INICIAR SESIÓNJakarta, Juli. 2019
Alarm ponsel Carina berdering. Selain menunjukkan waktu subuh, ada notifikasi yang ngasih tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya Arya. Carina langsung terduduk kaget. Adduuhhh... dia lupa beli kado lagi. Setengah panik, dia membuka aplikasi G****e, mengecek harga barang yang diinginkan Arya sebagai kado. Dari bulan lalu Arya udah ngeluh kalau dia perlu ganti dompet, jadi Carina berencana untuk menghadiahinya dompet keren.
Selama setengah jam Carina duduk di atas tempat tidurnya, sibuk membuka aplikasi online shop, mencari dompet keren yang Arya inginkan tapi juga menjaga agar kantongnya gak jebol. Carina tersenyum puas karena sudah mendapatkan contoh dompet yang cocok. Kali ini dia bisa bangun dan mandi dengan tenang. Satu masalah selesai, dia yakin hari ini akan berjalan dengan lancar.
Seperti biasa Carina pergi ke kantor mengendarai sepedanya. Kali ini dia gak mampir ke warung nasi uduk Ibu Ningsih, karena tadi dia kelamaan browsing kado buat Arya, alhasil dia terlambat masuk kantor. Tapi dia masih sempat membungkus setangkup roti cokelat untuk bekal. Perlu waktu kurang lebih setengah jam perjalanan dari kosan Carina ke kantornya. Seperti biasa pula, pada jam-jam sibuk ini, antrean mobil sudah terlihat di depan gedung kantornya. Carina melewati pintu depan lobby dan melambai pada satpam yang kemarin baru di temuinya. “Pak Budi!” serunya sambil turun dari sepeda.
Budi, yang sedang berdiri di dekat tangga lobby bergegas menghampiri Carina, “Pagi, Bu,” sapanya dengan khidmat. Dia masih gak enak hati gara-gara kejadian kemarin.
“Maaf, Pak. Saya buru-buru, udah telat. Bisa minta tolong parkirkan sepeda saya?” tanya Carina sambil melepaskan helm yang dipakainya dan menyodorkannya ke arah Budi.
Budi gelagapan menerima helm, sepeda, dan kunci pengaman yang disodorkan oleh Carina, “Ya.. Bu.”
Tanpa menoleh lagi, Carina berlari melewati lobby kantornya menuju lift. Ternyata di depan lift sudah banyak orang, perempuan-perempuan berpakaian modis dengan highlight di rambut mereka. Serentak mereka menoleh melihat penampilan Carina yang apa adanya, hanya memakai kemeja lengan panjang dan celana jeans. Dia bermaksud mengganti pakaiannya di toilet sebelum absen, tapi sepertinya waktunya gak cukup. Beberapa perempuan yang gak dikenal Carina menatapnya dengan sinis.
“Carin!” seruan dari suara cowok membuat semua perempuan di sana menoleh ke asal suara.
Arya tersenyum dan melambai padanya, “Hai, babe!”
Rasanya Carina ingin kabur saat itu juga, dia bergegas menghampiri Arya dan berbisik, “Ngapain kamu di sini?”
Arya menatapnya heran, “Lha, aku kan kerja di sini.”
Stupid. Carina meringis dan kembali berbisik, “Maksud aku ngapain kamu di lobby ini? Biasanya kan langsung naik dari basement?”
Arya tersenyum, “Oh... itu, tadi aku ngeliat kamu masuk ke lobby, makanya buru-buru nyusul ke sini. Mobil aku minta parkir valet.”
Carina membelalak, “Valet ‘kan mahal!”
Arya melirik ke arah cewek-cewek yang masih berdiri di depan lift. Mereka berpura-pura acuh tak acuh, padahal nguping pembicaraan Arya dan Carina, “Ya, gak apa-apa, sekali-kali ini.”
Carina mendengus, “Sayang ‘kan uangnya.”
“Gak apa-apa, babe. Aku kangen sama kamu, makanya langsung ngejar kamu ke sini,” potong Arya sambil merangkul Carina. “Lift ini lama, yang ini aja,” Arya menarik Carina ke arah lift executive dan menempelkan sebuah kartu. Tak lama pintu lift terbuka.
Carina membelalak, “Kamu dapet akses executive?”
Arya hanya mengedip penuh konspirasi dan menarik Carina masuk ke dalam lift yang diperuntukkan bagi para executive, meninggalkan cewek-cewek yang masih menunggu lift yang tak kunjung datang.
