Home / Romansa / Terjerat Pernikahan Pengganti / INTEROGASI 3600 DETIK

Share

INTEROGASI 3600 DETIK

Author: Luz Picillya
last update publish date: 2026-07-12 10:52:05

Klik. Gagang pintu memutar pelan.

Alsava yang jongkok di lantai kamar mandi langsung nahan napas. Air dari shower masih menetes dari ujung rambutnya. Dia hanya sempat melilitkan handuk sekenanya di badan. Tak ada lagi kesempatan untuk memakai baju, apalagi mengeringkan rambut.

Pintu kebuka. Cahaya dari kamar nyembur masuk, nusuk mata Alsava yang udah sembab.

Bayangan tinggi Ken jatuh ke lantai kamar mandi. Membuat Alsava meneguk salivanya sembari melirik tubuhnya yang hanya mengenakan handuk sekedarnya.

Ken menatap Alsava yang memilih jongkok gemeteran. Handuknya hanya cukup menutupi bagian dada sampai bagian paha. Sedangkan kulit tubuh lainnya terekspose begitu saja tanpa penutup apapun. Ken diam, Matanya tidak dibiarkannya jelalatan. Bukan! Matanya ngiris, seperti dokter bedah mau motong.

Dia jongkok, sejajar, jarak 20 cm. Napas mereka jadi satu.

“Satu jam.” Ken melirik jam tangannya. “Kau bilang kau jago muterin krisis, kan?”

Alsava mengangguk pelan. Tenggorokannya kering.

“Bagus! Kita main game.” Ken menyender ke dinding, santai. Padahal Alsava sudah mau pingsan. “Namanya Interogasi 3600 Detik. Aku akan memberimu 3 pertanyaan. Jawab jujur, kalau kau berani bohong...” mata Ken melirik handuk Alsava yang mulai melorot. “Aku yang akan menentukan hukumannya!”

Alsava mengepal tangan dari balik handuk, berusaha tetap tenang meskipun situasi saat ini sama sekali tak menguntungkannya. Terjebak di kamar mandi, hanya mengenakan handuk dan harus menyelesaikan entah apa itu.

“3600 detik, 60 menit. Tahan, Al. Tahan,” batinnya menguatkan diri.

Ken mencolek dagu Alsava dengan telunjuknya. Memaksa gadis itu untuk menatap matanya. “Kenapa kamu memilih setuju menggantikan Lusiana? Jangan jawab ‘karena hutang’. Aku sudah tahu. Kasih alasan lain yang membuatku bisa percaya!”

Alsava menelan ludah. Air dari rambutnya menetes ke tulang selangka. Dingin. “Karena...” suaranya serak. “Karena saya capek jadi pecundang, Tuan. Saya bangkrut. Karyawan saya nggak digaji 3 bulan. Kalau saya mati sekarang, saya mati sebagai pengecut. Kalau saya ikut Nona Lusiana, minimal saya mati sambil nyoba bangkit lagi.”

Ken diem, 5 detik…10 detik. Dia menatap Alsava tanpa berkedip.

“Jawaban bagus.” Dia mengusap air di tulang selangka Alsava dengan jempolnya. Gerakannya pelan, tapi berhasil membuat Alsava merinding. “1-0 untukmu!”

Ken mundur sedikit. Tangannya menyilang ke dada, otot lengannya terlihat jelas. “Pertanyaan kedua. Sekarang kau sudah menjadi ‘istriku’, apa tujuanmu tinggal di rumah ini? Uang? Status? Atau... ada misi lain dari Lusiana?”

Mata Alsava melebar. Ini jebakan! Kalau dia bilang “uang” Ken akan menganggap dia matre. Kalau dia bilang “nggak ada” sama artinya dengan sedang memperlihatkan jika dirinya berbohong.

