共有

Bab 6

作者: MISTERIOUS
last update 公開日: 2026-04-07 16:27:31

Zhang Wu terjatuh ke samping, kepalanya membentur lantai dengan keras.

"Kakak masih belum minta maaf," kata Li Mingzi dengan nada polos. 

Zhang Wu berusaha bangkit, tapi kakinya tidak kuat menopang. Dia meraih meja terdekat untuk berpegangan.

Krek!

Li Mingzi menginjak kaki Zhang Wu dengan enteng hingga retak.

"Aaaahhh!" Zhang Wu berteriak kesakitan. Tubuhnya ambruk kembali.

"Aduh, maaf," kata Li Mingzi sambil menggaruk kepala. "Aku tidak sengaja."

Dia menyeret Zhang Wu seperti menyeret karung sampah, menggiringnya ke hadapan Ruan Yin yang masih berdiri terpaku di ambang pintu.

Ruan Yin memandang Zhang Wu yang tersungkur dengan wajah berlumuran darah. Kemudian matanya beralih ke Li Mingzi yang tersenyum santai.

"Minta maaf," perintah Li Mingzi sambil menepuk pundak Zhang Wu.

Zhang Wu mendongak dengan wajah penuh rasa sakit. Matanya yang membengkak menatap Ruan Yin dengan tatapan penuh ketakutan.

"Maaf… maafkan aku, Nona Ruan…" suara Zhang Wu terbata-bata. Darah terus menetes dari bibirnya.

"Itu belum cukup," kata Li Mingzi sambil menekan kepala Zhang Wu hingga hampir menyentuh lantai. "Kau juga harus jujur. Surat utang itu asli atau palsu?"

Zhang Wu tersentak, tubuhnya gemetar.

"Palsu!" teriak Zhang Wu dengan putus asa. "Surat itu palsu! Aku yang membuatnya! Keluarga Ruan tidak pernah berutang apa pun padaku!"

Ruan Yin terbelalak tak percaya.

"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Ruan Yin dengan suara dingin yang menyembunyikan kemarahan besar.

Zhang Wu tidak menjawab. Dia hanya menunduk, tubuhnya bergetar ketakutan.

Ruan Yin melangkah lebih dekat, berjongkok agar sejajar dengan Zhang Wu. Matanya yang tajam menatap lurus ke mata Zhang Wu yang penuh luka.

"Jawab pertanyaanku dengan jujur," desak Ruan Yin. "Apa kau tahu di mana ayahku?"

Zhang Wu langsung menggeleng keras, matanya membulat ketakutan. "Tidak! Aku tidak tahu apa-apa! Aku tidak terlibat dengan hilangnya Tuan Ruan!"

"Bohong," desis Ruan Yin.

"Tidak! Aku bersumpah!" Zhang Wu mengangkat tangannya yang gemetar. "Tapi… tapi aku bisa mencarinya! Beri aku tiga hari! Aku akan gunakan semua koneksiku! Aku pasti menemukan!"

Ruan Yin terdiam, mempertimbangkan tawaran itu.

"Nona, jangan percaya dia," bisik Linqi dari belakang. "Dia pasti akan kabur."

Tapi Ruan Yin tahu bahwa mereka tidak punya pilihan lain. Polisi tidak pernah serius menangani kasus hilangnya ayahnya. Jalur resmi sudah mentok.

"Baik," kata Ruan Yin akhirnya. "Tiga hari. Kalau kau tidak membawa hasilnya, aku akan melaporkanmu ke polisi atas pemalsuan dokumen."

Zhang Wu mengangguk cepat. "Ba-baik!"

Dia berusaha bangkit, tapi kakinya yang patah membuatnya jatuh lagi.

"Ampuni aku…" Zhang Wu merangkak mendekati kaki Li Mingzi. "Tuan… ampuni aku…"

Li Mingzi mundur sedikit dengan ekspresi jijik. "Jangan merangkak seperti itu, mengotori lantai saja."

Zhang Wu langsung bangkit dengan susah payah, menahan sakit di kakinya yang patah. Dia tertatih-tatih menuju tangga, meninggalkan jejak darah di sepanjang koridor.

