LOGINUntuk beberapa menit, Isabela hanya diam. Ia memegang cangkir teh hangat itu seolah sedang menenangkan dirinya, padahal ia sedang menakar kata-katanya. Lidya dan kakaknya berhenti tertawa, hanya untuk memastikan apakah perempuan kampungan ini sedang bersiap menangis atau membela diri.
Namun setelah menunggu, tidak ada air mata,
Isabela meletakkan cangkir itu kembali ke meja. Tangannya halus, gerakannya lembut. Mata yang tadi tertunduk kini terangkat perlahan—bukan menantang, tetapi juga bukan cerminan keminderan.
“Aku memang hanya gadis desa,” ucapnya dengan nada serendah kapas, “dan ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kota setelah lima belas tahun lamanya.”
Semua orang di dalam ruangan menoleh.
“Tapi…” Isabela menoleh pada ayah dan ibu mertuanya, bibirnya melengkung sedikit, “paling tidak, aku masih ingat mendiang ibuku pernah mengatakan… jika orang tua sedang berbicara, maka anak harus mendengarkan.”
Ia berhenti sejenak, wajahnya memancar lembut dan polos. “Begitu, kan, Ma? Pa?”
Ayah mertua Zenia sedikit mengangkat alis, tidak menyangka akan dialamatkan dengan cara sehalus itu. Ibu mertuanya menatap Zenia dengan cara berbeda—lebih hati-hati dan lebih mempertimbangkan.
Isabela berdiri pelan, mengambil teh panas yang tadi diletakkan pelayan di meja, lalu mendekat pada kedua mertuanya. Gerakannya rapi, penuh tata krama.
“Hati-hati, Ma… ini masih panas,” ujarnya pelan sambil menyerahkan cangkir itu kepada ibu mertua. “Ini Pa. Jangan sampai tangan Pa terkena panas.”
Nada lembut itu—kejujuran di matanya—sopan santun yang tidak dipaksakan—membuat seluruh ruangan berubah tenang.
Untuk sesaat, Lidya benar-benar kehilangan kata.
Belum pernah ada yang berbicara begitu sopan di hadapannya, kecuali orang tuanya. Hal itu membuat Lidya merasa seolah dirinya menjadi pihak yang tidak beradab. Tanpa sadar, tangannya mengepal karena kesal. Ia yang berasal dari keluarga beradab justru tampak sangat tidak beradab dibandingkan sikap sopan dan penuh krama si gadis kampung.
Isabela kembali duduk di kursinya. Senyumnya tipis dan hangat—namun di balik senyum itu, Isabela tersenyum jauh lebih lebar dari yang terlihat.
“Walaupun aku dari desa,” lanjut Isabela sambil sedikit menunduk, “aku diajarkan untuk menjaga nama baik keluargaku. Dan sejak aku menikah, nama keluarga Alberto… berarti pakaian yang menutupi tubuhku.”
Ia mengangkat wajah dan tersenyum kecil. “Akan kujaga baik-baik.”
Ayah mertua mengangguk kecil.
Namun suasana itu tidak berlangsung lama.
“Alah, banyak omong.” Lidya menjentikkan lidah, wajahnya sinis. “Bagaimana kau bisa menjaga nama baik kakakku? Lihat dirimu. Penampilanmu saja tidak layak menjadi menantu keluarga Alberto.”
Ia menyisir Zenia dari ujung rambut hingga alas sepatu lusuh itu.
“Kalau aku berjalan bersamamu,” lanjutnya sambil menyilangkan tangan, “orang-orang akan mengira kau adalah pembantuku.”
Adik laki-laki Kenzo tertawa kecil, mendukung saudarinya.
Isabela tidak langsung membalas. Ia memejamkan mata sesaat, menahan gelombang emosi pemilik tubuh ini yang dahulu begitu mudah pecah. Kini, ia harus menjadi lebih dari sekadar gadis itu.
Ketika ia membuka mata, tatapannya berubah. Lembut… tetapi menusuk.
