Beranda / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 49 – Jejak yang Tak Terlihat

Share

Bab 49 – Jejak yang Tak Terlihat

Penulis: Vika moon
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-18 11:13:50
Malam turun perlahan di Desa Sumberjati, membawa udara lembap dan aroma tanah basah yang khas. Lampu-lampu rumah warga menyala satu per satu, menciptakan cahaya kuning redup yang tampak hangat di mata, tapi tidak sepenuhnya menenangkan hati. Di rumah Pak Seno, anak-anak KKN berkumpul di ruang tengah setelah makan malam, duduk melingkar dengan jarak yang lebih renggang dari biasanya.

Ada sesuatu yang berubah.

Aruna duduk bersila dengan punggung tegak, map catatan di pangkuannya. Wajahnya tamp
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 131 – Jaringan yang Terbangun

    Sejak retakan di gedung tua itu tertutup, kota tidak benar-benar kembali seperti semula.Semua tampak normal di permukaan. Kendaraan berlalu-lalang seperti biasa. Orang-orang berangkat kerja, anak-anak sekolah, pedagang membuka lapak sejak pagi. Tidak ada langit gelap, tidak ada kabut mencurigakan.Namun Aruna tahu.Ada sesuatu yang berubah.Bukan pada dunia luar.Melainkan pada dirinya.Tiga hari setelah kejadian di utara, Aruna mulai merasakan sesuatu yang baru.Ia tidak lagi harus memejamkan mata untuk “melihat” jaringan akar itu.Sekarang, sensasi halus itu hadir bahkan saat ia berjalan di trotoar kampus.Setiap kali kakinya menyentuh tanah, ada denyut kecil yang merambat ke telapak kakinya. Seperti nadi bumi yang berdetak pelan.Ia berhenti di depan gedung fakultas.Bima yang berjalan di sampingnya langsung sadar.“Kamu ngerasa lagi?”Aruna mengangguk perlahan. “Bukan gangguan.”“Terus?”“Jaringan itu… makin jelas.”Bima terdiam. Ia tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia percaya.“Ap

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 130– Retakan di Tengah Keseimbangan

    Langit kota berubah lebih cepat dari biasanyaBeberapa hari setelah Aruna memutuskan untuk berjalan di tengah tidak sepenuhnya meninggalkan dunia biasa, dan tidak sepenuhnya tenggelam dalam dunia yang tak terlihat sesuatu mulai terasa berbeda.Bukan gangguan kecil seperti kabut di belakang kos.Bukan getaran lembut dari akar taman.Ini… lebih luas.Lebih dalam.Dan lebih sunyi.Sore itu, mereka semua berkumpul di taman kota, di bawah pohon beringin yang kini terasa seperti titik temu tak tertulis.Pelangi duduk bersandar pada batang pohon, menatap anak-anak yang berlarian. Embun dan Bulan berbagi camilan. Bima dan Bagas berdebat soal rencana kerja setelah lulus. Alvaro mendengarkan sambil sesekali tertawa kecil. Hileon berdiri sedikit menjauh, memperhatikan sekitar.Aruna memejamkan mata.Biasanya, ia bisa merasakan aliran akar yang stabil.Hari ini, aliran itu… tersendat.Seperti sungai yang tersumbat batu.Ia membuka mata perlahan.“Kalian ngerasa?” tanyanya.Hileon langsung menoleh

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 129 – Di Antara Dua Jalan

    Malam setelah percakapan di bawah pohon beringin itu terasa berbeda.Aruna duduk sendiri di kamar kosnya. Lampu meja menyala redup, menyorot gelang akar yang tergeletak di atas buku catatan KKN mereka. Angin dari jendela membuat tirai tipis bergerak perlahan.Ia memandang gelang itu lama.“Kenapa kamu memilihku?” bisiknya pelan.Tidak ada suara menjawab.Namun ada rasa hangat yang menjalar pelan dari dada hingga ke ujung jarinya. Bukan desakan. Bukan paksaan. Seperti sebuah keyakinan yang tumbuh perlahan, tanpa perlu diyakinkan.Aruna memejamkan mata.Dan lagi-lagi ia berdiri di persimpangan.Dua jalan membentang di hadapannya.Yang satu terang, ramai, penuh suara tawa dan kehidupan biasa.Yang satu lagi sunyi, panjang, dengan cahaya samar yang tidak menyilaukan—namun dalam.“Tidak semua pilihan berarti meninggalkan,” suara lembut itu terdengar lagi.Aruna menoleh, tapi tidak ada siapa pun.“Apa aku harus memilih sekarang?” tanyanya.“Tidak.”“Lalu?”“Berjalanlah. Jalan akan memperlih

