공유

Bab 06

작가: Bawah Tanah
last update 최신 업데이트: 2025-12-12 22:07:27

Parman berdiri di tepi sungai dengan tubuh tegap, matanya menyapu sekeliling mencari sumber suara yang baru saja didengarnya. Suara air mengalir deras bergemuruh, bercampur desiran angin yang tiba-tiba membesar, membuat suasana semakin muram menjelang magrib. Tangannya erat menggenggam joran pancing, namun hingga saat itu belum ada tanda-tanda ikan menyambar. Hati Parman mulai gelisah, raut wajahnya menampakkan kelelahan dan sedikit kecewa.

Tiba-tiba, kembali lagi terdengar suara lembut seorang wanita menyapa telinganya, mengalun seolah dari balik semilir angin, "Angkat pancingmu..." Parman terpaku, matanya membelalak mencari sosok yang bicara. Namun di sekitar hanya ada riuh air dan bisikan angin, tak ada jejak manusia. Ia menelan ludah, campuran antara ragu dan penasaran menguasai hatinya.

Dengan langkah mantap, Parman menarik tali pancingnya perlahan. Ketegangan mengalir di setiap ototnya saat tali itu menegang berat, memberi tahu bahwa ada sesuatu yang besar di ujung sana. Perlahan, seekor ikan tawes besar muncul ke permukaan, siripnya berkilauan terkena sinar remang senja.

Wajah Parman berubah; awalnya bingung, kini bercampur antara takjub dan lega. Senyum tipis terbentuk di bibirnya, seolah suara misterius itu adalah berkah yang mengantarkan keberuntungan di saat yang hampir putus asa.

"Ya ampun... Apakah aku saat ini bukan sedang berada di alam mimpi?" Gumamnya sambil menatap ikan antara percaya dan tidak, bahkan tangan kirinya menepuk-nepuk wajah ingin memastikan, akankah ia merasa sakit.

"Aduh benar ini bukan mimpi. Tapi siapa sesungguhnya dia, suara wanita itu yang aku dengar suara siapa?"

Parman dengan hati berdebar memasukkan ikan tawes sebesar telapak tangannya ke dalam plastik bening yang sudah ia siapkan. Tangan kirinya masih menggenggam joran yang belum sempat ia turunkan kembali ke permukaan air sungai yang tenang.

Suaranya tiba-tiba pecah, berteriak nyaring, "Terima kasih! Siapa pun kau yang barusan menyuruh aku angkat joran, tunjukkan dirimu!" Matanya menatap ke sekeliling, berharap menemukan sosok yang memberi petunjuk itu.

Dengan penuh percaya diri, Parman menambahkan janjinya yang telah diikrarkan sebelumnya, walau tadinya hanya dikarenakan frustasi. Namun, dikarenakan saat ini terbukti dia mendapatkan ikan, apapun yang terjadi ia akan menepati janjinya.

"Kalau kau wanita, aku janji akan menikahimu, aku ikrarkan itu!" Namun, yang terdengar hanyalah gemerisik daun dan debur air yang terus mengalir. Sunyi menyelimuti, tak ada balasan sedikit pun.

Perlahan, senyum di wajah Parman menghilang, digantikan oleh keraguan dan keheningan yang menusuk hati. Ia termenung, merasakan betapa harapan yang tiba-tiba muncul itu lenyap begitu saja, meninggalkan sepi yang lebih dalam daripada air sungai di bawahnya.

"Aneh benar-benar aneh. Tadi jelas-jelas aku dengar suara seorang wanita yang menyuruhku dua kali untuk mengangkat joran ini, tapi mengapa saat ini tak terdengar lagi? Atau jangan-jangan aku hanya berhalusinasi ya?" Pertanyaan semacam itu terus bergolak dalam batinnya, sehingga tangannya belum kembali bergerak memasang umpan dan memancing lagi.

Cukup lama Parman termenung memikirkan masalah itu, namun akhirnya dia sadar tidak mungkin hanya diam saja tanpa melakukan apapun, akhirnya segera kembali memasang umpan dan melemparkan benang pancingnya kembali ke air, walau hatinya masih penuh tanda tanya. Benarkah, dia hanya berhalusinasi mendengar suara wanita.

