Masuk”Aurelie,” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
”Oh. Eh… Flora,” ucapku cepat. Melihat salah satu alisnya bergerak pelan, membuatku ingin memutar bola mata. ”Itu nama yang… agak nyeleneh, aku juga heran kenapa ibu aku kasih nama itu. Tapi kamu bisa panggil aku Flo saja.” Aku sudah terbiasa melihat orang lain nyaris tertawa mendengar namaku. Meskipun Aurelie tak benar-benar tertawa, tapi dia pasti merasa namaku sangat… ‘unik’. Kami berjabat tangan sebentar sebelum dia kembali bicara. ”Okay, Flo. Aku punya banyak gaun malam di sini, kamu bisa pilih sendiri yang mau kamu pakai. Di bagian sini ada gaun yang sesuai ukuran kamu. Kalau agak kebesaran, aku bisa bikin gaun itu pas di kamu hanya dalam waktu sepuluh menit.” ”Wow… kamu buka butik di sini?” Aurelie tertawa kecil, suara tawanya merdu sekali. Cocok sekali dengan wajahnya yang cantik. ”Tadinya aku nggak berniat bawa gaun sebanyak ini ke sini, tapi keluarga mempelai agar rewel. Dan kebetulan sekali mereka masih kerabat jauh keluarga kami, jadi aku juga nggak bisa ngeluh.” Melihat gaun-gaun cantik dan mahal itu, aku merasa sedikit sungkan. Apakah aku akan disuruh membayar kalau memilih salah satunya? Bagaimana kalau harga sewanya setara dengan gajiku beberapa bulan? Jelas gaun-gaun ini tidaklah murah. Mungkin biaya sewanya seharga motor Nmax baru. Bagaimana kalau aku tidak sengaja merusaknya nanti? Apakah harus ganti rugi? Membayangkan akan menghabiskan tabunganku hanya demi sebuah gaun, menurutku tidak masalah memakai gaun bernoda wine ini semalaman. “Kok kamu bengong? Kamu bingung? Mau aku yang pilihkan?” ”Hmm… kayaknya nggak perlu ganti gaun, deh. Aku pulang aja, lagipula, aku nggak berniat lama-lama di sini.” ”Jangan, kamu harus ganti gaunnya. Masku udah rusakin gaun kamu.” ”Ini bisa dicuci—“ ”Noda wine agak sulit hilang di gaun dengan bahan seperti itu.” ”It’s okay.” Lagipula, harga gaun ini tidak seberapa. Kalau tidak bisa dipakai lagi, tidak akan membuatku menangis. Tapi kalau aku sampai merusak salah satu gaun miliknya, aku akan menangis histeris. “Nggak apa-apa, aku pulang aja—“ ”Flo, maaf. Tapi kenapa kamu nggak mau ganti?” Bagaimana caraku mengatakannya bahwa aku ini hanyalah WNI pas-pasan dengan penghasilan yang hanya cukup untuk hidup, tidak akan cukup untuk memenuhi gaya hidup? “Sorry… tapi apa kamu… aku minta maaf kalau lancang,” ucapnya dengan senyum ragu. “Tapi apa kamu nggak mau ganti gaun karena… duh… gimana bilangnya?” Karena dia merasa begitu sungkan untuk melanjutkan ucapannya, maka aku saja yang menyelesaikannya. ”Aku takut bikin gaun kamu rusak, aku nggak akan bisa ganti rugi gaun semahal ini. Kalau pun bisa, itu pasti akan menguras seluruh tabungan aku. Jadi daripada aku harus menangisi saldo rekening nanti, lebih baik aku pakai gaun ini aja. Aku cuma pegawai kantoran yang gajinya pas-pasan.” Mulutnya terbuka sebentar, lalu ia menahan senyum sambil menarik tanganku menuju gaun-gaun itu. ”Tenang aja, gaun yang kamu pilih nanti bakal dibayar sama masku.” ”Hah?” ”Masku yang udah ngotorin gaun kamu, dia yang bakal bayar gaun yang kamu pilih. Jadi jangan sungkan buat pilih. Kamu nggak akan keluar duit, kok. Tagihannya bakal aku kasih ke masku.” “Wait… jadi maksudnya aku pakai gratis? Kalau rusak, gimana?” ”Nggak