MasukPagi itu, seperti biasa, kampus ramai dengan hiruk-pikuk mahasiswa. Namun, ada satu pemandangan yang selalu menarik perhatian, Ervan, si idola kampus dengan ketampanan yang memikat. Langkahnya selalu diikuti tatapan kagum dari para mahasiswi yang tak bisa menyembunyikan kekaguman mereka.
Diandra, yang di samping Ervan, berusaha keras untuk tetap tenang. dia sudah terbiasa dengan fenomena "Ervan Effect" ini. Namun, pagi itu terasa berbeda. Semakin banyak mahasiswi yang terang-terangan memanggil nama Ervan, bahkan ada yang mencoba mendekat. ”Ervan! Ervan! Lihat sini!” ”Astaga, Ervan ganteng banget hari ini!” Wajah Diandra yang tadinya berusaha santai, kini mulai menunjukkan tanda-tanda kekesalan. Bibirnya mengerucut, matanya melirik tajam ke arah para mahasiswi yang terus-menerus memanggil nama kakaknya. Ervan yang merasakan perubahan mood Diandra, hanya tersenyum tipis sambil menggenggam erat tangan Diandra, seolah ingin mengatakan, "Kenapa? Cemburu hm." Namun, tatapan kesal Diandra tak bisa disembunyikan. dia merasa seperti ada ratusan pasang mata yang terus memandang Ervan. Diandra menghentakkan kakinya, dia berjalan sendiri meninggalkan Ervan. ”Di.. tunggu!” Ervan mengejar diandra, yang langkahnya semakin menjauh. kelas belum di mulai, Diandra duduk di taman dekat kampus, diandra melamun dan tatapan kosong. rasanya, beban Diandra begitu berat. entah kenapa, pikirannya kacau setiap kali mengingat, perselisihan antara kedua orang tuanya. diandra ingin mencari tahu, kebenarannya. namun, entah dari mana harus memulainya. ”Diandra...” Suara yang begitu pamiliar, membuyarkan lamunan diandra. dia menoleh sebentar, saat melihat Ervan mood nya kembali memburuk. ”Kenapa sih, pergi gitu aja” Ervan ikut duduk di samping diandra, namun Diandra menggeser sedikit posisinya. Ervan yang melihatnya, begitu sangat gemas. kemudian dia malah semakin sengaja, menggeser posisinya semakin merapat ke diandra. ”Kak, kamu apa-apaan sih.” ”Kamu, tuh yang apa-apaan” Ervan mencubit hidung diandra, dengan lembut. dan entah kenapa, jantung diandra kembali berdebar. ”(Astaga... kenapa ini, jantung gue?)” Ervan yang melihat pipi diandra memerah,dia tersenyum tipis. ”Merah tuh pipi.” Ervan menggoda diandra, Membuat diandra kembali salah tingkah. ”ihh.. kak Ervan,” ”Udah, udah.. kasihan ah, aku goda terus. masuk kelas yuk?” ”Duluan aja. malas aku, ketemu fans kamu” kata diandra dengan nada ketus. ”Udah ayok.” Ervan meraih tangan diandra, kemudian menggenggamnya. ”Cuma kamu, yang aku sayang”bisik Ervan. Diandra terkejut, dan merasa tubuhnya meremang saat mendengar bisikan dari ervan. dia mengikuti langkah ervan, yang berjalan di depannya, namun tangan diandra masih dalam genggamannya. Saat kelas diandra selesai, dia berniat menemui ervan yang masih ada satu kelas lagi. diandra ragu, apakah harus menunggu ervan,atau pulang duluan. diandra khawatir, kembali di amuk oleh wily jika kembali salah mengambil keputusan. ”Tunggu kak ervan, apa pulang duluan ya?” pikir diandra. dan akhirnya, Diandra kembali memutuskan untuk pulang lebih dahulu. dia mengirimkan pesan pada Ervan, setelah itu memutuskan untuk pulang. ”Diandra...?” Diandra menoleh,saat seseorang memanggilnya di belakang. “Raka” ”Hai di, kamu mau pulang kah?” tanya raka, dengan suara lembut. ”Iya nih. nunggu taxi” ”Aku antar aja,ya di?” kata Raka menawarkan. ”Eh.. enggak usah” Diandra berusaha menolak,sesopan mungkin, agar