INICIAR SESIÓNJakarta. Juli, 2019
Sisa hari itu Carina habiskan untuk buat backdrop baru dan mengatur ulang studio. Masalahnya muncul saat ia melihat memo dari Marco yang menyuruh Carina untuk segera mengatur studio dan memberikan space untuk krunya Shelly. Mau gak mau Carina dkk harus kerja lembur untuk memenuhi permintaan dari big boss mereka.
Carina mengetik di laptopnya sambil ngomel-ngomel, “Gila, ya. Lo pikir kita Sangkuriang bisa ngerjain kayak beginian dalam semalam? Gue kutuk juga lu jadi batu!”
“Itu mah Malin Kundang, Bu, bukan Sangkuriang,” ujar Aji.
“Eh, iya ya?” ujar Carina menghentikan kegiatan mengetiknya. Dia terdiam sejenak mengingat-ingat jalan cerita folklore yang sudah lama dilupakannya. “Tahu lah, pokoknya gue kutuk tuh si Marco sama Shelly jadi batu!”
Panji dan kawan-kawannya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menahan senyum, bos kecil mereka memang suka mendadak aneh kalau lagi kumat gilanya.
“Sekarang jam berapa, Ji?” tanya Carina tanpa mengalihkan matanya dari layar laptopnya, jari-jari tangannya bergerak lincah di atas keyboard.
“Jam 7 lewat 5, Bu,” jawab Panji patuh.
“Hah?!” Carina terlonjak dari kursinya. “Hape gue, hape gue, mana hape gue?”
Mateo mengambil ponsel Carina yang tergeletak di belakang laptopnya, “Nih, Bu.”
Carina segera mengecek ponselnya, ada tiga missed called dari Arya, lima pesan baru dan notifikasi voucher dari aplikasi langganannya, “Adduhhhh...” keluhnya, “mana sempet pulang ganti baju, ya?”
“Kenapa, Bu?” tanya Panji.
“Hari ini laki gue ulang tahun, rencananya mau makan malam di luar. Tapi gue gak akan sempet dandan nih,” keluh Carina, “kerjaan belum beres lagi.”
“Ya udah pulang aja, Bu,” ujar Mateo, “kita bisa kerjain sisanya.”
Carina menatap krunya dengan wajah memelas, “Bener gak apa-apa?”
Aji mengangguk, “Iya, gak apa-apa, Bu. Pak Arya udah nungguin, tuh. Jangan lupa itu bingkisannya.”
Carina meraih paper bag, “Makasih ya, guys. Besok gue kerjain sisanya, biar gantian besok gue yang lembur.”
Carina pergi diiringi oleh lambaian tangan dari krunya yang paling pengertian dan baik hati itu.
Baru saja Carina masuk ke dalam lift, ponselnya berdering, nama Arya muncul.
“Ya, babe? Aku baru turun nih,” ujar Carina.
“Kamu belum pulang?” tanya Arya di seberang sana, “aku pikir kamu udah di jalan.”
“Sorry, hari ini hectic banget. Tadinya mau lembur, tapi digantiin sama anak-anak.”
“Ya udah, aku udah di jalan. Jadi mau makan di mana?”
“Aku laper banget, siang gak sempet makan.”
“Okay, mau makan apa?”
“Ehmmm... apa ya? Yang deket-deket sini aja, supaya gak kena macet.”
“Okay, di mana?”
Carina teringat dengan voucher yang sebentar lagi expired, “Pizza Hut?”
***
Pukul 07.30 WIB, Carina sampai di Pizza Hut. Dia langsung disambut oleh waiter yang menyapanya ramah, “Selamat malam, untuk berapa orang?”
“Dua orang, Mbak, tapi saya mau ke toilet dulu,” jawab Carina.
“Oh, silakan.”
Carina bergegas masuk ke dalam toilet untuk refresh diri yang sudah lusuh setelah bekerja. Dia meringis saat melihat pantulan dirinya di cermin. Mukanya lebih lecek daripada kemeja Panji yang belum disetrika. Dia mencuci mukanya di wastafel dan melepaskan ikatan rambutnya yang lepek. Carina membedaki hidungnya yang berminyak dan mengoles lipstick. Lumayan, gak keliatan terlalu pucat. Dia menyisir rambutnya dengan jari-jari, tapi rambutnya masih keliatan lepek. Carina menunduk di bawah hand dryer alias blow dryer dadakan. Kadang dalam keadaan kepepet, dia suka mendadak kreatif. Setelah memastikan dirinya presentable enough to meet her boyfriend, Carina keluar dari toilet tepat saat Arya masuk ke dalam restoran. Carina melambai dan memilih meja di pojok ruangan.
