Beranda / Romansa / Sweet Escape / Phobia of Women

Share

Phobia of Women

Penulis: Serafina
last update Tanggal publikasi: 2026-09-26 08:06:44

SE 08 – Phobia of Women

London. Juli, 2019

Sepeninggal Pamannya, Alfred pergi ke kamarnya dan mengurung diri di sana sampai waktu makan malam tiba. Veronica Wellington, yang akrab disapa Vera, adik bungsunya mengetuk pintu dan menyuruh Alfred keluar untuk makan malam.

“Hai,” sapa Alfred, dia membuka pintu sedikit, “can you tell Mummy I skip dinner tonight?”

Vera memandangnya sambil bersedekap.

“Please?” tanya Alfred dengan wajah memelas.

Vera mendesah, “What is it this time?” tanyanya setengah menggerutu.

Alfred hanya tersenyum lemah, “Thank you, Sis. See you tomorrow.”

Vera memutar bola matanya dengan jengkel dan melangkah pergi meninggalkan kamar Alfred, “Aku gak tanggung jawab kalau Mummy datang menjemputmu, ya!” serunya sambil melambai.

Alfred menyeringai dan menutup pintu kamarnya, tidak lupa menguncinya agar ibunya tidak bisa sembarangan masuk. Dia duduk di meja kerjanya yang menghadap jendela dan balkon kamar, termenung sejenak dan membuka sebuah jurnal bersampul kulit miliknya. Setiap hari Alfred tidak pernah alpa menulis di jurnal itu. Tidak boleh ada yang menyentuhnya, apalagi membacanya. Dia akan menyisihkan satu jam setiap harinya untuk menulis. Sesuai dengan arahan dokternya, bahwa dia perlu mempunyai jurnal pribadi.

Di umurnya yang hampir berkepala tiga, Alfred masih belum punya pasangan. Teman-temannya sudah banyak yang menikah dan mempunyai anak, bahkan Brian, salah satu sahabat karibnya sudah bercerai dan menikah untuk yang kedua kalinya, bulan ini istrinya yang baru akan melahirkan anak ketiga. Sedangkan Alfred, berdekatan dengan perempuan saja dia tidak mampu. Alfred mengidap fobia yang cukup langka, dia takut terhadap perempuan. Sialnya, semua adik-adiknya adalah perempuan. Mereka tujuh bersaudara dengan Alfred sebagai kakak tertua. Dengan kondisinya yang fobia terhadap perempuan, sudah pasti berinteraksi dengan adik-adiknya adalah hal yang menakutkan baginya. Hanya dua orang perempuan yang sanggup bertahan dengannya, ibunya dan Vera. Yang lainnya memilih untuk menjaga jarak demi keselamatan kakaknya. Alfred pernah hampir mati gara-gara dipeluk oleh perempuan asing.

Sejak kejadian nahas itu keluarga Alfred memilih untuk meminimalisir kontak dengan perempuan. Hampir semua pelayan di rumah mereka adalah laki-laki, kecuali koki mereka adalah wanita paruh baya yang tidak pernah keluar dari dapur, jadi kesempatan dia untuk bertemu dengan Alfred adalah nol. Gara-gara fobianya itu pula, Alfred tidak pernah bisa pergi keluar dengan nyaman. Seperti saat dia berbelanja tadi, dia harus memeriksa apakah di dalam toko ada perempuan atau tidak. Dan itu mengesalkan karena populasi perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Perempuan ada di mana-mana. Mereka beredar dan berinteraksi. Mereka suka mendatanginya, tidak tahu kalau Alfred itu alergi dengan perempuan. Banyak wanita yang secara sengaja menunggunya saat keluar rumah, menghampirinya dan mengajak bersalaman. Hal kecil seperti berdiri berhadapan saja bisa buat Alfred muntah-muntah. Apalagi bersalaman, dia bisa langsung dibawa ke IGD.

Malam itu Alfred memilih untuk menulis jurnalnya, dia memerhatikan progress mental health log-nya dan tersenyum puas saat mengetahui bahwa keadaan mentalnya bisa dibilang cukup baik. Hari ini tidak ada trigger yang bisa membuat fobianya kumat.

“Kamu gak tahu gimana nikmatnya bercumbu dengan perempuan, Bro,” komentar Khalid suatu waktu Alfred memutuskan untuk menceritakan fobianya pada sahabatnya itu.

