MasukKlik. Gagang pintu memutar pelan.
Alsava yang jongkok di lantai kamar mandi langsung nahan napas. Air dari shower masih menetes dari ujung rambutnya. Dia hanya sempat melilitkan handuk sekenanya di badan. Tak ada lagi kesempatan untuk memakai baju, apalagi mengeringkan rambut. Pintu kebuka. Cahaya dari kamar nyembur masuk, nusuk mata Alsava yang udah sembab. Bayangan tinggi Ken jatuh ke lantai kamar mandi. Membuat Alsava meneguk salivanya sembari melirik tubuhnya yang hanya mengenakan handuk sekedarnya. Ken menatap Alsava yang memilih jongkok gemeteran. Handuknya hanya cukup menutupi bagian dada sampai bagian paha. Sedangkan kulit tubuh lainnya terekspose begitu saja tanpa penutup apapun. Ken diam, Matanya tidak dibiarkannya jelalatan. Bukan! Matanya ngiris, seperti dokter bedah mau motong. Dia jongkok, sejajar, jarak 20 cm. Napas mereka jadi satu. “Satu jam.” Ken melirik jam tangannya. “Kau bilang kau jago muterin krisis, kan?” Alsava mengangguk pelan. Tenggorokannya kering. “Bagus! Kita main game.” Ken menyender ke dinding, santai. Padahal Alsava sudah mau pingsan. “Namanya Interogasi 3600 Detik. Aku akan memberimu 3 pertanyaan. Jawab jujur, kalau kau berani bohong...” mata Ken melirik handuk Alsava yang mulai melorot. “Aku yang akan menentukan hukumannya!” Alsava mengepal tangan dari balik handuk, berusaha tetap tenang meskipun situasi saat ini sama sekali tak menguntungkannya. Terjebak di kamar mandi, hanya mengenakan handuk dan harus menyelesaikan entah apa itu. “3600 detik, 60 menit. Tahan, Al. Tahan,” batinnya menguatkan diri. Ken mencolek dagu Alsava dengan telunjuknya. Memaksa gadis itu untuk menatap matanya. “Kenapa kamu memilih setuju menggantikan Lusiana? Jangan jawab ‘karena hutang’. Aku sudah tahu. Kasih alasan lain yang membuatku bisa percaya!” Alsava menelan ludah. Air dari rambutnya menetes ke tulang selangka. Dingin. “Karena...” suaranya serak. “Karena saya capek jadi pecundang, Tuan. Saya bangkrut. Karyawan saya nggak digaji 3 bulan. Kalau saya mati sekarang, saya mati sebagai pengecut. Kalau saya ikut Nona Lusiana, minimal saya mati sambil nyoba bangkit lagi.” Ken diem, 5 detik…10 detik. Dia menatap Alsava tanpa berkedip. “Jawaban bagus.” Dia mengusap air di tulang selangka Alsava dengan jempolnya. Gerakannya pelan, tapi berhasil membuat Alsava merinding. “1-0 untukmu!” Ken mundur sedikit. Tangannya menyilang ke dada, otot lengannya terlihat jelas. “Pertanyaan kedua. Sekarang kau sudah menjadi ‘istriku’, apa tujuanmu tinggal di rumah ini? Uang? Status? Atau... ada misi lain dari Lusiana?” Mata Alsava melebar. Ini jebakan! Kalau dia bilang “uang” Ken akan menganggap dia matre. Kalau dia bilang “nggak ada” sama artinya dengan sedang memperlihatkan jika dirinya berbohong. Alsava mengangkat wajahnya. Air mata menetes bercampur air shower. “Tujuan saya... selamat, Tuan. Saya tidak sepenuhnya berharap uang Tuan. Saya juga tidak menginginkan status Nyonya Baskara. Saya hanya ingin hidup lebih baik, napas dan jalan keluar dari rumah ini dengan kepala utuh,” jawab Alsava sambil tertawa kecil, pahit. “Kalau Tuan mikir saya mata-mata Lusiana... silahkan ikat saya lagi. Lebih baik diikat semalaman daripada dituduh.” Ken mengerutkan jidatnya sambil berjalan mendekati Alsava lagi. Hidungnya hampir menyentuh dahi Alsava, mengendus. Mirip serigala mengendus mangsa yang ketakutan. “Wangi,” bisiknya. “Wangi takut, bukan wangi bohong.” Ken menarik bibirnya sinis. “2-0. Kau pinter, maid kecil.” Ini yang paling bahaya. Ken mengambil handuk kecil dari gantungan, bukan untuk menutup tubuh Alsava, tapi sengaja dibuatnya untuk mengusap rambut Alsava yang basah. Pelan, lembut. Kontras dengan sikap Ken ketika menyiksa Alsava kemarin. “ Pertanyaan terakhir!” suara Ken pelan, namun terdengar cukup bahaya. “Aku dengar