LOGINHujan di waktu itu ternyata nggak cuma bikin basah tapi juga bikin Alina tumbang, karena paginya dia bangun dengan kepala berat banget, badan panas, dan tenggorokan kayak menelan amplas.
Tapi kontrak 90 hari itu nggak kenal sakit, jadi jam 7.15 Alina sudah memaksakan diri ke kantor dengan wajah pucat dan bibir kering, niatnya nggak mau bikin Arka punya alasan buat motong gaji lagi. Begitu masuk lobi Mahendra Group, Pak Riko langsung menegur, "Nona Alina, muka kamu kok pucat banget, sakit ya?" "Nggak Pak," jawab Alina maksa senyum, "cuma kurang tidur saja." Tentu saja Alina bohong, karena begitu duduk di mejanya jam 7.30, kepalanya sudah muter kayak gasing dan tangannya dingin banget walau AC nya nggak dinyalain. Jam 7.31 pintu Arka kebuka, dan seperti biasa dia jalan tanpa menengok, tapi hari ini dia berhenti di depan meja Alina dan melihat Alina lama dari atas sampai bawah. "Kamu kenapa?" tanyanya datar, tapi ada nada yang beda dari biasanya. "Sakit?" "Saya sehat Pak," jawab Alina cepat, "siap kerja 24 jam." Arka nggak jawab, dia cuma mengulurkan punggung tangannya dan ditempelin ke jidat Alina tanpa permisi, dan sentuhannya dingin tapi bikin Alina kaget karena itu tindakan paling manusiawi yang pernah Arka lakukan padanya. "Kamu demam," kata Arka langsung, "kamu pulang saja." "Hah? Nggak bisa Pak," Alina langsung panik, "ada meeting jam 9, dokumennya belum ,,," "Saya bilang pulang," potong Arka, suaranya lebih rendah, "atau saya gendong kamu keluar sekarang." Alina langsung diam karena dia tahu Arka nggak main-main, jadi dengan berat hati dia mengumpulkan barangnya dan diantar Pak Riko ke taksi sambil disuruh istirahat total. Di dalam taksi, badan Alina makin hangat dan kepalanya makin berat, sampai akhirnya dia ketiduran dan baru sadar sudah ada di kasur kosnya sendiri. Dia demam tiga hari. Tiga hari yang rasanya kayak neraka karena nggak ada siapa-siapa, kostnya sepi, dan dia cuma bisa minum air putih sama makan bubur instan. Hari kedua demam, jam 8 malam, pintunya diketok pelan. Alina mengira itu Mbak kos, jadi dia buka pintu dengan badan lemes dan rambut berantakan, dan dia kaget setengah mati waktu melihat Arka berdiri di depan pintunya pake jas hitam dan kantong belanjaan. "Pak?" Alina nggak percaya, "ngapain kesini?" "Ngecek kamu masih hidup atau enggak," jawab Arka singkat lalu nyelonong masuk tanpa menunggu dikasih izin terlebih dulu. Alina mau protes tapi nggak ada tenaga, jadi dia cuma bisa duduk di kasur sambil merem karena pusing melihat Arka jalan mondar-mandir di kostnya yang kecil. Arka melihat sekeliling ruangan, kostnya berantakan, nggak ada obat, nggak ada makanan, cuma ada bungkus bubur kosong di meja, dan rahangnya langsung mengeras. "Kamu tiga hari demam cuma makan ini?" tanyanya sambil mengangkat bungkus bubur, nadanya nggak marah tapi kecewa banget. "Murah Pak," Alina jawab lemah sambil ketawa kecil, "cocok sama gaji babu." Arka nggak ketawa. Tangannya malah sibuk mengeluarkan isi kantong belanjaan, ada sup ayam anget, roti, buah, obat demam, dan madu, lalu Arka duduk di lantai