LOGINZhang Wu terjatuh ke samping, kepalanya membentur lantai dengan keras.
"Kakak masih belum minta maaf," kata Li Mingzi dengan nada polos. Zhang Wu berusaha bangkit, tapi kakinya tidak kuat menopang. Dia meraih meja terdekat untuk berpegangan. Krek! Li Mingzi menginjak kaki Zhang Wu dengan enteng hingga retak. "Aaaahhh!" Zhang Wu berteriak kesakitan. Tubuhnya ambruk kembali. "Aduh, maaf," kata Li Mingzi sambil menggaruk kepala. "Aku tidak sengaja." Dia menyeret Zhang Wu seperti menyeret karung sampah, menggiringnya ke hadapan Ruan Yin yang masih berdiri terpaku di ambang pintu. Ruan Yin memandang Zhang Wu yang tersungkur dengan wajah berlumuran darah. Kemudian matanya beralih ke Li Mingzi yang tersenyum santai. "Minta maaf," perintah Li Mingzi sambil menepuk pundak Zhang Wu. Zhang Wu mendongak dengan wajah penuh rasa sakit. Matanya yang membengkak menatap Ruan Yin dengan tatapan penuh ketakutan. "Maaf… maafkan aku, Nona Ruan…" suara Zhang Wu terbata-bata. Darah terus menetes dari bibirnya. "Itu belum cukup," kata Li Mingzi sambil menekan kepala Zhang Wu hingga hampir menyentuh lantai. "Kau juga harus jujur. Surat utang itu asli atau palsu?" Zhang Wu tersentak, tubuhnya gemetar. "Palsu!" teriak Zhang Wu dengan putus asa. "Surat itu palsu! Aku yang membuatnya! Keluarga Ruan tidak pernah berutang apa pun padaku!" Ruan Yin terbelalak tak percaya. "Kenapa kau melakukan ini?" tanya Ruan Yin dengan suara dingin yang menyembunyikan kemarahan besar. Zhang Wu tidak menjawab. Dia hanya menunduk, tubuhnya bergetar ketakutan. Ruan Yin melangkah lebih dekat, berjongkok agar sejajar dengan Zhang Wu. Matanya yang tajam menatap lurus ke mata Zhang Wu yang penuh luka. "Jawab pertanyaanku dengan jujur," desak Ruan Yin. "Apa kau tahu di mana ayahku?" Zhang Wu langsung menggeleng keras, matanya membulat ketakutan. "Tidak! Aku tidak tahu apa-apa! Aku tidak terlibat dengan hilangnya Tuan Ruan!" "Bohong," desis Ruan Yin. "Tidak! Aku bersumpah!" Zhang Wu mengangkat tangannya yang gemetar. "Tapi… tapi aku bisa mencarinya! Beri aku tiga hari! Aku akan gunakan semua koneksiku! Aku pasti menemukan!" Ruan Yin terdiam, mempertimbangkan tawaran itu. "Nona, jangan percaya dia," bisik Linqi dari belakang. "Dia pasti akan kabur." Tapi Ruan Yin tahu bahwa mereka tidak punya pilihan lain. Polisi tidak pernah serius menangani kasus hilangnya ayahnya. Jalur resmi sudah mentok. "Baik," kata Ruan Yin akhirnya. "Tiga hari. Kalau kau tidak membawa hasilnya, aku akan melaporkanmu ke polisi atas pemalsuan dokumen." Zhang Wu mengangguk cepat. "Ba-baik!" Dia berusaha bangkit, tapi kakinya yang patah membuatnya jatuh lagi. "Ampuni aku…" Zhang Wu merangkak mendekati kaki Li Mingzi. "Tuan… ampuni aku…" Li Mingzi mundur sedikit dengan ekspresi jijik. "Jangan merangkak seperti itu, mengotori lantai saja." Zhang Wu langsung bangkit dengan susah payah, menahan sakit di kakinya yang patah. Dia tertatih-tatih menuju tangga, meninggalkan jejak darah di sepanjang koridor. Anak buahnya yang masih sadar langsung membantu mengangkat rekan-rekan mereka yang pingsan, lalu kabur terbirit-birit mengikuti Zhang Wu. Keheningan menyelimuti koridor. Linqi yang tadinya meremehkan Li Mingzi kini menatapnya dengan pandangan berbeda. Matanya berbinar penuh kekaguman. "Tuan Li…" Linqi melangkah maju dengan ragu-ragu. "Anda… anda seorang pendekar sejati?" Li Mingzi mengernyitkan