LOGIN”You okay?”
”Oh, astaga!”Nyaris saja jantungku copot karena tiba-tiba Kiara berdiri di sampingku yang mematung di dekat meja bar. Ia mengambil sebotol minuman dingin. Istrinya Melvin tak bergerak, masih berdiri di sampingku.“Kita nggak pernah ngobrol di kantor, ‘kan?””I-iya, Bu—“”Oh, c’mon… jangan panggil ibu. Kamu bisa panggil Melvin dengan nama, kenapa ke aku nggak?”Apa Kiara cemburu dengan aku yang tiba-tiba akrab dengan Melvin? Oh, astaga! Aku harus segera menMenikmati pemandangan senja dari atas kapal mewah adalah kenikmatan yang tiada duanya. Rainer banyak memotretku tadi, aku punya puluhan foto yang bisa kupilih untuk di-posting di media sosial. Semua hasilnya bagus. Belum termasuk foto dua hari sebelumnya. Baru beberapa hari di Bali, aku sudah mengumpulkan hampir seribu foto di galeri.Aku dan Rainer duduk di dek atas, menikmati langit yang perlahan berubah warna. Punggungku bersandar di dadanya—dia yang menarikku dalam posisi itu. Kunikmati saja karena percuma dilawan, dia tetap akan menarikku untuk dipeluk.“Tadi Kiara cerita sedikit tentang Eijaz.””Oh ya?” Dagu Rainer ada di bahuku. “Nggak biasanya dia cerita tentang Eijaz ke orang lain.””Nggak tahu, gue juga kaget. Tapi gue ngerti yang dia rasain. Meskipun nggak persis sama, tapi gue ngerti rasanya.”Kutatap langit yang perlahan menjadi gelap. Keindahannya tidak bisa dilukiskan.“Kehilangan seseorang yang berarti tuh lukanya gede banget. Susah sembuhnya.
”You okay?””Oh, astaga!”Nyaris saja jantungku copot karena tiba-tiba Kiara berdiri di sampingku yang mematung di dekat meja bar. Ia mengambil sebotol minuman dingin. Istrinya Melvin tak bergerak, masih berdiri di sampingku.“Kita nggak pernah ngobrol di kantor, ‘kan?””I-iya, Bu—“”Oh, c’mon… jangan panggil ibu. Kamu bisa panggil Melvin dengan nama, kenapa ke aku nggak?”Apa Kiara cemburu dengan aku yang tiba-tiba akrab dengan Melvin? Oh, astaga! Aku harus segera menjelaskan padanya sebelum dia salah paham.”Itu, aku dan Melvin cuma ngobrol biasa. Please, jangan salah paham. Aku bukan pelakor. Karena dia yang selalu ngajak ngobrol, obrolannya juga nggak yang macam-macam, jadi aku—“Mulutku berhenti berbicara melihatnya tertawa geli di sampingku. Apa yang lucu?”Kamu khawatir aku cemburu?”Kepalaku mengangguk cepat. “Banget. Aku nggak mau ada pasangan yang berantem karena aku. Trust me, aku nggak pernah berniat ganggu suami orang.” Karen
“Terus jadian?””Nggak.””Kenapa? Lo ditolak ya?””Karena gue nggak pernah nyatain perasaan?””Dih, loser,” cibirku. “Padahal kalau lo bilang, siapa tahu jadian.””Gue yakin sih nggak. Dia nggak suka sama gue.””Karena?””Dia nggak mau pacaran. Jadi pasti gue ditolak.””Dan sampai sekarang, lo masih sering ketemu dia? Siapa orangnya?””Masih ketemu.””Eh, serius? Dan lo masih suka sama dia? Siapa, sih? Gue kenal nggak?”Rainer tak menjawab, hanya tersenyum misterius yang malah membuatku semakin penasaran.”Dia tahu nggak kalau lo sering mainin cewek?””Tahu.””Yah, pantes. Makanya dia nggak mau pacaran, apalagi sama cowok kayak lo. Gue kalau jadi dia sih juga ogah. Lo nggak menyakinkan sih.””Segitu nggak menyakinkannya gue?””Iya, nggak ada cewek waras yang mau percaya sama biawak darat. Semua cewek yang percaya sama lo, itu mereka nggak waras.””Termasuk lo dong?””Gue? Nggak!” Aku membantah tegas. Tidak mau d
