Share

Bab 05

Author: Bawah Tanah
last update Last Updated: 2025-10-16 13:38:42

"Ya Mak, ayo aku pun ingin belajar sini berasnya aku cuci Mak, tapi kasih tahu bagaimana cara mencucinya."

Ibu Sarti mengangguk langsung menyerahkan beras tersebut ke Parman, kemudian Parman cuci di baskom kecil dengan arahan ibunya. Setelah itu, Parman segera menyalakan api di tungku tak lama beras pun sudah mulai dimasak, malam itu betul-betul Parman belajar tata cara masak dari awal hingga akhir.

5 menit kemudian mereka telah makan bersama walaupun hanya dengan ikan asin dan timun, namun tidak menghilangkan rasa nikmat yang mereka rasakan dan tentu saja, kini dibarengi rasa bahagia yang luar biasa tidak seperti sebelumnya, ibu Sarti selalu dibuat pusing oleh Parman.

Keesokan harinya Parman segera membeli kail pancing bersama benangnya, kalau joran ya buat sendiri dari bambu. begitu selesai segera pamitan terhadap ibunya ingin memulai pekerjaan yang ingin dijalaninya setiap harinya sesuai janjinya terhadap ibunya.

"Silakan Mak doakan, semoga kamu berhasil walaupun dengan cara kecil seperti ini, tapi kan tidak menutup kemungkinan jalan kecil inilah yang akan membuat kamu berhasil menggapai cita-citamu yang ingin kaya raya." Parman mengangguk.

"Sebab yang namanya pekerjaan itu walaupun terlihat besar keuntungannya gede, belum tentu bisa membuat kita kaya, tapi dengan jalan sekecil apapun contohnya kamu memancing ikan dikali, namun kalau yang maha kuasa telah mentakdirkan kamu harus kaya raya, mau apapun caranya pasti akan terjadi." Tangan keriput wanita setengah baya itu menepuk-nepuk pundak Putra kesayangan.

"Jadinya, jangan putus asa lakukan-lakukan dan lakukan terus apapun keahlianmu."

"Baik Mak, kalau begitu aku permisi, mudah-mudahan hari ini aku berhasil mendapatkan ikan banyak."

"Amin... Doa Mak selalu menyertaimu Parman."

Sesudah itu Parman segera melangkahkan kaki keluar dari rumah panggungnya menuju sungai besar yang ada di daerah kampung tersebut. sepanjang perjalanan Parman selalu berpikir mulai dari mana dan seperti apa nanti di sungai.

"Huh..." Menarik nafas dalam-dalam. "Mudah-mudahan, jalan ini yang terbaik untukku bisa membuat aku menggapai keinginan seperti kata Mak, mau seperti apapun pekerjaan harus aku jalankan." Gumamnya lirih penuh pengharapan.

Parman melangkah mantap menyusuri jalan setapak yang berkelok di pinggir kampungnya, tangan kanannya erat menggenggam joran pancing hasil buatannya sendiri dari bambu pilihan.

Setiap langkahnya penuh harap, membawa kenangan masa kecil yang selalu dihabiskan di tepi sungai besar itu walaupun hanya sekedar main. Sesampainya di bibir air, matanya menelusuri arus yang mengalir pelan, mencari sudut yang menurutnya paling berpotensi menyimpan ikan.

Ia berjalan perlahan ke arah hulu, melewati bebatuan yang licin dan akar-akar pohon yang menjuntai ke air. Setelah menemukan sebuah cekungan yang tenang, Parman segera membongkar kantong kecil di pinggangnya untuk mencari cacing. Jari-jarinya terampil menggenggam cacing merah yang masih bergerak, lalu memasangnya dengan hati-hati di kail pancing.

Duduk bersila di batu besar, ia melemparkan kailnya ke air dengan harapan besar. Waktu berlalu, namun permukaan sungai tetap tenang tanpa riak tanda ikan menyambar umpan. Wajah Parman mulai menampakkan kerut kebingungan, matanya terus memandang ke titik yang sama, berharap ada perubahan.