“Hey, serius... kamu dapat dari mana akses itu?” tanya Carina masih penasaran sekaligus kaget. Arya itu levelnya sama sepertinya, mereka berdua berprofesi sebagai pembawa acara. Gajinya juga gak jauh beda. Hanya saja Arya lebih sering shooting di luar, karena programnya mengenai traveling. Sedangkan Carina harus puas shooting di dalam ruang studio yang sudah diatur sesuai segmen.
Arya terkekeh, “Aku pake punya Pak Mardi, kemarin ketinggalan di mejaku. Hari ini mau aku kembaliin, kok.”
Carina menepuk lengan Arya, “Dasar, ada-ada aja. Aku pikir kamu naik jabatan.”
“Kepengennyaaa...”
“Amiinnn...”
Setelah tawa mereka reda, Arya melirik Carina, “Babe, kamu inget gak hari ini hari apa?”
Carina pura-pura berpikir, “Hari Rabu? Kenapa?”
Arya cemberut, “Tanggal?”
“21. Masih lama gajiannya...”
Arya menghembuskan napasnya jengkel.
Carina tersenyum dan merangkul lengan Arya mesra, “Iyaa.. tahuu... hari ini ulang tahun kamuuu...”
Senyum Arya terbit, “Nah, gitu dong. Mana kadonya?”
“Idih, maen todong aja?”
“Kamu gak nyiapin kado buat aku?”
“Ya, nanti aja. Lagian sekarang masih pagi, boss. Kerja dulu, baru ngerayain ultah.”
“Janji, ya? Pulang kerja kita ngerayain ultah aku?” ujar Arya sambil merangkul bahu Carina, pintu lift terbuka di lantai departemen Carina. Arya mengecup kepalanya dan mendorong gadis itu keluar dari lift “Bye, babe!”
Carina hanya melambai sementara pintu lift menutup, wajah ceria Arya yang tersenyum padanya memberikan semangat baru.
“Heh, bengong depan lift!” tegur Indi sambil menyenggol pinggang Carina dengan pantatnya. “Gak absen?”
“Astagfirullah..!” Carina langsung berlari menuju ruangannya, meninggalkan Indy yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya itu.
***
Seharian ini Carina sibuk dengan pekerjaannya, dia sampai gak sempat makan siang. Roti yang dibawanya sudah ludes dilahap berdua dengan Panji. Entah kenapa hari ini semua orang mendadak kerja dengan giat. Dan semuanya minta diurus secepatnya.
Ketukan di pintu studio mengagetkan Carina dan timnya. Indi muncul sambil mengacungkan gelas-gelas kopi dari gerai favorit Carina, “Butuh asupan kafein?”
Kedatangannya disambut dengan hangat oleh Carina dkk. Panji dengan sigap menghampiri Indi dan mengambil bungkusan kopi dan cemilan, “Makasih, Mbak, you’re my saviour!”
Indy tersenyum lebar dan menepuk bahu Panji, “Istirahat dulu, deh. Udah ngebul tuh otak.”
Carina merentangkan kedua tangannya memeluk Indi, “Thank you, baby, honey bunny Indii... gak sia-sia gue temenan sama lo, baeek bangeett...”
Indi terkekeh dan merangkul Carina, “Lo jadi team leader jangan kebangetan dong. Kasian tim lo udah pada lecek begitu. Kesejahteraan karyawan itu penting, lho.”
“Heh, gue juga masih jadi kacung ini. Bos mah gak mikirin kita mau lecek kek, demek kek, yang penting kerjaan beres,” balas Carina sambil menerima gelas yang disodorkan Panji. “Eh, ini coffee latte, kan?”
“Udah sih, minum aja. Udah bagus dibawain masih nawar lagi?” keluh Indi, dia duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja meeting. “Berantakan banget, kalian lagi ngerjain apaan?”
“Ini, Bu, gara-gara mbak Shelly mau pake studio kita, jadinya mau gak mau ngerombak studio deh,” jawab Panji
Indi melirik Carina yang hanya bisa memutar bola matanya. Dia tersenyum maklum.
“Yahhh... gitu deh,” keluh Carina setelah menyeruput kopi pertamanya siang ini, “Mau marah gak bisa, ngamuk ntar dipecat, apalah kita ini dibanding Nyonya Shelly...”
Panji dan yang lainnya mengangguk-angguk, mengiyakan perkataan bos kecil mereka.
