Home / Romansa / Terjerat Pernikahan Pengganti / NEGOSIASI DENGAN VILLAIN

Share

NEGOSIASI DENGAN VILLAIN

Author: Luz Picillya
last update publish date: 2026-07-12 12:50:40

“Katakan! Sebelum aku kehabisan sabar, dan kubuat kau tak bisa ngomong lagi seumur hidup!”

Ken kesal menunggu lanjutan ucapan Alsava yang terjeda cukup lama.

Refleks Alsava nutup mulut pake kedua tangan. Matanya mendelik lebar. 3 detik kemudian dia lepas tangannya pelan. Bibirnya bergetar yakin. “A-anu... Tuan. Boleh saya liat berkasnya 5 menit? Dulu saya sering cek laporan seperti ini. Sepertinya saya tahu apa permasalahannya.”

Ken diem, memutar map terbuka itu ke arah Alsava. “30 detik, jelaskan!”

Alsava menelan ludah. Ujung pulpen gemetar menunjuk grafik. “ Churn rate 40%. Salah target market jelas. Ini basic... tapi ngomong basic ke Ken sama dengan cari mati,” batin Alsava menilai.

Alsava berbisik pelan, ngetes air.“S-sepertinya target market team lapangan kurang tepat Tuan, saya bisa saja salah karena ini hanya tebakan."

Ken menatapnya tajam, kata pembuka yang Alsava pilih cukup membuatnya penasaran.

"Lanjutkan!"

"Apa Manager lapangan Anda tidak menganalisa masalah ini dengan baik? Ini permasalahan kecil Tuan, seharusnya tidak menumpuk sampai membuat produk perusahaan mangkrak,” ujar Alsava penuh percaya diri. Penjelasan yang dia lontarkan seperti seseorang yang memang paham dibidangnya.

Ken mengerut heran, antara ragu dan bingung menanggapi ocehan gadis kecil yang sudah berhasil menipunya

“Jelaskan apa yang kau ketahui maid kecil? Dan jangan berpikir kau bisa menipuku dengan trik kecil ini,” desak Ken penasaran. Dia tak mau terlihat mengharap tapi juga tetap menunjukan otoriter dan intimidasinya.

Alsava membaca beberapa laporan sekilas, lalu menyodorkan berkas itu tepat di hadapan Ken.

“Pertama, masalah yang terjadi karena ada saingan produk serupa dari perusahaan lain di pasaran. Ini tercatat di dua minggu pertama ketika perhitungan penjualan mulai menurun.”Alsava mengetuk kertas tepat di garis merah.

"Penjualan Tuan mulai anjlok di minggu kedua."

Ken mencondongkan badan, baru sadar grafiknya separah itu.

“Kedua," Alsava mendongak, dagu terangkat.

"Semangat dan upaya team lapangan mati duluan. mulai pesimis karena menganggap lapangan sulit ditaklukan dan banyak saingannya. Ini biasa terjadi, seharusnya manager turun tangan disini. Langsung turun ke bawah, kasih contoh nyata. Bukan cuma omong kosong di ruang AC." Lanjutnya tanpa menjeda napas.

"Kalau Tuan benar-benar mahir," Alsava menutup map, 'Plak.' "Hal sepele ini udah beres sejak bulan ketiga. Bukan malah makin memburuk setahun." Matanya santai tak berkedip.

"Tapi nyatanya? malah makin hancur. Artinya cuma ada dua kemungkinan yang tidak anda sadari, manager Tuan tidur, atau anak lapangan masih pakai jurus jadul."

Ken diam, memperhatikan Alsava dengan lekat. Matanya menatap kagum gadis kecil yang terus berbicara sampai bibirnya monyong-monyong. Tanpa sadar bibir Ken terangkat sedikit kegemesan. Baru kali ini ada yang terang-terangan mengoreksi kemampuannya.

“Apa yang sudah Anda atau bagian marketing lakukan untuk evaluasi?” Tanya Alsava setelah menerangkan panjang lebar. Ken masih diam menatapnya tanpa berkedip, satu tangannya malah menyangga dagu sambil tersenyum tipis.

“Tuan, Tuan..” Alsava memanggil Ken tapi kesadaran si Villain masih entah dimana. Masih belum terkoneksi lagi ditempat yang seharusnya.

“Lanjutkan saja penjelasanmu! Aku akan mendengarkan selagi masih kuanggap masuk akal,” balas Ken ketus, dia gengsi kalau sampai Alsava tahu dia sedang melamun memandangi bibir dan wajahnya yang tampak menarik dan menggemaskan.

“Ck, dijelasin panjang lebar masih aja galak! Padahal aku cuman mau tahu sejauh ini apa yang sudah Bos besar dan orang-orang di kantor Anda lakukan untuk menangani ini?” gerutu Alsava mengerucutkan bibir, dia tak sadar kalau hal itu semakin membuat Ken kelimpungan menahan diri.

