INICIAR SESIÓNSE – 04
Mall yang dituju Carina gak jauh dari kantornya, jadi dalam sepuluh menit dia sudah sampai. Segera Carina memulai perburuannya mencari kado yang cocok untuk Arya. Dia tahu selera Arya lumayan tinggi, jadi kali ini Carina akan berbaik hati dan sedikit menghamburkan uang demi pacarnya itu. Dia ingin Arya terkesan dengan hadiahnya kali ini. Lagipula Carina tahu kalau Arya menginginkan kejutan darinya. Sudah dua tahun perjalanan cinta mereka dan Carina ingin agar mereka segera meresmikan hubungan. Ayah dan Ibu sudah berkali-kali bertanya kapan Arya datang ke rumah membawa orang tuanya. Lama-lama Carina gerah juga ditanya terus, jadi sepertinya hari ini adalah momen yang pas untuk mulai berdiskusi tentang ‘masa depan.’
Carina berjalan perlahan memerhatikan etalase toko-toko high-end dengan merek-merek terkenal. Dia mulai dari mana?
Dia masuk ke toko ZARA. Kebanyakan baju-baju dan aksesoris cewek, yang ada malah dia yang belanja. Carina buru-buru keluar sebelum nafsu belanjanya membara. Kakinya terus berjalan dari satu toko ke toko lain, MANGO. CHARLES & KEITH. MICHAEL KORS.
Jiwanya memberontak, kuingin belanjaaa.... barang-barang dengan harga yang lumayan bikin kantongnya megap-megap dipajang dengan manis. Sejenak Carina menikmati window shopping-nya, setiap kali melihat barang yang lucu, dia segera ngecek price tag-nya, menghitung dan menggeleng sendiri. Gak masuk budget. Dia buru-buru keluar sebelum dibuntuti oleh pramuniaganya.
Di mana sih cari dompet cowok yang bagus? Dia mengecek ponselnya, kembali membuka halaman yang tadi pagi dia browsing. Oh, ya. Merek BALLY. Arya bilang dia suka merek BALLY.
Tapi daripada cari toko itu, coba cari toko-toko lain deh, barangkali ada yang lebih cocok.
KIPLING. LOUIS VUITTION. KATE SPADE. COACH. BONIA. BRAUN BUFFEL.
Gak ada yang cocok, Carina memutuskan untuk mencari toko BALLY. Dia bergegas ke lantai di mana toko itu berada. Begitu masuk, Carina langsung disambut dengan berbagai macam tas tangan dan sepatu-sepatu yang terbuat dari kulit premium. Pantas saja Arya suka merek ini, barang-barangnya mewah dengan harga yang wah. Perlahan Carina menyusuri rak-rak tas berwarna-warni.
“Selamat siang,” sapa pramuniaganya, seorang laki-laki berpakaian rapi dan rambut klimis.
Carina sedikit kaget, “Eh, ya. Selamat siang.”
“Ada yang bisa dibantu, Mbak?” tanyanya sopan dengan sikap sempurna.
“Hmm.. saya lagi cari dompet... untuk cowok...”
“Silakan, di sebelah sini,” pramuniaga yang memakai name tag Anto itu merentangkan tangan kanannya, memberi kode pada Carina untuk mengikutinya menuju etalase berisi dompet-dompet yang dipajang rapi.
Carina berjalan mengikutinya dengan patuh.
“Kami punya beberapa model terbaru yang bisa jadi pilihan untuk Mbak. Kalau boleh tahu untuk siapa dompetnya?”
“Ehmmm... pacar saya..” Carina memerhatikan dompet-dompet kulit yang kelihatan mentereng itu. Arya pasti cocok pakai dompet itu. Pas banget.
Wajah Pramuniaga itu berbinar-binar sambil bergumam dalam hati, wah, potential customer, nih!
Dia segera membuka kaca etalase dan mengeluarkan dua buah dompet yang berada di sebuah kotak yang berselimutkan kain sutra, “Ini produk terbaru kami, baru saja datang dari Swiss.”
“Oh, ini merek Swiss, ya?”