dahi. "Pendekar?" "Benar!" seru Linqi dengan antusias. "Tuan pasti belajar ilmu silat dari guru terkenal." "Oh, itu…" Li Mingzi menggaruk kepala dengan polos. "Aku hanya suami Ruan Yin. Suami yang baik harus bisa melindungi istrinya, kan?" "Tuan Li benar-benar keren!" puji Linqi. Ruan Yin masih berdiri diam, pikirannya berkecamuk. Semua yang baru saja terjadi terlalu cepat, terlalu aneh. Pria yang terlihat seperti orang bodoh, kini baru saja mengalahkan para preman tanpa berkeringat. Siapa sebenarnya Li Mingzi? Li Mingzi menghampiri Ruan Yin yang masih melamun. "Apakah urusan di kantor sudah selesai? Bagaimana kalau kita temui kakekmu sekarang?" tanya Li Mingzi ragu-ragu. Ruan Yin sempat ragu, jari-jarinya meremas ujung blazer. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia setuju. "Baiklah, tapi ada syaratnya." Li Mingzi mengangguk antusias. "Katakan saja!" "Kau tidak boleh bicara sembarangan di depan kakek," tegas Ruan Yin. "Apalagi memanggilku istri." Li Mingzi mengangguk patuh, lalu membuka mulut, "Baik, istriku." Ruan Yin hanya bisa memutar mata, desahan panjang keluar dari bibirnya. Pasrah menghadapi tingkah pria ini. Mobil meluncur di jalanan kota menuju kompleks vila tua di pinggiran kota. Keluarga Ruan meski kondisi ekonominya bagus, masih saja tinggal di vila warisan tersebut. Ruan Yu, sang kakek, tidak ingin pindah dari rumah yang penuh dengan kenangan itu. Li Mingzi mengamati jalanan dari jendela mobil. Tangannya menopang dagu dengan penuh perhatian. "Kakekmu sakit apa?" tanya Li Mingzi tiba-tiba. Ia tahu leluhurnya dulu pernah menjadi sahabat sekaligus penolong Ruan Yu. Koneksi keluarga mereka sudah terjalin sejak generasi lampau. Ruan Yin hendak menjawab, namun mobil sudah berhenti di halaman vila. Pintu besar terbuka, menampilkan taman yang terawat rapi meski bangunannya terlihat kuno. Begitu masuk ke ruang tamu, pandangan Ruan Yin langsung tertuju pada sosok pria paruh baya yang duduk dengan punggung tegak di sofa utama. Ruan An, paman keduanya. Hati Ruan Yin langsung menegang. Ada yang tidak beres. "Paman," sapa Ruan Yin buru-buru. "Bagaimana keadaan kakek?" Ruan An meletakkan cangkir tehnya dengan gerakan lambat, seolah menikmati ketegangan yang tercipta. "Kritis," jawab Ruan An datar. "Tabib Su sedang menanganinya di atas." Ruan Yin bernafas lega sejenak. Tapi kelegaan itu tidak bertahan lama. Brak! Ruan An menepuk meja keras-keras hingga cangkir teh bergetar. Matanya menyala penuh amarah. "Apa benar kau yang menyuruh orang memukuli Zhang Wu?" tanya Ruan An lantang. Ruan Yin tercekat. "Paman, bukan seperti itu..." "Diam!" bentak Ruan An memotong. "Kau tahu apa yang kau lakukan? Zhang Wu punya koneksi luas di dunia hitam! Kalau dia membalas dendam, seluruh keluarga Ruan bisa hancur!" Ruan An bangkit dari duduknya, melangkah mendekat dengan langkah berat. "Kau harus berlutut dan minta maaf pada Zhang Wu. Kalau tidak, aku akan copot jabatanmu sebagai presiden direktur."Qin Luxi duduk di meja kerja pribadinya, berkas tebal tergeletak rapi di hadapannya. Lampu meja menyorot tajam ke lembaran-lembaran itu, memperlihatkan foto dan catatan yang dikumpulkan Tuan Ji semalaman. Dia membaliknya satu per satu, sampai matanya berhenti pada satu nama yang membuat alisnya langsung berkerut.Ruan Yin.Dia membaca ulang paragraf itu, memastikan tidak salah lihat. Hubungan dekat, sudah lama, bahkan disebut-sebut