LOGINRuan Yin menghentakkan meja dengan keras, suaranya bergema memenuhi ruangan. "Cukup!"
Semua orang terdiam seketika. Anak buah Zhang Wu berhenti di tengah langkah. Ruan Yin berdiri tegak, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap. Matanya menatap tajam ke arah Zhang Wu dengan sorot penuh peringatan. Zhang Wu menarik napas panjang, memaksa dirinya tenang. Dia melangkah mundur, mengangkat tangan memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mundur. Tapi amarahnya tidak padam. Zhang Wu berbalik menghadap Ruan Yin, seringainya kembali muncul dengan lebih kejam. "Keluarga Ruan memang selalu sombong." "Kamu yang sombong," gumam Li Mingzi pelan. Zhang Wu meliriknya dengan pandangan jijik, lalu kembali fokus pada Ruan Yin. "Dulu, waktu aku terpuruk, kalian bahkan tidak melirikku sekalipun. Aku kelaparan di jalanan. Dipukuli debt collector. Tidur di selokan. Tapi keluarga mulia kalian? Bahkan tidak mau melemparkan sebutir nasi." Dulu, Zhang Wu memang berteman baik dengan ayah Ruan Yin. Namun, karena satu masalah yang membuat mereka berada di jalur yang berbeda, akhirnya semua berubah. "Kenapa harus tidur di selokan?" tanya Li Mingzi dengan polos. "Bukankah lebih nyaman tidur di kuil? Biasanya para biksu suka memberi bubur gratis." Linqi hampir tertawa lagi, tapi dia menahan diri dengan menggigit bibir. Zhang Wu mengabaikan Li Mingzi sepenuhnya. "Kalian bilang aku kotor karena terlibat narkoba dan dunia hitam. Tapi bisnis kalian tidak lebih bersih. Dibangun di atas tanah hasil rampasan. Uang kalian berasal dari penggusuran paksa." Ruan Yin menatapnya dengan dingin. "Setidaknya kami tidak menghancurkan hidup orang lain dengan racun." Zhang Wu terdiam sejenak. Lalu dia tertawa keras, suara yang penuh kemenangan pahit. "Baiklah," kata Zhang Wu pelan. Matanya menyapu tubuh Ruan Yin dari atas ke bawah dengan tatapan mesum yang terang-terangan. "Tapi, aku datang ke sini karena aku punya tawaran." Li Mingzi menegakkan tubuh, ekspresinya tiba-tiba serius. "Tawaran apa?" "Bukan urusanmu," bentak Zhang Wu. "Dia istriku, tentu saja urusanku," balas Li Mingzi dengan nada bingung. Zhang Wu mengabaikannya lagi. "Temani aku semalam, Ruan Yin. Kalau kau mau, aku akan melepaskan semua utang keluargamu. Lima ratus miliar harga yang sepadan, bukan?" Linqi tersentak mundur, wajahnya pucat. Li Mingzi mengernyitkan dahi. "Menemani? Untuk apa? Main catur? Atau main kartu?" Linqi hampir pingsan mendengar kenaifan Li Mingzi. Ruan Yin masih diam, tapi tangannya yang terkepal di sisi tubuhnya gemetar menahan amarah. "Tapi kalau kau menolak..." Zhang Wu berbalik ke arah anak buahnya. "Angkut semua barang berharga di perusahaan ini. Semuanya!" Zhang Wu dan anak buahnya langsung bergerak keluar ruangan. "Tunggu!" teriak Ruan Yin, tapi suaranya tenggelam di tengah riuh rendah langkah kaki mereka. Suara kacau segera terdengar dari luar. Karyawan berteriak panik, meja-meja didorong, barang-barang dijatuhkan. Suara pecahan kaca dan teriakan ketakutan bergema di sepanjang koridor. Ruan Yin hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya, pandangannya kosong. Tubuhnya lemas, seolah semua kekuatan sudah terkuras habis. Dia merosot ke kursi, kepalanya tertunduk. Linqi menghapus air mata yang mengalir di pipinya. "Kita tidak punya kekuatan untuk melawan mereka, Nona." Suaranya