“Hai, babe,” sapa Arya sambil tersenyum. Malam ini cowoknya kelihatan ganteng banget. Beberapa perempuan yang duduk tak jauh dari mereka mencuri-curi pandang.
Carina sudah terbiasa menerima tatapan aneh dari perempuan-perempuan setiap kali dia jalan bersama dengan Arya. Dengan perbedaan tinggi badan mereka yang jauh, Carina lebih kelihatan seperti adik Arya dibanding pacarnya.
Seorang pelayan datang menghampiri mereka dan memberikan menu, Carina yang kelaparan langsung memesan salad dan segelas lemon tea. Sedangkan Arya lebih konservatif, dia memilih seloyang pizza dengan extra mozzarella dan secangkir cappucino.
“So, kenapa milih di sini?” tanya Arya, “aku pikir kita mau fancy dinner?”
Carina meringis, “I’m sorry.. gak ada waktu untuk reserve tempat, babe. Aku sibuk banget hari ini.”
Arya menghela nafas, “Ya, aku denger studio kamu dipake juga sama Shelly, ya?”
Carina mengangguk, “Iya, Marco minta segera dirombak. Kepaksa deh aku sama anak-anak ngebut ngerjainnya. Tadi kita pasang backdrop baru dan rearrange layout. Mereka masih kerja tuh. Aku juga gak tega ninggalinnya, tapi aku udah keburu janji sama kamu.”
“Ya, besok aku bawain kopi deh buat mereka,” ujar Arya mencoba pengertian tepat saat seorang pelayan meletakkan mangkuk salad di depan Carina.
“Silakan mangkuk saladnya, Kak,” sapanya ramah.
Carina mengangguk, “Makasih,” dia langsung berdiri untuk mengambil salad dari bar.
Arya menghela napas melihat kelakuan Carina. Dalam benaknya, dia sudah membayangkan malam ini merayakan ulang tahunnya dengan cara yang istimewa. Sekali-kali makan malam mewah di restoran mahal gak ada salahnya. Tapi Carina malah milih makan di restoran Pizza yang hampir tiap weekend mereka kunjungi. Apalagi malam itu cukup ramai dengan pengunjung, gak ada privacy sama sekali. Boro-boro dengan romantic dinner, meja sebelah aja rame dengan celotehan anak-anak. Mana bisa mesra-mesraan?
Tak lama Carina datang dengan segunung salad di atas mangkuknya yang kecil. Arya membelalak melihatnya, “Gimana caranya kamu ambil segitu banyak dengan mangkuk sekecil ini?”
Carina tersenyum bangga, “Ini sama aja kaya lagi main UNO Stack, dengan ketelitian dan presisi yang tepat, voila, terciptalah menara salad ini!”
Arya melirik ke meja sebelah, anak-anak menunjuk-nunjuk salad buatan Carina, “Mah, itu saladnya tinggi bangeeettt!”
Perlahan Arya merosot dari duduknya, mendadak malu sendiri. Tapi Carina cuek aja, dia bahkan gak sadar kalau jadi sorotan. Waiter yang lewat sampai menengok dua kali melihat penampakan mangkuk salad Carina.
“Yuk, makan. Aku laper banget,” Carina meraih garpu dan dengan hati-hati makan gunung saladnya.
Arya menggeleng, “Kamu aja,” mood-nya langsung hancur berantakan.
Minuman mereka datang, Arya menyeruput kopinya dengan canggung.
“Untung aku punya voucher diskon, jadi kita bisa makan sepuasnya,” ujar Carina, “kalau kamu mau bungkus buat mama kamu, boleh...”
Arya menoleh pada Carina, “Apa?”
“Hm?” tanya Carina, mulutnya penuh dengan selada dan saus thousand island.
“Kamu bilang voucher?” tanya Arya.
Carina menelan makanannya dan mengangguk, “Sebentar lagi expired, makanya cepet-cepet aku pake. Kan sayang kalau hangus.”