Namun, sampai senja mulai merunduk, belum ada satu pun ikan yang diperolehnya. Heningnya suasana sungai seolah menggambarkan keteguhan hatinya yang tak mudah menyerah.

"Aduh hari sudah mulai sore..." Telapak tangannya menepuk jidat. "Kenapa belum juga ada satupun ikan yang menyangkut ke kail sedangkan umpan terus dimakan? Aneh ini tempat apaan sesungguhnya, kalau dari gerakan airnya sepertinya terlihat banyak ikan, tapi tidak ada satupun yang aku dapatkan?"

Akhirnya setelah lama duduk Parman berdiri di tepi sungai itu, tatapannya kosong menatap langit jingga yang mulai merona, pertanda senja segera menyapa. Angin sore menyapu wajahnya yang lelah, namun hatinya lebih berat dari beban di pundak.

Ia tahu, pulang dengan tangan kosong akan membuat Mak-nya kecewa, bahkan mungkin sedih. Harapannya menangkap ikan hari itu begitu besar, untuk membeli beras dan lauk agar mereka tidak kelaparan malam ini. Namun, ikan tak satu pun menyambar kailnya.

Matanya terpaku pada sebuah pohon besar di seberang sungai, ranting-rantingnya merambat ke langit, seakan menantang waktu yang terus berjalan. Parman seolah menatap sesuatu yang tak kasat mata, harapan yang tak kunjung datang, atau mungkin mimpi yang mulai pudar.

Nafasnya berat, dan jari-jarinya menggenggam benang pancing dengan kaku, seolah itu satu-satunya pegangan di tengah kebingungan dan keputusasaan yang menggerogoti hatinya. Sesekali ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, namun dalam hatinya ada gelombang kegelisahan yang tak bisa dihalau.

Parman kembali duduk terpaku di atas batu besar di tepi sungai itu, wajahnya memerah akibat panas terik dan rasa frustrasi yang menggunung. Dari pagi hingga sore, kail pancingnya tak satu pun disentuh ikan, padahal umpan cacing yang ia bawa hampir habis.

Dengan napas terengah, ia akhirnya melepaskan suara lantang yang pecah di udara: "Siapapun yang bisa menolongku, kalau wanita akan aku nikahi, kalau laki-laki akan ku jadikan saudara baik!" Teriakannya menggema, bercampur dengan gemuruh deras air sungai yang mengalir tak henti.

Setelah berulang kali memekik, Parman terdiam, menunduk dan menatap benang pancing yang tetap diam, seolah mengejek kesabarannya.

Matanya menyiratkan keputusasaan, namun di balik itu ada bara tekad yang tak kunjung padam. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gelombang kemarahan yang menggerogoti hatinya, lalu kembali menunggu, berharap keajaiban datang sebelum cacing terakhir habis termakan waktu.

Parman menghela napas panjang, tubuhnya terkulai lemas di atas batu besar yang dingin. Matanya terpejam, menahan lelah dan kecewa karena hari hampir gelap, namun kailnya belum juga mendapat satu ekor ikan pun. Angin sungai yang sepoi-sepoi menyapu rambutnya yang mulai basah oleh keringat, seolah ingin menghibur kegagalannya.

Di seberang sungai, tersembunyi di balik dedaunan rimbun pohon besar, entah dari mana munculnya tiba-tiba ada seorang wanita. Sosok wanita itu duduk tenang di atas cabang yang kokoh.

Bajunya putih seperti salju rambutnya hitam tergerai diterpa angin sore, dan matanya merah menyala, menyiratkan aura misterius yang sulit dijelaskan. Wajahnya cantik, namun ada kesan dingin yang menusuk setiap kali tatapannya menyorot ke arah Parman.

Tiba-tiba, suara lembut yang tak seperti manusia biasa terdengar, mengalun halus dari arah wanita itu, memecah kesunyian sore itu, “Angkat jorannya...” Bisikan itu seperti melayang di udara, penuh pesona, namun juga membawa sesuatu yang ganjil.