Anto mengangguk dengan bangga, “Ya, Bally Switzerland, berdiri dari tahun 1851. Lihat bahannya, Mbak, kulit asli, produk kita terjaga kualitasnya.”
Carina mengangguk-angguk sambil memerhatikan model dompet-dompet yang ditawarkan oleh Pramuniaga itu. Dia tertarik dengan salah satu model dompet yang klasik dan maskulin. Wah, Arya pasti makin cinta sama dia dan langsung ngajak nikah deh begitu disodorin kado ini.
Tangan Carina meraih dompet yang diincarnya, memeriksa kantong-kantongnya.
“Ini kulitnya scratch-resistant, Mbak. Tapi kantong kartunya cuma enam. Kalau mau yang lebih banyak menampung kartu-kartu yang ini,” Anto menyodorkan dompet yang berukuran lebih besar.
“Tapi kok kaya dompet cewek, ya?”
“Ya, Mbak. Memang lebih panjang dari pada yang ini, tapi sekarang lagi nge-trend kok cowok-cowok pake dompet panjang macam ini. Yang penting kan kelihatan maskulin dan terbuat dari kulit. Lihat nih, kantong-kantongnya lebih banyak. Ada kantong untuk koin dan dua belas kantong kartu. Materialnya juga oke punya. Ada aksen logo Bally dan ada pilihan warna merah atau hitam. Bagus, Mbak. Pasti cocok, deh, buat si Mas-nya.”
Carina mengangguk-angguk, “Berapa nih?”
“Murah, Mbak. Tujuh juta aja.”
“Hah?!”
“Tepatnya tujuh juta empat ratus lima puluh ribu rupiah.”
Carina bersiul, “Fiuh, lumayan juga, ya.”
“Masih murah lah, Mbak, dibanding tas-tasnya,” Anto berusaha menampakkan senyum manis. Dia harus ngegaet konsumen ini, pasalnya target bulan ini belum terpenuhi. Bisa kena teguran kalau hari ini dia gak jual apapun.
Carina menghela napas, dia memeriksa price-tag dompet-dompet yang lain. Harga paling murahnya 4 jutaan. This is out of her league. Jauh banget budget-nya.
“Hehe...” Carina tersenyum pada Anto, “ada diskon, gak?”
Senyum Anto memudar. Sialan. Dapetnya konsumen diskonan. Kirain bakal beli, taunya kaya emak-emak rempong bersasak tinggi yang tiap kali belanja selalu minta diskon, padahal kartu kreditnya unlimited, “Wah, maaf, Mbak... lagi gak ada diskon untuk produk ini..”
“Yah, sayang banget, Mas, padahal saya mau beli kalau ada diskon....”
Anto berpikir cepat, “Bisa sih, Mbak. Tapi produknya bukan yang ini, kalau mau yang ini...” dia mengeluarkan produk keluaran lama. “Harganya tiga jutaan, saya kasih diskon 5%.”
Carina melirik price tag-nya. Harganya tiga juta enam ratus lima puluh ribu. Otaknya segera berpikir, tiga juta enam ratus lima puluh dikurang diskon 5%? Itu sih sama aja. Masih jauh di atas budget. Gila!
“Wah, masih mahal ya, Mas. Diskonnya bisa digedein dikit?” tanya Carina dengan wajah seramah dan senyum semanis mungkin.
Ayo, kasih. Kasih. Kalau ngasih diskon 30% gue langsung bayar, nih!
“Aduh, maaf, Mbak. Gak bisa. Saya gak bisa kasih diskon gede-gede,” ujar Anto. Ah, sialan. Ayo dong, beli. Gak usah pake mikir-mikir lagi.
“Yah...” Carina meletakkan dompet yang sudah ditaksirnya itu ke kotaknya. “Ya udah deh, makasih ya, Mas.”
Anto mengangguk dan segera membereskan kotak-kotak dompet ke dalam lemari kaca, jauh dari jangkauan Carina.
“Eh, tapi, Mas!”
“Ya?” tanya Anto penuh harap.
“Produk mana yang lagi ada diskon gede?” tanya Carina.
Anto menghela nafas, “Maaf, Mbak. Produk kami gak kenal sama yang namanya diskon. Jadi kalau mau beli, silakan. Nggak jadi juga gak apa-apa.”