Anak buahnya yang masih sadar langsung membantu mengangkat rekan-rekan mereka yang pingsan, lalu kabur terbirit-birit mengikuti Zhang Wu.

Keheningan menyelimuti koridor.

Linqi yang tadinya meremehkan Li Mingzi kini menatapnya dengan pandangan berbeda. Matanya berbinar penuh kekaguman.

"Tuan Li…" Linqi melangkah maju dengan ragu-ragu. "Anda… anda seorang pendekar sejati?"

Li Mingzi mengernyitkan dahi. "Pendekar?"

"Benar!" seru Linqi dengan antusias. "Tuan pasti belajar ilmu silat dari guru terkenal."

"Oh, itu…" Li Mingzi menggaruk kepala dengan polos. "Aku hanya suami Ruan Yin. Suami yang baik harus bisa melindungi istrinya, kan?"

"Tuan Li benar-benar keren!" puji Linqi.

Ruan Yin masih berdiri diam, pikirannya berkecamuk. Semua yang baru saja terjadi terlalu cepat, terlalu aneh. Pria yang terlihat seperti orang bodoh, kini baru saja mengalahkan para preman tanpa berkeringat.

Siapa sebenarnya Li Mingzi?

Li Mingzi menghampiri Ruan Yin yang masih melamun. 

"Apakah urusan di kantor sudah selesai? Bagaimana kalau kita temui kakekmu sekarang?" tanya Li Mingzi ragu-ragu.

Ruan Yin sempat ragu, jari-jarinya meremas ujung blazer. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia setuju. "Baiklah, tapi ada syaratnya."

Li Mingzi mengangguk antusias. "Katakan saja!"

"Kau tidak boleh bicara sembarangan di depan kakek," tegas Ruan Yin. "Apalagi memanggilku istri."

Li Mingzi mengangguk patuh, lalu membuka mulut, "Baik, istriku."

Ruan Yin hanya bisa memutar mata, desahan panjang keluar dari bibirnya. Pasrah menghadapi tingkah pria ini.

Mobil meluncur di jalanan kota menuju kompleks vila tua di pinggiran kota. Keluarga Ruan meski kondisi ekonominya bagus, masih saja tinggal di vila warisan tersebut. Ruan Yu, sang kakek, tidak ingin pindah dari rumah yang penuh dengan kenangan itu.

Li Mingzi mengamati jalanan dari jendela mobil. Tangannya menopang dagu dengan penuh perhatian.

"Kakekmu sakit apa?" tanya Li Mingzi tiba-tiba. 

Ia tahu leluhurnya dulu pernah menjadi sahabat sekaligus penolong Ruan Yu. Koneksi keluarga mereka sudah terjalin sejak generasi lampau.

Ruan Yin hendak menjawab, namun mobil sudah berhenti di halaman vila. Pintu besar terbuka, menampilkan taman yang terawat rapi meski bangunannya terlihat kuno.

Begitu masuk ke ruang tamu, pandangan Ruan Yin langsung tertuju pada sosok pria paruh baya yang duduk dengan punggung tegak di sofa utama. Ruan An, paman keduanya.

Hati Ruan Yin langsung menegang. Ada yang tidak beres.

"Paman," sapa Ruan Yin buru-buru. "Bagaimana keadaan kakek?"

Ruan An meletakkan cangkir tehnya dengan gerakan lambat, seolah menikmati ketegangan yang tercipta.

"Kritis," jawab Ruan An datar. "Tabib Su sedang menanganinya di atas."

Ruan Yin bernafas lega sejenak. Tapi kelegaan itu tidak bertahan lama.

Brak!

Ruan An menepuk meja keras-keras hingga cangkir teh bergetar. Matanya menyala penuh amarah.

"Apa benar kau yang menyuruh orang memukuli Zhang Wu?" tanya Ruan An lantang.

Ruan Yin tercekat. "Paman, bukan seperti itu..."

