Share

BAB 4. KHAWATIR

last update Last Updated: 2025-11-26 17:57:55

di Dalam perjalanannya, ​Ervan menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai mobil. Jarum speedometer melonjak tak terkendali, melampaui batas yang wajar, membiarkan mesin mobilnya meraung protes di tengah jalanan kota yang sudah mulai lengang.

​Kota itu hanya tampak sebagai bayangan buram yang berkelebatan di jendela samping. Lampu jalanan, papan reklame, dan garis-garis marka jalan menyatu menjadi garis cahaya putih yang panjang, ditarik paksa oleh kecepatan tinggi yang dia ciptakan. Kecepatan itu adalah satu-satunya pelarian dari kengerian yang berputar di benak Ervan.

​Namun, kecepatan tak mampu mengusir bayangan itu.

​Wajah Diandra, yang biasanya penuh senyum atau kerutan konyol saat cemberut, kini memenuhi setiap inci konsentrasinya. Ada sesuatu yang salah. Diandra belum pulang.nomornya pun tidak aktif. semuanya menjeritkan bahaya yang tak terucapkan.

​"Diandra," gumamnya, suaranya tercekat. Ervan mencoba memfokuskan pandangan ke depan, memaksa tangannya untuk mencengkeram kemudi dengan kuat, tetapi sensasi mencelos di perutnya mengganggu segalanya.

”​Apakah kamu baik-baik aja di? Kenapa kamu enggak ada kabar?”

​Perasaan khawatir terhadap Diandra itu seperti cangkul yang bekerja keras di otaknya, memecahkan konsentrasinya dalam menyetir menjadi serpihan-serpihan kecil. Sebuah klakson panjang dari arah kanan hampir membuatnya terlonjak. Ervan terlambat menyadari bahwa dia telah berbelok terlalu lebar, memotong lajur mobil lain.

​ervan mengumpat pelan, memutar kemudi dengan gerakan cepat untuk mengendalikan mobil. Napasnya terengah, bukan karena lelah, tapi karena rasa takut yang dingin kini bercampur dengan adrenalin.

​Ervan harus segera menemukan Diandra. Setiap detik yang terbuang terasa seperti pengkhianatan. dia harus melihatnya, harus tahu pasti. Kecepatan adalah kebutuhannya, tetapi kekhawatiran adalah distorsi yang mengancam untuk menabrakkan segalanya.

​ervan menekan klakson sekali, memacu mobilnya, membiarkan kekhawatiran dan kecepatan itu berpacu menuju tujuan yang sama.

​Namun di sela-sela menyetirnya, tiba-tiba ponsel Ervan berdering. ya, dia tahu si pemilik nada itu. karena Ervan nada dering yang tentunya special.

segera Ervan menghentikan mobilnya, menepikan mobilnya terlebih dahulu, setelah itu langsung menggeser ikon hijau.

”Diandra kamu di mana?” Ervan langsung menodong Diandra dengan suatu pertanyaan.

nada suaranya begitu cemas.

”Ka... a—aku...”

”Dimana di, ayo bilang?” potong ervan.

Diandra langsung sharelok posisinya saat ini. Ervan meminta Diandra untuk tetap di posisinya, sampai dia benar-benar datang.

Mengemudi selama 15 menit, Ervan Sampai di sebuah cafe tempat diandra berada.

”Diandra?” Ervan langsung memeluknya dengan erat.

”Di, aku khawatir,kamu kemana aja?” Diandra merasa terharu dengan sikap Ervan, dia juga membalas pelukan ervan dengan erat.

”Aku baik-baik aja kak. lihat deh” Wajah diandra terlihat ceria, menandakan bahwa memang dia dalam keadaan baik.

”Iya, syukurlah di,”

”Papa gimana kak?” Wajah yang semula ceria, kini berubah pucat saat diandra mengingat wily.

”Udah jangan di pikirin, nanti biar aku yang bantu jelasin” Saat Ervan meminta diandra untuk pulang, terlihat diandra begitu ragu. dia melambatkan langkahnya, dan kemudian menghentikan pergerakannya.

”Kak, antar aku pulang ke rumah mama aja” pinta diandra.

”Loh tapi di.. papa pasti tambah marah, kalau kamu pulang ke rumah tante dewi”

Diandra sejenak berpikir, memang karena memang benar adanya, Wily pasti begitu marah, jika mengetahui dia pulang ke rumah ibunya.

”Udah ayok pulang ke rumah, nanti aku yang jelasin” Dengan terpaksa akhirnya, diandra mengikuti langkah ervan, yang sudah merangkulnya.

Perjalanan rasanya begitu sangat cepat, perasaan diandra sudah tidak tenang, tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya wily terhadapnya.

