MasukLampu bertuliskan Operation Room menyala merah terang di atas pintu, menjadi satu-satunya tanda yang terus Aruna tatap sejak beberapa waktu lalu. Ia duduk di kursi ruang tunggu dengan punggung tegak, namun bahunya kaku, seolah seluruh tubuhnya menahan sesuatu yang terlalu berat untuk dijelaskan. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan, mengerat tanpa ia sadari, sementara pikirannya terus berputar pada satu kalimat yang diucapkan Dokter Herma sebelumnya.Radang usus buntu akut yang hampir pecah.Kalimat itu terus terngiang, berulang-ulang, seakan menolak pergi dari kepalanya. Dokter memang sudah menjelaskan bahwa operasi ini umum dilakukan, tingkat keberhasilannya tinggi, dan selama ditangani cepat, risikonya bisa ditekan. Tapi bagi Aruna, kata operasi tetap terasa seperti jurang yang dalam, menakutkan, dan tak bisa ia kendalikan.Ia menunduk, menatap tangannya sendiri yang kini mulai dingin. Napasnya terasa pendek. Di sekelilingnya, suara langkah kaki, suara roda ranjang pasie
Suasana Unit Gawat Darurat malam itu penuh sesak oleh suara dan kepanikan yang berlapis.Lampu putih terang memantul di lantai mengilap, sementara suara roda brankar berderit silih berganti melewati lorong. Dari luar, sirine ambulans terdengar bersahut-sahutan, datang tanpa jeda, membawa pasien demi pasien yang langsung disambut tenaga medis dengan wajah tegang.Aruna bahkan belum benar-benar menutup pintu mobil ketika langkahnya sudah berlari kecil menuju pintu masuk UGD. Napasnya terengah, dadanya terasa sempit, sementara pikirannya dipenuhi kemungkinan buruk yang tak ingin ia bayangkan. Di belakangnya, Kelly mengikuti dengan langkah cepat, berusaha mengejar tanpa benar-benar mengimbangi kepanikan Aruna yang sudah lebih dulu meluap.Begitu sampai di meja informasi, Aruna langsung bersandar sedikit, mencoba mengatur napasnya yang kacau. “Amanda Pramudita,” ucapnya buru-buru, suaranya hampir tercekat. “Pasien atas nama Amanda Pramudita, ada di mana ya?”Petugas di balik meja itu baru
Seharusnya Aruna tidak perlu sedrama ini hanya karena mengakhiri hubungan yang sejak awal memang dibangun di atas kesepakatan. Tidak ada janji, tidak ada perasaan yang seharusnya dipertaruhkan. Semuanya jelas, terukur, bahkan tertulis hitam di atas putih.Namun kenyataannya, hari-hari Aruna justru berjalan sebaliknya.Ia bangun dengan tubuh yang terasa lebih berat, menjalani rutinitas tanpa semangat yang biasanya selalu ia punya. Senyum yang dulu mudah muncul kini terasa seperti sesuatu yang harus ia paksa. Bahkan untuk hal-hal yang biasanya ia sukai, Aruna harus berusaha dua kali lebih keras hanya untuk terlihat baik-baik saja.Perubahan itu tidak luput dari perhatian orang-orang di sekitarnya.Dan tentu saja, orang pertama yang menyadarinya adalah Kelly.Hari itu, mereka berada di sebuah studio besar untuk menjalani proses shooting iklan terbaru. Konsepnya dibuat seperti mini series dengan tiga episode, dan hari ini adalah pengambilan gambar untuk episode pertama. Set sudah ditata
Aruna duduk di sofa ruang kerja Atlas dengan punggung tegak, berusaha terlihat santai meski pikirannya belum benar-benar tenang sejak siaran langsung tadi. Ruangan itu terasa jauh lebih hening dibanding biasanya, hanya suara halus pendingin ruangan yang menemani. Di tangannya, ponsel menyala menampilkan naskah iklan terbaru yang baru saja dikirim Kelly. Ia membaca perlahan, berusaha mengalihkan pikirannya pada kalimat-kalimat promosi yang terasa asing di tengah kondisi hatinya.Sesekali, ia mengernyit, memperbaiki intonasi dalam pikirannya, membayangkan bagaimana ia akan menyampaikan skrip itu di depan kamera. Namun fokusnya mudah buyar. Matanya berkali-kali melirik ke arah pintu, seolah berharap sosok tertentu segera muncul. Waktu berjalan lambat, terlalu lambat, hingga satu jam terasa seperti dua kali lipat lebih panjang.Ketika akhirnya pintu terbuka, Aruna refleks menegakkan tubuhnya. Ponsel di tangannya langsung ia turunkan ke pangkuan. Senyum terlatih kembali terpasang di waja
Perjalanan menuju kantor Heartline terasa lebih panjang dari biasanya.Aruna duduk di kursi penumpang, tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, dingin meski pendingin mobil tidak terlalu tinggi. Dari luar jendela, gedung-gedung berlalu begitu saja, tapi pikirannya tidak benar-benar mengikuti arah perjalanan.Sesekali ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang terasa terlalu cepat untuk ukuran pagi hari.Ketika mobil mulai melambat dan akhirnya berhenti di depan lobi Heartline, Aruna sempat berpikir semuanya akan berjalan seperti biasa.Namun begitu ia menoleh ke luar, matanya langsung membulat.Area depan gedung sudah dipenuhi manusia. Kamera, tripod, mikrofon dengan logo berbagai stasiun televisi, hingga kerumunan orang yang membawa spanduk. Suasana riuh itu langsung menyerbu pandangannya tanpa ampun.Beberapa tulisan besar terlihat jelas.“ATLAS DESERVES BETTER!”“GOLD DIGGER OUT!”Napas Aruna tercekat.Tangannya semakin dingin.Belum sempat ia benar-b
Napas Aruna perlahan mulai teratur ketika jam menunjukan pukul enam pagi. Cahaya matahari yang masih pucat menyusup dari celah tirai, jatuh lembut di lantai kamar dan menyentuh ujung selimut yang menutupi tubuhnya.Ada gerakan kecil dari balik kain itu.Jari-jarinya bergerak lebih dulu, diikuti kelopak mata yang mengerjap pelan, seolah berusaha berdamai dengan kesadaran yang kembali. Pandangannya masih buram, langit-langit kamar tampak asing sesaat sebelum ingatan perlahan menyusun kembali potongan kejadian semalam.Tubuhnya terasa ringan… tapi juga lelah.Tenggorokannya tidak sekering sebelumnya, meski masih menyisakan rasa tidak nyaman. Aruna menggeser tubuhnya pelan, mencoba menoleh ke samping, dan di situlah matanya menangkap satu sosok yang membuat napasnya tertahan.Atlas.Di ujung ruangan, di atas sofa yang menghadap ke arah tempat tidur, lelaki itu duduk dengan posisi tegak. Kepalanya sedikit menunduk, kedua tangannya terlipat di dada, dan matanya terpejam. Ia tertidur dalam p







