FAZER LOGINSE 06 – Duke of Wellington
London. Juli, 2019.
Duke of Wellington sedang mencoba jam tangan barunya, dia memutar-mutar pergelangan tangannya, memeriksa tampilan jam tangannya yang mewah dan bertabur berlian. Dia mengangguk-angguk, mengagumi karya terbaik dari produsen jam tangan terkenal asal Swiss itu.
“This is okay, I’ll take it,” ujarnya dengan logat British yang kental.
Pramuniaga laki-laki itu mengangguk dengan takzim, dia membantu melepas jam tangan dari pergelangan tangan sang Duke yang masih muda itu.
“Mungkin Anda ingin melihat-lihat arloji yang lain untuk dihadiahkan pada Lady Wellington, Sir?” tawar si manajer toko. Dia berpakaian khas butler lengkap dengan sarung tangan putihnya.
“Hmm... ada yang baru?” Duke yang punya nama asli James Alfred Wellington bertanya.
Si manajer toko menjetikkan jarinya dan pramuniaga lain langsung bergegas mengambil sebuah arloji buatan tangan bertabur swarovski, “Baru saja datang dari pengrajin kami di Swiss. Hanya ada dua puluh buah di dunia, Sir. Saya sengaja menunjukkannya khusus untuk Anda.”
“Siapa yang sudah membelinya?”
Manajer itu berdehem dan menyebutkan nama-nama pangeran, kepala negara, selebritis, dan pengusaha kaya yang sudah memesannya.
Sir James Alfred mengamatinya sesaat dan mengangguk, “Okay, I’ll take this one, too.”
Senyum semringah terpatri di wajah-wajah pramuniaga dan manajernya. Target mingguan mereka tercapai dengan mudah, “Baik, akan kami bungkus dengan cantik.”
Alfred mengangguk dan kembali duduk di atas sofa empuk di tengah ruangan yang bermandikan cahaya. Dia biasanya tidak berbelanja sendiri, tapi karena hari ini dia sedang senggang dan bosan, maka dia jalan-jalan cari angin dan tiba-tiba saja sudah berada di toko ini.
Ponselnya berdering, nama di layarnya tertera ‘MUM.’
“Hello,” sapa Alfred.
“Darling, where are you?” tanya ibunya dengan suara lembut.
“Shopping?” jawab Alfred ragu-ragu.
“Kau... apa?” tanya ibunya tidak percaya.
“Yes, Mum. Aku sedang berada di toko arloji,” jawab Alfred, “why so surprised?”
“Oh,” ibunya tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, “I thought you were driving, or riding or cannoeing...”
“Mother, I don’t do cannoeing, alright...”
“Oh, yes. Yes. I’m sorry, Darling... I just...”
“Yeah, I know. It’s okay, Mum. Everything’s alright,” Alfred berusaha menenangkan ibunya, “semua orang di sini laki-laki.”
“Oh, Thank Heavens!” suara ibunya terdengar lega, “how can you manage that?”
“I didn’t do anything, toko ini memang semua pegawainya laki-laki.”
“Oh, right,” Alfred tersenyum mendengar suara ibunya yang kebingungan sekaligus lega itu, “so, kapan kau sampai di sini?”
Alfred mengecek arloji di pergelangan tangannya dan menjawab, “Sekitar satu jam lagi, ada apa?”
“Frank datang berkunjung, dia ingin bertemu denganmu,” sahut ibunya, menyebut nama Paman favorit Alfred.
“Of course, aku akan segera datang. Berikan saja Rice Pudding buatan Nanna yang banyak, dia suka itu.”
“Ya, sudah kulakukan. Cepatlah pulang, Nak...”
“Will do, Mum. Goodbye.”
Setelah membereskan transaksinya, Alfred keluar dari toko dan bergegas menuju mobilnya yang diparkir di depan trotoar. Dia memakai topi dan kacamatanya, menutupi sebagian wajahnya agar tidak mudah dikenali orang. Saat berlari menuju mobilnya, Alfred berusaha sebisa mungkin untuk tidak bersentuhan dengan orang-orang yang berlalu-lalang di sepanjang trotoar yang ramai itu. Dia masuk ke dalam mobil dan berkendara kembali ke mansionnya.
***
“Hellooo...! Look at you, lads! You look good!” seru Paman Frank menyambutnya. Dia tersenyum lebar, bintik-bintik di wajahnya semakin kentara karena kulitnya menggelap, hasil liburan dua minggu di Bali.
