Home / Romansa / Pak, Jangan! Nanti Ketahuan! / 63| All the Small Things

Share

63| All the Small Things

Author: sidonsky
last update publish date: 2026-04-06 01:19:46

Atlas meregangkan tubuhnya perlahan di atas kursi kerjanya. Otot-ototnya terasa kaku, terutama di bagian leher dan bahu, akibat posisi tidur yang jauh dari kata nyaman. Ia bahkan tidak benar-benar yakin apakah itu bisa disebut tidur, atau hanya sekadar memejamkan mata tanpa benar-benar terlelap.

Ruangan kerjanya masih sama seperti semalam—rapi, tenang, dan dingin. Lampu meja masih menyala redup, menyisakan bayangan tipis di sudut ruangan. Di atas meja, beberapa berkas terbuka begitu saja, seola
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   172| Memang Mau Seperti Itu

    Setelah datangnya badai kecil yang sempat membuat hubungan mereka renggang, Aruna kembali dengan warnanya yang begitu cerah. Senyumnya perlahan kembali sering terlihat, tawanya mulai terdengar lagi di setiap sudut ruangan. Bahkan Kelly sampai beberapa kali memergokinya tersenyum sendiri sambil menatap layar ponsel di sela jadwal padat yang biasanya selalu membuat Aruna kelelahan. Seakan hadirnya Atlas benar-benar menjadi pelengkap dalam hidupnya, dan mungkin memang begitu.Karena setelah semua pertengkaran, tangisan, dan rasa takut kehilangan itu, hubungan mereka terasa berbeda sekarang. Lebih hangat, lebih nyata, tidak lagi hanya dipenuhi gengsi dan permainan tarik ulur yang melelahkan. Atlas mulai belajar memberi kabar, hal kecil yang dulu bahkan tidak pernah terpikir akan dilakukan lelaki itu.Pagi ini misalnya. Di tengah kesibukan jadwal syuting sebuah program iklan skincare terbaru, Aruna tengah berdiri di depan kamera dengan balutan dress putih pastel yang jatuh sempurna di t

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   171| Never Be Enough

    Sejak pelukan yang terjalin tadi, Aruna tidak benar-benar berhenti tersenyum.Bahkan di sepanjang jalan menuju rumahnya, dengan Atlas yang duduk di sebelahnya sambil mengemudikan sedan pink metallic milik Aruna, senyum itu masih tertinggal jelas di wajah gadis tersebut. Tanpa pengawal, tanpa sopir, tanpa siapa pun yang mengganggu, malam itu terasa terlalu tenang untuk ukuran hidup mereka yang biasanya selalu dipenuhi keramaian dan tatapan orang lain.Lampu-lampu kota memantul di kaca mobil, menciptakan semburat warna keemasan di interior bernuansa pastel itu. Tangan Aruna menggenggam satu tangan Atlas yang berada di atas persneling, memainkan jemarinya pelan sambil sesekali melirik lelaki di sebelahnya.Bagaimana Atlas dengan setelan gelap dan wajah dinginnya terlihat begitu kontras berada di dalam mobil serba pink itu benar-benar terasa lucu di mata Aruna.Apalagi lelaki itu mengemudikannya dengan ekspresi serius.Sebuah kontras yang begitu menggemaskan.Membuat Aruna tanpa sadar te

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   170| Menolak Pergi

    Isak Aruna baru perlahan mereda ketika dinginnya lantai marmer mulai terasa sampai ke lututnya. Gadis itu terlihat berjongkok di depan pintu ruangan Atlas dengan kepala tertunduk, sementara jemarinya sibuk memainkan tali heels putih miliknya tanpa arah. Sesekali bahunya masih bergetar kecil sisa tangisan yang sejak tadi susah payah ia tahan agar tidak terdengar terlalu menyedihkan.Koridor executive lantai atas kini benar-benar sepi.Lampu-lampu hangat di sepanjang lorong memantulkan bayangan tubuh kecil Aruna di lantai mengilap, sementara dari balik kaca gedung, gemerlap kota malam terlihat begitu jauh dan asing. Tak ada lagi staff yang tadi berdiri penuh ketakutan di depan ruangan Atlas. Entah sudah dipulangkan atau memang sengaja menjauh agar tak melihat keadaan atasannya malam ini.Aruna mengusap hidungnya pelan. Dadanya masih terasa sesak.Ia bahkan tidak tahu harus bagaimana sekarang.Melihat Atlas dalam keadaan seperti itu membuat seluruh kekesalan dan egonya runtuh begitu sa