"Diam!" bentak Ruan An memotong. "Kau tahu apa yang kau lakukan? Zhang Wu punya koneksi luas di dunia hitam! Kalau dia membalas dendam, seluruh keluarga Ruan bisa hancur!"

Ruan An bangkit dari duduknya, melangkah mendekat dengan langkah berat.

"Kau harus berlutut dan minta maaf pada Zhang Wu. Kalau tidak, aku akan copot jabatanmu sebagai presiden direktur."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 75

    “Lin Fang sudah kabur…” Li Mingzi melangkah santai memasuki ruangan sambil menyapu pandangan ke arah Gong Qin. “Kenapa kau tidak ikut lompat juga?”Baru sekarang Gong Qin benar-benar sadar. Lin Fang kalah.Orang yang selama ini dianggap monster pembunuh oleh ayahnya ternyata bahkan tidak mampu menghentikan Li Mingzi beberapa menit saja.Tubuh Gong Qin tanpa sadar mundur selangkah.“Li… Li Mingzi…” bibirnya bergetar. “Aku putra sulung Keluarga Gong. Kalau kau menyentuhku, seluruh Kota Awan tidak akan membiarkanmu hidup!”Li Mingzi memiringkan kepala sedikit seperti sedang berpikir.“Oh?”Plakkk!Tamparan keras meledak di dalam ruangan.Tubuh Gong Qin langsung terpental menghantam pilar beton. Suara retakan samar terdengar dari bahunya. Ia jatuh berlutut sambil memuntahkan darah.“Aaarghhh!”Separuh wajahnya langsung bengkak.Li Mingzi berjalan mendekat.“Jadi…” katanya polos. “Karena kau putra sulung Keluarga Gong, aku tidak boleh membunuhmu?”Gong Qin menggigil.Tatapan Li Mingzi tida

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 74

    “J-jadi…” Gong Qin menelan ludah keras-keras. “Kau benar-benar bisa membunuh Li Mingzi?”Ruangan menara pandang itu mendadak sunyi.Lin Fang perlahan menarik kembali hawa membunuh yang tadi menekan seluruh ruangan. Tekanan dingin itu menghilang, tetapi wajah Gong Qin justru semakin pucat.Lin Fang memalingkan tubuh ke arah jendela.“Li Mingzi memang sangat kuat,” ucapnya datar. “Aku bukan tandingannya kalau bertarung biasa.”Kalimat itu membuat Gong Qin membelalak.“Namun…” Lin Fang melanjutkan sambil melirik pantulan dirinya di kaca jendela. “Aku bisa membunuhnya.”Gong Qin terdiam beberapa detik sebelum buru-buru tertawa kaku.“Benar! Itu baru masuk akal!” katanya cepat. “Kau pembunuh terbaik ayahku. Mana mungkin kalah dari pengawal kampung seperti dia.”Namun telapak tangannya ternyata basah oleh keringat.Ruan Yin yang duduk terikat di kursi hanya menatap dingin.“Kau takut.”Senyuman Gong Qin langsung membeku.“Apa katamu?”“Kau takut pada Li Mingzi.” Ruan Yin menatap lurus ke ma

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 73

    “Turunlah dulu.” Li Mingzi menarik napas pendek sambil berdiri di tepi jurang terjal. Di bawah sana hanya terlihat jalanan samar dan jalur kabel gantung yang membentang sampai sisi lain bukit. Bai Yumeng memucat saat melihat kedalamannya. “Kau ikut denganku.” Suaranya bergetar. “Kita turun bersama.” Li Mingzi tidak menjawab. Ia justru memasang kait pengaman ke pinggang Bai dengan tenang. Di kejauhan, suara langkah kaki mulai terdengar semakin dekat. “Mereka hampir sampai.” Li Mingzi mengencangkan tali terakhir. “Kalau aku ikut turun sekarang, kita berdua bakal mati.” Bai Yumeng langsung menggenggam tangannya erat. “Kalau begitu kau yang pergi!” serunya panik. “Mereka mencariku! Semua masalah ini terjadi karena aku!” Itu pertama kalinya Li Mingzi melihat Bai Yumeng benar-benar kehilangan ketenangan. Wanita itu biasanya dingin dan angkuh, tetapi sekarang matanya dipenuhi kecemasan. Li Mingzi malah tersenyum kecil. “Jadi Nona Bai ternyata bisa juga mengkhawatirkan or

