แชร์

NYONYA RUMAH PERSINGGAHAN

ผู้เขียน: Luz Picillya
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-12 10:45:22

“Apa sebenarnya tujuanmu, Lusiana?! Mengapa kau meletakkan gadis itu ke dalam masalah kita?!”

Pintu kamar hotel dibanting keras. Ken datang menghampiri Lusiana yang ternyata masih bersembunyi di kamar hotel tempatnya seharusnya. Rahangnya mengeras, urat di lehernya terlihat jelas. Amarahnya sudah berada di ujung.

Lusiana mundur sampai punggungnya mentok sofa. “Kenapa? Bukannya aku udah bilang berkali-kali kalau aku menolak menikah denganmu! Perjodohan, cih... itu kebiasaan kuno orang tua kita! Kita hidup di zaman modern, Ken. Aku bisa memilih laki-laki yang kuinginkan sendiri!”

Tatapan Lusiana nanar, tak ada rasa bersalah sedikitpun. Dia hanya sedikit panik mendapati Ken yang datang tiba-tiba dan langsung menudingnya.

Ken tersenyum sinis, matanya menyipit, menertawakan sesuatu yang sama sekali tak lucu. “Masalahnya bukan tentang pernikahan kita yang kamu batalkan sepihak, Lus. Tetapi masalahnya apa yang membuatmu sampai berpikir Kenneth Baskara bisa ditipu maid murahan!” Dia mencubit dagu Lusiana, memaksa Lusiana menatap matanya. “Ingat ini, nggak akan ada yang bisa mempermainkan apa yang ku anggap penting, termasuk kamu!”

“Kamu sudah melibatkan gadis bodoh itu dalam permainan konyolmu, Lalu menurutmu apa yang harus kuberikan sebagai hadiah atas keberaniannya?”

“Jangan sakiti dia! Aku yang akan bertanggung jawab!” Lusiana melepas cengkraman Ken. “Itu satu-satunya cara biar aku bebas dari pernikahan kuno ini!”

Ken melepas dagu Lusiana sengit. Tangannya masuk saku. Tatapannya melirik ke arah kamar tempat Alsava diikat.

“Terlambat.” Suaranya datar. Mati. “Dia sekarang istriku. Dia sudah menjadi urusanku, jangan ikut campur.”

Pintu dibanting lagi. Lusiana langsung lemes. Di kepalanya cuma ada 1 pertanyaan, `Apa yang sudah Ken lakukan ke Alsava?`

**

Ken kembali ke kamar. Lampunya mati, gelap. Hanya ada satu lampu meja yang dibiarkan menyala, cahaya temaramnya langsung menyorot ke arah tiang ranjang.

Alsava meringkuk di sana. Kaos dan celana training yang dipakaikan petugas hotel sudah basah keringat. Tali di pergelangan tangannya meninggalkan bekas merah. Nafasnya pendek-pendek.

Lampu 100 watt nyala. Cahaya terangnya menusuk mata Alsava. Dia mengerjap-ngerjap berusaha beradaptasi dengan terang yang tiba-tiba terbuka. Alsava masih diam belum sempat bereaksi.

Ken berjalan pelan. Tiap langkahnya seakan membuat jantung Alsava loncat. Dia berhenti tepat di depan muka Alsava. Jongkok, sejajar.

“Kamu sudah menjadi istriku.” Telunjuk Ken mengangkat dagu Alsava. “Secara negara, dan secara hukum. Bukannya istri punya kewajiban sama suaminya?” Senyum miringnya muncul. membuat Alsava pengen muntah saat ini juga.

“Ja-jangan, Tuan.” Alsava memalingkan wajah melepaskan dagunya. Suaranya gemetar, tapi berusaha terlihat tenang. “Pernikahan kita palsu. Didasari kebohongan. Tuan nggak bisa minta... itu.”

“Palsu?” Ken ketawa kecil. Dingin. “Kita ijab kabul depan penghulu. Tercatat di negara. Mau kau bilang palsu seribu kali, di mata hukum kau adalah istri sahku Alsava!” Ken mencubit pipi Alsava, mengejek. “Lalu apa yang membuatmu memiliki keberanian untuk melakukan semua ini, kalau kau tahu kau bukan Lusiana gadis kecil!”

“Ampun, Tuan... saya nggak punya pilihan. Saya cuma maid. Saya nggak bisa nolak Nona Lusiana...”