Diandra meremas ujung bajunya,dia juga teringat tentang kejadian yang menimpanya, karena ulah Raka.

Diandra merasakan dadanya sesak, apa iya Raka sudah menyentuhnya? pikiran itu terus-menerus menghantui pikiran diandra.

ingin rasanya dia bercerita pada Ervan, namun Diandra takut.

apalagi jika sampai wily tahu, mungkin saat itu juga Diandra sudah di gantung oleh papanya.

”Di..?“ Ervan menggenggam tangan diandra, dia melihat kecemasan di wajah Diandra.

”Jangan takut ya, aku bakal lindungin kamu” janji ervan.

Diandra berhambur memeluk ervan, dia menumpahkan semua perasaannya saat ini.

”Aku takut kak, aku takut.”

”Sttt... tenang ya, aku di sini”

Tangan Ervan mengelus lembut punggung Diandra. dia membiarkan gadis itu menangis, merasakan getaran tubuhnya yang ketakutan.

​“Cerita sama aku, Di. Ada apa sebenarnya?” bisik Ervan, suaranya dipenuhi ketulusan.

​Diandra menggeleng pelan di bahu Ervan, enggan melepaskan pelukan itu. “Nanti… nanti aku cerita. Tapi nggak sekarang, Kak. Aku belum siap.”

​Ervan menghela napas, dia menghargai keputusan Diandra. Ervan tahu, rasa takut yang begitu besar tidak bisa dipaksa untuk hilang seketika.

​“Oke. Aku nggak akan paksa,” katanya sambil menangkup wajah Diandra, memaksa gadis itu menatap matanya. “Tapi ingat janjiku. Aku akan lindungi kamu. Apapun yang terjadi, kita hadapi sama-sama.”

​Diandra menatap mata Ervan yang penuh keyakinan, dan untuk pertama kalinya diandra merasa begitu nyaman, berada dalam pelukan ervan. perasaan lega mulai menjalari hatinya. diandra mengangguk samar.

​“Ayo kita masuk,” ajak Ervan, menggandeng tangan Diandra erat-erat. dia tidak tahu apa yang menanti mereka di dalam rumah, tetapi tekadnya sudah bulat.

Apapun yang terjadi, Ervan akan tetap melindungi diandra. karena tidak ingin, diandra kembali di amuk oleh wily.

Ervan merasa tidak tega, karena selama ini yang ervan tahu, diandra adalah gadis yang penurut. namun, karena masalah hidup, dan beban berat yang di alami oleh Diandra, menjadikan dia gadis yang pembangkang.

entah perasaan apa,yang kini menguasai hatinya, ervan belum bisa memastikannya.

yang pasti, Ervan tidak rela melihat diandra menangis. ervan selalu ingin melihat senyuman di wajah diandra.

”Aku sayang,kamu di..”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TERJERAT CINTA KAKAK TIRIKU    BAB 5. Hukuman Untuk Diandra

    Pukul 23:00 Ervan dan diandra sampai di rumah. keadaan rumah sudah begitu sepi, Ervan menggandeng tangan diandra membawanya masuk kedalam. dengan jantung yang berdebar, diandra mencoba setenang mungkin. dia berharap,jika Wily sudah terlelap. saat pintu utama di buka, dengan duplikat yang selalu Ervan bawa kemana pun, diandra bernapas lega, karena ruangan sudah mulai gelap. itu memang menandakan jika wily dan Ranti sudah tidur. dengan helaan napas yang cukup panjang, akhirnya diandra melepaskan genggaman tangannya dari ervan. ”Syukurlah, papa udah tidur.” ”Ya udah, sekarang kamu tidur juga gih. istirahat ya..” kata ervan, dengan penuh kelembutan. diandra menganggukkan kepalanya, karena memang merasa tubuhnya begitu sangat lelah. ”Ya udah kak,aku masuk ya” Namun,saat diandra akan melangkahkan kakinya, Tiba-tiba, sebelum Diandra sempat melangkah, sebuah suara yang sangat familiar memecah keheningan. ​“Tunggu dulu.” ​Jantung Diandra langsung mencelos. Saraf-sarafny

