ログイン“Apa sebenarnya tujuanmu, Lusiana?! Mengapa kau meletakkan gadis itu ke dalam masalah kita?!”
Pintu kamar hotel dibanting keras. Ken datang menghampiri Lusiana yang ternyata masih bersembunyi di kamar hotel tempatnya seharusnya. Rahangnya mengeras, urat di lehernya terlihat jelas. Amarahnya sudah berada di ujung. Lusiana mundur sampai punggungnya mentok sofa. “Kenapa? Bukannya aku udah bilang berkali-kali kalau aku menolak menikah denganmu! Perjodohan, cih... itu kebiasaan kuno orang tua kita! Kita hidup di zaman modern, Ken. Aku bisa memilih laki-laki yang kuinginkan sendiri!” Tatapan Lusiana nanar, tak ada rasa bersalah sedikitpun. Dia hanya sedikit panik mendapati Ken yang datang tiba-tiba dan langsung menudingnya. Ken tersenyum sinis, matanya menyipit, menertawakan sesuatu yang sama sekali tak lucu. “Masalahnya bukan tentang pernikahan kita yang kamu batalkan sepihak, Lus. Tetapi masalahnya apa yang membuatmu sampai berpikir Kenneth Baskara bisa ditipu maid murahan!” Dia mencubit dagu Lusiana, memaksa Lusiana menatap matanya. “Ingat ini, nggak akan ada yang bisa mempermainkan apa yang ku anggap penting, termasuk kamu!” “Kamu sudah melibatkan gadis bodoh itu dalam permainan konyolmu, Lalu menurutmu apa yang harus kuberikan sebagai hadiah atas keberaniannya?” “Jangan sakiti dia! Aku yang akan bertanggung jawab!” Lusiana melepas cengkraman Ken. “Itu satu-satunya cara biar aku bebas dari pernikahan kuno ini!” Ken melepas dagu Lusiana sengit. Tangannya masuk saku. Tatapannya melirik ke arah kamar tempat Alsava diikat. “Terlambat.” Suaranya datar. Mati. “Dia sekarang istriku. Dia sudah menjadi urusanku, jangan ikut campur.” Pintu dibanting lagi. Lusiana langsung lemes. Di kepalanya cuma ada 1 pertanyaan, `Apa yang sudah Ken lakukan ke Alsava?` ** Ken kembali ke kamar. Lampunya mati, gelap. Hanya ada satu lampu meja yang dibiarkan menyala, cahaya temaramnya langsung menyorot ke arah tiang ranjang. Alsava meringkuk di sana. Kaos dan celana training yang dipakaikan petugas hotel sudah basah keringat. Tali di pergelangan tangannya meninggalkan bekas merah. Nafasnya pendek-pendek. Lampu 100 watt nyala. Cahaya terangnya menusuk mata Alsava. Dia mengerjap-ngerjap berusaha beradaptasi dengan terang yang tiba-tiba terbuka. Alsava masih diam belum sempat bereaksi. Ken berjalan pelan. Tiap langkahnya seakan membuat jantung Alsava loncat. Dia berhenti tepat di depan muka Alsava. Jongkok, sejajar. “Kamu sudah menjadi istriku.” Telunjuk Ken mengangkat dagu Alsava. “Secara negara, dan secara hukum. Bukannya istri punya kewajiban sama suaminya?” Senyum miringnya muncul. membuat Alsava pengen muntah saat ini juga. “Ja-jangan, Tuan.” Alsava memalingkan wajah melepaskan dagunya. Suaranya gemetar, tapi berusaha terlihat tenang. “Pernikahan kita palsu. Didasari kebohongan. Tuan nggak bisa minta... itu.” “Palsu?” Ken ketawa kecil. Dingin. “Kita ijab kabul depan penghulu. Tercatat di negara. Mau kau bilang palsu seribu kali, di mata hukum