MasukRasa canggung memenuhi ruangan sesaat. Lidya menggertakkan gigi, napasnya pendek. Ia tampak siap meledak. Matanya menyorot tajam ke arah Zenia, bibirnya mengeras.
“Tunggu,” tiba-tiba suara laki-laki muda memotong, lebih berat dari biasanya.
Rafi Alberto melangkah maju, menyandarkan diri pada meja, menatap Zenia dengan senyum yang berusaha meyakinkan. “Ma, Pa, jangan buru-buru. Tentang urusan Lidya di kampus, aku yang akan mengurusnya. Besok aku berangkat ke kampus, dan aku jamin… hari ini juga ijazahnya akan keluar.”
Kata-kata itu diucapkan dengan nada percaya diri yang dibuat-buat. Ia ingin menutup aib adiknya, menambal harga diri keluarga. Namun ada sesuatu di matanya yang tak sempat ia tutupi—sedikit panik. Itu terlihat ketika tangannya mengepal sekilas di belakang punggung.
Isabela mengangguk pelan, seolah memberi ruang. Sejujurnya, ia tidak bergairah menjerat Rafi. Ia menunggu; jika Rafi mencari masalah dengannya, maka silakan tanggung sendiri akibatnya.
Rafi melangkah lebih dekat, suaranya berubah lebih meyakinkan. “Aku yang akan bicara dengan pihak kampus. Aku yang akan mengurus administrasi. Tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja.”
Lidya menatap Rafi dengan mata basah penuh kebanggaan, sementara ibu Kenzo menghela napas lega. Ayah Kenzo, yang sedari tadi tampak tertekan, mengangguk setengah percaya.
Lalu Isabela mencondongkan badan sedikit. Wajahnya tetap tenang. Ia memilih kata-kata dengan sangat perlahan, membuat setiap kalimat yang diucapkan meninggalkan bekas.
“Adik ipar sungguh beruntung memiliki kakak laki-laki seperti adik iparku ini,” ucapnya lembut namun jelas, sambil mengalihkan pandangan ke arah Lidya.
“Aku sejak awal sangat yakin Rafi pasti mau membantu Lidya. Tapi, Rafi, apakah caramu menyelesaikannya sama dengan caramu menangani masalah proyek di tepi laut Athena?”
Ia menyesap kembali teh hangatnya.
“Aku membaca berita tentang bentrokan antara warga yang merasa dirugikan dan aparat yang kenyang perut karena menerima uang dari perusahaan kita,” tambahnya dengan wajah datar.
“Tapi akhir-akhir ini beritanya memang meredup. Apa jangan-jangan kau sudah menyelesaikan masalah proyek di tepi pantai yang sempat ramai itu?”
Napas Rafi naik turun. Dadanya kembang kempis.
Isabela memiringkan kepala, menatapnya seperti menimbang sebatang kayu. “Tidak masalah sebenarnya jika kita berurusan dengan pihak berwenang. Tapi yang menjadi masalah adalah jika dana kompensasi tidak tersalurkan, hingga muncul bentrokan. Jika proyek stagnan karena hal seperti itu, lalu siapa yang harus bertanggung jawab? Apakah pihak-pihak berwenang itu mau bertanggung jawab? Atau jangan-jangan malah menjadi masalah kita?”
Kalimat itu dijatuhkan ringan, tapi tepat sasaran. Ruangan hening. Rafi menelan ludah. Keringat halus muncul di pelipisnya.
“Apa maksudmu? Itu tuduhan berat,” protes Rafi, berusaha tegas meski suaranya retak. “Kami sudah… kami sudah berusaha menenangkan mereka.”
“Apa yang kau tawarkan untuk menenangkan mereka?” tanya Isabela, nadanya tetap terkendali. “Lebih banyak uang untuk masyarakat, atau uang untuk menutup mulut media agar berita tidak naik?”
Sekali lagi suasana ruangan bergeser. Ibu Kenzo menutup mulut, matanya melebar. Ayah Kenzo menepukkan tangan ke meja, menahan diri. Lidya menatap Zenia seolah ingin mengoyak wajahnya.