pecah, penuh keputusasaan. Li Mingzi melangkah keluar dengan cepat. "Aku akan menghajar mereka." Linqi menatapnya dengan pandangan kosong. "Bodoh." Li Mingzi masih sempat tersenyum sebelum menutup pintu. Sementara itu, Ruan Yin bangkit dari kursinya dengan gerakan tergesa. Jantungnya berdebar kencang mendengar kegaduhan dari luar yang tiba-tiba berhenti. Linqi memberanikan diri mengintip melalui celah pintu. Matanya membulat, napasnya tertahan di tenggorokan. "Nona… kau harus lihat ini," bisik Linqi dengan suara gemetar. Ruan Yin berlari ke pintu, mendorong Linqi ke samping. Apa yang dilihatnya membuat kakinya hampir lemas. Li Mingzi berdiri di tengah koridor dengan senyum santai, sementara di sekelilingnya tujuh anak buah Zhang Wu tergeletak tak berdaya. Seorang preman mencoba menyerangnya dari belakang dengan tongkat besi. Li Mingzi hanya memiringkan kepala sedikit, menghindari pukulan itu dengan mudah. Tangannya bergerak cepat, menampar pipi si preman hingga tubuh kekar itu berputar dua kali sebelum jatuh menghantam dinding. "Wah, keras sekali kepalamu," ejek Li Mingzi. "Apa kau sering makan batu?" Preman lain maju dengan teriakan marah. Li Mingzi mengangkat tangan, mendorong dadanya dengan jari telunjuk. Gerakan itu tampak ringan, tapi tubuh si preman langsung terpental mundur, menyapu dua rekannya yang berdiri di belakang. Tiga orang sekaligus jatuh berguling-guling. "Maaf, maaf," kata Li Mingzi sambil membungkuk sopan. "Aku tidak bermaksud mendorongmu." Preman terakhir yang masih berdiri gemetar ketakutan. Dia melempar tongkat besinya, lalu berlari terbirit-birit menuju tangga darurat. Li Mingzi menghitung dengan jarinya. "Satu, dua, tiga… tujuh orang. Sudah lengkap." Zhang Wu terlihat sangat marah. "Sialan kau!" teriak Zhang Wu sambil maju dengan tangan terkepal. Li Mingzi tersenyum ramah. "Kakak Zhang Wu mau main juga? Baiklah..." Zhang Wu melepaskan pukulan cepat ke arah wajah Li Mingzi. Tapi Li Mingzi lebih cepat. Tangannya terangkat, menangkap tangan Zhang Wu di udara. Jari-jarinya menggenggam pergelangan tangan Zhang Wu dengan kuat. "Lepaskan!" Zhang Wu berusaha menarik tangannya, tapi tidak bergeming sama sekali. Plak! Tamparan Li Mingzi mendarat di pipi Zhang Wu dengan bunyi nyaring. Kepala Zhang Wu terlempar ke samping, ludah bercampur darah menyembur dari mulutnya, dua gigi depannya rontok. Zhang Wu tersungkur, darah mengucur dari bibirnya yang robek. "Gigiku…" erang Zhang Wu dengan suara parau. Tangannya gemetar mencoba meraih gigi yang tergeletak di lantai. Li Mingzi berjongkok di sampingnya dengan ekspresi datar. "Ini hukuman karena suka mengganggu istriku." Plak! Tamparan kedua mendarat di sisi kepala Zhang Wu. Kali ini lebih keras. Darah segar menyembur dari pelipis Zhang Wu, mengalir membasahi wajahnya.Qin Luxi duduk di meja kerja pribadinya, berkas tebal tergeletak rapi di hadapannya. Lampu meja menyorot tajam ke lembaran-lembaran itu, memperlihatkan foto dan catatan yang dikumpulkan Tuan Ji semalaman. Dia membaliknya satu per satu, sampai matanya berhenti pada satu nama yang membuat alisnya langsung berkerut.Ruan Yin.Dia membaca ulang paragraf itu, memastikan tidak salah lihat. Hubungan dekat, sudah lama, bahkan disebut-sebut cukup akrab di kalangan orang dalam Aula Bintang. Tangannya mengepal, kertas di genggamannya sampai kusut."Playboy." Kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya, tajam dan penuh sinis. Dia melempar berkas itu ke meja, dadanya naik turun menahan geram. "Kupikir dia cuma polos. Ternyata pandai juga mainnya."Dia meraih pena merah, lalu melingkari nama Ruan Yin dengan gerakan kasar, tintanya sampai menembus ke halaman berikutnya. Nama Bai Yumeng menyusul kena lingkaran yang sama. Setelah itu, giliran nama Li Mingzi sendiri yang dia beri tanda silang besar-bes