kau adalah istri sahku Alsava!” Ken mencubit pipi Alsava, mengejek. “Lalu apa yang membuatmu memiliki keberanian untuk melakukan semua ini, kalau kau tahu kau bukan Lusiana gadis kecil!” “Ampun, Tuan... saya nggak punya pilihan. Saya cuma maid. Saya nggak bisa nolak Nona Lusiana...” Ken diem, Lama. Tatapannya menelisik memperhatikan Alsava serius. Dia sedang mengukur Alsava dari atas sampe bawah. “Andai ada pilihan lain, saya nggak akan lakuin ini, Tuan.” Alsava mengangkat muka, air matanya sudah kering. Tinggal sisa nekat. “Saya janji nggak akan nuntut apa-apa dari Tuan. Lepasin saya. Atau... kasih saya kerjaan. Saya dulu seorang marketing, saya jago muterin krisis. Lebih baik gunakan otak saya Tuan, daripada menyiksa saya.” Ken menyipit, tertarik. Villain paling benci sama mangsa yang hanya bisa menangis. Dia lebih suka mangsa yang berani melakukan perlawanan. Ken sengaja menyusupkan wajahnya ke leher Alsava Napasnya panas menyapu leher jenjang gadis itu yang mulai meremang. Tangannya meraih tengkuk belakang Alsava ditariknya agar lebih mendekat, satu jempolnya merasakan nadi Alsava yang berdetak kencang seperti mau copot. “Memangnya apa yang bisa kau lakukan untukku?” Bisiknya pelan. Alsava merem. Nunggu sakit, nunggu gesper. Namun yang datang malah bibir Ken. Bibir kenyal yang seenaknya menempel di bibirnya. Kasar, Nggak minta izin. 3 detik. Kayak cap kepemilikan. Ken mundur. menyeka bibirnya pelan. Matanya masih tak berkedip menatap Alsava yang menangis tanpa suara. “Inget ini.” Jempol Ken mengusap bibir Alsava yang memerah. “Mulai sekarang, badanmu, namamu, hidupmu... milikku! Ngerti, istriku?” ** “Selamat datang, Nyonya...” Empat maid dan tiga bodyguard membungkuk rapi di depan pintu. Asisten Lee yang mengantar Alsava hanya menunduk hormat pada gadis itu dan langsung pergi. Alsava kaku. Dua hari di hotel itu bagaikan neraka untuknya. Sekarang dia disambut bak Ratu yang masuk ke kastil mewah. Punggungnya masih perih tiap kaos yang dikenakan bergesekan dengan kulitnya. Lebam di leher dia tutup dengan syal tipis yang dililitkan sekenanya. “Perkenalkan, saya Bi Imah, Nyonya. Tuan menyuruh saya membantu mengobati luka Nyonya.” Maid senior maju, senyumnya tulus. Alsava mengangguk kaku. Otaknya nge-lag. `Ini mimpi apa gue mati terus masuk surga KW?` “Ini kamar Nyonya.” Bi Imah membuka pintu double. Alsava melongo. Ranjang king size, sofa dan Lemari seukuran kamar kosnya dulu. Punggungnya terasa perih lagi pas kegesek pintu. Dia menahannya, tersenyum. “Sepertinya gue bisa main padel dikamar,” gumamnya mengomentari ukuran kamar yang sangat luas dan nyaman itu. “Sebelah situ kamar Tuan, kalau Tuan sedang menginep di sini.” Bi Imah nunjuk pintu sebelah. Alsava menghela napas lega. `Bagus. Vampire kutub punya kandang sendiri.`sahutnya dalam hati. “Jadi Tuan jarang pulang ke sini, Bi?” Alsava nyoba basa-basi. Satu-satunya topik aman. “Ini rumah singgah, Nyonya. Tuan punya beberapa rumah lain.” `Rumah persinggahan aja kayak istana. Gue bangkrut gara-gara percaya orang. Dia kaya gara-gara lahir. Hukum semesta emang nggak adil.