Share

Sweet Trouble
Sweet Trouble
Author: Pipit Chie

BAB 1

Author: Pipit Chie
last update publish date: 2026-09-25 15:03:40

Bagian yang paling kubenci dalam jatuh cinta adalah patah hati. Terkadang, kupikir menjadi bagian dari hidup seseorang adalah sesuatu yang tidak terlalu istimewa, sampai aku bertemu dengannya. Ia membuatku berharap pada kehidupan. Ia membuatku menginginkan kebahagiaan. Ya, kupikir aku bisa menggapai semua itu. Tapi aku lupa bahwa hidup memang suka bercanda. Memberiku harapan hanya untuk membuatku kecewa. Dia… yang kuharapkan menjadi sandaran, ternyata telah memiliki persinggahan. Sialan, betapa bodohnya aku yang tak pernah melihat bahwa ia tidak akan pernah menatapku seperti caraku menatapnya.

”Mereka cocok,” gumam Erika.

”Hmm.”

Aku pun hanya bergumam singkat sebagai jawaban. Mataku terus tertuju padanya yang sedang berbahagia di atas pelaminan bersama pasangannya.

”Kok lo kelihatan nggak happy di pernikahan temen lo sendiri?”

”Gue happy,” kilahku cepat.

“Masa? Lo banyak diem dari tadi.”

”Mikirin cicilan.” Jawaban yang tentunya akan membuat Erika berhenti mengorek tentang perasaanku sekarang.

“Sial, ngomongin cicilan, dua hari lagi jatuh tempo cicilan gue. Ah, bad mood gue mikirin itu.”

Bahkan yang kurasakan sekarang, jauh lebih menyebalkan daripada memikirkan jatuh tempo cicilan yang sudah di depan mata.

Pria itu tersenyum dengan lebarnya, mencium pipi istrinya dengan kebahagiaan yang meluap-luap. Senyum lebarnya mengancam akan membuat wajahnya retak. Dan aku lebih suka itu terjadi. Wajah tampan itu retak, hancur, lalu musnah.

Aku bukan wanita berhati rendah yang akan bahagia di atas kebahagiaan orang lain. Aku tidak sesuci itu. Bahkan jika aku berusaha untuk bahagia, aku tidak mampu melakukannya. Bukan salahnya, bukan salahku pula yang jatuh cinta. Perasaan itu datang di waktu yang tidak tepat, pada orang yang tidak tepat pula. Tapi jika aku boleh membela diri, aku yang lebih dulu mengenalnya. Aku yang lebih dulu berdiri di sampingnya. Akulah orang yang selalu menyakinkannya bahwa dunianya akan baik-baik saja di saat dia merasa dunianya akan hancur. Aku orang yang berkorban banyak meskipun aku tidak pernah ingin meminta balasannya. Meskipun ada bagian dari diriku yang ingin meminta sedikit rasa darinya.

Membicarakan ini membuatku tampak begitu menyedihkan.

”Gue mau ambil minum dulu.”

Kuputar tubuh membelakangi pelaminan, menyembunyikan raut kecewa yang tidak berhak kutunjukkan. Langkahku yang berat terarah menuju meja minuman. Mengambil segelas minuman di sana lalu berbalik. Tepat saat itulah seseorang datang begitu saja lalu membuat minuman itu tumpah mengenai gaunku.

Sial kuadrat! Tidak bisakah aku melewati malam ini tanpa gangguan?

Kepalaku menunduk, menatap noda merah di gaun pastel. Seharusnya aku memakai gaun hitam saja tadi. Mengapa aku malah memilih gaun dengan warna ini? Noda merah yang kini meresap ke dalam serat pakaian membuatku semakin tampak begitu menyedihkan.

”Maaf, saya nggak sengaja.”

”Nggak punya mata?”

Kepalaku terangkat, sejenak kedua mataku membulat lalu berkedip cepat. Dari mana datangnya pria tampan ini?

”Sorry banget, salah saya yang nggak lihat jalan. Saya tadi lagi balas chat seseorang. Sorry.”

“Sorry doang nggak bikin nodanya hilang,” ketusku jengkel.

Biasanya aku bersikap baik, tapi malam ini suasana hatiku sedang buruk. Kuletakkan gelas yang nyaris saja kulempar ke lantai karena kesal. Mengibas rok bernoda yang kini tampak semakin jelek karena nodanya sudah menyebar dan meresap ke dalam serat-serat kain.