Alfred tersenyum lebar dan merangkul pamannya, adik sepupu dari ayahnya. Walau bersepupu, mereka mempunyai nama belakang yang berbeda. Alfred mewariskan nama dan gelar kebangsawanan dari mendiang Ayahnya, Lord Argus Matthew Wellington yang wafat lima tahun yang lalu.
“Apa kabar, Paman?” tanya Alfred.
“Baik, baik,” pamannya yang masih muda, hanya bertaut 4 tahun saja darinya, merangkul bahunya dengan hangat. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam mansion, melewati parlor dan keluar menuju taman belakang yang rindang. Ibunya sedang duduk sambil menikmati teh sorenya. Wanita itu tersenyum pada Alfred, “Hello, Darling. How was your shopping?” tanyanya.
“Speaking of which...” ujar Alfred, dia menyerahkan sebuah paper bag pada ibunya, “ini untukmu, Mum.”
“Ooh... thank you, Darling. So sweet of you...”
“Anything for this old man?” goda pamannya.
“Here you go, Uncle,” Alfred memberikan arloji yang tadinya dibeli untuk dirinya sendiri, “and you’re not old, by the way.”
“Woah, I never thought I would receive anything from you, Boy!” seru pamannya yang kegirangan mendapatkan hadiah tak terduga dari Alfred, “thanks, lads!”
Alfred tersenyum melihat ibu dan pamannya dengan bahagia membanggakan arloji baru mereka.
“Tunggu,” ujar Frank, “bukankah ini arloji limited edition yang baru saja diluncurkan?” tanyanya sambil mengangkat pergelangan tangan kakak sepupunya pada Alfred.
Alfred mengangguk bangga, “Hanya ada 20 buah di dunia dan salah satunya adalah milikmu, Mum. Happy early birthday!”
“Oh, Darling... I love you...” seru ibunya yang bangkit berdiri dan memeluk Alfred dengan sayang.
Alfred balas memeluk ibunya dengan canggung, dia tidak terbiasa dengan perlakuan penuh cinta yang ditawarkan ibunya.
“Thank you, Darling...” bisik ibunya. Dia melepaskan pelukannya dan mengusap wajahnya, “Excuse me.”
Alfred tahu kalau ibunya menitikkan air mata saking terharunya. Terkadang ibunya memang terlalu sensitive, menonton Lion King saja menangis sampai berhari-hari. Dia lega saat ibunya meminta izin untuk kembali ke kamarnya, meninggalkannya bersama dengan Paman Frank.
“Ngomong-ngomong, kapan kau kembali dari Bali?” tanya Alfred.
“Dua hari yang lalu, it was beautiful. The beach, the culture, the women...” pandangan mata Frank menerawang, sepertinya dia sedang mereka ulang hari-harinya di Bali. Walaupun pamannya ini sudah menikah, dia masih suka main perempuan dan poker. Dua hal yang identik dengannya.
“Klubmu di sana bagaimana?” tanya Alfred.
“Ah, ngomong-ngomong soal klub, bulan depan aku akan membuka lima klub sekaligus!” seru Frank bangga.
“Really? Di mana saja?” tanya Alfred tertarik, “should I invest more?”
“Itulah tujuanku kemari, Lads. Aku perlu tanda tanganmu. Give me more money and I give you more pleasure!”
Alfred menggeleng, “Berikan aku bunganya saja, aku tidak butuh kesenangan.”
Frank meraih kotak rokoknya, “Ah... kau masih terjangkit penyakit itu, Lads?”
Alfred hanya tersenyum sekilas, “Aku hanya tidak ingin membuat masalah, Paman. Aku cukup senang berinvestasi di perusahaanmu. Kebetulan minggu depan temanku, Khalid, akan berkunjung kemari setelah sekian lama.”
“Khalid? Temanmu di Eton dulu?” tanya Pamannya sambil mengingat-ingat salah satu teman Alfred yang pernah berkenalan dengannya dulu.
“Ya, setelah menyelesaikan masternya di Dubai, minggu depan dia akan kemari dan menginap di sini selagi apartemennya direnovasi,” jawab Alfred, “aku bisa merekomendasikan perusahaanmu padanya. Dia baru saja menerima hadiah dari ayahnya, hadiah kelulusan.”
“Hadiah apa?”