“Aku tahu penampilanku tidak bagus hari ini, Ma, Pa,” ucapnya lirih, cukup keras untuk didengar Lidya. “Maklum saja… keluargaku tidak pernah memperhatikanku. Dan kehadiranku di rumah ini pun aku sadari sebagai sebuah transaksi jual beli. Tapi aku tidak keberatan, selama itu dapat mewujudkan baktiku pada keluargaku.”
Lidya langsung terdiam. Ibu mertua Zenia mengerutkan kening. Sementara ayah mertuanya pura-pura tidak mendengar apa yang baru saja Zenia katakan, karena kalimat itu sama saja menyentilnya secara tidak langsung. Ia hanya meletakkan cangkir perlahan, berpura-pura fokus.
Isabela melanjutkan. Suaranya rapuh, namun tenang—seperti seorang aktris yang sedang memainkan peran terbaiknya.
“Tapi walaupun begitu, aku tidak membenci keluarga ini. Aku malah kagum. Kagum bagaimana Ma dan Pa melindungi putra dan putri Ma dan Pa. Tidak seperti keluargaku…” ucapnya terhenti, sorot kesedihan singgah di matanya.
“Bagaimanapun adik ipar berbuat salah di luar sana, Ma dan Pa pasti selalu memperhatikan adik ipar. Adik ipar sungguh beruntung,” sambung Zenia sambil menoleh ke arah Lidya.
Lidya menegang. “Apa maksudmu?”
Zenia tersenyum kecil—senyum yang, bagi orang yang jeli, bukan senyum polos.
“Aku hanya mengatakan fakta,” jawabnya lembut. “Adik ipar mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan semua kemewahan dari Ma dan Pa.”
Ia menatap Lidya, dan di matanya ada rasa iri yang terlihat wajar.
“Aku iri sekali… hidupmu sangat nyaman.”
Lidya tersentak—tidak siap disebut sebagai seseorang yang terlalu dimanjakan.
Isabela menambahkan pelan, seolah tidak sengaja mengungkit,
“Oh ya, apa benar kau memperpanjang masa kuliahmu, Lidya? Aku dengar dari teman-teman adik tiriku, putri keluarga Alberto terpaksa mengajukan penambahan semester karena hingga dua belas semester belum juga selesai. Memangnya mahasiswa bisa di-DO jika lalai kuliah seperti itu? Maaf, aku tidak tahu… sekolahku mungkin tidak setinggi milikmu.”
Sunyi.
Mata ibu mertua membelalak.
“Kamu masih belum selesai kuliah?!” suara ibu mertua meninggi, tak percaya. “Bukankah kamu bilang semuanya baik-baik saja? Katanya tidak ada masalah!”
“Ma… aku… dosennya… aku bisa jelaskan—”
“Menjelaskan apa?!”
Lidya terdiam. Bibirnya bergetar.
Dan untuk pertama kalinya sejak Zenia masuk rumah itu, Lidya kehilangan kesombongannya.
Ia tidak bisa melawan.
Ibu mertua terus memarahi Lidya, sementara ayah mertua duduk menekan pelipis, kepalanya pening oleh kenyataan yang baru ia ketahui.
Sementara itu, Isabela—yang beberapa menit lalu disebut kampungan—duduk manis, menyesap teh hangat sambil menjaga ekspresinya tetap polos.
Isabela dalam diri Zenia tersenyum dalam bayangan pikirannya.
Hanya kata lembut yang mengenai tepat di titik lemah.
Adik laki-laki Kenzo pun terdiam. Raut sombongnya memudar. Ia tidak menyangka gadis desa itu mampu membalik keadaan secepat ini—tanpa menyerang, tanpa membentak, hanya dengan logika yang tajam.
Isabela meletakkan cangkir.
“Maafkan aku jika kata-kataku tidak seharusnya kuucapkan,” ucap Isabela. “Aku hanya ingin mengungkapkan rasa kagumku. Aku sungguh merasa senang menjadi bagian dari keluarga ini.”
Ayah dan ibu mertua memandangnya lagi. Kini ada sesuatu yang berbeda—
Lidya menelan ludah, mencoba mengumpulkan muka.