Parman yang masih terpejam, tak menyadari ada suara asing yang memanggilnya. Dia hanya merasakan hawa aneh yang merayap di kulitnya, membuat tubuhnya sedikit tegak, namun matanya tetap terpejam, belum siap menerima kenyataan hari itu pulang dengan tangan hampa.

"Mas... Jangan malah diam aja, segera angkat jorannya, itu ikan udah banyak berkumpul."

Kali ini telinga Parman mendengar dengan jelas suara wanita itu, sontak membuka matanya dan bangun dari tidurnya, ia menggilirkan tatapannya ke segala arah.

"Suara siapa yang menyuruhku mengangkat joran?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 27

    Rani masih berdiri di depan jendela kamar mewahnya saat Parman menyapanya dengan pertanyaan tersebut, ia segera mengalihkan tatapannya pada Suganda setelah cukup lama memikirkan pemikiran yang tentunya hanya dia yang tahu, dari mulai ramangnya malam yang perlahan berganti pagi hari yang cerah.Perlahan inar pagi menyelinap lembut melalui tirai tipis, menerangi wajahnya yang halus dan berseri. Rambut hitamnya yang tergerai rapi menambah kesan anggun pada sosoknya. Matanya kemudian melirik ke arah Parman, suaminya, yang sudah bangun dari tidur, duduk di tepi tempat tidur dengan ekspresi sedikit terkejut namun hangat.Tanpa kata, Rani tersenyum lembut, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Perlahan ia melangkah mendekat, memeluk tubuh suaminya yang masih dingin, selimut yang semula menutupi tubuh Parman saat itu masih terbalut pada tubuh Rani sendiri.“Aku tidak kenapa-napa, sayang. Tidak usah khawatir,” ucapnya lembut, suaranya menenangkan.Parman tanpa ragu menarik Ran

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 26

    Karto dan Darto melangkah tertatih, napas mereka memburu namun mata tak berani berpaling dari sosok kakek tua yang berjalan di depan. Obor kecil di tangan mereka bergetar, cahayanya menari-nari di antara pepohonan lebat hutan Cisodong yang sunyi dan dingin. Suara dedaunan yang bergesekan dan ranting patah sesekali mengiringi langkah mereka, menambah berat suasana yang penuh ketegangan.Setelah perjalanan yang terasa seperti berjam-jam, bayangan gubuk tua mulai muncul di antara rimbunnya pohon-pohon besar. Atapnya reyot, dindingnya rapuh, namun aura mistis yang menyelimutinya membuat Karto dan Darto nyaris lupa akan rasa takut mereka. Kakek itu menoleh, matanya menyiratkan ketegasan yang tak bisa ditawar.“Masuklah, jangan takut,” suaranya serak namun berwibawa, memerintah tanpa ruang untuk protes.Keduanya masuk ke dalam gubuk yang remang-remang. Bau dupa dan ramuan herbal menusuk hidung, sementara rak-rak kayu penuh sesak dengan botol-botol kaca berisi cairan berwarna aneh dan tulang

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 25

    Darto memutar tubuhnya pelan, obor yang digenggamnya mengeluarkan cahaya temaram yang menari-nari di antara pepohonan rimbun. Matanya yang tajam berusaha menangkap bayangan apapun di balik gelapnya hutan, namun yang terlihat hanya siluet pohon besar menjulang tinggi, seperti penjaga sunyi yang mengawasi malam itu.Tiba-tiba, kembali telinga mereka mendengar jelas suara benda jatuh bergema keras, membuat telinga Darto berdenyut kencang. Napasnya memburu, jantungnya berdetak tak menentu. Di sisi lain, Karto berdiri diam, bibirnya terkunci rapat, tanpa sepatah kata pun keluar, hanya sesekali matanya menyapu kegelapan dengan waspada.Ketika suara benda jatuh itu kembali terdengar, kali ini disusul auman harimau yang menggetarkan, keduanya seketika membeku. Getaran ketakutan merayap di seluruh tubuh mereka; keringat dingin membasahi punggung.Tidak ada jalan keluar, mereka terperangkap di tengah hutan lebat, dikelilingi bayang-bayang ancaman. Darto dan Karto saling membelakangi, posisi yan