Cahaya hijau kebiruan langsung menyembur dari permukaan batu, membentuk semacam perisai tipis yang menahan seluruh kekuatan petir itu sebelum lenyap begitu saja. Jantung Qin Luxi masih berdegup kencang, tapi kali ini bukan cuma karena takut, ada rasa penasaran yang mulai menggeser rasa ngerinya.Qin Luxi berkedip beberapa kali. Dia bahkan lupa menutup mulutnya. Apa yang selama ini dianggap cerita kosong baru saja terjadi kurang dari sepuluh langkah di depannya."Rambutku... kau bilang itu bahan formasi tadi." Dia menyentuh rambutnya sendiri, masih setengah tidak percaya. "Kenapa harus rambutku?""Karena kau gadis spiritual bawaan," jawab Li Mingzi santai. "Energimu murni, cocok jadi sumber tenaga formasi. Cuma kau yang bisa.""Jadi kau memang sudah merencanakan ini dari awal?""Kau memang ditakdirkan jadi wanitaku," katanya begitu saja, tanpa beban, tangannya terangkat memegang dagu Qin Luxi.Tepat saat itu, sambaran ketiga menyambar, lebih keras dari dua sebelumnya, membuat tanah di
Li Mingzi melepas kemejanya, melipatnya asal, lalu menjejalkannya ke dalam peti mati bersama sehelai rambut Qin Luxi. Tutup peti ditutup dengan bunyi berat, lalu didorongnya masuk ke liang yang sudah digali. Tanah ditimbun kembali, gundukan segar menutupi kayu hitam legam itu.Dia mendirikan batu nisan sederhana, menggores tulisan "Makam Li Mingzi" dengan jarinya sendiri di permukaan batu. Setelah itu digigitnya ujung jari, meneteskan darah merah pekat yang meresap ke dalam ukiran huruf."Nah, selesai." Dia menepuk-nepuk tangan, lalu menoleh dengan wajah polos. "Mau sujud dulu di depan makamku?""Kamu mati saja sana!" semprot Qin Luxi, wajahnya merah padam antara jijik dan geram. Laki-laki ini benar-benar tidak tahu malu, bikin makam sendiri lalu minta disembah seolah itu hal wajar.Li Mingzi tidak marah, malah tertawa kecil. Dia mulai berjalan mengelilingi makam kosong itu, satu putaran, dua putaran, terus sampai sembilan kali. Langkahnya pelan dan teratur, seperti sedang mengikuti p
Qin Luxi menyipitkan mata, menatap Li Mingzi curiga. "Kau sengaja panggil mereka, kan? Biar bisa jual gaya jadi pahlawan?""Buat apa? Aku tidak sempat main drama begitu." Li Mingzi mendengus, tangan tetap di saku celana, santai seolah tidak ada tujuh preman berdiri di depan mereka.Si rambut merah yang jadi pemimpin geram melihat keduanya malah asyik berdebat sendiri, seolah dia tidak ada. Dia membungkuk mengambil batu sebesar kepalan tangan dari tanah, mengangkatnya tinggi."Berani sekali kalian cuekin aku!" Dia mengarahkan batu itu ke Qin Luxi, wajahnya merah padam."Aku tidak percaya kau berani," kata Li Mingzi datar, tanpa ekspresi."Coba saja lihat!""Aku tetap tidak percaya," ulangnya lagi, kali ini sambil menguap kecil.Ucapan itu seperti sulut api ke bensin. Si rambut merah mengalihkan lemparan, membidik Li Mingzi langsung. Batu melesat cepat."Awas!" Qin Luxi refleks mengulurkan tangan hendak menahan, tapi jaraknya terlalu jauh, tubuhnya kaku di tempat.Li Mingzi hanya membuk
