Se connecter"Beraninya kau masuk ke kamarku!”
Pintu kamar mandi kebuka. Uap panas menyembur keluar. Ken hanya memakai handuk di pinggang, tapi aura berkuasanya lebih ngeri dari pedang. Matanya langsung ngunci ke arah Alsava. Gadis asing, gaun pengantin putih, di kamarnya. Di malam pernikahannya. Jantung Alsava nyungsep. Belum sempat dia memberikan penjelasan, tangan Ken sudah lebih dulu meraih lehernya. Nggak kenceng. Tapi cukup buat bikin nafasnya mampet. “Am-ampun... Tuan...” Suara Alsava serak. Kuku jarinya mencakar lengan Ken. Bukan untuk melawan, tapi buat minta udara. Mata Ken ngiris. Bah Elang menerkam mangsa. “Siapa kamu? Kenapa memakai gaun istriku?” Alsava tak bisa menjawab. Paru-parunya kebakar. Dunianya mendadak hitam. Dia memang bukan tipikal gadis penakut, tetapi dihadapkan dengan kemarahan Ken yang tiba-tiba, otaknya kehilangan kemampuan untuk berpikir cepat mencari cara menyelamatkan diri. Alsava pura-pura pingsan. Tapi tepat saat dia hampir terkulai lemas, Ken melepas cengkramannya. ‘Duk’. Alsava jatuh ke lantai marmer, megap-megap persis ikan kehabisan air. Dia nyeruput udara sebanyak-banyaknya sampai terbatuk-batuk. “Jawabl!” suara Ken pelan, tapi terasa lebih dingin dari AC hotel bintang 5. “Sebelum aku kehilangan kesabaran.” Alsava mengangkat muka, bibirnya gemetar. “I-is..istri yang mana, Tuan? Sejak di pelaminan tadi... yang nikah sama Tuan... saya.” Hening... Rahang Ken mengeras, pupilnya mengecil. Dia tidak berteriak, tidak juga memaki. Justru diamnya itu yang membuat Alsava pengen nangis. “Jelaskan! Sekarang.” Satu kata. Perintah. Alsava menyandarkan punggungnya ke kaki ranjang. Tangannya masih memegang lehernya yang memar. Dia berusaha tenang menghadapi Villain tak punya hati di depannya ini. “Dua jam sebelum akad, saya disuruh mengantar barang ke kamar Nona Lusiana. Lalu... dia maksa saya memakai gaun ini. Dia meminta saya untuk membantunya.” Air mata Alsava menetes pelan. “Saya menolaknya, Tuan. Sumpah saya menolak. Tapi dia mengancam akan melaporkan saya mencuri. Saya... saya nggak punya pilihan.” Pasang muka melas, berharap hati Ken sedikit luluh dan mau melepasnya. Ken diam, lama. Otaknya muter kencang. `Lusiana kabur. Maid ini yang disuruh maju. Siapa dalangnya? Ada yang mau mempermaikan nama Baskara.` Ken berjalan ke arah meja. Membuka laci, mengeluarkan gesper ikat pinggangnya. Kulit asli. Suaranya saja pas ‘digeser’ sudah cukup membuat Alsava mengerjap ketakutan. Alsava merayap mundur. “Tuan... saya minta maaf...” Ken tak jawabnya. Dia jalan pelan ke arah Alsava. Tiap langkah kakinya membuat detak jantung Alsava makin kencang. `Cletasss...` Suara pertama! Alsava menggigit lengan gaunnya sendiri sampe bibirnya berdarah agar tak mengeluarkan suara, menjerit. Nggak guna! Kamar ini kedap suara. Tak akan ada orang yang mendengarnya. `Cletasss...` Panas, Bah api yang menjalar melukis punggungnya. Satu, dua, tiga. Ken sengaja mengayunkannya dengan pelan. Disengaja, biar Alsava merasakan perihnya tiap detiknya. Alsava meringkuk. Tangannya merayap pelan menutupi punggung. Tubuh mungilnya gemetar hebat. Di kepalanya cuma ada 1 kata: `sakit`. Puas dengan apa yang baru saja dilakukannya, Ken jongkok tepat di depan Alsava. Jempolnya mengangkat dagu gadis itu sampai mata mereka sejajar. Wajah Alsava sudah basah keringat, air mata, bedak yang luntur. “Nggak ada satupun orang yang berani menipu Kenneth Baskara, maid kecil.” Bisiknya di telinga Alsava. Nafasnya dingin. “Nggak pernah ada!” Alsava menggeleng lemah, pupilnya kabur tertutup air mata yang menumpuk. “Saya... saya maid baru di rumah Tuan Baskara... Saya nggak tau apa-apa...” PLAK! Satu tamparan melayang meski tak sekeras gesper. Tapi cukup membuat kepala Alsava nengok ke samping. Pipi kirinya perih. “Lancang!” Ken