Beranda / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab - 39 Perasaan Aruna Yang Tertahan

Share

Bab - 39 Perasaan Aruna Yang Tertahan

Penulis: Vika moon
last update Tanggal publikasi: 2026-01-11 11:00:40

Aruna akhirnya menghela napas panjang. Cangkir teh di tangannya sudah hampir dingin, tapi ia tetap menyesapnya sekali lagi sebelum bangkit dari bangku teras. Malam semakin larut, dan angin yang tadi terasa sejuk kini mulai menusuk kulit. Ia tidak ingin berlama-lama di luar bukan karena dingin, melainkan karena pikirannya terlalu penuh Ia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke belakang, memastikan langkahnya ringan agar tidak menarik perhatian siapa pun. Lampu ruang tengah masih menyala
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB - 248 JARAK YANG MULAI MENYUSUT

    Jejak itu tidak lagi terasa samar seperti sebelumnya. Kini, keberadaannya semakin jelas, seolah setiap langkah yang mereka ambil membuat jarak yang tadinya begitu jauh mulai perlahan menyusut. Ruang di sekitar mereka juga ikut berubah, tidak lagi terasa seperti satu tempat yang diam, melainkan seperti aliran yang terus bergerak mengikuti arah tujuan mereka.Pelangi berdiri dengan napas sedikit lebih cepat. Bukan karena lelah, tetapi karena sesuatu di dalam dirinya ikut bergetar semakin kuat.“Aku ngerasa… kita makin dekat,” katanya pelan.Aruna mengangguk tanpa ragu.“Iya. Resonansinya semakin kuat.”Sosok besar berdiri di sisi mereka, kali ini tidak lagi hanya mencatat, tetapi juga terlihat lebih fokus dari sebelumnya.“Jarak emosional menurun,” katanya.Pelangi menoleh sambil tersenyum kecil.“Kamu kalau ngomong itu… kayak pakai bahasa ilmiah terus.”Sosok besar berhenti sejenak, lalu berkata lebih sederhana.“Kita… semakin dekat dengannya.”Pelangi mengangguk.“Nah… itu lebih gampa

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 247- JEJAK YANG MASIH TERSISA

    Ruang itu terasa berbeda setelah kesadaran tentang sosok yang hilang mulai muncul. Tidak lagi hanya berputar di antara penjaga dan inti, kini ada arah baru yang terbentuk, seolah sesuatu yang selama ini tersembunyi mulai memanggil dari kejauhan.Pelangi berdiri dengan mata sedikit menyipit, mencoba merasakan sesuatu yang belum sepenuhnya terlihat.“Aku ngerasa… ada arah lain sekarang,” katanya pelan.Aruna mengangguk.“Iya. Karena kita tidak lagi hanya melihat yang ada di sini.”Sosok besar berdiri lebih dekat, posisinya kini hampir sejajar dengan mereka berdua.“Fokus bergeser ke entitas kedua,” katanya.Pelangi menoleh.“Yang tadi… orang itu…”Aruna menatap ke depan.“Iya. Dia bagian dari kunci.”Perempuan itu berdiri tidak jauh dari inti. Tatapannya tidak lagi hanya tertuju pada cahaya itu, melainkan mulai mengikuti arah yang sama dengan mereka.“Jejaknya… masih ada…” katanya pelan.Sunyi.Namun sunyi itu bukan kosong.Ia seperti jalan yang belum dilalui.Pelangi menarik napas panj

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 246 - GERBANG YANG MULAI TERBUKA

    Perubahan itu terasa semakin nyata. Bukan hanya pada perempuan itu, tetapi juga pada ruang yang selama ini menyelimuti mereka. Udara yang tadinya terasa padat kini mulai lebih ringan, seolah sesuatu yang lama terkunci perlahan mulai membuka diri.Pelangi masih berdiri dengan posisi yang sama, namun ia tahu dirinya tidak lagi berada di titik yang sama seperti sebelumnya. Sentuhan yang tadi terjadi meninggalkan jejak yang tidak bisa dihapus begitu saja.“Aku ngerasa… semuanya berubah sedikit,” katanya pelan.Aruna mengangguk.“Iya. Karena sekarang bukan hanya dia yang menjaga.”Sosok besar berdiri lebih dekat dari sebelumnya. Tidak ada lagi jarak yang terasa dingin.“Perubahan sistem mulai terjadi,” katanya.Pelangi menoleh.“Berarti ini berhasil ya?”Sosok besar mengangguk.“Proses sudah dimulai.”Perempuan itu memperhatikan mereka. Tatapannya tidak lagi berat, namun masih menyimpan sesuatu yang dalam.“Sudah lama… tidak ada perubahan,” katanya pelan.Pelangi tersenyum kecil.“Ya sekar

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 245 - SAAT BEBAN TIDAK LAGI SENDIRI

