pantas untuk melakukan negosiasi denganku? Lagipula, siapa kamu? Kok sempat-sempatnya berlaku sok kenal di hadapanku?"Padahal aku sudah

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   212

    Dompet ini tidak mungkin langsung ada begitu saja di sini, pasti ada yang sudah sengaja menaruhnya.Tapi siapa yang menaruhnya? Tidak mungkin Rafika, 'kan?Apa jangan-jangan... oh bisa jadi!Setelah bertanya-tanya panjang lebar seperti itu, aku tiba-tiba terpikir sesuatu. Cepat aku berlari ke jalan raya. Benar, tampak bayangan seorang anak kecil di kejauhan sana. Dia kini berada pada arah menuju jalan poros. Cepat aku berteriak memanggilnya; "Hei tunggu, tunggu aku, jangan pergi dulu...""Sial, kok dia malah kabur sih?""Huh! Siapa sih anak itu?""Brengsek, kecil-kecil sudah pintar mempermainkan orang? Dasar anak sialan!"Pada akhirnya aku hanya bisa mengomel seorang diri, apabila anak sepuluh tahunan itu alih-alih berhenti, malah justru melesat seperti anak panah yang lesat dari busurnya. Dia benar-benar sudah sangat jauh dan tidak mungkin lagi sanggup kukejar.Dompet yang kutemukan tergeletak di depan pintu ini ternyata adalah dompetku sendiri. Di dalamnya ada Kartu Tanda Pendudu

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   211

    Dia berjalan menuju mobilnya, aku juga langsung masuk kembali ke dalam rumah. Lalu, entah apa yang dia lakukan setelah itu, tapi ada jeda kira-kira lima menit atau lebih barulah terdengar bunyi mesin mobil dihidupkan.Yakin dia akan segera beredar, barulah aku bergeser ke dinding, lalu diam-diam mengintip dari celah jendela depan. Aku terus begitu, memastikan sampai mobilnya pelan-pelan merayap di jalan raya sana."Memangnya mau ngapain lagi di desa ini sampai dia berpikir aku belum akan ke mana-mana? Sial, perempuan itu pasti berpikir aku akan memanfaatkan dia." "Maaf ya Rafika, biar miskin melarat begini, aku bukan tipe orang yang sudi hidup dari belas kasih orang! Ah, andai kau tahu kalau aku lebih baik melakukan tindak kriminal daripada harus mengemis?Aku bermonolog, tidak terima dengan perkataan Rafika barusan. Sayang sekali dia tidak akan pernah tahu bagaimana aku sedang tersenyum sinis di ketika ini.Dalam empat puluh hari terakhir, khususnya setelah kepergian Mariana, setid

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   210

    Malam berganti siang."Ada yang datang? Tapi siapa yang datang di pagi buta begini?" Aku bermonolog seraya mempertajam pendengaran.Saat ini mungkin belum pukul tujuh pagi. Bahkan baru sekitar lima belasan menit yang lalu aku membasuh muka. Tapi sedini ini sudah terdengar bunyi mesin mobil yang masuk ke halaman."Lha, itu kan kayak mobilnya Rafika ya? Ada urusan apa lagi wanita itu sampai nekat datang kesini?" Dari bunyinya saja aku langsung bisa menebak bahwa itu adalah mobil Rafika. Lagipula, siapa lagi yang sudi datang ke tempat 'sunyi' ini selain wanita itu?Tidak ingin mengulang kejadian tadi malam, aku cepat-cepat keluar rumah untuk menemui dia. Begitu berada di ambang pintu, kudapati dia juga sedang menuju sini. Memperhatikan dia sebentar, coba memastikan apakah dia datang sendirian atau bersama orang lain, aku justru langsung terpaku di tempat hingga beberapa saat lamanya. Entah karena kurang tidur atau apa, tapi wajah Rafika sangat kentara sekali kalau dia sedang kelelahan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status