Share

Bab 5

Penulis: MISTERIOUS
last update Tanggal publikasi: 2026-04-07 16:26:10

Ruan Yin menghentakkan meja dengan keras, suaranya bergema memenuhi ruangan. "Cukup!"

Semua orang terdiam seketika.

Anak buah Zhang Wu berhenti di tengah langkah.

Ruan Yin berdiri tegak, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap. Matanya menatap tajam ke arah Zhang Wu dengan sorot penuh peringatan.

Zhang Wu menarik napas panjang, memaksa dirinya tenang. Dia melangkah mundur, mengangkat tangan memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mundur. Tapi amarahnya tidak padam.

Zhang Wu berbalik menghadap Ruan Yin, seringainya kembali muncul dengan lebih kejam. "Keluarga Ruan memang selalu sombong."

"Kamu yang sombong," gumam Li Mingzi pelan.

Zhang Wu meliriknya dengan pandangan jijik, lalu kembali fokus pada Ruan Yin. "Dulu, waktu aku terpuruk, kalian bahkan tidak melirikku sekalipun. Aku kelaparan di jalanan. Dipukuli debt collector. Tidur di selokan. Tapi keluarga mulia kalian? Bahkan tidak mau melemparkan sebutir nasi."

Dulu, Zhang Wu memang berteman baik dengan ayah Ruan Yin. Namun, karena satu masalah yang membuat mereka berada di jalur yang berbeda, akhirnya semua berubah.

"Kenapa harus tidur di selokan?" tanya Li Mingzi dengan polos. "Bukankah lebih nyaman tidur di kuil? Biasanya para biksu suka memberi bubur gratis."

Linqi hampir tertawa lagi, tapi dia menahan diri dengan menggigit bibir.

Zhang Wu mengabaikan Li Mingzi sepenuhnya. "Kalian bilang aku kotor karena terlibat narkoba dan dunia hitam. Tapi bisnis kalian tidak lebih bersih. Dibangun di atas tanah hasil rampasan. Uang kalian berasal dari penggusuran paksa."

Ruan Yin menatapnya dengan dingin. "Setidaknya kami tidak menghancurkan hidup orang lain dengan racun."

Zhang Wu terdiam sejenak. Lalu dia tertawa keras, suara yang penuh kemenangan pahit.

"Baiklah," kata Zhang Wu pelan. Matanya menyapu tubuh Ruan Yin dari atas ke bawah dengan tatapan mesum yang terang-terangan. "Tapi, aku datang ke sini karena aku punya tawaran."

Li Mingzi menegakkan tubuh, ekspresinya tiba-tiba serius. "Tawaran apa?"

"Bukan urusanmu," bentak Zhang Wu.

"Dia istriku, tentu saja urusanku," balas Li Mingzi dengan nada bingung.

Zhang Wu mengabaikannya lagi. "Temani aku semalam, Ruan Yin. Kalau kau mau, aku akan melepaskan semua utang keluargamu. Lima ratus miliar harga yang sepadan, bukan?"

Linqi tersentak mundur, wajahnya pucat.

Li Mingzi mengernyitkan dahi. "Menemani? Untuk apa? Main catur? Atau main kartu?"

Linqi hampir pingsan mendengar kenaifan Li Mingzi.

Ruan Yin masih diam, tapi tangannya yang terkepal di sisi tubuhnya gemetar menahan amarah.

"Tapi kalau kau menolak..." Zhang Wu berbalik ke arah anak buahnya. "Angkut semua barang berharga di perusahaan ini. Semuanya!"

Zhang Wu dan anak buahnya langsung bergerak keluar ruangan.

"Tunggu!" teriak Ruan Yin, tapi suaranya tenggelam di tengah riuh rendah langkah kaki mereka.

Suara kacau segera terdengar dari luar. Karyawan berteriak panik, meja-meja didorong, barang-barang dijatuhkan. Suara pecahan kaca dan teriakan ketakutan bergema di sepanjang koridor.