karena nggak ada kursi dan mulai nyuapin Alina. "Heh Pak, saya bisa makan sendiri," Alina nolak tapi Arka nggak peduli. "Buka mulut," perintahnya, "kecuali kamu mau demamnya nggak sembuh-sembuh." Alina kalah, jadi dia buka mulut dan makan pelan-pelan, dan anehnya sup ayam dari tangan CEO dingin itu rasanya paling enak sedunia. Mereka diam beberapa menit, cuma ada suara sendok kena mangkok, dan suasana di kost kecil itu hangat banget walau AC nya mati. "Kamu kenapa repot-repot Pak?" Alina akhirnya buka suara, "saya cuma asisten kontrak." Arka berhenti menyuapi, ditatapnya Alina lama, "Karena kalau kamu mati, saya harus training orang baru," jawabnya datar, "dan itu capek." Alasan klasik lagi, tapi mata Arka nggak bohong, karena di matanya ada khawatir yang nggak bisa dia sembunyikan. Setelah Alina selesai makan, Arka memberinya obat lalu menyelimuti Alina seperti adik kecil. "Istirahat," katanya sambil berdiri, "besok saya kesini lagi." "Eh? Nggak usah Pak, saya sudah baikan," Alina langsung menolak karena nggak enak. "Diam dan tidur," sahut Arka sambil jalan ke arah pintu, "saya nggak nanya izin." Pintu dututup, dan Alina diam di kasur sambil pegang selimutnya erat, jantungnya deg-degan nggak karuan karena CEO paling dingin di Jakarta baru saja menyuapi dirinya di kost kumuh. Hari ketiga, Arka beneran datang lagi bawa buah dan bubur ayam yang lebih enak, dan rutinitas itu diulang sampai demam Alina benar-benar turun. Hari keempat, Alina sudah cukup kuat buat ke kantor, tapi begitu masuk dia langsung dipanggil ke ruangan Arka. "Kamu kenapa nggak bilang kamu tinggal sendirian?" Arka langsung nembak begitu Alina duduk, "kost kamu nggak aman." "Emang kenapa Pak?" tanya Alina bingung. "Ngga ada orang, nggak ada yang jagain kalau kamu kenapa-kenapa," jawab Arka, "mulai sekarang, kalau sakit lapor saya, jangan sok kuat." Alina bengong, "Pak, kamu ngomong kayak pacar saya." Arka langsung bungkam, tangannya berhenti di atas meja, terus dia batuk kecil untuk menutupi salah tingkah, "Jangan kepedean, saya hanya nggak mau tanggung jawab kalau asisten saya mati ditempat kost." "Terserah bapak saja," Alina nyengir, "tapi makasih ya, buat supnya, buat obatnya, dan buat ,,, semuanya." Arka nggak jawab, tangannya mendorong map ke arah Alina, "Kerja, jangan banyak ngomong." Tapi sebelum Alina keluar, Arka bilang pelan banget, "Sama-sama." Duar. Dua kata itu bikin Alina mematung di depan pintu selama tiga detik, karena itu pertama kalinya Arka bilang terima kasih tanpa disuruh. Malam harinya pulang dari kantor, Arka duduk di sofa dengan dasi yang sudah dilepas, dan dia kepikiran kenapa repot-repot ke kost kumuh selama tiga hari cuma buat memastikan cewek nyebelin itu makan. Arka tidak punya jawaban, tapi dadanya terasa hangat setiap kali teringat wajah Alina saat bilang makasih sambil tersenyum lembut. Dan dia baru sadar, perhatian yang dia kasih ke Alina sudah kelewat batas "asisten" dan "bos", tapi dia terlalu keras kepala buat mengaku. Sementara Alina di kostnya sedang memeluk blazer Arka yang masih dia simpan, dan dia nggak