로그인Nesya termenung, duduk di kursi , di teras belakang rumah, air matanya mengalir deras mengingat semuanya yang sudah terjadi, perasaannya lega sudah memenjarakan suaminya, tetapi ia juga merasa ada berbeda. Tidak ada lagi perhatian, ocehan dan perdebatan dari hal-hal kecil, suasana itu juga mewarnai hari-harinya. “Non, ini susunya,” ucap bibi menghampiri Nesya membawakan susu. Nesya menoleh, tersenyum malas.“Terima kasih, Bi.”Bibi gelisah, ada sesuatu yang ingin disampaikan tetapi ia takut berbicara. Nesya melihat bibi setelah meminum susunya setengah.“Ada apa, Bi. Kayaknya ada sesuatu?”“Anu, Non. Gaji bulan ini belum dibayar, pak Rahmat tukang kebun juga, katanya anaknya mau masuk sekolah.” Nesya menghela nafas sejenak, ia memang tidak tahu menahu tentang urusan di rumah suaminya, sejauh ini ia hanya terima beres.“Minta nomor rekening mereka, biar saya transfer sekarang,” ucap Nesya santai. “Non, Bapak selalu ngasih uang cash. Kami-kami ini orang kampung, Non. Ndak tahu ambil
Gunawan dengan begitu menahan emosi memasuki kantornya, ia berjalan begitu tergesa-gesa. Pandangannya lurus kedepan dan ingin sekali secepatnya sampai di ruangannya. “Shinta!“ teriak Gunawan memanggil Shinta, rekan kerja Nesya dulu, yang sudah diangkat menjadi sekretaris Gunawan. Sinta terperanjat, ia berdiri dengan rasa takut mendengar suara bariton sang bos. Mata Sinta melihat ke arah pintu masuk ruangan Gunawan dan sesekali melihat seseorang yang duduk di kursi kekuasaan Gunawan. ‘Braakk!’ pintu ruangan dibuka dengan kasar. “Sinta!” Gunawan seketika terdiam saat melihat pria yang duduk di kurasi kerjanya. “Kamu siapa? Beraninya duduk di kursiku!” ucap Gunawan dengan lantang. “Aku bukan siapa-siapa, tapi sekarang aku pemilik perusahaan ini,” jawab pria tersebut santai. “Pak, beliau ini pak Arjuna. Pamannya pak Arya,” sambung Shinta takut. “Pak Arjuna?” tanya Gunawan memastikan. “Iya, Pak.” Arjuna tertawa melihat ekspresi wajah Gunawan.“Tepat sekali. Oh iya, saat pern
Nesya membuka mata, lalu melihat suaminya yang masih tidur disampingnya sambil memegang perutnya. Nesya menghela nafas panjang, pelan-pelan ia menyingkirkan tangan suaminya dari perutnya. Tangan satunya meraih ponsel di meja nakas. “Ck, hapeku mati lagi,” keluhnya setelah melihat ponselnya mati. Ia melihat ponsel Gunawan dan mengambilnya, beberapa kali ia memasukkan password nya, namun tetap gagal. Nesya tersenyum miring, ia berniat membangunkan Gunawan yang masih tertidur. Ia baru ingat jika orang bangun tidur pasti sedikit linglung dan sudah pasti akan memberikan password tersebut. “Gun, bangun.” Nesya menggoyang pelan bahu Gunawan. “Hem,” balas Gunawan masih memejamkan mata. “Aku pinjam hp kamu ya? Mau telpon kak Arya,” ucap Nesya pelan lalu mencium pipinya. “Hem.” masih dengan posisi yang sama. “Passwordnya apa?” “Tanggal lahir Sarah,” jawab Gunawan parau dan masih posisi yang sama. Nesya menghembuskan nafas kesal, bisa-bisanya ia tidak terpikir selama ini password pon
Nesya berjalan santai di samping Gunawan saat memasuki kantor cabang yang dulunya tempatnya bekerja. Tidak peduli tatapan semua karyawan lain padanya, ditambah perutnya yang sudah mulai terlihat membesar dan Gunawan menggenggam tangannya dengan erat seolah tidak ingin melepasnya. Gunawan tersenyum bangga karena bisa mendapatkan Nesya yang begitu cantik, cerdas dan bisa dibilang primadona kantornya. Namun tidak dengan Shinta yang sudah tahu misi Nesya. Shinta hanya diam dan diam-diam mendukung apa yang dilakukan Nesya. Sesampainya di ruangan, Gunawan meminta Nesya duduk di sofa dan bersantai. Sedangkan dirinya meeting bersama karyawannya. “Nes,” panggil seseorang. “Shinta,” balas Nesya. Keduanya saling berpelukan melepas rindu karena sudah beberapa bulan tidak bertemu. “Apa kabar? Bagaimana jadi istri bos. Pasti pak bos manjain kamu ya?” goda Shinta membuat seulas senyum kecut dibibir Nesya. “Iya sih, tapi aku masih benci sama dia. Misiku tetap masih sama, aku mau di masuk pen
