LOGINYesica berdiri, Dia melirik sekilas ke arah Giancha dari balik bahu, lalu kembali menatap mata biru tua Stefan. Tangannya melepaskan pengait garter, lalu jari-jarinya menarik sisi celana dalam renda itu. Dia menurunkannya perlahan hingga jatuh, lalu melangkah keluar dari tumpukan kain itu dan meletakkannya di kursi lain. Yesica tidak percaya ini benar-benar terjadi, tapi dia menikmati setiap detiknya. Dia bukan tipe wanita pemalu. Meskipun tubuhnya mungkin tidak sempurna, kebiasaan berenang membuatnya tetap bugar dan berisi. Dia selalu merapikan area kewanitaannya agar bersih dan halus, kebiasaan saat berolahraga, dan dia menyukai kesan bersih itu. "Kemarilah." Stefan menggeser kursinya menjauh dari meja. Yesica berjalan memutar mendekati meja, lalu berdiri tepat di hadapan pria itu. Pinggiran meja menekan pantatnya. Seluruh tubuhnya bergetar menanti sentuhan Stefan yang sebentar lagi pasti datang. "Pasang lagi garter-nya." Yesica membungkuk, mengaitkan kembali tali-tali itu d
Sambil menunggu panggilan dari Stefan, Yesica menyesap kopinya di meja. Tubuhnya terasa gelisah, hasrat yang membara mendesak untuk segera terpuaskan, tapi dia memutuskan untuk menahannya sampai di rumah nanti. Masih banyak imajinasi yang bisa dia mainkan sendiri."Yesica."Suara berat Stefan membuat bulu kuduk Yesica merinding. Dia segera mengambil buku catatan, menyesap kopinya habis, lalu berjalan masuk ke ruangan pria itu. Stefan menunjuk kursi yang sama seperti saat dia duduk di hari Jumat, lalu duduk bersandar di balik mejanya."Gimana semuanya sampai hari ini?"Wajah Yesica memerah mendengar pertanyaan itu. Persis sama dengan yang diucapkan Kairo tepat sebelum pria itu mulai mengecup lehernya. Jari-jarinya bahkan terasa gatal mengingat jejak bibir Kairo tadi."Baik, Pak. Aku banyak belajar dan nggak sabar pengen bisa lebih cepat kerjaannya."Mata biru Stefan menatapnya intens, menelusuri setiap inci tubuhnya dari kejauhan."Keperluanku mungkin sedikit lebih rumit dibanding yan
Napas Yesica lega begitu mereka kembali ke kantor. Sepanjang perjalanan naik lift, suasana di antara para pria itu hening total.Andree mengajaknya masuk ke ruangannya lalu menutup pintu."Oke, sekarang kita bahas soal pekerjaanmu yang sebenarnya."Pria itu menyunggingkan senyum tenang. Perlahan, rasa tegang akibat pertemuan dengan Hayes mulai hilang dari dada Yesica.Mereka duduk di sofa, lalu Andree menjelaskan segala hal yang harus dikerjakan. Ada laporan harian yang harus dibuat dan dikirim lewat surel, serta beberapa pekerjaan pengarsipan. Andree bahkan mengajaknya melihat lemari arsip di ruangan dekat dapur kantor.Sekitar setengah jam berlalu, Andree akhirnya berdiri dengan enggan."Aku sangat menikmati pagi ini."Andree mengulurkan tangan, membantu Yesica berdiri dan berdiri tepat di hadapannya."Aku juga."Yesica tersenyum, tapi pikirannya sejenak melayang kembali pada insiden tadi. Seolah kejadian itu sudah berlalu sangat lama. Dia sempat berpikir Hayes takkan berani bertind
Ada yang jelas-jelas tidak beres dengan cara Hayes menatap Yesica saat makan siang tadi. Yesica terlihat begitu tegang sampai-sampai Giancha heran garpu di tangannya tidak bengkok. Saat wanita itu keluar menuju toilet, yang lain hanya melihat sekilas, tapi Giancha tak melepaskan pandangan dari Hayes yang jelas-jelas mengikuti gerakannya dengan mata tak berkedip.Pria itu jauh lebih tertarik pada Yesica daripada membahas keamanan bisnisnya sendiri, bisnis yang konon akan ia warisi. Tidak mengejutkan sama sekali saat Hayes meminta diri beberapa menit setelah Yesica pergi.Giancha tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama seperti saat kasus Relix dulu. Ia harus melindungi teman-temannya lebih baik lagi. Saat itu, tidak ada yang menyangka Relix akan berani memeras mereka. Tidak ada yang curiga. Termasuk dirinya. Ia merasa telah mengecewakan mereka.Kalau ada sesuatu yang terjadi di antara Yesica dan pria itu, Giancha harus tahu. Ia menepuk bahu Stefan pelan memberi kode kalau ia akan kel
Andree dan Kairo sudah ada di sana. Giancha menarik kursi untuknya, dan Yesica pun duduk. Giancha duduk di sebelah kirinya, sementara Stefan duduk di sebelah kanannya."Alasan lain kenapa kami rasa kamu nggak perlu tahu detail klien ini sebelumnya ... karena kamu pernah kerja buat mereka." Stefan baru saja selesai bicara saat pintu ruangan terbuka.Rasa penasaran memenuhi hati Yesica. Ia pernah magang di banyak tempat, jadi bisa siapa saja.Yesica ikut berdiri bersama yang lain, lalu napasnya tercekat saat melihat Hayes Lukito dan ayahnya, Soniawan Lukito, masuk ke dalam. Jantungnya berdegup kencang, telapak tangannya langsung basah oleh keringat. Ia memaksakan senyum, berharap mereka belum menyadarinya. Tubuh kekar Stefan seolah menjadi tameng, menyembunyikan sosoknya dari pandangan mereka.Para pria itu saling bersalaman dan memperkenalkan diri.Hayes memang tampan tak terbantahkan dengan rambut pirang berantakan dan mata biru muda. Wajahnya yang rupawan membuat banyak wanita tergil
Jujur saja, Yesica merasa agak canggung saat ia dan Andree sibuk merapikan diri sebelum keluar menuju lobi untuk bertemu yang lain. Yesica hampir yakin semua orang pasti bisa melihat dari jarak jauh kalau mereka berdua tadi sama sekali tidak bersikap profesional.Untungnya, kamar mandi di ruangan Andree menyediakan sikat gigi cadangan, yang langsung bisa di pakai. Yesica membersihkan sisa lipstik di bibirnya dan memutuskan untuk memakainya lagi nanti setelah makan siang."Kita banyak kerjaan yang nggak selesai nih." Yesica tersenyum malu-malu pada Andree saat pria itu menyelipkan helai rambutnya ke belakang telinga. Tangan Andree melingkar di lehernya. Ia sama sekali tidak menyesali sedetik pun yang mereka lewati barusan, tapi ia tahu hal ini tidak boleh jadi kebiasaan. Pekerjaan harus tetap nomor satu."Anggap saja stres rilis. Shock terapi di hari pertama kerja." Andree kembali mengecup bibirnya dengan dahsyat, membuat area di antara kedua paha Yesica kembali berdenyut. Sepertinya m







