Home / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / BAB 165- RAJA DARI BAYANGAN

Share

BAB 165- RAJA DARI BAYANGAN

Author: Vika moon
last update publish date: 2026-03-16 10:35:22
Hutan Sumberrejo berubah menjadi sunyi yang mencekam.

Tidak ada lagi suara ranting patah.

Tidak ada gerakan makhluk bayangan.

Bahkan angin yang tadi berputar di antara pepohonan kini berhenti total, seolah seluruh alam menahan napas.

Sosok tinggi yang baru keluar dari kegelapan berdiri dengan tenang.

Tubuhnya lebih besar dari Varenth.

Namun tidak sebesar makhluk batu raksasa.

Ia tampak seperti manusia… namun jelas bukan manusia.

Kulitnya pucat keabu-abuan, hampir seperti batu yan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 201 - RETAKAN YANG MENGUBAH SEGALANYA

    Di dalam struktur itu—tidak ada ruang untuk kesalahan.Tidak ada ruang untuk pilihan.Segalanya tersusun kaku.Tegas.Seperti aturan yang tidak bisa dilanggar.Dan justru itu—yang menjadi kelemahannya.Aruna berdiri di tengah tekanan itu.Energi gelap mengelilinginya.Tidak seperti sebelumnya yang mengalir—ini menekan.Mengunci.Membatasi.Namun Aruna—tidak melawan dengan cara yang sama.Ia tidak mendorong.Tidak menghancurkan.Ia—memperkenalkan sesuatu.Yang tidak ada di sana.Pilihan.Ia membuka tangannya.Cahaya dan bayangan muncul.Namun tidak menyerang.Melainkan menyebar.Perlahan.Seperti benih.Masuk ke dalam struktur itu.Dan di saat itu—reaksi langsung terjadi.“Anomali menyebar.”Suara sistem itu terdengar lebih tajam.Lebih cepat.Seolah panik.Energi gelap berusaha menutup.Menekan.Menghapus.Namun—tidak berhasil sepenuhnya.Karena yang Aruna lakukan—bukan serangan.Namun perubahan.Sunyi.Retakan kecil mulai muncul.Bukan pada bentuk fisik—namun pada aliran.Pa

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 200- GARIS YANG TIDAK BISA DILANGKAHI

    Benturan itu tidak berhenti.Namun kali ini—bukan dua kekuatan yang saling menghancurkan.Melainkan satu yang mencoba menembus—dan satu yang menahan.Aruna berdiri di garis itu.Garis yang ia bentuk sendiri.Cahaya dan bayangan di tubuhnya tidak lagi sekadar energi.Namun menjadi batas.Nyata.Terasa.Dan—tidak bisa dilangkahi.Sosok di depannya berhenti.Untuk pertama kalinya—serangannya tidak langsung dilanjutkan.Ia menatap garis itu.Diam.Seolah mencoba memahami sesuatu yang tidak ada dalam sistemnya.“Penghalang tidak terdaftar.”Suaranya terdengar lebih keras dari sebelumnya.Lebih kasar.Seolah terganggu.Aruna tidak menjawab.Ia hanya berdiri.Menahan.Namun juga—mengamati.Pelangi berdiri di sampingnya.Meski napasnya masih tidak stabil.“Aku belum pernah lihat kamu seperti ini…”bisiknya pelan.Aruna tidak menoleh.“Karena ini bukan tentang menyerang.”Ia berkata.“…ini tentang menentukan.”Sunyi.Bagas berdiri sedikit di belakang.Tangannya masih siap.“Kalau dia mene

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 199 - YANG TIDAK INGIN SEIMBANG

    Malam turun perlahan. Langit yang tadi terlihat biasa kini terasa… berat. Bukan karena awan. Bukan karena gelap. Namun karena sesuatu yang tidak terlihat— namun terasa. Aruna berdiri di tepi desa. Menatap ke arah barat. Arah di mana getaran itu berasal. Kini— lebih jelas. Lebih dekat. Dan lebih… agresif. Pelangi berdiri di sampingnya. “Aku bisa merasakannya juga sekarang…” Suaranya pelan. Namun penuh ketegangan. Aruna mengangguk. “Dia tidak mencoba menyatu…” Ia berkata. “…dia mendorong.” Sunyi. Lebih tajam dari sebelumnya. Bima datang dari belakang. Membawa napas berat. “Warga udah pada masuk rumah…” Ia berkata. “Suasananya… nggak enak.” Embun mengikuti. Memegang lengannya sendiri. “Aku merinding terus…” Bagas berdiri tak jauh. Matanya menyipit ke arah yang sama. “Ini beda dari yang di hutan.” Hileon mengangguk. “Strukturnya tidak stabil…” Ia berkata. “…namun lebih kuat dalam tekanan.” Zareth tersenyum tipis.

