LOGINIa mencium Atlas?Pertanyaan itu berputar di kepala Aruna seperti kaset rusak yang tak bisa dihentikan. Suaranya berulang, menggema, memenuhi pikirannya sampai tak menyisakan ruang untuk hal lain. Ia bahkan tidak tahu harus mulai dari mana untuk memahami dirinya sendiri.Apa yang ada di pikirannya sampai berani menarik lelaki itu dan menciumnya?Sudah beberapa hari berlalu sejak malam itu, tapi bayangan tersebut masih jelas. Terlalu jelas. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Atlas muncul begitu saja—mata yang terbuka sedikit lebih lebar dari biasanya, ekspresi terkejut yang jarang sekali ia lihat dari lelaki setenang itu.Aruna mendesah pelan, lalu menutup wajahnya sendiri dengan kedua tangan.Malam ini ia sedang berada di ruang ganti kantor Heartline, ruangan yang dipenuhi cermin besar dan lampu terang yang memantulkan setiap detail dengan jelas. Hari ini adalah hari pembukaan Heartline Haven Resort, acara besar yang sudah lama dinanti, lengkap dengan pengumuman pasangan pertama ya
Aruna memegang kepalanya yang terasa berdenyut hebat. Sakitnya seperti tidak hanya berhenti di pelipis, tapi menjalar perlahan ke seluruh tubuh, membuatnya sedikit meringis saat ia mencoba bangkit dari posisi tidurnya. Kelopak matanya terbuka pelan, menangkap langit-langit putih yang terasa familiar, disusul aroma ruangan yang terlalu ia kenal.Butuh beberapa detik sampai kesadarannya benar-benar utuh.Dan saat itu terjadi, mata Aruna langsung melebar.Ia lagi-lagi berada di kamar Atlas.Aruna refleks bangkit lebih cepat, meski kepalanya kembali berdenyut. Rambutnya jatuh berantakan ke depan wajah, napasnya sedikit tak teratur saat ia buru-buru melihat ke sekeliling. Selimut yang tadi menutupi tubuhnya ia singkirkan, dan pandangannya langsung turun ke pakaian yang ia kenakan.Masih sama.Dress yang tadi ia pakai.Aruna menghembuskan napas panjang, bahunya sedikit melemas. Setidaknya tidak ada hal aneh yang terjadi saat ia tidak sadar. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya, se
Di sepanjang perjalanan dalam mobil sedan hitam milik Atlas, Aruna tidak benar-benar duduk—ia gelisah. Jemarinya terus bergerak tanpa sadar, menggigiti kuku yang sudah tidak rapi, sementara kakinya bergoyang kecil seolah menyalurkan kegugupan yang tidak bisa ia redam.Punggungnya tidak pernah benar-benar menempel pada sandaran kursi, tubuhnya condong sedikit ke depan, napasnya pendek-pendek.Ia melirik ke samping.Dan Atlas terlihat berbeda.Wajah lelaki itu kaku, terlalu kaku. Rahangnya mengeras, garisnya tegas seperti diukir, dan matanya… lurus menatap jalan di depan tanpa sedikit pun bergeser. Tidak ada emosi yang terbaca di sana, dan justru itu yang membuat Aruna semakin cemas.Sunyi.Tidak ada musik. Tidak ada suara selain deru mesin mobil dan napas Aruna yang tidak teratur.“Pak Atlas…” suara Aruna akhirnya keluar, pelan dan parau. Ia mengulurkan tangan dengan ragu, mencolek bahu Atlas seperti seseorang yang takut menyentuh sesuatu yang bisa meledak kapan saja. “Saya beneran uda
Aruna, kamu bodoh.Sumpah serapah itu berulang dalam kepalanya saat tangan lelaki itu kini berpindah, merengkuh pinggangnya tanpa izin."Mr. Danny..." suara Aruna mulai goyah, tubuhnya refleks menjauh saat jarak di antara mereka terasa terlalu sempit.Namun lelaki itu justru semakin mendekat, seolah tak peduli dengan batas yang jelas-jelas sedang Aruna coba jaga. "Ayolah," bisiknya rendah, napas berbau nikotin itu menyeruak tajam ke indera penciuman Aruna, membuat perutnya terasa mual, "kamu dengan Atlas juga karena uang, kan?"Aruna menggeleng cepat, dadanya naik turun, mencoba menahan rasa tidak nyaman yang mulai berubah jadi takut. "Enggak—""Saya jauh lebih kaya," potongnya tanpa memberi ruang, tubuhnya condong semakin dekat, menekan ruang gerak Aruna yang sudah nyaris habis. "Kamu akan jauh lebih bahagia dengan saya."Kalimat itu terasa menjijikkan."Lepas!" Aruna mendorong dada lelaki itu, kali ini dengan tenaga lebih besar, berusaha menciptakan jarak.Namun yang terjadi justru
Dari awal, Aruna sudah tahu kalau ini ide bodoh.Memutuskan untuk menemui Mr. Danny sendirian demi mengulur waktu agar lelaki itu tidak buru-buru menarik investasinya dari Heartline jelas bukan keputusan yang rasional. Tapi di tengah kekacauan yang terjadi, rasanya hanya itu satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk membantu. Setidaknya memberi Atlas dan timnya sedikit waktu untuk menemukan kebenaran.Namun sejak awal, firasatnya sudah tidak enak.Duduk di ruang meeting dengan layar presentasi yang sudah lima belas menit terakhir tidak benar-benar ia perhatikan, Aruna hanya mengangguk sesekali. Suara kepala divisi marketing terdengar seperti gema jauh, membahas campaign summer, konsep visual, timeline produksi—semuanya lewat begitu saja tanpa benar-benar masuk ke kepalanya. Pikirannya tertahan pada makan siang yang akan ia hadapi.Pada keputusan yang mungkin akan ia sesali."...jadi nanti Kak Aruna akan jadi main face untuk digital campaign, termasuk video pendek dan beberapa kont
Suasana ruang meeting itu dipenuhi suara ketikan keyboard yang nyaris tak terputus dan bisikan-bisikan pelan yang saling bersahutan di antara para tim. Cahaya dari layar laptop menjadi satu-satunya sumber terang yang dominan, memantul di wajah-wajah yang tegang dan lelah. Semua orang fokus pada tugas masing-masing, mencoba menelusuri sesuatu yang bahkan belum memiliki bentuk pasti.Aruna duduk di antara mereka.Awalnya ia hanya berniat membantu sebisanya, namun kini ia benar-benar tenggelam dalam pekerjaan itu. Di layar laptopnya, deretan data pengguna terpampang panjang—ID, email, waktu registrasi, lokasi IP, hingga riwayat aktivitas. Ia tidak sepenuhnya ahli, tapi dasar-dasar yang pernah ia pelajari cukup membantunya memahami alur.“Coba filter berdasarkan akun yang punya perubahan data berulang,” ucap salah satu tim IT di ujung meja.Aruna mengikuti arahan itu. Jemarinya bergerak pelan, menyesuaikan query sederhana di sistem internal. Ia menyaring data pengguna yang mengganti iden