”Sorry—“ Dia menutup mulutnya saat aku mengangkat wajah menatapnya tajam. “Tapi saya beneran minta maaf.” Pria itu mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku celananya. Sapu tangan yang lebih cocok untuk mengelap air mata ketimbang mengelap noda wine dari gaunku ini. “Boleh saya bantu bersihkan?”

”Nggak usah, nodanya nggak akan hilang kalau cuma dibersihkan pakai sapu tangan doang.”

“Kalau begitu saya bantu buat—“

”Buat apa? Cuci gaun ini? Memangnya kamu pikir itu bisa dilakukan sekarang? Ah… sialan. Padahal aku belum sempet foto-foto sama mempelainya.”

Aku malah tidak berniat untuk foto-foto. Kalimat itu kuucapkan dengan sengaja hanya untuk mendramatisir keadaan, menambah rasa bersalah dalam diri pria itu hanya untuk membuatku merasa lebih baik.

Aku butuh sesuatu untuk dijadikan pelampiasan.

Pria di depanku ini menatapku sejenak sebelum mengeluarkan ponselnya. Mungkin dia akan membalas chat lagi. Daripada berdiri seperti orang bodoh di sini, aku segera menyingkir ke sudut ruangan.

”Tunggu.” Dia menyentuh tanganku agar aku tak menjauh. “Tunggu sebentar.”

”Mau ngapain lagi?”

“Ya, sekarang… bisa kan?”

Kupikir dia bicara padaku, tapi ternyata dia bicara pada seseorang melalui ponsel. Aku menepis tangannya yang menahan tanganku, tapi dia kembali meraih pergelangan tanganku agar aku tidak pergi.

”Mau apa lagi, sih?!”

Kali ini aku benar-benar jengkel.

”Ayo ikut saya sebentar.”

”Mau ngapain?”

”Saya… sudah minta seseorang untuk menyiapkan gaun baru buat kamu—“

”Kamu pikir, saya percaya? Memangnya bisa?”

”Tentu. Tunggu sebentar, please….”

Dia menatap ponsel sejenak, lalu menarik tanganku pergi.

”Hei, saya belum setuju sama ide itu!”

”Karena saya nggak bisa hilangkan noda itu dari gaun kamu, jadi satu-satunya pilihan adalah mengganti pakaian.”

Aku biasanya tidak mengikuti orang tak dikenal seperti ini. Tapi karena malam ini seluruh pikiranku runyam, suasana hati yang buruk dan rasa jengkel yang bukan main pada diriku sendiri, aku mengikuti langkahnya keluar dari ballroom menuju lift. Bagai orang bodoh, kuikuti saja dia tanpa melawan.

Kami berhenti di lantai dua puluh dua, dia berbelok menuju sebuah kamar yang terletak paling ujung. Begitu kusadari kalau kami akan masuk ke dalam kamar hotel, aku berhenti melangkah.

”Kenapa?” Dia pun ikut berhenti melangkah untuk menatapku.

”Kamu nggak berpikir saya bakal masuk ke kamar hotel bersama pria asing begitu aja, kan?”

”Tapi di dalam—“

“Kamu mau melecehkan saya? Saya bisa panggil sekuriti atau telepon polisi sekarang juga.”

Aku mengeluarkan ponsel dari clutch agar ia tahu kalau aku serius.

Dia mematung sejenak, lalu menekan bel. Tidak lama pintu kamar terbuka dan seorang wanita cantik berdiri di sana menatap kami bergantian.

”Ini adik saya, dia seorang—“

”I know,” selaku cepat tanpa melepaskan pandangan dari wanita cantik yang dia akui sebagai adik. “Aurelie Alexander, siapa yang nggak kenal dia?”

Wanita cantik itu tersenyum kecil dan membuka pintu lebih lebar.

”Karena kamu tahu Aurelie, kamu pasti tahu kalau dia seorang desainer. Di dalam kamar ini, ada banyak gaun sekarang. Jadi silakan masuk dan kenakan salah satu gaun yang paling kamu sukai untuk mengganti gaun kamu yang kotor karena saya. Aurelie akan bantu kamu. Saya membawa kamu ke sini bukan untuk melakukan pelecehan. Jadi jangan panggil sekuriti atau telepon polisi. Saya berniat bertanggung jawab atas kesalahan saya. Jangan salah paham.”

