LOGINLangkah Arga terasa sangat berat saat ia melangkah keluar dari pintu perpustakaan itu. Udara sore yang biasanya hangat kini terasa jauh lebih dingin seakan membeku, seolah seluruh bangunan kampus kehilangan denyutnya. Cahaya matahari menembus jendela panjang koridor fakultas, menimbulkan garis-garis terang yang terputus oleh bayangan rak buku dan pilar beton.
Tangannya gemetar. Napasnya tersengal. Dunia di sekitarnya seperti baru saja menelan sesuatu yang tak seharusnya aLangkah kaki mereka terdengar semakin cepat, tak lagi berusaha disamarkan. Tidak ada gunanya. Teriakan dari dalam bangunan itu mulai menggema keluar, memecah ketenangan wilayah utara yang sebelumnya hanya terasa sunyi dengan cara yang aneh—sunyi yang hidup, seolah sesuatu selalu mengawasi dari balik bayangan. Kini kesunyian itu runtuh, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih nyata. Perburuan. Arga dan lainnya kembali lari. “Lebih cepat,” suara Corday terdengar dari depan, tetap tenang, nyaris tanpa emosi. Nada itu justru terasa tidak wajar. Dalam situasi seperti ini, ketenangan seperti itu bukan menenangkan—melainkan membuat segalanya terasa lebih berbahaya. Arga menggertakkan giginya, memaksa tubuhnya terus bergerak meskipun napasnya mulai berat dan dadanya masih menyisakan rasa nyeri dari benturan sebelumnya. Tangannya menggenggam erat tangan Hua, memastikan anak itu tidak tertinggal satu langkah pun. Hua tidak berkata apa-apa. Namun genggamannya—kecil, dingin, dan
Tanah yang dipijak Arga terasa lebih dingin dari yang ia bayangkan. Bukan karena malam—matahari masih menggantung di langit, meski cahayanya mulai condong dan melemah—melainkan karena tempat ini seolah tidak pernah benar-benar mengenal kehangatan. Udara di dalamnya berat, lembap, dan diam… terlalu diam untuk tempat yang dipenuhi manusia. Arga menahan napas, merendahkan tubuhnya di balik bayangan dinding batu yang kasar. Dari posisi itu, suara-suara di dalam bangunan mulai terdengar lebih jelas. Rintihan pelan, hampir tak terdengar. Bisikan lemah yang terputus-putus. Dan gesekan rantai yang berulang, monoton, seolah menjadi irama yang tak pernah berhenti. Setiap suara itu menusuk kesadarannya perlahan, seperti jarum yang ditusukkan satu per satu tanpa terburu-buru. Ia memaksa dirinya tetap fokus. Tubuhnya bergerak perlahan, terkontrol, mengikuti apa yang pernah diajarkan Hendrickson—cara memindahkan berat badan tanpa suara, cara mengatur napas agar tidak terdengar, cara menya
Kabut tipis yang semula menggantung di pinggir kota telah menghilang ketika Arga kembali menapakkan kaki di wilayah perdagangan Evernight. Namun, suasana di dalam kota tidak pernah benar-benar terasa terang. Cahaya matahari yang masuk di antara bangunan batu justru terpecah menjadi bayangan-bayangan panjang yang membuat setiap sudut terasa menyimpan sesuatu. Langkah Arga melambat saat ia memasuki lorong yang ditunjukkan oleh Ronny sebelumnya—tempat seorang tabib tinggal. Lorong itu sempit, lembap, dan dipenuhi bau herbal yang samar bercampur dengan bau air tergenang. Tidak ada tanda yang jelas bahwa seseorang yang bisa menyembuhkan orang tinggal di sini. Justru sebaliknya, tempat ini terasa seperti tempat di mana harapan perlahan memudar. Di ujung lorong, sebuah pintu kayu tua berdiri setengah terbuka. Ronny berhenti di depan pintu itu, menoleh ke arah Arga. “Ini tempatnya.” Arga mengangguk pelan, lalu mengetuk pintu dengan hati-hati. Tok. Tok. Tidak ada jawaban. Ia mendo
