Mag-log in"Iya, Angel, gimana?""Abang posisi di mana? Aku baru dari wisma, tapi tidak melihat Abang di sana.""Oh iya, aku masih di bengkel, antar jeep semalam itu lho, Angel. Ibumu sih, yang nyuruh."Angel yang berada di ujung sambungan telepon sana lalu bertanya, apakah aku bisa temani dia makan siang. Aku yang kebetulan belum bersentuhan dengan nasi sejak tadi malam, tanpa banyak bicara, langsung mengiyakan.Kira-kira dua puluh menit kemudian.Restoran Seafood ternama, di bilangan Mandonga."Lezat, Bang?" Angel tiba-tiba menjeda kunyahannya, dan menatapku."Hm, lumayan," sahutku sekenanya, tapi mendadak canggung.Aku curiga Angel keheranan melihat caraku makan, mirip-mirip seseorang yang seumur hidupnya baru pertama kali bersentuhan langsung dengan hidangan mewah. Namun, kepalang basah aku teruskan saja mencicipi hidangan yang tersedia, melahapnya tanpa malu-malu sama sekali, dan baru berhenti ketika perutku tak sanggup lagi menampung makanan.Apa pun itu, uang memang tidak dapat membeli
Belum sempat aku menstabilkan pikiran, Edy Hidayat sudah kembali berkata, "Aku tahu, atas perintah Bu Merlin, tadi kalian pergi ke wisma sana. Kau diperintahkan untuk mengawasi ruang kontrol cctv, sedangkan Bu Merlin dan Jameela adalah yang naik menggeledah kantor saya, bukan?"Bu Merlin melakukan penggeledahan? Apakah ini adalah jawaban dari, kenapa Bu Merlin meminta aku untuk mengantarnya ke wisma di tengah malam buta, menonaktifkan semua kamera pengawas di lantai delapan, dan tidak mengizinkan aku ikut serta bersama mereka ke lantai delapan, yang mana memang di sanalah kantor Edy Hidayat?Sementara itu, sedang aku sibuk berdialog dengan diriku sendiri, Edy Hidayat kembali menghujani aku dengan kata-kata."Dan tahukah kamu apa yang mereka cari? Saya yakin kamu tidak akan pernah diberi tahu. Entahlah jika Bu Merlin hari ini bukan lagi Bu Merlin yang dikenal oleh banyak orang selama ini."Kalimat Edy Hidayat kali ini sangat ringan tapi menusuk! Dan, sialan, dia tahu itu juga? Tahu ka
Setelah mengawasi layar monitor selama 54 menit, 21 detik, barulah terlihat bayangan Bu Merlin dan Jameela keluar dari lift di lantai dasar. Saat ini mereka terlihat berjalan menuju pintu utama. Cepat aku aktifkan kembali kamera pengawas di lantai delapan, lalu keluar dari ruang kontrol cctv. "Jeff, di mana yang lainnya?" Di depan ruangan ini seharusnya bukan hanya ada Jeffry seorang. "Ke smoking area, Bang. Baru saja. Ada apa, Bang, apa perlu aku panggilkan mereka?" Jeffry, pria tiga puluhan, satu dari empat orang yang bertugas di ruang kontrol cctv malam ini, boleh saja usianya beberapa tahun di atasku, tapi perkara menunjukkan sikap patuh lagi hormat, bahasa kasarnya itu memang kewajibannya!Dan, sepertinya memang seperti inilah hidup. Di saat posisi apalagi status sosialmu berada di bawah, suka tidak suka keadaan akan memaksa engkau untuk senantiasa membungkuk di hadapan orang yang berada di atasmu. "Bang, aku...""Iya, Jeff, eh maksudku, tidak perlu. Aku hanya ingin bilang, a
What to wear for night event? Ya, mungkin seperti outfit yang melekat di tubuh Jameela saat inilah pilihan yang paling tepat!Jaket kulit, dalaman baju badan krah lebar, rok mikro, sepatu boot selutut. Warna, kecuali dalaman entah warna apa, yang seperti sana itu, tapi mungkin warna daging buah persik, all black, serba hitam, menciptakan vibes yang dominan, sedikit misterius, namun elegan.Keseluruhannya, perfect!Aku baru sadar kalau Jameela bisa jauh lebih mempesona dari yang terpikirkan olehku saat pertama kali berjumpa dengannya.Khususnya dua gundukan kembar di dadanya, yang mana tepian atasnya terekspos jelas begitu. Memang tidak sebesar punyanya Nola, tapi tetap saja akan meruntuhkan iman laki-laki yang menatapnya. "Dia sangat cantik, bukan?" Ternyata Bu Merlin juga sedang mengarahkan pandangan ke Jameela sana."Iya Bu, malam ini dia seperti bidadari surgawi yang turun ke bumi," jawabku apa adanya.Bu Merlin mendadak tertawa-tawa. "Aku tahu kamu pasti akan bilang begitu. Tapi
Nantilah setelah beberapa langkah dia membawaku, barulah aku bereaksi dengan memberi sedikit perlawanan. "Tunggu Nola! Kenapa sampai harus main tarik saja seperti ini sih, kamu?""Apa lagi sih, Bara..." Nola melagukan namaku, nadanya mendadak frustrasi. "Jangan bilang, kalau kamu juga, sebenarnya ada minat pada dia! Tapi aku benar, 'kan kalian sudah janjian akan bermalam di luar?" tambahnya mengelompokkan kata."Ya ampun Nola... dia itu ibumu, lho," balasku dengan nada yang kurang lebih sama, tapi emosi berbeda 180°. Keseluruhan dia yang begini justru membuatku sangat ingin berderai tawa. Sayang sekali momen hingga situasinya memaksaku untuk menahan diri.Tapi wanita yang lagi kumat ini justru menatapku curiga. "Halah, masih saja tidak mau mengaku! Kamu pikir, aku tidak tahu siapa kamu? Zaitun saja kau embat, apalagi Ibu yang jelas-jelas jauh lebih kelas dari Zaitun si janda kampung!"Duh! Kenapa kata-katanya kali ini sudah tidak ubahnya percikan api pada tumpukan jerami? Kenapa juga
Jangan ditanya seperti apa malunya aku di ketika ini. Wajahku sudah pasti memerah, sekarang pun terasa panas sekali. Seandainya memang benar, bahwa Bu Merlin beredar begitu saja, itu dikarenakan 'ulah si joniku' ini lagi, itu pasti akan jauh lebih memalukan lagi. Entah akan kutaruh di mana mukaku nanti?Sekarang Nola menampakkan wajah. Dan dia menatapku sambil senyum-senyum? Kurang ajar! Aku tahu, senyumnya ini adalah senyum meledek. Tapi buruknya lagi, aku tidak mungkin membalasnya dengan kata-kata, khawatir akan terjadi kegaduhan, hingga membangunkan orang rumah.'Oh... aku tahu aku tahu!' ucapku dalam hati.Aku tidak tahu apa yang membangkitkan pikiran ini, namun posisi berdiri Nola sekarang, ini mengingatkan aku pada keadaan, di mana aku dan Zaitun melakukan penyatuan waktu itu.Cepat kupepet Nola, mengunci geraknya, juga mengunci pintu dari dalam. Setelah itu, barulah aku berkata dengan nada dalam, tepat di depan batang hidungnya langsung, sama persis ketika aku berbicara pada Z