Kusadari tanganku masih terangkat ke atas sambil menggenggam ponsel. Menyadari hal itu, perlahan tanganku turun ke bawah.

”Ayo masuk, kamu bisa pilih gaun yang kamu suka. Kebetulan, ada banyak gaun yang saya bawa malam ini.”

Aurelie Alexander membuka pintu lebih lebar. Kakiku langsung bergerak untuk melangkah, melewati pria yang masih berdiri di depan pintu tanpa ikut masuk ke dalam.

”Kalau begitu, saya permisi. Apa pun yang kamu butuhkan, kamu bisa minta pada adik saya. Sekali lagi saya minta maaf atas gaunnya.”

Pria itu tersenyum kecil sebelum berbalik dan melangkah pergi kembali menuju lift. Aku masih sempat melihat punggungnya menjauh sebelum Aurelie menutup pintu lalu tersenyum padaku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sweet Trouble   BAB 8

    “Gue lupa bilang kalau Aurel ngajak ketemu siang ini.””Hmm. Lo yang mau ketemu adik lo, kenapa laporan ke gue?””Maksud gue, ngajak lo juga.””Gue?””Iya, lo nggak baca chat Aurel?””Belum lihat hape dari tadi. Emang kenapa gue mesti ketemu adik lo?””Gaun lo. Dia mau nyiapin gaun buat lo.””Harus?””Kan lo bilang setuju buat ikut ke Bali. Jadi Aurel mau siapkan gaun buat lo.””Pakai karung goni aja deh gue,” candaku.”Oke juga ide lo.” Rainer ikut tertawa. Ia menyuap omelet ke dalam mulutnya. “Tapi gue nggak mau ikutan viral nanti. Jadi kalau lo nggak mau muka lo terpampang di akun medsos sepupu-sepupu gue cuma pake karung goni, lo harus fitting gaun lo siang ini.”“Kalau cuti gue nggak di-approve gimana?””Gue bakar Menara Zahid,” jawabnya santai.Aku mencibir, membawa piring kotor ke wastafel untuk dicuci. Dia menaruh piring kosongnya di atas piringku. Saat aku meliriknya tajam, biawak darat ini hanya tersenyum lebar sambil men

  • Sweet Trouble   BAB 7

    Apartemen di lantai teratas ini adalah rumah kedua Rainer. Tapi tampaknya dia banyak menghabiskan waktu di apartemen ini daripada di rumahnya sendiri. Mungkin karena satu gedung dengan tempat usahanya, jadi lebih nyaman tinggal di sini daripada harus bolak balik ke rumah orang tuanya. Aku menghempaskan tubuh di sofa besar. Sudah lewat tengah malam, mataku pun sudah mulai mengantuk. ”Gimana cewek yang tadi? Berhasil bikin lo klimaks?”“Siapa yang bilang gue klimaks?””Lo bawa dia buat having sex ‘kan?””Nggak. Tadi gue dipanggil manajer gue karena ada anggota VIP yang bikin masalah di lantai tiga.”Aku melirik punggung tangannya yang tampak memerah.”Lo gebukin?””Dia yang mulai. Jadi gue hajar aja biar sadar. Gue benci sama orang arogan yang merasa dia bisa ngelakuin seenaknya mentang-mentang jadi anggota VIP di klub gue.”Ya, Rainer memang sangat ketat terhadap aturan VIP klub. Jika ada yang melanggar aturan yang telah ditetapkan, Rainer tak akan berpikir dua kali untuk memberi pel

  • Sweet Trouble   BAB 6

    Ini menyenangkan. meskipun pada awalnya aku tak berekspektasi apa-apa terhadap pria bernama Zack ini, tapi entah bagaimana obrolan kami mengalir begitu saja seolah pikiran kami sejalan pada arah yang sama.”Dan lo tahu apa? Itu terakhir kalinya gue sok jadi pahlawan. Gue kapok,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala. “Sekarang gue nyerah soal begituan, bodo amat, deh.””Gue juga pernah.” Tanpa sadar ini sudah gelas ketiga yang kuminum. “Gue udah nggak mau lagi peduli sama urusan orang lain. Bukannya jadi bagus, malah runyam. Sekarang, gue cuma liatin doang apa pun itu selain urusan gue.”“Memang brengsek tuh anak, padahal niat gue bantuin, malah jadi kambing hitam.””Dan kalian masih temenan?””Nope,” jawabnya sambil mengambil gelasnya. “Gue cut off. Makin tua, gue makin sadar sama banyak hal. Kalau rasanya tuh orang cuma ngerugiin gue doang, cuma bikin masalah dalam hidup gue, mending gue nggak usah kenal lagi. Sekarang bukan umurnya buat nambahin masalah. Beban hidup aja udah berat ba

