Share

Bab 9

Author: Farid-ha
last update Petsa ng paglalathala: 2024-03-14 18:59:10
“Iya, Pak harganya sudah segitu. Cocoklah dengan kondisi motornya yang masih mulus dan suaranya yang masih halus.” Suami Mbak Mayang tersenyum ramah. Aku puas dengan cara penjualan Kakak sepupuku itu.

Tidak butuh waktu lama kendaraan ku pun ini sudah beralih tangan dengan segala prosedurnya. Kebetulan sekali Mbak Mayang dan suaminya memiliki bisnis jual beli kendaraan. Jadi sangat terbantu.

“Apa rencanamu selanjutnya?” Mbak Mayang menepuk pundakku, setelah mentransfer sejumlah uang ke rekeningku, sesuai dengan harga yang disepakati tadi.

Kami duduk di kantin rumah sakit.

“Menjual semua perhiasan yang ada, Mbak.” Mbak Mayang mengangguk seraya mengacungkan jempolnya.

“Kamu bisa mengurusnya sekarang. Biar Mbak yang menangani ibumu. Kamu harus gerak cepat sebelum mereka menyadari semuanya.”

“Nggak papa aku tinggal sebentar, Mbak?” Aku memastikan.

“Nggak papa. Justru di sini mumpung dekat dengan toko emasnya. Kamu bawakan?” Aku mengangguk.

“Bagaimana dengan motor yang ada di Lilik?” tanya suaminya Mbak Mayang.

Kami segera mengatur strategi. Karena biar bagaimanapun STNK dan BPKB motor itu atas nama Lilik sendiri. Jadi, kami tidak bisa gegabah.

****

“Wah … ada yang habis jual emas rupanya. Punya banyak duit dong?”

Aku tersentak kaget, menegang sesaat saat menyadari siapa pemilik suara di belakangku, Santi. Kakak iparku, kakak perempuan satu-satunya Tama.

Entah bagaimana ceritanya manusia ondel-ondel itu bisa berada di sini? Kenapa dunia ini sempit sekali? Kenapa aku harus bertemu dengan orang yang sangat ingin aku hindari saat ini. Beruntungnya, uang sudah aku masukkan ke dalam tas. Jadi aman untuk sementara waktu. Pasti, setelah ini akan ada drama dari keluarganya Mas Tama. Tidak mungkin perempuan

“Amira? Kamu nggak tuli ‘kan aku ngomong apa?” Dia menepuk pundakku yang masih menghadap ke etalase toko emas.

Dengan senyum manis aku membalikkan badan, setelah bisa menguasai keadaan.

“Namanya juga habis jual perhiasan, ya, pasti punya banyak uang dong, Mbak. Kalau aku punya uang banyak mau apa? Minta seperti biasanya, maaf kali ini aku tidak akan membaginya denganmu.” Setelah puas menjawab aku pergi meninggalkan toko tersebut sembari mengibaskan tangan di depan mukanya.

“Awas kamu, ya? Akan aku adukan pada Tama.” Suaranya penuh ancaman. Tapi, aku tak peduli.

Setelah lima langkah, aku membalikkan badan, mencebik ke arahnya. Terlihat tangannya mengepal kuat-kuat. Di sampingnya seorang perempuan menarik tangannya untuk melihat ke arah etalase.

Sepertinya Santi datang ke toko ini sedang menemani seseorang membeli perhiasan.

Belum sampai rumah sakit handphoneku sudah berdering. Gegas, kuambil benda pipih itu dari dalam tas. Nama mertua terpampang jelas di sana.

“Ada apa, Bu?” sapaku setelah memberikan salam kepadanya.

“Kamu habis jual perhiasan, Amira?” tanya Bu Mumun tanpa tedeng aling-aling.

Tepat seperti dugaanku, Sanri pasti laporan kepada ibunya. Dasar keluarga keroyokan.

“Ya, kenapa?” Tanpa takut aku menjawabnya.

“Berikan uang itu kepada Ibu.” Suara Bu Mumun penuh intimidasi. Enak sekali dia. Memangnya siapa main minta-minta.

“Maaf, Bu. Uang itu akan saya gunakan untuk pengobatan ibu saya.” Lagi, aku berbohong. Ya Allah … ampuni hamba, demi menutupi kebohongan satunya, hamba harus kembali berbohong.

“Jangan serakah kamu. Bagi dua uang itu dengan ibu. kamu belinya perhiasan pun menggunakan uangnya Tama. Dasar menantu tidak punya malu.” Umpatan itu kembali ke luar dari bibir orang yang disebut mertua.

“Bu, pernah tanya nggak sih gaji anakmu itu berapa?”

“Gaji Tama lima juta. Kenapa?”

Sebesar itu rupanya. Sakit hatiku mengetahui kenyataan itu. Aku pikir dulu gaji Tama hanya sebesar tiga juta. Karena yang ia berikan kepadaku hanya satu juta. Satu juta untuk setoran motor gedenya, satu juta lagi untuk bensin dan segala kebutuhannya. Dan aku percaya saja selama ini.

“Terima kasih sudah memberitahuku sebuah kebenaran. Sebab, yang aku tahu selama ini gaji Mas Tama hanya tiga juta. Itu pun yang ia berikan kepadaku satu juta, Bu. Hanya untuk memenuhi kebutuhan kami. Itu pun aku harus nombok banyak setiap bulannya. Jadi, jangan pernah berpikir aku bisa membeli perhiasan dari uang Mas Tama. Setelah tahu fakta ini aku harap Ibu tidak lagi meminta ini dan itu dari aku. Karena anakmu sendiri nyatanya tidak bisa membelikan aku apa-apa. Untuk sekedar skincare dan baju pun aku harus beli sendiri.”