berdiri. “Seorang maid berani mempermainkanku? Apa kau sudah bosan hidup gadis bodoh!” Alsava meneguk salivanya seret, Tatapan Ken benar-benar membuatnya menyesal memilih hal yang tak seharusnya. “Dimana Nona Lusiana?” Ken menendang kursi di depannya. Melampiaskan kemarahannya ke arah lain bukan ke Alsava lagi, tapi ke Lusiana yang kabur. “Sa-saya nggak tau, Tuan.” Alsava sesenggukan. “Dia... dia pergi sama pelayan pribadinya tepat saat saya mau ke pelaminan. Dia bilang dia nggak mau nikah. Dia punya pilihan sendiri.” Ken ngedumel kasar. Dia mengambil tali dari laci meja. Tanpa basa-basi, tangan Alsava diiketnya ke tiang ranjang. Kenceng! Nggak sampai membuat tangannya biru, tapi sulit untuk bisa lepas. “Kau yang mulai permainan ini.” Ken menarik simpul terakhir, dia sejajarkan mukanya tepat didepan muka Alsava. “Sekarang aku yang menentukan aturannya!” Alsava meronta, dia berusaha mencari cara untuk melepaskan diri meski tak ada gunanya. Tali itu makin kuat mengikat pergelangan tangannya sampai merah. Ken mengambil jasnya, memasang kancing terakhir. Dia melirik Alsava terakhir kali, senyum miringnya muncul. Senyum yang lebih ngeri dari teriakannya tadi. “Kita ngobrol lagi nanti, istriku.” Tekanan dikata ‘istriku’ bikin Alsava merinding. Klik. Pintu dikunci dari luar. Alsava ketawa, kecil. Tak ada suaranya. Air mata menetes lagi. Dia seperti orang yang frustasi dengan keadaannya saat ini. “Dari CEO, jadi tahanan mafia. Dari calon miliuner, jadi babu yang diikat di ranjang pengantin.Hidup gue emang lawak sialan.”“Apa ada yang luka? Kenapa teleponku tidak diangkat? Apa kamu terdesak, tak bisa melawan.. apa kamu..”Ken langsung meraih pinggang Alsava dan mencium bibirnya ganas. Cukup lama sampai Alsava kehabisan napas dan mulai mendorong dadanya untuk lepas.Ken melepas tautan manisnya. Mengusap bibir basah Alsava dengan ujung jempolnya. “Se khawatir itu?” Bisiknya membuat pipi Alsava langsung merah. Malu.“Ck apaan sih! Aku cuman takut kalau kamu beneran dalam masalah gegara masalah ini. Gak lebih! Gak usah ge er!” Alsava langsung melepaskan diri, pura-pura merapikan rambutnya dan bersiap mau kabur. Tapi Ken langsung mencengkal tangannya lagi.Langsung ditariknya tubuh Alsava sampai kembali jatuh ke pangkuannya. “Lepas Ken! Kamu gila ya..!” Alsava meronta.“Coba katakan sekali lagi, aku ingin dengar sekali lagi gimana kamu mengkhawatirkanku,” pinta Ken lembut. Alsava menelan ludah.“Aku bukan mengkhawatirkanmu, aku cuman mau memastikan kalau kamu…”“Jangan mengelak Alsava.. aku tahu kamu sanga
“Jadi si Alsava itu anak dari seorang pengusaha top di kota ini? Dia sengaja disembunyikan sama keluarganya? Buat apa sih!” Hana mengulas lagi berita yang baru didengarnya di ruang Tuannya. Para maid sedang berkumpul mendengarkan informasi yang didapat tiga maid senior yang suka menguping dan kepo sama urusan Tuannya. “Alsava maid yang hilang itu? Bukannya kata mbak Anin dia kabur karena mau nikah sama kakek botak?” ujar Ranti, maid junior yang cukup polos, seangkatan dengan Alsava. “Diem kamu! Itukan perkiraan awal, kita gak tahu kalau sebenarnya dia malah dipaksa nikah sama Tuan Muda!” Anin memarahi Ranti. Kesal dan malu. Dia malu karena dia yang membuat berita fitnah itu. “Jadi baru perkiraan? Kemarin sampean bilang kalau sampean lihat sendiri dia pulang dijemput kakek botak,” protes Ranti membuat Anin terpojok. Dia bereaksi balik menyalahkan Ranti karena dianggap berani membantah senior. “Diam! Banyak omong kamu ya..! Mau ku aduin ke Nyonya biar di pecat!” ancamnya kesal