kamu pandai membaca orang. Aku sempat membaca data pribadimu yang berhasil dikumpulkan Lusiana. Sekarang coba lakukan itu padaku!” Jari Ken berhenti di belakang telinga Alsava. “Apa batas untukku Alsava? Sampai mana aku berhenti memberikan hukuman untukmu,” Dunia Alsava mendadak senyap. Ini bukan pertanyaan, ini tes! Kalau Alsava menjawab “Tuan tidak memiliki batas” artinya dia sedang menantang Ken. Alsava sedang mencari mati. Tapi jika dia memberikan jawaban “Tuan punya batas” maka artinya Alsava sedang meremehkan kekuasaan Ken. Alsava sedang menggali kuburannya sendiri. “Sial! Sama sama mati juga!” umpatnya dalam hati Alsava menutup mata, menarik napas pelan, menenggelamkan ketakutannya. Begitu dia membuka mata, dia berani menatap Ken tanpa keraguan, hanya sisa lelah dan kedinginan. “Batas Tuan...” bisiknya terjeda. “Batas Tuan ada di harga diri Tuan. Tuan bisa menghancurkan tubuh saya, menghancurkan nama saya. Tapi Tuan tidak akan mau menghancurkan harga diri Tuan sendiri dengan menyiksa istri yang nggak bersalah depan dunia. Karena Kenneth Baskara nggak mau dibilang pengecut yang memukuli perempuan!” Hening. Hanya ada suara tetesan air sampai ke detik 3599. Ken melempar handuk yang dibuatnya mengelap rambut Alsava ke lantai. Ken bergeming, mengangkat tubuhnya berdiri. Terlihat tinggi, berkuasa. Di luar dugaan, Ken mengulurkan tangannya pelan, bukan untuk mencekik, tapi untuk membantu Alsava berdiri. “Kau lulus,” suara Ken datar. Nggak ada emosi. “3-0. Kau menang game ini.” Alsava meraih uluran tangan Ken dan memegangnya kuat. Tubuhnya yang kedinginan bertumpu di tangan Ken. Kakinya terasa lemas, hampir jatuh. Ken sigap langsung menangkap pinggangnya. Namun langsung melepaskannya lagi begitu saja seolah Alsava benda panas yang menyengat telapak tangannya. Ponsel Ken berdering, Asisten Lee memberitahunya bahwa berkas laporan keuangan yang dimintanya sudah dikirim ke ruang kerja pribadinya. “Cepatlah ganti pakaian, aku menunggumu di meja makan, lima menit lagi!” Ken langsung pergi tanpa menoleh lagi. Pintu ketutup, Klik. Alsava langsung ambruk ke lantai. Tubuhnya lemas antara lega dan takut bercampur jadi satu. “3600 detik, gue selamat. Tapi perang yang sebenarnya, baru akan dimulai!” ** Ken menyendok daging paling tebal ke piring Alsava. Duk! Suaranya sengaja dibuat keras. "Makan, sampai habis! " Ken bersandar di kursi, melipat tangan sinis. "Badan segede tulang gitu terlihat kurang cocok menjadi Nyonya Kenneth. Nanti orang mengiranya aku tidak memberi makan istri dengan baik." "Lagi pula kau butuh tenaga, Alsava. Tenaga yang kuat untuk menerima hukuman dariku nanti malam. " Ken tersenyum smirk, senyuman iblis. Nasi yang baru saja setengah masuk udah nyangkut di kerongkongan. Bukan karena kering, tapi karena kata "hukuman" yang keluar dari mulut Ken barusan. Alsava buru-buru menyeruput air. Gluk gluk gluk. Habis! Tangannya terlalu gemetaran sampai gelas yang diletakkan kembali ke meja dengan pelan berbunyi kletik. Alsava menunduk, tak berani membalas tatapan Ken. Ponsel Ken bergetar, Alsava melirik sekilas. Ken mengabaikannya seolah panggilan itu tak begitu penting untuknya. Tak lama, bodyguard datang membawa tumpukan berkas yang diambilnya dari ruang kerja Tuan Ken, diletakkannya dengan hati-hati di meja sebelah Ken duduk. Ken membukanya sekilas, menatap grafik merah yang terlihat terjun bebas tanpa kendali. “Bodoh!” umpatnya kesal. Ken bahkan malas membuka laptopnya Brak! Ken membanting pulpen. Alsava yang lagi mengunyah daging dengan pelan langsung terhenti, menatap Ken heran. Ken berdiri, merapikan pakaiannya. “Selesaikan makanmu! Aku akan kembali ke ruang kerja untuk memberesi hal sampah ini!” Dia berhenti di depan Alsava. Mengangkat dagu Alsava pake telunjuk. “Dan jangan bermimpi untuk kabur, setiap tapak