Rafi memutar mata, mencari pijakan. “Itu tidak benar. Aku bekerja sesuai prosedur. Kami sudah memberikan kompensasi—”
“Kompensasi apa?” potong Isabela, suaranya tetap tenang. “Jika kompensasi benar-benar diterima warga, mengapa muncul foto-foto demonstrasi di koran? Mengapa ada kabar aparat menendang warga dan merobek rumah mereka? Mengapa ada pengacara yang membela warga dan mengatakan perusahaan menolak mediasi?”
Rafi menggigit bibir. Kata-kata Zenia menjadi baji yang membelah struktur rapuh cerita yang selama ini ia bangun di depan keluarganya. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
“Rafi,” ayah Kenzo berdiri. Nada suaranya berubah dingin. “Kamu bilang semua beres, tapi faktanya proyek itu macet sampai sekarang! Kalau begini terus, kita akan kehilangan banyak klien. Jika yang dikatakan Zenia benar, para pemegang saham akan resah. Ini bukan soal uang yang kamu bagi atau tidak. Ini soal kredibilitas perusahaan!”
Kemarahan itu bukan amarah sesaat, melainkan kekecewaan yang telah lama menumpuk. “Kamu meletakkan nama keluarga ini di atas meja hanya demi menutup aib. Kamu pikir dengan sedikit uang dan janji kosong semuanya akan baik-baik saja?”
Rafi terhuyung. Lidya menutup mulut, matanya mengilap.
“Tapi, Pa—”
“Tapi apa?” Ayah Kenzo menukik, wajahnya memerah. “Sudah berapa banyak kerugian karena proyek itu terhambat? Tiga kuartal! Kepercayaan investor akan jatuh! Kamu mengorbankan reputasi hanya demi keuntungan sesaat yang akan menghantui kita saat audit.”
Rafi mencoba membela diri, nadanya makin lemah. “Kami… kami butuh waktu. Ada masalah mediasi—”
“Masalah mediasi?!” Ayahnya menampar meja hingga cangkir bergetar. “Kamu bilang mediasi, tapi warga kehilangan rumah! Kamu bilang mediasi, tapi aparat bertindak kasar! Ini bukan sekadar mediasi, Rafi. Ini kelalaian dan ketamakanmu!”
Suara itu memantul di dinding ruang tamu. Lidya melangkah gemetar; wajah bangganya runtuh menjadi malu. Rafi menunduk, wajahnya memanas.
Isabela duduk tenang, menatap Rafi seperti menatap tikus yang tertangkap mencuri. Ia menyesap teh, menahan senyum kecil—bukan senyum kasih, melainkan senyum puas.
“Rafi, kamu pergi ke kantor sekarang,” perintah ayah Kenzo dingin. “Selesaikan urusan itu. Hubungi pengacara, atur mediasi yang benar. Jangan bermimpi mengurus ijazah adikmu sebelum proyek itu kau selesaikan. Ini soal harga diri keluarga Alberto!”
Rafi menatap ayahnya, amarah dan malu bercampur. Tanpa jawaban, ia berbalik dan keluar dengan langkah berat.
Pintu tertutup. Kesunyian jatuh seperti tirai.
Lidya duduk kaku, matanya sembab. Ayah Kenzo berdiri menekan dahi, napasnya berat.
Di antara mereka, Isabela duduk tenang. Ia menatap ke luar jendela sesaat. Di bibirnya, sebuah senyum kecil terukir—bukan karena puas melihat kehancuran, melainkan karena satu langkah telah berjalan sesuai rencana. Hari ini, ia bukan lagi korban. Ia adalah pengamat yang tahu titik lemah.
Ketika pelayan membereskan cangkir di meja, Isabela bangkit pelan. Ia menunduk sopan kepada mertuanya, lalu melangkah menuju kamar yang disiapkan untuknya. Di lorong, ia menyentuh dinding kayu yang dingin dan menarik napas panjang. Di benaknya, Isabela mulai menyusun langkah berikutnya.