Parman menatap kail yang baru saja ia lemparkan ke dalam arus sungai dengan penuh harap. Tak lama, kail itu tersambar dengan cepat, dan tarikan kuat langsung membuat tubuhnya terkejut. "Astaga, ini ikan apa ini?" Gumamnya sambil tertawa lepas.

Tarik-menarik dengan ikan besar yang berkilauan di permukaan air membuat hatinya melonjak penuh semangat. Wajahnya memerah, tangan dan kakinya bergerak lincah menahan tarikan, seolah waktu seketika berhenti dari segala kekhawatiran yang menghimpitnya sejak siang.

Gelombang demi gelombang ikan-ikan besar muncul, membentuk riak-riak menari di permukaan. Parman yang biasanya sabar mulai kehilangan rasa lelahnya, matanya berbinar melihat satu per satu ikan itu berhasil ia tarik ke tepi sungai. Suara lembut seorang wanita yang memanggil dari kejauhan menembus kesunyian senja saat itu kembali seolah-olah masih didengar olehnya.

"Mas, angkat jorannya, sudah banyak ikan yang berkumpul di sana!" Itulah suara yang terus terngiang dalam benaknya.

Parman saat itu benar-benar tersenyum lebar, nampaknya tidak salah suara yang didengar olehnya itu yang menyebutkan ikan tidak berkumpul. Yakin saat itu ribuan ikan tampak betul-betul sudah berkumpul seperti menunggu saat untuk dimakan.

Angin senja membawa aroma tanah basah dan segarnya air sungai, mengiringi kebahagiaan sederhana yang memenuhi dadanya. Dengan hati penuh syukur dan tangan yang mulai lelah, Parman perlahan mengangkat joran, membiarkan dirinya tenggelam dalam keindahan momen itu.

Tanpa disadari oleh para pemain yang tengah sibuk memanen ikan. Di atas dahan pohon besar yang menjulang di tepi sungai seberang Parman, sosok wanita cantik itu masih duduk dahan dengan anggun. Rambut hitamnya yang panjang tergerai tertiup angin sore, wajahnya memancarkan senyum lebar penuh harap yang tak terlihat oleh Parman.

Matanya menatap tajam ke arah lelaki itu yang tengah asyik menarik ikan tawes dan ikan bawal dengan joran di tangannya, tak sadar bahwa dirinya sedang diawasi.

Dengan suara pelan yang nyaris seperti bisikan angin, wanita itu berkata pada dirinya sendiri, “Sebentar lagi, jika sudah waktunya tiba, kita akan bersatu, Mas Parman.” Ucapannya penuh keyakinan, sekaligus kerinduan yang mendalam. Sesaat setelah kalimat itu terucap, tubuhnya bergetar halus, kemudian perlahan-lahan menghilang tanpa jejak, seperti kabut yang tersapu angin pagi.

Di bawah sana, Parman masih sibuk menarik ikan, wajahnya penuh fokus dan tanpa curiga sedikit pun. Joran di tangannya bergoyang mengikuti gerakan ikan yang melawan, sementara sosok wanita itu telah lenyap dari pandangan, meninggalkan senyum dan janji yang menggantung di udara sunyi.

"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha." Parman tertawa terbahak-bahak saking gembiranya. "Malam ini kita akan makan besar Mak, selain aku akan dapat membeli beras banyak, kita pun akan makan dengan ikan tawes dan bawal yang aku tangkap." Ucapnya penuh semangat.

Parman terus menarik kail pancingnya tanpa lelah, satu per satu ikan bawal dan tawes seukuran telapak tangan dewasa melompat ke dalam kantong plastik yang kian penuh beratnya. Tangan dan lengannya mulai keram, tapi matanya masih berbinar penuh semangat. Dua kantong besar sudah terisi penuh, baru ia angkat joran dan menarik napas panjang. Suasana mulai gelap, langit berwarna jingga keunguan, namun Parman tak bergeming.

Dengan suara lantang yang menggema di tepi sungai, ia berteriak, “Siapapun yang sudah menolongku tadi, terima kasih banyak! Kamu yang bilang di sini banyak ikan, benar-benar membuat hariku jadi beruntung!” Suaranya dipenuhi rasa syukur yang tulus, diselingi senyum hangat yang terpancar dari wajahnya yang berkerut karena lelah.

