MasukPukul 23:00 Ervan dan diandra sampai di rumah.
keadaan rumah sudah begitu sepi, Ervan menggandeng tangan diandra membawanya masuk kedalam. dengan jantung yang berdebar, diandra mencoba setenang mungkin. dia berharap,jika Wily sudah terlelap. saat pintu utama di buka, dengan duplikat yang selalu Ervan bawa kemana pun, diandra bernapas lega, karena ruangan sudah mulai gelap. itu memang menandakan jika wily dan Ranti sudah tidur. dengan helaan napas yang cukup panjang, akhirnya diandra melepaskan genggaman tangannya dari ervan. ”Syukurlah, papa udah tidur.” ”Ya udah, sekarang kamu tidur juga gih. istirahat ya..” kata ervan, dengan penuh kelembutan. diandra menganggukkan kepalanya, karena memang merasa tubuhnya begitu sangat lelah. ”Ya udah kak,aku masuk ya” Namun,saat diandra akan melangkahkan kakinya, Tiba-tiba, sebelum Diandra sempat melangkah, sebuah suara yang sangat familiar memecah keheningan. “Tunggu dulu.” Jantung Diandra langsung mencelos. Saraf-sarafnya menegang. dia memejamkan mata sejenak, berharap pendengarannya salah. Namun, harapannya pupus ketika cahaya lampu ruang tamu tiba-tiba menyala terang benderang. Diandra dan Ervan langsung membeku di tempat, silau sesaat oleh perubahan mendadak dari gelap ke terang. Di sana, berdiri tegak di tengah ruangan, dengan sorot mata yang tajam dan raut wajah yang keras, adalah Wily, sang papa. dia baru saja menekan saklar lampu. Di sebelahnya, Ranti tampak duduk di sofa dengan ekspresi yang sulit diartikan, entah khawatir atau marah. Wily melipat kedua tangannya di depan dada. Suasana sunyi yang tadinya menenangkan kini berubah menjadi tegang dan mencekam. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam lebih sedikit. “Jam berapa ini?” tanya Wily dengan nada suara yang rendah namun penuh tekanan. dia tidak menatap Ervan, pandangannya lurus dan fokus ke arah Diandra. Diandra menunduk, tidak berani membalas tatapan mata papanya. Sementara itu, Ervan yang berdiri di samping Diandra, mencoba mengambil alih situasi. “Pa, maaf, kami baru sampai,” ujar Ervan dengan sopan, mencoba meredakan ketegangan. “Tadi aku jemput diandra, katanya ada tugas kelompok yang mendadak, jadi pulangnya larut.” Wily mengalihkan pandangannya sebentar ke arah Ervan, lalu kembali lagi ke Diandra. “Papa tidak bertanya sama kamu, Ervan. Papa bertanya pada Diandra,” potong Wily dingin. dia melangkah maju dua langkah, membuat Diandra semakin menciut. “Diandra, Papa tanya, jam berapa ini? Dan kamu dari mana?” Diandra hanya bisa menggigit bibir bawahnya, kelelahan yang ia rasakan mendadak hilang, digantikan oleh rasa takut dan cemas yang mendalam. ”Diandra!” bentak wily. Dia merasa kesal, karena diandra belum juga menjawab. ”Pah.. udah cukup. ini udah malam. biarkan anak-anak istirahat” Ranti beranjak dari sofa, mendekat ke arah Wily dan menenangkannya. ”Enggak bisa mah!” protes Wily. ”makin kesini, Diandra makin semena-mena, dan sulit untuk di atur.” ”Pah..” Diandra membuka suara, Wily yang semula berinteraksi dengan Ranti, kini pandangannya fokus pada Diandra. ”Papa tidak tahu lagi di, bagaimana caranya mendidik kamu” Suara wily parau, nampak sekali wajahnya seperti berputus asa. ”Ini jalan satu-satunya, dan berharap kamu akan berubah” Suasana ruangan itu begitu tegang, entah apa lagi, hukuman yang akan di berikan pada diandra. ”Pah.. tadi aku udah bilang,diandra pulang telat, karena ada tugas kelompok pah” bela