“Aku sudah memanggil kepala divisi dan manager lapangan tentunya,” balas Ken sekilas.

“Hasilnya?” cecar Alsava seperti tengah mengevaluasi kesalahan karyawan lapangannya tiap sore. Terutama kepala team yang membiarkan anak didiknya kesulitan di lapangan.

“Mereka bilang saat ini minat konsumen sedang menurun, ada beberapa saingan yang mengeluarkan produk dengan kualitas lebih unggul sehingga kompetitor lapangan terasa makin berat. Belum lagi ada banyak komplain dari customer dan beberapa produk akhirnya di return kan kembali ke kantor,” jelas Ken sesuai yang dia dapatkan jawaban dari kepala divisi pemasaran.

“Dan Anda percaya begitu saja?” wajah Alsava tampak mengejek, kerutan jidatnya menjelaskan kalau dia sedang memprotes kinerja Ken saat ini. Ken balik membidiknya dengan tatapan dingin, egonya kesentil.

“Apa maksudmu menanyakan itu?" Ken mambanting pulpen. Tatapan dinginnya ngiris.

"Kau seakan meragukan kemampuanku."

“Emang!”

Alsava nyelonong. Dia malah nyender ke meja, lengan sedekap. Nggak ada takutnya sama sekali. "Karena faktanya emang gitu."

Dagu Ken mengeras. Baru kali ini ada orang, apalagi maid kecil, yang berani ngelempar 'fakta' ke mukanya.

“Kalau Tuan benar-benar mahir seharusnya hal sepele ini sudah bisa diselesaikan sejak bulan ketiga. Bukan sampai setahunan malah makin memburuk!” Tambah gadis itu tanpa ragu. Mata kecilnya menatap Ken penuh percaya diri. Dia lupa kalau lelaki di depannya ini bisa saja mengikatnya lagi atau mencambuknya sewaktu-waktu.

“Katakan apa yang bisa kau lakukan dengan permasalahan ini!” sahut Ken akhirnya. Selain dia penasaran, dia juga sebenarnya mulai muak dengan permasalahan kantor yang membuatnya kerepotan. Masalah penjualan adalah tombak utama sebuah perusahaan, jika bermasalah dan tidak ada penyelesaian yang jelas, bisa dipastikan perusahaan raksasanya bisa roboh dan hancur.

Alsava tersenyum penuh arti. Sepertinya dia menemukan peluang emas yang dicarinya di tumpukan jerami ini. Jika Alsava berhasil membantu Ken, mungkin saja Ken akan melunak dan tidak selalu menyiksanya.

“Bisa saja, tapi ada syaratnya!” balas Alsava tanpa ragu. Seketika kekaguman yang tadi mengendap di tatapan Ken sirna. Berganti dengan tatapan tajam penuh kewaspadaan.

“Kau mau lepas dariku? Bisa saja. Asal kau bisa membuktikan omonganmu itu dan berhasil memperbaiki angka penjualan, aku akan mengabulkan keinginanmu itu. Lagi pula aku tidak akan mungkin memperkenalkanmu sebagai istriku, sangat tak mungkin!” Balas Ken menonok. Seharusnya kata-kata itu menyakiti Alsava, tapi gadis itu tak menggubrisnya. Dia lebih focus pada apa yang bisa menguntungkannya saat ini.

“Saya tidak butuh bebas dari Anda.” Alsava mengangkat bahu, santai. "Pernikahan kemarin juga privat, relasi Tuan nggak ada yang tahu. Saya cuma mau satu: kelayakan hidup."

“Kelayakan hidup?” Ken mengulang, alisnya naik.

“Iya. Anggap saya karyawan Tuan sekarang." Alsava nyengir, tapi matanya serius. "Saya kerja total, Tuan bayar total. Kecuali urusan ranjang, itu nggak masuk dalam perjanjian manapun."

“Saya akan bekerja dengan sungguh-sungguh Tuan, dan Anda cukup menggaji saya sesuai kinerja yang saya berikan. Bagaimana?” Alsava menawarkan sebuah kerjasama yang harus menguntungkannya. Kepalang tanggung, kalaupun nanti Nona Lusiana membantunya lepas dari jeratan pernikahan pengganti ini, dia bisa mendapatkan keuntungan double. Bukankah itu sangat-sangat menarik?

Ruangan mendadak hening. Ken menatapnya lama. Lama banget sampai Alsava mulai gugup

Ken bukan sedang menimbang permintaan Alsava, tapi dia takjub karena baru kali ini ada seorang gadis kecil yang bahkan tak punya dekengan kekuarga besar manapun, beraninya mengajaknya bernegosiasi. Apa dia benar-benar tidak takut ketika Ken berbalik dan menjeratnya? Dengan kuasa yang Ken miliki tentu hal itu bukan menjadi suatu masalah bukan?