apa-apa, toh gaunnya bakal jadi milik kamu.” ”Milik aku?” ”Iya, gaunnya bakal dibeli sama masku sebagai pertanggung jawaban atas gaun kamu.” Ia mengambil salah satu gaun berwarna butter yellow. Menyerahkannya kepadaku. “Ini cantik, cocok sama warna kulit kamu yang cerah. Potongannya juga cocok buat kamu.” Terlalu indah, terlalu mahal untukku. Rasanya aku tak bisa menerimanya begitu saja. ”Ayo dicoba, kalau nggak cocok, nanti bisa ganti sama yang lain. Kamar mandinya di sana. Mau aku bantu atau kamu mau sendiri aja?” ”A-aku sendiri aja.” Kuletakkan tas kecilku ke atas meja sebelum meraih gaun itu. Sambil melangkah menuju kamar mandi, tanganku tak bisa berhenti mengelus tekstur kainnya yang lembut. Jika dibandingkan dengan gaun yang kukenakan sekarang, rasanya seperti gaun putri raja dan gaun pelayan. Aku berdiri menatap diriku sendiri di cermin. Sial, siapa wanita cantik bergaun butter yellow itu? Pas sekali di tubuhku. Aurelie benar, warnanya sangat cocok di kulitku yang cerah. “Flo? Kamu bisa? Atau perlu aku bantu?” Kudengar suara Aurelie berbicara dari balik pintu, buru-buru kubuka pintu kamar mandi untuk menunjukkan diriku padanya. ”Wow… cantik banget.” Hanya dua kata itu tapi sudah cukup untuk mengusir mendung yang menghiasi hatiku sejak tadi. Dipuji cantik oleh pria itu biasa, tapi dipuji cantik oleh sesama wanita seperti sebuah kebanggaan untukku sendiri. ”Kayaknya nggak perlu yang lain, tapi kalau kamu nggak suka, kita bisa coba yang lain.” ”Nggak usah, ini aja.” Kainnya yang lembut sangat nyaman di kulitku sekarang. “Beneran nggak apa-apa kalau aku ambil yang ini?” ”Nggak apa-apa. Cantik banget, serius. Hmm… boleh aku tata lagi rambut kamu? Udah bagus, kok. Tapi kalau agak ditata sedikit, bakal lebih cantik lagi. Gimana? Boleh?” Kulirik cermin kamar mandi, menatap rambutku yang terurai begitu saja. Aku hanya sempat menatanya sedikit. Karena rambutku bukan jenis yang sulit diatur. Namun tatanan rambut itu tampak biasa saja, tak semewah gaun yang kukenakan sekarang. ”Kalau ditata sedikit bakal bagus banget. Gimana?” ”Kalau kamu nggak keberatan,” ujarku pada akhirnya. ”Nggak sama sekali.” Aurelie tersenyum senang seolah persetujuanku membuatnya bahagia. Ia menarikku menuju meja rias dan langsung mengambil alat-alat untuk merapikan rambutku. Kupikir, dia hanya akan menatap rambutku saja, tapi dia juga memperbaiki riasanku. Sekarang, penampilanku sudah seperti para influencer kaya di luar sana. Aku sendiri tak menyangka kalau aku bisa tampil secantik ini. Melirik merek makeup yang dia pakaikan padaku, hatiku menjerit. Karena semuanya dari brand mewah yang akan membuatku berpikir dua kali untuk membelinya. Kalau pun ingin membeli, pastinya aku hanya akan membeli lipstiknya saja. Setelah mengucapkan terima kasih, aku kembali ke acara itu. Aku yang tadinya merasa sedikit minder di dalam ruangan yang dipenuhi oleh para orang kaya ini kini bisa mengangkat dagu dengan penuh percaya diri. Tidak masalah kalau isi dompet kami tidak sebanding, tapi soal penampilan malam ini, kami bisa bersaing. ”Gaun itu tampak cocok buat kamu.” Aku menoleh, lagi-lagi tak menyadari kehadiran seseorang di belakangku. Saat mata kami bertatapan, dia tersenyum kecil. “Thanks buat gaunnya.” ”Nevermind, saya senang kalau kamu sudah