kakimu aku mendengarnya. Kabur sekali... kaki itu akan kubuat tak bisa dipakai lagi.” Alsava menahan napas. Begitu Ken melepasnya, dia langsung nunduk. “Mengerti, Tuan.” Suaranya pelan, sinis. “Tapi…..” Jantung Alsava masih ‘duk duk’ abis diancam Ken. Kaki patah? Dia gak mau mati konyol. Alsava melirik tumpukan berkas yang dibiarkan terbuka. Grafik merah itu, grafik yang dulu tiap pagi dia meetingkan dengan para karyawannya. “Kabur sama dengan kaki patah. Diikat lagi sama dengan mati pelan. Kalo gue diem artinya gue akan mati disiksa. Sepertinya gue harus muter otak, mungkin ada celah,” gumamnya membatin. Tangannya gemetar di bawah meja. Dia bukan sedang berani, tapi nekat! Ken mengetok meja pelan. `Tok. Tok.` “Katakan! Sebelum aku kehabisan sabar... dan kubuat kau tak bisa ngomong lagi seumur hidup!” Ken kesal menunggu lanjutan ucapan Alsava yang terjeda cukup lama. Refleks Alsava nutup mulut pake kedua tangan. Matanya mendelik lebar. 3 detik kemudian dia lepas tangannya pelan. Bibirnya bergetar yakin. “A-anu... Tuan. Boleh saya liat berkasnya 5 menit? Dulu saya sering cek laporan seperti ini. Sepertinya saya tahu apa permasalahannya.” Ken diem, memutar map terbuka itu ke arah Alsava. “30 detik, jelaskan!” Alsava menelan ludah. Ujung pulpen gemetar menunjuk grafik. “ Churn rate 40%. Salah target market jelas. Ini basic... tapi ngomong basic ke Ken sama dengan cari mati,” batin Alsava menilai. Alsava berbisik pelan, ngetes air.“K-kalau Tuan ganti target ke segmen menengah atas plus kasih insentif retensi... 2 bulan ini bisa balik normal, Tuan. Tapi aku bisa salah. saya cuma... nebak!”“Jadi Tuan Mallory adalah salah satu pebisnis top five di eranya, lalu dimana dia sekarang suamiku?” Nyonya Felicia cukup kaget mendengar bahwa Tuan Mallory adalah salah satu orang hebat yang menjadi pelopor para pebisnis lain di eranya. Apalagi nama Cavan Mallory menggunakan nama orang besar itu. Satu pertanyaan yang terus terngiang di benaknya, ‘Apakah Alsava salah satu keturunan keluarga terpandang itu?’ “Tuan Mallory wafat saat salah satu perusahaannya mulai goyah. Beliau kena serangan jantung dan tidak bisa tertolong lagi,” jawab Tuan Baskara sambil menikmati potongan buah anggur yang terlihat segar pecah di mulut. “Hhhmm… siapa yang berhasil menumbangkan perusahaan sehebat itu?” “Namanya juga persaingan istriku. Karena pada saat itu perusahaan sudah diambil alih oleh putranya, Cavan Mallory.” DEG! “Cavan Mallory? Jadi benar, Ayah Alsava adalah putra keluarga Mallory? Lalu bagaimana Alsava bisa berakhir menjadi maid? Dan data yang kudapatkan, gadis itu lahir, tumbuh dan
“Marveen adalah ketua klan mafia Tiger Dark yang masih merajai pasar gelap sampai hari ini Tuan. Semua pebisnis gelap pernah bekerjasama dengannya. Bahkan sekarang dia sedang berada di luar negri.” Asisten Lee menunjukan bukti yang dikumpulkannya selama dia mencari tahu soal Marveen. “Lalu ada masalah apa antara Marveen dan Cavan Mallory sampai Cavan setakut itu keluarganya diincar?” tanya Ken penasaran. Jelas itu menjadi pertanyaan terbesarnya setelah mendengar potongan cerita yang dijelaskan ibunya Alsava kemarin. “Pertama, Marveen dan Cavan terlibat dendam berdarah. Orang tua angkat Marveen, menghabisi nyawanya sendiri setelah dia terbukti korupsi besar di perusahaan Cavan. Jatuhnya orang tua angkatnya, membuat Marveen menaruh dendam dan bersumpah untuk menghancurkan Cavan.” “Sayangnya, Cavan malah menikah dengan Aileen, gadis yang sudah dianggapnya seperti adik kecilnya, karena mereka berasal dari tempat yang sama yaitu di dusun tempat tinggal Aileen sekarang.” “Berarti