Indi bersedekap, “Kalian kan tahu politik yang dia pake untuk jilat big boss, kenapa gak dipake? Secara konten, program kalian lebih oke daripada punya Shelly, rating kalian juga stabil dibanding mereka. Kalau lo bisa lebih approach si bos,” ujar Indi pada Carina, “lo bisa dapetin studio yang lebih gede daripada ini, anggarannya tuh ada, Say.”
Carina menghela napas, “Maksud lo pake cara politik si Shelly yang saban bulan ngasih tas Braun Buffel buat bininya si Marco, gitu?”
Indy mengedipkan matanya, “Nah, itu ngerti.”
“Idih, gue sih ogah, ya!” seru Carina berapi-api. “Ngapain gue ngasih ke bininya Marco? Mereka itu dari orok udah kaya, ngapain nyantunin orang kaya? Mending gue santunan ke anak Yatim noh, udah jelas bakal didoain, doanya langsung diijabah lagi.”
Panji mengangguk-angguk bersemangat mendengar petuah dari Carina yang emosional.
“Lagian ya, beb, kerja yang lempeng-lempeng ajalah. Gue bukan tipe penjilat, gak ada bakat dari lahir. Emak gue gak pernah ngajarin kaya begitu... Lo juga mendingan gak usah ikut-ikutan si Shelly dan Sara, gak akan kuat. Mereka juga masuk ke sini karena koneksi, gak kaya kita yang harus berdarah-darah dulu baru direkrut. Gue inget tuh waktu Shelly masuk. Sekali interview, besoknya kerja. Segini juga udah alhamdulillah, yang penting cukup buat makan sama jajan,” tambah Carina mendadak berwibawa.
Indi menghembuskan napas, “Gue juga udah capek sih keep up soal yang satu itu sama mereka.”
“Nah, kan? Apalagi lo baru punya baby. Pasti pengeluaran lebih banyak. Stop deh nge-hedon cuma buat ngikutin gaya hidup mereka.”
Indi tercenung, “Tapi kalau gak begitu kita gak akan di-notice, Say.”
Mateo terkekeh, “Bu, ikutin aja style-nya Bu Carin. Beliau gak nge-hedon tapi jadi omongan terus tuh...”
Carina melotot pada Mateo “Maksud lo apeee?”
“Iya bu, bu Carin ini the best lah pokoknya. Setiap ke departemen lain saya pasti ditanya, kamu betah satu tim sama Carin Voucher?”
“Carin Voucher?” tanya Carina.
“Ooppss...!” Panji menutup mulutnya dengan tampang horor.
Indi dan yang lainnya terbahak.
“Kurang ajaarrr... Jadi selama ini gue terkenal karena voucher?!”
“Ya, lo kan emang ratunya voucher, babe!” gelak Indi.
Carina manyun, “Emang salah ya, kalau gue hobi pake voucher? Buat apa dong itu voucher dikeluarin kalau gak dipake?”
Indi dan anak buahnya mengulum senyum melihat wajah Carina yang memelas. Sudah jadi rahasia umum kalau Carina selalu memakai voucher untuk semua kebutuhannya. Tapi sebenarnya ada sisi baiknya Carina penggila voucher, kadang mereka mendapatkan informasi berguna karena Carina.
“Ndi, lo inget nggak waktu itu lo harus ngasih kado ke mertua lo tapi gak sempet belanja? Boro-boro deh shopping, buat kencing aja udah syukur, deh. Inget, gak?” tanya Carina.
Indi mengangguk. Dia ingat banget dua bulan yang lalu mertuanya merayakan golden anniversary dan dia terjebak dalam deadline, gak ada waktu buat belanja hadiah. Untungnya Carina datang memberikan beberapa lembar voucher MAP yang bisa dipakai di banyak outlet. Awalnya Indi sangsi memberikan voucher sebagai hadiah, tapi karena waktu itu dia udah mentok, ide dari Carina dipakai juga. Untunglah, mertuanya senang dengan hadiah voucher, dia malah bilang, “Wah, asyik nih, bisa bebas milih kado.”
“Iya, makanya jangan ngeremehin voucher!” ujar Carina puas.
“Iya, iya, bossque, hamba mengaku bersalah...” Indi menggerakkan kedua tangannya berpose menyembah.
Carina mendesah, “Ngomong-ngomong soal kado...” dia melirik jam tangannya, “gue harus keluar sebentar nih, Mat. Ada yang perlu dibeli.”
