MasukStefan menurunkan bibirnya dan menyentuh bibir Yessica dengan lembut. "Siap, tuan Putri?" Yessica menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. "Ya." Stefan menggenggam tangan Yessica dan membawanya masuk ke ruang permainan. Pencahayaannya redup, tetapi masih cukup terang untuk kamera yang sudah dipasang di sudut ruangan dengan tripod. Fokusnya mengarah pada bangku kulit dengan bagian tengah yang rendah dan kedua sisi yang melengkung tajam ke atas. Kairo, Andree, dan Giancha sudah telanjang, menunggu mereka. Bagian dalam tubuh Yessica pun bergetar mengetahui apa yang akan segera terjadi. Yessica mengharapkan sedikit rasa sakit, tetapi kenikmatan selalu datang bersamanya. Dia sudah tidak sabar melihat apa yang mereka siapkan untuknya. "Kamu menggoda sekali." Kairo melangkah mendekati Yessica. Jari-jarinya menyelip di bawah tali daster dan menyentuh bahu Yessica yang telanjang. Tangan lainnya menyusup ke bawah daster untuk mencengkeram pinggul Yessica. Tubuh Yessica seketika meri
Yessica berbalik dan berlutut sambil menatap rudal Stefan. "Buka yang lebar." Stefan mendekat sementara Yessica melakukan apa yang diperintahkannya. "Sekarang siapa yang memegang kendali?" "Kamu." Yessica tidak ragu saat menjilat bibir dan kembali membuka mulut untuk Stefan. "Isap rudalku." Yessica membungkuk dan menjilat pistonnya sebelum memasukkannya ke dalam mulut, menggerakkan lidah dan mengisapnya. Mata birunya bertemu dengan mata Stefan, dan Stefan mencengkeram rambutnya. Yessica berhenti mengisap dan merilekskan tubuhnya, memberinya kendali penuh. "Masukkan jari-jarimu ke dalam rahim dan puaskan dirimu sendiri perlahan." Sambil menunggu Yessica mengikuti perintahnya, Stefan menggerakkan mulut Yessica di sekeliling rudalnya, membuatnya memasukkan rudal itu dalam-dalam sebelum menariknya kembali. Jari-jari Yessica bergerak di antara pahanya, dan dia mengerang di sekeliling rudal Stefan. Stefan mengobrak abrik mulut Yessica perlahan, sementara Yessica menatapnya, mengisa
Yessica mendorong tubuhnya ke belakang, menusukkan dirinya sendiri pada rudal Stefan. Stefan pun menahan erangan karena betapa nikmatnya tubuh Yessica membungkusnya. Erangan Yessica memenuhi kamar. Bokongnya menekan perut Stefan saat Yessica mengambil rudalnya sedalam yang dia mampu, sebelum bergerak maju kembali. Rahim Yessica yang basah mencengkeram rudal Stefan dan tidak ingin melepaskannya. Yessica mengerang saat ia hampir menariknya keluar seluruhnya. Tatapan mereka terkunci, dan dia kembali mendorong tubuhnya ke belakang ke arah Stefan. Stefan sampai harus memejamkan mata sejenak karena merasakan betapa sempurnanya rahim Yessica. Tangannya menyusuri bagian dalam paha Yessica sebelum membuka bibir rahimnya dan memainkan kacang nikmatnya. "Ini enak banget," bisik Yessica. Dia bergerak maju-mundur, membiarkan rudal Stefan keluar beberapa sentimeter sebelum kembali mengambilnya dengan penuh gairah. Stefan mengusap kacang nikmat Yessica. Bagian itu berdenyut di bawah sentuhannya,
Yessica terbaring di atas meja sambil terengah-engah. Tangannya menggenggam tangan Stefan. Yessica mengembuskan napas ketika Kairo menarik diri. Kairo mencium bokong Yessica, sementara jari-jarinya mengumpulkan santan kental yang mengalir di pahanya lalu mendorongnya kembali ke dalam rahimnya."Gadis pintar." Stefan meremas tangan Yessica sebelum melepaskannya.Tubuh Yessica sedikit merinding mendengar pujian itu. Yessica merasa tidak sanggup bergerak ketika Kairo memasukkan jari-jarinya ke dalam dirinya, membuat tubuh Yessica bergetar berulang kali.Stefan berdiri dan berjalan ke belakang Yessica. Kairo memberi ruang, tetapi Stefan tidak mendekat atau menyentuh Yessica. Dia hanya menatap rahim dan Liang Sekunder Yessica yang sudah berantakan.Yessica menggeliat di bawah tatapan Stefan. Dia tergoda meminta Stefan mengambil foto agar Yessica bisa melihat apa yang dilihat pria itu."Kairo, siapkan kamera di ruang permainan. Andree dan Gianc