“Apa kamu sudah siapkan apa saja yang kita butuhkan?”Lusiana keluar dari ruang tamu dengan kepala pening. Perkataan Nyonya Felicia terakhir terus terngiang. “Tante Fel sepertinya sedang merencanakan sesuatu, apa ini berkaitan dengan Alsava? Aku khawatir Tante Fel mau menyerang Alsava!” gumam Lusiana sambil mengemudikan mobilnya lambat. Dia pengen nguping lebih lama, tapi suasana hati Nyonya Felicia lagi gak bagus, takutnya malah membuat masalah baru di antara mereka.“Ken harus tau ini!” Lusiana mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Ken. Berulang kali di teleponnya, tapi tak ada respon dari laki-laki kutub itu. Lusiana sampai mengumpat sangking kesalnya.“Kemana sih Ken.. giliran dibutuhin lu nggak gercep! Gak mungkin kan jam segini lu belum bangun..!”Tak berselang lama Ken mengirim pesan. Nada ketus, menyebalkan. “Ada urusan apa menghubungiku lagi? Apa mau meminta bantuanku karena kamu terpojok!” tulis Ken membuat Lusiana melempar ponselnya ke jok kesal. Tapi langsung di pung
Apa Ken tidak bisa membuatmu yakin akan bahagia bersamanya sampai kamu nekat melakukan ini Lus?”Pagi jam 08.16, Lusiana sudah duduk di ruang tamu kediaman keluarga Baskara, menemui Nyonya Felicia. Dia menjelaskan semuanya pada Nyonya besar Baskara agar kesalahpahaman ini tidak menyeret nama Alsava.“Sejak awal, aku memang keberatan Tante. Aku sudah menjelaskan ke Papa berulang kali tapi Papa tidak mau mendengarnya. Aku juga sudah memberitahu Ken, tapi Ken juga menolak. Ken tetap mau melanjutkan perjodohan ini demi menjaga hubungan baik dua keluarga,” jelas Lusiana tanpa ragu. Memang itu yang terjadi. Meskipun harus dia tambahi beberapa kata agar lebih berbumbu.“Dengan kamu mengganti pengantin wanita?” Nyonya Felicia tak habis pikir.“Bukan hanya itu, aku ketahuan selingkuh berulang kali Tante, sampai akhirnya aku memperkenalkan kekasihku pada Ken tepat seminggu sebelum acara pernikahan di gelar.”Nyonya Felicia terperangah kaget. Dia tak menyangka Lusiana benar-benar sudah mengacauk
“Apa kamu sepemikiran denganku?” Alsava dan Ken tak langsung pulang. Mereka menginap di sebuah penginapan tak jauh dari pusat kota. Alsava sengaja tidak menginap dirumahnya, dia membutuhkan sedikit ruang untuk mengobrol dengan Ken soal hal ini. “Apa yang kamu pikirkan?” Balas Ken gantian bertanya. Ken tak ingin salah memberi jawaban. Karena rahasia yang dia pegang harus tetap aman sampai waktunya dia bisa menjelaskan kebenarannya ke Alsava. “Aku masih penasaran, perusahaan sebesar D'CAKRA GROUP gak mungkin semudah itu hancur kan? Apalagi langsung akuisisi. Dan kalau benar masalahnya hanya karena laki-laki bernama Marveen itu mengincar Ibu, kenapa harus sampai disembunyikan, bahkan identitas kami dirubah! ini terlalu aneh!” Ken makin gugup. Alsava benar-benar secerdas dan sejeli itu. Dia makin takut rahasianya tak lama lagi akan kecium olehnya. “Kamu seorang pebisnis besar Ken, tentu kamu paham dengan situasi ini kan?” “Yahh kamu benar. Kalau hanya urusan persaingan asmara,
Aileen terdiam cukup lama. Tanpa sadar, air matanya jatuh membasahi pipi. “Nduk… kenapa harus menanyakan hal ini…?” Suara Aileen bergetar. “Karena aku mau tau Buk, aku mau sebuah kebenaran!” Desak Alsava tegas. Gak bisa lagi dipatahkan. “Iya. Ayahmu Cavan Mallory. Pemilik Sah perusahaan D'CAKRA GROUP yang sudah diambil alih oleh orang-orang yang memang sejak awal ingin menghancurkan ayahmu.” DEG! Ken membeku tajam. Jantungnya berdegup kencang. “Mereka berhasil mengambilnya, Ayahmu dijatuhkan sampai semuanya hancur. Ayah stres... lalu kecelakaan kerja saat mau menyelamatkan berkas penting di kantor.” Alsava menutup mulutnya. “Jadi... Ayah bukan karena sakit?” Airmata Alsava tumpah. Ken memberi ruang untuknya menumpahkan tangis. “Ayahmu sengaja meminta Davin untuk mengelolanya, karena dia ingin hidup tenang bersama kita. Namun orang-orang licik dan serakah itu tetap mengincar Ayahmu, hingga semua diambilnya dan membuat ayahmu hancur!” “Kenapa kita seolah disembunyikan







