Share

TAS 242

last update publish date: 2026-03-27 00:41:38

Aku menoleh menatap Max dengan alis bertaut.

"Dalam pengawasanku sebagai atasanmu," lanjutnya lalu segera melepaskan genggaman dari pergelangan tanganku. Kembali bersikap biasa.

Aku mengerutkan kening. “Termasuk urusan pribadiku?”

Dia mengendikkan bahu. “Kalau itu berdampak pada pekerjaanmu.”

Aku mengepalkan tangan. “Itu bukan hakmu.”

"Kalau kau tidak suka dengan caraku dan setiap keputusanku…" katanya menggantung. Nada suaranya berubah sedikit lebih dingin. "Kau boleh pergi."

Aku menatapnya lu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 287

    Aku bahkan tidak sempat menyembunyikan keterkejutanku sendiri.“Anda bercanda?” tanyaku spontan, sedikit terdengar tidak sopan karena terlalu terkejut. “Hal seperti itu hanya bisa dilakukan oleh ahli. Sementara aku...”“Dari banyak ahli, hanya kau yang paling mengerti makna semua karya itu,” jelas Nyonya Miranda pelan, tapi penuh keyakinan.Aku langsung terdiam.“Tak ada yang pernah menyarankan pameran dan lelang hingga patung yang tak berharga itu bisa terjual mahal. Kau yang membuat semuanya terjadi.”Aku membuka mulut, ingin menyangkal lagi, tapi Tuan Henry ikut menambahkan,“Kau bisa melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda.”Pujian itu justru membuatku semakin tidak nyaman.Aku refleks menoleh ke belakang, mencari satu orang yang seharusnya ada di rumah ini.Sam.Namun pria itu benar-benar menghilang sepenuhnya setelah perdebatan kami tadi. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara. Tidak ada tanda dia masih ada di sekitar sini.Dadaku terasa makin sesak.Apa dia tahu soal ini?B

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 286

    Aku masih berdiri canggung di dekat lorong ketika Nyonya Miranda menatapku dengan lekat. Gurat wajahnya sulit kutebak. Dadaku mulai terasa tidak nyaman akibat berdebar keras. Terlebih karena saat aku refleks menoleh ke belakang, Sean sudah tidak ada di sana.Dia menghilang sangat cepat. Padahal beberapa detik lalu dia masih berdiri di sana. Di tempat kami bicara. Panik mulai merayap perlahan di kepalaku. Apa yang harus kukatakan?“A-anda di sini?” tanyaku tergagap, berusaha terdengar normal meski tenggorokanku terasa kering.Nyonya Miranda mengangguk. “Ya, aku melihat semuanya.”Aku langsung terkesiap.Melihat semuanya?Pikiranku seketika kacau. Potongan percakapanku dengan Sean tadi berputar kembali dalam kepalaku.Wajahku langsung memucat. Kalau dia benar-benar mendengar semua, artinya... semua sudah selesai. "Aku sudah curiga sejak lama," lanjutnya menyipitkan mata. "Tapi baru kali ini aku menyaksikan sendiri."“A-aku minta maaf,” ucapku cepat sebelum sempat berpikir lebih jauh.

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 285

    Ruangan itu terasa semakin luas ketika aku dan Sean berdiri saling berhadapan.Jauh di belakang, suara tawa dari ruang tamu terdengar sayup. Sangat hangat, santai, bertolak belakang dengan ketegangan yang kini menekan dadaku."Kau menuduhku sekarang?" tanyaku dengan suara tercekat.Sean menatapku dalam dan tajam, seolah benar-benar yakin dengan tuduhannya."Aku tak bisa menyebut itu tuduhan atau bukan, kau yang lebih tahu apa niatmu.""Aku tidak-" kalimatku terhenti. Aku sadar. Aku memang punya tujuan tertentu mendekati keluarga besar mereka. Meski begitu, dia tak boleh seenaknya menyebut itu balas dendam. Aku hanya berusaha mendapatkan apa yang harusnya jadi milikku.Tanganku mengepal pelan di sisi tubuh. Ada dorongan untuk menjelaskan, untuk menyangkal. Tapi semua kata-kata itu terasa berantakan di dalam kepalaku."Kau menargetkan posisi ibuku, kan?" Pertanyaan Sean kali ini jauh lebih berani.Aku menatapnya tanpa berkedip. Bibirku terkatup rapat. Dia sudah tahu, kenapa masih berta