Ken diem, Lama. Tatapannya menelisik memperhatikan Alsava serius. Dia sedang mengukur Alsava dari atas sampe bawah.

“Andai ada pilihan lain, saya nggak akan lakuin ini, Tuan.” Alsava mengangkat muka, air matanya sudah kering. Tinggal sisa nekat. “Saya janji nggak akan nuntut apa-apa dari Tuan. Lepasin saya. Atau... kasih saya kerjaan. Saya dulu seorang marketing, saya jago muterin krisis. Lebih baik gunakan otak saya Tuan, daripada menyiksa saya.”

Ken menyipit, tertarik. Villain paling benci sama mangsa yang hanya bisa menangis. Dia lebih suka mangsa yang berani melakukan perlawanan.

Ken sengaja menyusupkan wajahnya ke leher Alsava Napasnya panas menyapu leher jenjang gadis itu yang mulai meremang. Tangannya meraih tengkuk belakang Alsava ditariknya agar lebih mendekat, satu jempolnya merasakan nadi Alsava yang berdetak kencang seperti mau copot.

“Memangnya apa yang bisa kau lakukan untukku?” Bisiknya pelan.

Alsava merem. Nunggu sakit, nunggu gesper.

Namun yang datang malah bibir Ken. Bibir kenyal yang seenaknya menempel di bibirnya. Kasar, Nggak minta izin. 3 detik. Kayak cap kepemilikan.

Ken mundur. menyeka bibirnya pelan. Matanya masih tak berkedip menatap Alsava yang menangis tanpa suara.

“Inget ini.” Jempol Ken mengusap bibir Alsava yang memerah. “Mulai sekarang, badanmu, namamu, hidupmu... milikku! Ngerti, istriku?”

**

“Selamat datang, Nyonya...”

Empat maid dan tiga bodyguard membungkuk rapi di depan pintu. Asisten Lee yang mengantar Alsava hanya menunduk hormat pada gadis itu dan langsung pergi.

Alsava kaku. Dua hari di hotel itu bagaikan neraka untuknya. Sekarang dia disambut bak Ratu yang masuk ke kastil mewah. Punggungnya masih perih tiap kaos yang dikenakan bergesekan dengan kulitnya. Lebam di leher dia tutup dengan syal tipis yang dililitkan sekenanya.

“Perkenalkan, saya Bi Imah, Nyonya. Tuan menyuruh saya membantu mengobati luka Nyonya.” Maid senior maju, senyumnya tulus.

Alsava mengangguk kaku. Otaknya nge-lag. `Ini mimpi apa gue mati terus masuk surga KW?`

“Ini kamar Nyonya.” Bi Imah membuka pintu double. Alsava melongo. Ranjang king size, sofa dan Lemari seukuran kamar kosnya dulu.

Punggungnya terasa perih lagi pas kegesek pintu. Dia menahannya, tersenyum. “Sepertinya gue bisa main padel dikamar,” gumamnya mengomentari ukuran kamar yang sangat luas dan nyaman itu.

“Sebelah situ kamar Tuan, kalau Tuan sedang menginep di sini.” Bi Imah nunjuk pintu sebelah.

Alsava menghela napas lega. `Bagus. Vampire kutub punya kandang sendiri.`sahutnya dalam hati.

“Jadi Tuan jarang pulang ke sini, Bi?” Alsava nyoba basa-basi. Satu-satunya topik aman.

“Ini rumah singgah, Nyonya. Tuan punya beberapa rumah lain.”

`Rumah persinggahan aja kayak istana. Gue bangkrut gara-gara percaya orang. Dia kaya gara-gara lahir. Hukum semesta emang nggak adil.`

Bi Imah melipat selimut. “Oh iya, satu jam lagi Tuan datang.”

Senyum Alsava seketika hilang. Baru Saja dia senang karena tidak ada Ken di rumah ini, tiba-tiba Villain itu akan datang dalam waktu satu jam.

“Satu jam, 60 menit!”

Alsava berlari ke kamar mandi, mengunci pintu dan menatap dirinya di pantulan cermin. Rambutnya acak-acakan, wajahnya sayu, matanya sembab dan lehernya lebam menghitam.

