Home / Romansa / Swipe Right for Love / 63| All the Small Things

Share

63| All the Small Things

Author: sidonsky
last update publish date: 2026-04-06 01:19:46

Atlas meregangkan tubuhnya perlahan di atas kursi kerjanya. Otot-ototnya terasa kaku, terutama di bagian leher dan bahu, akibat posisi tidur yang jauh dari kata nyaman. Ia bahkan tidak benar-benar yakin apakah itu bisa disebut tidur, atau hanya sekadar memejamkan mata tanpa benar-benar terlelap.

Ruangan kerjanya masih sama seperti semalam—rapi, tenang, dan dingin. Lampu meja masih menyala redup, menyisakan bayangan tipis di sudut ruangan. Di atas meja, beberapa berkas terbuka begitu saja, seola
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Swipe Right for Love   63| All the Small Things

    Atlas meregangkan tubuhnya perlahan di atas kursi kerjanya. Otot-ototnya terasa kaku, terutama di bagian leher dan bahu, akibat posisi tidur yang jauh dari kata nyaman. Ia bahkan tidak benar-benar yakin apakah itu bisa disebut tidur, atau hanya sekadar memejamkan mata tanpa benar-benar terlelap.Ruangan kerjanya masih sama seperti semalam—rapi, tenang, dan dingin. Lampu meja masih menyala redup, menyisakan bayangan tipis di sudut ruangan. Di atas meja, beberapa berkas terbuka begitu saja, seolah menunggu untuk diselesaikan, meskipun pikirannya sama sekali tidak berada di sana.Ia menghela napas panjang, lalu menegakkan tubuhnya. Tangannya terangkat, memijat pelipisnya perlahan, mencoba mengusir sisa-sisa berat di kepalanya. Namun yang datang justru hal lain.Bayangan semalam.Tanpa diminta, ingatan itu kembali dengan jelas.Wajah Aruna yang begitu dekat. Napasnya yang nyaris bersentuhan. Tatapannya yang… berbeda.Dan detik di mana ia menoleh.Atlas memejamkan matanya sejenak, rahangny

  • Swipe Right for Love   62| Pukul Tiga Malam

    Aruna sudah gila. Ia tahu itu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak berniat menyangkal.Jam di dinding kamar Atlas berdetak pelan, namun terasa seperti berjalan jauh lebih lambat dari biasanya. Setiap detik seperti sengaja diperlambat hanya untuk menyiksanya. Ia sudah berbaring rapi di atas kasur, tubuhnya terselimuti selimut tebal milik lelaki itu, tapi matanya tetap terbuka lebar menatap langit-langit. Tidak ada kantuk sedikit pun yang datang menghampiri.Wajahnya panas. Pipinya terasa memerah, bahkan ketika pendingin udara sudah ia atur di suhu paling dingin.“Saya tidak suka kalau kamu sampai kenapa-kenapa.”Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Jelas. Nyaring. Seolah diulang berkali-kali tanpa jeda.Aruna mendengus pelan sebelum akhirnya menutup wajahnya dengan selimut. Ia menggeliat, lalu menendang-nendang kasur dengan kesal, berusaha melampiaskan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya pahami.“Pak Atlas juga suka sama gue?” gumamnya pelan dari balik se

  • Swipe Right for Love   61| Mungkin Tidak Sendirian

    Suasana ruang tengah rumah Atlas malam itu terasa jauh lebih hening dari biasanya.Api unggun di perapian menyala pelan, menciptakan cahaya jingga yang berpendar lembut di dinding ruangan yang luas. Bayangan mereka berdua memanjang di lantai marmer, bergetar mengikuti gerakan api yang sesekali berderak kecil, seolah menjadi satu-satunya suara yang berani memecah sunyi.Aruna duduk tegak di sofa panjang berlapis kain gelap, kedua tangannya bertumpu di atas paha, jemarinya saling menggenggam tanpa sadar. Napasnya masih belum sepenuhnya teratur, sisa emosi dan kejadian barusan masih berputar di kepalanya. Namun kini, yang lebih mendominasi justru rasa… takut.Takut pada suasana.Takut pada diamnya Atlas.Seorang pelayan datang dengan langkah tenang, membawa sebuah kotak P3K dan meletakkannya di atas meja rendah di depan mereka. Ia sempat menoleh pada Atlas, menunggu instruksi.“Perlu saya bantu, Tuan?” tanyanya sopan.Atlas hanya menggeleng singkat tanpa menoleh. Isyarat kecil itu cukup

