Share

235

Author: Thato Kent
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-06 09:56:27

Kampung halaman, tiga hari kemudian.

"Ini kan Rafika Lurai istri barumu itu?' sahut Pak Iswahyudi Tondo saat aku hendak melaporkan keberadaan Rafika di desa ini.

Dahiku langsung mengkerut sempurna. Rafika pun kulihat demikian. Dia bahkan serta-merta mengangkat wajah, menatap lekat wajah Pak Iswahyudi sang kepala desa.

Sementara itu, ada jeda sekian saat barulah aku coba memperjelas situasinya. "Maaf Pak, kok Bapak bisa menebak dengan tepat seperti ini? Walau bagaimanapun juga, ini adalah yang p
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   237

    "Pasar yang ini ramai ya?" ucap Rafika seraya mengedar-edarkan pandang ke beberapa titik sekaligus. "Lebih ramai dari apa yang kubayangkan sebelumnya, lho!" tambahnya."Iya, memang lumayan ramai," ucapku juga apa adanya. "Tapi maklum sih, namanya juga pasar sentral."Saat ini mobil kami sudah berada di salah satu sudut pasar, sebuah pasar yang banyak menyimpan banyak cerita juga diselingi sedikit rahasia akan masa laluku. Ada bagian-bagian yang agak brutal, yang mana kerap diwarnai jiwa muda yang sarat akan pemberontakan.Tapi belakangan, aku mulai sungkan, bahkan adakalanya merasa malu sendiri ketika coba mengingatnya, bukan lagi merasa bangga sebagaimana di awal-awal.Terakhir kali aku menginjakkan kaki di pasar yang berlokasi kira-kira delapan kilometer dari desa kami ini, itu sekitar lima tahunan lalu. Sudah cukup lama."Kamu pergilah cari apa yang kamu butuhkan, sementara itu aku nunggu di sini saja." ucapku lagi, mau tidak mau, aku harus bersiasat tipis-tipis.Pasalnya, ada ban

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   236

    Baru beberapa saat mengambil tempat di bangku kemudi, telepon seluler di sakuku pada akhirnya berdenting juga.Aku sudah menunggu hal ini sejak kemarin lalu, diam-diam berharap Angel telah mendapatkan kabar tentang Nola,Dua hari lalu, setelah melakukan perundingan singkat, pada akhirnya Angel mengalah, dia singgah di Kendari saja dulu, sementara aku dan Rafika melanjutkan perjalanan menuju desa asalku ini.Tapi kemudian, ternyata hanya sebuah pesan singkat via W*****p yang menyambangi ponsel ini. Hanya itu, dan tak ada panggilan masuk sebagaimana yang kuharapkan.Yang lebih tidak diharapkan lagi, ternyata bukan dari Angel, melainkan dari... Sialan, dari nomor sialan ini lagi? Isi pesannya..Mungkin akan ada pertanyaan, kenapa kalian bisa pergi tanpa ada rintangan sedikitpun. Jawabannya, selamat datang, selamat menyaksikan secara langsung puing-puing kenanganmu, brother!Kurang ajar, seharusnya si Edy Hidayat itu dulu yang kucari sebelum pulang ke desa ini!"Bara, kok nomor ini masi

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   235

    Kampung halaman, tiga hari kemudian."Ini kan Rafika Lurai istri barumu itu?' sahut Pak Iswahyudi Tondo saat aku hendak melaporkan keberadaan Rafika di desa ini.Dahiku langsung mengkerut sempurna. Rafika pun kulihat demikian. Dia bahkan serta-merta mengangkat wajah, menatap lekat wajah Pak Iswahyudi sang kepala desa.Sementara itu, ada jeda sekian saat barulah aku coba memperjelas situasinya. "Maaf Pak, kok Bapak bisa menebak dengan tepat seperti ini? Walau bagaimanapun juga, ini adalah yang pertama kalinya Rafika datang ke desa ini. Bukankah begitu, Rafika?""Aku? Eh iya, Bara benar Pak, seumur-umur aku baru pertama kali datang kesini," imbuh Rafika canggung.Pak Iswahyudi mengutas senyum kecil. Samar-samar. "Tunggu sebentar, mungkin ada baiknya kalau aku perlihatkan sesuatu pada kalian," katanya, lalu menyambar ponsel yang tergeletak di hadapannya.Pak Iswahyudi kemudian men-scrol-scrol layar ponselnya. Tidak terlalu lama, sebelum kemudian dia mengubah posisi ponselnya seraya berka