cukup akrab di kalangan orang dalam Aula Bintang. Tangannya mengepal, kertas di genggamannya sampai kusut."Playboy." Kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya, tajam dan penuh sinis. Dia melempar berkas itu ke meja, dadanya naik turun menahan geram. "Kupikir dia cuma polos. Ternyata pandai juga mainnya."Dia meraih pena merah, lalu melingkari nama Ruan Yin dengan gerakan kasar, tintanya sampai menembus ke halaman berikutnya. Nama Bai Yumeng menyusul kena lingkaran yang sama. Setelah itu, giliran nama Li Mingzi sendiri yang dia beri tanda silang besar-bes
Cahaya hijau kebiruan langsung menyembur dari permukaan batu, membentuk semacam perisai tipis yang menahan seluruh kekuatan petir itu sebelum lenyap begitu saja. Jantung Qin Luxi masih berdegup kencang, tapi kali ini bukan cuma karena takut, ada rasa penasaran yang mulai menggeser rasa ngerinya.Qin Luxi berkedip beberapa kali. Dia bahkan lupa menutup mulutnya. Apa yang selama ini dianggap cerita kosong baru saja terjadi kurang dari sepuluh langkah di depannya."Rambutku... kau bilang itu bahan formasi tadi." Dia menyentuh rambutnya sendiri, masih setengah tidak percaya. "Kenapa harus rambutku?""Karena kau gadis spiritual bawaan," jawab Li Mingzi santai. "Energimu murni, cocok jadi sumber tenaga formasi. Cuma kau yang bisa.""Jadi kau memang sudah merencanakan ini dari awal?""Kau memang ditakdirkan jadi wanitaku," katanya begitu saja, tanpa beban, tangannya terangkat memegang dagu Qin Luxi.Tepat saat itu, sambaran ketiga menyambar, lebih keras dari dua sebelumnya, membuat tanah di
Li Mingzi melepas kemejanya, melipatnya asal, lalu menjejalkannya ke dalam peti mati bersama sehelai rambut Qin Luxi. Tutup peti ditutup dengan bunyi berat, lalu didorongnya masuk ke liang yang sudah digali. Tanah ditimbun kembali, gundukan segar menutupi kayu hitam legam itu.Dia mendirikan batu nisan sederhana, menggores tulisan "Makam Li Mingzi" dengan jarinya sendiri di permukaan batu. Setelah itu digigitnya ujung jari, meneteskan darah merah pekat yang meresap ke dalam ukiran huruf."Nah, selesai." Dia menepuk-nepuk tangan, lalu menoleh dengan wajah polos. "Mau sujud dulu di depan makamku?""Kamu mati saja sana!" semprot Qin Luxi, wajahnya merah padam antara jijik dan geram. Laki-laki ini benar-benar tidak tahu malu, bikin makam sendiri lalu minta disembah seolah itu hal wajar.Li Mingzi tidak marah, malah tertawa kecil. Dia mulai berjalan mengelilingi makam kosong itu, satu putaran, dua putaran, terus sampai sembilan kali. Langkahnya pelan dan teratur, seperti sedang mengikuti p
Qin Luxi menyipitkan mata, menatap Li Mingzi curiga. "Kau sengaja panggil mereka, kan? Biar bisa jual gaya jadi pahlawan?""Buat apa? Aku tidak sempat main drama begitu." Li Mingzi mendengus, tangan tetap di saku celana, santai seolah tidak ada tujuh preman berdiri di depan mereka.Si rambut merah yang jadi pemimpin geram melihat keduanya malah asyik berdebat sendiri, seolah dia tidak ada. Dia membungkuk mengambil batu sebesar kepalan tangan dari tanah, mengangkatnya tinggi."Berani sekali kalian cuekin aku!" Dia mengarahkan batu itu ke Qin Luxi, wajahnya merah padam."Aku tidak percaya kau berani," kata Li Mingzi datar, tanpa ekspresi."Coba saja lihat!""Aku tetap tidak percaya," ulangnya lagi, kali ini sambil menguap kecil.Ucapan itu seperti sulut api ke bensin. Si rambut merah mengalihkan lemparan, membidik Li Mingzi langsung. Batu melesat cepat."Awas!" Qin Luxi refleks mengulurkan tangan hendak menahan, tapi jaraknya terlalu jauh, tubuhnya kaku di tempat.Li Mingzi hanya membuk