ervan. ”Van, papa tahu kamu anak baik, jadi papa minta jangan biarkan kamu berbohong,hanya untuk melindungi diandra” sela wily. Ervan mendekat, dia merangkul pundak diandra yang begitu gemetar. ”Enggak pah. ini serius” kata ervan lagi, dengan nada sedikit tegas. ”Papa tidak peduli lagi dengan alasan itu. yang jelas, papa akan tetap memberikan hukuman yang pantas untuk diandra.” ujar wily, mempertegas ucapannya, seolah tidak ingin di bantah. ”Pah..” Baru saja ervan ingin memotong, usapan tangan dari diandra membuatnya menjadi bungkam. “Dengar diandra, papa tidak lagi akan menghukum kamu dengan cara papa. karena papa sudah lelah dengan sikap kamu, yang tidak ingin berubah.” Sejenak Wily menjeda perkataannya. dia menghela napasnya terlebih dahulu, setelah itu kembali melanjutkan nya. ”Bulan depan, Kamu akan papa nikahkan!” DUUUUARRR.... Pagi harinya diandra sudah terjaga, namun belum ada pergerakan darinya. Diandra masih betah membungkus tubuhnya di balik selimut. TOK.. TOK... Entah ketukan yang keberapa kali, diandra seakan enggan untuk merespon nya. ”Di.. ini kakak,” Mendengar suara yang tidak asing, membuat diandra akhirnya keluar dari balik selimut. Dengan gerakan malas, perlahan dia turun dari ranjang,dan melangkah menuju pintu. CEKLEK... Terlihat wajah tampan Ervan,yang sudah begitu segar di balik pintu. ”Kok, belum siap-siap hm..?”tanya ervan, dengan intonasi lembut. ”Malas!” jawabnya ketus. Diandra membalikkan tubuhnya,dan berjalan kembali masuk kamarnya. Ervan menghela napasnya, dan mengikuti langkah diandra. ”Di..” ”Aku lagi pingin sendiri kak, tolong kasih aku waktu” sela diandra. Namun, bukannya pergi, ervan malah duduk di sisi ranjang. “Kak Ervan...” Diandra merasa geram dengan sikap ervan, yang menurutnya begitu pemaksa. ”Aku mau bilang,” ”Aku enggak mau denger kak, udah keluar dulu” Diandra kembali masuk kedalam selimutnya, berharap, jika ervan segera pergi. ”DIANDRA!” DEG.... Suara Ervan yang sedikit tegas, membuat tubuh Diandra menegang. dia keluar dari balik selimut, dan langsung duduk berhadapan dengan ervan. ”Apa sih kak, main bentak-bentak? Kamu mau seperti papa? iya haa?” ”Semua orang kenapa sih, kenapa enggak ada yang sayang sama aku” Dengan penuh emosional, Diandra meluapkan semua uneg-unegnya, perasaan yang dia pendam dari semalam, yang membuat dadanya begitu sangat sesak. ”Di.. dengerin aku,” Ervan menangkup wajah diandra, namun dia tepis dengan cepat. ”Jangan pernah perlakuan aku seperti ini kak. jika akhirnya, rasa sakit yang akan aku dapetin” ungap Diandra. ”Maksud kamu?” ”Enggak paham kan? ya udah sana pergi!” Diandra memalingkan wajahnya ke arah samping. ”Diandra.. maksud kamu apa?” Ervan meraih dagu diandra memaksanya untuk menatap kearahnya. Diam.. tidak ada lagi percakapan. Diandra terdiam begitu lama. ”Aku Mencintai Kamu kak Ervan” Ervan terpaku. Detik-detik itu terasa seperti jam, bunyi detak jam dinding di ruang tamu seolah bergema hingga ke kamar Diandra. Mata Ervan yang tadinya lembut kini dipenuhi keterkejutan dan sedikit kepanikan yang tersembunyi. “Diandra…” Suaranya tercekat. Ervan melepaskan dagu Diandra seolah baru menyadari sentuhan itu. Diandra, yang sudah kehilangan kendali atas emosinya, menangis tersedu-sedu. Air matanya membasahi pipi, menumpahkan segala beban yang dia rasakan. “Aku tahu ini gila,” bisik Diandra di antara isaknya. “Aku tahu semua orang melihatmu hanya sebagai kakak, sebagai