Beranda / Romansa / TERJERAT GODAAN OM ADRIAN / Terlambat Untuk Mundur

Share

Terlambat Untuk Mundur

Penulis: SweetWater
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-11 18:00:00

Malam itu Safira memang belum tidur. Laptopnya baru saja ia tutup setelah menyelesaikan laporan yang harus di kirim pagi hari. Kepalanya terasa penuh, dadanya sesak oleh banyak pikiran. Ia hanya ingin keluar kamar sebentar, menghirup udara atau sekedar menenangkan diri.

Lorong rumah begitu sunyi. Pertanda semua penghuni rumah sudah terlelap.

Namun, langkah Safira tiba-tiba terhenti ketika mendengar bunyi benda jatuh dari arah ruang kerja Adrian. Safira lihat pi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Bayangan Yang Membuat Adrian Bergairah

    Malam itu, kamar Adrian terasa begitu sunyi. Lampu menyala temaram, hanya cahaya kuning lembut dari lampu tidur yang memantul di dinding kamar. Adrian berbaring di ranjang besar itu, memejamkan mata, tapi ia tak kunjung terlelap juga. Tiba-tiba ia terbayang wajah Safira. Senyumnya, sorot matanya, bibirnya yang terasa lembut dan kenyal, juga pada bagian tubuh gadis itu yang selalu berhasil membuat Adrian tergoda. Ia teringat jelas bagaimana pinggang itu terasa di bawah telapak tangannya. Lembut, hangat, dan terlalu pas untuk di genggam. Ingatan itu berlanjut tanpa bisa ia hentikan. Kilasan saat jemarinya sempat menyentuh lekuk tubuh Safira membuat napasnya berubah berat. Seketika tangannya mengepal di atas seprai. Tubuhnya bereaksi hanya karena bayangan itu. Ia terangsang. Hanya karena Safira. Adrian menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi justru aroma samar gadis itu seolah masih tertinggal di

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Peringatan Yang Lembut

    Rafael baru saja ingin mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Tangannya sudah meraih piring yang tersedia di atas meja ketika matanya tanpa sengaja melirik ke arah Safira.Meja di depan gadis itu masih kosong. Tidak ada piring. Bahkan sendoknya pun belum tersentuh. Hanya ada gelas berisi air putih yang hampir habis.Rafael mengernyit samar. Sepertinya Safira juga belum makan. Rafael lalu kembali menatap Safira. “Kamu belum makan?”Safira sedikit terkejut mendengar suaranya. “Belum,” jawab Safira pelan.Tanpa mengatakan apa-apa, Rafael langsung meletakkan piring kosong yang tadi ia ambil tepat di depan Safira. “Makanlah,” katanya santai.Safira berkedip bingung. “Aku bisa mengambil sendiri—”“Aku tahu,” potong Rafael. “Tapi aku sedang ingin menjadi pria baik pagi ini. Sebelum nanti kamu menganggapku menyebalkan lagi.”Nada bercandanya membuat Safira menahan senyum. Ada rasa hangat yang muncul t

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Hanya Tinggal Selangkah

    Adrian kembali mencium Safira. Kali ini tidak tergesa. Tidak agresif. Namun, lebih dalam.Bibirnya menyentuh bibir Safira perlahan, seolah memberi kesempatan gadis itu untuk menarik diri jika memang ingin. Namun, Safira justru diam dan tidak bergerak menjauh.Napas mereka bertemu.Hangat.Pelan-pelan Adrian memperdalam ciuman itu. Jemarinya di tengkuk Safira menahan dengan lembut, ibu jarinya sesekali mengusap kulit di sana, menciptakan sensasi halus yang membuat tubuh Safira merinding.Safira sempat menahan napas. Namun, ketika bibir Adrian bergerak lebih lembut dan sabar, sesuatu di dalam dirinya runtuh. Tangannya mencengkeram bahu pria itu.Ia membalas. Masih ragu, tetapi nyata.Adrian jelas merasakannya.Ciuman itu berubah menjadi lebih intim. Tidak sekadar sentuhan bibir, tetapi juga permainan ritme yang lambat, hangat, dan menenangkan sekaligus memabukkan. Safira bisa merasakan kelembapan d

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Jangan Memintaku Untuk Berhenti

    Selepas kepergian Rafael, rumah tiba-tiba terasa sangat sepi. Safira sempat berniat langsung masuk ke kamar, tetapi langkahnya terhenti. Entah kenapa, ia justru ingin duduk sejenak menikmati udara malam di taman belakang.Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Masih cukup aman. Biasanya jika Adrian lembur, pria itu pasti pulang larut malam.Akhirnya Safira melangkah menuju taman belakang. Lampu-lampu taman menyala temaram, menerangi pepohonan dan kolam kecil di sudut halaman. Udara malam terasa hangat, sesekali angin membawa aroma bunga dari kebun kecil di sekitar.Safira duduk di bangku taman, memeluk lutut sambil melamun menatap permukaan kolam yang tenang. Ia sendiri tidak sadar sudah berapa lama berada di sana, sampai suara langkah kaki terdengar dari belakang.Safira menoleh cepat, lalu membeku.Adrian berdiri di sana dengan pakaian santai. Kaos putih lengan panjangnya tergulung hingga siku, beberapa k

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Merasa Nyaman Dengan Rafael

    Safira baru saja selesai menata makan malam di atas meja ketika Rafael masuk ke ruang makan. Alih-alih ikut duduk, ia justru berbalik seolah ingin pergi. Namun, langkahnya terhenti saat Rafael menahan dengan suara santai. “Kamu tidak ingin makan malam?” Tanya Rafael, menatapnya penuh selidik. Safira tampak salah tingkah. “A-aku makan nanti saja.” “Kenapa harus nanti?” Rafael langsung menarik kursi lalu duduk. “Makan saja sekarang bersamaku. Lagipula kamu sudah menyiapkan semua ini.” “Tapi—” “Tidak ada tapi. Duduklah,” potong Rafael tegas. Safira masih berdiri, ragu. Tangannya saling meremas ujung baju, jelas sedang berpikir mencari alasan lain. Rafael mengembuskan napas pelan, lalu menatapnya lebih serius. “Safira, aku menyuruhmu duduk.” Tatapannya tetap mengunci gadis itu yang belum juga bergerak. Lalu sudut bibirnya terangkat nakal. “Atau

  • TERJERAT GODAAN OM ADRIAN   Tak Ada Tempat Untuk Sembunyi

    Suara langkah kaki terdengar pelan di lorong kantor divisi keuangan yang mulai sepi. Jam di dinding menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh sore waktu pulang. Safira berdiri sambil menenteng map laporan yang baru saja ia revisi. Ia menarik napas lega, berusaha melepaskan ketegangan yang sejak beberapa hari terakhir terasa menumpuk di pundaknya.Hari-hari ini melelahkan. Bukan hanya karena pekerjaan yang tak ada habisnya, tetapi juga karena pikirannya sendiri yang terus di penuhi hal-hal yang sulit ia abaikan, terutama tentang Adrian.Safira mengembuskan napas perlahan.Namun, belum sempat ia benar-benar menenangkan diri, suara langkah tiba-tiba terdengar dari arah belakangnya.“Aku pikir, kamu sudah pulang sejak tadi.” Safira menoleh, menatap Rafael yang baru saja kembali untuk mengambil jas yang masih tertinggal di ruangannya. Suara pria itu terdengar datar, tapi dengan senyum miring yang khas.Safira me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status