Alfred melirik Khalid sebal, semua orang tahu Khalid terkenal dengan tabiatnya yang suka gonta-ganti pacar seperti ganti baju. Kekasihnya dimana-mana. Dia sudah berpacaran dengan berbagai macam perempuan, mulai dari Lucy, gadis polos dari Leeds, Natasha, si Rusia yang jago berkuda, Aubrey, gadis berambut merah yang penuh semangat, Thalia, gadis Meksiko yang eksotis, Shradha dari India dan yang terakhir adalah Sophia Calligaris, perempuan Yunani yang dipacarinya saat Khalid berlibur di Pulau Mykonos.

“So what about these women you hate?” tanya Khalid penasaran, “mereka cewek-cewek cantik yang mendatangimu, seharusnya kamu menyambut mereka dengan tangan terbuka. They offer you something you need, Bro.”

Alfred paham betul apa yang dimaksud oleh Khalid. Bagi laki-laki seusianya, sudah waktunya Alfred memiliki pasangan dan menikah. Membina rumah tangga dan melahirkan anak-anak yang akan meneruskan gelar bangsawan yang diturunkan secara turun temurun.

“It’s not that simple,” ujar Alfred, “I don’t hate those women, I just can’t stand them.”

Khalid memandang Alfred dengan tatapan horor, “Yes, I know that feeling...” angguknya, “aku pernah pacaran dengan cewek psycho, kau ingat Sandra? Yang aku pikir dia cantik karena wajah dan namanya mirip dengan Sandra Bullock? Tapi ternyata dia psycho, Man. Aku hampir saja mati dibunuhnya gara-gara ketahuan selingkuh... menyeramkan!”

Alfred menggeleng, “Aku hanya tahu pacarmu dari foto-fotonya saja, tapi aku ingat kejadian itu. Man, that was awesome. Setelah mengalami kejadian itu, aku pikir kamu akan berakhir sepertiku, alergi dengan perempuan.”

“Shit. No, man. I cannot live without women. They are everything!” seru Khalid, “Come to papa, Baby...!”

Kadang orang-orang di sekitar mereka tidak habis pikir, kenapa dua orang sahabat yang berbeda karakter ini bisa langgeng persahabatannya. Khalid dengan tabiatnya yang doyan gonta-ganti perempuan, sedangkan Alfred yang tidak bisa dekat-dekat dengan perempuan.

“Kalian ini menarik,” ujar Vera pada Alfred setelah memergoki kakaknya ini FaceTime bersama dengan Khalid, “Kenapa tidak pacaran saja?”

Pertanyaannya langsung disambut dengan lemparan bantal dari Alfred.

“Sorry, Ver! He’s not my type!” seru Khalid dari seberang layar, tak lama sambungan terputus. Khalid keki diledek oleh anak bau kencur macam Veronica Rose Wellington.

***

Klub yang sedang dibangun oleh Frank berada di Camden Town, tempat nongkrong anak muda London. Dikelilingi dengan toko-toko, restoran dan live music venue membuat daerah ini cocok untuk membuka bisnis.

Frank menepuk punggung Alfred, “You come, Lads?” sapanya.

Alfred mengangguk, “Aku harus melihat uangku dipakai untuk apa,” jawabnya jujur.

Frank terkekeh dan menunjuk bangunan tiga lantai yang sedang direnovasi “Di atas sana akan ada rooftop untuk dinner dan lounge. Di lantai satu dan dua dipakai untuk bar, kau tahulah, bisnis food and beverage seperti biasa. Tapi tunggu sampai kau melihat ruang utamanya.”

Alfred mengerutkan keningnya tidak mengerti.

Senyum Frank makin lebar, dia merangkul bahu Alfred dan mengajaknya untuk masuk ke dalam bangunan setengah jadi itu. Dengan langkah hati-hati Alfred mengikuti Frank masuk ke dalam, di lantai satu yang cukup luas itu. Para pekerja sedang sibuk memasang perabotan built-in.

“Di sini akan ada panggung kecil untuk live music. Classical, jazz, RnB, pokoknya temanya White Tie. Kamu bisa relax dan dinner date dengan nyaman,” ujar Frank dengan bersemangat.

Alfred mengangguk-angguk memahami visi yang sedang dibicarakan Frank.

“Kemudian, kalau kamu masuk ke sini...” Frank mengajak Alfred memasuki sebuah lorong yang cukup gelap dan menuruni tangga ke arah basement, “Kau akan menemukan arti klub yang sebenarnya,” nada suaranya dibuat semisterius mungkin, hingga Alfred penasaran.

Frank membuka sebuah pintu dan masuk ke dalam ruangan yang sangat luas. Luasnya hampir satu lapangan bola.

“Bloody... hell...” Alfred ternganga menatap pemandangan di hadapannya. Orang tidak akan mengira kalau saat ini mereka sedang berada di basement.