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 284

    "Bagaimana... kalau ada dokumen atau saksi, yang bisa menjelaskan kelalaiannya?" Ulangku bertanya dengan suara ditekan. Matanya menyipit sedikit, mencoba membaca wajahku, mencari celah apakah aku hanya menggertak atau benar-benar tahu sesuatu."Apa kau... menemukan sesuatu?" tanya Sam lirih. Aku tidak menjawab, juga tidak mengalihkan pandangan Keheningan di antara kami terasa berbeda sekarang. Penuh kecurigaan.Tapi yang dia lakukan selanjutnya justru mundur.“Aku tidak mau ikut campur lagi,” ucap Sam. Suaranya kembali datar, seperti pintu yang ditutup rapat. “Aku sudah mengajukan banding untuk pengajuan perceraian kami.”Aku terdiam dengan alis terangkat. Kalimat itu sungguh mengejutkanku. Kupikir dia sudah menyerah. Tapi sepertinya aku keliru. “Dia dan semua masalahnya, bukan urusanku lagi,” tandasnya. Tidak ada penjelasan tambahan. Setelah itu, dia berbalik pergi.Langkahnya tegas dan panjang, sangat jelas bahwa dia tidak ingin percakapan ini berlanjut. Aku menyusul dengan cepat

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 283

    Kedatangan Sam langsung mengubah pusat perhatian. Bahkan sebelum aku sempat menata ekspresiku kembali, Tuan Henry sudah melangkah mendekat dengan senyum lega yang jelas tidak dibuat-buat.“Ayo, Nak. Kita makan bersama,” ucapnya sambil menepuk bahu Sam. “Kau pasti belum makan setelah rapat tadi.”Di sampingnya, Nyonya Miranda ikut tersenyum, meski ada sedikit ketajaman di matanya yang tidak hilang begitu saja. “Jangan biasakan menunda waktu makanmu.”Sam mengangguk singkat. “Ini hanya sesekali, tidak selalu.”Tuan Henry menatap ke belakang, seolah mencari seseorang. “Kau datang sendiri? Di mana istrimu?”Pertanyaan itu menggantung. Nyonya Miranda langsung menyela dengan nada yang jelas tidak sabar. “Untuk apa mengharapkan wanita itu di sini?”Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup tajam untuk membuat siapa pun mengerti arah pembicaraan ini.“Pertama kali ikut acara keluarga saat lelang kemarin, dia langsung membuat ulah. Bahkan hampir mempermalukan kita di depan semua tamu,” lanjutnya

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 282

    "Menungguku hanya akan membuatnya tertunda lebih lama. Euforia kesuksesan itu akan hilang cepat. Rasanya akan jadi seperti makan biasa," jelas Max panjang lebar.Nyonya Miranda mengangguk pelan. Merasa jawaban Max masuk akal. Tapi bagiku, tidak. Meskipun aku dan tim yang melaksanakan semua proses, Max tetap terlibat. Dia yang mengontrol semuanya.Pintu rumah itu akhirnya tertutup, menyisakan gema langkah kaki yang perlahan menghilang bersama kepergian Tuan dan Nyonya Arsen. Suasana yang tadi hangat dan penuh percakapan mendadak meredup, kembali pada keheningan yang terasa terlalu luas.Aku masih berdiri di ruang tamu, memandangi pintu itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya.Di kepalaku, satu hal terus berputar. Ini jelas sebuah respon yang sangat kunantikan.Tapi... tanpa Max?"Bagaimana kami bisa pergi tanpamu?" tanyaku setengah panik pada Max setelah kembali ke ruang Istirahatnya."Kenapa tidak?" balas Max santai. Dia duduk tanpa kekhawatiran sedikitpun. Aku menarik napas pe

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 211

    Dia memperdalam ciuman itu dan membuatku makin terhanyut. Tanganku merayap naik ke tengkuknya. “Kau benar-benar akan membuatku lupa waktu,” erangku lemah.“Biarkan saja,” bisiknya di sela desahan napas yang kian memburu. Aku menarik wajah. Mencoba mengatur napas yang kacau. Dia ikut berhenti, mat

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 210

    "I-ini... rumah untukku?" tanyaku terbata. Aku menatapnya tak percaya.Sam mengangguk mantap. "Ya, untuk kalian berdua." Tangannya sekali lagi bergerak mengelus perutku.Mataku tiba-tiba jadi terasa panas. Air bening menggumpal perlahan di pelupuk mata. Tapi berusaha kutahan. aku tak mau merusak mo

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 209

    "Aku tak menyangka kau akan membawaku pulang," ucapku tersenyum pada Sam. Tanganku bergelayut manja di lengannya saat kami berdiri berdampingan di balkon kamar. "Mulai sekarang ini rumah kita," jawabnya merangkulku erat.Rumah peristirahatan itu seperti pulau kecil yang terlepas dari dunia luar. K

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 208

    “Maaf, Nona!"Spontan salah satu sekuriti mengangkat tangan, bukan untuk menyentuhku, namun sekedar untuk menghalangi. "Kami tidak bisa mengizinkan anda masuk.”"Kenapa?""Belum ada konfirmasi."Aku menatap pintu besar rumah itu. Tertutup rapat. Seolah dunia di dalamnya benar-benar terpisah dariku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status