Alsava mengangkat wajahnya. Air mata menetes bercampur air shower. “Tujuan saya... selamat, Tuan. Saya tidak sepenuhnya berharap uang Tuan. Saya juga tidak menginginkan status Nyonya Baskara. Saya hanya ingin hidup lebih baik, napas dan jalan keluar dari rumah ini dengan kepala utuh,” jawab Alsava sambil tertawa kecil, pahit. “Kalau Tuan mikir saya mata-mata Lusiana... silahkan ikat saya lagi. Lebih baik diikat semalaman daripada dituduh.”

Ken mengerutkan jidatnya sambil berjalan mendekati Alsava lagi. Hidungnya hampir menyentuh dahi Alsava, mengendus. Mirip serigala mengendus mangsa yang ketakutan.

“Wangi,” bisiknya. “Wangi takut, bukan wangi bohong.”

Ken menarik bibirnya sinis. “2-0. Kau pinter, maid kecil.”

Ini yang paling bahaya. Ken mengambil handuk kecil dari gantungan, bukan untuk menutup tubuh Alsava, tapi sengaja dibuatnya untuk mengusap rambut Alsava yang basah. Pelan, lembut. Kontras dengan sikap Ken ketika menyiksa Alsava kemarin.

“ Pertanyaan terakhir!” suara Ken pelan, namun terdengar cukup bahaya.

“Aku dengar kamu pandai membaca orang. Aku sempat membaca data pribadimu yang berhasil dikumpulkan Lusiana. Sekarang coba lakukan itu padaku!” Jari Ken berhenti di belakang telinga Alsava. “Apa batas untukku Alsava? Sampai mana aku berhenti memberikan hukuman untukmu,”

Dunia Alsava mendadak senyap. Ini bukan pertanyaan, ini tes!

Kalau Alsava menjawab “Tuan tidak memiliki batas” artinya dia sedang menantang Ken. Alsava sedang mencari mati.

Tapi jika dia memberikan jawaban “Tuan punya batas” maka artinya Alsava sedang meremehkan kekuasaan Ken. Alsava sedang menggali kuburannya sendiri.

“Sial! Sama sama mati juga!” umpatnya dalam hati

Alsava menutup mata, menarik napas pelan, menenggelamkan ketakutannya. Begitu dia membuka mata, dia berani menatap Ken tanpa keraguan, hanya sisa lelah dan kedinginan.

“Batas Tuan...” bisiknya terjeda. “Batas Tuan ada di harga diri Tuan. Tuan bisa menghancurkan tubuh saya, menghancurkan nama saya. Tapi Tuan tidak akan mau menghancurkan harga diri Tuan sendiri dengan menyiksa istri yang nggak bersalah depan dunia. Karena Kenneth Baskara nggak mau dibilang pengecut yang memukuli perempuan!”

Hening.

Hanya ada suara tetesan air sampai ke detik 3599.

Ken melempar handuk yang dibuatnya mengelap rambut Alsava ke lantai. Ken bergeming, mengangkat tubuhnya berdiri. Terlihat tinggi, berkuasa.

Di luar dugaan, Ken mengulurkan tangannya pelan, bukan untuk mencekik, tapi untuk membantu Alsava berdiri.

“Kau lulus,” suara Ken datar. Nggak ada emosi. “3-0. Kau menang game ini.”

Alsava meraih uluran tangan Ken dan memegangnya kuat. Tubuhnya yang kedinginan bertumpu di tangan Ken. Kakinya terasa lemas, hampir jatuh. Ken sigap langsung menangkap pinggangnya. Namun langsung melepaskannya lagi begitu saja seolah Alsava benda panas yang menyengat telapak tangannya.

Ponsel Ken berdering, Asisten Lee memberitahunya bahwa berkas laporan keuangan yang dimintanya sudah dikirim ke ruang kerja pribadinya.

“Cepatlah ganti pakaian, aku menunggumu di meja makan, lima menit lagi!”

Ken langsung pergi tanpa menoleh lagi. Pintu ketutup, Klik.

Alsava langsung ambruk ke lantai. Tubuhnya lemas antara lega dan takut bercampur jadi satu.

“3600 detik, gue selamat. Tapi perang yang sebenarnya, baru akan dimulai!”

**

Ken menyendok daging paling tebal ke piring Alsava. Duk! Suaranya sengaja dibuat keras.