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   234

    "Siapa yang nguping, Bang? Tidak seperti itu ah!" Setelah menepis dengan ciri khasnya seperti itu, Angel memalingkan wajah pada salah satu jendela depan."Barusan itu aku di balik jendela ini lho. Bu Rahmi tahu kok kalau aku diam di sini," akunya kemudian.Aku tidak lagi membahasnya. Tapi bukan berarti percaya begitu saja dengan pengakuannya, melainkan lebih kepada hanya tidak ingin memojokkan dia.Padahal andai aku mau, memang apa bedanya antara menguping dengan diam-diam mendengarkan percakapan orang?Tapi meskipun begitu, aku tetap mencandai dia dengan berkata, "Begitu ya? Oke, baiklah, toh kamu sudah mendengar semuanya, bukan?""Iya Bang, aku memang dengar semua apa yang dikatakan Bu Rahmi barusan," sahutnya ringan, benar-benar tidak terlihat ada rasa bersalah sama sekali."Terus, sekarang bagaimana, Bang?" tanyanya kemudian.Untuk pertanyaannya yang satu ini, tidak langsung kutanggapi. Perasaan, tadi dia sudah menanyakan hal ini juga. Tapi baiklah, siapa tahu saja saat ini konte

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   233

    "Kenapa bicara seperti itu, Rafika? Siapa yang kau maksudkan mengusir kalian, Ibu? Pernahkah Ibu bersikap kasar apalagi sampai tega mengusir kamu? Jangan ucapkan itu lagi, Nak, Ibu sangat sedih mendengar perkataanmu ini," balas Bu Rahmi, mencecar dengan nada tiba-tiba seserak itu. Bu Rahmi sudah menatap sayu Rafika sedari barusan. Aura wanita berkerudung panjang ini pun kini berangsur-angsur muram. Sepertinya, dia sedang menahan air mata. Di lain pihak, entah sedang punya masalah apa Rafika ini. Alih-alih tersentuh, dia justru tidak memperlihatkan ada empati biarpun sedikit saja. Gurat wajahnya pula masih sedingin itu. "Sebelumnya memang belum pernah," sahut Rafika datar. "Tapi setelah pagi tadi, masih adakah biarpun seorang saja yang berani mengatakannya padaku, siapa yang sudah meminta kami pergi jauh dari desa ini pada hari ini juga?" "Kau bermasalah dengan ayahmu, Rafika, tapi kenapa justru menumpahkan kekesalanmu pada Ibu? Logiskah itu? Lagipula, ayahmu punya alasan ken

  • Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda   232

    "Abang dapat pesan macam ini juga?"Angel malah balik bertanya saat aku perlihatkan pesan singkat via W*****p yang masuk ke ponselku."Memangnya kamu dapat juga?" Aku pun bertanya saja kembali seperti itu. "Iya Bang, isi pesannya kurang lebih seperti yang di hp abang ini juga, lho!" sahutnya, raut wajah terlihat kebingungan."Eh Abang tau?" ucapnya lagi. "Bukan hanya aku malah, Mbak Rafika pun dapat pesan kayak gini juga!""Masa' sih? Maksudku, kok bisa ya?" Kali ini aku berlagak seperti seseorang yang sedang bertanya pada diri sendiri. Tujuannya tak lain supaya Angel tidak curiga bahwa sebenarnya aku tahu siapa pengirim pesan-pesan sialan ini.Bagian terbaiknya, usahaku sepertinya membuahkan hasil. Angel sangat kentara kalau dia terbawa arus yang aku peragakan. Masih dengan raut muka kebingungan itu dia kembali berkata, "Nah itu dia, Bang. Aku juga heran. Mau ditelpon supaya tahu apa maksudnya ngirim pesan seperti ini, nomornya tidak bisa dihubungi. Di-chat pun hanya centang satu.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status