LOGINSejak pelukan yang terjalin tadi, Aruna tidak benar-benar berhenti tersenyum.Bahkan di sepanjang jalan menuju rumahnya, dengan Atlas yang duduk di sebelahnya sambil mengemudikan sedan pink metallic milik Aruna, senyum itu masih tertinggal jelas di wajah gadis tersebut. Tanpa pengawal, tanpa sopir, tanpa siapa pun yang mengganggu, malam itu terasa terlalu tenang untuk ukuran hidup mereka yang biasanya selalu dipenuhi keramaian dan tatapan orang lain.Lampu-lampu kota memantul di kaca mobil, menciptakan semburat warna keemasan di interior bernuansa pastel itu. Tangan Aruna menggenggam satu tangan Atlas yang berada di atas persneling, memainkan jemarinya pelan sambil sesekali melirik lelaki di sebelahnya.Bagaimana Atlas dengan setelan gelap dan wajah dinginnya terlihat begitu kontras berada di dalam mobil serba pink itu benar-benar terasa lucu di mata Aruna.Apalagi lelaki itu mengemudikannya dengan ekspresi serius.Sebuah kontras yang begitu menggemaskan.Membuat Aruna tanpa sadar te
Isak Aruna baru perlahan mereda ketika dinginnya lantai marmer mulai terasa sampai ke lututnya. Gadis itu terlihat berjongkok di depan pintu ruangan Atlas dengan kepala tertunduk, sementara jemarinya sibuk memainkan tali heels putih miliknya tanpa arah. Sesekali bahunya masih bergetar kecil sisa tangisan yang sejak tadi susah payah ia tahan agar tidak terdengar terlalu menyedihkan.Koridor executive lantai atas kini benar-benar sepi.Lampu-lampu hangat di sepanjang lorong memantulkan bayangan tubuh kecil Aruna di lantai mengilap, sementara dari balik kaca gedung, gemerlap kota malam terlihat begitu jauh dan asing. Tak ada lagi staff yang tadi berdiri penuh ketakutan di depan ruangan Atlas. Entah sudah dipulangkan atau memang sengaja menjauh agar tak melihat keadaan atasannya malam ini.Aruna mengusap hidungnya pelan. Dadanya masih terasa sesak.Ia bahkan tidak tahu harus bagaimana sekarang.Melihat Atlas dalam keadaan seperti itu membuat seluruh kekesalan dan egonya runtuh begitu sa
Sudah hampir lima belas menit Aruna duduk diam di dalam mobil pink miliknya yang terparkir di area depan gedung Heartline. Mesin mobil itu masih menyala sejak tadi, menghadirkan dengung halus yang samar bercampur dengan suara pendingin udara di dalam kabin. Jemarinya menggenggam setir erat. Sementara matanya berkali-kali melirik ragu ke arah bangunan tinggi di depannya.Gedung Heartline malam itu masih terang benderang.Dinding kacanya memantulkan cahaya kota yang mulai dipenuhi lampu malam, terlihat megah sekaligus dingin. Orang-orang masih berlalu lalang keluar masuk lobby utama meski waktu sudah jauh melewati jam kantor. Beberapa pegawai tampak berjalan terburu sambil membawa laptop dan map kerja, sebagian lagi berdiri di depan lift dengan wajah lelah khas pekerja yang belum benar-benar selesai menjalani hari.Aruna mengembuskan napas panjang.Ucapan Ratna siang tadi terus berputar di kepalanya tanpa henti.Bicarakan lagi dengan Atlas.Kalimat sederhana itu terdengar mudah. Padah
"Tante dengar permasalahan yang sedang terjadi."Tangan Aruna yang baru saja ingin mengangkat gelas kopi dinginnya langsung berhenti di udara. Jemarinya menegang sepersekian detik sebelum perlahan ia kembali meletakkan gelas itu ke atas meja bundar kecil di hadapan mereka.Bunyi pelan dari dasar gelas yang menyentuh permukaan meja terdengar samar di tengah ramainya suasana coffee shop siang itu.Area outdoor tempat mereka duduk cukup ramai dipenuhi pegawai kantoran yang tengah menikmati jam makan siang. Suara mesin kopi sesekali terdengar dari dalam ruangan, bercampur dengan dentingan sendok, tawa kecil pengunjung, dan langkah para pelayan yang hilir mudik membawa pesanan.Namun entah kenapa, meja kecil di sudut yang ditempati Aruna dan Ratna justru terasa begitu sunyi.Mereka memilih tempat paling ujung, sedikit tersembunyi di balik deretan tanaman hijau tinggi yang membuat percakapan mereka tidak terlalu terdengar orang lain. Angin siang berembus pelan, menerbangkan sedikit helaian
Setelah keributan yang ia perbuat di depan media beberapa hari lalu, sekarang Aruna memilih bungkam.Tak ada lagi pertanyaan wartawan yang ia jawab. Tidak ada lagi klarifikasi, tidak ada lagi senyum manis yang biasa ia lemparkan saat kamera menyorot wajahnya. Bahkan ketika paparazzi masih sesekali mengikuti mobilnya atau menunggu di depan kantor radio, Aruna hanya berjalan lurus tanpa berniat berhenti sedikit pun.Nama Atlas Wicaksono dan dirinya masih terus menjadi bahan pembicaraan publik, tetapi Aruna seperti mendadak menarik dirinya sepenuhnya dari semua itu.Dan anehnya, justru karena diam itulah, orang-orang semakin penasaran.Semuanya sempat mereda untuk sesaat.Sampai episode terbaru podcast Ruang Rasa yang membahas tentang kandasnya hubungan mendadak viral di seluruh media sosial.Potongan video Aruna saat berbicara tentang rasa lelah dalam hubungan tersebar di mana-mana. Cuplikan suaranya bahkan dipakai ribuan orang sebagai backsound video dan reels media sosial."Kadang kit
Sudah sejak tiga jam Aruna mengumumkan kandasnya hubungan mereka di depan puluhan kamera, dan berbagai artikel media langsung mempublikasikan kabar itu dengan headline yang bervariasi mulai dari yang biasa saja sampai yang terkesan dramatis. Ponselnya tak kunjung berhenti bergetar dari panggilan masuk. Bukan hanya dari Atlas yang kalau Aruna hitung sudah lebih dari dua puluh kali mencoba menghubunginya, bahkan Gigi, Lily, Ratna, sampai Amanda juga mengiriminya pesan panjang lebar dan mempertanyakan mengenai kabar yang sudah menyebar secepat itu. Namun tak ada satupun yang Aruna balas, tak ada satu panggilan pun yang Aruna angkat. Ponselnya kini ia letakkan terbalik di atas meja ruang meeting, sementara ia sendiri sibuk membuka laptop dan menatap proyektor.Aruna sedang meeting untuk membahas tema podcast mingguan dengan tim Ruang Rasa, sesuatu yang sudah menjadi rutinitasnya setiap Jumat pagi. Ruangan meeting lantai delapan itu terisi oleh enam orang, termasuk Aruna sendiri yang d