bisa tidur karena senyum-senyum sendiri kayak orang sedang jatuh cinta. Karena demam bisa sembuh, tapi perhatian dari orang yang nggak pantas ngasih perhatian, itu penyakit yang nggak ada obatnya.Satu bulan setelah trauma, hidup Arka mulai normal lagi. Pulang dari kantor seperti biasa lagi dan menghabiskan waktu bersama Melati."Progres bagus Pak," puji Dr. Rina. "Tapi jangan dipaksa." Tapi tenangnya hidup seorang CEO, ibarat air dilautan luas. Nampak tenang dipermukaan, tapi tidak di dalamnya. Sampai suatu hari, di pagi yang cerah sebuah surat sampai di tangan Arka Mahendra tanpa memakai amplop. Tertera tulisan singkat di atas secarik kertas tersebut. "Kalau mau anak kamu aman, jual 20% saham Mahendra ke saya. Harga saya yang menentukan. Saya beri waktu 3 hari." Tanpa nama. Tanpa tanda tangan. Tangan Arka langsung dingin. Napas tersengal. Tatapannya langsung melihat ke arah foto Melati yang ada di atas meja. "Pak, ini ancaman," ujar Hendra yang juga melihat kertas tersebut. "Iya," jawab Arka pelan. Traumanya Arka kembali dibangunkan oleh seseorang. Malam itu Arka tidak pulang dari kantor seperti biasa lagi. Dia pulang tengah malam. Alina yang sedang menunggu suaminy
Seminggu setelah Richard dipenjara, semua aman. Tapi Arka yang berubah. Dia tidak pernah ke kantor. Dia di rumah 24 jam. "Pak, kamu harus kerja," kata Alina di suatu waktu. "Kerja juga bisa dari sini," Arka. "Saya tidak mau pergi kemana-mana." Arka jadi terlalu berlebihan dalam menjaga Melati. Kemanapun Melati pergi, Arka ikut. Sampai ke kamar mandi juga Arka ikut. "Pa ,,," Melati. "Papa kok ikut aku terus sih?" "Papa menjaga kamu, Nak," jawab Arka santai. Malamnya Arka tidak tidur. Dia duduk di kursi depan kamar Melati. CCTV 16 titik dia lihatin semua penuh kewaspadaan. Di pagi hari, Melati tiba-tiba demam. Tubuhnya panas, wajah mungilnya juga terlihat pucat Arka panik. "Cepat panggil Dokter. Sekarang! Atau panggil ambulans." "Pak, cuma demam biasa," kata Alina menenangkan suaminya. "Sudah biasa. Jangan panik begitu.""Nggak ,,, nggak. Kali ini demamnya beda." Tanpa berpikir panjang lagi, Arka langsung menggendong Melati ke rumah sakit. "ANAK SAYA. TOLONG. DOKTER TOLONG."
Semua dimulai dari satu amplop coklat. Security menemukan amplop coklat tanpa nama pengirim. Isinya berupa foto Melati, foto dia di playground, foto dia di mobil dan foto dia sedang tidur. Di belakang foto, tertera tulisan tangan. "Anak cantik. Sayang kalau kenapa-kenapa ya Pak Arka?"Tangan Arka gemetar. Bukan karena takut, tapi karena marah. Darahnya terasa mendidih."LOCKDOWN," teriaknya keras sampai suaranya menggema ke seluruh kantor. Alina ditelepon jam 2 siang. "Pak ,,, kenapa?" "Lin, dengarkan saya baik-baik," suara Arka dingin banget. "Dari sekarang kamu sama Melati tidak boleh keluar rumah! Akan ada 4 orang Bodyguard yang menjaga kalian berdua. Kamu mengerti?!" "Pak, ada apa?" tanya Alina panik sekaligus bingung. "Ada orang mengirim foto Melati," jawab Arka. "Ini garis merahnya sudah kelewat batas."Wajah Alina langsung pucat. Dipeluknya Melati erat. Ternyata yang mengancam Arka adalah rivalnya yaitu Grup Santoso.CEO nya, Richard Santoso. Lawan Arka dari 10 tahun lal
