INICIAR SESIÓNSE 07 – ON AIR
Jakarta. Juli, 2019.
Carina tidak mempercayai pendengarannya. Arya baru saja memberikan syarat paling konyol yang pernah dia dengar. Apa dia bilang? Mereka bisa jalan lagi kalau dia lepas dari ketergantungannya dengan voucher. Ketergantungan? Memangnya dia apa? Pemakai narkoba sampai ketergantungan begitu?
Carina menatap Arya, dalam sekejap, laki-laki tampan itu berubah menjadi menyebalkan. Tangannya gatal ingin menghapuskan senyum sombong itu dari wajahnya. Dia mengepalkan tangannya menahan marah.
“Carin,” Arya menghela napas lelah, “kamu sadar gak sih, dari awal kita pacaran kamu selalu bicara tentang voucher, diskon, cashback. Setiap kita jalan keluar dan makan, harus pakai kupon potongan harga dan kamu pasti cari restoran yang suka ngasih cashback. Bahkan sekarang, kamu pakai voucher yang hampir habis masa kadaluarsanya. Kamu itu luar biasa, ya. Mending kamu hidup sama voucher dan diskonanmu itu aja. Jadi orang kok pelit banget!”
Carina tidak menjawab, dia berdiri, menyampirkan tasnya di bahu. Dia memejamkan mata sejenak dan menarik napas. Meyakinkan dirinya bahwa semua baik-baik saja. Di hadapannya hanya ada Arya yang berubah menjadi orang paling menyebalkan dalam semalam. Dia hanya perlu melakukan sesuatu.
“Kalau kamu gak bisa berubah dan sedikit ngurangin kebiasaan irit kamu, mungkin kita bisa...”
Tangan Carina meraih mangkuk salad dengan cepat dan menumpahkan isinya di atas kepala Arya. Tanpa basa-basi, Carina berucap dengan suara dingin “Goodbye.”
Dengan langkah tergesa, dia meninggalkan restoran itu. Meninggalkan Arya. Meninggalkan harga dirinya. Meninggalkan cintanya.
Brengsek.
***
Esok harinya berita mengenai putusnya Arya dan Carina jadi trending topic di kantor. Entah dari mana beritanya berhulu, yang jelas orang satu kantor tahu kalau Arya dan Carina putus gara-gara voucher. Cewek-cewek heboh karena status single Arya. The handsome man is back on the market. Sudah pasti mereka berlomba-lomba menggaet mantan pacar Carina.
“Alhamdulillah ya, Babe, cowok ganteng itu udah insyaf. Lumayan juga dua tahun khilaf pacaran sama cewek tampang anak-anak itu,” ujar Marta yang mulutnya gak pernah disaring.
Indi yang sedang berada di radius pendengaran jengkel dibuatnya, tapi dia gak bisa apa-apa, karena dia belum bertemu dengan Carina pagi ini. Tumben anak ini telat ngantor. Indi gak tahan untuk segera bertemu dengan Carina dan mengkonfirmasi kebenaran berita itu.
“Gue denger sih gara-gara dompet juga, Babe. Katanya tuh Ratu Voucher ogah beliin Arya dompet Bally, dia malah beliin Fossil yang grosiran. Diskon, Bok. Lagi sale. Atau jangan-jangan dia belinya yang KW, ya?” Marta gak merasa perlu mengecilkan volume suaranya.
Rasanya Indi kepengen nimpuk palanya Marta pake lemper yang sedang dipegangnya.
“Yaelah, baru dompet Bally doang, kemaren gue beliin laki gue Nike Air Jordan, keless...” tambah Dina, “sampe bela-belain pre-order segala.”
Marta mengangguk, “Pelit amat jadi cewek, ya? Padahal beliin dompet gitu doang gak akan buat dia miskin, juga. Arya gitu loh, Babe. Kalau gue jadi dia, gue beliin deh tuh dompet Bally sekalian sepatu, tas dan tetek bengek lainnya, yang penting laki gue hepi dan makin cinta sama gue.”
“Ya udah sih embat aja sana, Babe!”
“Yuk ah, capcusss...”
Indi udah gak tahan lagi, dia bergegas pergi mencari Carina. Di lorong, dia berpapasan dengan Arya. Laki-laki itu tidak menyapanya, tampangnya semrawut, kayak jalanan Jakarta pas hectic hour. Ruwet. Indi berdiri menghalangi jalan Arya, hingga cowok itu berhenti.