Mateo yang asyik dengan kerjaannya mengecat papan mendongak, “Ya?”
Carina meraih tasnya, “Sebentar ya, satu jam aja.”
“Mau ke mana lo?” tanya Indi heran.
Carina mendorong Indi untuk keluar dari studionya agar tidak didengar oleh anak-anak. Dia berbisik, “Gue lupa beli kado buat Arya, hari ini dia ultah.”
“Oalahh... sampe lupa begitu sama ultah laki lo sendiri!”
“Ssstt...!” Carina buru-buru merangkul lengan Indi dan mengajak sahabatnya itu untuk bergegas pergi, “iya, makanya gue mau cabut dulu sebentar cari kado, terus balik lagi.”
“Emang mau beli kado apa?”
“Arya sih kepengan dompet.”
Indi mengangguk, dia memencet tombol lift, “Perlu ditemenin gak?”
Carina menggeleng, “Gak usah, gue bakal cepet, kok. Lagian lo kok kerjaannya gerecokin gue aja? Magabut lu!”
“Sialan. Ya udah, gue balik dulu, daaahhh...!”
Carina melambai pada Indi yang berjalan menyusuri lorong menuju kubikelnya yang berada di seberang lorong. Tepat saat itu, pintu lift terbuka, Carina langsung melompat masuk ke dalam. Waktunya hanya sedikit, kali ini dia gak bisa naik sepeda, jadi sebaiknya pesan ojol aja. Cepat dan hemat. Ada diskon pula!
*
To be continued~
SE 09 – The PlanJakarta. Juli, 2019.Sara berdiri di lorong, kaget dengan peristiwa yang baru saja dia curi dengar. Suara Carina terdengar sampai luar. Dia nggak menyangka Carina punya cukup nyali untuk protes keras pada Marco. Sara mencegat Carina yang hendak berjalan melewatinya.“Say, tunggu,” tahan Sara, “lo gak apa-apa?” tanyanya prihatin.Carina mengusap wajahnya, dia berusaha keras menahan air matanya, “Ya,” suaranya tercekat di tenggorokan.Sara menariknya untuk masuk ke dalam kubikelnya, “Sini, minum dulu.”Carina menurut, dia membiarkan dirinya dibimbing oleh Sara untuk duduk di kursi sementara Sara mengeluarkan sebotol Evian dari kulkas mininya. Dia menyodorkan botol air mineral premium itu pada Carina, “Sorry gue tadi denger suara lo,”Carina meneguk airnya dan mengangguk, “Ya, gue tadi gak kontrol suara gue.”Sara mengangguk, “Tapi kadang Marco memang harus diingetin. Dia terlalu menganak-emaskan Shelly. Lo tahu kan kalau Shelly ngabisin banyak uang untuk Marco?”Carina
SE 08 – Phobia of WomenLondon. Juli, 2019 Sepeninggal Pamannya, Alfred pergi ke kamarnya dan mengurung diri di sana sampai waktu makan malam tiba. Veronica Wellington, yang akrab disapa Vera, adik bungsunya mengetuk pintu dan menyuruh Alfred keluar untuk makan malam.“Hai,” sapa Alfred, dia membuka pintu sedikit, “can you tell Mummy I skip dinner tonight?”Vera memandangnya sambil bersedekap.“Please?” tanya Alfred dengan wajah memelas.Vera mendesah, “What is it this time?” tanyanya setengah menggerutu.Alfred hanya tersenyum lemah, “Thank you, Sis. See you tomorrow.”Vera memutar bola matanya dengan jengkel dan melangkah pergi meninggalkan kamar Alfred, “Aku gak tanggung jawab kalau Mummy datang menjemputmu, ya!” serunya sambil melambai.Alfred menyeringai dan menutup pintu kamarnya, tidak lupa menguncinya agar ibunya tidak bisa sembarangan masuk. Dia duduk di meja kerjanya yang menghadap jendela dan balkon kamar, termenung sejenak dan membuka sebuah jurnal bersampul kulit milikny