    Sentuhan itu tidak terasa seperti menyentuh sesuatu yang asing. Tidak dingin, tidak kosong. Justru hangat, sangat halus, seolah ada kehidupan yang selama ini hanya bersembunyi kini mulai muncul ke permukaan.Pelangi tidak menarik tangannya. Ia tetap di sana, membiarkan dirinya terhubung dengan sesuatu yang sebelumnya hanya bisa ia rasakan dari jauh.“Aku… beneran bisa ngerasain kamu…” bisiknya pelan.Perempuan itu tidak menjawab dengan kata, namun nyanyian lembut kembali mengalun. Kali ini sangat dekat, seolah berasal langsung dari sentuhan itu.Aruna memperhatikan dengan tenang. Ia tidak ikut menyentuh, namun ia merasakan perubahan yang terjadi di ruang itu.“Koneksi sudah terbentuk,” katanya pelan.Sosok besar mengangguk sedikit.“Transfer emosi terdeteksi.”Pelangi menoleh sedikit sambil tersenyum kecil.“Kamu kalau ngomong kayak gitu, jadi kayak ini eksperimen…”Sosok besar terdiam sejenak.Lalu berkata lebih pelan.“Aku… ikut merasakan perubahan.”Pelangi tersenyum lebih lebar.“

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 244 - SAAT JANJI MULAI DI BAGI

    Kehadiran itu kini tidak lagi sekadar terasa. Ia benar benar ada di hadapan mereka. Tidak sepenuhnya padat, tidak sepenuhnya nyata, namun cukup untuk disadari sebagai sesuatu yang selama ini hanya bisa dirasakan melalui nyanyian.Pelangi menatap tanpa berkedip. Ia tidak lagi merasa takut. Yang ada hanya perasaan hangat yang bercampur dengan haru yang sulit dijelaskan.“Kamu… beneran di sini…” katanya pelan.Perempuan itu tidak menjawab dengan kata kata biasa. Namun suaranya tetap terdengar di dalam pikiran mereka.“Aku… selalu di sini…”Aruna berdiri tenang. Tatapannya tidak menghakimi, tidak juga memaksa. Ia hanya hadir, memberi ruang.“Kami akhirnya bisa melihatmu,” katanya lembut.Perempuan itu menatap mereka satu per satu. Tatapannya berhenti sedikit lebih lama pada Pelangi, seolah mengenali sesuatu yang lebih dalam.“Kamu… mendengar lebih dulu,” katanya pelan.Pelangi mengangguk cepat, meskipun matanya masih berkaca kaca.“Aku nggak ngerti kenapa… tapi aku ngerasa kamu dari awal…

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 243 - inti yang terlupakan

    Ruang itu tidak berubah secara bentuk, namun perasaan di dalamnya semakin dalam. Nyanyian yang sebelumnya mengalir kini mulai membentuk arah yang lebih jelas, seolah membawa mereka menuju sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik lapisan yang belum tersentuh.Pelangi berdiri dengan napas yang lebih teratur. Ia tidak lagi hanya mengikuti perasaan. Kini ia mulai mempercayainya.“Aku ngerasa… kita bakal lihat sesuatu yang penting,” katanya pelan.Aruna menatap ke depan dengan fokus yang lebih dalam.“Iya. Dia mulai menunjukkan inti dari semuanya.”Sosok besar itu berdiri tegak. Ia tidak lagi hanya mencatat. Kini ia juga menunggu.“Perubahan pola menuju pusat terdeteksi,” katanya.Pelangi menoleh sedikit.“Artinya kita makin dekat ya?”Sosok besar itu mengangguk pelan.“Iya.”Nyanyian itu berubah.Tidak lagi melankolis.Tidak juga berat.Kini lebih seperti panggilan.Halus.Namun pasti.Pelangi langsung merasakan tarikan itu.“Ini… kayak ngajak kita ke sana…” bisiknya.Aruna tidak meno

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 14 – Yang Disimpan Dalam Diam

    Hileon atau Leon, seperti nama itu sering dipanggil dalam pikirannya sendiri—tidak banyak bicara pagi itu Ia duduk di ujung meja, tubuhnya tegap, wajahnya tetap tenang seperti biasa. Namun di dalam dadanya, ada sesuatu yang berdenyut pelan, mengganggu ritme napasnya sendiri Matanya kembali jatuh pa

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 13 – Pagi yang Datang Terlambat

    Malam itu akhirnya mereda Setelah beberapa saat terdiam, Aruna dan Embun kembali berbaring. Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak. Embun memejamkan mata dengan tubuh menegang, sementara Aruna memandangi langit-langit kamar, menunggu hingga detak jantungnya kembali normal. Ketika akhirnya terle

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 12 – Jendela yang Tidak Pernah Diam

    Embun berdiri di dapur dengan gelas di tangannyavAir di dalamnya sudah tenang, namun jari-jarinya belum. Getaran halus merambat dari telapak ke pergelangan, memaksa ia menggenggam gelas lebih erat agar tidak jatuh. Cahaya bulan masuk dari kisi-kisi jendela, membentuk garis pucat di lantai tanah ya

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 11 – Nyanyian dalam Gelap

    Malam benar-benar jatuh di Desa Sendang Pitu. Rumah Pak Seno telah terlelap. Lampu-lampu dipadamkan, menyisakan cahaya bulan yang menyusup melalui celah jendela kayu. Suara jangkrik bersahut-sahutan, teratur, seperti lullaby alam yang meninabobokan siapa pun yang mendengarnya Satu per satu, merek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status