Arya memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam. Dia menghitung dalam hati, menenangkan dirinya dari ledakan amarah, selama ini dia tahu kalau Carina dijuluki Ratu Voucher, Gila Diskon, Cewek Kopet dan julukan gak ngenakin lainnya. Tapi mau gimana pun, dia cinta dengan Carina. Jadi selama dua tahun hubungan mereka Arya berusaha tidak peduli. Dia malah bersyukur Carina pandai mengatur keuangannya, dia tahu kalau Carina bersikap irit karena dia tahu nilai uang. Gadis itu tidak datang dari keluarga kaya. Dia merasakan susahnya cari uang dan sulitnya bertahan hidup di ibukota. Orang bilang ibukota lebih kejam daripada ibu tiri. Tapi lama-kelamaan Arya gerah juga mendengar ledekan teman-teman sekantornya apalagi sikap Carina yang cuek dengan gosip sekitar. Emang deh kalau soal gosip, Carina benar-benar kebal gak mau dengerin. Dia gak mau ambil pusing. Arya tidak bisa seperti itu. Omongan orang sekantor sering membuatnya gusar.
Melihat gelagat dan air muka Arya yang mendadak keruh, Carina jadi terdiam. Akhirnya dia mengeluarkan paper bag yang dibawanya. Dia meletakkannya di atas meja dan menyodorkannya pada Arya, “Happy Birthday, Babe.”
Arya yang tadinya marah menjadi lunak hatinya, dia menerima kado dari Carina dan tersenyum kecil, “Thanks, Babe.”
“Aku tahu kalau kamu udah lama kepengen ganti dompet, jadi...” belum habis kalimat Carina, Arya sudah merobek kertas pembungkus kadonya dan membuka kotak yang berisi dompet.
Arya pernah bilang kalau dia ingin ganti dompet. Hampir semua anchor cowok dan beberapa kru kameramen memakai merk Bally, yang lagi hit di kalangan cowok-cowok. Dia ingat betul kalau dia pernah bilang merk dompet yang diinginkannya adalah merk Bally. Merk yang mewah dan elegan, dia sempat browsing dan punya model incaran dompet kulit dengan harga yang lumayan merogoh koceknya. Dia pikir Carina membelikannya dompet itu. Tapi ternyata dompet yang diterimanya adalah merek Fossil.
*
To be continued~
SE 09 – The PlanJakarta. Juli, 2019.Sara berdiri di lorong, kaget dengan peristiwa yang baru saja dia curi dengar. Suara Carina terdengar sampai luar. Dia nggak menyangka Carina punya cukup nyali untuk protes keras pada Marco. Sara mencegat Carina yang hendak berjalan melewatinya.“Say, tunggu,” tahan Sara, “lo gak apa-apa?” tanyanya prihatin.Carina mengusap wajahnya, dia berusaha keras menahan air matanya, “Ya,” suaranya tercekat di tenggorokan.Sara menariknya untuk masuk ke dalam kubikelnya, “Sini, minum dulu.”Carina menurut, dia membiarkan dirinya dibimbing oleh Sara untuk duduk di kursi sementara Sara mengeluarkan sebotol Evian dari kulkas mininya. Dia menyodorkan botol air mineral premium itu pada Carina, “Sorry gue tadi denger suara lo,”Carina meneguk airnya dan mengangguk, “Ya, gue tadi gak kontrol suara gue.”Sara mengangguk, “Tapi kadang Marco memang harus diingetin. Dia terlalu menganak-emaskan Shelly. Lo tahu kan kalau Shelly ngabisin banyak uang untuk Marco?”Carina
SE 08 – Phobia of WomenLondon. Juli, 2019 Sepeninggal Pamannya, Alfred pergi ke kamarnya dan mengurung diri di sana sampai waktu makan malam tiba. Veronica Wellington, yang akrab disapa Vera, adik bungsunya mengetuk pintu dan menyuruh Alfred keluar untuk makan malam.“Hai,” sapa Alfred, dia membuka pintu sedikit, “can you tell Mummy I skip dinner tonight?”Vera memandangnya sambil bersedekap.“Please?” tanya Alfred dengan wajah memelas.Vera mendesah, “What is it this time?” tanyanya setengah menggerutu.Alfred hanya tersenyum lemah, “Thank you, Sis. See you tomorrow.”Vera memutar bola matanya dengan jengkel dan melangkah pergi meninggalkan kamar Alfred, “Aku gak tanggung jawab kalau Mummy datang menjemputmu, ya!” serunya sambil melambai.Alfred menyeringai dan menutup pintu kamarnya, tidak lupa menguncinya agar ibunya tidak bisa sembarangan masuk. Dia duduk di meja kerjanya yang menghadap jendela dan balkon kamar, termenung sejenak dan membuka sebuah jurnal bersampul kulit milikny