“Entahlah, dia bilang semacam property atau tanah perkebunan, aku tidak ingat. Kau bisa bicara dengannya nanti,” ujar Alfred sambil meraih cangkir tehnya.
“Kau pikir dia akan berinvestasi di perusahaanku?” tanya Frank sangsi, “kalau dia tahu scope business kita yang bisa saja melanggar norma agamanya...”
Alfred tertawa, “Dia liberal, Paman. Tidak ada yang tidak mungkin baginya. Selagi ini menguntungkan dan tidak diketahui oleh ayahnya, semuanya akan aman saja.”
Frank ikut tertawa, menertawai kebodohannya, “Okay, it’s on, then. Kenalkan aku pada temanmu itu, Lads!”
Alfred mengangguk, “Minggu depan dia akan datang.”
***
Jakarta. Juli, 2019
Indi baru saja keluar dari lift di lantai basement, dia sedang berjalan menuju mobilnya yang diparkir saat ponselnya berdering.
“Halo?”
“Mama!” seru anak sulungnya yang baru berusia tiga tahun, “aku mau pizza!”
Indi menghela napas, dia sudah membayangkan nikmatnya tidur di kasur yang empuk segera setelah sampai rumah, tapi ternyata anaknya meminta dibelikan makanan, “Minta aja Tante Rena Go-Food ke rumah, Aruna.”
“Nggak mau. Kata Ate, Mama aja yang beli!”
Ya Tuhaaannn... “Mana tantenya? Mama mau ngomong.”
“Nih!” tak lama suara adiknya yang masih mahasiswa, Rena terdengar, “Yo, what’s up, Mbak?”
“Heh, ngapain lo ngehasut anak gue biar beliin pizza?” semprot Indi, “Go-Food aja sih? Kenapa gue harus repot-repot?”
“Wifi mati, Mbak. Aku gak punya pulsa.”
“Mati?”
“Iya, kata Mas Dino emang belum bayar. Katanya Mbak yang bagian bayar bulan ini.”
Ampun, deh. Dia lupa bayar tagihan, “Terus maksudnya apa kamu gak punya pulsa? Bukannya pake pascabayar?”
Rena terkekeh, “Nah, itu dia. Kuota aku udah abis sebelum waktunya, jadi harus top up limit deh, Mbak.”
“Bodo amat!” seru Indi sebal.
“Jangan lupa pizzanya ya, mbakku cantiikkk. Arun, dadah sama Mama!”
“Daahh, mama!”
Setengah menggerutu Indi masuk ke dalam mobilnya dan berkendara keluar kantornya, menuju restoran pizza terdekat.
***
Sementara itu di restoran Pizza tujuan Indi, Carina memerhatikan raut wajah Arya yang berubah begitu dia membuka hadiahnya “Kenapa?” tanya Carina, “Kamu gak suka?”
Arya mengerutkan keningnya, “Ini Fossil, kan?”
Carina mengangguk, “Iya.”
Arya menutup kembali kotak kadonya.
“Kamu gak suka modelnya?” tanya Carina heran.
“Masih bisa ditukar, kan?” tanya Arya, “aku gak suka warnanya.”
Carina memandang Arya, “Tapi itu diskon 25 persen, gak bisa ditukar.”
“Apa?!”
“Aku tahu kamu pengennya merek Bally itu, tapi harganya paling murah aja 4 jutaan. Aku pikir yang ini gak kalah keren kok, harganya juga masuk akal. Coba bayangin, dompet aja harganya hampir setengah gaji kita.”
“Memangnya kamu gak punya tabungan?”
“Ya, punya. Tapi aku gak akan ngabisin buat beli kado.”
“Jadi ini kamu beli pake voucher juga?”
“Kebetulan lagi diskon, masa aku lewati gitu aja? Ini juga dari kulit kok. Dari review banyak dipake sama cowok-cowok. Merek Fossil juga keren, kan? Jarang-jarang aku beli barang bermerk.”
Kali ini Arya benar-benar meradang, “Cukup, deh!” bentaknya.
Carina terdiam, dia hanya bisa memandangi Arya bingung.
“Bisa gak sih sehari aja kamu gak ngomongin voucher?” tanya Arya, “kamu itu gak bisa hidup tanpa voucher?”
Carina mengerutkan dahinya, “Apa yang salah sama voucher?”