Ruan Yin hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya, pandangannya kosong. Tubuhnya lemas, seolah semua kekuatan sudah terkuras habis.

Dia merosot ke kursi, kepalanya tertunduk.

Linqi menghapus air mata yang mengalir di pipinya. "Kita tidak punya kekuatan untuk melawan mereka, Nona."

Suaranya pecah, penuh keputusasaan.

Li Mingzi melangkah keluar dengan cepat. "Aku akan menghajar mereka."

Linqi menatapnya dengan pandangan kosong. "Bodoh."

Li Mingzi masih sempat tersenyum sebelum menutup pintu. 

Sementara itu, Ruan Yin bangkit dari kursinya dengan gerakan tergesa. Jantungnya berdebar kencang mendengar kegaduhan dari luar yang tiba-tiba berhenti.

Linqi memberanikan diri mengintip melalui celah pintu. Matanya membulat, napasnya tertahan di tenggorokan.

"Nona… kau harus lihat ini," bisik Linqi dengan suara gemetar.

Ruan Yin berlari ke pintu, mendorong Linqi ke samping. Apa yang dilihatnya membuat kakinya hampir lemas.

Li Mingzi berdiri di tengah koridor dengan senyum santai, sementara di sekelilingnya tujuh anak buah Zhang Wu tergeletak tak berdaya.

Seorang preman mencoba menyerangnya dari belakang dengan tongkat besi. Li Mingzi hanya memiringkan kepala sedikit, menghindari pukulan itu dengan mudah. Tangannya bergerak cepat, menampar pipi si preman hingga tubuh kekar itu berputar dua kali sebelum jatuh menghantam dinding.

"Wah, keras sekali kepalamu," ejek Li Mingzi. "Apa kau sering makan batu?"

Preman lain maju dengan teriakan marah. Li Mingzi mengangkat tangan, mendorong dadanya dengan jari telunjuk. Gerakan itu tampak ringan, tapi tubuh si preman langsung terpental mundur, menyapu dua rekannya yang berdiri di belakang.

Tiga orang sekaligus jatuh berguling-guling.

"Maaf, maaf," kata Li Mingzi sambil membungkuk sopan. "Aku tidak bermaksud mendorongmu."

Preman terakhir yang masih berdiri gemetar ketakutan. Dia melempar tongkat besinya, lalu berlari terbirit-birit menuju tangga darurat.

Li Mingzi menghitung dengan jarinya. "Satu, dua, tiga… tujuh orang. Sudah lengkap."

Zhang Wu terlihat sangat marah.

"Sialan kau!" teriak Zhang Wu sambil maju dengan tangan terkepal.

Li Mingzi tersenyum ramah. "Kakak Zhang Wu mau main juga? Baiklah..."

Zhang Wu melepaskan pukulan cepat ke arah wajah Li Mingzi. 

Tapi Li Mingzi lebih cepat.

Tangannya terangkat, menangkap tangan Zhang Wu di udara. Jari-jarinya menggenggam pergelangan tangan Zhang Wu dengan kuat.

"Lepaskan!" Zhang Wu berusaha menarik tangannya, tapi tidak bergeming sama sekali. 

Plak!

Tamparan Li Mingzi mendarat di pipi Zhang Wu dengan bunyi nyaring. Kepala Zhang Wu terlempar ke samping, ludah bercampur darah menyembur dari mulutnya, dua gigi depannya rontok.

Zhang Wu tersungkur, darah mengucur dari bibirnya yang robek.

"Gigiku…" erang Zhang Wu dengan suara parau. Tangannya gemetar mencoba meraih gigi yang tergeletak di lantai.

Li Mingzi berjongkok di sampingnya dengan ekspresi datar. "Ini hukuman karena suka mengganggu istriku." 

Plak!