Frank merentangkan kedua tangannya dengan bangga, “Beautiful, eh?” serunya, senang melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Alfred, “What do you think?”

“This is insane, Uncle!” seru Alfred, “woah!” dia tidak bisa mengucapkan apa-apa. Perlahan Alfred mengelilingi lapangan yang disulap menjadi venue underground terbaik yang pernah ada.

“It took almost 6 months to build this giant beauty,” ujar Frank, “aku hampir gila dibuatnya, tapi semuanya terbayar setelah melihat hasilnya.”

Alfred mengangguk-angguk, “How about sound proof?”

“The best. Semalam kami sudah menguji coba dan semuanya aman-aman saja. Hopefully, si cantik ini bisa segera dibuka sesuai target,” Frank memandang berkeliling ruangan favoritnya itu dengan pandangan memuja.

Alfred merangkul bahu Frank, “Great job, Uncle. Aku tahu keputusanku untuk berinvestasi padamu tidak akan pernah salah.”

“Beri tahu temanmu itu agar dia tertarik untuk berinvestasi pada kita. Aku membutuhkan banyak dana untuk biaya operasional. Investasi darinya bisa jadi suntikan dana tambahan bagi perusahaan.”

Alfred mengangguk patuh, “Tentu saja, aku akan mengirimkan video padanya. Kau tidak keberatan aku mengambil video?”

“Sure, it is yours, Al!” seru Frank bersemangat.

“What?” tanya Alfred bingung.

Frank tersenyum, “So, kamu mau menamainya apa?”

*

To be continued~

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sweet Escape   The Plan

    SE 09 – The PlanJakarta. Juli, 2019.Sara berdiri di lorong, kaget dengan peristiwa yang baru saja dia curi dengar. Suara Carina terdengar sampai luar. Dia nggak menyangka Carina punya cukup nyali untuk protes keras pada Marco. Sara mencegat Carina yang hendak berjalan melewatinya.“Say, tunggu,” tahan Sara, “lo gak apa-apa?” tanyanya prihatin.Carina mengusap wajahnya, dia berusaha keras menahan air matanya, “Ya,” suaranya tercekat di tenggorokan.Sara menariknya untuk masuk ke dalam kubikelnya, “Sini, minum dulu.”Carina menurut, dia membiarkan dirinya dibimbing oleh Sara untuk duduk di kursi sementara Sara mengeluarkan sebotol Evian dari kulkas mininya. Dia menyodorkan botol air mineral premium itu pada Carina, “Sorry gue tadi denger suara lo,”Carina meneguk airnya dan mengangguk, “Ya, gue tadi gak kontrol suara gue.”Sara mengangguk, “Tapi kadang Marco memang harus diingetin. Dia terlalu menganak-emaskan Shelly. Lo tahu kan kalau Shelly ngabisin banyak uang untuk Marco?”Carina

  • Sweet Escape   Phobia of Women

    SE 08 – Phobia of WomenLondon. Juli, 2019 Sepeninggal Pamannya, Alfred pergi ke kamarnya dan mengurung diri di sana sampai waktu makan malam tiba. Veronica Wellington, yang akrab disapa Vera, adik bungsunya mengetuk pintu dan menyuruh Alfred keluar untuk makan malam.“Hai,” sapa Alfred, dia membuka pintu sedikit, “can you tell Mummy I skip dinner tonight?”Vera memandangnya sambil bersedekap.“Please?” tanya Alfred dengan wajah memelas.Vera mendesah, “What is it this time?” tanyanya setengah menggerutu.Alfred hanya tersenyum lemah, “Thank you, Sis. See you tomorrow.”Vera memutar bola matanya dengan jengkel dan melangkah pergi meninggalkan kamar Alfred, “Aku gak tanggung jawab kalau Mummy datang menjemputmu, ya!” serunya sambil melambai.Alfred menyeringai dan menutup pintu kamarnya, tidak lupa menguncinya agar ibunya tidak bisa sembarangan masuk. Dia duduk di meja kerjanya yang menghadap jendela dan balkon kamar, termenung sejenak dan membuka sebuah jurnal bersampul kulit milikny