Matanya menatap ke arah semak-semak di seberang, seolah mencari sosok yang belum terlihat. “Kalau kamu memang seorang wanita, siapapun kamu, aku pasti akan menikahimu,” ucapnya dengan nada serius tapi penuh harapan, seakan kata-katanya bukan hanya ungkapan biasa, melainkan janji yang mengikat. Angin malam menyapu, membawa aroma sungai dan harapan baru yang bersemayam dalam hati Parman.

Sejenak belum beranjak pergi walau sudah siap ingin pulang untuk segera menjual ikan-ikan tersebut dan akan membeli beras, matanya tetap memutar berusaha mencari sosok yang diharapkan tiba-tiba muncul. Namun tetap keadaannya sepi hanya suara gemuruh air dan hewan malam yang mulai terkenal.

"Huh... Sayang banget tidak ada siapapun ternyata." Kepalanya menggeleng-geleng. "Sekarang lebih baik aku pulang, Mak, mulai detik ini dan seterusnya giliran aku yang membahagiakanmu. Terima kasih atas doa dan kasih sayangmu, Mak." Ucapnya lirih sambil melangkah menuju kampung, membawa dua kantong plastik besar yang terisi penuh ikan tawes dan bawal.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 27

    Rani masih berdiri di depan jendela kamar mewahnya saat Parman menyapanya dengan pertanyaan tersebut, ia segera mengalihkan tatapannya pada Suganda setelah cukup lama memikirkan pemikiran yang tentunya hanya dia yang tahu, dari mulai ramangnya malam yang perlahan berganti pagi hari yang cerah.Perlahan inar pagi menyelinap lembut melalui tirai tipis, menerangi wajahnya yang halus dan berseri. Rambut hitamnya yang tergerai rapi menambah kesan anggun pada sosoknya. Matanya kemudian melirik ke arah Parman, suaminya, yang sudah bangun dari tidur, duduk di tepi tempat tidur dengan ekspresi sedikit terkejut namun hangat.Tanpa kata, Rani tersenyum lembut, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Perlahan ia melangkah mendekat, memeluk tubuh suaminya yang masih dingin, selimut yang semula menutupi tubuh Parman saat itu masih terbalut pada tubuh Rani sendiri.“Aku tidak kenapa-napa, sayang. Tidak usah khawatir,” ucapnya lembut, suaranya menenangkan.Parman tanpa ragu menarik Ran

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 26

    Karto dan Darto melangkah tertatih, napas mereka memburu namun mata tak berani berpaling dari sosok kakek tua yang berjalan di depan. Obor kecil di tangan mereka bergetar, cahayanya menari-nari di antara pepohonan lebat hutan Cisodong yang sunyi dan dingin. Suara dedaunan yang bergesekan dan ranting patah sesekali mengiringi langkah mereka, menambah berat suasana yang penuh ketegangan.Setelah perjalanan yang terasa seperti berjam-jam, bayangan gubuk tua mulai muncul di antara rimbunnya pohon-pohon besar. Atapnya reyot, dindingnya rapuh, namun aura mistis yang menyelimutinya membuat Karto dan Darto nyaris lupa akan rasa takut mereka. Kakek itu menoleh, matanya menyiratkan ketegasan yang tak bisa ditawar.“Masuklah, jangan takut,” suaranya serak namun berwibawa, memerintah tanpa ruang untuk protes.Keduanya masuk ke dalam gubuk yang remang-remang. Bau dupa dan ramuan herbal menusuk hidung, sementara rak-rak kayu penuh sesak dengan botol-botol kaca berisi cairan berwarna aneh dan tulang

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 25

    Darto memutar tubuhnya pelan, obor yang digenggamnya mengeluarkan cahaya temaram yang menari-nari di antara pepohonan rimbun. Matanya yang tajam berusaha menangkap bayangan apapun di balik gelapnya hutan, namun yang terlihat hanya siluet pohon besar menjulang tinggi, seperti penjaga sunyi yang mengawasi malam itu.Tiba-tiba, kembali telinga mereka mendengar jelas suara benda jatuh bergema keras, membuat telinga Darto berdenyut kencang. Napasnya memburu, jantungnya berdetak tak menentu. Di sisi lain, Karto berdiri diam, bibirnya terkunci rapat, tanpa sepatah kata pun keluar, hanya sesekali matanya menyapu kegelapan dengan waspada.Ketika suara benda jatuh itu kembali terdengar, kali ini disusul auman harimau yang menggetarkan, keduanya seketika membeku. Getaran ketakutan merayap di seluruh tubuh mereka; keringat dingin membasahi punggung.Tidak ada jalan keluar, mereka terperangkap di tengah hutan lebat, dikelilingi bayang-bayang ancaman. Darto dan Karto saling membelakangi, posisi yan