“Eh, elo, Ndi,” ujar Arya seolah baru sadar kalau Indi berdiri di depannya.
Indi memerhatikan raut wajah Arya, “Lo apain Carina?” tanyanya dingin.
Arya menggeleng dengan lemah, “Yang ada gue yang diapa-apain, Ndi. Susah tahu ngilangin bau saus salad dari rambut nih..”
Indi menatap Arya jijik, “Lo lebih mentingin rambut lo daripada perasaan Carin?”
Arya menghela napas dan menggaruk kepalanya, “Aduh, gak usah dibahas deh. Gue pusing mikirin Carin, tuh anak gak bisa diselamatin lagi.”
“Emang dia kenapa?!” Indi jadi ikutan meradang.
Arya menatap Indi seolah dia gila, “Semua orang tahu kalau Carin itu pelitnya minta ampun. Gue udah gak tahan harus hidup dari voucher-voucher.”
“Eh,” ujar Indi, kali ini gak mau repot-repot menjaga sopan santunnya, “masih mending cewek lo mau bayarin lo makan walau dengan voucher-voucher. Coba lo pacarin noh si Marta, mana mau dia bayar makanan dia sendiri kalau pacaran? Yang ada lo yang diporotin sama dia. Coba lo pikir, selama ini Carin morotin lo gak? Dia minta aneh-aneh gak? Dia minta beliin diamond kaya si Sara itu? Minta jalan-jalan ke Maldives, gak?”
Arya terdiam mendengar kalimat Indi.
“Lo harusnya bersyukur punya pacar Carin, dia orangnya gak neko-neko. Dia orang paling jujur dan otentik yang pernah gue kenal. Dia apa adanya, dia gak fake. Dia kerja keras buat hidupnya. Lo harusnya dukung dia, bukannya ngatain dia pelit.”
Arya mendengus, “Lo gak usah nambahin pikiran gue deh. Gue udah cukup stress dengan kejadian semalam yang udah kesebar kemana-mana. Gak usah ditambahin lagi, Ndi. Gue pusing!”
Indi mau ngoceh lagi, tapi Arya udah keburu pergi dari situ. Cowok itu langsung ngacir gak mau denger ceramah dari sahabatnya Carin. Dia kesal karena perkataan Indi benar. Di lubuk hatinya, Arya menyesali kejadian semalam. Dia ingin minta maaf tapi dia terlalu malu untuk bertemu muka dengan Carin lagi.
Indi mendelik pada punggung Arya dan bergumam, “Dasar pengecut.”
***
Panji panik. Dia gak bisa masuk studionya sendiri. Di depan studio mereka tertulis ‘ON AIR’ yang artinya sedang dipakai siaran. Tapi hari ini mereka gak ada jadwal siaran, malah studio itu masih perlu dibenahi. Jadi siapa yang sedang siaran?
Panji mengetik pesan ke group W******p geng mereka.
Panji : Bu Carin, ada di mana?
Tak ada jawaban
Panji : Bu
Mateo : Bu Carin lagi di jalan kali, Ji. Ada apa?
Panji : Posisi di mana bang?
Mateo : Bentar lagi nyampe
Panji : Buruan ke sini ya, urgent
Aji: Gue lagi di lift, Ji. Omw
Panji : Siip
Tak lama Aji datang menghampiri Panji, “Yo, my man,” sapanya sambil mengulurkan tangannya. Tapi ajakannya untuk ber-high five ria disambut dingin oleh Panji, “ada apa?” tanya Aji heran.
Panji menunjuk papan ‘ON AIR’ dengan tampang bingung.
Aji mengerutkan keningnya heran. Dia mengintip ke jendela kecil yang berada di atas pintu, berusaha mengintip keadaan di dalam, “Siapa yang on air, Ji?”
Panji menggeleng, “Gak tahu, makanya heran. Siapa yang pake studio kita?”
Aji mengeluarkan ponselnya dan menelepon Mateo, “Bang, kemaren lo kunci studio kita gak?... Yakin udah dikunci?....Ya, ini ada yang pake studio. On air pula, gak bisa sembarangan masuk. Bu Carin? Belum keliatan tuh... Oke... Siap.”
Panji menatap Aji dengan tampang tegang, “Gimana?”
“Semalam udah dikunci katanya, yang terakhir pulang kan Bang Mat. Dia sebentar lagi nyampe. Lo liat Bu Carin?” tanya Aji.