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 198 - TITIK AWAL YANG BARU

    Langit di atas desa terlihat sama.Namun rasanya—tidak lagi sama.Aruna berdiri di tengah jalan kecil yang membelah permukiman.Matanya menatap jauh.Namun bukan sekadar melihat—ia merasakan.Segala sesuatu di sekitarnya kini seperti memiliki “suara”.Bukan suara yang bisa didengar telinga.Namun sesuatu yang bisa dipahami.Tanah.Udara.Bahkan ruang di antara keduanya.Semua… berbicara.Dan itu—tidak pernah terjadi sebelumnya.Pelangi berdiri di sampingnya.“Aku masih belum terbiasa…”Ia berkata pelan.Aruna menoleh sedikit.“Dengan apa?”Pelangi tersenyum tipis.“Perasaan kalau semuanya… hidup.”Sunyi.Aruna mengangguk.“Karena sekarang memang begitu.”Bima duduk di pinggir jalan.Mengusap wajahnya.“Gue kangen hidup normal…”Embun langsung menimpali,“Aku juga…”Bagas tetap berdiri.Tatapannya ke arah ladang.“Normal itu relatif.”Ia berkata.“Dan sekarang… ini normal yang baru.”Hileon mengangguk pelan.“Adaptasi.”Zareth tersenyum tipis.“Selamat datang di tahap berikutnya.”S

  • TEROR SINDEN GHAIB    BABA 197 - GELOMBANG YANG MENJALAR

    Perjalanan keluar dari hutan tidak lagi seperti sebelumnya.Tidak ada lagi rasa dikejar.Tidak ada lagi tekanan yang menyesakkan dada.Namun justru—itulah yang membuat semuanya terasa… asing.Aruna berjalan di depan.Langkahnya tenang.Namun pikirannya—tidak berhenti bekerja.Koneksi di dalam dirinya masih aktif.Namun kali ini—tidak menyerang.Tidak membanjiri.Melainkan… memberi.Memberi gambaran.Memberi arah.Memberi rasa.Ia bisa merasakan kehidupan di sekitar mereka.Setiap akar yang tumbuh.Setiap aliran kecil di dalam tanah.Bahkan—perubahan yang lebih halus.Yang sebelumnya tidak pernah ia sadari.“Ini… terlalu jelas…”Ia berbisik pelan.Pelangi yang berjalan di sampingnya langsung menoleh.“Apa?”Aruna menggeleng sedikit.“Aku bisa merasakan… lebih jauh dari hutan ini.”Sunyi.Pelangi mengerutkan kening.“Seberapa jauh?”Aruna menutup mata sejenak.Mencoba memahami.Namun begitu ia membuka—tatapannya berubah.Lebih serius.“Desa…”Ia berkata pelan.“…sudah mulai terpeng

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 196 - DUNIA YANG TIDAK LAGI SAMA

    Kesadaran Aruna kembali perlahan. Seperti naik ke permukaan setelah tenggelam terlalu dalam. Suaranya datang lebih dulu. Pelan. Jauh. Namun semakin jelas. “Aruna…?” Itu suara Pelangi. Lembut. Penuh khawatir. Aruna membuka matanya. Cahaya redup dari ruang inti menyambutnya. Namun tidak lagi menyilaukan. Tidak lagi menekan. Lebih… tenang. Lebih stabil. Ia menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya— napas itu terasa ringan. “Aku… di sini…” Suaranya pelan. Namun jelas. Pelangi langsung mendekat. Matanya berkaca-kaca. “Kamu bikin jantungku hampir berhenti…” Aruna tersenyum tipis. “Maaf…” Bima terduduk tak jauh dari mereka. “Gue udah siap-siap bikin pidato perpisahan…” Embun langsung menepuk bahunya. “Jangan ngomong gitu!” Bagas berdiri dengan tangan di pinggang. Namun ekspresinya sedikit lebih santai dari sebelumnya. “Yang penting dia kembali.” Hileon masih memperhatikan sekeliling. Namun sorot matanya berubah. Tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status