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 24

    Kamar mewah itu dipenuhi aroma kayu jati dan wangi parfum mahal yang samar tercium di udara hangat. Lampu-lampu temaram memantulkan cahaya lembut di dinding emas, menciptakan suasana intim yang membalut Cinta Parman dan Rani. Tubuh mereka yang basah oleh keringat saling merapat, bergantian dalam gerakan penuh gairah yang tak kenal lelah. Napas Rani tercekat, matanya yang berkilau menatap dalam ke arah Parman dengan senyum penuh kepuasan. “Aku benar-benar puas, Mas. Terima kasih ya, sayang,” bisiknya lirih, suaranya bergetar oleh kebahagiaan yang tulus. “Aku bahagia menjadi istrimu.” Parman membalas dengan senyum hangat, tangannya lembut menyisir rambut hitam Rani yang sedikit berantakan. Ia menundukkan kepala, mencium keningnya yang halus, lalu merambat ke pipi yang memerah, dan akhirnya di bibir merah itu, penuh kelembutan dan hasrat yang sama-sama membara. Bibir mereka menyatu kembali, seolah ingin menyampaikan lebih dari kata-kata—janji, cinta, dan kehangatan yang tak terucapkan.

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 23

    Darto dan Karto melangkah menyusuri jalan semakin jauh dari warung tersebut, ingin menuju kampung Cisodong walau jaraknya masih jauh. Matahari yang tadinya cerah perlahan merunduk, menyisakan semburat jingga yang merayap di balik pepohonan. Suara desir angin dan kicau burung berganti dengan keheningan yang menekan, membuat langkah mereka semakin berat terasa.“Masih jauh, ya?” Tanya Karto, suaranya serak, menyembunyikan kelelahan yang mulai menggerogoti semangatnya.Darto hanya mengangguk pelan, tatapannya tetap fokus menatap jalur di depan. Setelah beberapa menit hening, Karto akhirnya berhenti di pinggir jalan, membelalakkan matanya pada Darto. “Kan, tadi si bapak warung sudah berkata kalau jalan kaki memakan 7 hari 7 malam mau bagaimana ceritanya kita baru berjalan sebentar kamu bertanya masih jauh segala?" Ucap Karto sambil menggeleng-gelengkan kepala. Lanjut Darto. "Kita ini mau terus jalan kaki sampai kapan? Nggak mau sewa kendaraan atau gimana?”Karto menoleh, wajahnya memanca

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 22

    Kamar mewah itu dipenuhi aroma harum parfum dan desahan lembut yang saling bersahutan. Parman dan Rani bergerak lincah di atas ranjang, tangan mereka tak henti mengeksplorasi setiap lekuk tubuh, mencari titik-titik yang mampu membangkitkan gairah. Parman menarik Rani dengan lembut, tubuhnya bergeser ke atas, lalu mereka bergantian mengubah posisi, seolah menari dalam irama hasrat yang membara. Wajah Rani memerah, matanya terkadang tertutup rapat, terkadang menatap dalam ke mata suaminya, memancarkan kebahagiaan dan kerinduan yang terpendam lama."Kamu hebat banget sayang, tenagamu aku suka, seolah tidak ada lelahnya punyamu terus berdiri kokoh... Aku suka Mas teruskan... Ahhhh... Sayang..." Kembali bisikan lembut dibarengi desahan keluar dari mulut wanita cantik itu, sambil mengikuti irama goyangan pinggul Ridwan."Tentunya dong, bagaimana aku tidak bersemangat terus, punyamu sempit dan enak banget sayang... Aku benar-benar bahagia memiliki kamu..." Balas Ridwan sambil membalikkan tu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status