FAZER LOGINSE 54 – Jump for LifeFlight to DOHA, August, 2019. “Kakak!” seruan nyaring dari Delia terdengar akrab, Carina tersenyum dan merentangkan kedua tangannya. Delia menyambut kakaknya dan memeluknya erat “Akhirnya lo pulang juga.”Carina tersenyum lebar, mengabaikan selapis air mata yang memenuhi bola matanya “Ya, akhirnya...” suaranya tercekat di tenggorokan“How was your flight?” tanya Delia.“Oh!” Carina teringat dengan kejadian yang baru saja dialami, apakah itu mimpi? Dia celingukan mencari Alfred.“Kenapa?” tanya Delia heran “Lo nyari siapa?”“Al!” seru Carina sambil menepuk-nepuk bahu Delia, dia celingukan mencari-cari sosok Alfred “Al! Di mana dia?”“Lo ngomong apa sih?” tanya Delia heran, dia ikutan menoleh kiri-kanan mencari entah-apa yang sedang dicari kakaknya.“Alfred!” seru Carina, dia menepuk bahu Delia keras-keras dan terbangun “HAH!” Carina membuka matanya lebar-lebar. Kaget karena dia masih hidup, yang pertama kali dilihatnya adalah kursi pesawat yang berada di atasnya.
SE 53 – The Family-FeudJakarta, August, 2019. Malam itu keluarga Carina di Jakarta sudah nyenyak tidur, kecuali Delia yang masih asyik nonton Youtube di kamarnya. Tiba-tiba saja ponsel Ayah berdering, nyaring. Langsung Ibu menyenggol Ayah “Yah, telepon tuh...” ujarnya setengah mengantuk.Ayah hanya bergeser sebentar tapi tidak menyahut. Malah ngoroknya kembali terdengar.Ibu bangun dan mengambil ponsel Ayah yang tergeletak di nakas samping kasur, nama yang tertera di layar ‘HERMAN, KEDUTAAN.’“Yah, YAH!” Ibu menggoyang-goyangkan badan Ayah “Ini Pak Herman telepon, cepat angkat!”“Hah?” Ayah terbangun kaget.“Ini Pak Herman dari Kedutaan telepon. Angkat, barangkali ada kabar soal kakak,” desak Ibu sambil menyodorkan ponsel Ayah yang masih terus berdering.Ayah duduk di kasur dan menjawab panggilannya “Halo.”Ibu duduk di hadapan Ayah, menunggu dengan harap-harap cemas. Kantuknya hilang sudah, ada secercah harapan dari panggilan telepon itu. Ayah mendengarkan si penelepon “Ya.. ya, ad
SE 52 – I’ll Take You HomeIndonesian Embassy, London. August, 2019.Bapak Tony, seorang konsulat di Kedutaan Indonesia tidak pernah menyangka kalau akan kedatangan tamu yang tidak biasa. Laki-laki asli Inggris berpakaian formal itu memperkenalkan dirinya sebagai Patrick Fitzgerald. Pengacara.Setelah mengobrol sedikit, Mr. Patrick mengeluarkan dokumen dari tas nya dan menyodorkannya pada Pak Tony “I believe you might want to see this.”Dengan heran campur penasaran, Pak Tony menerima dokumen itu membaca isinya. Dia membelalak kaget “Is this true?”Patrick mengangguk dengan wajah serius “Saya kemari atas permintaan Mr. James Alfred, Duke of Wellington, beliau meminta paspor sementara untuk Nona Carina Firdaus. Bisakah Anda melakukannya dengan cepat?”Pak Tony membaca kembali dokumen yang berada di tangannya “Memang ada laporan orang hilang atas nama Carina. Dia sudah beberapa hari ini dicari oleh polisi dan kami. Terakhir kali dia terlihat keluar dari hotel The Grand di Trafalgar Squa
SE 51 – Khalid’s Phone CallWestminster, London, August. 2019“Khalid!” Alfred mengerutkan keningnya tidak suka saat melihat Carina tersenyum lebar saat menyapa sahabatnya.“How are you?” tanya Khalid terdengar khawatir “I’m so sorry. Really... I apologize.”“Tidak apa-apa, Khalid. Aku baik-baik saja sekarang,” ujar Carina, dia melirik Alfred heran, si Duke itu memandangnya dengan tajam, membuatnya salah tingkah.“Kamu sudah bertemu dengan Abel?” tanya Khalid lagi.“Ya, sudah. Terima kasih.”“Syukurlah, kalau begitu kamu bisa segera pulang ke Indonesia,” seru Khalid ceria.“Tapi pasporku hilang, kami akan mengurusnya besok.”“Oh, ya. Ya.” Khalid seperti teringat sesuatu “Carina, aku sangat sedih mendengar kamu mengalami kejadian tidak menyenangkan ini, tapi untunglah kamu bertemu dengan Al.”“Ya,” Carina menunduk, memainkan kuku jarinya. Dia merasa kikuk berada di bawah tatapan Alfred yang intens.“Al itu sahabatku. Dia memang orangnya agak aneh, tapi dia baik. Aku jamin dia orang bai
SE 50 – Everything’s Gonna be Alright Westminster Apartment, London. August. 2019 Alfred melirik Carina yang masih terisak. Dia mundur selangkah, tepat berada di belakang kursi Carina. Dia memerhatikan bahu gadis itu yang terguncang-guncang, kedua tangannya sibuk menutupi wajah dan mengusap air matanya.“Carina...” bisik Alfred.Tangis Carina berhenti. Dia menegakkan bahunya dan menarik ingusnya “I’m sorry...”“Are you alright?”Carina mengangguk cepat, tapi kemudian dia mendongak menatap Alfred, bibir dan dagunya bergetar sementara air mata kembali berkumpul di kelopak matanya. Dia menggeleng, tidak bisa menyembunyikan kesedihan hatinya.Alfred mengerutkan kedua alisnya, mendadak dia merasa hatinya terasa pedih. Dia mengepalkan tangannya, ikut menahan emosi yang membuncah dalam dada. Sialan, Frank!Ketukan di pintu mengagetkan mereka.“Come in,” jawab Alfred.Seorang bodyguard yang baru dilihat Carina membuka pintu, dia mengabarkan kalau pengacara Alfred sudah datang dan sedang me
SE 49 – The Video CallWestminster Suites, London. August, 2019. “Kakak... Kakak ada di mana? Cepet pulang, liburannya udahan. Ibu gak akan ngijinin kamu maen jauh-jauh lagi! Ayo, buruan pulang, nanti Ibu masak enak!”Carina menoleh kiri-kanan mencari asal suara Ibu. Suaranya terdengar dekat, tapi dia tidak menemukan sosok Ibu.“Ibu!” panggil Carina.“Kakak!”Ada balasan. Carina berlari mencari Ibu, “Ibu! Di mana?”“Ayo, kak. Cepat pulang. Gak usah lama-lama di sana...”“Iya, Bu.” Carina mulai menangis, karena dia tidak bisa melihat Ibu dimana-mana “Aku juga kepengen pulang, aku kangen, Bu....”“Pulang, nak...” suara Ibu kemudian menghilang.Carina terbangun dengan napas terengah-engah. Peluh menetes dari dahinya, tangannya bergetar saat dia menyibakkan rambut yang jatuh menutupi matanya. Carina merasakan pipinya basah oleh air mata, dia menarik napasnya dalam-dalam. Rasa sesak di dadanya tak tertahankan, walau berada di dalam kamar hotel yang mewah, dia tidak merasa nyaman lagi. Dia