pahlawan yang selalu melindungiku. Tapi aku nggak bisa, Kak. Aku lihat kamu lebih dari itu. Kenapa kamu selalu baik? Kenapa kamu selalu ada? Aku nggak mau nikah, Kak. Aku cuma mau kamu.” Ervan membuang pandangannya ke samping. Rasa bersalah dan tertekan tampak jelas di raut wajahnya. “Aku sayang sama kamu, Di,” jawab Ervan, suaranya pelan dan serak. “Sayang banget. Kamu tahu, kan? Kamu tanggung jawabku. Aku selalu berusaha jadi yang terbaik untukmu.” “Bukan sayang seperti itu!” Diandra membentak frustrasi. dia mencengkeram lengan Ervan. “Aku butuh kamu sebagai pasangan, Kak! Bukan kakak yang membelaku di depan Papa, lalu membiarkanku dinikahkan dengan orang lain!” Ervan menarik napas panjang, sorot matanya kembali tegas, tapi kali ini penuh kesedihan. “Aku nggak bisa, Diandra,” katanya, suaranya kini lebih berat. “Ada batasan yang nggak bisa kita lewati. Dan yang Papa lakukan semalam… itu bukan hukuman mendadak. Papa sudah merencanakannya jauh-jauh hari.” “Apa?” Diandra menatapnya tajam. “Calon suamimu itu… dia bukan orang asing,” Ervan melanjutkan, wajahnya menunjukkan dilema besar. “Papa mengenalkannya padaku dua minggu lalu. lelaki itu anak dari teman bisnis Papa, dan dia orang yang baik. Papa bilang, hanya dia yang bisa membuatmu ‘berubah’ dan hidup lebih teratur.” Diandra melepaskan cengkeraman tangannya, merasa seluruh dunianya runtuh. Ini bukan hanya hukuman, ini adalah konspirasi yang melibatkan orang yang paling diandra percaya ya itu, Ervan. “Kamu tahu? Selama ini kamu tahu dan kamu diam aja?” Suara Diandra bergetar, lebih karena sakit hati daripada marah. “Kamu bahkan bela aku semalam, seolah kamu nggak tahu apa-apa.” “Aku membela kamu karena aku ingin menunda! Aku ingin mencari cara lain, Di! Aku nggak mau kamu tertekan,” jelas Ervan, meraih tangan Diandra lagi. “Aku ingin kamu yang memberitahu Papa, bukan Papa yang memaksakan. Aku tahu kamu nggak akan bahagia.” “Jadi, kamu benar-benar akan membiarkan aku menikah?” Pukul 23:00 Ervan dan diandra sampai di rumah. keadaan rumah sudah begitu sepi, Ervan menggandeng tangan diandra membawanya masuk kedalam. dengan jantung yang berdebar, diandra mencoba setenang mungkin. dia berharap,jika Wily sudah terlelap. saat pintu utama di buka, dengan duplikat yang selalu Ervan bawa kemana pun, diandra bernapas lega, karena ruangan sudah mulai gelap. itu memang menandakan jika wily dan Ranti sudah tidur. dengan helaan napas yang cukup panjang, akhirnya diandra melepaskan genggaman tangannya dari ervan. ”Syukurlah, papa udah tidur.” ”Ya udah, sekarang kamu tidur juga gih. istirahat ya..” kata ervan, dengan penuh kelembutan. diandra menganggukkan kepalanya, karena memang merasa tubuhnya begitu sangat lelah. ”Ya udah kak,aku masuk ya” Namun,saat diandra akan melangkahkan kakinya, Tiba-tiba, sebelum Diandra sempat melangkah, sebuah suara yang sangat familiar memecah keheningan. “Tunggu dulu.” Jantung Diandra langsung mencelos. Saraf-sarafny
