Share

20

Author: naftalenee
last update publish date: 2026-06-05 23:59:24
Laras belum pulih dari keterkejutan saat panggilan masuk datang dari nomor yang sama. Namun, Laras tahu kalau yang meneleponnya bukan Dharma.

Entah bagaimana keadaan pria itu sekarang, seberapa parah kecelakaan yang dialaminya, Laras terlalu takut untuk membayangkanmya.

Dengan jantung yang berdebar tak terkendali, Laras menggeser tombol hijau di layar dan langsung mendengar suara lembut berbalut panik milik seorang wanita.

“Halo, Bu Laras?”

“Ya, ini saya Laras.” Suaranya gemetar. Laras m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Surat Gugatan Cerai untuk Mas Dharma   32. Semoga Bahagia

    Seharusnya Laras lega.Namun, kenapa saat Dharma menjatuhkan titahnya justru membuat hatinya terasa seperti baru saja disayat-sayat dengan pisau berkarat?Rasanya menyakitkan sekali. Bahkan di saat pernikahan mereka sudah mencapai di garis finish, Dharma tetap konsisten untuk menjadi pria berengsek. Tidak ada kata maaf atau rasa sesal sedikitpun karena telah menyia-nyiakan dirinya selama tujuh tahun terakhir. “Aku akan pergi, tapi nggak sekarang,” ucap Laras yang sontak membuat Dharma kembali menatapnya dengan sorot tak percaya. “Mas Dharma masih sakit. Kanala nggak ada yang ngurus. Jadi akuㅡ”“Anak saya biar jadi urusan saya,” sergah Dharma.“Mas, banyak hal yang harus diㅡ”“Katanya kamu lelah berpura-pura, kan? Buat apa kamu masih pura-pura peduli sama anak saya?” sela Dharma lagi.Pria itu menatap Laras dengan ekspresi sekeras batu. “Saya sudah mengabulkan keinginan kamu. Sekarang kamu bisa bebas seperti yang kamu harapkan. Jadi buat apa lagi kamu buang-buang waktu untuk mengurusi

  • Surat Gugatan Cerai untuk Mas Dharma   31. Jangan Pernah Kembali

    Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Waktu berlalu dengan sangat lambat. Tidak ada respons langsung dari Dharma yang justru membuat jantung Laras semakin berdebar kencang. Setelah beberapa detik yang terus berlalu, Laras bisa melihat dengan jelas perubahan ekspresi di wajah Dharma. Kekagetan di wajah suaminya itu perlahan luntur digantikan oleh wajah datarnya kembali. “Kamu lagi emosi,” kata Dharma nyaris tanpa emosi. “Jangan bicara aneh-aneh atau kamu yang akan menyesal sendiri nanti.” Tanpa menunggu respons dari sang istri, Dharma berbalik memunggungi. Punggung lebar pria itu sedikit membungkuk saat berjalan tertatih menuju brankar dan dengan agak susah payah naik ke sana. Dharma mengembuskan napas panjang saat akhirnya bisa duduk dan bersandar dengan nyaman. “Aku sebenarnya nggak mau bahas ini sekarang karena Mas Dharma masih sakit,” ujar Laras seraya menyembunyikan tangannya yang gemetar di belakang punggung. “Tapi semuanya udah terlanjur kayak gini,” kata Laras

  • Surat Gugatan Cerai untuk Mas Dharma   30. "Ayo, Kita Bercerai!"

    “Jadi, benar kamu… selingkuh?”Rahma menatap Laras dengan kedua mata membelalak.Laras diam saja dan malah membuang muka. Seolah membenarkan.“Kamu… kamu benar-benar nggak tahu diri ya, Laras,” ucap Rahma lagi. Suaranya sarat akan ketidakpercayaan.“Tujuh tahun yang lalu, kalau bukan karena uluran tangan dari suami saya, kamu pasti sudah dijual ke rentenir karena utang-utang yang menjerat ayahmu, Larasati.”Lantai di bawah kaki Laras seolah terbelah menjadi dua. Membuat Laras limbung karena tiba-tiba Rahma mengungkit aib yang seharusnya sudah terkubur di masa lalu.“Kamu nggak akan berdiri di tengah keluarga saya dengan segala kemewahan yang kamu dapatkan dengan cuma-cuma seperti sekarang!”Rahma melangkah mendekat hingga hanya menyisakan sedikit jarak.“Kalau kamu punya rasa terima kasih sedikit saja, seharusnya kamu cukup duduk diam di rumah menjadi istri yang patuh dan nurut sama suami, Ras. Bukan malah main gila di luar sana sementara suamimu sibuk kerja buat memenuhi isi rekening