` Bi Imah melipat selimut. “Oh iya, satu jam lagi Tuan datang.” Senyum Alsava seketika hilang. Baru Saja dia senang karena tidak ada Ken di rumah ini, tiba-tiba Villain itu akan datang dalam waktu satu jam. “Satu jam, 60 menit!” Alsava berlari ke kamar mandi, mengunci pintu dan menatap dirinya di pantulan cermin. Rambutnya acak-acakan, wajahnya sayu, matanya sembab dan lehernya lebam menghitam. Jarinya menyentuh bibirnya pelan. Masih ada rasa asing dari ciuman paksa malam itu. Tautan itu seperti masih membekas di sela bibir Alsava yang belum pernah merasakannya. Di luar, langkah kaki berat mulai kedengeran. `Duk. Duk. Duk.` Semakin dekat ke arah pintu kamarnya. Alsava langsung duduk jongkok di lantai kamar mandi. Menutup kuping, napasnya ngos-ngosan. “Ya Tuhan selamatkan aku, atau ambil aja aku sekarang juga…” rintihnya panik. Klik. Gagang pintu kamar diputar dari luar.Pagi belum sepenuhnya terang ketika Ken sudah berada di ruang kerjanya. Jas hitam rapi melekat sempurna di tubuhnya. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa pikirannya sedang bekerja keras. Ada banyak susunan rencana yang sedang dia rancang untuk langkah selanjutnya.Satu pesanDi atas meja terdapat satu ponsel dengan sebuah pesan yang baru saja masuk.MARVEEN MARQUES:Datang ke tempat biasa. Kita bicara langsung soal kerja sama.Ken membaca pesan itu sekali lag. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.“Umpanku benar-benar kau makan dengan lahap, Marveen.” Pintu kamar terbuka. Alsava muncul dengan rambut panjang yang masih sedikit berantakan. Dia berjalan mendekat sambil mengusap matanya.“Ken?” panggilnya membuat Ken mengalihkan mata dari layar ponsel. “Kamu mau pergi?”“Iya,” saut Ken datar. “Umpanku dimakan dengan baik oleh Marveen.”Seketika wajah Alsava berubah serius. Dia senang tapi juga khawatir. Jelas dia takut justru Ken yang masuk dalam perangkap. “Jangan g
Malam semakin larut. Alsava sudah tidur di sebelah Ken dengan paha Ken yang dijadikan bantalnya. Mansion Ken cukup tenang. Hanya sesekali penjaga berganti untuk memastikan mansion aman kondusif.KLING!Sebuah pesan masuk ke ponsel Ken. Ken melirik dan membacanya pelan. Senyumnya perlahan muncul. "Angin segar berhembus di setengah malam. Marveen, permainan menarik ini baru kita masuki babak final.."Alsava mendengarnya. Dia langsung duduk sambil menatap Ken. "Dia menyetujui ajakan kamu?"Ken mengangguk. "Iya. Dia menerima tawaran kerja sama kita."Alsava tersenyum, tapi kemudian mengerutkan kening. "Secepat itu?""Dia sepertinya yakin kalau aku kembali membutuhkan bisnisnya." Ken meletakkan ponsel di meja. "Padahal sebenarnya..." Dia menatap Alsava. "Akulah yang sedang menciptakan kelengahannya.""Tiga hari ini kamu hampir tidak tidur nyenyak gara-gara menunggu pesan itu," goda Alsava."Kamu memperhatikan?""Aku istrimu. Aku hafal cara kamu menghela napas kalau sedang menunggu sesuatu.