Panji menggeleng, “Tadi juga Bu Indi nyariin, gak tahu ada apa.”
Aji menatap Panji dengan seksama dan berkata perlahan, “Lo gak ngecek Line group kantor?”
Panji menggeleng polos, “Nggak. Emang ada apa?”
Aji membuka ponselnya dan menunjukkan layarnya pada Panji yang terbelalak membacanya, “Seriusan?”
Aji mengangkat bahunya, “Kita tunggu aja pemeran utamanya dateng.”
***
Si pemeran utama bangun kesiangan dan masih ngambek gara-gara kejadian semalam. Carina mengayuh sepedanya dengan santai padahal dia udah telat banget. Mendadak dia gak peduli dengan alam sekitar, dia sedang patah hati dan sakit hati. Jadi bodo amat dengan absen. Dengan santai Carina memarkir sepedanya dan berjalan masuk ke lobby kantornya. Dia hanya melambai pada Budi yang memberinya hormat dengan khidmat.
Lift tidak terlalu penuh sesak, waktu sudah menunjukan jam 9 lewat 15 menit. Carina udah siap-siap kena teguran karena terlambat, dan dia gak peduli. Kalau ada yang berani macam-macam sama dia hari ini, siap-siap aja disemprot. Mood-nya lagi jelek. Jangan dekat-dekat.
Lorong sepi, tapi di depan pintu studio dia melihat Mateo, Panji, dan Aji malah berdiri berkerumun. Tumben Kwak Kwik Kwek itu gak masuk ke dalam. Carina menghampiri mereka dan menepuk bahu Mateo, “Oy, kok gak masuk?” tanyanya.
Mateo menoleh kaget, “Eh, Bu...”
“Kenapa gak masuk?” tanya Carina, dia menerobos Mateo dan Panji hendak mendorong pintu saat matanya melihat tanda ON AIR yang menyala. Dia menunjuk huruf merah menyala itu, “Apa ini?”
Ketiganya menggeleng dengan tampang bloon.
“Ada siapa di dalam?” tanya Carina dingin.
“Kayaknya Bu Shelly, Bu,” ujar Panji.
Raut wajah Carina berubah seram. Tatapan matanya tajam dan tanpa mengindahkan tanda yang menyala itu Carina mendorong pintu itu. Dia langsung masuk tanpa berpikir lagi. Langkahnya terhenti saat dilihatnya studionya berubah drastis. Hasil kerja mereka kemarin lenyap tak berbekas. Digantikan dengan backdrop yang sama sekali berbeda. Shelly sedang siaran langsung.
Sialan.
Carin berbalik dan menerobos Aji dan Mateo yang berdiri di belakangnya dengan mulut ternganga. Dengan langkah-langkah kayak prajurit mau perang, Carina berderap menuju lift, memencet tombol menuju ruang kerja Marco. Tangannya terkepal, amarahnya sudah sampai ubun-ubun. Carina berjalan menyusuri lorong menuju ruang kerja bosnya. Dia mengabaikan sapaan dari Sara dan langsung membuka pintu, menerobos masuk tanpa salam.
“Pak!” serunya, “apa maksudnya Shelly pake studio saya seenaknya?!”
Marco yang sedang minum kopinya hampir saja tersedak, dia mengelap kopinya yang tumpah di kemejanya, “Aduh kamu ngagetin aja pagi-pagi, Rin.”
Carina melotot dan menunjuk keluar, “Sejak kapan ada jadwal Shelly siaran di studio hari ini?!”
Marco terlihat tenang, dia meletakkan cangkir kopinya, “Ya, kemarin kan sudah ada memonya kalau mulai hari ini kalian sharing studio. Kamu sudah beresin studionya?”
Carina menarik napas, “Kemarin saya sedang rearrange layout, anak-anak bela-belain lembur untuk itu. Dan pagi ini berantakan lagi gara-gara Shelly. Malah dia sekarang lagi ON AIR. Apa maksudnya ini?”
“Ya, abis dia ON AIR kamu bisa pake studionya, gitu aja kok repot?”
“REPOT?! Bapak gak tahu gimana pengorbanan kita kemarin untuk ngerjain layout dadakan?! Saya juga dikejar deadline!”
“Saya dengar kamu semalam malah berantem sama Arya, putus, ya?”