Yacht ini bersandar di tengah-tengah laut yang indah. Aku duduk di salah satu kursi santai, menatap laut yang indah sejauh mata memandang. Rainer tiba-tiba mendekat dengan celana renangnya yang ketat.”Yakin nggak mau berenang?””Nggak mau.””Ya udah, pegangin hape gue. Gue mau berenang dulu.”Ia menyerahkan ponselnya padaku, kutaruh di atas meja bersamaan dengan ponselku dan juga minuman dingin. Pria itu berjalan menuju dek belakang lalu melompat ke dalam air. Ia bergerak lincah di dalam air sementara aku menatapnya dengan tatapan ngeri, membayangkan ada hiu kelaparan yang sedang mencari mangsa lalu menerkamnya.Seketika tubuhku bergidik. Pasti sangat mengerikan sekali. Rainer benar, ini akibat kalau terlalu sering menonton film, otakku jadi terkontaminasi dengan hal-hal seperti itu. Kuputuskan untuk meneruskan bacaan yang belum selesai juga, novel itu hanya berhasil kubaca separuh sejak tiba di Bali, jadi aku ingin menyelesaikannya selagi kami di sini.
“Flo.” Rainer meraih tanganku untuk digenggam dengan lembut. “Apa pun yang lagi berisik di pikiran lo, keluarin aja. Jangan ditahan. Jangan lo pikirin mati-matian. Lo tuh suka banget overthinking sama segala sesuatunya. Ada apa? Cerita aja sama gue.”Justru hal itu yang paling tidak bisa kuceritakan padanya. Aku agak takut dengan perubahan hubungan ini. Meskipun bersikeras mengatakan bahwa tidak ada yang berubah. Nyatanya aku merasa ada yang berubah. Apakah karena seks?Tiba-tiba Rainer berdiri lalu mendekatiku, ia membungkuk untuk memeluk tubuhku dengan lembut.”Yang lo takutkan nggak akan terjadi. Apa pun itu. Entah hubungan pertemanan kita atau apa pun yang berisik dalam benak lo sekarang. Kita tetap seperti yang sebelumnya. Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Ikuti aja alurnya. Lo juga butuh having fun. Nggak capek jadi Wonder Woman terus? Rileks, nikmati apa yang terjadi hari ini. Nggak usah dikhawatirkan apa yang belum terjadi esok hari.” Ia mencium puncak kepa
Tubuhku terasa hangat dan juga ada sesuatu yang berat sedang menekanku dari belakang. Dengan penuh perjuangan, aku membuka mata.Hal pertama yang kulihat adalah tirai kamar. Cahaya dari tirai yang sedikit terbuka menandakan hari sudah siang. Entah jam berapa sekarang, aku tidak tahu. Aku mencoba menggerakkan tubuh yang terasa kaku dan juga pegal, sayangnya tidak bisa karena perutku sedang dipeluk erat oleh sepasang tangan kekar..Ah, pantas saja. Tadi malam aku melakukan hubungan seks dengan Rainer berkali-kali sampai kelelahan. Entah jam berapa kami tidur, yang pasti menjelang subuh. Kami terus melakukannya sampai merasa puas, hanya beristirahat sebentar sebelum memulainya lagi. Dia memiliki stamina yang tiada habisnya. Untung saja aku cukup bisa mengimbangi meskipun pada akhirnya tetap kewalahan. Miliknya yang kembali mengeras menekan pinggangku. Apa ia kembali bernafsu? Atau ini hanya reaksi alami dari tubuh pria setiap pagi? Merasakan ketenangan napasnya yang menerp