Di ruang tamu, ayah Kenzo menatap pintu kamar yang baru tertutup. Dengan suara lebih lirih, ia berkata, “Anak itu… bukan gadis yang mudah dipatahkan.”
Isabela mendengarnya dari balik pintu. Ia tersenyum dalam hati.
Hari itu, satu nama mulai bergeser dari daftar hitungan mereka.
Pintu lift tertutup dengan bunyi halus.Isabela berdiri sendirian di dalamnya, bahu tegak, wajah tenang. Pantulan dirinya di dinding logam memperlihatkan sosok perempuan yang sama sekali berbeda dari Zenia yang dikenal banyak orang. Tidak ada lagi mata sendu. Tidak ada lagi tubuh meringkuk. Yang ada hanya ketenangan seseorang yang sudah mati sekali dan tidak takut jatuh untuk kedua kalinya.Begitu lift terbuka di lantai direksi, suasana langsung berubah.Koridor itu sunyi, dingin, dan terlalu rapi. Aroma kopi mahal bercampur pendingin ruangan yang menusuk. Dari balik pintu kaca di ujung koridor, suara rapat terdengar samar. Nada Rafi terdengar jelas. Sedikit tinggi. Sedikit tertekan.Isabela tersenyum kecil."Ah. Masih panas rupanya."Tanpa ragu, ia melangkah ke pintu ruang rapat. Tidak mengetuk. Tidak permisi. Ia mendorong pintu dan masuk begitu saja.Beberapa kepala langsung menoleh.Rafi yang sedang berdiri di depan layar presentasi membeku di tengah kalimat. Wajahnya berubah warna
Kenzo menurunkan tangannya setelah mentoyor kening Isabela.“Fokus,” katanya datar. “Kau akan bekerja. Bukan membuka cabang baru di dunia hiburan.”Isabela mendengus, mengusap keningnya. “Aku baru tahu kalau kau itu sangat cerewet, tuan muda Alberto.”“Berisik,” balas Kenzo tanpa dosa.Walaupun Kenzo bersikap dingin dan ketus, namun tetap saja, ia menyuruh asistennya untuk membayar seluruh pakaian yang ia pilih tanpa sekalipun melirik harga.Isabela memperhatikan itu dalam diam. Pria ini memang tidak banyak bicara, tapi setiap tindakannya selalu… penuh klaim.Saat mereka keluar butik, Isabela melirik jam. “Aku rasa kita sudah hampir terlambat. Bukan kah kau mengatakan aku harus datang jam 11 ke perusahan?”Kenzo sudah mendorong kursi rodanya menjauh. “Benar sekali. Kau sudah hampir terlambat. Jadi James akan mengantarkanmu untuk ke perusahan sekarang juga.“Lalu kau? Apa kau tidak ikut?” tanya Isabela cepat. Dia mengira Kenzo akan mengantarkan di hari pertama dia masuk kerja.“Aku? Ke
Lampu kamar masih redup ketika Isabela terbangun.Bukan oleh alarm. Melainkan oleh suara halus hampir tak terdengar dari roda kursi yang bergerak pelan.Ia membuka mata setengah, lalu memicingkannya. "Apa Kenzo sudah bangun?" batinnya.Tapi saat Isabela membuka matanya sempurna, ternyata pria itu bukan sekadar bangun tapi sudah rapi.Kemeja gelap tersetrika sempurna. Jam tangan terpasang. Rambutnya tersisir tanpa satu helai pun membangkang. Ia sedang mengancingkan manset dengan wajah setenang orang yang tidak pernah punya masalah hidup.Isabela mengerjap, lalu mendesah.“Selamat pagi tuan muda Alberto,” gumamnya sambil menarik selimut lebih tinggi. “Cepat sekali kau bangun pagi ini?”Kenzo meliriknya sekilas. Dan dengan suara datar dia menjawab.“Bukan aku yang bangun cepat tapi kau yang bangun lambat.”Isabela reflek manyun. Jelas dia tersentil dengan kata-kata Kenzo. Lagi pula, istri dibelahan dunia mana yang bangun lebih lambat dari suaminya. Dimana-mana, istri yang bangun duluan,