Rasanya Carin ingin mencabik-cabik wajah menyebalkan bosnya itu, “Gak ada hubungannya sama Arya, ini masalah pekerjaan. Saya mau studio saya kembali lagi.”
Marco mendesah, “Siapa yang ngerebut studio kamu? Saya cuma minta kamu sharing sama Shelly sementara studio dia lagi dirombak.”
“Kenapa gak suruh dia shooting di luar aja? Segmen dia gak banyak pake tempat. Bisa di mana aja. Di food court juga jadi. Beda sama program saya yang banyak pake konten, Pak.”
“Ya kamu ngalah sedikit lah sama junior kamu itu. Jangan pelit gitu dong, Rin.”
Mendengar kata pelit, Carina langsung meradang,“Pak, saya gak pelit. Saya cuma mempertahankan eksistensi program saya. Kalau begini caranya gimana kita mau mempertahankan kualitas? Untuk shooting aja kita harus sharing tempat. Atmosfirnya udah gak kondusif lagi. Tolong dipertimbangkan lagi, saya mau Shelly keluar dari studio saya hari ini juga. Jangan ganggu program saya.”
Tanpa mendengar jawaban dari Marco, Carina menghambur keluar ruangan dengan penuh amarah. Jantungnya berdegup kencang, napasnya memburu. Ini hari sial. Mood-nya benar-benar hancur. Pikirannya kacau. Dia ingin kabur, dia muak dengan orang-orang di kantornya.
*
To be continued~
SE 09 – The PlanJakarta. Juli, 2019.Sara berdiri di lorong, kaget dengan peristiwa yang baru saja dia curi dengar. Suara Carina terdengar sampai luar. Dia nggak menyangka Carina punya cukup nyali untuk protes keras pada Marco. Sara mencegat Carina yang hendak berjalan melewatinya.“Say, tunggu,” tahan Sara, “lo gak apa-apa?” tanyanya prihatin.Carina mengusap wajahnya, dia berusaha keras menahan air matanya, “Ya,” suaranya tercekat di tenggorokan.Sara menariknya untuk masuk ke dalam kubikelnya, “Sini, minum dulu.”Carina menurut, dia membiarkan dirinya dibimbing oleh Sara untuk duduk di kursi sementara Sara mengeluarkan sebotol Evian dari kulkas mininya. Dia menyodorkan botol air mineral premium itu pada Carina, “Sorry gue tadi denger suara lo,”Carina meneguk airnya dan mengangguk, “Ya, gue tadi gak kontrol suara gue.”Sara mengangguk, “Tapi kadang Marco memang harus diingetin. Dia terlalu menganak-emaskan Shelly. Lo tahu kan kalau Shelly ngabisin banyak uang untuk Marco?”Carina
SE 08 – Phobia of WomenLondon. Juli, 2019 Sepeninggal Pamannya, Alfred pergi ke kamarnya dan mengurung diri di sana sampai waktu makan malam tiba. Veronica Wellington, yang akrab disapa Vera, adik bungsunya mengetuk pintu dan menyuruh Alfred keluar untuk makan malam.“Hai,” sapa Alfred, dia membuka pintu sedikit, “can you tell Mummy I skip dinner tonight?”Vera memandangnya sambil bersedekap.“Please?” tanya Alfred dengan wajah memelas.Vera mendesah, “What is it this time?” tanyanya setengah menggerutu.Alfred hanya tersenyum lemah, “Thank you, Sis. See you tomorrow.”Vera memutar bola matanya dengan jengkel dan melangkah pergi meninggalkan kamar Alfred, “Aku gak tanggung jawab kalau Mummy datang menjemputmu, ya!” serunya sambil melambai.Alfred menyeringai dan menutup pintu kamarnya, tidak lupa menguncinya agar ibunya tidak bisa sembarangan masuk. Dia duduk di meja kerjanya yang menghadap jendela dan balkon kamar, termenung sejenak dan membuka sebuah jurnal bersampul kulit milikny