Arya menggeleng tidak percaya, “Voucher itu buat orang-orang pelit. Sukanya yang gratisan. Gak mau modal. Buat apa kamu kerja dengan gaji dua digit kalau makan aja masih ngandelin voucher atau cashback? Kamu ngajak makan malam pacar kamu aja berdasarkan voucher yang hampir expired, beliin kado karena diskon 25% bukan berdasarkan keinginan aku. Kita sering berantem gara-gara voucher!”
“Jadi kamu marah gara-gara kita makan di sini pake voucher dan aku beli kado kamu pake diskon 25%?” tanya Carina, “lagian apa bedanya dompet ini sama yang merk Bally yang kamu mau itu? Sama-sama dompet, kan?”
“Ya, bedalah, Carin. Ini bukan masalah bentuknya...”
Carina menggeleng, “Kamu tahu kan kalau aku hampir gak pernah beli barang mahal? Apalagi bermerk. Tapi demi kamu, aku bela-belain beli dompet yang mahal ini, cuma sepotong kulit yang dijahit tangan yang akhirnya kamu dudukin tiap hari! Masih kurang juga?”
“Kamu masih gak ngerti juga apa maksud aku?”
Carina mengangguk, “Aku ngerti, kamu mau putus, kan?”
Arya mengepalkan tangannya menahan geram, dia berbicara di sela-sela giginya, “Kalau kamu bisa lepas dari ketergantungan kamu terhadap voucher, kita bisa jalan lagi...”
Carina membelalak, “What the...”
*
To be continued~
SE 11 – Carina Goes ViralJakarta, Juli 2019 Carina pergi kerja dengan berat hati, seumur-umur baru sekarang dia berangkat dengan wajah lesu. Sungguh, dia tidak berselera untuk bekerja lagi. Pikirannya sedang kacau, kantor bukan lagi tempat yang nyaman. Tapi karena tuntutan pekerjaan dan rasa tanggung jawabnya sebagai Chief of Production, Carina harus bekerja hari ini.“Okay, lo bisa, Carin. Gak usah peduli apa kata orang. Bodo-amat-mode-on,” Carina menatap bayangan di cerminnya, berusaha mensugesti dirinya sendiri. “Tarik-napas, buang. Tarik-buang. Yak, nothing to worry about, everything’s gonna be okay.”Pagi itu seperti biasa jejeran mobil mentereng kembali antre menuju gedung stasiun teve yang sudah memberinya karir–memang tidak cemerlang–tapi tempat ini menjadi saksi bisu jatuh-bangunnya seorang Carina. Dia bekerja, bersosialisasi, jatuh cinta, dan menangis di sini.Saat di lobby, Carina bertemu dengan Mukhlas, rekan kerjanya. Mereka pernah bekerja sama selama dua tahun sebelum
SE 10 – Mum’s ConcernLondon. Juli, 2019. Lady Wellington bingung. Semenjak kematian suaminya, Alfred menjadi tulang punggung keluarga. Walaupun mereka termasuk keluarga bangsawan tapi bukan berarti Alfred tidak bekerja. Laki-laki itu sangat bertanggung jawab terhadap Ibu dan adik-adiknya. Dia menyelesaikan kuliahnya tepat waktu dan mendapatkan pekerjaan sebagai bankir. Tapi karena penyakitnya, Alfred terpaksa harus keluar dari pekerjaannya dan memilih untuk memakai sebagian besar warisan dan uang asuransinya untuk berinvestasi pada Frank. Sejauh ini semuanya baik-baik saja, tapi Lady Wellington tidak bisa berpangku tangan begitu saja.Walaupun Alfred sudah mendapatkan gelar bangsawan yang diturunkan dari ayahnya, Alfred masih belum bisa menguasai akses ke semua harta warisan yang menjadi haknya. Di dalam surat wasiatnya, Lord of Wellington menuliskan bahwa untuk menerima seluruh warisannya, Alfred harus menikah terlebih dahulu. Setelah pernikahan digelar, mereka bisa mengakses reken