“Dasar… manipulatif…” gumamnya pelan, terlalu kecil untuk dibalas.
Isabela hanya tersenyum samar.
Manipulatif? Mungkin. Tapi siapa yang memulai? gumamnya dalam hati sembari menunduk sopan pada kedua mertuanya.
Kenzo, yang menonton dari layar ponselnya, menahan diri agar tidak tersenyum.
Ia tidak menduga gadis itu memiliki lidah yang begitu halus, tetapi mematikan.
Ia tidak tahu siapa Zenia sebenarnya.
Pintu lift tertutup dengan bunyi halus.Isabela berdiri sendirian di dalamnya, bahu tegak, wajah tenang. Pantulan dirinya di dinding logam memperlihatkan sosok perempuan yang sama sekali berbeda dari Zenia yang dikenal banyak orang. Tidak ada lagi mata sendu. Tidak ada lagi tubuh meringkuk. Yang ada hanya ketenangan seseorang yang sudah mati sekali dan tidak takut jatuh untuk kedua kalinya.Begitu lift terbuka di lantai direksi, suasana langsung berubah.Koridor itu sunyi, dingin, dan terlalu rapi. Aroma kopi mahal bercampur pendingin ruangan yang menusuk. Dari balik pintu kaca di ujung koridor, suara rapat terdengar samar. Nada Rafi terdengar jelas. Sedikit tinggi. Sedikit tertekan.Isabela tersenyum kecil."Ah. Masih panas rupanya."Tanpa ragu, ia melangkah ke pintu ruang rapat. Tidak mengetuk. Tidak permisi. Ia mendorong pintu dan masuk begitu saja.Beberapa kepala langsung menoleh.Rafi yang sedang berdiri di depan layar presentasi membeku di tengah kalimat. Wajahnya berubah warna
Kenzo menurunkan tangannya setelah mentoyor kening Isabela.“Fokus,” katanya datar. “Kau akan bekerja. Bukan membuka cabang baru di dunia hiburan.”Isabela mendengus, mengusap keningnya. “Aku baru tahu kalau kau itu sangat cerewet, tuan muda Alberto.”“Berisik,” balas Kenzo tanpa dosa.Walaupun Kenzo bersikap dingin dan ketus, namun tetap saja, ia menyuruh asistennya untuk membayar seluruh pakaian yang ia pilih tanpa sekalipun melirik harga.Isabela memperhatikan itu dalam diam. Pria ini memang tidak banyak bicara, tapi setiap tindakannya selalu… penuh klaim.Saat mereka keluar butik, Isabela melirik jam. “Aku rasa kita sudah hampir terlambat. Bukan kah kau mengatakan aku harus datang jam 11 ke perusahan?”Kenzo sudah mendorong kursi rodanya menjauh. “Benar sekali. Kau sudah hampir terlambat. Jadi James akan mengantarkanmu untuk ke perusahan sekarang juga.“Lalu kau? Apa kau tidak ikut?” tanya Isabela cepat. Dia mengira Kenzo akan mengantarkan di hari pertama dia masuk kerja.“Aku? Ke
Lampu kamar masih redup ketika Isabela terbangun.Bukan oleh alarm. Melainkan oleh suara halus hampir tak terdengar dari roda kursi yang bergerak pelan.Ia membuka mata setengah, lalu memicingkannya. "Apa Kenzo sudah bangun?" batinnya.Tapi saat Isabela membuka matanya sempurna, ternyata pria itu bukan sekadar bangun tapi sudah rapi.Kemeja gelap tersetrika sempurna. Jam tangan terpasang. Rambutnya tersisir tanpa satu helai pun membangkang. Ia sedang mengancingkan manset dengan wajah setenang orang yang tidak pernah punya masalah hidup.Isabela mengerjap, lalu mendesah.“Selamat pagi tuan muda Alberto,” gumamnya sambil menarik selimut lebih tinggi. “Cepat sekali kau bangun pagi ini?”Kenzo meliriknya sekilas. Dan dengan suara datar dia menjawab.“Bukan aku yang bangun cepat tapi kau yang bangun lambat.”Isabela reflek manyun. Jelas dia tersentil dengan kata-kata Kenzo. Lagi pula, istri dibelahan dunia mana yang bangun lebih lambat dari suaminya. Dimana-mana, istri yang bangun duluan,