SE 07 – ON AIRJakarta. Juli, 2019. Carina tidak mempercayai pendengarannya. Arya baru saja memberikan syarat paling konyol yang pernah dia dengar. Apa dia bilang? Mereka bisa jalan lagi kalau dia lepas dari ketergantungannya dengan voucher. Ketergantungan? Memangnya dia apa? Pemakai narkoba sampai ketergantungan begitu?Carina menatap Arya, dalam sekejap, laki-laki tampan itu berubah menjadi menyebalkan. Tangannya gatal ingin menghapuskan senyum sombong itu dari wajahnya. Dia mengepalkan tangannya menahan marah.“Carin,” Arya menghela napas lelah, “kamu sadar gak sih, dari awal kita pacaran kamu selalu bicara tentang voucher, diskon, cashback. Setiap kita jalan keluar dan makan, harus pakai kupon potongan harga dan kamu pasti cari restoran yang suka ngasih cashback. Bahkan sekarang, kamu pakai voucher yang hampir habis masa kadaluarsanya. Kamu itu luar biasa, ya. Mending kamu hidup sama voucher dan diskonanmu itu aja. Jadi orang kok pelit banget!”Carina tidak menjawab, dia berdiri,
SE 06 – Duke of WellingtonLondon. Juli, 2019. Duke of Wellington sedang mencoba jam tangan barunya, dia memutar-mutar pergelangan tangannya, memeriksa tampilan jam tangannya yang mewah dan bertabur berlian. Dia mengangguk-angguk, mengagumi karya terbaik dari produsen jam tangan terkenal asal Swiss itu.“This is okay, I’ll take it,” ujarnya dengan logat British yang kental.Pramuniaga laki-laki itu mengangguk dengan takzim, dia membantu melepas jam tangan dari pergelangan tangan sang Duke yang masih muda itu.“Mungkin Anda ingin melihat-lihat arloji yang lain untuk dihadiahkan pada Lady Wellington, Sir?” tawar si manajer toko. Dia berpakaian khas butler lengkap dengan sarung tangan putihnya.“Hmm... ada yang baru?” Duke yang punya nama asli James Alfred Wellington bertanya.Si manajer toko menjetikkan jarinya dan pramuniaga lain langsung bergegas mengambil sebuah arloji buatan tangan bertabur swarovski, “Baru saja datang dari pengrajin kami di Swiss. Hanya ada dua puluh buah di dunia
Jakarta. Juli, 2019 Sisa hari itu Carina habiskan untuk buat backdrop baru dan mengatur ulang studio. Masalahnya muncul saat ia melihat memo dari Marco yang menyuruh Carina untuk segera mengatur studio dan memberikan space untuk krunya Shelly. Mau gak mau Carina dkk harus kerja lembur untuk memenuhi permintaan dari big boss mereka.Carina mengetik di laptopnya sambil ngomel-ngomel, “Gila, ya. Lo pikir kita Sangkuriang bisa ngerjain kayak beginian dalam semalam? Gue kutuk juga lu jadi batu!”“Itu mah Malin Kundang, Bu, bukan Sangkuriang,” ujar Aji.“Eh, iya ya?” ujar Carina menghentikan kegiatan mengetiknya. Dia terdiam sejenak mengingat-ingat jalan cerita folklore yang sudah lama dilupakannya. “Tahu lah, pokoknya gue kutuk tuh si Marco sama Shelly jadi batu!”Panji dan kawan-kawannya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menahan senyum, bos kecil mereka memang suka mendadak aneh kalau lagi kumat gilanya.“Sekarang jam berapa, Ji?” tanya Carina tanpa mengalihkan matanya dari layar la
SE – 04Mall yang dituju Carina gak jauh dari kantornya, jadi dalam sepuluh menit dia sudah sampai. Segera Carina memulai perburuannya mencari kado yang cocok untuk Arya. Dia tahu selera Arya lumayan tinggi, jadi kali ini Carina akan berbaik hati dan sedikit menghamburkan uang demi pacarnya itu. Dia ingin Arya terkesan dengan hadiahnya kali ini. Lagipula Carina tahu kalau Arya menginginkan kejutan darinya. Sudah dua tahun perjalanan cinta mereka dan Carina ingin agar mereka segera meresmikan hubungan. Ayah dan Ibu sudah berkali-kali bertanya kapan Arya datang ke rumah membawa orang tuanya. Lama-lama Carina gerah juga ditanya terus, jadi sepertinya hari ini adalah momen yang pas untuk mulai berdiskusi tentang ‘masa depan.’Carina berjalan perlahan memerhatikan etalase toko-toko high-end dengan merek-merek terkenal. Dia mulai dari mana?Dia masuk ke toko ZARA. Kebanyakan baju-baju dan aksesoris cewek, yang ada malah dia yang belanja. Carina buru-buru keluar sebelum nafsu belanjanya memb