SE 07 – ON AIRJakarta. Juli, 2019. Carina tidak mempercayai pendengarannya. Arya baru saja memberikan syarat paling konyol yang pernah dia dengar. Apa dia bilang? Mereka bisa jalan lagi kalau dia lepas dari ketergantungannya dengan voucher. Ketergantungan? Memangnya dia apa? Pemakai narkoba sampai ketergantungan begitu?Carina menatap Arya, dalam sekejap, laki-laki tampan itu berubah menjadi menyebalkan. Tangannya gatal ingin menghapuskan senyum sombong itu dari wajahnya. Dia mengepalkan tangannya menahan marah.“Carin,” Arya menghela napas lelah, “kamu sadar gak sih, dari awal kita pacaran kamu selalu bicara tentang voucher, diskon, cashback. Setiap kita jalan keluar dan makan, harus pakai kupon potongan harga dan kamu pasti cari restoran yang suka ngasih cashback. Bahkan sekarang, kamu pakai voucher yang hampir habis masa kadaluarsanya. Kamu itu luar biasa, ya. Mending kamu hidup sama voucher dan diskonanmu itu aja. Jadi orang kok pelit banget!”Carina tidak menjawab, dia berdiri,
SE 06 – Duke of WellingtonLondon. Juli, 2019. Duke of Wellington sedang mencoba jam tangan barunya, dia memutar-mutar pergelangan tangannya, memeriksa tampilan jam tangannya yang mewah dan bertabur berlian. Dia mengangguk-angguk, mengagumi karya terbaik dari produsen jam tangan terkenal asal Swiss itu.“This is okay, I’ll take it,” ujarnya dengan logat British yang kental.Pramuniaga laki-laki itu mengangguk dengan takzim, dia membantu melepas jam tangan dari pergelangan tangan sang Duke yang masih muda itu.“Mungkin Anda ingin melihat-lihat arloji yang lain untuk dihadiahkan pada Lady Wellington, Sir?” tawar si manajer toko. Dia berpakaian khas butler lengkap dengan sarung tangan putihnya.“Hmm... ada yang baru?” Duke yang punya nama asli James Alfred Wellington bertanya.Si manajer toko menjetikkan jarinya dan pramuniaga lain langsung bergegas mengambil sebuah arloji buatan tangan bertabur swarovski, “Baru saja datang dari pengrajin kami di Swiss. Hanya ada dua puluh buah di dunia
Jakarta. Juli, 2019 Sisa hari itu Carina habiskan untuk buat backdrop baru dan mengatur ulang studio. Masalahnya muncul saat ia melihat memo dari Marco yang menyuruh Carina untuk segera mengatur studio dan memberikan space untuk krunya Shelly. Mau gak mau Carina dkk harus kerja lembur untuk memenuhi permintaan dari big boss mereka.Carina mengetik di laptopnya sambil ngomel-ngomel, “Gila, ya. Lo pikir kita Sangkuriang bisa ngerjain kayak beginian dalam semalam? Gue kutuk juga lu jadi batu!”“Itu mah Malin Kundang, Bu, bukan Sangkuriang,” ujar Aji.“Eh, iya ya?” ujar Carina menghentikan kegiatan mengetiknya. Dia terdiam sejenak mengingat-ingat jalan cerita folklore yang sudah lama dilupakannya. “Tahu lah, pokoknya gue kutuk tuh si Marco sama Shelly jadi batu!”Panji dan kawan-kawannya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menahan senyum, bos kecil mereka memang suka mendadak aneh kalau lagi kumat gilanya.“Sekarang jam berapa, Ji?” tanya Carina tanpa mengalihkan matanya dari layar la
SE – 04Mall yang dituju Carina gak jauh dari kantornya, jadi dalam sepuluh menit dia sudah sampai. Segera Carina memulai perburuannya mencari kado yang cocok untuk Arya. Dia tahu selera Arya lumayan tinggi, jadi kali ini Carina akan berbaik hati dan sedikit menghamburkan uang demi pacarnya itu. Dia ingin Arya terkesan dengan hadiahnya kali ini. Lagipula Carina tahu kalau Arya menginginkan kejutan darinya. Sudah dua tahun perjalanan cinta mereka dan Carina ingin agar mereka segera meresmikan hubungan. Ayah dan Ibu sudah berkali-kali bertanya kapan Arya datang ke rumah membawa orang tuanya. Lama-lama Carina gerah juga ditanya terus, jadi sepertinya hari ini adalah momen yang pas untuk mulai berdiskusi tentang ‘masa depan.’Carina berjalan perlahan memerhatikan etalase toko-toko high-end dengan merek-merek terkenal. Dia mulai dari mana?Dia masuk ke toko ZARA. Kebanyakan baju-baju dan aksesoris cewek, yang ada malah dia yang belanja. Carina buru-buru keluar sebelum nafsu belanjanya memb