Jarinya menyentuh bibirnya pelan. Masih ada rasa asing dari ciuman paksa malam itu. Tautan itu seperti masih membekas di sela bibir Alsava yang belum pernah merasakannya.

Di luar, langkah kaki berat mulai kedengeran. `Duk. Duk. Duk.` Semakin dekat ke arah pintu kamarnya.

Alsava langsung duduk jongkok di lantai kamar mandi. Menutup kuping, napasnya ngos-ngosan.

“Ya Tuhan selamatkan aku, atau ambil aja aku sekarang juga…” rintihnya panik.

Klik. Gagang pintu kamar diputar dari luar.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terjerat Pernikahan Pengganti   Konspirasi Dapur

    Jam 8 malam. Kantor sudah sepi, Lampu lantai 38 hanya sebagian yang masih menyala. Alsava masih menunduk di meja kerja ruangan Tuan Ken. Di depannya, berbaris mengejek tumpukan data lapangan 3 bulan. Mata panda, merah dan mulai perih, kopinya sudah dingin, kepulan asapnya sudah hilang bersama detikan waktu. Dia belum berani pulang sebelum menemukan pola yang Ken inginkan.“Churn 42%, cash flow minus, target market salah. Kalo sampai gue nggak menemukan benang merahnya besok, gue yang bakalan digulung Ken di depan Pak Reza!” Batin Alsava mengeluh. Kepalang tanggung masuk ke permainan yang pelik, tak ada lagi jalan untuk mundur. Kalau mau selamat, kuncinya hanya satu! Meyakinkan Ken jika dia berkompeten dan bisa diandalkan.Pintu kebuka pelan, tanpa mengetuk pintu bi Imah masuk menenteng rantang sambil mengulas senyum.“Capcay, Nyonya.” Bi Imah nyelonong masuk begitu saja menghampiri Alsava yang masih berkutat dengan layar laptop.“Tuan meminta saya mengantarnya untuk Nyonya, kata Tuan,

  • Terjerat Pernikahan Pengganti   Nginjek Ekor Pak Reza

    “Uang keluar lebih cepat dari uang masuk. Kita bayar gaji plus sewa gedung tiap tanggal 1. Tapi pelanggan kita... bayarnya 90 hari kemudian.” Alsava menunjuk bagian yang dia tekankan. Tegas, tanpa ragu.Pak Reza mendengus. “Itu semua orang juga tau, Nona. Apa gongnya? Alsava menahan nafas, dia sedang mengontrol dirinya agar tidak terbawa emosi. Alsava lagi cari perhatian Ken, biar di validasi kalau dia gadis pintar. “Terus... customer retentionnya, Pelanggan lama kita kabur. Churn ratenya 42%. Jadi kita tiap bulan harus cari pelanggan baru buat nutupin yang kabur. Capek loh Pak. Mahal juga!”“Nah pinter!” Pak Reza nepuk meja. “Lalu cara menahan pelanggan yang kabur itu bagaimana? Di jampi-jampi, atau dikasih kembang menyan?”“Kuno banget masih percaya khasiat kembang menyan! Pantesan aja gak berkembang,” ejek Alsava seenak jidat. Ken menahan senyum, bibirnya melebar tipis.Alsava mengangkat muka sedikit. Nggak berani melihat Ken. Dia memilih melirik titik di dasi Pak Reza. “Kasih

  • Terjerat Pernikahan Pengganti   Presentasi Neraka 10 Menit

    *BAB 8: PRESENTASI NERAKA 10 MENIT* Ruangan meeting lantai 38. Dinding yang penuh dengan kaca semua. Semua karyawan berkumpul, Manager, Kepala divisi. Semua berdiri dengan jas rapi dan dasi mahal. Tuan Ken masuk ke ruangan meeting. Tak ada sapaan ‘Selamat pagi’, dia langsung ke depan, melempar remote presentasi ke meja. Tok! Bunyinya pelan, tapi mampu membuat semua orang di ruangan itu diam membeku. Mata elangnya menyapu satu ruangan. Menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang sampai ke ulu hati. Tak ada yang berani suara jika ingin selamat. “Divisi lapangan rugi 20M.” Suaranya rendah, tapi berhasil memgalahkan suara AC sentral. “Tiga bulan tanpa hasil, tapi tak ada satupun yang mencari solusi!” Hening… Bahkan kepala divisi mengelap keringat dinginnya yang udah menetes sampai ke dasi. Ken menunjuk Alsava yang berdiri kaku di samping projector. Baju blazer yang dia berikan kemarin itu makin terlihat kumal karena sejak tadi di lilin gadis itu berulang kali. Bahkan se