  • Surat Gugatan Cerai untuk Mas Dharma   29. Gara-gara Foto

    Tamparan ketiga gagal bersarang di pipi Laras karena tangan Rahma itu sudah lebih dulu ditahan oleh Surya.“Tenangkan diri kamu, Rahmawati!” tegur ayah mertua Laras itu seraya menarik Rahma menjauh.“Anakku diselingkuhi sama wanita gila ini, Abi! Gimana aku bisa tenang?!” pekik Rahma bengis. Kedua mata wanita itu melotot hingga nyaris keluar dari sarangnya. “Semuanya bisa dibicarakan dulu baik-baik, Umi. Main tangan nggak akan menyelesaikan masalah! Kita juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Surya masih terus memegangi tubuh Rahma yang meronta-ronta minta dilepas. “Lepas, Abi! Umi nggak akan biarkan jalang ituㅡ”“Umi, udah cukup! Ada Kanala di sini!”Suara keras Dharma seketika menghentikan amukan Rahma. Tidak ada yang menyadari kapan Dharma turun dari atas brankar.Pria itu kini berpegangan pada tiang infus dan berjalan tertatih mendekati Kanala yang tampak sangat syok melihat neneknya tiba-tiba mengamuk. Tubuh gadis itu mematung kaku di tengah ruangan. Tatapannya sedikit

  • Surat Gugatan Cerai untuk Mas Dharma   28. Jalang Tak Tahu Diri

    Laras hanya butuh waktu satu hari untuk menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk mengurus gugatan cerai. Esok harinya setelah mengantar Kanala ke sekolah, Laras kembali menemui Sadewa untuk menyerahkan berkas dan meminta pengacaranya itu untuk langsung mengurusnya. “Prosesnya berapa lama ya, Pak?” “Untuk penerbitan surat gugatan cerai umumnya bisa di hari yang sama dengan penyerahan berkas, Bu. Saya akan langsung urus hari ini juga,” jawab Sadewa. “Setelah itu… butuh waktu tiga sampai tujuh hari untuk penetapan tanggal sidang.” “Secepat itu?” gumam Laras takjub. “Betul, Bu. Memang prosesnya cukup cepat. Nanti surat panggilan sidang akan langsung dikirimkan ke alamat domisili penggugat dan juga tergugat.” “Begitu ya….” Pengacara Laras itu mengangguk seraya memasukkan berkas-berkas penting dari Laras ke dalam tasnya. “Kalau Ibu masih tinggal serumah dengan suami Ibu, berarti nanti suratnya akan dikirim ke alamat yang sama. Atau… Ibu sudah berencana untuk pindah?”

  • Surat Gugatan Cerai untuk Mas Dharma   27. Kurang Berusaha

    Laras baru saja menampar Dharma dengan sebuah fakta yang membuat pria itu tak bisa berkata-kata. Cincin kawin itu nyatanya memang hanya bertahan di jari manis Dharma tak sampai satu hari penuh. Dharma langsung melepasnya setelah mereka menyelesaikan serangkaian acara pernikahan yang melelahkan. Dharma bahkan sudah lupa di mana cincin kawin itu sekarang. “Daripada bahas hal yang nggak penting, aku mau tanya soal pengasuh yang Mas Dharma bilang kemarin,” ucap Laras masih dengan nada tajam. Dharma mengernyit bingung. “Apa maksud kamu?” Laras menatapnya lurus. “Mas Dharma katanya mau cari pengasuh buat urus Kanala kan? Udah dapat atau belum?” Dharma tersentak oleh pertanyaan Laras yang terdengar amat menuntut di telinganya itu. “Kenapa? Kamu nggak mau lagi mengurus Nala? Makanya kamu mau lepas tangan sekarang?” tanya Dharma sinis. Emosinya terpancing dan naik sampai ke permukaan. “Kamu cuma mau jadi nyonya rumah yang kerjaannya menghamburkan uangㅡ” “Asal kamu tahu ya, Mas.

  • Surat Gugatan Cerai untuk Mas Dharma   26. Di Mana Cincinmu?

    “Kamu lagi sakit begini lho. Ibu nggak enak jadinya, Dhar. Ibu nggak mau ngerepotin kamu.”“Saya nggak papa, Bu. Nggak repot sama sekali. Acaranya juga masih tiga mingguan lagi. Saya pasti sudah kembali sehat nanti.”Diyah berterima kasih berkali-kali dengan matanya yang berkaca-kaca karena Dharma

  • Surat Gugatan Cerai untuk Mas Dharma   25. Tetap Teguh

    Laras tidak tidur sampai pagi menyapa. Wanita itu terus gelisah karena dilema yang memberati dada. Sehingga matanya tak mau menutup meski badannya sudah lelah sekali.Sementara itu, waktu yang semakin mepet dengan janji temu memaksa Laras untuk segera memutuskan.Dalam perjalanan mengantar Kanala,

  • Surat Gugatan Cerai untuk Mas Dharma   24. Bimbang

    “Mas Arman,” ucap Laras setelah menggeser pintu kamar inap Dharma hingga kembali terbuka.“Kenapa berdiri di depan pintu, Ras?” tanya suami dari Meidina itu seraya masuk ke dalam.“Tadi ada teman-teman kantornya Mas Dharma. Baru aja pamit pulang, jadi saya antar sampai ke depan pintu,” jawab Laras

  • Surat Gugatan Cerai untuk Mas Dharma   23. Sosok Wanita di dalam Figura

    “Berarti Bapak nggak bisa ikut gathering minggu depan ya? Nggak seru dong kalau Bapak nggak jadi ikut.”Pertanyaan yang dilontarkan salah seorang pria yang menjenguk Dharma itu menarik perhatian Laras.Jemari Laras berhenti mengetik, urung mengirimkan pesan kepada Rahma yang tidak mengangkat telepo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status