Carina merengut, “Ya udah sih, gak usah nyolot gitu, keles. Cuma nanya doang, hih!” dia bergegas keluar dari toko snob itu, mendadak senyum Anto kelihatan palsu.
Carina masih kesel sendiri saat kakinya melangkah masuk ke toko PULL & BEAR. TOMMY HILFIGER. THE NORTH FACE. VNC. Tapi tak ada barang yang menarik minatnya. Tidak ada model dompet yang cocok dengan Arya. Makin lama Carin jadi mulai frustasi, mana sebentar lagi dia harus balik ke kantor. Panji sudah beberapa kali missed called. Mereka pasti bertanya-tanya di manakah gerangan sang mini boss.
Carina berhenti di depan toko Fossil yang memajang papan 25% OFF ALL ITEM. Wuih, cakep nih. Dia segera masuk dan langsung disambut oleh Pramuniaga berwajah ceria, “Selamat datang!”
“Hai,” sapa Carina, “ini bener lagi diskon, Mas?”
“Yes, that’s right, ma’am. Silakan lihat-lihat dulu,”
“Mantul!” Carina langsung menuju bagian aksesoris dompet. Matanya langsung berbinar begitu melihat deretan dompet-dompet cowok yang modelnya gak beda jauh dari merek Bally. Tangannya meraih sebuah model dompet yang menarik minatnya, “Ini berapa nih?”
“Oh, itu Tiga juta dua ratus lima puluh ribu.” jawab pramuniaganya.
“Udah diskon?” tanya Carina.
Pramuniaga itu mengeluarkan kalkulator mininya, jari-jarinya bergerak lincah menghitung, “Setelah diskon jadi Dua juta empat ratus tiga puluh tujuh ribu lima ratus rupiah, Mbak. Tapi kalau Mbak bayarnya pake debit dapat cashback 5%.”
Carina yang tadinya masih empet sama perlakukan kurang simpatik dari Anto, langsung berbinar-binar demi mendengar kata cashback, “Saya ambil ini!” serunya bersemangat.
“Baik, Mbak.”
“Bisa sekalian dibungkus kado?”
“Bisa, tapi kena charge 20 ribu gak apa-apa?”
“It’s okay, no problem!” jawab Carina.
Dia memerhatikan pramuniaga itu mengambil dompet baru yang masih terbungkus di kotaknya, kemudian dia berjalan ke kasir untuk membayar. Senyumnya tak lepas dari wajah Carina, dia membayangkan reaksi Arya saat menerima hadiahnya. Arya pasti mengerti Carina membelikan dompet dengan merek yang berbeda, yang penting itu niat dan usahanya.
Ponsel Carina berdering, nama Arya muncul di layarnya. Panjang umur nih anak, baru juga dipikirin, udah calling aja.
“Ya, babe?” sapa Carina.
“Kamu di mana?” tanya Arya.
“Ehm. Aku di luar sebentar. Kenapa?” Jangan sampai Arya tahu kalau dia sedang hunting kado.
“Tadi aku mampir ke studio kamu, mau ngajakin ngopi, tapi kamu malah gak ada. Kata Panji kamu keluar. Ngapain sih?”
“Ada sesuatu yang perlu dibeli. Sebentar lagi aku balik ke kantor, kok. Kamu masih di studioku?” Carina menyerahkan kartu debitnya pada kasir yang segera memproses transaksinya.
“Nggak, aku ada meeting sama Pak Marco. Kayanya bakal lama...”
Carina menghela nafas, “Baru juga kamu pulang udah disuruh meeting lagi...” ujarnya setengah merajuk.
Terdengar tawa renyah Arya diseberang sana, “Ya, namanya juga kuli, babe. Ngomong-ngomong nanti mau jalan jam berapa? Biar aku bisa cut meeting-nya sama Marco. Supaya dia gak lama-lama ngajakin ngobrol.”
“Wah, gak tahu nih, babe. Kamu liat kan tadi studioku masih berantakan? Nanti aku kabarin lagi deh,”
“Okay, see you, babe. Luv youuu...”