Raka tidak sakit hati. karena sudah hampir satu tahun, pemuda itu berusaha mengejar diandra. namun, Diandra yang tidak mau memberikan harapan, dia selalu menjaga jarak. ”Di, kali ini aja, tolong jangan nolak. cuma mau nganter kamu pulang aja kok” Raka tidak menyerah, dia terus memberikan penawaran, dengan nada yang lembut. Diandra yang merasa tidak enak, akhirnya menyetujuinya. ”Hanya, sekedar antar pulang kan?”tanya diandra memastikan, sebelum memasuki mobil raka. ”Iya dong di, emangnya mau apa lagi.” Raka tersenyum tipis, senyum yang sulit tuk di artikan. Diandra mengangguk, dia langsung memasuki mobil raka. di dalam perjalanan, begitu hening tidak ada obrolan di antara keduanya, Raka hanya memandangi Diandra sekilas, kemudian kembali fokus ke jalanan. ”Minum dulu di,” Raka memberikan sebotol air mineral. ”Maksih KA, tapi aku enggak haus.” ”Itu wajah kamu tegang, biar rileks loh. aku enggak punya maksud apa-apa kok di” jelas raka. ”Hm.. iya” Sementara di kampus, saat kelas Ervan selesai dia langsung buru-buru mencari keberadaan diandra. ”Loh, kelasnya udah bubar lebih dulu” Saat ervan memasuki kelas diandra ternyata sudah kosong. Ervan meraih saku celananya, meraih ponselnya untuk menghubungi Diandra, namun terlihat ada notifikasi dari Diandra. *DIANDRA* [kak, kelasku udah selesai,aku pulang naik taxi] Ervan mencoba menghubungi Diandra, namun nomornya sudah tidak aktif. ”Kemana diandra, tumben enggak aktif. apa lowbat?” pikir Ervan. dia segera melangkahkan kakinya menuju parkiran, dan memasuki mobil untuk menyusul diandra. ”Kamu dimana, di?” Ervan berkali-kali menghubungi ponsel Diandra, namun tetap saja nomornya tidak aktif. ”Aahhh sial!” Ervan memukul setir mobilnya, dengan perasaan yang begitu panik,dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. setelah beberapa menit berkendara, Ervan Sampai di rumah. terlihat, mobil Wily sudah terparkir di halaman. ”Tumben jam segini,papa di rumah” Ervan berjalan masuk, untuk menemui kedua orang tuanya. ”Assalammualaikum?” ”Waalaikumsalam” Wily dan Ranti sedang berada di ruang tamu, ervan melihat ke sekitar, mencari keberadaan diandra. ”Loh papa udah pulang?” tanya ervan, sambil mengecup punggung tangan wily,dan Ranti. ”Iya, papa lagi sakit kepala” ”Loh van, diandra mana?” tanya wily. seketika tubuh ervan langsung menegang. ”Emangnya belum pulang pah? tadi kelasnya lebih dulu selesai Diandra. dia juga pamit mau pulang duluan naik taxi” kata Ervan memberikan penjelasan. Wily bangkit dari duduknya, terlihat wajahnya yang sangat marah. ”Benar-benar anak itu! pasti keluyuran lagi!” Suara wily menggema di ruangan, seakan amarahnya sudah Meledak. ”Pah, tenang dulu” kata rianti, Mengusap-usap bahu suaminya. ”Pah, biar ervan cari” Saat ervan melangkahkan kakinya, tiba-tiba suara Wily menghentikannya. ”Sudah lah van,papa sudah capek. biarkan Diandra pergi kemanapun dia mau” “Pah, kita tidak tahu kan, kenapa diandra pulang terlambat. nomornya juga tidak aktif, gimana kalau diandra kenapa-kenapa? aku mau cari diandra dulu pah.” ”Terserah kamu aja,van” Wily melangkahkan kakinya pergi. sementara Ervan,dia pamit lebih dulu pada ibunya. ”Ervan pergi ya,mah?” ”Iya van, kamu hati-hati ya?tolong cari Diandra” Ervan hanya membalasnya dengan anggukan kepala, kemudian langsung melangkah pergi. Hening mencekam di apartemen mewah itu. Perlahan, kelopak mata Diandra terbuka. Pandangan pertamanya disambut oleh