"Makan, sampai habis! "

Ken bersandar di kursi, melipat tangan sinis. "Badan segede tulang gitu terlihat kurang cocok menjadi Nyonya Kenneth. Nanti orang mengiranya aku tidak memberi makan istri dengan baik."

"Lagi pula kau butuh tenaga, Alsava. Tenaga yang kuat untuk menerima hukuman dariku nanti malam. " Ken tersenyum smirk, senyuman iblis.

Nasi yang baru saja setengah masuk udah nyangkut di kerongkongan. Bukan karena kering, tapi karena kata "hukuman" yang keluar dari mulut Ken barusan.

Alsava buru-buru menyeruput air.

Gluk gluk gluk. Habis! Tangannya terlalu gemetaran sampai gelas yang diletakkan kembali ke meja dengan pelan berbunyi kletik. Alsava menunduk, tak berani membalas tatapan Ken.

Ponsel Ken bergetar, Alsava melirik sekilas. Ken mengabaikannya seolah panggilan itu tak begitu penting untuknya.

Tak lama, bodyguard datang membawa tumpukan berkas yang diambilnya dari ruang kerja Tuan Ken, diletakkannya dengan hati-hati di meja sebelah Ken duduk.

Ken membukanya sekilas, menatap grafik merah yang terlihat terjun bebas tanpa kendali. “Bodoh!” umpatnya kesal. Ken bahkan malas membuka laptopnya

Brak!

Ken membanting pulpen.

Alsava yang lagi mengunyah daging dengan pelan langsung terhenti, menatap Ken heran.

Ken berdiri, merapikan pakaiannya. “Selesaikan makanmu! Aku akan kembali ke ruang kerja untuk memberesi hal sampah ini!” Dia berhenti di depan Alsava. Mengangkat dagu Alsava pake telunjuk. “Dan jangan bermimpi untuk kabur, setiap tapak kakimu aku mendengarnya. Kabur sekali... kaki itu akan kubuat tak bisa dipakai lagi.”

Alsava menahan napas. Begitu Ken melepasnya, dia langsung nunduk. “Mengerti, Tuan.” Suaranya pelan, sinis. “Tapi…..”

Jantung Alsava masih ‘duk duk’ abis diancam Ken. Kaki patah? Dia gak mau mati konyol.

Alsava melirik tumpukan berkas yang dibiarkan terbuka. Grafik merah itu, grafik yang dulu tiap pagi dia meetingkan dengan para karyawannya.

“Kabur sama dengan kaki patah. Diikat lagi sama dengan mati pelan. Kalo gue diem artinya gue akan mati disiksa. Sepertinya gue harus muter otak, mungkin ada celah,” gumamnya membatin. Tangannya gemetar di bawah meja. Dia bukan sedang berani, tapi nekat!

Ken mengetok meja pelan. `Tok. Tok.` “Katakan! Sebelum aku kehabisan sabar... dan kubuat kau tak bisa ngomong lagi seumur hidup!” Ken kesal menunggu lanjutan ucapan Alsava yang terjeda cukup lama.

Refleks Alsava nutup mulut pake kedua tangan. Matanya mendelik lebar. 3 detik kemudian dia lepas tangannya pelan. Bibirnya bergetar yakin. “A-anu... Tuan. Boleh saya liat berkasnya 5 menit? Dulu saya sering cek laporan seperti ini. Sepertinya saya tahu apa permasalahannya.”

Ken diem, memutar map terbuka itu ke arah Alsava. “30 detik, jelaskan!”

Alsava menelan ludah. Ujung pulpen gemetar menunjuk grafik. “ Churn rate 40%. Salah target market jelas. Ini basic... tapi ngomong basic ke Ken sama dengan cari mati,” batin Alsava menilai.