Tamparan kedua mendarat di sisi kepala Zhang Wu. Kali ini lebih keras. Darah segar menyembur dari pelipis Zhang Wu, mengalir membasahi wajahnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 71

    # Bab 71Langit Kota Awan tampak suram ketika Li Mingzi melangkah keluar dari gerbang Villa Bukit Kuning. Angin pagi berembus dingin, membuat ujung mantel hitamnya berkibar pelan.Sebuah mobil sedan hitam sudah terparkir di depan gerbang.Tin! Tin!Suara klakson pendek terdengar dua kali.Li Mingzi melirik ke dalam mobil dan melihat Bai Yumeng duduk di kursi pengemudi. Wanita itu mengenakan setelan hitam profesional yang membungkus tubuh rampingnya dengan sempurna. Kaki jenjang berbalut stoking tipis menyilang anggun, sementara wajah dinginnya tertutup sebagian oleh kacamata hitam besar."Naik," ucap Bai Yumeng singkat.Li Mingzi membuka pintu mobil tanpa banyak bicara. Namun baru saja ia duduk, alisnya langsung terangkat."Kenapa ada dia?"Di kursi belakang, Gong Manli mendengus sinis sambil melipat tangan di dada."Hmph. Kukira siapa. Ternyata buaya darat."Wajah Li Mingzi langsung menggelap. "Aku pria tampan dan gagah begini, kenapa kau panggil buaya?""Kalau bukan buaya darat nama

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 70

    Napas Ruan Yin masih terengah. Tubuhnya bersandar lemas di dinding balkon. Li Mingzi menarik diri perlahan, menatapnya dengan sorot mata yang lembut."Aku tahu kau belum siap," bisiknya pelan sambil merapikan gaun Ruan Yin yang berantakan. "Aku bisa menunggu."Ruan Yin mengangguk kecil, wajahnya masih memerah. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri.Li Mingzi tahu waktunya tidak banyak, tetapi ia bukan binatang yang suka memaksa. Mereka duduk di tepi ranjang besar yang sudah disiapkan. Keheningan sesaat menyelimuti ruangan."Ruan Yin."Suara Li Mingzi tiba-tiba terdengar serius. Ruan Yin menoleh, penasaran dengan perubahan nada bicaranya."Aku mau bilang sesuatu."Ruan Yin menunggu dengan sabar. Li Mingzi menatap jendela kamar sejenak sebelum melanjutkan."Aku datang ke Kota Awan bukan hanya untuk menepati perjanjian pernikahan.""Lalu?""Aku harus menyatukan dua keluarga besar, Gong dan Bai. Setelah itu, aku akan menegakkan kekuasaan di seluruh kota ini."Ruan Yin terdiam.

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 69

    “Kurang ajar!”Song Hua membalik meja. Namun Li Mingzi hanya mengangkat tangan.Brak!Telapak tangannya menepuk pelan meja kayu jati yang di dorong ke arahnya. Dalam sekejap, meja besar itu ambruk menjadi beberapa bagian.Hembusan tenaga tak kasatmata menyapu ruangan.Song Hua langsung pucat pasi. Tubuhnya gemetar. Ruan Tang buru-buru maju menenangkan keadaan.“Sudah cukup!”Ia memijat pelipisnya lalu memandang putrinya.“Ruan Yin... bicara baik-baik dengan nenekmu.”Ruan Yin menarik napas panjang lalu mendekati Song Hua.“Nenek,” ucapnya pelan, “Tolong jangan atur perjodohanku lagi.”Song Hua menggertakkan gigi.“Aku nggak mengerti! Kenapa kau justru menyukai pria kampung seperti dia?!”Tatapannya penuh ketidakpuasan saat melihat Li Mingzi.“Apa yang bisa dia berikan untuk masa depanmu?!”Ruan Yin terdiam sesaat. Lalu perlahan ia tersenyum kecil. “Aku menyukainya.”Jawaban singkat itu justru membuat Song Hua semakin marah.“Kalau begitu perusahaan keluarga akan kuberikan pada Ruan Y