  • Terjerat Pernikahan Pengganti   Kulkas Sepuluh Pintu

    Jarum arloji Patek Philippe di pergelangan Ken bergerak tanpa suara. 07.03.Ia bersedekap di depan pintu. Tidak mengetuk meja, tidak membanting apapun di sekitarnya. Rahangnya hanya mengeras satu kali. Satu jam! Cukup lama untuk sekelas perusahaan Baskara Corp rugi miliaran karena CEO telat meeting.“Bi Imah.” Suaranya rendah, Tapi semua pelayan di dapur langsung membeku. “Katakan pada Nyonya. CEO tidak punya kebiasaan menunggu. Terutama untuk orang yang sudah aku beri pakaian sendiri.”Bi Imah menganggukkan kepala cepat. mukanya pucat. Beliau lari ke atas lebih kencang daripada saat dikejar anjing.Asisten Lee sudah menunggu di depan pintu mobil dari tadi. Hormat, diam. Tapi keringat dingin sudah mengalir di pelipisnya. Dia tahu jika Tuan Ken sudah diam seperti saat ini, hidupnya lebih mengerikan daripada saat Tuan Ken berteriak marah-marah.Pintu kamar Alsava diketuk pelan. “Nyonya... Tuan sudah menunggu.”Di dalam kamar, Alsava masih perang sengit sama cepolan rambutnya. Satu jam d

  • Terjerat Pernikahan Pengganti   NEGOSIASI DENGAN VILLAIN

    “Katakan! Sebelum aku kehabisan sabar, dan kubuat kau tak bisa ngomong lagi seumur hidup!”Ken kesal menunggu lanjutan ucapan Alsava yang terjeda cukup lama.Refleks Alsava nutup mulut pake kedua tangan. Matanya mendelik lebar. 3 detik kemudian dia lepas tangannya pelan. Bibirnya bergetar yakin. “A-anu... Tuan. Boleh saya liat berkasnya 5 menit? Dulu saya sering cek laporan seperti ini. Sepertinya saya tahu apa permasalahannya.”Ken diem, memutar map terbuka itu ke arah Alsava. “30 detik, jelaskan!”Alsava menelan ludah. Ujung pulpen gemetar menunjuk grafik. “ Churn rate 40%. Salah target market jelas. Ini basic... tapi ngomong basic ke Ken sama dengan cari mati,” batin Alsava menilai.Alsava berbisik pelan, ngetes air.“S-sepertinya target market team lapangan kurang tepat Tuan, saya bisa saja salah karena ini hanya tebakan."Ken menatapnya tajam, kata pembuka yang Alsava pilih cukup membuatnya penasaran."Lanjutkan!""Apa Manager lapangan Anda tidak menganalisa masalah ini dengan bai

  • Terjerat Pernikahan Pengganti   INTEROGASI 3600 DETIK

    Klik. Gagang pintu memutar pelan.Alsava yang jongkok di lantai kamar mandi langsung nahan napas. Air dari shower masih menetes dari ujung rambutnya. Dia hanya sempat melilitkan handuk sekenanya di badan. Tak ada lagi kesempatan untuk memakai baju, apalagi mengeringkan rambut. Pintu kebuka. Cahaya dari kamar nyembur masuk, nusuk mata Alsava yang udah sembab.Bayangan tinggi Ken jatuh ke lantai kamar mandi. Membuat Alsava meneguk salivanya sembari melirik tubuhnya yang hanya mengenakan handuk sekedarnya.Ken menatap Alsava yang memilih jongkok gemeteran. Handuknya hanya cukup menutupi bagian dada sampai bagian paha. Sedangkan kulit tubuh lainnya terekspose begitu saja tanpa penutup apapun. Ken diam, Matanya tidak dibiarkannya jelalatan. Bukan! Matanya ngiris, seperti dokter bedah mau motong.Dia jongkok, sejajar, jarak 20 cm. Napas mereka jadi satu.“Satu jam.” Ken melirik jam tangannya. “Kau bilang kau jago muterin krisis, kan?”Alsava mengangguk pelan. Tenggorokannya kering. “Bagus

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status