  • Swipe Right for Love   60| Home Sweet Home

    Aruna tidak pernah menyangka bahwa melakukan podcast Ruang Rasa bisa terasa semenyebalkan ini. Biasanya, ruangan kecil berlapis peredam suara itu selalu menjadi tempat paling nyaman baginya, bahkan menertawakan hal-hal kecil bersama bintang tamunya. Namun hari ini, udara di dalam studio terasa jauh lebih berat, seolah setiap detik berjalan lebih lambat dari biasanya.Lampu kuning hangat menyinari meja di tengah ruangan, dua mikrofon berdiri saling berhadapan, lengkap dengan headphone yang kini terpasang di kepala mereka masing-masing. Di balik kaca transparan, tim produksi sibuk memperhatikan jalannya siaran, sesekali memberi isyarat tangan atau menuliskan sesuatu di papan kecil.Di sebelahnya, Azalea duduk dengan santai. Wajahnya terlihat tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja terlibat ketegangan dengan Aruna beberapa waktu lalu. Senyum tipisnya tidak pernah benar-benar hilang, dan caranya menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari pendengar terdengar begitu ter

  • Swipe Right for Love   59| Ular Dalam Bayangan

    Aruna terbangun perlahan dengan tubuh yang masih tenggelam di kasur empuk milik Atlas. Cahaya matahari pagi menyelinap masuk dari sela tirai besar, jatuh tepat di wajahnya yang masih setengah mengantuk. Untuk beberapa detik, ia hanya diam, membiarkan dirinya beradaptasi dengan langit-langit asing di atas kepalanya.Lalu ingatannya kembali utuh.Rumah Atlas. Kamar Atlas.Dan dirinya… yang sekarang benar-benar tinggal di sini, setidaknya untuk dua hari ke depan.Aruna menghela napas pelan, lalu merentangkan kedua tangannya di atas kasur, membiarkan tubuhnya tenggelam lebih dalam. Pandangannya bergeser ke arah sudut ruangan, mendapati koper pink miliknya sudah terbuka di sana, beberapa pakaian terlihat setengah terlipat rapi, setengah lagi masih berantakan seperti ditinggal terburu-buru.Semalam, ia memang hanya mengambil barang seperlunya. Beberapa baju, alat makeup, dan kebutuhan kerja. Setelah itu, ia langsung kembali ke rumah ini, ditemani pengawal Atlas, tanpa banyak berpikir panjan

  • Swipe Right for Love   58| Dunia Yang Lebih Besar

    Aruna menyetir sendiri malam itu. Jalanan sudah lengang, hanya beberapa lampu jalan yang menyala redup, memantul di kaca depan mobilnya. Udara malam terasa dingin, tapi tidak cukup untuk mengusir hangat yang sejak tadi memenuhi dadanya. Bibirnya melengkung tipis, senyum kecil yang tak bisa ia tahan setiap kali bayangan Atlas melintas di kepalanya. Percakapan singkat mereka, cara lelaki itu menatapnya, bahkan nada datarnya, semuanya terasa… tinggal.Ia menarik napas pelan, jemarinya mengetuk setir dengan ritme ringan, mengikuti lagu yang masih mengalun pelan dari speaker mobil. Malam terasa lebih ringan dari biasanya. Lebih tenang.Sampai mobilnya berhenti di halaman rumah.Mesin belum dimatikan ketika ponselnya bergetar pelan di phone holder. Aruna melirik sekilas, lalu tersenyum samar. Mungkin pesan dari Kelly. Atau—tanpa sadar harapannya melompat—mungkin dari Atlas.Ia meraih ponsel itu dan membuka pesan yang masuk.Baru sampai rumah jam segini?Senyumnya lenyap seketika.Mata Aru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status