Kali ini kesabaran dan rasa hormatku menguap entah kemana. Tak ada lagi sopan santun seperti biasanya. Dulu, seberat apa pun hinaan Bu Mumun, aku masih berusaha keras untuk tetap sopan kepadanya karena menghormati Tama. Tapi, setelah mengetahui pengkhianatan itu, rasa hormat seakan hilang begitu saja.

“Kamu, ya!” Suara Bu Mumun kembali melengking.

Kali ini aku memilih mematikan sambungan telepon sepihak. Kejang-kejanglah di sana, Bu. Kamu kira masih bisa menindas aku seperti biasanya. Amira sekarang bukan Amira yang dulu. Lihat kejutan besok pagi, Bu. Aku akan melakukan sesuatu yang tidak kamu pikirkan sebelumnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (3)
goodnovel comment avatar
Sri Wartini
seneng bacanya .. ada perempuan yg cerdas dan bijaksana dlm mengurai masalah ... amiira the best
goodnovel comment avatar
Harma Putri
bagus amira.saya suka dgn tindkan mu wkwkwk
goodnovel comment avatar
Tari Emawan
tenang aja, de..pulisi ga akan bergerak klo ga ada bayarannya. Emang mba ipar pnya uang?
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 173

    “Ini tempatnya, Mbak?” Tama menatap perempuan yang merupakan tetangga kontrakan Lilik tersebut dengan kening mengkerut. “Iya, ini, Mas. Beberapa hari yang lalu juga ada yang mencari Mbak Lilik. Perempuan. Bahkan dia menitipkan sesuatu untuk Zidane.” Tama terdiam, tapi otaknya berpikir menerka-nerk

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 172

    Amira terdiam, menunggu jawaban Tama. Sebenarnya dia sendiri ragu, tidak yakin dengan idenya ini. Tapi, Amira merasa perlu melakukan itu demi kebaikan Zidane. [Jangan memintaku yang tidak-tidak, Mir! Mustahil aku kembali dengan Lilik. Itu tidak mungkin terjadi.] Tama mengirimkan pesan balasan pada

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 171

    “Lilik?” Samar, Amira memanggil wanita yang sedang menuntun bocah cilik sambil menenteng tas yang terlihat berisi dagangan. “Pak tolong berhenti sebentar.” Amira meminta kepada sopir taksi. “Tapi argonya tetap jalan, ya, Mbak.” Sopir mengingatkan. “Nggak masalah, Pak. Nanti saya lebihkan untuk

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 170

    “Kapan acara lamarannya, De?” tanya Fikri di negeri seberang sana. Amira baru saja menceritakan niat baik Reza yang ingin melamarnya kepada Fikri. “Rencananya empat hari lagi, Bang. Abang sekarang sudah merestui ‘kan?” tanya Amira yang belum begitu yakin sepenuhnya terhadap restu Fikri. “Insya

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 169

    “Terima kasih banyak, ya, Mas. Maaf nggak bisa menyuruh mampir. Ini susah sangat malam.” Amira menghampiri pria yang berada di balik kemudi bulat setelah memarkirkan motornya di depan rumah. “Memang seharusnya aku tidak mampir, De. Kalau mampir nanti bahaya,” kelakar laki-laki di balik kemudi yang

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 168

    “Mau sampai kapan kamu diam di situ, Lilik? Mau sampai kapan kamu membiarkan Zidane mengacak-acak permainannya? Cepat bereskan rumah ini! Aku muak melihat kamu yang seperti ini terus! Sudah berapa kali aku bilang? Jangan biarkan anakmu mengacak-acak ruang tamu atau ruang tengah dengan permainannya i

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 105

    Derap langkah kaki Tama berhenti tepat di samping motornya, di tempat parkir karyawan bersamaan dengan dering handphone di saku celana kerjanya. Dengan sigap, cowok tersebut merogoh saku celananya, lalu mengambil benda canggih itu dari sana “Mbak Santi? Tumben nelpon. Ada apa?” Tama bergumam sendi

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 103

    “Ibu yakin dia simpanan Pak Hamdan?” Amira masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Bu Sukma. Jauh di lubuk hatinya ia mengingkari berita itu. "Kenapa, kamu nggak percaya, ya, Mir?” Bu Sukma melemparkan pandangan ke arah Amira yang terlihat memasang wajah tak percaya. Amira mengangguk. Bu

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 101

    “Bondan Kenapa nomornya Marugul tidak aktif? Tidak sengaja dimatikan, kan? Bagaimana hasil tangkapannya? Kenapa sampai jam segini belum juga kalian setorkan ke saya?” tanya seseorang di seberang sana dengan memburu. Bondan yang baru turun dari motor hanya bisa menelan ludah dengan payah. Dengan l

  • TERIMA KASIH SUDAH MEREBUT SUAMIKU   Bab 98

    Motor yang memotong jalan Amira, sukses membuat Amira mengerem kendaraannya secara mendadak. Dengan degup jantung yang bertalu-talu, Amira mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling. Enam pasang mata menatapnya tajam, senyum smirk terbit dari bibir para laki-laki yang sedang mengelilinginya. Entah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status