Isabela menghembuskan napas pelan.Bukan napas lega. Melainkan napas seseorang yang tahu dirinya sedang berdiri di tepi jurang—dan tetap melangkah maju.“Entahlah,” jawabnya akhirnya. Suaranya tidak dibuat-buat. “Aku tidak tahu apakah Tuan Muda Alberto akan membantuku atau tidak.”Kenzo tidak langsung menanggapi.Tatapannya tetap dingin, lurus, seolah kalimat itu hanyalah angin lewat.Isabela melanjutkan, sedikit lebih lirih.“Tapi orang-orang tua dahulu selalu berkata,” ucapnya pelan, “kalau berbuat baik itu tidak boleh setengah-setengah.” sambungnya sambil mengangkat bahu kecil.“Mengingat Tuan Muda sudah dua kali menolongku… kenapa tidak sekali lagi?”Kenzo mengangkat alisnya perlahan.Gerakan kecil. Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia sadar—wanita ini sedang menekan titik tertentu.Isabela melangkah lebih dekat dan menatap Kenzo dengan puppy eyesnya. Berharap ini akan berhasil.“Tatapanmu tidak cukup,” katanya akhirnya, dingin dan tenang, “untuk membuatku berkata iya.”Nada itu
Isabela baru merasa dadanya benar-benar sesak bukan saat ia duduk di ruang tamu keluarga Ramlan,melainkan saat mobilnya meninggalkan halaman rumah itu.Baru beberapa menit lalu ia berdiri tegak, bicara dingin, mengatur syarat, bahkan menggertak balik.Sekarang, tangannya mencengkeram tas lebih erat dari perlu."Bagaimana caranya aku membujuk manusia es itu…"Isabela menutup mata sejenak."Kalau langsung bicara bisnis, aku mati sebelum membuka mulut."Ia membuka mata lagi, menatap lurus ke depan."Entahlah! Kita lihat saja nanti." Putusnya sedikit pasrah pada cara Tuhan akan membimbingnya untuk mendapatkan kata YA dari Kenzo.***Meja makan malam terasa lebih ramai dari biasanya.Matteo dan Victoria duduk di kepala meja seperti biasa. Rafi masih membawa map proyek—kali ini hanya dibuka setengah hati. Lidya mengunyah pelan, matanya berkedip-kedip seperti sedang menonton drama gratis.Dan di antara semuanya—Isabela.Terlalu rajin.Terlalu perhatian.Terlalu… mencurigakan.“Sayang, mau
Rumah keluarga Ramlan tidak pernah benar-benar hangat.Bukan karena dingin, melainkan karena setiap sudutnya selalu dipenuhi perhitungan.Siang itu, matahari tepat di atas kepala. Cahaya jatuh lurus ke ruang tamu yang terlalu rapi, seolah kebersihan bisa menutupi kebusukan niat di dalamnya.Arman Ramlan duduk di sofa utama dengan jas masih melekat di tubuhnya, meski tidak ke mana-mana. Ratna berdiri di dekat jendela, tangan terlipat, wajahnya tegang. Olivia duduk menyilangkan kaki dengan anggun, memainkan ponsel, seolah nasib perusahaan keluarga ini bukan urusannya.Keheningan pecah lebih dulu oleh suara Arman.“Aku tidak terkejut,” katanya datar. “Sejak awal aku sudah tahu, menikahkan Zenia ke keluarga Alberto tidak akan memberi kita apa-apa.”Ratna menoleh, nada suaranya dingin. “Dia selalu begitu. Tidak pernah benar-benar berguna.”Olivia tersenyum tipis. “Sejak kecil juga, Ayah. Terlalu sibuk merasa jadi korban sampai lupa berpikir logis.”Arman mengangguk pelan. “Menantu keluarga