di Dalam perjalanannya, Ervan menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai mobil. Jarum speedometer melonjak tak terkendali, melampaui batas yang wajar, membiarkan mesin mobilnya meraung protes di tengah jalanan kota yang sudah mulai lengang. Kota itu hanya tampak sebagai bayangan buram yang berkelebatan di jendela samping. Lampu jalanan, papan reklame, dan garis-garis marka jalan menyatu menjadi garis cahaya putih yang panjang, ditarik paksa oleh kecepatan tinggi yang dia ciptakan. Kecepatan itu adalah satu-satunya pelarian dari kengerian yang berputar di benak Ervan. Namun, kecepatan tak mampu mengusir bayangan itu. Wajah Diandra, yang biasanya penuh senyum atau kerutan konyol saat cemberut, kini memenuhi setiap inci konsentrasinya. Ada sesuatu yang salah. Diandra belum pulang.nomornya pun tidak aktif. semuanya menjeritkan bahaya yang tak terucapkan. "Diandra," gumamnya, suaranya tercekat. Ervan mencoba memfokuskan pandangan ke depan, memaksa tangannya untuk mencengkeram kem
Pagi itu, seperti biasa, kampus ramai dengan hiruk-pikuk mahasiswa. Namun, ada satu pemandangan yang selalu menarik perhatian, Ervan, si idola kampus dengan ketampanan yang memikat. Langkahnya selalu diikuti tatapan kagum dari para mahasiswi yang tak bisa menyembunyikan kekaguman mereka. Diandra, yang di samping Ervan, berusaha keras untuk tetap tenang. dia sudah terbiasa dengan fenomena "Ervan Effect" ini. Namun, pagi itu terasa berbeda. Semakin banyak mahasiswi yang terang-terangan memanggil nama Ervan, bahkan ada yang mencoba mendekat. ”Ervan! Ervan! Lihat sini!” ”Astaga, Ervan ganteng banget hari ini!” Wajah Diandra yang tadinya berusaha santai, kini mulai menunjukkan tanda-tanda kekesalan. Bibirnya mengerucut, matanya melirik tajam ke arah para mahasiswi yang terus-menerus memanggil nama kakaknya. Ervan yang merasakan perubahan mood Diandra, hanya tersenyum tipis sambil
Saat Ranti, sudah keluar dari kamar diandra, terdengar ketukan pintu di luar sana. diandra yang sedang malas untuk bangkit, dia hanya mempersilahkannya untuk masuk. ”Masuk” Ceklek... Diandra yang masih betah, rebahan dan memandang langit kamarnya, nampak tidak perduli, dengan seseorang yang kini langkahnya semakin dekat. EHM... Diandra terperanjat, saat mendengar deheman yang begitu asing di telinganya. ”ka—ka Ervan?” Diandra langsung bangkit dari tidurnya,dan merubah posisinya menjadi duduk. ”Maaf, Di, aku ganggu malam-malam. ini.. aku mau pinjam buku, buat tugas besok” ”E—eh.. iya, kak. boleh” Diandra yang merasa begitu gugup, langsung beranjak dari tempat tidur,dan mengarahkan langkahnya ke meja belajar. ”Ini kak, pilih aja. butuh buku apa?” Ervan mendekat ke arah Diandra, namun entah kenapa rasanya jantung diandra berdebar kencang. ekspresi wajahnya pun terlihat begitu salah tingkah. langkah ervan yang semakin maju, membuat diandra memundurkan langkahnya,
'PLAKK...' Sebuah tamparan keras, mendarat di pipi mulus diandra. ”Papa tampar aku?” Diandra memegangi pipinya, bekas tamparan Terlihat jelas, karena pipinya yang putih. hati diandra sesak, karena sikap dari papanya. ”Iya! karena kamu, sangat sulit untuk di atur!” bentak Wily. ”Lihat jam berapa ini haa? pantaskah seorang gadis pulang larut?” ”Pah.. udah ya,cukup” Ranti menengahi. ”Tidak Mah! sekali-kali anak ini, harus di kasih pelajaran.” diandra terduduk lesu di Sebuah sofa. merasakan sakitnya di perlakukan kasar oleh ayah kandungnya sendiri. ”Lihat kakak kamu Ervan! dia laki-laki, tapi tidak senakal kamu,Diandra!” Wily semakin meninggikan suaranya. ”Kamu sama saja, seperti ibumu!” ”Jangan bawa-bawa ibuku!” Diandra yang tidak mau kalah,dia bangkit dari duduknya, segera menghadap wily sang papa. ”Nah, sudah berani kan kamu menentang papamu sendiri.” ”Aku begini,karena papa!” ”Aku bercermin,dari kelakuan papa!” teriak Diandra penuh emosional. tangan wily menge