  • Sweet Trouble   BAB 5

    “Hai.”Pria itu akhirnya duduk di sampingku. Aku melirik perempuan yang ia tinggalkan, tampaknya sudah menemukan pria lain yang bisa ia cium.Tanpa kusadari, mataku tertuju pada bibir Rainer.”Kenapa?””Nggak, gue cuma heran, kenapa lo doyan banget sentuhan bibir sama cewek yang bisa ciuman sana sini setelah ciuman sama lo?”Rainer ikut melihat ke arah yang sedang kutatap. Dan dia hanya tertawa santai.”Tadi cuma taruhan.” Ia berbicara sambil meriah tisu untuk mengelap bibirnya. Lihat kelakuannya, dia bisa dengan mudahnya taruhan dengan orang lain entah itu dalam seks atau sekadar making out. Tidak heran mengapa di mataku dia tampak seperti anomali.“Babe… temenin gue….” Seorang perempuan datang lalu memeluk lengan Rainer. Perempuan berbeda dengan yang ia cium tadi, tentu saja.”Ntar aja, gue mau temenin temen gue dulu. Lo sama yang lain aja dulu.”Perempuan itu menatapku terang-terangan dengan tatapan jengkel, dan yang kulakukan hanyalah mengangkat satu alis sebagai jawaban. Dia men

  • Sweet Trouble   BAB 4

    ”Apa salahnya? Kalau gue punya duit, mau sendirian pun nggak masalah. Daripada punya pasangan tapi nggak punya duit. Gue lebih suka sendirian tapi duit gue banyak. Daripada nyari pasangan yang cuma nambahin masalah hidup gue, mending gue nyari duit yang bisa meringankan segala beban gue.””Realistis sih realistis, Flo. Tapi apa enaknya jadi jomblo?””Enak-enak aja, tuh.””Terus lo nggak akan bisa nikmatin seks, dong.”Aku tertawa pelan, memasang senyum misterius di wajah.”Memangnya kalau mau seks harus punya pasangan? Nggak, kan?””Flo? Wait… astaga….””Astaga apaan? Gue cuma bilang, kalau mau seks nggak kudu punya pasangan dulu.””Lo… lo sering ONS?””Emangnya gue bilang kalau gue begitu?””Tapi itu barusan lo bilang seks nggak kudu punya pasangan.””Lah, kan emang iya. Tanya aja sama cowok-cowok yang ngakunya jomblo. Mereka masih bisa ngelakuin seks meski nggak punya pasangan.””Lo beneran sering ONS, kan?””Mau tahu aja atau mau tahu banget?”Aku meninggalkan Erika di sana untuk k

  • Sweet Trouble   BAB 3

    “Menurut lo, kado ini gimana?”Aku menatap foto yang disodorkan Kamal kepadaku.”Hmm….””Lo kok hmm doang? Kasih pendapat, kek.””Ya lo ngapain nanya ke gue? Emangnya gue bini lo? Tanya aja sama bini lo langsung.””Takut dia nggak suka.””Kalau kado, pasti suka. Kasih aja, nggak usah lo rempongin gue cuma karena kado ulang tahun bini lo. Minggir!””Galak banget lo, Flo. PMS?””Iya! Kalau lo nggak minggir, gue gigit!””Elaaah, sana beli es krim. Biar adem emosi lo.”Kamal akhirnya menyingkir dari mejaku untuk kembali ke mejanya sendiri. Asal dia tahu saja, dia lah sumber emosiku hari ini. Mengapa dia harus menanyakan pendapatku tentang kado ulang tahun istrinya? Tanya saja sendiri pada istrinya, tidak perlu tanya pendapatku. Menyebalkan!Dialah pria yang membuatku patah hati dua tahun lalu. Sampai detik ini, Kamal tidak tahu bahwa aku pernah patah hati karenanya. Itu patah hati terakhir yang kualami, karena setelah itu aku memutuskan untuk tidak pernah mencintai siapa pun lagi. Di mata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status