“Bye...” Carina melirik pramuniaga yang tersenyum menyodorkan dompetnya yang sudah dibungkus cantik dan dimasukkan ke dalam paper bag berlogo FOSSIL. Dia tidak bisa membalas sapaan sayang dari Arya karena lagi di tempat umum. Untuk urusan percintaan, Carina termasuk kolot. Dia gak suka PDA (Public Display of Affection). Gak seperti beberapa teman kantornya yang suka pamer mesra-mesraan di I* Stories atau pas makan malam group. Dia lebih suka tempat private untuk mengekspresikan rasa sayangnya.
Carina memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menerima paper bag-nya, “Makasih...”
“Terima kasih. Sampai ketemu lagi, Mbak,” ujar si kasir dan pramuniaganya ramah.
Carina keluar dari toko dengan langkah ringan. Sesuai perkiraannya hari ini akan berjalan dengan lancar.
*
To be continued~
SE 09 – The PlanJakarta. Juli, 2019.Sara berdiri di lorong, kaget dengan peristiwa yang baru saja dia curi dengar. Suara Carina terdengar sampai luar. Dia nggak menyangka Carina punya cukup nyali untuk protes keras pada Marco. Sara mencegat Carina yang hendak berjalan melewatinya.“Say, tunggu,” tahan Sara, “lo gak apa-apa?” tanyanya prihatin.Carina mengusap wajahnya, dia berusaha keras menahan air matanya, “Ya,” suaranya tercekat di tenggorokan.Sara menariknya untuk masuk ke dalam kubikelnya, “Sini, minum dulu.”Carina menurut, dia membiarkan dirinya dibimbing oleh Sara untuk duduk di kursi sementara Sara mengeluarkan sebotol Evian dari kulkas mininya. Dia menyodorkan botol air mineral premium itu pada Carina, “Sorry gue tadi denger suara lo,”Carina meneguk airnya dan mengangguk, “Ya, gue tadi gak kontrol suara gue.”Sara mengangguk, “Tapi kadang Marco memang harus diingetin. Dia terlalu menganak-emaskan Shelly. Lo tahu kan kalau Shelly ngabisin banyak uang untuk Marco?”Carina
SE 08 – Phobia of WomenLondon. Juli, 2019 Sepeninggal Pamannya, Alfred pergi ke kamarnya dan mengurung diri di sana sampai waktu makan malam tiba. Veronica Wellington, yang akrab disapa Vera, adik bungsunya mengetuk pintu dan menyuruh Alfred keluar untuk makan malam.“Hai,” sapa Alfred, dia membuka pintu sedikit, “can you tell Mummy I skip dinner tonight?”Vera memandangnya sambil bersedekap.“Please?” tanya Alfred dengan wajah memelas.Vera mendesah, “What is it this time?” tanyanya setengah menggerutu.Alfred hanya tersenyum lemah, “Thank you, Sis. See you tomorrow.”Vera memutar bola matanya dengan jengkel dan melangkah pergi meninggalkan kamar Alfred, “Aku gak tanggung jawab kalau Mummy datang menjemputmu, ya!” serunya sambil melambai.Alfred menyeringai dan menutup pintu kamarnya, tidak lupa menguncinya agar ibunya tidak bisa sembarangan masuk. Dia duduk di meja kerjanya yang menghadap jendela dan balkon kamar, termenung sejenak dan membuka sebuah jurnal bersampul kulit milikny
SE 07 – ON AIRJakarta. Juli, 2019. Carina tidak mempercayai pendengarannya. Arya baru saja memberikan syarat paling konyol yang pernah dia dengar. Apa dia bilang? Mereka bisa jalan lagi kalau dia lepas dari ketergantungannya dengan voucher. Ketergantungan? Memangnya dia apa? Pemakai narkoba sampai ketergantungan begitu?Carina menatap Arya, dalam sekejap, laki-laki tampan itu berubah menjadi menyebalkan. Tangannya gatal ingin menghapuskan senyum sombong itu dari wajahnya. Dia mengepalkan tangannya menahan marah.“Carin,” Arya menghela napas lelah, “kamu sadar gak sih, dari awal kita pacaran kamu selalu bicara tentang voucher, diskon, cashback. Setiap kita jalan keluar dan makan, harus pakai kupon potongan harga dan kamu pasti cari restoran yang suka ngasih cashback. Bahkan sekarang, kamu pakai voucher yang hampir habis masa kadaluarsanya. Kamu itu luar biasa, ya. Mending kamu hidup sama voucher dan diskonanmu itu aja. Jadi orang kok pelit banget!”Carina tidak menjawab, dia berdiri,