  • TERJERAT CINTA KAKAK TIRIKU    BAB 4. KHAWATIR

    di Dalam perjalanannya, ​Ervan menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai mobil. Jarum speedometer melonjak tak terkendali, melampaui batas yang wajar, membiarkan mesin mobilnya meraung protes di tengah jalanan kota yang sudah mulai lengang. ​Kota itu hanya tampak sebagai bayangan buram yang berkelebatan di jendela samping. Lampu jalanan, papan reklame, dan garis-garis marka jalan menyatu menjadi garis cahaya putih yang panjang, ditarik paksa oleh kecepatan tinggi yang dia ciptakan. Kecepatan itu adalah satu-satunya pelarian dari kengerian yang berputar di benak Ervan. ​Namun, kecepatan tak mampu mengusir bayangan itu. ​Wajah Diandra, yang biasanya penuh senyum atau kerutan konyol saat cemberut, kini memenuhi setiap inci konsentrasinya. Ada sesuatu yang salah. Diandra belum pulang.nomornya pun tidak aktif. semuanya menjeritkan bahaya yang tak terucapkan. ​"Diandra," gumamnya, suaranya tercekat. Ervan mencoba memfokuskan pandangan ke depan, memaksa tangannya untuk mencengkeram kem

  • TERJERAT CINTA KAKAK TIRIKU    BAB 3. CEMBURU?

    ​Pagi itu, seperti biasa, kampus ramai dengan hiruk-pikuk mahasiswa. Namun, ada satu pemandangan yang selalu menarik perhatian, Ervan, si idola kampus dengan ketampanan yang memikat. Langkahnya selalu diikuti tatapan kagum dari para mahasiswi yang tak bisa menyembunyikan kekaguman mereka. ​Diandra, yang di samping Ervan, berusaha keras untuk tetap tenang. dia sudah terbiasa dengan fenomena "Ervan Effect" ini. Namun, pagi itu terasa berbeda. Semakin banyak mahasiswi yang terang-terangan memanggil nama Ervan, bahkan ada yang mencoba mendekat. ​”Ervan! Ervan! Lihat sini!” ​”Astaga, Ervan ganteng banget hari ini!” ​Wajah Diandra yang tadinya berusaha santai, kini mulai menunjukkan tanda-tanda kekesalan. Bibirnya mengerucut, matanya melirik tajam ke arah para mahasiswi yang terus-menerus memanggil nama kakaknya. Ervan yang merasakan perubahan mood Diandra, hanya tersenyum tipis sambil

  • TERJERAT CINTA KAKAK TIRIKU    BAB 2. Interaksi Diandra dan Ervan

    Saat Ranti, sudah keluar dari kamar diandra, terdengar ketukan pintu di luar sana. diandra yang sedang malas untuk bangkit, dia hanya mempersilahkannya untuk masuk. ”Masuk” Ceklek... Diandra yang masih betah, rebahan dan memandang langit kamarnya, nampak tidak perduli, dengan seseorang yang kini langkahnya semakin dekat. EHM... Diandra terperanjat, saat mendengar deheman yang begitu asing di telinganya. ”ka—ka Ervan?” Diandra langsung bangkit dari tidurnya,dan merubah posisinya menjadi duduk. ”Maaf, Di, aku ganggu malam-malam. ini.. aku mau pinjam buku, buat tugas besok” ”E—eh.. iya, kak. boleh” Diandra yang merasa begitu gugup, langsung beranjak dari tempat tidur,dan mengarahkan langkahnya ke meja belajar. ”Ini kak, pilih aja. butuh buku apa?” Ervan mendekat ke arah Diandra, namun entah kenapa rasanya jantung diandra berdebar kencang. ekspresi wajahnya pun terlihat begitu salah tingkah. langkah ervan yang semakin maju, membuat diandra memundurkan langkahnya,

  • TERJERAT CINTA KAKAK TIRIKU    BAB 1. Kepasrahan Diandra

    'PLAKK...' Sebuah tamparan keras, mendarat di pipi mulus diandra. ”Papa tampar aku?” Diandra memegangi pipinya, bekas tamparan Terlihat jelas, karena pipinya yang putih. hati diandra sesak, karena sikap dari papanya. ”Iya! karena kamu, sangat sulit untuk di atur!” bentak Wily. ”Lihat jam berapa ini haa? pantaskah seorang gadis pulang larut?” ”Pah.. udah ya,cukup” Ranti menengahi. ”Tidak Mah! sekali-kali anak ini, harus di kasih pelajaran.” diandra terduduk lesu di Sebuah sofa. merasakan sakitnya di perlakukan kasar oleh ayah kandungnya sendiri. ”Lihat kakak kamu Ervan! dia laki-laki, tapi tidak senakal kamu,Diandra!” Wily semakin meninggikan suaranya. ”Kamu sama saja, seperti ibumu!” ”Jangan bawa-bawa ibuku!” Diandra yang tidak mau kalah,dia bangkit dari duduknya, segera menghadap wily sang papa. ”Nah, sudah berani kan kamu menentang papamu sendiri.” ”Aku begini,karena papa!” ”Aku bercermin,dari kelakuan papa!” teriak Diandra penuh emosional. tangan wily menge

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status