“Kau sungguh berani maid kecil! Bahkan kau berani menawarkan sebuah imbalan padaku!”

“Ck apa lagi yang harus ditakutkan ketika miskin Tuan, bahkan settan pun akan ku lawan demi bisa membayar hutang,” balas Alsava santai. Alisnya naik satu keatas meminta kejelasan persetujuan Ken.

“Aku suka keberanianmu ini, cara pikirmu juga cukup cepat dan kritis untuk seorang maid. Lusiana benar-benar tepat memilihmu!”

“Aku nggak tahu ini pujian atau jebakan ya Tuan, tapi.. terimakasih jika Anda menganggapku pinter,” balas Alsava lagi. Ucapan tanpa beban, seolah Ken bukanlah seseorang yang menakutkan seperti yang kebanyakan orang ceritakan. Justru Ken adalah batu loncatan paling kuat untuk pijakan ke next level.

Ken bersandar di sofa, senyum miringnya muncul.

“Datanglah besok ke kantor. Tunjukan kalau omonganmu itu bukan hanya bualan."

Alsava langsung berdiri. "Deal, Tuan." Tanpa nunggu jawaban, dia langsung muter badan dan pergi.

'Ceklek'. Pintu ketutup.

Ken masih ditempatnya, jari telunjuknya mengetuk meja pelan.

"Maid tengil, Besok akan ku bikin kamu nangis minta tolong," gumamnya lirik tapi senyumnya malah makin lebar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Pernikahan Pengganti   Akhirnya Semua Selesai

    “Hari ini, mereka resmi dinyatakan sebagai tersangka dengan kasus berlapis. Setelah ini mereka tidak akan bisa lagi keluar dari jeruji besi itu.”Pagi berikutnya, kabar penangkapan Marveen Marques dan Salvator mengguncang dunia bisnis. Penyelidikan mengungkap berbagai kejahatan Tiger Dark, termasuk pencucian uang, penyelundupan, pemerasan, dan keterlibatan Marveen dalam pembunuhan Cavan Mallory.Sejumlah aset yang diperoleh secara ilegal disita. Jaringan bisnis yang selama ini menjadi kedok organisasi tersebut dibekukan, sementara para anggota yang terbukti terlibat diproses sesuai hukum.Dengan bukti yang kuat dan kesaksian para saksi, Marveen tidak lagi memiliki jalan untuk menghindari pertanggungjawaban.Sementara itu, hak kepemilikan yang diwariskan Tuan Cavan kepada Alsava mulai dipulihkan melalui proses hukum. Perusahaan keluarganya yang sempat terombang-ambing akhirnya memiliki kesempatan untuk bangkit kembali.Di kantor Kenneth, Alsava berdiri di depan jendela besar sambil mem

  • Terjerat Pernikahan Pengganti   Honeymoon dan Janji Tanpa Rahasia

    “Sekarang sudah yakin kalau aku jatuh cinta padamu?”Ken langsung melingkarkan pelukannya di pinggang Alsava. Alsava yang lagi fokus mengaduk kopi tersentak kaget, tapi dia tak bergeming menjauh.“Apa bukti cintaku masih kurang? Hm sepertinya kurang, kita belum honeymoon. Sejauh ini kemesraan kita sebagai suami istri masih kurang,” tambah Ken dengan sedikit nakal. Dia mengecup punggung Alsava membuat sesuatu berdesir di bagian perut Alsava.“Ide bagus,” saut Alsava penuh arti. “Tapi liburan kali ini ajak juga Asisten Lee.”Ken langsung membalikkan tubuh Alsava lalu mendongakkan dagu istrinya dengan jari telunjuk. “Kita mau honeymoon sayang, bagaimana bisa kamu memintaku mengajak Asisten Lee!” protes Ken.“Kita mengajaknya liburan Tuan Ken. Apa kamu nggak kasihan melihat dia sudah macam zombie yang kerja terus bagai kuda! Bisa-bisa dia mati dalam keadaan kerja,” balas Alsava yang makin membuat Ken keberatan.“Dia tidak akan mengganggu kita sayang,” bujuk Alsava setelah beberapa detik.