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 68

    Ruan Yin duduk di depan layar komputer dengan jemari bergerak pelan di atas keyboard, tapi pikirannya sama sekali tidak fokus pada laporan keuangan yang terbuka di monitor. Angka-angka di depannya terlihat kabur.Sesekali ia melirik ke arah sofa.Li Mingzi masih duduk santai di sana sambil memainkan game di laptop. Wajahnya terlihat serius saat bertarung di dalam permainan.“Eh, mati lagi...” gumamnya pelan.Beberapa detik kemudian, ia tertawa kecil sendiri.“Bagus. Balas dendam berhasil.”Ruan Yin mendengus pelan. Perasaan bersalah di dadanya makin berat.Ia merasa seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak seharusnya disembunyikan.Padahal... ia sendiri tidak ingin datang ke pertemuan itu.Tapi posisi Keluarga Xu terlalu penting untuk perusahaan. Jika ia menolak mentah-mentah, Song Hua pasti akan kembali membuat keributan besar.“Kenapa wajahmu aneh begitu?”Suara Li Mingzi tiba-tiba membuat tubuh Ruan Yin sedikit tersentak.“Hah?”Li Mingzi menoleh sambil mengernyit. “Kamu sa

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 67

    Ruan Yuan duduk dengan kaku. Tangannya gemetar di atas paha.Gong Qin menuangkan anggur merah ke dalam gelas, lalu menyodorkannya. "Minum dulu. Santai saja."Ruan Yuan mengambil gelas itu, tapi tidak meminumnya. Ia hanya meremasnya erat."Kenapa... saya dipanggil ke sini?" tanyanya pelan."Karena kita punya musuh yang sama," jawab Gong Qin santai.Gong Manli duduk di sisi lain sofa, kaki disilangkan anggun. Ia memperhatikan wajah Ruan Yuan dengan seksama."Siapa yang memukul wajahmu?" tanyanya tiba-tiba.Ruan Yuan tersentak. Wajahnya langsung memerah, campuran malu dan marah."Bukan urusanmu!" bentaknya sambil berdiri, hendak pergi.Tapi Gong Qin mengangkat tangan, memberi isyarat. Dua pria berbaju hitam langsung menghalangi pintu."Duduk dulu," kata Gong Qin lembut tapi menekan. "Orang yang memukul wajahmu... juga pernah memukul wajahku."Ruan Yuan membeku. Ia melirik luka tipis di pipi Gong Qin. Perlahan ia duduk lagi."Li Mingzi," bisik Gong Qin pelan. "Dialah musuh kita bersama."

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 66

    Li Mingzi mengangkat bahu, ekspresinya polos. "Itu bukan urusanku. Orang-orang di sana hanya kenal dengan Ruan Yin, kok."Bai Yumeng menyipitkan mata, seolah mencoba membaca kebohongan di balik wajah tenang pria itu. Angin malam berhembus pelan, menggerakkan helaian rambutnya yang hitam berkilau."Kau pikir aku bodoh?" bisiknya tajam.Li Mingzi tersenyum lebar, menggaruk kepala dengan gerakan canggung. "Sungguh! Mereka bahkan tidak tahu namaku."Bai Yumeng terdiam lama. Rahangnya mengeras. Akhirnya ia mendengus kesal, lalu berbalik memunggungi Li Mingzi."Lupakan," ujarnya dingin. "Tapi ingat baik-baik. Dua hari lagi temani aku ke krematorium untuk menaruh abu ayahku. Itu sebagai gantinya malam ini."Li Mingzi mengangguk cepat. "Baik, tidak masalah."Bai Yumeng melangkah menuju mobilnya tanpa menoleh lagi. Mesin menyala, lampu belakang menyala merah, lalu mobil itu meluncur keluar dari area gedung.Begitu suara mesin menjauh, Luo Han muncul dari bayang-bayang di samping pintu masuk. I

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status