LOGIN“Kak Runa udah tidur, Tante?”Suara Kelly memecah keheningan ruang tengah yang sejak tadi terasa berat. Ia duduk di ujung sofa dengan posisi tubuh sedikit condong ke depan, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuannya. Matanya masih sembab, tapi kini lebih tenang dibanding saat pertama kali datang.Dari arah lorong, Amanda muncul dengan langkah pelan. Wajahnya tampak lebih lembut, namun ada guratan kekhawatiran yang belum sepenuhnya hilang. Ia mengangguk singkat menjawab pertanyaan Kelly sebelum berjalan mendekat dan duduk di samping gadis itu.“Udah,” jawabnya pelan. “Baru aja terlelap.”Nada suaranya rendah, seolah masih menjaga agar ketenangan di kamar tidak terusik. Aruna memang membutuhkan istirahat, bukan hanya secara fisik, tapi juga dari segala hal yang baru saja menghantam hidupnya tanpa peringatan.Ruangan itu kembali hening sejenak.Di hadapan mereka, seorang pelayan datang membawa nampan berisi beberapa cangkir teh hangat. Ia meletakkannya satu per satu di atas m
Aruna duduk tepat di hadapan Atlas, tubuhnya masih terasa tegang meski mereka sudah berada di dalam rumah yang seharusnya terasa aman. Ruangan itu sunyi, hanya diisi oleh suara detak jam yang terdengar samar dari sudut dinding. Cahaya lampu temaram jatuh di wajah Atlas, menegaskan garis rahangnya yang mengeras dan tatapan matanya yang tidak biasa.“Jadi… ini maksudnya gimana?” tanyanya akhirnya, suaranya terdengar lebih kecil dari yang ia inginkan.Atlas tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Aruna beberapa detik lebih lama, seolah sedang menimbang sesuatu di dalam pikirannya. Tangannya bergerak pelan meraih tablet yang tergeletak di atas meja, namun gerakan itu tidak sepenuhnya mantap. Ada keraguan di sana, sesuatu yang jarang sekali terlihat dari diri Atlas.“Pak Atlas?” Aruna mengernyit, semakin tidak sabar dengan keheningan yang menggantung.Akhirnya, dengan napas yang ditahan, Atlas menyodorkan tablet itu ke arah Aruna. Namun belum sempat benar-benar diberikan, Aruna sudah le
Aruna bahkan belum benar-benar memahami apa yang sedang terjadi ketika tubuhnya sudah bergerak mengikuti langkah Atlas keluar dari ruang konferensi. Suasana di belakang panggung yang tadi riuh kini berubah kacau, suara orang-orang saling memanggil, langkah kaki terburu-buru, dan kilatan kamera yang masih berusaha mengejar dari kejauhan.Namun semua itu seperti teredam.Yang Aruna rasakan hanya satu, genggaman tangan Atlas yang begitu erat di pergelangannya.Begitu mereka keluar dari gedung Heartline, situasinya terasa jauh berbeda dari sebelumnya. Beberapa pria berbadan tegap dengan setelan hitam sudah membentuk barisan di sekitar mereka, bergerak cepat dan terorganisir. Mereka tidak berbicara banyak, hanya memberi isyarat satu sama lain, menciptakan ruang aman di tengah kerumunan yang mulai mendekat.Aruna refleks memperlambat langkahnya, matanya bergerak ke kanan dan kiri dengan bingung. “Pak Atlas…” suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia harapkan, ada getaran yang tidak bisa i
Beberapa hari terakhir terasa seperti berjalan di atas garis tipis yang tak terlihat. Aruna mencoba kembali ke rutinitasnya, bangun pagi, membaca naskah, menghadiri meeting, tertawa di depan kamera, semua dilakukan dengan rapi, nyaris tanpa cela. Dari luar, tak ada yang berubah. Ia tetap Aruna yang sama, yang profesional, yang ringan, yang selalu tahu bagaimana membawa dirinya di hadapan orang lain.Tapi di dalam kepalanya, semuanya berantakan.Ia sempat mencoba cara lamanya, menghindar. Mengatur jadwal agar tak bertemu Atlas, membatalkan beberapa agenda yang seharusnya mereka hadiri bersama, bahkan sampai menggunakan alasan yang terdengar konyol hanya untuk menjaga jarak. Namun bukannya mereda, bayangan itu justru semakin sering muncul. Semakin ia menjauh, semakin jelas ingatan itu kembali—cara Atlas menatapnya malam itu, jarak yang terlalu dekat, dan satu detik yang tidak seharusnya terjadi.Satu detik yang kini terasa terlalu panjang untuk dilupakan.Sampai akhirnya Aruna menyera
Ia mencium Atlas?Pertanyaan itu berputar di kepala Aruna seperti kaset rusak yang tak bisa dihentikan. Suaranya berulang, menggema, memenuhi pikirannya sampai tak menyisakan ruang untuk hal lain. Ia bahkan tidak tahu harus mulai dari mana untuk memahami dirinya sendiri.Apa yang ada di pikirannya sampai berani menarik lelaki itu dan menciumnya?Sudah beberapa hari berlalu sejak malam itu, tapi bayangan tersebut masih jelas. Terlalu jelas. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Atlas muncul begitu saja—mata yang terbuka sedikit lebih lebar dari biasanya, ekspresi terkejut yang jarang sekali ia lihat dari lelaki setenang itu.Aruna mendesah pelan, lalu menutup wajahnya sendiri dengan kedua tangan.Malam ini ia sedang berada di ruang ganti kantor Heartline, ruangan yang dipenuhi cermin besar dan lampu terang yang memantulkan setiap detail dengan jelas. Hari ini adalah hari pembukaan Heartline Haven Resort, acara besar yang sudah lama dinanti, lengkap dengan pengumuman pasangan pertama ya
Aruna memegang kepalanya yang terasa berdenyut hebat. Sakitnya seperti tidak hanya berhenti di pelipis, tapi menjalar perlahan ke seluruh tubuh, membuatnya sedikit meringis saat ia mencoba bangkit dari posisi tidurnya. Kelopak matanya terbuka pelan, menangkap langit-langit putih yang terasa familiar, disusul aroma ruangan yang terlalu ia kenal.Butuh beberapa detik sampai kesadarannya benar-benar utuh.Dan saat itu terjadi, mata Aruna langsung melebar.Ia lagi-lagi berada di kamar Atlas.Aruna refleks bangkit lebih cepat, meski kepalanya kembali berdenyut. Rambutnya jatuh berantakan ke depan wajah, napasnya sedikit tak teratur saat ia buru-buru melihat ke sekeliling. Selimut yang tadi menutupi tubuhnya ia singkirkan, dan pandangannya langsung turun ke pakaian yang ia kenakan.Masih sama.Dress yang tadi ia pakai.Aruna menghembuskan napas panjang, bahunya sedikit melemas. Setidaknya tidak ada hal aneh yang terjadi saat ia tidak sadar. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya, se