Seminggu setelah Arka datang ke penjara, dunia bisnis Jakarta berubah. "Pak, 3 perusahaan mundur dari tender setelah tahu dia lawan kita," kata Hendra. "Kenapa?" tanya Arka. "Katanya ,,, mereka takut," jelas Hendra. "Takut kalau kita kalah tender dan mereka yang menang, kantor kita bakalan dibakar." Alis Arka naik. "Saya tidak pernah bakar kantor orang." "Tapi mereka jadi takut ,,, " Hendra jujur. "Setelah tersiar berita tentang kasus yayasan." Sesaat Arka diam, lalu tiba-tiba ketawa. "Bagus. Biar mereka berpikir 1000 kali sebelum main kotor dengan kita." Musuh pertama dari Grup Wijaya.CEO nya, William Wijaya. Dulu sering sikut Mahendra di proyek. Kali ini dia mencoba fitnah lagi dengan menyebarkan rumor, "Mahendra korupsi proyek IKN".24 jam kemudian. Tim hukum Mahendra menggugat 100 miliar. Tim IT melacak IP dan langsung ketemu dari kantor Wijaya. William ditelepon langsung oleh Arka. "William, kalau kau ingin selamat," ancam Arka tegas. "Cabut rumor itu. Sekarang!" "Ark
Dari penjara, Seraphina mengirim surat. Isinya hanya satu baris. "Alina. Aku belum selesai." Surat dari Seraphina Alina yang terima. Selesai membaca, wajah Alina langsung pucat. Arka mengambil surat tersebut, membacanya dan langsung dilipat dimasukan ke dalam saku."Pak," kata Alina. "Aku takut." "Jangan takut," Arka. "Yang harusnya takut itu dia. Kamu punya saya yang akan terus melindungi kamu dan Melati." Malam itu Arka tidak bisa tidur. Surat dari Seraphina telah menggangu pikirannya. Arka bangun, dilihatnya Alina sedang tidur lalu kemudian Arka keluar dari kamar. Sesaat Arka hanya duduk diam. Menghela nafas panjang sambil melihat ponsel di tangan. "Lebih baik saya hubungi si Hendra."Tak lama sambungan telepon tersambung. "Bangunkan tim hukum. Tim IT dan tim keamanan. Sekarang!""Tapi pak, ini jam 1 malam," sahut Hendra di seberang telepon. "Saya bilang SEKARANG!" bentak Arka. Seketika aura CEO dinginnya balik lagi. Langkah pertama segera diambil. Pengacara Mahendra Group m
`Yayasan Alina Mahendra` sudah berjalan 2 bulan. 500 orang perempuan SPG sudah ikut pelatihan. Ada kelas menjahit, kelas digital, dan kelas public speaking. Semuanya berjalan lancar, tapi di hari Jumat tepat jam 3 sore, gudang yayasan terbakar. Asap tebal sudah menyelimuti sebagian gudang. Suara alarm mengisi udara di setiap tempat sehingga membuat semua orang jadi panik. "Bu Alina, cepat keluar!" teriak bodyguard. Alina panik. "Mesin jahit, dokumen. Bagaimana?!" Alina malah mau balik lagi. "Nggak bisa Bu," bodyguard menarik. "Apinya sudah besar." Pemadam kebakaran datang 20 menit. Gudang sudah habis mencapai kerugian 800 juta. Mesin jahit 40 unit. Semua dokumen pelatihan. Semua kado dari donatur. Alina lemas, duduk di trotoar. Wajahnya hitam kena asap dan tangannya gemetar. "Bu Alina," timnya nangis. "Semua habis, Bu." Tak lama kemudian Arka datang. "Lin," dia langsung jongkok depan Alina. "Kamu nggak apa-apa?" Alina hanya bisa menangis. "Pak ,,, semuanya habis terbakar."