tidak marah lagi pada saya.” ”Saya nggak marah sama kamu.” Melihat satu alisnya terangkat karena mendengar ucapanku, mau tidak mau aku meralat kembali kalimatku. “Okay, saya akui… saya memang sedikit marah tadi. Tapi sekarang saya sudah tidak marah lagi.” ”Senang mendengarnya.” Pria itu mengulurkan tangannya padaku. “Saya Rainer.” Aku pun ikut mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya. ”Saya Flora, kamu bisa panggil saya Flo saja.” Begitulah awal mula pertemuan pertama kami, yang pada akhirnya membuat kami menjadi teman. Aku tidak pernah berpikir bahwa sudah dua tahun lamanya kami menjadi teman.“Gue lupa bilang kalau Aurel ngajak ketemu siang ini.””Hmm. Lo yang mau ketemu adik lo, kenapa laporan ke gue?””Maksud gue, ngajak lo juga.””Gue?””Iya, lo nggak baca chat Aurel?””Belum lihat hape dari tadi. Emang kenapa gue mesti ketemu adik lo?””Gaun lo. Dia mau nyiapin gaun buat lo.””Harus?””Kan lo bilang setuju buat ikut ke Bali. Jadi Aurel mau siapkan gaun buat lo.””Pakai karung goni aja deh gue,” candaku.”Oke juga ide lo.” Rainer ikut tertawa. Ia menyuap omelet ke dalam mulutnya. “Tapi gue nggak mau ikutan viral nanti. Jadi kalau lo nggak mau muka lo terpampang di akun medsos sepupu-sepupu gue cuma pake karung goni, lo harus fitting gaun lo siang ini.”“Kalau cuti gue nggak di-approve gimana?””Gue bakar Menara Zahid,” jawabnya santai.Aku mencibir, membawa piring kotor ke wastafel untuk dicuci. Dia menaruh piring kosongnya di atas piringku. Saat aku meliriknya tajam, biawak darat ini hanya tersenyum lebar sambil men
Apartemen di lantai teratas ini adalah rumah kedua Rainer. Tapi tampaknya dia banyak menghabiskan waktu di apartemen ini daripada di rumahnya sendiri. Mungkin karena satu gedung dengan tempat usahanya, jadi lebih nyaman tinggal di sini daripada harus bolak balik ke rumah orang tuanya. Aku menghempaskan tubuh di sofa besar. Sudah lewat tengah malam, mataku pun sudah mulai mengantuk. ”Gimana cewek yang tadi? Berhasil bikin lo klimaks?”“Siapa yang bilang gue klimaks?””Lo bawa dia buat having sex ‘kan?””Nggak. Tadi gue dipanggil manajer gue karena ada anggota VIP yang bikin masalah di lantai tiga.”Aku melirik punggung tangannya yang tampak memerah.”Lo gebukin?””Dia yang mulai. Jadi gue hajar aja biar sadar. Gue benci sama orang arogan yang merasa dia bisa ngelakuin seenaknya mentang-mentang jadi anggota VIP di klub gue.”Ya, Rainer memang sangat ketat terhadap aturan VIP klub. Jika ada yang melanggar aturan yang telah ditetapkan, Rainer tak akan berpikir dua kali untuk memberi pel
Ini menyenangkan. meskipun pada awalnya aku tak berekspektasi apa-apa terhadap pria bernama Zack ini, tapi entah bagaimana obrolan kami mengalir begitu saja seolah pikiran kami sejalan pada arah yang sama.”Dan lo tahu apa? Itu terakhir kalinya gue sok jadi pahlawan. Gue kapok,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala. “Sekarang gue nyerah soal begituan, bodo amat, deh.””Gue juga pernah.” Tanpa sadar ini sudah gelas ketiga yang kuminum. “Gue udah nggak mau lagi peduli sama urusan orang lain. Bukannya jadi bagus, malah runyam. Sekarang, gue cuma liatin doang apa pun itu selain urusan gue.”“Memang brengsek tuh anak, padahal niat gue bantuin, malah jadi kambing hitam.””Dan kalian masih temenan?””Nope,” jawabnya sambil mengambil gelasnya. “Gue cut off. Makin tua, gue makin sadar sama banyak hal. Kalau rasanya tuh orang cuma ngerugiin gue doang, cuma bikin masalah dalam hidup gue, mending gue nggak usah kenal lagi. Sekarang bukan umurnya buat nambahin masalah. Beban hidup aja udah berat ba