  • Terjerat Pernikahan Pengganti   Runtuhnya Tiger Dark

    “Asisten Lee, pastikan semua bukti diamankan. Jangan sampai ada satu dokumen pun yang hilang!” perintah Davin. “Siap, Tuan Davin. Kali ini saya pastikan tidak ada yang lolos, kecuali kalau Tuan Ken menyuruh saya lembur lagi.” Lee melirik Alsava. “Nona, tolong ingatkan suami Anda bahwa saya juga manusia.” “Baiklah. Nanti aku minta Ken memberimu liburan sebulan.” Mata Asisten Lee langsung berbinar. “Saya suka sekali bekerja sama dengan Nona!” “Sudah, jangan banyak bicara!” tegur Davin. “Kita harus segera membawa mereka ke kantor polisi.” Marveen mendengus ketika dua orang mantan anak buahnya menariknya berdiri. “Kalian pikir penangkapan ini akan menghancurkan Tiger Dark? Klan gelap itu tidak akan runtuh hanya karena aku ditangkap!” “Kalau begitu, Anda bisa menjelaskan semuanya di depan penyidik,” sahut Alsava dingin. “Termasuk keterlibatan Anda dalam kematian ayahku.” Marveen terdiam. Alsava melangkah mendekat. “Bertahun-tahun aku tidak tahu siapa yang merenggut ayahku.

  • Terjerat Pernikahan Pengganti   Akhir Pelarian Marveen

    Setengah Jam sebelumnya.“Oh rupanya aku kedatangan tamu kehormatan. Putri mendiang Cavan Mallory." Marveen tertawa pendek, lalu meraih gelas anggurnya. "Kamu sangat mirip ibumu.”Alsava memutar bola mata malas. “Move On Om topeng emas. Ibuku cintanya sama Ayah bukan dengan Anda!” ejek Alsava malas. “Aku sudah lama menunggu moment berhadapan langsung dengan Anda seperti ini.”Marveen tersenyum, meneguk gelas anggurnya sedikit. Tatapan Marveen beralih ke Davin dan terakhir ke Adrian. Tatapannya menyipit seolah mengenali siapa yang ada dihadapannya saat ini.“Davin, hahaha sudah bosan bersembunyi rupanya kau. Apa kau tidak menceritakan kisah Aku dan Aileen yang sebenarnya?”Davin hanya diam. Enggan membalas.“Adrian. Orang yang Cavan percaya untuk menyimpan rahasia terakhirnya. Kupikir kau sudah mati di tempat persembunyian.”"Sudah waktunya aku datang Mr X. Aku selalu menjaga semua yang kau cari selama bertahun-tahun," sahut Adrian tenang.Marveen menaruh gelasnya. Tangan kanannya perl

  • Terjerat Pernikahan Pengganti   Penyamaran Asisten Lee Selesai

    "Salvator?" Davin mengumpat pelan. "Berapa lama?""Tiga menit. Mungkin kurang."Davin memukul bagian tengkuk Marveen, melumpuhkan si Mr X agar bisa mereka bawa pergi. Davin menyeret Marveen memaksanya berdiri lalu mengikat tangannya dengan kabel pengikat dari saku. "Jalur tangga darurat sudah tidak aman. Kita pakai jalur belakang.""Ada jalur belakang?" tanya Adrian."Sekarang ada." Davin menunjuk jendela besar di sisi ruangan. Di bawahnya, atap gudang barat terhampar, dan di sana, di balik bayangan, sebuah tangga besi tua menempel di dinding.Alsava sudah lebih dulu membuka jendela. Angin malam masuk membawa bau asin laut dan asap. "Om Adrian, ikut aku. Om Davin, bawa dia.""Kamu yakin?" Adrian memandang ketinggian itu dengan wajah pucat."Om mau menghadapi sepuluh orang Salvator, atau turun lewat tangga?"Adrian menelan ludah dan melangkah ke jendela.Baru saja kaki Alsava menyentuh ambang jendela, pintu ruangan terbanting terbuka. Seorang pria bertubuh besar berdiri di sana dengan

  • Terjerat Pernikahan Pengganti   Topeng Emas Segera Runtuh

    Di lantai atas markas, Marveen duduk sendirian di ruang pribadinya. Sebatang cerutu menyala di tangannya, dan segelas anggur tergeletak setengah penuh di atas meja."Dorry bisa diandalkan," gumamnya. "Ken juga ternyata lebih berguna dari dugaanku."Ia tertawa kecil. Di luar pintu, koridor yang biasanya dipenuhi penjaga terasa terlalu sunyi, tetapi Marveen tidak menyadarinya. Pikirannya sibuk menghitung keuntungan dari pengiriman malam ini.Gagang pintu bergerak pelan."Dorry?" Marveen tidak menoleh. "Sudah kubilang, jangan ganggu aku sampai...""Bukan Dorry."Suara itu perempuan, tenang dan dingin.Marveen membeku. Cerutunya berhenti di udara. Perlahan ia memutar kursi. Alsava berdiri di ambang pintu. Di belakangnya, Davin menutup jalan keluar dan Adrian melangkah masuk sambil membawa map di tangan."Selamat malam, Tuan Marveen," sapa Alsava santai. "Masih ingat siapa aku bukan?"Cerutu itu jatuh ke atas karpet. Marveen kaget, tapi dia segera kembali tenang. Kali ini, wajahnya tidak b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status