langit-langit bertekstur, asing namun familiar. diandra butuh waktu untuk memproses di mana dirinya berada sekarang. sebuah kamar tidur yang elegan, bukan kamarnya sendiri. Sebuah sensasi berdenyut hebat menghantam kepalanya. Diandra meringis pelan. dia mencoba mengangkat tangan, menyentuh pelipisnya, tapi gerakannya terasa seperti melawan gravitasi. "Sial, pusing sekali..." bisiknya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Diandra berusaha keras untuk duduk. Otot-ototnya terasa seperti kapas yang direndam air. lemah dan tak bertenaga. akhirnya Diandra berhasil menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur, napasnya memburu akibat usaha yang begitu minimal. Baru saat itulah dia mulai menyadari detail-detail lain. diandra tidak mengenakan pakaiannya yang sehabis dari kampus. dia hanya dibalut oleh kemeja kebesaran berwarna putih gading—dan selimut tebal menutupi tubuhnya sebatas dada. Kepalanya mulai memutar kembali kilasan ingatan yang kabur. diandra ingat saat akan pulang,dan di antar oleh Raka. Jantung Diandra tiba-tiba berdebar kencang, firasat buruk merayapi benaknya. Matanya memicing, menyapu seluruh ruangan, mencari petunjuk. Tepat saat kecemasan mencapai puncaknya, terdengar suara tarikan pintu kamar mandi. Klik. Pintu itu terbuka. Dari balik kepulan tipis uap air panas, melangkah keluar seorang lelaki. dia hanya mengenakan handuk yang melingkari pinggulnya, memperlihatkan dada bidang dan perut yang terbentuk sempurna, masih berkilauan oleh tetesan air. Rambutnya basah dan sedikit berantakan. Lelaki itu menghentikan langkahnya ketika melihat Diandra sudah terbangun, ekspresi terkejut di wajahnya langsung berganti menjadi seringai tipis yang sulit diartikan. "Di, kamu udah bangun," sapanya dengan suara bariton yang dalam. Mata Diandra langsung terbelalak sempurna, rasa pusingnya seketika terlupakan, digantikan oleh gelombang kejutan, horor, dan kebingungan yang membanjiri dirinya. ”Raka... apa yang udah kamu lakuin?”Pukul 23:00 Ervan dan diandra sampai di rumah. keadaan rumah sudah begitu sepi, Ervan menggandeng tangan diandra membawanya masuk kedalam. dengan jantung yang berdebar, diandra mencoba setenang mungkin. dia berharap,jika Wily sudah terlelap. saat pintu utama di buka, dengan duplikat yang selalu Ervan bawa kemana pun, diandra bernapas lega, karena ruangan sudah mulai gelap. itu memang menandakan jika wily dan Ranti sudah tidur. dengan helaan napas yang cukup panjang, akhirnya diandra melepaskan genggaman tangannya dari ervan. ”Syukurlah, papa udah tidur.” ”Ya udah, sekarang kamu tidur juga gih. istirahat ya..” kata ervan, dengan penuh kelembutan. diandra menganggukkan kepalanya, karena memang merasa tubuhnya begitu sangat lelah. ”Ya udah kak,aku masuk ya” Namun,saat diandra akan melangkahkan kakinya, Tiba-tiba, sebelum Diandra sempat melangkah, sebuah suara yang sangat familiar memecah keheningan. “Tunggu dulu.” Jantung Diandra langsung mencelos. Saraf-sarafny