“Hai.”Pria itu akhirnya duduk di sampingku. Aku melirik perempuan yang ia tinggalkan, tampaknya sudah menemukan pria lain yang bisa ia cium.Tanpa kusadari, mataku tertuju pada bibir Rainer.”Kenapa?””Nggak, gue cuma heran, kenapa lo doyan banget sentuhan bibir sama cewek yang bisa ciuman sana sini setelah ciuman sama lo?”Rainer ikut melihat ke arah yang sedang kutatap. Dan dia hanya tertawa santai.”Tadi cuma taruhan.” Ia berbicara sambil meriah tisu untuk mengelap bibirnya. Lihat kelakuannya, dia bisa dengan mudahnya taruhan dengan orang lain entah itu dalam seks atau sekadar making out. Tidak heran mengapa di mataku dia tampak seperti anomali.“Babe… temenin gue….” Seorang perempuan datang lalu memeluk lengan Rainer. Perempuan berbeda dengan yang ia cium tadi, tentu saja.”Ntar aja, gue mau temenin temen gue dulu. Lo sama yang lain aja dulu.”Perempuan itu menatapku terang-terangan dengan tatapan jengkel, dan yang kulakukan hanyalah mengangkat satu alis sebagai jawaban. Dia men
”Apa salahnya? Kalau gue punya duit, mau sendirian pun nggak masalah. Daripada punya pasangan tapi nggak punya duit. Gue lebih suka sendirian tapi duit gue banyak. Daripada nyari pasangan yang cuma nambahin masalah hidup gue, mending gue nyari duit yang bisa meringankan segala beban gue.””Realistis sih realistis, Flo. Tapi apa enaknya jadi jomblo?””Enak-enak aja, tuh.””Terus lo nggak akan bisa nikmatin seks, dong.”Aku tertawa pelan, memasang senyum misterius di wajah.”Memangnya kalau mau seks harus punya pasangan? Nggak, kan?””Flo? Wait… astaga….””Astaga apaan? Gue cuma bilang, kalau mau seks nggak kudu punya pasangan dulu.””Lo… lo sering ONS?””Emangnya gue bilang kalau gue begitu?””Tapi itu barusan lo bilang seks nggak kudu punya pasangan.””Lah, kan emang iya. Tanya aja sama cowok-cowok yang ngakunya jomblo. Mereka masih bisa ngelakuin seks meski nggak punya pasangan.””Lo beneran sering ONS, kan?””Mau tahu aja atau mau tahu banget?”Aku meninggalkan Erika di sana untuk k
“Menurut lo, kado ini gimana?”Aku menatap foto yang disodorkan Kamal kepadaku.”Hmm….””Lo kok hmm doang? Kasih pendapat, kek.””Ya lo ngapain nanya ke gue? Emangnya gue bini lo? Tanya aja sama bini lo langsung.””Takut dia nggak suka.””Kalau kado, pasti suka. Kasih aja, nggak usah lo rempongin gue cuma karena kado ulang tahun bini lo. Minggir!””Galak banget lo, Flo. PMS?””Iya! Kalau lo nggak minggir, gue gigit!””Elaaah, sana beli es krim. Biar adem emosi lo.”Kamal akhirnya menyingkir dari mejaku untuk kembali ke mejanya sendiri. Asal dia tahu saja, dia lah sumber emosiku hari ini. Mengapa dia harus menanyakan pendapatku tentang kado ulang tahun istrinya? Tanya saja sendiri pada istrinya, tidak perlu tanya pendapatku. Menyebalkan!Dialah pria yang membuatku patah hati dua tahun lalu. Sampai detik ini, Kamal tidak tahu bahwa aku pernah patah hati karenanya. Itu patah hati terakhir yang kualami, karena setelah itu aku memutuskan untuk tidak pernah mencintai siapa pun lagi. Di mata