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 24

    Kamar mewah itu dipenuhi aroma kayu jati dan wangi parfum mahal yang samar tercium di udara hangat. Lampu-lampu temaram memantulkan cahaya lembut di dinding emas, menciptakan suasana intim yang membalut Cinta Parman dan Rani. Tubuh mereka yang basah oleh keringat saling merapat, bergantian dalam gerakan penuh gairah yang tak kenal lelah. Napas Rani tercekat, matanya yang berkilau menatap dalam ke arah Parman dengan senyum penuh kepuasan. “Aku benar-benar puas, Mas. Terima kasih ya, sayang,” bisiknya lirih, suaranya bergetar oleh kebahagiaan yang tulus. “Aku bahagia menjadi istrimu.” Parman membalas dengan senyum hangat, tangannya lembut menyisir rambut hitam Rani yang sedikit berantakan. Ia menundukkan kepala, mencium keningnya yang halus, lalu merambat ke pipi yang memerah, dan akhirnya di bibir merah itu, penuh kelembutan dan hasrat yang sama-sama membara. Bibir mereka menyatu kembali, seolah ingin menyampaikan lebih dari kata-kata—janji, cinta, dan kehangatan yang tak terucapkan.

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 23

    Darto dan Karto melangkah menyusuri jalan semakin jauh dari warung tersebut, ingin menuju kampung Cisodong walau jaraknya masih jauh. Matahari yang tadinya cerah perlahan merunduk, menyisakan semburat jingga yang merayap di balik pepohonan. Suara desir angin dan kicau burung berganti dengan keheningan yang menekan, membuat langkah mereka semakin berat terasa.“Masih jauh, ya?” Tanya Karto, suaranya serak, menyembunyikan kelelahan yang mulai menggerogoti semangatnya.Darto hanya mengangguk pelan, tatapannya tetap fokus menatap jalur di depan. Setelah beberapa menit hening, Karto akhirnya berhenti di pinggir jalan, membelalakkan matanya pada Darto. “Kan, tadi si bapak warung sudah berkata kalau jalan kaki memakan 7 hari 7 malam mau bagaimana ceritanya kita baru berjalan sebentar kamu bertanya masih jauh segala?" Ucap Karto sambil menggeleng-gelengkan kepala. Lanjut Darto. "Kita ini mau terus jalan kaki sampai kapan? Nggak mau sewa kendaraan atau gimana?”Karto menoleh, wajahnya memanca

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 22

    Kamar mewah itu dipenuhi aroma harum parfum dan desahan lembut yang saling bersahutan. Parman dan Rani bergerak lincah di atas ranjang, tangan mereka tak henti mengeksplorasi setiap lekuk tubuh, mencari titik-titik yang mampu membangkitkan gairah. Parman menarik Rani dengan lembut, tubuhnya bergeser ke atas, lalu mereka bergantian mengubah posisi, seolah menari dalam irama hasrat yang membara. Wajah Rani memerah, matanya terkadang tertutup rapat, terkadang menatap dalam ke mata suaminya, memancarkan kebahagiaan dan kerinduan yang terpendam lama."Kamu hebat banget sayang, tenagamu aku suka, seolah tidak ada lelahnya punyamu terus berdiri kokoh... Aku suka Mas teruskan... Ahhhh... Sayang..." Kembali bisikan lembut dibarengi desahan keluar dari mulut wanita cantik itu, sambil mengikuti irama goyangan pinggul Ridwan."Tentunya dong, bagaimana aku tidak bersemangat terus, punyamu sempit dan enak banget sayang... Aku benar-benar bahagia memiliki kamu..." Balas Ridwan sambil membalikkan tu

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status