Langkah kaki mereka semakin menjauh dari keramaian pasar, meninggalkan suara tawar-menawar yang riuh menjadi gema samar di belakang. Jalanan yang dilalui Arga dan Ladron—atau Ronny—perlahan berubah. Batu-batu yang tadi tersusun rapi kini retak dan tak beraturan. Bangunan-bangunan tinggi digantikan oleh rumah-rumah sempit dari kayu lapuk dan dinding yang mulai menghitam oleh waktu. Udara di sini berbeda. Lebih lembap. Lebih berat. Arga menarik napas pelan, mencium aroma campuran antara tanah basah, asap tipis, dan sesuatu yang asing—seperti obat yang terlalu lama disimpan. Ronny berjalan cepat di depan, langkahnya ringan tapi terburu-buru. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan Arga masih mengikutinya. “Kau tidak harus ikut,” kata Ronny tiba-tiba tanpa menatapnya. Arga menggeleng, meski Ronny tidak melihat. “Aku sudah sejauh ini.” Ronny tidak menjawab lagi. Lorong yang mereka masuki semakin sempit. Bahkan gerobak tidak akan muat melewati jalan itu. Dinding-dinding r
Sebelum menurunkan karung dagangan, Arga berhenti sejenak. Ia meraih jubah hitam dari dalam gerobak, kainnya dingin dan berat di tangan. Tudung ia tarik perlahan menutupi wajah, menyisakan bayangan di atas mata. Ia memastikan lipatan kain jatuh tidak simetris—terlalu rapi justru berbahaya. Baru setelah itu ia berjongkok, menata herbal dan kain di atas papan kayu, bergerak seperti pedagang lain, tapi dengan kesadaran penuh bahwa satu kesalahan kecil bisa membuatnya diperhatikan prajurit Kaelius. Sebelumnya Arga telah diberitahu oleh Hendrickson bahwa saat didepan gerbang, penjaganya bukanlah bagian dari prajurit kaelius. dan disitu Arga tidak boleh pakai jubah saat masuk karena pendatang harus memperlihatkan wajahnya saat masuk. Jubah hitam itu bukan sekadar penyamaran. Bukan karena bahannya, melainkan karena maknanya. Ia menarik tudung sedikit lebih dalam, memastikan bayangan menutup wajahnya. Di dunia ini, wajah yang salah bisa berarti kematian. Prajurit Kaelius bukan sekadar apar
Perjalanan menuju pasar Evernight dimulai sejak fajar belum sepenuhnya pecah. Kabut tipis masih menggantung rendah di antara pepohonan ketika Arga mengendalikan kuda tua yang menarik gerobak kayu di belakangnya. Roda berdecit pelan setiap kali melewati batu atau akar yang mencuat dari tanah. Di dalam gerobak, karung-karung kecil berisi hasil dagangan Hendrickson tersusun rapi—herbal kering, kain kasar, alat logam sederhana. Barang-barang biasa. Terlalu biasa untuk menarik perhatian. Ia mengenakan pakaian yang sudah ia sesuaikan semampunya: kaus lengan pendek yang ia kenakan saat pertama kali kesini dibuat berwarna kusam, celana kain tebal, sepatu kulit sederhana. Tapi tetap saja ada yang terasa janggal. Potongannya sedikit terlalu rapi. Jahitannya terlalu simetris. Bagi mata orang-orang Evernight, itu cukup untuk menimbulkan kecurigaan. Ia menghembuskan napas perlahan, mencoba mengingat ulang semua nasihat Hendrickson. Hendrickson tidak bisa ikut kali ini karena dia ada kesibukan
Hari-hari setelah Arga tiba di rumah Hendrickson mengalir dengan ritme yang asing baginya, namun perlahan terasa masuk akal. Rumah itu berdiri di pinggir desa terpencil, cukup besar untuk ukuran pedesaan, terbuat dari kayu tua dan batu yang disusun rapi. Di sekelilingnya, ladang hijau terbentang, d
Rumah ini tampak jauh lebih besar ketika dilihat dari dalam. Letaknya berada di sisi desa terpencil yang berbatasan langsung dengan hutan. Bangunannya terbuat dari kayu tua berwarna gelap, dengan jendela-jendela kecil dan atap yang sedikit miring seperti menahan beban usia. Meski sederhana, ada a
Di rumah kayu gelap itu, suasana makin pekat seiring cerita Hendrickson mengalir. Angin dari celah dinding membawa aroma tanah basah dan rumput liar, seakan dunia ingin ikut mendengarkan. Arga duduk diam, tangannya menggenggam cangkir teh yang sudah mendingin. Saki memperhatikan setiap perubahan
Ia berdiri di tengah ruangan gelap itu, seolah tubuhnya bebas-tapi pikirannya masih terpenjara. Semua luka, semua rasa kehilangan, semua suara yang membekas dalam kepalanya tidak benar-benar pergi. Ia hanya berdamai dengan kenyataan bahwa sebagian dari dirinya telah mati sejak lama.