“Bu-bukan begitu… aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun darimu, sayang..”Nyonya Felicia terpojok. Tuan Baskara bahkan beralih mencurigainya, membuat wanita anggun yang sejak tadi merasa lebih unggul dari Ken mulai gugup. Takut salah.“Aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun. Aku baru mau cerita tapi Ken sudah keburu datang.” lanjutnya sedikit bernapas.“Sekarang ceritakan satu persatu padaku!” pinta Tuan Baskara sambil kembali duduk di sofa, angkuh. Menguasai situasi.Nyonya Felicia mengusap keringat dingin di jidatnya. Meneguk air putih di gelasnya dan duduk dengan tenang. Satu kata yang terlihat gugup, akan membuatnya selesai di hadapan suaminya. “Kamu tau kenapa sedari tadi aku membahas soal Tuan Mallory?” ucap Nyonya Felicia bertanya. Tuan Baskara mengangguk.“Itu karena gadis itu ada kaitannya dengan Cavan Mallory.” Tuan Baskara terperanjat, menatap tajam sedikit menahan napas. “Lanjutkan!” pintanya dingin.“Setelah Ken jujur tentang pernikahannya dan tidak mau melepas ga
"Apa kau bergerak tanpa memberitahuku Fel?!" Mata Tuan Baskara tajam, menusuk. Suaranya rendah tapi berhasil membuat Nyonya Fel menciut. “A-aku hanya.." Nyonya Felicia tergagap. "Aku hanya mencari tahu asal-usulnya. Aku harus memastikan apakah gadis itu punya niatan buruk pada putra kita.” Nyonya Felicia mencari pembelaan diri. “Niat buruk apa Mah? Dia bahkan menjadi istriku karena dipaksa Lusiana, bagaimana bisa dia mau mencelakaiku!” protes Ken membela Alsava. Tepatnya mengajak Mamanya untuk lebih mengutamakan logika. “Kau lupa? Bahkan dia baru berada di hidupmu sebentar, kau sudah jatuh cinta dengannya Ken! Itu artinya dia punya trik yang bisa membuatmu lengah!” Nyonya Felicia ngeyel. “Mah come on! Apa dulu Mama membuat Papa luluh karena Mama punya trik yang merugikan?” “JANGAN SAMAKAN MAMAMU DENGAN WANITA RENDAH ITU KEN, dia bukan level Mama..!” Nyonya Felicia beneran murka. Beliau tak terima Ken menyamakan dirinya dengan Alsava. “Bahkan baru saja kau dibuat jatuh cint
"Tidak Pah! Aku tidak bisa melepas Alsava..!”BRAK!Tuan Baskara kaget. Jawaban Ken barusan membuatnya melempar ponselnya ke meja.“Apa maksudmu! Kau tidak sedang mengaku kalau jatuh cinta dengan maid itu kan!” Bidikkan langsung. Membuat Ken tergagap gugup.“Tidak mungkin lah Pah.. Ken hanya kasihan, mungkin gadis itu masih dibutuhkannya. Dia lumayan menguasai teknik pasar di perusahaan.” Nyonya Felicia mencegat langsung. Beliau akan berusaha menghalangi apapun yang akan Ken katakan pada Papanya.Tuti dan Hana menguping. Mendengar nama Alsava disebut, jelas mereka penasaran. Mereka mau tahu bagaimana nasib maid baru itu setelah disuruh mengantar barang ke hotel, sampai sekarang tidak kembali dan tidak ada kabarnya lagi.“Benarkah begitu Ken? Jadi maid itu menguasai teknik penjualan,” tanya Tuan Baskara memperjelas.“Haah! Si Alsava kampung itu mengerti teknik pemasaran perusahaan Baskara?” Anin yang baru bergabung langsung kaget. Tuti dan Hana menoleh.“Sssttt jangan keras-keras, nant
“Jadi Tuan Mallory adalah salah satu pebisnis top five di eranya, lalu dimana dia sekarang suamiku?” Nyonya Felicia cukup kaget mendengar bahwa Tuan Mallory adalah salah satu orang hebat yang menjadi pelopor para pebisnis lain di eranya. Apalagi nama Cavan Mallory menggunakan nama orang besar itu. Satu pertanyaan yang terus terngiang di benaknya, ‘Apakah Alsava salah satu keturunan keluarga terpandang itu?’ “Tuan Mallory wafat saat salah satu perusahaannya mulai goyah. Beliau kena serangan jantung dan tidak bisa tertolong lagi,” jawab Tuan Baskara sambil menikmati potongan buah anggur yang terlihat segar pecah di mulut. “Hhhmm… siapa yang berhasil menumbangkan perusahaan sehebat itu?” “Namanya juga persaingan istriku. Karena pada saat itu perusahaan sudah diambil alih oleh putranya, Cavan Mallory.” DEG! “Cavan Mallory? Jadi benar, Ayah Alsava adalah putra keluarga Mallory? Lalu bagaimana Alsava bisa berakhir menjadi maid? Dan data yang kudapatkan, gadis itu lahir, tumbuh dan