Di tempat lain. Ruang arsip bawah Tiger Dark masih sunyi. Raka duduk di depan pintu dengan pistol terselip di pinggang.Tugasnya sederhana. Menjaga arsip.Tidak boleh ada yang masuk, tidak boleh ada yang keluar. Tapi justru tugas itu membuat Raka semakin dekat dengan rahasia terbesar Tiger Dark.Raka menoleh ke kanan dan kiri, kosong.Dia berdiri lalu membuka pintu arsip menggunakan kartu akses yang diberikan Salvator.KLIK!Pintu terbuka. Raka masuk. Matanya langsung menyapu rak-rak dokumen.“Mallory Project...” gumam Raka pelan. Dia mencari dengan cepat. Beberapa menit kemudian, tangannya berhenti pada sebuah kotak besi kecil. Tidak ada tulisan, tidak ada kode. Tapi kotak itu memiliki tanda kecil berbentuk kepala macan.Raka langsung curiga. Dia membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa dokumen lama. Ada Satu foto, satu lembar laporan. Dan sebuah flashdisk.Raka mengambil laporan itu. Matanya langsung membesar.SUBJECT: CAVAN MALLORYSTATUS: TERMINATEDRaka membaca baris
“U-untuk... aku?” tanya Alsava terbata.“Tuan Cavan sudah menyiapkan semuannya Sejak instingnya mengatakan akan ada sesuatu yang terjadi padanya, Tuan ingin nemastikan kelayakan dan jaminan hidup untukmu Manis. Tuan pernah memberitahuku, hanya saja aku gagal bertemu Adrian, karena dia sudah keburu pergi dan menghilangkan jejaknya.”Semua diam, Alsava tak menyangka, bahkan Ayahnya masih memikirkannya disaat rasa takut mungkin sudah menghantuinya. Insting Ayah cukup kuat, pantas jika dia seorang pebisnis hebat dan ketua Klan Mafia besar.“Adrian adalah orang yang mengetahui semuanya,” lanjut Davin setelah beberapa saat hening.Ken akhirnya memahami sesuatu.“Jadi Adrian menghilang bukan karena diculik?”“Tidak.” Davin menggeleng.“Bukan karena otaknya dicuci?” tanya Alsava gantian.Davin hampir tertawa. “Tidak ada pencucian otak. Dia sengaja menghilang agar amanah rahasia Tuan Cavan tetap aman. Davin menatap mereka berdua serius.“Jika rahasia itu jatuh ke tangan Marveen, Alsava tidak
“Alexander Vane.”Satu nama itu membuat suasana di ruangan Davin berubah. Davin yang sejak tadi terlihat santai, kini menatap Ken dan Alsava dengan sorot mata berbeda.“Dari mana kalian mendapatkan nama itu?” tanya Davin.Ken tidak langsung menjawab. Dia justru menyandarkan tubuhnya ke sofa, kedua tangannya bertaut di depan dada.“Jadi benar,” ucap Ken pelan. “Alexander Vane memang Adrian Velasquez.”Davin menghela napas panjang. Dia tak bisa mengelak lagi. Ken dan Alsava bukan bocah yang bisa diberi alasan lain. “Ya,” saut Davin akhirnya. Alsava langsung mencondongkan tubuhnya.“Jadi Om mengenalnya?”“Aku mengenalnya. Tapi tidak terlalu dekat. Aku hampir tidak bersinggungan dengannya karena dia tidak pernah datang ke markas.”“Dan dia ada hubungannya dengan Ayah?”Davin menatap Alsava cukup lama sebelum akhirnya mengangguk. “Adrian adalah orang terakhir yang bertemu Tuan Cavan sebelum beliau meninggal.”DEG!Alsava terdiam.Ken pun langsung menatap Davin tajam.“Berarti Adrian tahu
Davin duduk tenang, membuka koper lamanya lagi. Di dalamnya bukan hanya dokumen. Ada satu flashdisk kecil yang berisi tulisan tentang *MALLORY PROJECT - BACKUP*“Pria itu.. Adrian Velasquez.” Davin menatap tulisan itu cukup lama. “Sudah 12 tahun.” gumamnya. “Akhirnya aku merasakan kehadiranmu sudah dekat. Sudah lama kau menghilangkan jejakmu, menyimpan rahasia Tuan Cavan yang sengaja dititipkan padamu sebelum kematiannya." "Marveen pasti juga sedang mencarimu lagi. Apalagi sekarang Alsava semakin terekspose dan terang-terangan ingin membongkar rahasia itu."Davin memasukkan flashdisk itu ke saku. Lalu memadamkan lampu. Suasana memang masih lengang, tapi dia yakin diluaran sana ada banyak hal yang sudah bergerak jauh. Termasuk Tiger Dark saat ini.Tiba-tiba Di luar, suara mobil mendekat.Davin tersenyum tipis di kegelapan. Dia tahu siapa yang datang menemuinya.“Datanglah… Kenneth, Alsava,” gumam Davin lirih. “Permainan sesungguhnya sedang kita jalani perlahan. Sudah waktunya kita b







