Share

108

Author: Thato Kent
last update publish date: 2026-03-19 08:06:03

Sudah hampir sepuluh menit aku dan Meisya terjebak dalam keheningan di halaman rumah sakit. Pada saat aku berpikir dia terdiam karena sungkan, atau paling tidak segan pada Pak Ridho jika harus mengajakku turut serta ke rumah mereka, pada akhirnya fakta kemudian membuktikan bahwa aku salah besar.

"Bara, apakah kamu meragukanku?"

Itu yang mula-mula mengalun dari mulutnya. Nada bicaranya terdengar berat dan putus asa.

Pelan-pelan kuarahkan wajah ke dia. "Maaf Mei, apa yang kamu bicarakan?" Aku bal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   SELESAI

    "Saya terima nikah dan kawinnya Zaitun binti Rauf dengan maskawin tersebut dibayar tu--nai!""Bagaimana saksi, sah?""Sah!"Pak penghulu kemudian melanjutkan dengan bacaan ayat-ayat, lalu doa-doa. Sedangkan para hadirin serta saksi dan wali hakim yang mana sebagian besar dari mereka adalah kerabat dekat ayah dan ibu, mengimbangi pak penghulu dengan sahutan 'aamiin'. Sejenak menyimak seraya diam-diam memperhatikan.Semua orang tampak khusyuk. Maya yang duduk di kursi roda, dan berada tepat di belakangku, dia pun kini menumpu kedua tangan, menundukkan kepala, dan dengan mata terpejam. Bibirnya pun tak henti mengucapkan kata 'aamiin', dan itu berlangsung sampai pak penghulu mengusaikan doa-doanya."Alhamdulillah," ucap Maya lagi. Matanya tampak berkaca-kaca. "Sekarang Zaitun resmi dan sah menjadi bagian dari keluarga kita," tambahnya.Ibu yang lebih dulu menimpali, "Terima kasih, Maya. Tanpa izinmu, ijab kabul ini tidak akan pernah terlaksana.""Jangan bicarakan itu lagi, Bu," tepis May

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   242

    Agnes dan Abraham langsung membuntuti langkah Bu Merlin. Sedangkan Angel yang tiba-tiba jadi pendiam terhadap kami, baru membayangi langkah kedua kakaknya setelah Agnes menolehi dia sebentar.Cara Agnes menatap Angel sangat kentara sekali kalau itu semacam wanti-wanti. Mungkin karena itulah Angel yang biasanya tidak bisa menahan diri dalam berkata-kata, pada akhirnya beredar dengan wajah tertekuk dalam! "Bara?" desis Rafika sesaat setelah mereka semua tak lagi mengarahkan wajah pada kami, "kok aku merasa ada yang tidak biasa dengan Angel?""Maksudnya?" Aku menyahut sekedarnya saja."Angel kayak canggung gitu," imbuhnya. "Kan itu tidak kayak biasanya ya? Atau jangan-jangan itu karena..."Rafika tak menggenapi kalimatnya, tapi aku merasa tahu apa yang ingin dia katakan. "Iya, Rafika," sahutku, "tapi biarkan saja. Setidaknya sekarang kita sudah tahu seperti apa watak dia yang sebenarnya!"Rafika tak berkedip menatapku, tapi yang dia perlihatkan justru gurat kebingungan yang mendalam."

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   241

    Rafika berjalan kira-kira lima atau enam langkah di depan Edy Hidayat. Begitu mendekat perhatian langsung dia fokuskan pada Meisya, bukan aku!"Maaf," ucap Rafika, menatap serius wajah Meisya, "apakah kamu yang bernama Meisya?""Benar," sahut Meisya tanpa ada rasa sungkan sedikitpun juga. "Aku Meisya, saudara barumu," tambahnya dan tersenyum ramah."Senang sekali mendengarnya," balas Rafika juga. "Aku berharap mulai saat ini kita akan saling menguatkan satu sama lain.""Pasti, pasti itu Rafika. Maya juga sudah tidak sabar menunggu kedatanganmu."Saat mengatakan itu, Meisya sudah lebih dulu membawa Rafika dalam pelukannya. Mereka berpelukan dengan sangat hangat sekali. Aku bahkan merasa seakan-akan tidak percaya dengan pemandangan ini Pada momen ini, Edy Hidayat kebetulan juga melintasi kami. Sepertinya dia akan menuju ke ruangan di mana Nola berada. Aku tak berkedip mengawasi gerak-geriknya. Pasalnya, setelah melewati kami tanpa menoleh sedikitpun juga, dia lalu melintas di hadapan