Li Mingzi buru-buru menangkap tubuh Kepala Kuil sebelum benar-benar ambruk ke tanah. Berat badan seratus kilo itu nyaris membuatnya goyah."Loh, kok malah sujud? Bangun, bangun." Dia menariknya berdiri, agak kewalahan.Kepala Kuil masih gemetar, tidak berani mengangkat wajah. "Pelindung... hamba tidak tahu ada tamu agung datang. Mohon maafkan kelancangan hamba."Qin Luxi berdiri di belakang, memperhatikannya lutut kepala kuil yang gemetar dan dua penjaga yang kabur lari. "Kenapa mereka kabur? Kau kenal kepala kuil ini?" "Barusan," jawab Li Mingzi kalem."Terus kenapa dia sampai segitu takutnya?"Li Mingzi pura-pura batuk sekali. "Mungkin osteoporosis. Orang tua kalau lututnya lemah gampang jatuh begitu. Perlu tandu, biar aman jalan-jalan di kuil." Kepala Kuil yang masih dipegangi malah tambah gemetar mendengar alasan itu, tapi tidak berani membantah sepatah kata pun."Hamba baik-baik saja, Pelindung. Hamba hanya... terkejut." Dia akhirnya berani menegakkan badan sedikit, keringat din
Pukul delapan pagi, Li Mingzi sudah nongkrong di lobi hotel. Kemeja putih, celana panjang, sepatu kulit mengilap, dandanan paling rapi yang pernah dia pakai seumur hidup. Beberapa tamu hotel yang lewat sempat menoleh dua kali, entah karena wajahnya atau karena dia berdiri di situ seperti orang nunggu bus.Tuan Ji muncul dari lift, tampang datar seperti biasa."Mana Qin Luxi?" Li Mingzi celingukan. "Katanya jam segini ketemu.""Nona masih tidur. Baru bangun jam sembilan biasanya." Tuan Ji menjawab cepat, hampir ketus. "Pulang saja dulu sana."Li Mingzi sudah mengeluarkan ponsel, hendak telepon langsung, tapi tangan Tuan Ji lebih cepat mencekal lengannya."Tidak sopan," katanya. "Kau cuma pengawal. Jangan sok akrab sama nona kami.""Ya sudah, aku nyanyi saja sampai dia turun."Belum sempat Tuan Ji nyambung, Li Mingzi sudah berdeham keras-keras di depan pintu masuk hotel yang ramai. Beberapa orang berhenti jalan, ada yang malah nunggu, penasaran mau nyanyi apa pemuda tampan ini."Woi, he
"Kondisi Tuan Besar Ruan memburuk karena sumbatan di meridian Yin," jawab Tabib Su ketus. "Kelembabannya sudah merusak organ dalam. Jarum Pemanggil Jiwa adalah satu-satunya jalan."Li Mingzi menggeleng pelan. "Itu bukan kelembaban biasa."Ruan Yin merasakan jemari Li Mingzi menggenggam tangannya le
Li Mingzi menatap cek itu dengan dahi berkerut. Kemudian mengangkat wajah dengan ekspresi bingung yang tidak dibuat-buat. "Apakah ini mahar untukku?"Linqi hampir tersedak. Beberapa karyawan yang menguping dari kejauhan saling berpandangan tidak percaya.Li Mingzi mengangguk pelan, lalu menggeleng.
Seketika, barisan pengawal dan pelayan di kiri-kanan pintu masuk ikut menundukkan kepala serempak. Jelas, Yu Shen telah memberitahu bawahannya mengenai Li Mingzi sebelumnya. Li Mingzi melirik mereka sekilas, lalu berdehem pelan, merasa tidak nyaman dengan penyambutan yang berlebihan ini. "Tidak
“Menaklukkan 7 wanita? Pasti ini hanya akal-akahan si tua bangka itu!” gerutu Li Mingzi, tetapi langkahnya terus terayun untuk masuk ke dalam kereta api. Demi bisa memperpanjang umurnya yang tinggal 28 hari lagi, Li Mingzi terpaksa turun gunung dan menjalankan misi khusus dari gurunya, Yu Shen. Ta