SE 06 – Duke of WellingtonLondon. Juli, 2019. Duke of Wellington sedang mencoba jam tangan barunya, dia memutar-mutar pergelangan tangannya, memeriksa tampilan jam tangannya yang mewah dan bertabur berlian. Dia mengangguk-angguk, mengagumi karya terbaik dari produsen jam tangan terkenal asal Swiss itu.“This is okay, I’ll take it,” ujarnya dengan logat British yang kental.Pramuniaga laki-laki itu mengangguk dengan takzim, dia membantu melepas jam tangan dari pergelangan tangan sang Duke yang masih muda itu.“Mungkin Anda ingin melihat-lihat arloji yang lain untuk dihadiahkan pada Lady Wellington, Sir?” tawar si manajer toko. Dia berpakaian khas butler lengkap dengan sarung tangan putihnya.“Hmm... ada yang baru?” Duke yang punya nama asli James Alfred Wellington bertanya.Si manajer toko menjetikkan jarinya dan pramuniaga lain langsung bergegas mengambil sebuah arloji buatan tangan bertabur swarovski, “Baru saja datang dari pengrajin kami di Swiss. Hanya ada dua puluh buah di dunia
Jakarta. Juli, 2019 Sisa hari itu Carina habiskan untuk buat backdrop baru dan mengatur ulang studio. Masalahnya muncul saat ia melihat memo dari Marco yang menyuruh Carina untuk segera mengatur studio dan memberikan space untuk krunya Shelly. Mau gak mau Carina dkk harus kerja lembur untuk memenuhi permintaan dari big boss mereka.Carina mengetik di laptopnya sambil ngomel-ngomel, “Gila, ya. Lo pikir kita Sangkuriang bisa ngerjain kayak beginian dalam semalam? Gue kutuk juga lu jadi batu!”“Itu mah Malin Kundang, Bu, bukan Sangkuriang,” ujar Aji.“Eh, iya ya?” ujar Carina menghentikan kegiatan mengetiknya. Dia terdiam sejenak mengingat-ingat jalan cerita folklore yang sudah lama dilupakannya. “Tahu lah, pokoknya gue kutuk tuh si Marco sama Shelly jadi batu!”Panji dan kawan-kawannya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menahan senyum, bos kecil mereka memang suka mendadak aneh kalau lagi kumat gilanya.“Sekarang jam berapa, Ji?” tanya Carina tanpa mengalihkan matanya dari layar la
SE – 04Mall yang dituju Carina gak jauh dari kantornya, jadi dalam sepuluh menit dia sudah sampai. Segera Carina memulai perburuannya mencari kado yang cocok untuk Arya. Dia tahu selera Arya lumayan tinggi, jadi kali ini Carina akan berbaik hati dan sedikit menghamburkan uang demi pacarnya itu. Dia ingin Arya terkesan dengan hadiahnya kali ini. Lagipula Carina tahu kalau Arya menginginkan kejutan darinya. Sudah dua tahun perjalanan cinta mereka dan Carina ingin agar mereka segera meresmikan hubungan. Ayah dan Ibu sudah berkali-kali bertanya kapan Arya datang ke rumah membawa orang tuanya. Lama-lama Carina gerah juga ditanya terus, jadi sepertinya hari ini adalah momen yang pas untuk mulai berdiskusi tentang ‘masa depan.’Carina berjalan perlahan memerhatikan etalase toko-toko high-end dengan merek-merek terkenal. Dia mulai dari mana?Dia masuk ke toko ZARA. Kebanyakan baju-baju dan aksesoris cewek, yang ada malah dia yang belanja. Carina buru-buru keluar sebelum nafsu belanjanya memb