Li Mingzi buru-buru menangkap tubuh Kepala Kuil sebelum benar-benar ambruk ke tanah. Berat badan seratus kilo itu nyaris membuatnya goyah."Loh, kok malah sujud? Bangun, bangun." Dia menariknya berdiri, agak kewalahan.Kepala Kuil masih gemetar, tidak berani mengangkat wajah. "Pelindung... hamba tidak tahu ada tamu agung datang. Mohon maafkan kelancangan hamba."Qin Luxi berdiri di belakang, memperhatikannya lutut kepala kuil yang gemetar dan dua penjaga yang kabur lari. "Kenapa mereka kabur? Kau kenal kepala kuil ini?" "Barusan," jawab Li Mingzi kalem."Terus kenapa dia sampai segitu takutnya?"Li Mingzi pura-pura batuk sekali. "Mungkin osteoporosis. Orang tua kalau lututnya lemah gampang jatuh begitu. Perlu tandu, biar aman jalan-jalan di kuil." Kepala Kuil yang masih dipegangi malah tambah gemetar mendengar alasan itu, tapi tidak berani membantah sepatah kata pun."Hamba baik-baik saja, Pelindung. Hamba hanya... terkejut." Dia akhirnya berani menegakkan badan sedikit, keringat din
Pukul delapan pagi, Li Mingzi sudah nongkrong di lobi hotel. Kemeja putih, celana panjang, sepatu kulit mengilap, dandanan paling rapi yang pernah dia pakai seumur hidup. Beberapa tamu hotel yang lewat sempat menoleh dua kali, entah karena wajahnya atau karena dia berdiri di situ seperti orang nunggu bus.Tuan Ji muncul dari lift, tampang datar seperti biasa."Mana Qin Luxi?" Li Mingzi celingukan. "Katanya jam segini ketemu.""Nona masih tidur. Baru bangun jam sembilan biasanya." Tuan Ji menjawab cepat, hampir ketus. "Pulang saja dulu sana."Li Mingzi sudah mengeluarkan ponsel, hendak telepon langsung, tapi tangan Tuan Ji lebih cepat mencekal lengannya."Tidak sopan," katanya. "Kau cuma pengawal. Jangan sok akrab sama nona kami.""Ya sudah, aku nyanyi saja sampai dia turun."Belum sempat Tuan Ji nyambung, Li Mingzi sudah berdeham keras-keras di depan pintu masuk hotel yang ramai. Beberapa orang berhenti jalan, ada yang malah nunggu, penasaran mau nyanyi apa pemuda tampan ini."Woi, he
Li Mingzi menatap cek itu dengan dahi berkerut. Kemudian mengangkat wajah dengan ekspresi bingung yang tidak dibuat-buat. "Apakah ini mahar untukku?"Linqi hampir tersedak. Beberapa karyawan yang menguping dari kejauhan saling berpandangan tidak percaya.Li Mingzi mengangguk pelan, lalu menggeleng.
Ruan Yin menatap pamannya tak percaya. "Paman! Zhang Wu yang membuat surat utang palsu untuk menipu perusahaan kita!""Akan kuurus nanti," potong Ruan An lagi. "Mulai sekarang urusan grup aku yang ambil alih. Kau masih terlalu muda, terlalu emosional untuk memimpin."Li Mingzi yang sejak tadi diam,
Zhang Wu terjatuh ke samping, kepalanya membentur lantai dengan keras."Kakak masih belum minta maaf," kata Li Mingzi dengan nada polos. Zhang Wu berusaha bangkit, tapi kakinya tidak kuat menopang. Dia meraih meja terdekat untuk berpegangan.Krek!Li Mingzi menginjak kaki Zhang Wu dengan enteng hi
"Ya." Li Mingzi beranjak dari kursinya."Hei, tunggu! Jangan masuk! Kau bisa celaka!" cegah karyawan berkacamata dengan panik.Tapi Li Mingzi tidak mengindahkan peringatannya.Karyawan berkacamata hanya bisa menggeleng pasrah, membayangkan pemuda aneh itu akan segera babak belur dihajar anak buah Z