Nesya diam-diam ke ruangan kerja Gunawan, ia mencari beberapa berkas perusahaan penting. Ia tahu perusahaan suaminya itu sedang tidak baik-baik saja dan ia ingin mengambil alih perusahaan tersebut dengan bantuan sang kakak, Arya. “Dimana berkas perusahaan itu, hari ini aku harus nemuin berkas penting itu,” gumam Nesya mencari di lemari rak buku dan berkas penting lainnya. “Nes, kamu ngapain!” seru seseorang membuat Nesya terkejut. Nesya menoleh rupanya sang suami sudah pulang dari kantor.“Ah, ini aku cari buku yang kemarin kamu baca,” Nesya kemudian menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. “Oh, Buku itu ada di laci meja nakas.” Gunawan menghampiri Nesya lalu memeluknya. “Kamu udah makan,” tanya Gunawan masih memeluk Nesya. Nesya mengatur nafasnya. Ia takut ketahuan mencari dokumen penting perusahaan suaminya.“Belum, aku lagi pengen makan ramen.” Gunawan melepaskan pelukannya. Ia tersenyum melihat Nesya lalu mengusap perutnya.“Ok, kalau gitu kita ke restoran langgan
Nesya duduk termenung di depan jendela besar rumah orang tuanya. Ingatannya kembali saat kedua orang tuanya masih hidup. Ingin sekali ia kembali ke masa lalu, kehidupan yang begitu harmonis bersama keluarganya. Namun, ia juga sadar, itu semua tidak mungkin terjadi. “Papa, mama. Mungkin ini jalan Tuhan yang terbaik. Aku akan melanjutkan hidupku. Kalian berdua udah bersama, Nesya akan berusaha untuk menghadapi hidup ini tanpa kalian, Nesya pasti bisa,” batin Nesya lalu mengusap air matanya. Sudah satu minggu lebih, Gunawan juga masih begitu sedih melihat istrinya yang seolah belum menerima kepergian sang mama. Ia tahu rasanya ditinggal orang yang sangat dicintai. “Nes, makan dulu ya sebelum pulang,” ucap Gunawan sambil mengusap pundak Nesya. Nesya melihat Gunawan, pria dihadapannya itu sudah beberapa hari terakhir begitu perhatian padanya dan lebih protektif. Sebenarnya ia risih diperlukan seperti itu. “Aku masih mau dirumah mama, aku belum mau pulang, aku mau satu hari lagi dis
Nesya sudah sedikit membaik dimata Bintang dan Bulan, walau sebenarnya Nesya begitu trauma dengan apa yang sudah ia alami. Nesya juga tidak menceritakan jika dirinya dinodai Gunawan. Ia pura-pura sudah tidak apa-apa. Karena Nesya juga tidak ingin merepotkan mereka berdua terlalu lama.“Ya sudah, ka
Nesya masih meringkuk di tempat tidurnya, sudah satu minggu ia tidak ke kantor. Air matanya seolah tidak pernah kering, ia terus meratapi nasibnya. Bintang yang dari awal terus menemani bersama Bulan pun tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa menghibur sebisanya. Karena mereka juga tidak tahu p
Sarah mengamuk di kamar hotel, tidak hentinya ia menampar Adipati dan Gunawan hanya duduk menyaksikan saja sambil merokok didekat pintu balkon. Gunawan tersenyum miring melihat anaknya yang memang tidak menyukai pengkhianatan. “Kau sudah tidur dengannya? Kalian berdua sudah berbuat apa saja?” teri
Setelah menuntaskan hasratnya, Gunawan meninggalkan Nesya begitu saja ke kamar mandi. Gunawan tertawa puas setelah selesai dengan aksi tidak terpujinya. Hasratnya yang yang sudah ia pendam bertahun-tahun karena sang istri sudah meninggal dunia, ia lampiaskan pada Nesya yang tidak tahu apa-apa tenta