"Aku ingin merekamnya," kata Yessica terus terang kepada Stefan karena dia tahu pria itu akan mengerti. Kilatan panas di mata Stefan menunjukkan bahwa dia tahu apa yang Yessica inginkan."Kita bisa melakukannya." Tangan Stefan menggenggam tangan Yessica lebih erat. "Kamu ingin melihat dirimu ditiduri oleh kami, tuan Putri?"Godaan lambat dan konstan dari Kairo, Giancha, dan Andree membuat Yessica mengerang dan menarik napas saat mendekati batas. Semuanya terasa begitu perlahan."Ya, kumohon." Yessica menatap mata Stefan tanpa mengalihkan pandangan. "Aku ingin melihat apa yang kamu lakukan saat mengawasi kami. Aku ingin melihat rudal kalian semua menembus tubuhku dan membuatku klimaks. Aku ingin melihat kamu meniduriku dari belakang sementara Kairo dan Andree meniduriku dari depan, dan Giancha meniduriku dengan mulutku. Aku ingin melihat semuanya."Mengucapkan kata-kata itu dengan lantang sudah cukup untuk mendorong Yessica melewati batas. Ini buka
Rahim Yessica kembali berdenyut. Yessica menginginkan mereka semua."Kita sebaiknya pergi ke ruang permainan?"Kairo mendekat ke sisi Yessica dan tangannya menyusuri tubuh Yessica. Kehangatan jemarinya menyentuh kulit, mengirimkan gelombang sensasi ke seluruh tubuh Yessica. Dia ingin mendekat pada sentuhan itu dan merasakan jemari Kairo di kulitnya.Tangan Andree di tengah punggung Yessica menekan tubuhnya ke meja dapur. Marmer dingin menjadi kontras tajam dengan kulitnya yang panas. Yessica mendesis ketika putingnya menyentuh permukaan dingin itu."Giancha, keberatan? Aku perlu membersihkan diri.""Tentu."Tangan Giancha bertumpu di punggung Yessica di samping tangan Andree. Suara ritsleting terdengar di tengah keheningan ketika Giancha mengambil posisi di belakang Yessica.Perut Yessica terasa bergejolak. Sentuhan singkat kepala rudal Giancha di pintu masuk rahimnya menjadi satu-satunya peringatan sebelum dia
Saat Yesica menaiki tangga menuju apartemennya di lantai tiga, ia terus bertanya-tanya dalam hati. Apakah semua ini benar benar nyata? Ke 4 big boss itu sudah menjelaskan soal pekerjaan dan paket gajinya. Apakah itu tandanya ia diterima? Memang mereka tidak menanyakan pertanyaan standar di wawan
"Senang bertemu denganmu," ucapnya sekuat tenaga. Aura kekuatan yang terpancar dari pria ini sangat kuat. Stefan tersenyum tipis lalu mundur memberi jalan pada yang lain. Pria berikutnya lebih kekar, berambut hitam. Matanya yang berwarna hijau menelusuri tubuh Yesica, berhenti sebentar di kaki, pi
“Bagian mana yang kamu mau, sayang? Jariku? Lidahku? Atau yang lain?” Kairo kembali mengusap paha Yesica menggunakan ujung jarinya. Wanita itu pun mengembuskan napas panjang. “Ahhhh ... Lidahmu.” Kairo pun tersenyum. Ia menghirup aroma yang keluar dari tubuh Yesica. Begitu lidah Kairo menyentuh ku
"Kamar lain pintunya menghadap lorong utama, tapi ini kamar terbesar. Pintu sampingnya itu pintu darurat, langsung mengarah ke tangga." Kairo memutar kenop pintu dan mempersilakannya masuk. Ruangan pertama adalah ruang keluarga. Lantainya ada karpet tebal berwarna krem, Ada sofa putih, kursi baca y