di Dalam perjalanannya, Ervan menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai mobil. Jarum speedometer melonjak tak terkendali, melampaui batas yang wajar, membiarkan mesin mobilnya meraung protes di tengah jalanan kota yang sudah mulai lengang. Kota itu hanya tampak sebagai bayangan buram yang berkelebatan di jendela samping. Lampu jalanan, papan reklame, dan garis-garis marka jalan menyatu menjadi garis cahaya putih yang panjang, ditarik paksa oleh kecepatan tinggi yang dia ciptakan. Kecepatan itu adalah satu-satunya pelarian dari kengerian yang berputar di benak Ervan. Namun, kecepatan tak mampu mengusir bayangan itu. Wajah Diandra, yang biasanya penuh senyum atau kerutan konyol saat cemberut, kini memenuhi setiap inci konsentrasinya. Ada sesuatu yang salah. Diandra belum pulang.nomornya pun tidak aktif. semuanya menjeritkan bahaya yang tak terucapkan. "Diandra," gumamnya, suaranya tercekat. Ervan mencoba memfokuskan pandangan ke depan, memaksa tangannya untuk mencengkeram kem
Pagi itu, seperti biasa, kampus ramai dengan hiruk-pikuk mahasiswa. Namun, ada satu pemandangan yang selalu menarik perhatian, Ervan, si idola kampus dengan ketampanan yang memikat. Langkahnya selalu diikuti tatapan kagum dari para mahasiswi yang tak bisa menyembunyikan kekaguman mereka. Diandra, yang di samping Ervan, berusaha keras untuk tetap tenang. dia sudah terbiasa dengan fenomena "Ervan Effect" ini. Namun, pagi itu terasa berbeda. Semakin banyak mahasiswi yang terang-terangan memanggil nama Ervan, bahkan ada yang mencoba mendekat. ”Ervan! Ervan! Lihat sini!” ”Astaga, Ervan ganteng banget hari ini!” Wajah Diandra yang tadinya berusaha santai, kini mulai menunjukkan tanda-tanda kekesalan. Bibirnya mengerucut, matanya melirik tajam ke arah para mahasiswi yang terus-menerus memanggil nama kakaknya. Ervan yang merasakan perubahan mood Diandra, hanya tersenyum tipis sambil
Saat Ranti, sudah keluar dari kamar diandra, terdengar ketukan pintu di luar sana. diandra yang sedang malas untuk bangkit, dia hanya mempersilahkannya untuk masuk. ”Masuk” Ceklek... Diandra yang masih betah, rebahan dan memandang langit kamarnya, nampak tidak perduli, dengan seseorang yang kini langkahnya semakin dekat. EHM... Diandra terperanjat, saat mendengar deheman yang begitu asing di telinganya. ”ka—ka Ervan?” Diandra langsung bangkit dari tidurnya,dan merubah posisinya menjadi duduk. ”Maaf, Di, aku ganggu malam-malam. ini.. aku mau pinjam buku, buat tugas besok” ”E—eh.. iya, kak. boleh” Diandra yang merasa begitu gugup, langsung beranjak dari tempat tidur,dan mengarahkan langkahnya ke meja belajar. ”Ini kak, pilih aja. butuh buku apa?” Ervan mendekat ke arah Diandra, namun entah kenapa rasanya jantung diandra berdebar kencang. ekspresi wajahnya pun terlihat begitu salah tingkah. langkah ervan yang semakin maju, membuat diandra memundurkan langkahnya,
'PLAKK...' Sebuah tamparan keras, mendarat di pipi mulus diandra. ”Papa tampar aku?” Diandra memegangi pipinya, bekas tamparan Terlihat jelas, karena pipinya yang putih. hati diandra sesak, karena sikap dari papanya. ”Iya! karena kamu, sangat sulit untuk di atur!” bentak Wily. ”Lihat jam berapa ini haa? pantaskah seorang gadis pulang larut?” ”Pah.. udah ya,cukup” Ranti menengahi. ”Tidak Mah! sekali-kali anak ini, harus di kasih pelajaran.” diandra terduduk lesu di Sebuah sofa. merasakan sakitnya di perlakukan kasar oleh ayah kandungnya sendiri. ”Lihat kakak kamu Ervan! dia laki-laki, tapi tidak senakal kamu,Diandra!” Wily semakin meninggikan suaranya. ”Kamu sama saja, seperti ibumu!” ”Jangan bawa-bawa ibuku!” Diandra yang tidak mau kalah,dia bangkit dari duduknya, segera menghadap wily sang papa. ”Nah, sudah berani kan kamu menentang papamu sendiri.” ”Aku begini,karena papa!” ”Aku bercermin,dari kelakuan papa!” teriak Diandra penuh emosional. tangan wily menge