SE 09 – The PlanJakarta. Juli, 2019.Sara berdiri di lorong, kaget dengan peristiwa yang baru saja dia curi dengar. Suara Carina terdengar sampai luar. Dia nggak menyangka Carina punya cukup nyali untuk protes keras pada Marco. Sara mencegat Carina yang hendak berjalan melewatinya.“Say, tunggu,” tahan Sara, “lo gak apa-apa?” tanyanya prihatin.Carina mengusap wajahnya, dia berusaha keras menahan air matanya, “Ya,” suaranya tercekat di tenggorokan.Sara menariknya untuk masuk ke dalam kubikelnya, “Sini, minum dulu.”Carina menurut, dia membiarkan dirinya dibimbing oleh Sara untuk duduk di kursi sementara Sara mengeluarkan sebotol Evian dari kulkas mininya. Dia menyodorkan botol air mineral premium itu pada Carina, “Sorry gue tadi denger suara lo,”Carina meneguk airnya dan mengangguk, “Ya, gue tadi gak kontrol suara gue.”Sara mengangguk, “Tapi kadang Marco memang harus diingetin. Dia terlalu menganak-emaskan Shelly. Lo tahu kan kalau Shelly ngabisin banyak uang untuk Marco?”Carina
SE 08 – Phobia of WomenLondon. Juli, 2019 Sepeninggal Pamannya, Alfred pergi ke kamarnya dan mengurung diri di sana sampai waktu makan malam tiba. Veronica Wellington, yang akrab disapa Vera, adik bungsunya mengetuk pintu dan menyuruh Alfred keluar untuk makan malam.“Hai,” sapa Alfred, dia membuka pintu sedikit, “can you tell Mummy I skip dinner tonight?”Vera memandangnya sambil bersedekap.“Please?” tanya Alfred dengan wajah memelas.Vera mendesah, “What is it this time?” tanyanya setengah menggerutu.Alfred hanya tersenyum lemah, “Thank you, Sis. See you tomorrow.”Vera memutar bola matanya dengan jengkel dan melangkah pergi meninggalkan kamar Alfred, “Aku gak tanggung jawab kalau Mummy datang menjemputmu, ya!” serunya sambil melambai.Alfred menyeringai dan menutup pintu kamarnya, tidak lupa menguncinya agar ibunya tidak bisa sembarangan masuk. Dia duduk di meja kerjanya yang menghadap jendela dan balkon kamar, termenung sejenak dan membuka sebuah jurnal bersampul kulit milikny
SE 07 – ON AIRJakarta. Juli, 2019. Carina tidak mempercayai pendengarannya. Arya baru saja memberikan syarat paling konyol yang pernah dia dengar. Apa dia bilang? Mereka bisa jalan lagi kalau dia lepas dari ketergantungannya dengan voucher. Ketergantungan? Memangnya dia apa? Pemakai narkoba sampai ketergantungan begitu?Carina menatap Arya, dalam sekejap, laki-laki tampan itu berubah menjadi menyebalkan. Tangannya gatal ingin menghapuskan senyum sombong itu dari wajahnya. Dia mengepalkan tangannya menahan marah.“Carin,” Arya menghela napas lelah, “kamu sadar gak sih, dari awal kita pacaran kamu selalu bicara tentang voucher, diskon, cashback. Setiap kita jalan keluar dan makan, harus pakai kupon potongan harga dan kamu pasti cari restoran yang suka ngasih cashback. Bahkan sekarang, kamu pakai voucher yang hampir habis masa kadaluarsanya. Kamu itu luar biasa, ya. Mending kamu hidup sama voucher dan diskonanmu itu aja. Jadi orang kok pelit banget!”Carina tidak menjawab, dia berdiri,
SE 06 – Duke of WellingtonLondon. Juli, 2019. Duke of Wellington sedang mencoba jam tangan barunya, dia memutar-mutar pergelangan tangannya, memeriksa tampilan jam tangannya yang mewah dan bertabur berlian. Dia mengangguk-angguk, mengagumi karya terbaik dari produsen jam tangan terkenal asal Swiss itu.“This is okay, I’ll take it,” ujarnya dengan logat British yang kental.Pramuniaga laki-laki itu mengangguk dengan takzim, dia membantu melepas jam tangan dari pergelangan tangan sang Duke yang masih muda itu.“Mungkin Anda ingin melihat-lihat arloji yang lain untuk dihadiahkan pada Lady Wellington, Sir?” tawar si manajer toko. Dia berpakaian khas butler lengkap dengan sarung tangan putihnya.“Hmm... ada yang baru?” Duke yang punya nama asli James Alfred Wellington bertanya.Si manajer toko menjetikkan jarinya dan pramuniaga lain langsung bergegas mengambil sebuah arloji buatan tangan bertabur swarovski, “Baru saja datang dari pengrajin kami di Swiss. Hanya ada dua puluh buah di dunia