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   169| Suddenly

    Sudah hampir lima belas menit Aruna duduk diam di dalam mobil pink miliknya yang terparkir di area depan gedung Heartline. Mesin mobil itu masih menyala sejak tadi, menghadirkan dengung halus yang samar bercampur dengan suara pendingin udara di dalam kabin. Jemarinya menggenggam setir erat. Sementara matanya berkali-kali melirik ragu ke arah bangunan tinggi di depannya.Gedung Heartline malam itu masih terang benderang.Dinding kacanya memantulkan cahaya kota yang mulai dipenuhi lampu malam, terlihat megah sekaligus dingin. Orang-orang masih berlalu lalang keluar masuk lobby utama meski waktu sudah jauh melewati jam kantor. Beberapa pegawai tampak berjalan terburu sambil membawa laptop dan map kerja, sebagian lagi berdiri di depan lift dengan wajah lelah khas pekerja yang belum benar-benar selesai menjalani hari.Aruna mengembuskan napas panjang.Ucapan Ratna siang tadi terus berputar di kepalanya tanpa henti.Bicarakan lagi dengan Atlas.Kalimat sederhana itu terdengar mudah. Padah

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   168| Permohonan Pihak Lelaki

    "Tante dengar permasalahan yang sedang terjadi."Tangan Aruna yang baru saja ingin mengangkat gelas kopi dinginnya langsung berhenti di udara. Jemarinya menegang sepersekian detik sebelum perlahan ia kembali meletakkan gelas itu ke atas meja bundar kecil di hadapan mereka.Bunyi pelan dari dasar gelas yang menyentuh permukaan meja terdengar samar di tengah ramainya suasana coffee shop siang itu.Area outdoor tempat mereka duduk cukup ramai dipenuhi pegawai kantoran yang tengah menikmati jam makan siang. Suara mesin kopi sesekali terdengar dari dalam ruangan, bercampur dengan dentingan sendok, tawa kecil pengunjung, dan langkah para pelayan yang hilir mudik membawa pesanan.Namun entah kenapa, meja kecil di sudut yang ditempati Aruna dan Ratna justru terasa begitu sunyi.Mereka memilih tempat paling ujung, sedikit tersembunyi di balik deretan tanaman hijau tinggi yang membuat percakapan mereka tidak terlalu terdengar orang lain. Angin siang berembus pelan, menerbangkan sedikit helaian

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   167| Hari Tenang

    Setelah keributan yang ia perbuat di depan media beberapa hari lalu, sekarang Aruna memilih bungkam.Tak ada lagi pertanyaan wartawan yang ia jawab. Tidak ada lagi klarifikasi, tidak ada lagi senyum manis yang biasa ia lemparkan saat kamera menyorot wajahnya. Bahkan ketika paparazzi masih sesekali mengikuti mobilnya atau menunggu di depan kantor radio, Aruna hanya berjalan lurus tanpa berniat berhenti sedikit pun.Nama Atlas Wicaksono dan dirinya masih terus menjadi bahan pembicaraan publik, tetapi Aruna seperti mendadak menarik dirinya sepenuhnya dari semua itu.Dan anehnya, justru karena diam itulah, orang-orang semakin penasaran.Semuanya sempat mereda untuk sesaat.Sampai episode terbaru podcast Ruang Rasa yang membahas tentang kandasnya hubungan mendadak viral di seluruh media sosial.Potongan video Aruna saat berbicara tentang rasa lelah dalam hubungan tersebar di mana-mana. Cuplikan suaranya bahkan dipakai ribuan orang sebagai backsound video dan reels media sosial."Kadang kit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status