  • Sweet Escape   ON AIR

    SE 07 – ON AIRJakarta. Juli, 2019. Carina tidak mempercayai pendengarannya. Arya baru saja memberikan syarat paling konyol yang pernah dia dengar. Apa dia bilang? Mereka bisa jalan lagi kalau dia lepas dari ketergantungannya dengan voucher. Ketergantungan? Memangnya dia apa? Pemakai narkoba sampai ketergantungan begitu?Carina menatap Arya, dalam sekejap, laki-laki tampan itu berubah menjadi menyebalkan. Tangannya gatal ingin menghapuskan senyum sombong itu dari wajahnya. Dia mengepalkan tangannya menahan marah.“Carin,” Arya menghela napas lelah, “kamu sadar gak sih, dari awal kita pacaran kamu selalu bicara tentang voucher, diskon, cashback. Setiap kita jalan keluar dan makan, harus pakai kupon potongan harga dan kamu pasti cari restoran yang suka ngasih cashback. Bahkan sekarang, kamu pakai voucher yang hampir habis masa kadaluarsanya. Kamu itu luar biasa, ya. Mending kamu hidup sama voucher dan diskonanmu itu aja. Jadi orang kok pelit banget!”Carina tidak menjawab, dia berdiri,

  • Sweet Escape   Duke of Wellington

    SE 06 – Duke of WellingtonLondon. Juli, 2019. Duke of Wellington sedang mencoba jam tangan barunya, dia memutar-mutar pergelangan tangannya, memeriksa tampilan jam tangannya yang mewah dan bertabur berlian. Dia mengangguk-angguk, mengagumi karya terbaik dari produsen jam tangan terkenal asal Swiss itu.“This is okay, I’ll take it,” ujarnya dengan logat British yang kental.Pramuniaga laki-laki itu mengangguk dengan takzim, dia membantu melepas jam tangan dari pergelangan tangan sang Duke yang masih muda itu.“Mungkin Anda ingin melihat-lihat arloji yang lain untuk dihadiahkan pada Lady Wellington, Sir?” tawar si manajer toko. Dia berpakaian khas butler lengkap dengan sarung tangan putihnya.“Hmm... ada yang baru?” Duke yang punya nama asli James Alfred Wellington bertanya.Si manajer toko menjetikkan jarinya dan pramuniaga lain langsung bergegas mengambil sebuah arloji buatan tangan bertabur swarovski, “Baru saja datang dari pengrajin kami di Swiss. Hanya ada dua puluh buah di dunia

  • Sweet Escape   Dinner Date

    Jakarta. Juli, 2019 Sisa hari itu Carina habiskan untuk buat backdrop baru dan mengatur ulang studio. Masalahnya muncul saat ia melihat memo dari Marco yang menyuruh Carina untuk segera mengatur studio dan memberikan space untuk krunya Shelly. Mau gak mau Carina dkk harus kerja lembur untuk memenuhi permintaan dari big boss mereka.Carina mengetik di laptopnya sambil ngomel-ngomel, “Gila, ya. Lo pikir kita Sangkuriang bisa ngerjain kayak beginian dalam semalam? Gue kutuk juga lu jadi batu!”“Itu mah Malin Kundang, Bu, bukan Sangkuriang,” ujar Aji.“Eh, iya ya?” ujar Carina menghentikan kegiatan mengetiknya. Dia terdiam sejenak mengingat-ingat jalan cerita folklore yang sudah lama dilupakannya. “Tahu lah, pokoknya gue kutuk tuh si Marco sama Shelly jadi batu!”Panji dan kawan-kawannya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menahan senyum, bos kecil mereka memang suka mendadak aneh kalau lagi kumat gilanya.“Sekarang jam berapa, Ji?” tanya Carina tanpa mengalihkan matanya dari layar la

  • Sweet Escape   Special Price

    SE – 04Mall yang dituju Carina gak jauh dari kantornya, jadi dalam sepuluh menit dia sudah sampai. Segera Carina memulai perburuannya mencari kado yang cocok untuk Arya. Dia tahu selera Arya lumayan tinggi, jadi kali ini Carina akan berbaik hati dan sedikit menghamburkan uang demi pacarnya itu. Dia ingin Arya terkesan dengan hadiahnya kali ini. Lagipula Carina tahu kalau Arya menginginkan kejutan darinya. Sudah dua tahun perjalanan cinta mereka dan Carina ingin agar mereka segera meresmikan hubungan. Ayah dan Ibu sudah berkali-kali bertanya kapan Arya datang ke rumah membawa orang tuanya. Lama-lama Carina gerah juga ditanya terus, jadi sepertinya hari ini adalah momen yang pas untuk mulai berdiskusi tentang ‘masa depan.’Carina berjalan perlahan memerhatikan etalase toko-toko high-end dengan merek-merek terkenal. Dia mulai dari mana?Dia masuk ke toko ZARA. Kebanyakan baju-baju dan aksesoris cewek, yang ada malah dia yang belanja. Carina buru-buru keluar sebelum nafsu belanjanya memb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status