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   240

    "Hei Bara, apa-apaan kau ini, ha? Bisa tidak kamu kondisikan dirimu? Kau bisa saja membuat kita celaka kalau mengemudi seperti orang kesetanan seperti ini, Bara!""Ibu...""Ya Tuhan, Bara, ada apa denganmu? Bukankah sudah kukatakan kau bisa saja membuat kita celaka?"Rafika memang benar, aku mengemudi layaknya orang kesetanan begini, bukan tidak mungkin akan membuat kami bahkan orang lain mengalami kecelakaan. Terlebih lagi dia sudah sampai berteriak panik bukan kepalang seperti itu, memang alangkah baiknya jika aku mengemudi secara normal saja."Maafkan aku, aku terlalu cemas saat ini. Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf!" Meskipun mungkin ini sudah sedikit terlambat, tapi aku berucap dengan sepenuh hati. Laju kendaraan pun sudah aku normalkan sebagaimana mestinya Alih-alih menyahut tidak peduli itu semisal mengumpat sekalipun, Rafika justru membuang muka. Namun, setelah kulirik dia sekilas dan mendapati raut wajahnya yang masih diselimuti oleh ketegangan, dan juga bersekutu

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   239

    "Brengsek, ternyata kalian!" "Iya Bara, ini memang kami. Senang sekali kamu sudah kembali.""Hah, brengsek kalian semua!"Sekali lagi aku memaki, tapi lawan bicaraku justru senyum-senyum sendiri, sebelum kemudian diikuti oleh yang lainnya dengan ekspresi wajah sendiri-sendiri.Sementara itu, aku pada akhirnya hanya bisa kesal sendiri saat tahu siapa orang-orang dalam mobil yang aku cegat di tengah jalan ini.Bodohnya aku, barusan itu ada yang lupa aku pastikan!Tipe kendaraan hingga warnanya memang mirip dengan kendaraan yang membuat masalah pada aku dan Angel di bandara Kendari sana tempo hari, tapi plat nomornya itu yang tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang membuatku mendadak sok jagoan.Begitu juga dengan enam orang pria urakan dalam mobil ini, mereka semua adalah teman lamaku!"Oh ya Bara, ngomong-ngomong siapa perempuan di mobil itu? Perasaan kami baru pertama kali lihat dia.""Iya Bara, siapa dia? Apakah dia...""Hah sudah-sudah, aku tidak punya waktu untuk menjawab pertan

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   238

    "Jadi memang benar ya, aku memang sangat payah di matamu?""Tidak ada yang berpikiran seperti itu, Rafika! Sudah ah, oke baik, aku akan temani kamu. Mari pergi sekarang!"Sebelum dia terlalu jauh memojokkan aku, memang akan lebih baik jika aku ikuti saja kemauannya. Biar dia saksikan sendiri saja akan seperti apa sosokku di pasar sentral ini sebentar nanti.Dan semoga saja dia siap mental untuk menghadapi reaksi orang-orang!Tapi begitu aku keluar dari mobil, ponselnya tiba-tiba berdering. Dan bukannya menerima panggilan atau semacamnya, dia justru mengkerutkan kening."Ada apa? Maksudku siapa yang menelepon? Kenapa tidak diangkat?" tanyaku penasaran."Tidak tahu siapa, nomor baru," katanya, sebelum kemudian me-reject panggilan itu.Tapi hanya selang beberapa saat dari itu, ponselnya kembali berdering. Sampai di sini aku berkata saja sekenanya, "Angkat saja dulu. Siapa tahu itu dari orang di desamu. Ayah atau ibumu misalnya?"Dia masih terlihat enggan. Namun begitu aku meminta dia sek

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   189

    ...menggeleng lesu, lalu berkata, "Jangan dibangunin, Om, nanti Ibu marah."Penasaran akan seperti apa reaksi Rafika, aku pelan-pelan mengangkat kepala, memperlihatkan wajah sekonyong-konyong resah padanya. Padahal, aku sudah menebak, Aditia pasti tidak akan berani mengusik ketenangan adiknya.Seda

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   187

    "Tahu juga kamu jalan menuju sini ya?"Datang-datang Rafika langsung mengatakan itu. Keseluruhan dia tampak santai, dan... ah!Di sisi lain, sedari dia membukakan pintu untukku, aku langsung terpaku di hadapannya! Sekarang aku bahkan diam-diam menelan ludah tanpa bisa dicegah. Tapi ini jelas bukan

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   186

    "Kok kamu kayak kaget begitu? Kenapa?""Kaget? Siapa yang kaget, Pak? Lagipula, apa yang harus membuatku kaget?"Pak Lutfi mungkin sudah terlanjur melihat bagaimana reaksi spontan yang aku tampakkan barusan. Sedangkan kenapa aku masih juga mengelak, aku berharap Pak Lutfi tidak membesar-besarkannya

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   185

    "Oh ya Bara, setelah ini kamu akan ke mana?" tanya Bu Lidia lagi, "maksudku, kamu akan tetap di desa ini, atau bagaimana?""Entahlah Bu, aku juga belum tahu akan ke mana. Tapi masih terlalu awal juga sih, untuk memikirkan hal itu," sahutku tidak bersemangat.Jujur, ada rasa pesimis dalam diri ini.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status