SE 07 – ON AIRJakarta. Juli, 2019. Carina tidak mempercayai pendengarannya. Arya baru saja memberikan syarat paling konyol yang pernah dia dengar. Apa dia bilang? Mereka bisa jalan lagi kalau dia lepas dari ketergantungannya dengan voucher. Ketergantungan? Memangnya dia apa? Pemakai narkoba sampai ketergantungan begitu?Carina menatap Arya, dalam sekejap, laki-laki tampan itu berubah menjadi menyebalkan. Tangannya gatal ingin menghapuskan senyum sombong itu dari wajahnya. Dia mengepalkan tangannya menahan marah.“Carin,” Arya menghela napas lelah, “kamu sadar gak sih, dari awal kita pacaran kamu selalu bicara tentang voucher, diskon, cashback. Setiap kita jalan keluar dan makan, harus pakai kupon potongan harga dan kamu pasti cari restoran yang suka ngasih cashback. Bahkan sekarang, kamu pakai voucher yang hampir habis masa kadaluarsanya. Kamu itu luar biasa, ya. Mending kamu hidup sama voucher dan diskonanmu itu aja. Jadi orang kok pelit banget!”Carina tidak menjawab, dia berdiri,
SE 06 – Duke of WellingtonLondon. Juli, 2019. Duke of Wellington sedang mencoba jam tangan barunya, dia memutar-mutar pergelangan tangannya, memeriksa tampilan jam tangannya yang mewah dan bertabur berlian. Dia mengangguk-angguk, mengagumi karya terbaik dari produsen jam tangan terkenal asal Swiss itu.“This is okay, I’ll take it,” ujarnya dengan logat British yang kental.Pramuniaga laki-laki itu mengangguk dengan takzim, dia membantu melepas jam tangan dari pergelangan tangan sang Duke yang masih muda itu.“Mungkin Anda ingin melihat-lihat arloji yang lain untuk dihadiahkan pada Lady Wellington, Sir?” tawar si manajer toko. Dia berpakaian khas butler lengkap dengan sarung tangan putihnya.“Hmm... ada yang baru?” Duke yang punya nama asli James Alfred Wellington bertanya.Si manajer toko menjetikkan jarinya dan pramuniaga lain langsung bergegas mengambil sebuah arloji buatan tangan bertabur swarovski, “Baru saja datang dari pengrajin kami di Swiss. Hanya ada dua puluh buah di dunia
Jakarta. Juli, 2019 Sisa hari itu Carina habiskan untuk buat backdrop baru dan mengatur ulang studio. Masalahnya muncul saat ia melihat memo dari Marco yang menyuruh Carina untuk segera mengatur studio dan memberikan space untuk krunya Shelly. Mau gak mau Carina dkk harus kerja lembur untuk memenuhi permintaan dari big boss mereka.Carina mengetik di laptopnya sambil ngomel-ngomel, “Gila, ya. Lo pikir kita Sangkuriang bisa ngerjain kayak beginian dalam semalam? Gue kutuk juga lu jadi batu!”“Itu mah Malin Kundang, Bu, bukan Sangkuriang,” ujar Aji.“Eh, iya ya?” ujar Carina menghentikan kegiatan mengetiknya. Dia terdiam sejenak mengingat-ingat jalan cerita folklore yang sudah lama dilupakannya. “Tahu lah, pokoknya gue kutuk tuh si Marco sama Shelly jadi batu!”Panji dan kawan-kawannya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menahan senyum, bos kecil mereka memang suka mendadak aneh kalau lagi kumat gilanya.“Sekarang jam berapa, Ji?” tanya Carina tanpa mengalihkan matanya dari layar la
SE – 04Mall yang dituju Carina gak jauh dari kantornya, jadi dalam sepuluh menit dia sudah sampai. Segera Carina memulai perburuannya mencari kado yang cocok untuk Arya. Dia tahu selera Arya lumayan tinggi, jadi kali ini Carina akan berbaik hati dan sedikit menghamburkan uang demi pacarnya itu. Dia ingin Arya terkesan dengan hadiahnya kali ini. Lagipula Carina tahu kalau Arya menginginkan kejutan darinya. Sudah dua tahun perjalanan cinta mereka dan Carina ingin agar mereka segera meresmikan hubungan. Ayah dan Ibu sudah berkali-kali bertanya kapan Arya datang ke rumah membawa orang tuanya. Lama-lama Carina gerah juga ditanya terus, jadi sepertinya hari ini adalah momen yang pas untuk mulai berdiskusi tentang ‘masa depan.’Carina berjalan perlahan memerhatikan etalase toko-toko high-end dengan merek-merek terkenal. Dia mulai dari mana?Dia masuk ke toko ZARA. Kebanyakan baju-baju dan aksesoris cewek, yang ada malah dia yang belanja. Carina buru-buru keluar sebelum nafsu belanjanya memb