Isabela menghembuskan napas pelan.Bukan napas lega. Melainkan napas seseorang yang tahu dirinya sedang berdiri di tepi jurang—dan tetap melangkah maju.“Entahlah,” jawabnya akhirnya. Suaranya tidak dibuat-buat. “Aku tidak tahu apakah Tuan Muda Alberto akan membantuku atau tidak.”Kenzo tidak langsung menanggapi.Tatapannya tetap dingin, lurus, seolah kalimat itu hanyalah angin lewat.Isabela melanjutkan, sedikit lebih lirih.“Tapi orang-orang tua dahulu selalu berkata,” ucapnya pelan, “kalau berbuat baik itu tidak boleh setengah-setengah.” sambungnya sambil mengangkat bahu kecil.“Mengingat Tuan Muda sudah dua kali menolongku… kenapa tidak sekali lagi?”Kenzo mengangkat alisnya perlahan.Gerakan kecil. Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia sadar—wanita ini sedang menekan titik tertentu.Isabela melangkah lebih dekat dan menatap Kenzo dengan puppy eyesnya. Berharap ini akan berhasil.“Tatapanmu tidak cukup,” katanya akhirnya, dingin dan tenang, “untuk membuatku berkata iya.”Nada itu
Isabela baru merasa dadanya benar-benar sesak bukan saat ia duduk di ruang tamu keluarga Ramlan,melainkan saat mobilnya meninggalkan halaman rumah itu.Baru beberapa menit lalu ia berdiri tegak, bicara dingin, mengatur syarat, bahkan menggertak balik.Sekarang, tangannya mencengkeram tas lebih erat dari perlu."Bagaimana caranya aku membujuk manusia es itu…"Isabela menutup mata sejenak."Kalau langsung bicara bisnis, aku mati sebelum membuka mulut."Ia membuka mata lagi, menatap lurus ke depan."Entahlah! Kita lihat saja nanti." Putusnya sedikit pasrah pada cara Tuhan akan membimbingnya untuk mendapatkan kata YA dari Kenzo.***Meja makan malam terasa lebih ramai dari biasanya.Matteo dan Victoria duduk di kepala meja seperti biasa. Rafi masih membawa map proyek—kali ini hanya dibuka setengah hati. Lidya mengunyah pelan, matanya berkedip-kedip seperti sedang menonton drama gratis.Dan di antara semuanya—Isabela.Terlalu rajin.Terlalu perhatian.Terlalu… mencurigakan.“Sayang, mau
Rumah keluarga Ramlan tidak pernah benar-benar hangat.Bukan karena dingin, melainkan karena setiap sudutnya selalu dipenuhi perhitungan.Siang itu, matahari tepat di atas kepala. Cahaya jatuh lurus ke ruang tamu yang terlalu rapi, seolah kebersihan bisa menutupi kebusukan niat di dalamnya.Arman Ramlan duduk di sofa utama dengan jas masih melekat di tubuhnya, meski tidak ke mana-mana. Ratna berdiri di dekat jendela, tangan terlipat, wajahnya tegang. Olivia duduk menyilangkan kaki dengan anggun, memainkan ponsel, seolah nasib perusahaan keluarga ini bukan urusannya.Keheningan pecah lebih dulu oleh suara Arman.“Aku tidak terkejut,” katanya datar. “Sejak awal aku sudah tahu, menikahkan Zenia ke keluarga Alberto tidak akan memberi kita apa-apa.”Ratna menoleh, nada suaranya dingin. “Dia selalu begitu. Tidak pernah benar-benar berguna.”Olivia tersenyum tipis. “Sejak kecil juga, Ayah. Terlalu sibuk merasa jadi korban sampai lupa berpikir logis.”Arman mengangguk pelan. “Menantu keluarga