Alsava berbisik pelan, ngetes air.“K-kalau Tuan ganti target ke segmen menengah atas plus kasih insentif retensi... 2 bulan ini bisa balik normal, Tuan. Tapi aku bisa salah. saya cuma... nebak!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Pernikahan Pengganti   Akhirnya Semua Selesai

    “Hari ini, mereka resmi dinyatakan sebagai tersangka dengan kasus berlapis. Setelah ini mereka tidak akan bisa lagi keluar dari jeruji besi itu.”Pagi berikutnya, kabar penangkapan Marveen Marques dan Salvator mengguncang dunia bisnis. Penyelidikan mengungkap berbagai kejahatan Tiger Dark, termasuk pencucian uang, penyelundupan, pemerasan, dan keterlibatan Marveen dalam pembunuhan Cavan Mallory.Sejumlah aset yang diperoleh secara ilegal disita. Jaringan bisnis yang selama ini menjadi kedok organisasi tersebut dibekukan, sementara para anggota yang terbukti terlibat diproses sesuai hukum.Dengan bukti yang kuat dan kesaksian para saksi, Marveen tidak lagi memiliki jalan untuk menghindari pertanggungjawaban.Sementara itu, hak kepemilikan yang diwariskan Tuan Cavan kepada Alsava mulai dipulihkan melalui proses hukum. Perusahaan keluarganya yang sempat terombang-ambing akhirnya memiliki kesempatan untuk bangkit kembali.Di kantor Kenneth, Alsava berdiri di depan jendela besar sambil mem

  • Terjerat Pernikahan Pengganti   Honeymoon dan Janji Tanpa Rahasia

    “Sekarang sudah yakin kalau aku jatuh cinta padamu?”Ken langsung melingkarkan pelukannya di pinggang Alsava. Alsava yang lagi fokus mengaduk kopi tersentak kaget, tapi dia tak bergeming menjauh.“Apa bukti cintaku masih kurang? Hm sepertinya kurang, kita belum honeymoon. Sejauh ini kemesraan kita sebagai suami istri masih kurang,” tambah Ken dengan sedikit nakal. Dia mengecup punggung Alsava membuat sesuatu berdesir di bagian perut Alsava.“Ide bagus,” saut Alsava penuh arti. “Tapi liburan kali ini ajak juga Asisten Lee.”Ken langsung membalikkan tubuh Alsava lalu mendongakkan dagu istrinya dengan jari telunjuk. “Kita mau honeymoon sayang, bagaimana bisa kamu memintaku mengajak Asisten Lee!” protes Ken.“Kita mengajaknya liburan Tuan Ken. Apa kamu nggak kasihan melihat dia sudah macam zombie yang kerja terus bagai kuda! Bisa-bisa dia mati dalam keadaan kerja,” balas Alsava yang makin membuat Ken keberatan.“Dia tidak akan mengganggu kita sayang,” bujuk Alsava setelah beberapa detik.

  • Terjerat Pernikahan Pengganti   Runtuhnya Tiger Dark

    “Asisten Lee, pastikan semua bukti diamankan. Jangan sampai ada satu dokumen pun yang hilang!” perintah Davin. “Siap, Tuan Davin. Kali ini saya pastikan tidak ada yang lolos, kecuali kalau Tuan Ken menyuruh saya lembur lagi.” Lee melirik Alsava. “Nona, tolong ingatkan suami Anda bahwa saya juga manusia.” “Baiklah. Nanti aku minta Ken memberimu liburan sebulan.” Mata Asisten Lee langsung berbinar. “Saya suka sekali bekerja sama dengan Nona!” “Sudah, jangan banyak bicara!” tegur Davin. “Kita harus segera membawa mereka ke kantor polisi.” Marveen mendengus ketika dua orang mantan anak buahnya menariknya berdiri. “Kalian pikir penangkapan ini akan menghancurkan Tiger Dark? Klan gelap itu tidak akan runtuh hanya karena aku ditangkap!” “Kalau begitu, Anda bisa menjelaskan semuanya di depan penyidik,” sahut Alsava dingin. “Termasuk keterlibatan Anda dalam kematian ayahku.” Marveen terdiam. Alsava melangkah mendekat. “Bertahun-tahun aku tidak tahu siapa yang merenggut ayahku.