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 128 – Panggilan dari Akar yang Terkubur

    Langit kota tampak mendung sejak pagi, padahal musim kemarau belum benar-benar berakhir. Awan-awan kelabu menggantung rendah, seperti beban yang belum dijatuhkan. Aruna berdiri di depan jendela kelas setelah dosennya selesai menjelaskan revisi laporan KKN. Suara teman-teman yang bercakap terdengar samar, seakan tertutup lapisan tipis di telinganya. Ia tidak sedang melamun. Ia sedang merasakan sesuatu. Getaran halus. Bukan ketakutan. Bukan ancaman. Melainkan panggilan. Pelangi yang berdiri di sampingnya menyenggol pelan. “Na… kamu lagi ngerasa ya?” Aruna mengangguk tanpa menoleh. Embun dan Bulan yang berada di belakang mereka ikut mendekat. Bima, Bagas, Alvaro, dan Hileon pun menghentikan obrolan. “Datang lagi?” tanya Hileon pelan. “Bukan datang,” jawab Aruna perlahan. “Tapi seperti… ada yang bangun.” Bima menghela napas panjang. “Jangan bilang kita harus balik ke desa.” “Bukan desa,” bisik Aruna. Semua terdiam. “Bukan di sana.” Sore itu mereka berkumpu

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 127– Jejak yang Tertinggal di Antara Dua Dunia

    Perjalanan kembali ke kota terasa berbeda dari saat mereka pertama kali datang ke Desa Sumber Arum. Dulu, mobil yang mereka tumpangi dipenuhi tawa penasaran dan candaan tentang KKN yang dianggap sekadar kewajiban akademik. Kini, suasana di dalam mobil sunyi, bukan karena ketakutan melainkan karena masing-masing tenggelam dalam pikiran. Aruna duduk di dekat jendela. Angin pagi menerpa wajahnya ketika ia membuka kaca sedikit. Ia menatap jalan yang semakin menjauh dari desa, seolah ingin memastikan bahwa semua yang terjadi benar-benar telah usai. Pelangi memecah keheningan. “Rasanya aneh ya… kayak kita ninggalin sesuatu yang besar banget.” Embun mengangguk pelan. “Atau mungkin… sesuatu itu yang ninggalin kita.” Bima tersenyum tipis. “Yang penting sekarang nggak ada lagi yang ikut.” Bagas tertawa kecil. “Jangan ngomong gitu. Nanti malah kebawa beneran.” Hileon menoleh ke Aruna. “Kamu gimana?” Aruna terdiam sejenak. “Aku merasa ringan. Tapi… bukan kosong.” Alvaro memahami

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 126– Suara yang Tak Lagi Terkutuk

    Malam turun perlahan di Desa Sumber Arum. Angin berdesir melewati pepohonan jati, membawa aroma tanah basah yang baru saja diguyur hujan sore. Di pendopo tua tempat mereka dulu pertama kali berkumpul saat KKN, lampu minyak kembali dinyalakan. Cahayanya bergetar lembut, seolah ikut bernapas bersama kenangan yang tersisa.Aruna berdiri paling depan. Wajahnya tidak lagi menyimpan ketakutan seperti dulu. Di matanya kini ada sesuatu yang lebih dalam—ketenangan yang lahir dari badai panjang yang berhasil dilewati.Pelangi duduk bersandar pada tiang kayu, memeluk lututnya. Embun menatap langit-langit pendopo yang sudah diperbaiki. Bulan duduk diam, tangannya menggenggam tasbih kecil pemberian Bu Seno. Bima berdiri tegap di samping Hileon dan Alvaro, sementara Bagas memeriksa sekeliling dengan waspada, meski hatinya tahu malam ini berbeda.Pak Seno dan Bu Seno datang membawa termos teh hangat.“Sudah waktunya,” ujar Pak Seno pelan.Aruna mengangguk.Sudah waktunya bukan untuk melawan. Bukan u

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status