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 72

    "Kau masih membela pria itu?!" Wajah Song Hua memerah menahan amarah. "Kau tinggalkan jabatan direktur demi mengikuti pemuda kampung! Sekarang dia selingkuh di depan matamu, masih juga tidak sadar?!"Ruan Yin terdiam. Hatinya sakit mendengar kata-kata itu.Song Hua menunjuk ke arah jendela dengan jari gemetar. "Lihat sendiri! Dia berlari sambil menggenggam wanita lain! Apa lagi yang kau tunggu?!"Ruan Yuan ikut menyahut cepat. "Li Mingzi memang bajingan. Lupakan dia.""Cukup." Ruan Yin menggeleng pelan.Song Hua menghela napas kasar. "Yin'er, jangan bodoh lagi. Tinggalkan pria itu. Nenek janji akan mencarikan pasangan yang jauh lebih baik."Ruan Yin menatap lantai. Pikirannya kembali ke beberapa waktu lalu. Saat ia dikhianati Zhang Wu dan berada di titik terendahnya. Yang datang menolongnya adalah Li Mingzi.Nenek dan sepupunya itu sedang menikmati hidup makmur di luar kota."Nenek ingat nggak?" Ruan Yin mengangkat wajah perlahan. Suaranya dingin. "Saat kakek hampir mati, kalian di ma

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 71

    # Bab 71Langit Kota Awan tampak suram ketika Li Mingzi melangkah keluar dari gerbang Villa Bukit Kuning. Angin pagi berembus dingin, membuat ujung mantel hitamnya berkibar pelan.Sebuah mobil sedan hitam sudah terparkir di depan gerbang.Tin! Tin!Suara klakson pendek terdengar dua kali.Li Mingzi melirik ke dalam mobil dan melihat Bai Yumeng duduk di kursi pengemudi. Wanita itu mengenakan setelan hitam profesional yang membungkus tubuh rampingnya dengan sempurna. Kaki jenjang berbalut stoking tipis menyilang anggun, sementara wajah dinginnya tertutup sebagian oleh kacamata hitam besar."Naik," ucap Bai Yumeng singkat.Li Mingzi membuka pintu mobil tanpa banyak bicara. Namun baru saja ia duduk, alisnya langsung terangkat."Kenapa ada dia?"Di kursi belakang, Gong Manli mendengus sinis sambil melipat tangan di dada."Hmph. Kukira siapa. Ternyata buaya darat."Wajah Li Mingzi langsung menggelap. "Aku pria tampan dan gagah begini, kenapa kau panggil buaya?""Kalau bukan buaya darat nama

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 70

    Napas Ruan Yin masih terengah. Tubuhnya bersandar lemas di dinding balkon. Li Mingzi menarik diri perlahan, menatapnya dengan sorot mata yang lembut."Aku tahu kau belum siap," bisiknya pelan sambil merapikan gaun Ruan Yin yang berantakan. "Aku bisa menunggu."Ruan Yin mengangguk kecil, wajahnya masih memerah. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri.Li Mingzi tahu waktunya tidak banyak, tetapi ia bukan binatang yang suka memaksa. Mereka duduk di tepi ranjang besar yang sudah disiapkan. Keheningan sesaat menyelimuti ruangan."Ruan Yin."Suara Li Mingzi tiba-tiba terdengar serius. Ruan Yin menoleh, penasaran dengan perubahan nada bicaranya."Aku mau bilang sesuatu."Ruan Yin menunggu dengan sabar. Li Mingzi menatap jendela kamar sejenak sebelum melanjutkan."Aku datang ke Kota Awan bukan hanya untuk menepati perjanjian pernikahan.""Lalu?""Aku harus menyatukan dua keluarga besar, Gong dan Bai. Setelah itu, aku akan menegakkan kekuasaan di seluruh kota ini."Ruan Yin terdiam.

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status