  • Terjerat Pernikahan Pengganti   Akhir Pelarian Marveen

    Setengah Jam sebelumnya.“Oh rupanya aku kedatangan tamu kehormatan. Putri mendiang Cavan Mallory." Marveen tertawa pendek, lalu meraih gelas anggurnya. "Kamu sangat mirip ibumu.”Alsava memutar bola mata malas. “Move On Om topeng emas. Ibuku cintanya sama Ayah bukan dengan Anda!” ejek Alsava malas. “Aku sudah lama menunggu moment berhadapan langsung dengan Anda seperti ini.”Marveen tersenyum, meneguk gelas anggurnya sedikit. Tatapan Marveen beralih ke Davin dan terakhir ke Adrian. Tatapannya menyipit seolah mengenali siapa yang ada dihadapannya saat ini.“Davin, hahaha sudah bosan bersembunyi rupanya kau. Apa kau tidak menceritakan kisah Aku dan Aileen yang sebenarnya?”Davin hanya diam. Enggan membalas.“Adrian. Orang yang Cavan percaya untuk menyimpan rahasia terakhirnya. Kupikir kau sudah mati di tempat persembunyian.”"Sudah waktunya aku datang Mr X. Aku selalu menjaga semua yang kau cari selama bertahun-tahun," sahut Adrian tenang.Marveen menaruh gelasnya. Tangan kanannya perl

  • Terjerat Pernikahan Pengganti   Penyamaran Asisten Lee Selesai

    "Salvator?" Davin mengumpat pelan. "Berapa lama?""Tiga menit. Mungkin kurang."Davin memukul bagian tengkuk Marveen, melumpuhkan si Mr X agar bisa mereka bawa pergi. Davin menyeret Marveen memaksanya berdiri lalu mengikat tangannya dengan kabel pengikat dari saku. "Jalur tangga darurat sudah tidak aman. Kita pakai jalur belakang.""Ada jalur belakang?" tanya Adrian."Sekarang ada." Davin menunjuk jendela besar di sisi ruangan. Di bawahnya, atap gudang barat terhampar, dan di sana, di balik bayangan, sebuah tangga besi tua menempel di dinding.Alsava sudah lebih dulu membuka jendela. Angin malam masuk membawa bau asin laut dan asap. "Om Adrian, ikut aku. Om Davin, bawa dia.""Kamu yakin?" Adrian memandang ketinggian itu dengan wajah pucat."Om mau menghadapi sepuluh orang Salvator, atau turun lewat tangga?"Adrian menelan ludah dan melangkah ke jendela.Baru saja kaki Alsava menyentuh ambang jendela, pintu ruangan terbanting terbuka. Seorang pria bertubuh besar berdiri di sana dengan

  • Terjerat Pernikahan Pengganti   Topeng Emas Segera Runtuh

    Di lantai atas markas, Marveen duduk sendirian di ruang pribadinya. Sebatang cerutu menyala di tangannya, dan segelas anggur tergeletak setengah penuh di atas meja."Dorry bisa diandalkan," gumamnya. "Ken juga ternyata lebih berguna dari dugaanku."Ia tertawa kecil. Di luar pintu, koridor yang biasanya dipenuhi penjaga terasa terlalu sunyi, tetapi Marveen tidak menyadarinya. Pikirannya sibuk menghitung keuntungan dari pengiriman malam ini.Gagang pintu bergerak pelan."Dorry?" Marveen tidak menoleh. "Sudah kubilang, jangan ganggu aku sampai...""Bukan Dorry."Suara itu perempuan, tenang dan dingin.Marveen membeku. Cerutunya berhenti di udara. Perlahan ia memutar kursi. Alsava berdiri di ambang pintu. Di belakangnya, Davin menutup jalan keluar dan Adrian melangkah masuk sambil membawa map di tangan."Selamat malam, Tuan Marveen," sapa Alsava santai. "Masih ingat siapa aku bukan?"Cerutu itu jatuh ke atas karpet. Marveen kaget, tapi dia segera kembali tenang. Kali ini, wajahnya tidak b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status